Medan Bisnis, 18 Juni 2007
Selama sesi perdagangan minggu kemarin, Rupiah diperdagangkan dalam fluktuasi yang sangat lebar dan sempat menyentuh level terendah dikisaran harga 9110. Namun laju pelemahan Rupiah sepertinya terhenti dan selanjutnya bergerak terbatas dalam range 8900 hingga 9100. Diturunkannya BI rate sebesar 25 basis poin dinilai menjadi salah satu pemicu utama melemahnya Rupiah terhadap US Dolar.
Padahal di Amerika, The FED masih menyatakan bahwa tingginya laju tekanan inflasi masih menjadi isu penting, sehingga menimbulkan ekspektasi bahwa bunga The FED masih akan bertahan dan dimungkinkan akan kembali dinaikan. Pernyataan hawkish yang dilontarkan beberapa pejabat federal reserve tersebut sempat membuat US Dolar menguat terhadap hampir semua mata uang hard currency lainnya. Meski demikian, aktifitas perdagangan terpantau minim dengan sebagian besar mata uang bergerak dalam kisaran yang sempit.
Sementara itu, BI masih memberikan sinyal bahwa suku bunga masih akan diturunkan lagi hingga ke level 8% sampai akhir tahun ini. Pernyataan tersebut tentunya sangat bertolak belakang dengan langkah sejumlah Bank Sentral termasuk Amerika yang justru diekspektasikan akan menaikan suku bunga acuannya.
Sejauh ini, transaksi model carry trade masih menjadi faktor penggerak utama pasar. Namun minat investor terhadap Rupiah tentunya akan berkurang seiring dengan tren penurunan suku bunga Rupiah. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat BI merasa khawatir dengan melemahnya Rupiah belakangan ini, karena masih somewhere around 9000 dan menurut BI melemahnya Rupiah juga dikarenakan faktor Global. Over confidence mungkin itu yang dirasakan BI saat ini.
Sangat berbeda dengan Selandia Baru, Bank sentral selandia baru atau RBNZ melakukan intervensi dengan membuat mata uang Dolar selandia melemah terhadap mata uang yang memberikan yield lebih rendah, terutama terhadap Yen Jepang dan Franc Swiss. Kebijakan tersebut diambil 4 hari setelah RBNZ menaikan suku bunga menjadi 8% (merupakan suku bunga tertinggi diantara Negara maju lainnya). RBNZ meyakini bahwa penguatan mata uang Dolar Selandia Baru tidak terlepas dari aksi carry trade pelaku pasar.
Kebijakan tersebut menegaskan bahwa RBNZ sangat keberatan dengan terlalu menguatnya mata uang Dolar Selandia Baru. Bukan tidak mungkin langkah serupa juga akan diikuti oleh Negara lainnya yang mengkhawatirkan dampak negatif dari transaksi carry trade.
Tekanan terhadap mata uang Asia, khususnya Rupiah diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring dengan dirilisnya beberapa data perekonomian AS, yang akhir-akhir ini menunjukkan perkembangan-perkembangan yang melebihi ekspektasi. Data-data tersebut membuat pasar berkesimpulan bahwa inflasi masih menjadi masalah utama dan mungkin akan memaksa The Fed mengambil sikap yang bertendensi terhadap kenaikan suku bunga atau hawkish.
Kalau ekspektasi pasar menyebutkan hal seperti itu, maka bisa diperkirakan bahwa ruang penguatan Rupiah akan semakin kecil tentunya, seiring dengan adanya tren kenaikan suku bunga global serta adanya tren penurunan suku bunga di dalam negeri.
Semua yang disajikan didalam Blog ini merupakan artikel yang dimuat dibeberapa Media Cetak dalam negeri. Merupakan opini pribadi dan tidak merefleksikan pandangan dari institusi dimana penulis bekerja saat ini. Semoga Bermanfaat.
Tuesday, June 19, 2007
Monday, June 11, 2007
Faktor Global atau Penurunan BI Rate
Medan Bisnis, 11 Juni 2007
Rupiah kembali melemah hingga menembus level 8900, setelah dalam beberapa perdagangan minggu lalu sempat menguat kekisaran level 8700-an. Menurut versi Bank Indonesia, melemahnya nilai tukar rupiah dikarenakan oleh faktor global seperti melemahnya sejumlah mata uang Asia serta technical correction terhadap indeks bursa global.
Pemerintah juga meyakinkan pasar bahwa keadaan tersebut hanya akan bersifat sementara. Namun, sayangnya kita tidak pernah tahu ukuran yang tepat untuk menjelaskan kata sementara tersebut, setiap orang pasti akan mempunyai sudut pandang yang berbeda, sementara bisa diartikan beberapa hari, minggu, bulan atau bahkan selama tahun 2007 ini.
Berbeda dari beberapa fakta yang terjadi, penurunan BI rate sebesar 25 basis poin dari sebelumnya sebesar 8.75% menjadi 8.5% diyakini sebagai salah satu pemicu melemahnya nilai tukar Rupiah ke level 8900-an. Sejauh ini, asumsi pemerintah bahwa suku bunga riil (selisih antara BI rate dan Inflasi) sebesar 1.5% hingga 2% cukup memberikan kenyamanan akan tidak terjadinya pembalikan modal atau reversal.
Selain itu, cadangan devisa yang cukup tinggi serta membaiknya fundamental eknomi Indonesia seperti yang diberitakan media seolah-olah meyakinkan kita bahwa ekonomi sudah berjalan pada jalur yang benar atau on the right track.
Meski demikian, belum ada yang mampu memperkirakan kapan dana-dana panas yang selama ini menjadi kambing hitam penguatan rupiah dan IHSG tidak akan keluar dari negeri ini. Dana-dana jangka pendek tersebut tentunya tidak akan melihat secara jauh keadaan ekonomi bangsa ini. Yang dia (hot money) tahu adalah bagaimana untuk berkembang biak dengan memanfaatkan produk-produk investasi yang menawarkan imbal hasil yang tinggi dan aman.
Sehingga cukup beralasan, Rupiah kembali melemah ketika BI rate kembali diturunkan, sementara beberapa Negara (misal Eropa) justru kembali menaikan suku bunga. Antisipasi yang sangat relevan untuk dilakukan adalah menanti kebijakan dari Bank Indonesia. Selaku penguasa moneter negeri ini, BI memiliki kewenangan untuk menstabilkan Rupiah dengan salah satu caranya adalah melakukan intervensi pasar.
Namun, apakah pembalikan modal yang terjadi akan menyeret bangsa ini ke dalam jurang krisis?, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Pemerintah maupun pihak terkait tentunya diharapkan mampu mengkonversi dana-dana jangka pendek tersebut menjadi FDI (foreign direct investment), dengan memformulasikan kerangka pertumbuhan yang berkorelasi dengan pertumbuhan di sektor riil.
Tentunya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Namun, instabilitas yang selalu terjadi di pasar finansial seharusnya mampu diekspektasikan guna menghindari negeri ini masuk ke jurang krisis yang berkepanjangan.
Kalau saat ini Rupiah melemah, IHSG terkoreksi, maka yang dibutuhkan adalah stabilisasi pasar jangka pendek. Namun kalau itu terjadi berulang-ulang maka kita harus me-review fundamental ekonomi bangsa ini, apakah benar-benar berjalan pada jalur yang benar. Seharusnya tidak menjadi kekhawatiran seandainya fundamental ekonomi negeri ini kuat menopang segala macam bentuk volatilitas pasar finansial.
Rupiah kembali melemah hingga menembus level 8900, setelah dalam beberapa perdagangan minggu lalu sempat menguat kekisaran level 8700-an. Menurut versi Bank Indonesia, melemahnya nilai tukar rupiah dikarenakan oleh faktor global seperti melemahnya sejumlah mata uang Asia serta technical correction terhadap indeks bursa global.
Pemerintah juga meyakinkan pasar bahwa keadaan tersebut hanya akan bersifat sementara. Namun, sayangnya kita tidak pernah tahu ukuran yang tepat untuk menjelaskan kata sementara tersebut, setiap orang pasti akan mempunyai sudut pandang yang berbeda, sementara bisa diartikan beberapa hari, minggu, bulan atau bahkan selama tahun 2007 ini.
Berbeda dari beberapa fakta yang terjadi, penurunan BI rate sebesar 25 basis poin dari sebelumnya sebesar 8.75% menjadi 8.5% diyakini sebagai salah satu pemicu melemahnya nilai tukar Rupiah ke level 8900-an. Sejauh ini, asumsi pemerintah bahwa suku bunga riil (selisih antara BI rate dan Inflasi) sebesar 1.5% hingga 2% cukup memberikan kenyamanan akan tidak terjadinya pembalikan modal atau reversal.
Selain itu, cadangan devisa yang cukup tinggi serta membaiknya fundamental eknomi Indonesia seperti yang diberitakan media seolah-olah meyakinkan kita bahwa ekonomi sudah berjalan pada jalur yang benar atau on the right track.
Meski demikian, belum ada yang mampu memperkirakan kapan dana-dana panas yang selama ini menjadi kambing hitam penguatan rupiah dan IHSG tidak akan keluar dari negeri ini. Dana-dana jangka pendek tersebut tentunya tidak akan melihat secara jauh keadaan ekonomi bangsa ini. Yang dia (hot money) tahu adalah bagaimana untuk berkembang biak dengan memanfaatkan produk-produk investasi yang menawarkan imbal hasil yang tinggi dan aman.
Sehingga cukup beralasan, Rupiah kembali melemah ketika BI rate kembali diturunkan, sementara beberapa Negara (misal Eropa) justru kembali menaikan suku bunga. Antisipasi yang sangat relevan untuk dilakukan adalah menanti kebijakan dari Bank Indonesia. Selaku penguasa moneter negeri ini, BI memiliki kewenangan untuk menstabilkan Rupiah dengan salah satu caranya adalah melakukan intervensi pasar.
Namun, apakah pembalikan modal yang terjadi akan menyeret bangsa ini ke dalam jurang krisis?, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Pemerintah maupun pihak terkait tentunya diharapkan mampu mengkonversi dana-dana jangka pendek tersebut menjadi FDI (foreign direct investment), dengan memformulasikan kerangka pertumbuhan yang berkorelasi dengan pertumbuhan di sektor riil.
Tentunya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Namun, instabilitas yang selalu terjadi di pasar finansial seharusnya mampu diekspektasikan guna menghindari negeri ini masuk ke jurang krisis yang berkepanjangan.
Kalau saat ini Rupiah melemah, IHSG terkoreksi, maka yang dibutuhkan adalah stabilisasi pasar jangka pendek. Namun kalau itu terjadi berulang-ulang maka kita harus me-review fundamental ekonomi bangsa ini, apakah benar-benar berjalan pada jalur yang benar. Seharusnya tidak menjadi kekhawatiran seandainya fundamental ekonomi negeri ini kuat menopang segala macam bentuk volatilitas pasar finansial.
Tuesday, June 05, 2007
Kekhawatiran yang Mendorong Penguatan Valuta
Medan Bisnis, 03 Juni 2007
Pemerintah China kembali mengeluarkan kebijakan di sektor keuangan dengan menaikan pajak atas perdagangan saham menjadi 0.3% dari sebelumnya sebesar 0.1%. Kebijakan tersebut memicu melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia bahkan di dunia. Kebijakan pemerintah China tersebut dilandaskan atas kekhawatiran akan adanya pembalikan modal seiring dengan penguatan pasar ekuitas di China belakangan ini.
Namun, kebijakan pemerintah China tersebut membuat mata uang Yen Jepang kembali menguat. Bahkan mata uang Euro harus mengalami koreksi yang paling dalam setelah mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah terhadap mata uang Yen Jepang. Pengumuman aturan baru oleh pemerintah China tersebut telah memicu kekhawatiran akan resiko yang ditimbulkan dari transaksi carry trade dengan cara meminjam mata uang Yen Jepang.
Tidak hanya itu, imbas dari kebijakan tersebut juga dirasakan pada fokus pasar yang mulai tertuju pada performa pasar saham dunia. Korelasi positif pun terlihat dalam beberapa minggu perdagangan terakhir, dimana ketika pasar saham mengalami koreksi, maka hal serupa juga terjadi pada pergerakan sejumlah mata uang.
Perubahan trenpun diperkirakan akan terjadi. Dimana pada saat sebelumnya Yen Jepang akan melemah apabila terjadi penguatan di pasar saham, maka pada saat ini perubahan porsi dalam transaksi carry trade akan sangat menguntungkan mata uang Yen Jepang, karena ada tren pelemahan pasar saham dunia.
Namun, beberapa data penting dari Amerika seperti Gross Domestic Product (GDP) dan data Non-Farm Payrolls akan berpeluang besar menahan laju penguatan mata uang secara signifikan. Beberapa angka aktual positif serta FOMC (Federal Open Market Committee) minutes juga berpotensi membuat mata uang US Dolar menguat.
Sejauh ini pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve memberikan gambaran bahwa kemungkinan akan diturunkannya bunga The FED semakin kecil. Bahkan ekspektasi akan kembali dinaikkannya bunga The FED masih bermunculan. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan dimana Bank Sentral Amerika tetap mengkhawatirkan akan tingginya laju inflasi di Amerika.
Kemungkinan tersebut diperkuat dengan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga di beberapa Bank Sentral seperti ECB (Zona Euro), BoE (Inggris), dan BoC (kanada) yang diperkirakan masih akan menaikan suku bunga sekali lagi dalam tahun ini.
Sementara itu, mata uang Rupiah juga mengikuti langkah yang sama terhadap pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Melemahnya bursa saham di China juga menjadi alasan utama melemahnya IHSG serta mata uang Rupiah. Namun, hal tersebut dinilai sebagai gejolak keuangan Global, yang diperkirakan tidak akan berlangsung dalam waktu yang lama. Karena memang kebijakan menaikan pajak atas perdagangan saham akan memicu pelemahan indeks bursa dalam beberapa minggu kedepan.
Pemerintah China kembali mengeluarkan kebijakan di sektor keuangan dengan menaikan pajak atas perdagangan saham menjadi 0.3% dari sebelumnya sebesar 0.1%. Kebijakan tersebut memicu melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia bahkan di dunia. Kebijakan pemerintah China tersebut dilandaskan atas kekhawatiran akan adanya pembalikan modal seiring dengan penguatan pasar ekuitas di China belakangan ini.
Namun, kebijakan pemerintah China tersebut membuat mata uang Yen Jepang kembali menguat. Bahkan mata uang Euro harus mengalami koreksi yang paling dalam setelah mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah terhadap mata uang Yen Jepang. Pengumuman aturan baru oleh pemerintah China tersebut telah memicu kekhawatiran akan resiko yang ditimbulkan dari transaksi carry trade dengan cara meminjam mata uang Yen Jepang.
Tidak hanya itu, imbas dari kebijakan tersebut juga dirasakan pada fokus pasar yang mulai tertuju pada performa pasar saham dunia. Korelasi positif pun terlihat dalam beberapa minggu perdagangan terakhir, dimana ketika pasar saham mengalami koreksi, maka hal serupa juga terjadi pada pergerakan sejumlah mata uang.
Perubahan trenpun diperkirakan akan terjadi. Dimana pada saat sebelumnya Yen Jepang akan melemah apabila terjadi penguatan di pasar saham, maka pada saat ini perubahan porsi dalam transaksi carry trade akan sangat menguntungkan mata uang Yen Jepang, karena ada tren pelemahan pasar saham dunia.
Namun, beberapa data penting dari Amerika seperti Gross Domestic Product (GDP) dan data Non-Farm Payrolls akan berpeluang besar menahan laju penguatan mata uang secara signifikan. Beberapa angka aktual positif serta FOMC (Federal Open Market Committee) minutes juga berpotensi membuat mata uang US Dolar menguat.
Sejauh ini pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve memberikan gambaran bahwa kemungkinan akan diturunkannya bunga The FED semakin kecil. Bahkan ekspektasi akan kembali dinaikkannya bunga The FED masih bermunculan. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan dimana Bank Sentral Amerika tetap mengkhawatirkan akan tingginya laju inflasi di Amerika.
Kemungkinan tersebut diperkuat dengan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga di beberapa Bank Sentral seperti ECB (Zona Euro), BoE (Inggris), dan BoC (kanada) yang diperkirakan masih akan menaikan suku bunga sekali lagi dalam tahun ini.
Sementara itu, mata uang Rupiah juga mengikuti langkah yang sama terhadap pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Melemahnya bursa saham di China juga menjadi alasan utama melemahnya IHSG serta mata uang Rupiah. Namun, hal tersebut dinilai sebagai gejolak keuangan Global, yang diperkirakan tidak akan berlangsung dalam waktu yang lama. Karena memang kebijakan menaikan pajak atas perdagangan saham akan memicu pelemahan indeks bursa dalam beberapa minggu kedepan.
Volatilitas Pasar Finansial
Medan Bisnis, 28 Mei 2007
Kekhawatiran akan kembali melemahnya mata uang Rupiah, setelah menguat secara konsisten kembali terbukti. Rupiah yang sempat menguat hingga ke level 8650 kembali terkoreksi hingga di atas level 8800 dalam kurun waktu tak lebih dari 2 hari perdagangan. Namun, pelemahan tersebut dinilai masih berada dalam batas yang belum mengkhawatirkan, karena masih “somewhere around 9000”, begitu Gubernur Bank Indonesia menyatakan sikapnya.
Hal yang dapat menjadi alasan melemahnya Rupiah disinyalir terkait dengan melemahnya Indeks Bursa Jakarta (IHSG). Melemahnya IHSG tersebut diperkirakan juga dipengaruhi oleh memburuknya kinerja indeks bursa Dow Jones (Amerika). Bahkan indeks Dow Jones sempat diperdagangkan dalam volatilitas yang tinggi, yakni ditutup melemah 14 poin meskipun selama sesi perdagangan sempat menguat hingga 70 poin.
Pelaku pasar pun sangat berhati-hati untuk melakukan transaksi carry trade, karena pergerakan indeks bursa Dow Jones sangat berpengaruh besar bagi perdagangan carry trade. Hal ini membuat data Durable Goods Orders/DGO (pemesanan barang tahan lama) serta data New Home Sales (data penjualan rumah baru) Amerika menjadi fokus utama pelaku pasar.
Meski demikian, tren keterpurukan US Dolar sepertinya belum saja berakhir. Sentimen di sektor properti Amerika yang tidak merealisasikan angka aktual yang positif membuat data-data lainnya seperti perumahan juga akan mengikuti hal yang sama. Namun, melemahnya US Dolar akan berkorelasi positif terhadap permintaan barang-barang di sektor transportasi seperti komponen pesawat, walaupun terjadi tekanan terhadap permintaan barang lainnya seperti furniture maupun elektronik.
Seiring dengan memburuknya sejumlah data perekonomian Amerika tersebut, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap keputusan Bank Sentral Amerika atau The FED yang diperkirakan masih tetap mempertahankan suku bunganya. Hal tersebut menjadi salah satu penopang dari terpuruknya mata uang US Dolar lebih jauh.
Selain itu, pertemuan antara pemerintah Amerika dan China di Washington, yang membahas mengenai defisit neraca perdagangan Amerika, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pergerakan US Dolar. Sejauh ini, pemerintah AS tetap menuding bahwa pemerintah China melakukan kecurangan dengan membiarkan mata uang Yuan melemah terhadap US Dolar, yang membuat pasar Amerika kebanjiran produk dari China.
Hal lain yang layak dicermati adalah tren kenaikan indeks bursa dunia yang masih menunjukan potensi akan tetap menguat. Selama indeks bursa dunia menunjukan penguatan maka potensi penguatan US Dolar juga semakin terbuka. Namun, ketika pasar menilai bahwa indeks bursa sudah mulai menunjukan adanya sinyal berbalik arah, maka US Dolar dapat kembali terpukul oleh transaksi carry trade.
Terhadap mata uang lainnya, US Dolar justru relatif stabil terhadap mata uang Yen Jepang. Meskipun mata uang Yen sering digunakan sebagai mata uang yang paling aktif dalam transaksi carry trade, namun ekspektasi kemungkinan Bank Sentral Jepang (BoJ) akan kembali menaikan suku bunganya membuat mata uang Yen tertahan dari keterpurukan yang lebih dalam.
Demikian halnya terhadap Euro, mata uang US Dolar juga tidak bergerak dalam fluktuasi yang lebar. Walau demikian data-data perekonomian zona Euro diperkirakan akan kembali mengalami rebound, sehingga berpotensi membawa Euro kembali menguat terhadap US Dolar. Nah, terhadap mata uang Poundsterling (GBP), US Dolar diperkirakan akan bergerak dalam range perdagangan yang cukup lebar, Hal tersebut dikarenakan sentimen dari pernyataan hawkish para pejabat Bank Sentral Inggris (BoE).
Untuk mata uang Rupiah, walaupun masih menunjukan tren penguatan, namun potensi berbalik arah mata uang Rupiah masih terbuka lebar. Rupiah masih sangat rentan terhadap sentimen-sentimen dari luar. Selain itu, gejala anomali terhadap mata uang Rupiah diperkirakan akan sering terjadi, yang nantinya akan membuat bingung pelaku pasar.
Kekhawatiran akan kembali melemahnya mata uang Rupiah, setelah menguat secara konsisten kembali terbukti. Rupiah yang sempat menguat hingga ke level 8650 kembali terkoreksi hingga di atas level 8800 dalam kurun waktu tak lebih dari 2 hari perdagangan. Namun, pelemahan tersebut dinilai masih berada dalam batas yang belum mengkhawatirkan, karena masih “somewhere around 9000”, begitu Gubernur Bank Indonesia menyatakan sikapnya.
Hal yang dapat menjadi alasan melemahnya Rupiah disinyalir terkait dengan melemahnya Indeks Bursa Jakarta (IHSG). Melemahnya IHSG tersebut diperkirakan juga dipengaruhi oleh memburuknya kinerja indeks bursa Dow Jones (Amerika). Bahkan indeks Dow Jones sempat diperdagangkan dalam volatilitas yang tinggi, yakni ditutup melemah 14 poin meskipun selama sesi perdagangan sempat menguat hingga 70 poin.
Pelaku pasar pun sangat berhati-hati untuk melakukan transaksi carry trade, karena pergerakan indeks bursa Dow Jones sangat berpengaruh besar bagi perdagangan carry trade. Hal ini membuat data Durable Goods Orders/DGO (pemesanan barang tahan lama) serta data New Home Sales (data penjualan rumah baru) Amerika menjadi fokus utama pelaku pasar.
Meski demikian, tren keterpurukan US Dolar sepertinya belum saja berakhir. Sentimen di sektor properti Amerika yang tidak merealisasikan angka aktual yang positif membuat data-data lainnya seperti perumahan juga akan mengikuti hal yang sama. Namun, melemahnya US Dolar akan berkorelasi positif terhadap permintaan barang-barang di sektor transportasi seperti komponen pesawat, walaupun terjadi tekanan terhadap permintaan barang lainnya seperti furniture maupun elektronik.
Seiring dengan memburuknya sejumlah data perekonomian Amerika tersebut, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap keputusan Bank Sentral Amerika atau The FED yang diperkirakan masih tetap mempertahankan suku bunganya. Hal tersebut menjadi salah satu penopang dari terpuruknya mata uang US Dolar lebih jauh.
Selain itu, pertemuan antara pemerintah Amerika dan China di Washington, yang membahas mengenai defisit neraca perdagangan Amerika, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pergerakan US Dolar. Sejauh ini, pemerintah AS tetap menuding bahwa pemerintah China melakukan kecurangan dengan membiarkan mata uang Yuan melemah terhadap US Dolar, yang membuat pasar Amerika kebanjiran produk dari China.
Hal lain yang layak dicermati adalah tren kenaikan indeks bursa dunia yang masih menunjukan potensi akan tetap menguat. Selama indeks bursa dunia menunjukan penguatan maka potensi penguatan US Dolar juga semakin terbuka. Namun, ketika pasar menilai bahwa indeks bursa sudah mulai menunjukan adanya sinyal berbalik arah, maka US Dolar dapat kembali terpukul oleh transaksi carry trade.
Terhadap mata uang lainnya, US Dolar justru relatif stabil terhadap mata uang Yen Jepang. Meskipun mata uang Yen sering digunakan sebagai mata uang yang paling aktif dalam transaksi carry trade, namun ekspektasi kemungkinan Bank Sentral Jepang (BoJ) akan kembali menaikan suku bunganya membuat mata uang Yen tertahan dari keterpurukan yang lebih dalam.
Demikian halnya terhadap Euro, mata uang US Dolar juga tidak bergerak dalam fluktuasi yang lebar. Walau demikian data-data perekonomian zona Euro diperkirakan akan kembali mengalami rebound, sehingga berpotensi membawa Euro kembali menguat terhadap US Dolar. Nah, terhadap mata uang Poundsterling (GBP), US Dolar diperkirakan akan bergerak dalam range perdagangan yang cukup lebar, Hal tersebut dikarenakan sentimen dari pernyataan hawkish para pejabat Bank Sentral Inggris (BoE).
Untuk mata uang Rupiah, walaupun masih menunjukan tren penguatan, namun potensi berbalik arah mata uang Rupiah masih terbuka lebar. Rupiah masih sangat rentan terhadap sentimen-sentimen dari luar. Selain itu, gejala anomali terhadap mata uang Rupiah diperkirakan akan sering terjadi, yang nantinya akan membuat bingung pelaku pasar.
Subscribe to:
Comments (Atom)