Tuesday, March 27, 2007

Hitung-Hitung Investasi ORI

Medan Bisnis, 26 Maret 2007
Pemerintah menjadwalkan akan menerbitkan Obligasi Negara Ritel (ORI) untuk yang kedua kalinya. Karena itu ORI yang akan diterbitkan saat ini bernama ORI-2. tidak jauh berbeda dengan ORI yang diterbitkan sebelumnya. Hanya saja, kupon atau bunga lebih kecil dibandingkan dengan ORI-1. Hal tersebut dikarenakan adanya tren penurunan suku bunga Rupiah.

Selain untuk diversifikasi sumber pembiayaan pemerintah, penerbitan ORI juga bertujuan untuk memperluas basis investor. Khususnya investor dari kalangan ritel. Jadi masyarakat yang mempunyai modal diatas 5 juta mempunyai kesempatan mendapatkan bunga sebesar 9.28% (belum dipotong pajak). Bunga tersebut lebih besar apabila dibandingkan dengan bunga deposito saat ini yang berkisar diantara 6 hingga 8% pertahun.

Jika dibandingkan dengan SBI, ORI-2 juga lebih menarik. Karena SBI saat ini mengacu pada BI Rate sebesar 9%. Selain itu, kalau mau berinvestasi di SBI juga harus mempunyai modal minimal Rp.100 juta, dan harus melalui proses lelang. Jadi ORI tetap lebih menguntungkan dari sisi teknisnya.

Persyaratan lainnya juga tidak begitu rumit, selain membuka rekening kustodi dan tabungan, calon investor juga mampu menunjukan bahwa dia adalah benar merupakan asli penduduk Indonesia dengan melampirkan KTP atau SIM. Bagi calon investor yang belum memiliki rekening kustodian, beberapa Bank telah menyiapkan kemudahan untuk membuka rekening tersebut.

Berinvestasi di ORI hampir tidak memiliki resiko, karena pembayarannya dijamin pemerintah. Namun, di pasar skunder harga Obligasi bisa saja turun sehingga menimbulkan capital loss. Resiko tersebut sering juga disebut dengan market risk (resiko pasar).

Akan tetapi, dengan kecenderungan penurunan suku bunga saat ini, bisa diperkirakan kemungkinan terjadinya capital loss semakin kecil. Karena, pemicu utama turunnya harga Obligasi biasanya karena ada tren kenaikan suku bunga. Bagi mereka yang menginginkan produk investasi tanpa resiko tinggi, maka ORI merupakan pilihan yang tepat.

Selain menawarkan bunga yang lebih tinggi dari deposito. ORI juga menawarkan keuntungan harga Obligasi di pasar skunder. Jadi, seorang investor yang telah membeli ORI di pasar perdana, berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga obligasi di pasar skunder atau capital gain.

Bagaimana itu terjadi?. Data menteri keuangan saat ini menyebutkan bahwa terjadi kenaikan permintaan terhadap ORI yang mencapai lebih dari Rp. 6 Trilyun. Apabila keadaan ini berlangsung hingga ke pasar skunder, maka akan terjadi kenaikan permintaan ORI (oversubscribe), dan sudah dapat dipastikan harga ORI mengalami kenaikan per-unitnya. Nah, selisih yang lebih besar antara harga di pasar skunder dengan harga di pasar perdana itu yang disebut dengan capital gain.

Namun, investor harus tetap jeli dalam memilih agen penjual. Karena setiap agen penjual (perbankan atau perusahaan sekuritas) memberikan biaya administrasi yang berbeda. Pilih agen penjual yang menawarkan biaya administrasi yang rendah.

Hitung seluruh pengeluaran yang diakibatkan dari transaksi ORI, mulai dari pajak hingga biaya administrasi. Pastikan keuntungan bersih yang anda dapatkan lebih besar dari produk investasi lain seperti deposito. Dan lebih baik lagi kalau investasi di ORI bunganya (netto) lebih besar dari laju inflasi, karena investasi yang menguntungkan adalah investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dari laju inflasi.

Menarikkah Bunga Deposito?

Medan Bisnis, 26 Maret 2007
Hingga saat ini, Bank memiliki kecenderungan untuk menyimpan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di Bank Indonesia, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat baik perorangan maupun perusahaan untuk memiliki SBI. Umumnya, hal tersebut dilakukan karena suku bunga SBI memberikan imbal hasil atau yield tinggi dan tanpa resiko gagal bayar.

SBI merupakan instrumen surat berharga yang paling besar pasarnya, karena besarnya tidak dibatasi oleh permintaan maupun kelebihan likuiditas dari perbankan. Akan tetapi, SBI lebih dikaitkan dengan target moneter pemerintah.

Nah, apa jadinya kalau BI rate yang menjadi suku bunga acuan mulai merangkak turun. Tentunya perbankan juga akan mengikuti hal yang sama dan berpotensi memberikan bunga yang lebih rendah dari bunga SBI.

Pada waktu pemerintah menaikan harga BBM yang rata-rata sebesar 126% akhir 2005 lalu, suku bunga SBI sempat bertengger di level 12.75%. Sementara suku bunga deposito perbankan rata-rata berkisar antara 9% hingga 11% pertahun.

Sementara itu, laju inflasi pada saat harga BBM dinaikan diatas angka 17% year on year (2005). Kalau kita hitung angka inflasi sebesar itu tentunya lebih tinggi dari bunga deposito yang hanya berkisar 9% hingga 11% pertahun tersebut.

Kenaikan harga barang yang rata-rata naik sebesar 17% ternyata tidak diikuti oleh kenaikan bunga deposito yang signifikan. Apalagi buat anda yang mengandalkan gaji, apakah kenaikan gaji tersebut sudah naik sebesar laju inflasi?, kalau belum, berarti ada kemrosotan baik daya beli maupun pendapatan real anda pribadi. Hal tersebut selalu menjadi barometer kemana arah angka kemiskinan negeri ini nantinya.

Pada saat ini, BI rate berada di level 9.25%. suku bunga deposito berada dalam kisaran 5 hingga 7%. Ada penurunan, karena BI (Bank Indonesia) melakukan pemotongan BI rate secara gradual dalam setiap rapat dewan gubernur BI di awal bulan.

Memang terjadi penurunan inflasi yang signifikan dari awal tahun (januari) 2006 hingga ke awal tahun 2007, yakni hanya sebesar 6.6% (skala nasional). Tapi perlu diingat, ada kenaikan harga beras yang mencapai 20% selama bulan februari kemarin, yang mengancam meningkatnya laju inflasi pada tahun ini.

Setiap daerah pasti memiliki kontribusi inflasi yang berbeda terhadap laju inflasi secara nasional (skala nasional). Misalkan ada daerah yang tidak mengalami kenaikan bahan makanan (misal:beras) yang tinggi, karena di daerahnya surplus beras. Sehingga kenaikan harga beras yang signifikan tidak begitu berpengaruh terhadap laju inflasi didaerah tersebut.

Beruntung kalau anda tinggal didaerah tersebut. Tapi apa jadinya kalau anda tinggal ditempat dimana semua bahan makanan dikirmkan dari luar daerah tempat anda tinggal. Harga bahan makanan tersebut tentunya berpotensi mengalami fluktuasi harga yang signifikan.

Kaitannya dengan bunga deposito, bagi anda yang suka menyimpan uang dalam deposito, pertimbangkan untuk tetap mengawasi perubahan harga disekitar anda. Jangan-jangan anda yang saat ini terbuai dengan bunga yang tinggi dari deposito, justru mengalami kerugian.

Akan tetapi, kalau anda tertarik untuk investasi di SBI bisa juga. Karena BI juga memberikan kesempatan bagi perorangan untuk ikut dalam lelang SBI. Minimal uang yang harus anda miliki sebesar Rp.100 Juta dan selebihnya kelipatan Rp.50 Juta.

Nah, dalam lelang SBI tersebut siapa saja yang akan menang?, Bagi mereka yang menawarkan suku bunga paling rendah (acuan BI rate) serta nominal yang tinggi maka dialah yang berpotensi menang dalam lelang SBI. Kalau anda menang?, maka anda akan menikmati imbal hasil yang lebih tinggi dari bunga deposito.

Tuesday, March 13, 2007

Penurunan BI Rate Belum Signfikan

Medan Bisnis, 12 Maret 2007
Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9% pada saat ini. Penurunan tersebut diambil seiring dengan membaiknya laju tekanan inflasi pada bulan Februari yang hanya sebesar 0.6%.

Laju inflasi tersebut lebih kecil dari ekspektasi analis kebanyakan yang memperkirakan akan terjadi lonjakan inflasi diatas 1% selama bulan Februari. Namun, diperkirakan penurunan tersebut tidak akan berdampak signifikan bagi bergeraknya sektor riil, karena masih terdapat masalah struktural penghambat tumbuhnya sektor riil.

Dengan penurunan BI rate maka akan terjadi penurunan pada bunga SBI, yang juga akan berimbas pada penurunan bunga deposito perbankan. Hal tersebut diperkirakan akan memberikan dampak negatif bagi pengumpulan dana pihak ke-3 perbankan.

Banyak investor akan mencari bentuk investasi lain selain menanamkannya dalam bentuk deposito. Beberapa alternatif memang ditawarkan oleh pemerintah seperti Obligasi Negara Ritel atau ORI. Atau bagi mereka yang mempunyai dana lebih bisa berinvestasi dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang nota bene mempunyai imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito.

Penurunan suku bunga biasanya diikuti dengan berbaliknya sejumlah dana ke bentuk investasi lain yang lebih menguntungkan. Kalau imbal hasil dari investasi yang ditawarkan oleh negara lain lebih mumpuni, maka berpotensi membuat mata uang negeri asal dana tersebut melemah.

Jadi perlu dilakukan sebuah terobosan agar dana tersebut tetap berada di dalam negeri dan tidak parkir di negara lain. Penerbitan ORI merupakan salah satu upaya tersebut. Tapi belum ada jaminan pasar finansial kita akan tetap bergerak di jalur hijau.

Negara lain yang saat ini memberikan suku bunga yang lebih kecil dari BI Rate, memang kalah menarik dibandingkan dengan Indonesia untuk berinvestasi. Namun, investasi yang hanya mengandalkan suku bunga semata, hanya akan membuat investor menyimpan dananya dalam jangka pendek.

Begitu ada penurunan suku bunga, maka kekhawatiran ada arus balik modal bermunculan. Kalau memacu sektor riil, maka pemerintah dituntut untuk memperbaiki masalah struktural hingga memberikan insentif-insentif lainnya seperti keringanan pajak.

Selain itu, negeri ini belum lepas dari sejumlah faktor resiko yang sangat diperhitungkan dalam menentukan investasi. Walaupun saat ini pemerintahan dapat diasumsikan dalam keadaan stabil, namun belum ada jaminan menjelang pemilu nanti kondisi akan tetap sama, namun kita semua pasti tidak mengharapkan ada hal negatif yang terjadi.

Kalaupun sejauh ini sejumlah indikator ekonomi di pasar finansial menunjukan perubahan yang positif, namun belum ada jaminan akan berdampak positif bagi perbaikan sektor riil.

Butuh waktu memang, karena permasalahan pengangguran, kemiskinan, perburuhan dan masalah fundamental ekonomi bangsa ini bukan hanya ditentukan dalam rapat dewan gubernur BI yang menentukan arah suku bunga. Akumulasi kebijakan serta implementasi positif dari semua stake holder lah yang akan menentukan perbaikan ekonomi bangsa ini. Jadi bukan hanya masalah suku bunga.

Monday, March 05, 2007

Rupiah Kembali Bergejolak

Medan Bisnis, 05 Maret 2007
Pada pertengahan perdagangan minggu kemarin, Rupiah kembali melemah hingga mendekati level 9200. Melemahnya Rupiah lebih dikarenakan sentimen negatif eksternal, dimana terjadi aksi jual besar-besaran di lantai bursa global.

Melemahnya indeks bursa Dow Jones yang sempat melemah hingga 400 poin menjadi akar masalah dari melemahnya Rupiah. Pernyataan gubernur bank sentral Amerika yang menyatakan bahwa akan terjadi pelemahan pada laju perekonomian Amerika menjadi pemicu memburuknya kinerja pasar finansial di Asia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat melemah hingga 91 poin pada sesi pembukaan perdagangan hari rabu (28/02) minggu kemarin. Melemahnya IHSG turut dibarengi dengan melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia.

Akan tetapi, kinerja mata uang Yen Jepang tetap menunjukan tren penguatan yang signifikan terhadap US Dolar. Sayangnya, penguatan Yen Jepang tersebut tidak memberikan kontribusi positif bagi pergerakan mata uang Asia lainnya termasuk Rupiah.

Selain dikarenakan likuidasi dari transaksi carry trade, menguatnya mata uang Yen Jepang juga didorong oleh langkah repatriasi, dimana perusahaan-perusahaan Jepang menarik dananya dari luar negeri menjelang berakhirnya tahun fiskal.

Sejauh ini, tren penguatan Yen Jepang masih terus berlanjut. Belum ada yang bisa memastikan kapan likuidasi carry trade akan berakhir. Namun, ditengah memburuknya data perekonomian Amerika saat ini, tidak menutup kemungkinan bagi mata uang Yen Jepang untuk terus melanjutkan tren penguatan terhadap US Dolar.

Sementara itu, Rupiah juga tidak menunjukan performa yang baik seiring dengan membaiknya kinerja mata uang Yen Jepang. Padahal, Rupiah mempunyai sentimen positif yang seharusnya mampu mengangkat nilai tukar Rupiah ke level yang lebih baik lagi.

Tidak lain, sentimen positif tersebut adalah dirilisnya data inflasi bulan Februari yang hanya sebesar 0.62%. Angka tersebut lebih kecil dari ekspektasi pasar sebelumnya, yang memperkirakan akan terjadi kenaikan inflasi diatas 1% pada bulan Februari.

Namun, tidak sepenuhnya data inflasi tersebut akan menjadi support bagi penguatan Rupiah. Rendahnya laju tekanan inflasi akan memunculkan spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali memotong besaran suku bunga dalam rapat dewan gubernur (RDG) BI pada tanggal 6 Maret mendatang.

Tentunya, penurunan suku bunga tersebut akan membuat perbedaan suku bunga atau interest rate differential antara Rupiah dan Dolar Amerika semakin mengecil. Namun, terkadang kekhawatiran tersebut tidak terbukti, seperti yang terjadi pada pemotongan BI rate pada bulan-bulan sebelumnya.

Dalam keadaan seperti ini, pelaku pasar sebaiknya melakukan evaluasi jangka menengah ke jangka panjang guna menghindari gejolak fluktuasi mata uang yang signifikan. Karena, dalam jangka pendek fokus pasar akan terpecah pada beberapa isu yang memang sulit untuk diketahui kemana muaranya.

Diantaranya adalah isu invasi terhadap Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Isu tersebut sempat membuat US Dolar melemah, namun melemahnya US Dolar tersebut hanya bersifat sementara.

Guna menghindari efek negatif dari isu yang berkembang, sebaiknya pelaku pasar lebih mengamati faktor fundamental ekonomi dari setiap negara. Untuk nilai tukar Rupiah, walaupun sempat terpuruk hingga mendekati level 9200, namun, keadaan tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Kenapa?, setidak-tidaknya pemerintah saat ini mempunyai cadangan devisa yang cukup signifikan, yang suatu saat dapat digunakan untuk meredam gejolak niali tukar Rupiah yang bergerak liar.

Tuesday, February 27, 2007

Kenaikan Suku Bunga BOJ Tidak Direspon Pasar

Medan Bisnis, 26 Februari 2007
Walaupun pasar sudah menduga bahwa tidak akan terjadi penurunan suku bunga dalam rapat dewan gubernur Bank of Japan (BOJ) yang berakhir rabu kemarin. Namun, mata uang Yen Jepang tetap berada dibawah tekanan walaupun mendapat support dari kenaikan suku bunga BOJ.

Mata uang Yen belum lepas dari statusnya sebagai mata uang yang banyak digunakan untuk transaksi carry trade. Jadi, walaupun suku bunga BOJ dinaikan sebesar 25 basis poin menjadi 0.5%, pasar menilai mata uang Yen Jepang tetap potensial menjadi mata uang yang layak dipinjam lalu dikonversi dan disimpan dalam bentuk mata uang lain, yang memberikan suku bunga lebih tinggi.

Padahal sebelumnya, Yen Jepang sempat menguat terhadap US Dolar sebelum digelarnya rapat dewan gubernur BOJ tersebut. Namun, penguatan tersebut hanya sementara, selain dikarenakan aksi profit taking, melemahnya Yen Jepang juga dikarenakan membaiknya ekspektasi data perekonomian di Amerika.

Lihat saja data consumer price index (CPI) Amerika yang merealisasikan angka lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Ini menunjukan bahwa kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika atau The FED akan menurunkan suku bunga selama tahun 2007 ini tidak akan terjadi. Meski demikian itu hanyalah perkiraan yang spekulatif.

Alasan dinaikkannya suku bunga BOJ sendiri telah diperkirakan pasar sebelumnya. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi di Jepang selama kuartal ke empat tahun 2006 menjadi pendorong utama keputusan BOJ menaikan suku bunganya.

Berbeda terhadap mata uang Poundsterling dan Euro. US Dolar justru bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terhadap kedua mata uang tersebut. Terhadap Poundsterling US Dolar melemah terdorong oleh pasar yang lebih bersikap hawkish (arah suku bunga yang cenderung naik).

Namun, mata uang Poundsterling diperkirakan akan bergerak dengan fluktuasi yang tajam seiring dengan sejumlah data perekonomian Inggris yang kerap merealisasikan angka yang beragam. Terkadang sejumlah data perekonomian Inggris merealisasikan angka positif, namun, turut dibarengi dengan realisasi negatif di sejumlah data perekonomian lainnya.

Demikian halnya terhadap Euro. Sikap hawkish sejumlah pejabat bank sentral eropa atau ECB sempat membuat Euro menguat terhadap US Dolar. Namun, sikap tersebut memudar setelah sejumlah data perekonomian di zona Euro merealisasikan angka yang tidak lebih baik dari data perekonomian Amerika.

Hal tersebut berujung pada melemahnya mata uang Euro. Namun terhadap Yen Jepang Euro masih membukukan penguatan, yang diperkirakan masih di topang oleh transaksi yang lebih mengedepankan faktor selisih suku bunga (carry trade).

Kedepan, pelemahan US Dolar masih berpotensi sangat lebar. Terlebih kebijakan politik luar negeri Amerika yang hingga saat ini diperkirakan masih akan lebih ofensif dalam menyelesaikan masalah nuklir Iran.

Kebijakan tersebut sempat membuat mata uang US Dolar melemah, sesaat setelah beredar isu bahwa Amerika akan menyerang Iran lewat serangan udara. Kebijakan politik luar negeri Amerika tentunya akan berimplikasi pada sektor keuangan Amerika sendiri.

Walaupun terjadi pergerakan suku bunga di Asia yang stagnan, atau bahkan menurun. Namun, laju pertumbuhan di Asia yang diperkirakan masih akan tetap tumbuh secara signifikan, akan menjadi fundamental bagi pergerakan mata uang di Asia yang masih berpeluang besar untuk tetap menguat.

Tuesday, February 20, 2007

Beras Petani dan Petani Beras

Medan Bisnis, 19 Februari 2007
Setelah banjir melanda Ibu Kota, kini Indonesia kembali dihebohkan dengan kenaikan harga beras yang cukup signifikan. Permasalahan beras sepertinya menjadi permasalahan klasik. Dari permasalahan agraria, produksi, distribusi maupun harga.

Kenaikan harga beras akhir-akhir ini memang menjadi perhatian serius pemerintah. Karena kenaikan beras berpotensi menjadi pemicu tingginya laju inflasi. Secara makro memang demikian, namun, bukankah seharusnya kenaikan harga beras juga memberikan rezeki tambahan bagi petani yang menanam padi. Namun, sejauh ini, kenaikan harga beras juga tidak membuat harga gabah dilevel petani turut naik, seiring dengan kenaikan beras itu sendiri.

Padahal secara ekonomis, pertanian merupakan salah satu fundamental ekonomi bangsa kita yang mampu bertahan ditengah krisis moneter tahun 1997. Kenaikan harga beras saat ini merupakan akumulasi dari kekhawatiran akan berkurangnya stok beras pemerintah yang diakibatkan bencana alam, sehingga menjadikan proses distribusi serta produksi kembali terhambat.

Selain itu, mata rantai distribusi beras yang terlalu panjang juga menjadi lahan tersendiri bagi spekulan untuk meraup keuntungan. Apalagi proses distribusi beras tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, sehingga potensi kenaikan beras jauh lebih tinggi bagi daerah yang sulit dijangkau.

Impor merupakan jalan satu-satunya yang mampu menahan laju kenaikan harga beras. Namun, siapa yang menjamin bahwa beras impor tersebut tidak bocor ke pasar. Sejatinya beras impor hanya digunakan untuk pengamanan stok yang diperuntukan untuk operasi pasar.

Sebenarnya pemerintah juga mempunyai jurus lain untuk menahan kenaikan harga beras. Yakni dengan melakukan pembelian beras dalam negeri. Namun, ketidaksesuaian harga masih menjadi kendala utama. Misalkan, pemerintah menetapkan bahwa harga pembelian di dalam negeri sebesar Rp.3.500/kg. Namun, harga dipasar terkadang diatas harga tersebut, sehingga memudarkan kemauan politik pemerintah untuk membeli beras dalam negeri.

Selain dapat mengurangi cadangan devisa, impor juga membuat beras dalam negeri tidak bersaing. Jadi sudah semestinya, impor beras hanya dilakukan apabila kondisi perberasan dalam negeri benar-benar dalam situasi kritis atau bahkan gawat darurat.

Solusi
Sejauh ini, kesejahteraan petani beras tidak kunjung meningkat walaupun terjadi kenaikan harga beras yang cukup signifikan. Kesejahteraan petani memang sangat dilematis. Kenaikan harga BBM yang naik rata-rata sebesar 126% di akhir tahun 2005, tidak dibarengi dengan kenaikan serupa terhadap harga pembelian gabah. Sehingga kesejahteraan petani tetap merosot.

Kalaupun harga gabah dinaikan, maka harga beras tentunya turut melambung. Inflasi yang merupakan salah satu indikator ekonomi makro juga akan kembali naik. Faktanya pertanian selalu menjadi data terkait dengan perubahan ekonomi makro. Sehingga, memberikan tekanan terhadap pergerakan harga beras menjadi semacam keharusan yang dilakukan guna tetap mempertahankan indikator ekonomi negara kita tetap mengkilap. Dalam hal ini, petani tetap menjadi korban.

Untuk itu, pemerintah dituntut untuk melakukan terobosan guna mengontrol pergerakan harga beras dan menigkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah harus menunjukan komitmen yang kuat terhadap kepentingan petani, seperti menjaga stabilitas harga pupuk, mengoptimalkan produksi pangan lokal, reorganisasi tani, menjamin harga yang berelasi langsung terhadap ongkos produksi maupun subsidi yang lebih besar bagi sektor pertanian.

Tentunya keinginan tersebut juga membutuhkan modal yang sangat besar serta porsi yang lebih besar lagi dalam APBN. Atau, pemerintah dapat melakukan alternatif penyelesaian masalah lain yakni diversifikasi pangan.

Bukankah tidak semua wilayah di Indonesia dapat menghasilkan beras. Masyarakat Indonesia yang beragam mempunyai ragam konsumsi makanan pokok yang berbeda pula. Pemerintah dapat membiarkan masyarakat mengkonsumsi bahan makanan pokok selain beras, sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing dalam menghasilkan produk makanan pokok pilihannya. Dengan begitu pemerintah tidak dipusingkan dengan kenaikan harga beras, yang hampir setiap tahun menjadi polemik.

Di Indonesia, banyak petani yang menggarap lahan kurang dari 0.3 Hektar. Dengan lahan yang sempit itu sulit untuk mencapai produktifitas tinggi serta memperoleh penghasilan yang layak. Apalagi, hampir semua petani di Indonesia merupakan net consumer, dan menghabiskan 50% penghasilannya untuk membeli bahan pangan.

Ini sebuah ironi, dan menunjukan bahwa petani beras sekalipun masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan beras petani itu sendiri. Kedaulatan pangan di negeri ini masih jauh dari harapan. Sampai kapan?, tentu seluruh masyarakat Indonesia berharap ini hanyalah badai yang pasti akan berlalu.

US Dolar Terpuruk di Asia

Medan Bisnis, 19 Februari 2007
Dalam sesi perdagangan minggu lalu, mata uang asia khususnya Yen Jepang melemah terhadap US Dolar. Bahkan, spekulasi yang menyebutkan sebelumnya bahwa Yen Jepang akan menjadi tema dalam pertemuan negara yang tergabung dalam G-7 tidak terbukti.

US Dolar pun diperdagangkan dalam rentang perdagangan yang sempit dengan kecenderungan menguat terhadap mata uang utama dunia. Fokus pasar sebelumnya yang tertuju pada testimony Gubernur Bank Sentral Amerika Ben Bernanke, juga sempat mengangkat US Dolar ke level yang lebih tinggi lagi terhadap rivalnya.

Pada saat Bernanke mengadakan pertemuan dengan komisi perbankan senat Amerika, bernanke sempat mendapat pujian dari anggota senat karena mampu mempertahankan perekonomian Amerika dalam jalur yang benar.

Namun, dalam pertemuan tersebut Bernanke menyatakan bahwa laju tekanan inflasi sudah mulai berkurang dan sektor perumahan tetap menjadi permasalahan dalam perekonomian Amerika. Hal tersebut mendapat respon negatif dari psar yang memicu aksi jual US Dolar sehingga berbuntut pada pelemahan mata uang US Dolar (Greenback).

Mata uang di Asia khusunya Yen Jepang juga menguat signifikan terhadap US Dolar. Mata uang lainnya seperti Dolar Singapura juga mengalami penguatan tajam. Bahkan, pemerintah Singapura sempat melakukan intervensi guna menahan laju penguatan Dolar Singapura.

Tidak hanya sampai disitu, mata uang Yen Jepang masih melanjutkan penguatan setelah data pertumbuhan ekonomi Amerika untuk kuartal keempat naik cukup signifikan. Selama kuartal keempat tahun 2006 pertumbuhan ekonomi jepang merealisasikan kenaikan sebesar 1.2%, sehingga mengangkat angka pertumbuhan tahun dari semula sebesar 0.3% menjadi 4.9%.

Sejauh ini, Bank of Japan (BOJ) sangat berfokus pada data consumer spending serta inflasi, guna mengambil keputusan suku bunga BOJ. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi di Jepang mengindikasikan bahwa ada kemungkinan akan dinaikkannya suku bunga BOJ dalam minggu ini.

Penguatan Yen Jepang telah mendorong sejumlah mata uang Asia lainnya menguat termasuk nilai tukar Rupiah. Walaupun laju penguatan Rupiah relatif terbatas, namun Rupiah diperkirakan akan tetap melanjutkan tren penguatan.

Rupiah mampu menembus level psikologis 9000, apabila pemerintah tidak melakukan intervensi terhadap pergerakan Rupiah dipasar. Namun, disisi lain BI juga mempunyai kepentingan untuk tetap menjaga Rupiah agar tidak berfluktuasi dalam rentang perdagangan yang lebar.

Walaupun masih diragukan apakah BI akan kembali menurunkan suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI mendatang. Namun, sejumlah indikator lain seperti meningkatnya cadangan devisa serta pasar finansial regional asia yang diperkirakan masih tetap tumbuh akan memberikan kontribusi positif bagi pasar finansial dalam negeri.

Dalam jangka pendek Rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran yang sempit antara 8980 hingga 9070, dengan kecenderungan menguat. Pergerakan Rupiah sendiri diperkirakan akan lebih banyak memamfaatkan sentimen dalam negeri, kendati sejumlah factor eksternal berpotensi memberikan dorong bagi penguatan Rupiah ke level yang lebih tinggi lagi.

Monday, February 12, 2007

Suku Bunga Abaikan Inflasi

Medan Bisnis, 12 Februari 2007
Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 9.25%. Keputusan tersebut diambil dan mengabaikan tingginya ancaman inflasi selama bulan Februari ini yang diakibatkan oleh banjir.

Namun, sebagian pelaku pasar menilai BI konsisten terhadap keputusannya dan sesuai dengan skema semula yakni inflation targeting. Padahal, pasar sebelumnya sempat mengkhawatirkan BI tidak akan kembali menurunkan suku bunga seiring dengan bencana alam yang melanda negeri ini.

Namun, walaupun suku bunga diturunkan, indeks harga saham gabungan atau IHSG tidak menunjukan kinerja yang positif. Indeks justru sempat melemah kurang dari 1%, dimana diyakini dipicu dan sangat erat kaitannya dengan banjir di Ibu Kota.

Banyak saham yang kembali turun harganya, hanya beberapa saham yang mengalami kenaikan, misalnya saham-saham yang mewakili produk-produk makanan. Penurunan harga saham tersebut dinilai wajar, karena dengan kondisi memprihatinkan saat ini, seharusnya potensi melemahnya IHSG lebih besar lagi.

Akan tetapi, sejauh ini Rupiah masih relatif stabil terhadap US Dolar. Derasnya capital inflows yang masuk kenegeri ini membuat Rupiah nyaman walaupun perbedaaan suku bunga Rupiah dan US Dolar kembali mengecil.

Kita lihat saja penerbitan obligasi pemerintah yang didenominasi oleh mata uang US Dolar. Banyak investor yang ingin menanamkan duitnya dalam instrumen tersebut. Bahkan, kabar menyebutkan bahwa penerbitan obligasi yang menyerap likuiditas sebesar $1.5 Milyar kelebihan penawaran atau oversubscride.

Kepercayaan investor asing kembali pulih setelah lembaga pemeringkat Fitch Rating dan Moody’s kembali menaikan peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi positif. Hal ini kabar baik tentunya, dan sekaligus menjadi barometer fundamental ekonomi Indonesia kedepan nantinya.

Dengan penyerapan likuiditas tersebut, pemerintah berhasil menambah cadangan devisa sehingga mempunyai ruang untuk mengendalikan nilai tukar Rupiah. Hal inilah yang menjadi pemicu utama menguatnya Rupiah belakangan ini. Padahal secara keseluruhan pergerakan Rupiah dibayangi oleh sentimen negatif dalam negeri.

Kembali ke masalah suku bunga. Kebijakan BI yang dinilai sangat berani tersebut tentunya menyisakan banyak pertanyaan. Ditengah ancama kenaikan harga bahan makanan pokok di jakarta yang naik rata-rata sebesar 20%, serta langkah Bank sentral Amerika yang tetap mempertahankan suku bunga di level 5.25%, tentunya membuat ruang gerak penurunan suku bunga semakin kecil.

Ada skenario yang mungkin bisa memberikan gambaran kenapa BI mengambil langkah tersebut. Walaupun inflasi diperkirakan naik selama bulan Februari ini, namun data inflasi tersebut baru akan dirilis bulan Maret mendatang.

Jadi, walaupun pasar paham bahwa inflasi akan kembali naik, namun berapa besar kenaikan tersebut tentunya masih sekedar wacana. Ada yang memprediksikan bahwa inflasi selama bulan Februari akan naik diatas 1% walaupun tetap ada yang yakin bahwa laju inflasi masih cukup terkendali.

Nah, ditengah spekulasi tersebut, tentunya ada kesempatan untuk menurunkan suku bunga yang mengacu pada inflasi bulan Januari sebesar 1.04%. Selain itu, Pemerintah tentunya juga sangat mengkhawatirkan besaran inflasi selama bulan Februari yang berpotensi merealisasikan angka yang lebih buruk dari perkiraan.

Sehingga dampak psikologis yang harus diterima juga akan semakin besar nantinya. Bayangkan apabila BI harus menurunkan suku bunga ketika data inflasi selama bulan Februari baru aja dirilis. Tentunya pasar berpotensi bergejolak. Jadi kesempatan itu ada pada saat ini, namun kedepan BI tentunya akan semakin sulit untuk menurunkan suku bunga karena harus mempertimbangkan tingginya inflasi.

Nah kalau sudah begini, dalam hitungan yang sangat optimis sekalipun inflasi akhir tahun di level 7% tentunya akan sulit untuk tercapai, karena harus mempertimbangkan banyak hal. Kecuali, BI melakukan kebijakan yang sangat radikal serta mengabaikan besaran inflasi.

Tuesday, February 06, 2007

Stabilitas Rawan Koreksi

Medan Bisnis, 05 Januari 2007
Kita kembali melihat Rupiah dan IHSG stabil dan membentuk tren positif. Spekulasi yang berkembang pun menyebutkan bahwa pengaruh dibubarkannya CGI (Consultative Group on Indonesia) yang paling memberikan andil besar bagi stabilnya pasar finansial di Indonesia. Mungkin memang demikian, namun masih banyak hal lain yang dapat menjadi pemicu stabilnya pasar finansial kita baru-baru ini.

Tekanan jual Rupiah kian hari semakin berkurang. Sejumlah investor kembali memasukan modalnya dalam sejumlah investasi berbentuk Obligasi, SBI, SUN dan Saham. Pasarpun kebanjiran likuiditas Rupiah. Bahkan suku bunga overnight di pasar interbank negatif.

Namun tetap tidak ada garansi bahwa uang yang masuk tersebut akan bertahan dalam waktu yang lama. Penguatan Rupiah belakangan ini memunculkan kekhawatiran baru bahwa akan ada arus balik atau koreksi secara teknikal.

Terlebih, psikologi pasar yang menyebutkan bahwa nilai tukar Rupiah sudah menemui titik terkuatnya sehingga rawan untuk kembali berbalik arah.

Kalau sudah begini, mungkin kita harus me-review beberapa indikator ekonomi yang baru-baru ini masih belum memberikan harapan akan terciptanya stabilitas yang tahan lama. Misalnya inflasi, pada bulan Januari inflasi masih merealisasikan angka yang dinilai masih cukup tinggi.

Walalupun angka inflasi bulan Januari 2007 sebesar 1.04%, lebih kecil dari bulan Desember 2006 sebesar 1.21%, namun tetap saja angka inflasi sebesar 1.04% selama awal tahun tersebut dinilai diatas angka normal dan cukup mengkhawatirkan.

Kenapa?, karena di bulan Januari nyaris tidak ada perayaan keagamaan maupun perayaan hari besar lain yang biasanya akan memicu naiknya konsumsi masyarakat. Yang ada hanya kenaikan harga beras yang lebih dikarenakan faktor spekulasi yang selalu terkait dengan ketersediaan stok beras dalam negeri maupun hal tak terduga lain seperti bencana alam yang terkait dengan musim panen.

Lain lagi halnya dengan kenaikan gaji PNS di tahun 2007 ini. Dalam skala pasar yang kecil kenaikan gaji PNS selalu menjadi tolak ukur kenaikan harga barang. Padahal kalau dihitung-hitung kontribusi kenaikan gaji PNS terhadap inflasi tidaklah sebesar yang diasumsikan pasar sebelumnya.

Nah, sekarang apalagi?, faktor non ekonomi lagi-lagi akan menjadi pemicu utama melonjaknya inflasi selama bulan Februari. Semua orang tahu kalau saat ini, Jakarta yang merupakan Ibukota negara kita lagi terendam banjir. Bahkan, ada media yang menyatakan bahwa Indonesia saat ini lagi terapung.

Implikasinya jelas, distribusi BBM dan bahan pokok maupun banyak hal lain yang terkait dengan berputarnya roda perekonomian negeri ini akan terganggu. Terus, inflasi juga akan kembali meningkat tentunya. Terlebih, 80% uang beredar di negeri ini hanya berputar-putar di Jakarta. Kedepan, dengan mudah kita sudah bisa memperkirakan kemana arah suku bunga nantinya. Kalau sudah begitu, tentunya kita juga bisa memperkirakan pergerakan Rupiah nantinya.

Jadi, untuk membuat roda perekonomian negeri ini berjalan lancar, manusia tidak hanya dituntut untuk mampu mengelola aspek-aspek yang lebih bersifat ekonomis. Memperbaiki sinergi hubungan antara manusia dan alam juga sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Sekali lagi, walaupun terkadang faktor non-ekonomi (alam) bisa diabaikan, namun, kehadirannya juga mampu merubah pandangan pembuat kebijakan yang terkadang sudah berbicara jauh kedepan mengenai roda ekonomi bangsa ini.

Tuesday, January 30, 2007

BOJ Masih Akan Menunda Kenaikan Suku Bunga

Medan Bisnis, 29 Januari 2007
Selama sepekan sebelumnya, pasar dikejutkan oleh langkah Bank Sentral Jepang yang masih mempertahankan suku bunga sebesar 0.25%. Keputusan tersebut diluar ekspektasi pasar yang justru memperkirakan adanya kenaikan suku bunga.

Melemahnya laju perekonomian Jepang mengindikasikan bahwa Bank of Japan masih akan menunda kenaikan suku bunga selama triwulan I 2007. Terlebih data Core CPI (CPI inti) Jepang yang selama bulan Desember mencatatkan kenaikan 0.1%, lebih kecil dari ekspektasi pasar sebelumnya sebesar 0.2%.

Menimbang roda perekonomian Jepang yang relatif jalan ditempat, masih ada hal lain yang dapat dipertimbangkan, yaitu pergerakan mata uang Yen Jepang itu sendiri. Pergerakan Yen yang cenderung terdepresiasi akan menjadi perhatian BOJ untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga BOJ.

Apalagi, karena rendahnya suku bungan Yen, mata uang Yen Jepang menjadi sasaran pasar untuk melakukan transaksi carry trade (mengambil keuntungan dari perbedaan suku bunga).

Dalam pertemuan negara yang tergabung dalam G7, Jepang Yen tidak akan menjadi agenda utama untuk dibahas. Hal tersebut tentunya akan menjadi pertimbangan BOJ kedepan.

Hal tersebut ditekankan oleh wakil menteri ekonomi Jerman Bernd Pfaffenbael, yang menyatakan bahwa Jerman tidak akan merencakan untuk menempatkan mata uang Yen Jepang sebagai agenda utama dalam pertemuan tersebut.

The FED tidak banyak berubah
Data perekonomian AS seperti existing home sales (data penjualan rumah bekas) serta jobless calims (data pengangguran) baru-baru ini juga tidak menunjukan relasisasi yang memuaskan. Data penjualan rumah bekas di Amerika turun dan mencatatkan rekor penurunan terbesar sejak tahun 1989.

Selain itu, data jobless claims naik menjadi 36000, sehingga akan membebani perekonomian AS nantinya. Penurunan suku bunga tentunya sangat dimungkinkan untuk memperbaiki kinerja ke dua data tersebut.

Namun, data existing home sales adalah data “kelas dua”, sehingga tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika .

Data yang sangat berpengaruh tentunya datang dari data penjualan rumah baru di Amerika atau new home sales, yang kembali mencatatkan kenaikan selama bulan Desember 2006. Kenaikannya melebihi ekspektasi pasar sehingga disinyalir merupakan indikasi berakhirnya tren penurunan penjualan perumahan baru sejak tahun 1990.

Selain itu, data durable goods orders (data pemesanan barang yang tahan lama) juga kembali merealisasikan kinerja yang positif. Hal tersebut tentunya akan berdamapak pada meningkatnya laju tekanan inflasi, serta berpotensi menjadi pendorong kenaikan suku bunga AS ke depan.

Namun, bagaimana dengan data pengangguran, kalau seandainya suku bunga AS kembali dinaikan. Tentunya berpotensi akan mencatatkan realisasi yang lebih buruk lagi.

Dengan melihat beberapa indikator tersebut, bisa diperkirakan bahwa The FED masih akan mempertahankan besaran suku bunga sebesar 5.25% dalam rapat dewan Gubernur Bank Sentral AS, 31 Januari mendatang.

Namun, suku bunga Rupiah diperkirakan masih akan terus mengalami kecenderungan menurun di tahun 2007 ini. BI diperkirakan masih akan terus menurunkan suku bunga secara bertahap walaupun ada tren kenaikan suku bunga global.

Monday, January 22, 2007

Gejolak Pasar Finansial Asia

Medan Bisnis, 22 Januari 2007
Bank Sentral Jepang atau yang lebih dikenal dengan BOJ kembali mempertahankan besaran suku bunga Yen di level 0.25%. Keputusan tersebut membawa mata uang Yen Jepang kembali terpuruk terhadap US Dolar dan beberapa mata uang hard currency lainnya seperti Euro.

Melemahnya sektor konsumsi yang tidak diiringi dengan kenaikan gaji pegawai memaksa BOJ mempertahankan suku bunga acuannya. Sementara itu, data perekonomian lainnya seperti consumer price index (CPI) diperkirakan juga tidak akan mengalami kenaikan selama bulan Januari ini, seiring dengan melemahnya harga minyak dunia.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa Bank Sentral Jepang masih akan mempertahankan suku bunga dalam waktu yang cukup lama. Namun, data gross domestic product (GDP) Jepang untuk kuartal ke-4 diperkirakan akan mengalami kenaikan. Hal tersebut tentunya berpotensi menimbulkan spekulasi akan kenaikan suku bunga.

Akan tetapi, kenaikan GDP yang didominasi oleh sektor konsumsi tersebut belumlah cukup untuk menjadi stimulan. Karena kenaikan GDP kuartal ke-4 hanya dibandingkan dengan GDP kuartal ke-3 yang justru merupakan level terendah.

Hampir tidak ada lagi sentimen yang mampu menjadi isu bagi kenaikan suku bunga Yen. Walaupun Gubernur Bank Sentral Jepang Toshihiko Fukui menyatakan bahwa konsumsi masih menunjukan tren penguatan, namun, tren kenaikan tersebut masih berjalan sangat moderat.

Laju inflasi di Jepang sendiri masih sangat lambat. Diantara negara anggota G-7, Jepang merupakan negara dengan laju inflasi yang paling rendah yakni sebesar 0.3% selama tahun 2006. Bahkan, Jepang juga menjadi negara dengan penyerapan tenaga kerja yang paling sedikit (sebesar 4%) diantara negara anggota G-7 lainnya.

Menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Jepang, sebelumnya mata uang Yen sempat rebound (menguat) setelah sebuah data menunjukan bahwa terjadi peningkatan permintaan permesinan di Jepang. Namun, lagi-lagi data tersebut tidak mampu menopang runtuhnya mata uang Yen lebih jauh.

Nah, Bagaimana dengan mata uang Asia lainnya?, stabil, itu adalah realita yang terjadi saat ini. Sejumlah mata uang di Asia justru masih relatif stabil terhadap US Dolar. Kecuali mata uang Bath Thailand yang masih melemah akibat kontrol devisa yang di berlakukan sejak pertengahan Desember lalu.

Anomali yang terjadi di pasar finansial di Asia tidak terlepas dari serangkaian isu yang masih simpang-siur di beberapa negara ekonomi besar seperti Amerika, Jepang dan kawasan Eropa. Pelaku pasar kembali masuk ke pasar negara berkembang (emerging market) menyusul tidak kembali dinaikkannya suku bunga di Eropa dan Jepang, yang berbuntut pada melemahnya mata uang kedua negara tersebut.

Bahkan US Dolar yang sebelumnya sempat diperkirakan melemah, justru kembali menguat setelah Bank Sentral AS masih mempertahanan suku bunga di level 5.25%. lagi-lagi pasar di buat bingung.

Namun, mata uang Yen Jepang diperkirakan akan menjadi “primadona” selama tahun 2007 ini (selain Euro dan Poundsterling), walaupun momentum perekonomian Jepang masih melambat. Sejauh ini, komentar yang dilontarkan BOJ masih bersifat hawkish, dimana BOJ masih memberikan sinyal kenaikan suku bunga BOJ secara gradual.

Komentar yang dilontarkan BOJ tersebut cukup beralasan, mengingat laju inflasi inti (core CPI) dari tahun ke tahun masih mengalami kenaikan. Namun, apa jadinya kalau fakta justru berbicara lain, tentunya US Dolar berpotensi menjadi “primdona” dibandingkan dengan mata uang lainnya khususnya Yen Jepang. Bahkan, Rupiah yang menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik selama tahun 2006, tentunya akan mengalami tekanan yang semakin berat saja, apalagi ditambah dengan demand dari korporasi yang akan mengimpor BBM.

Wednesday, January 10, 2007

Faktor Negatif Eksternal Masih Membayangi IHSG

Medan Bisnis, 08 Januari 2007
Setelah sempat didera oleh kebijakan Bank Sentral Thailand yang sebelumnya mengunci 30% dana yang masuk ke pasar finansialnya, Rupiah dan IHSG selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal lain terkait isu nuklir Iran yang notabene akan mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia.

Sejauh ini, baik Rupiah dan IHSG masih bergerak dengan kecenderungan menguat di awal tahun. Ekspektasi membaiknya laju pertumbuhan ekonomi di tahun 2007 serta stabilnya laju tekanan inflasi yang diiringi dengan tren penurunan suku bunga, menjadi fondasi awal yang kokoh bagi pasar finansial Indonesia kedepan.

Terlepas dari fundamental dalam negeri, ancaman dari luar masih akan membayangi pasar finansial Indonesia. Serangkaian teror bom di Thailand membuat indeks bursa di Thailand dan IHSG terpuruk, walaupun sejumlah indeks bursa Asia lainnya seperti Nikkei dan Hangseng justru menguat.

Sejauh ini, kondisi keamanan di Thailand menunjukan suatu keadaan yang kondusif. Namun, belum ada yang tahu pasti apakah kekerasan di negeri “Gajah Putih” tersebut tidak akan terulang lagi. Terlebih, perpindahan kekuasaan baru-baru ini di Thailand merupakan buah hasil dari aksi kudeta yang berpotensi memunculkan separatis anti pemerintahan Thailand saat ini.

Sangat mungkin gejolak yang terjadi di Thailand masih akan terulang. Hal tersebut berpeluang menciptakan iklim perdagangan yang buruk bagi pasar finansial di kawasan ASEAN. Kejadian di Thailand sejatinya dapat menjadi pelajaran bagi negara lain, untuk tetap mewaspadai aliran dana jangka pendek yang hingga saat ini juga masih mengalir ke Indonesia.

Beralih ke faktor lainnya yang juga sangat berpengaruh, yakni harga minyak dunia. Saat ini, kita bisa tersenyum dengan pergerakan harga minyak yang masih stabil dalam beberapa bulan terakhir. Namun, kita juga harus siap mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga minyak dunia di tahun 2007 ini.

Hingga saat ini, harga minyak dunia menunjukan tren melemah di kisaran level $55/barel. Pasalnya, sebuah data dari Amerika yang sekaligus merupakan negara dengan konsumsi minyak paling besar didunia, memiliki cadangan minyak yang meningkat dalam seminggu terakhir.

Tercatat pada hari kamis (04/01) cadangan minyak Amerika meningkat 2 juta barel dibandingkan hari yang sama minggu sebelumnya. Bahkan saat ini, stok bahan bakar bensin di Amerika lebih tinggi 1.5 juta barel dari Proyeksi Analis sebelumnya.

Melemahnya harga minyak tidak terlepas dari perubahan musim di Amerika. Namun, penurunan tersebut diperkirakan bersifat musiman. Spekulasi lain menyebutkan bahwa sejumlah manager hedge fund kembali mengurangi porsi kepemilikan minyak dalam investasinya, seiring dengan harga minyak dunia yang tak kunjung mengalami kenaikan.

Masalah yang paling nyata adalah langkah negara anggota OPEC yang akan mengurangi produksi minyaknya sebesar 500 ribu barel/hari terhitung mulai 1 Februari mendatang. Tekanan lain muncul dari Iran yang menolak resolusi dewan keamanan PBB terkait dengan program nuklir negara tersebut.

Iran merupakan negara penghasil minyak terbesar kedua di dunia. Sehingga, harga minyak dunia juga sangat ditentukan oleh perkembangan politik di Iran. Apabila Iran masih berada dibawah tekanan PBB, maka bisa diprediksikan Iran dapat membuat kebijakan dengan melakukan kontrol minyak (produksi/distribusi) yang lebih ketat terhadap negara yang dianggap sebagai musuh oleh Iran.

Terkait dengan hal tersebut, tentunya potensi kenaikan harga minyak dunia akan lebih besar lagi. Bahkan, banyak analis yang memperkirakan harga minyak masih berpotensi menembus angka $70/barel dalam tahun ini.

Kenaikan harga minyak tersebut nantinya akan memberikan tekanan terhadap pergerakan Indeks maupun Rupiah. Sejauh ini, pasar masih optimis bahwa IHSG masih akan bergeliat seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat.

Apabila mengandalkan faktor ekonomis dalam negeri, maka Rupiah dan IHSG sudah saatnya untuk kembali bangkit. Walaupun besarnya Inflasi tahun 2006 masih lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi, yang menunjukan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Namun demikian, bayang-bayang hitam dari luar negeri masih kerap meruntuhkan pasar dalam negeri walaupun terkadang hanya sesaat.

Wednesday, December 20, 2006

Negosiasi Mata Uang Yuan Cina

Medan Bisnis, 19 Desember 2006
Pada tahun 1998, Pemerintah Cina mematok nilai tukar Yuan di harga 8.28 per Dolar AS. Hal tersebut dikarenakan meroketnya laju pertumbuhan ekonomi China serta adanya tekanan dari negara Eropa dan Amerika

Namun laju pertumbuhan yang tinggi tersebut tidak dapat diimbangi dengan nilai tukar Yuan. Keadaaan tersebut memaksa Yuan kembali menguat sebanyak 5.5% di level 7.83 per US Dolar saat ini.

Pada pertengahan Bulan Desember ini, Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke beserta Menteri Keuangan Amerika Henry Paulson kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke Cina. Tujuan kunjungan tersebut tidak lain adalah untuk meminta Cina memberlakukan kebijakan mata uang yang lebih fleksibel.

Maksudnya, Cina diminta untuk membiarkan mata uang Yuan kembali menguat. Hal tersebut dipicu oleh membengkaknya defisit neraca perdagangan AS yang tak kunjung menunjukan penurunan signifikan. Terlebih lagi apabila harga minyak dunia kembali naik, maka defisit neraca perdagangan AS pun kembali membengkak.

Hingga saat ini, Cina merupakan negara penyumbang defisit terbesar Amerika yang selanjutnya diikuti oleh Jepang, Kanada dan Jerman. Maklum saja, apabila Amerika kembali menekan Cina untuk membiarkan mata uang Yuan menguat.

Dengan menguatnya mata uang Yuan, maka biaya impor negara Cina akan semakin kecil, namun, akan membuat produk ekspor Cina mengalami penurunan daya saing. Saat ini, ekspor Amerika ke China sebesar 4.6%, lebih kecil dari impor Amerika sebesar 14.5%.

Dengan begitu, Revaluasi mata uang Yuan diharapkan nantinya mampu mengurangi impor Amerika, sehingga mengurangi peredaran produk dari Cina di pasaran Amerika. Amerika dan sejumlah negara Eropa lainnya menuduh Cina telah melakukan kecurangan dengan tetap mempertahankan mata uang Yuan melemah.

Akan tetapi sejumlah hasil penelitian menunjukan bahwa tanpa Cina, Amerika juga akan tetap mengalami defisit neraca perdagangan dengan sejumlah negara mitra dagang Amerika lainnya. Namun, sebuah studi yang lain menunjukan angka defisit neraca perdagangan AS akan turun signifikan tanpa memperhitungkan defisit yang ditimbulkan dari Cina.

Mata uang Yuan Cina atau biasa disebut dengan renminbi masih berpotensi menguat signifikan terhadap US Dolar, walaupun seandainya Cina membiarkan pergerakan mata uangnya berdasarkan mekanisme pasar. Bahkan, sejumlah kalangan optimis Yuan akan menguat hingga diatas 15% dalam kurun waktu 2 tahun mendatang.

Namun, apakah benar dengan melemahnya mata uang Yuan, maka defisit neraca perdagangan AS akan berkurang. Sebuah studi yang dilakukan oleh The Cato Institute’s Center for Trade Policy Studies, menyimpulkan bahwa melemah/menguat nilai tukar mata uang suatu negara tidak akan berdampak langsung terhadap defisit/surplus neraca perdagangan negara tersebut.

Misalnya Kanada, yang mata uangnya sudah terapresiasi sebesar 23% sejak tahun 2002 hingga 2005. Namun, bagaimana dengan defisit neraca perdagangan Amerika terhadap Kanada?, Defisit Amerika kembali membengkak hingga 58% dari $48 Milyar menjadi $76 Milyar.

Jadi, kebijakan Amerika yang menekan Cina adalah sangat beresiko. Kalau sekiranya Amerika ingin membicarakan defisit neraca perdagangan, ada baiknya orang-orang Amerika dianjurkan untuk lebih banyak menabung daripada berbelanja atau konsumsi.

Harga Emas Dunia Kembali Turun

Medan Bisnis, 18 Desember 2006
Menguatnya mata uang US Dolar membuat sejumlah manager hedge fund mengalihkan investasinya dari emas ke US Dolar. Hal tersebut berdampak pada melemahnya harga emas dunia. Padahal harga emas dunia sempat menyentuh level tertinggi di harga $649.50/troy ounce (01 Desember 2006). Level tersebut merupakan level tertinggi dari perdagangan 6 minggu sebelumnya.

Harga emas telah jatuh secara gradual seiring dengan aksi ambil untung para pemegang emas menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Aksi jual emas diperkirakan akan berlangsung hingga awal bulan Januari 2007 mendatang.

Sejumlah faktor lain, seperti naiknya harga minyak dunia di level $62/barel saat ini, diperkirakan tidak akan berpengaruh banyak pada harga emas. Hal ini dikarenakan perdagangan emas yang relatif sepi menjelang akhir tahun.

Pasar biasanya mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia dengan melakukan aksi beli emas untuk menghindari laju tekanan inflasi. Namun, dengan relatif sepinya pasar saat ini, harga emas diperkirakan akan bergerak stabil dengan kecenderung melemah.

Kalaupun harga emas nantinya turun signifikan, namun diperkirakan tidak akan jatuh hingga dibawah $610/troy ounce. Sejumlah analis memperkirakan aksi ambil untung saat ini tidak akan berlangsung lama seiring dengan semakin tingginya harga minyak dunia saat ini. Peluang naiknya harga emas masih terbuka lebar.

Harga Minyak Dunia
Sementara itu, harga minyak dunia mulai merangkak naik seiring dengan langkah negara anggota OPEC (Organisation of Petrolium Exporting Countries) yang akan kembali menurunkan produksinya mulai bulan Februari mendatang.

Melonjaknya harga minyak dunia saat ini juga tidak terlepas dari meningkatnya permintaan minyak di Amerika seiring dengan musim dingin di negara tersebut. Meski demikian permintaan tersebut nantinya hanya akan bersifat sementara, karena meningkatnya kebutuhan akan minyak lebih bersifat musiman.

Namun, bukan berarti ada jaminan bahwa harga minyak dunia akan kembali turun. Sejauh ini, sentimen yang datang lebih dikarenakan adanya penurunan produksi serta meningkatnya permintaan di sejumlah negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat seperti China dan India.

Kenaikan harga minyak nantinya juga akan membuat sejumlah mata uang terutama US Dolar kembali melemah. Selain itu, dengan semakin pesatnya laju pertumbuhan suatu negara akan membuat sejumlah harga komoditas logam kembali naik. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan logam.

Sehingga, kemungkinan di tahun 2007 adalah bahwa naiknya harga minyak dunia akan diiringi dengan naiknya harga barang komoditas dari logam seperti emas dan platina. Bahkan, sejumlah analis memperkirakan harga emas berpotensi menembus level $650/troy ounce tahun depan. Hal tersebut nantinya akan berpengaruh bagi kenaikan harga emas di dalam negeri.

Monday, December 11, 2006

Ekonomi AS Memburuk, US Dolar Terpuruk

Medan Bisnis, 11 Desember 2006
Bank Sentral AS atau yang biasa disebut The FED masih optimis mengenai prospek perekonomian Amerika kedepan, meskipun tanda-tanda melemahnya sektor perumahan di AS semakin jelas.

Sektor perumahan yang merupakan andalan negeri Paman Sam tersebut merupakan indikator utama ekonomi yang sangat berpengaruh bagi pergerakan US Dolar maupun data-data perekonomian Amerika lainnya.

US Dolar sendiri terpantau melemah terhadap mata uang Euro bersamaan dengan liburnya market Amerika yang merayakan Thanks Giving Day (24/11). Meskipun pada saat itu tidak ada data perekonomian AS yang dirilis, namun pergerakan pasar sangat berfluktuasi dan membawa Euro menguat hingga ke level 1.31 terhadap US Dolar untuk pertama kalinya sejak April 2005.

Melemahnya US Dollar tidak terlepas dari akumulasi serangkaian perkembangan negatif dalam beberapa pekan sebelumnya. Selain itu, isu diversifikasi cadangan devisa bank-bank sentral turut memberikan kontribusi negatif bagi pergerakan US Dolar.

Bahkan, Wakil Gubernur Bank Sentral China (PboC) Wu Xiaoling dalam sebuah artikelnya menyatakan bahwa sejumlah negara di Asia berpotensi mendapatkan kerugian dari terdepresiasinya mata uang US Dolar, mengingat porsi US Dolar dalam cadangan devisa sangat mendominasi.

Kembali ke fundamental ekonomi AS, 5 dari 10 data yang menyusun indeks sektor manufaktur ISM (Institute for Supply Management) Amerika mencatatkan penurunan. Indeks yang menunjukan kondisi sektor manufaktur nasional AS tersebut untuk bulan November mengalami penurunan hingga dibawah angka 50 sejak April 2003.

Terkait dengan hal tersebut US Dolar kembali tumbang, bahkan spekulasi yang berkembang menyebutkan bahwa Bank Sentral AS akan memotong suku bunganya (The FED Fund Rate) pada awal tahun 2007 mendatang.

Berbeda dengan ISM di sektor manufaktur, ISM di sektor jasa Amerika yang semula diprediksi turun ternyata mengalami kenaikan. US Dolar sempat terkoreksi akibat spekulasi yang berkembang sebelumnya. Indeks sektor jasa ISM selama bulan November naik menjadi 58.9 dari bulan sebelumnya sebesar 57.1. padahal spekulasi yang berkembang sebelumnya menyebutkan bahwa ISM Services akan turun dikisaran angka 55.5.

Mengingat sektor jasa menguasi lebih kurang 70% perekonomian Amerika, menguatnya data tersebut berhasil menahan laju pelemahan US Dolar serta kembali menumbuhkan ekspektasi bahwa Bank Sentral AS tidak akan memotong suku bunganya di tahun 2007 mendatang.

Terkait dengan hal itu, Euro melemah terhadap US Dolar hingga dikisaran harga 1.3286/US Dolar (05/12). Namun solidnya data perekonomian di Zona Euro khususnya PMI sektor jasa serta Retail Sales yang naik diluar perkiraan sebelumnya, turut menahan laju pelemahan mata uang Euro. Terhadap Poundsterling, US Dolar kembali menguat 0.3% di level 1.9730 dari level pembukaan.

Terhadap Yen, US Dolar juga menguat sekitar 0.5%. namun, US Dolar sempat terpuruk sebelumnya di level 114.40 seiring dengan pernyataan yang dilontarkan Atsushi Mizuno anggota dewan Bank Sentral Jepang (BoJ) yang mengatakan salah apabila BoJ diasumsikan akan menaikan suku bunga hingga semua data perekonomian menunjukan peningkatan.

Terlepas dari semua itu, US Dolar saat ini kembali menguat terhadap mata uang dunia pada perdagangan akhir minggu kemarin (08/12). Terhadap Euro, US Dolar diperdagangkan di level 1.3196, atau menguat 0.6% dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level 1.3290.

Terhadap GBP, US Dolar menguat 0.5% di level 1.9540 dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level 1.9641. Terhadap Yen Jepang US Dolar menguat di level 116.29 dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level 115.19.

Apa gerangan yang membuat US Dolar kembali menguat terhadap rivalnya. Tak lain adalah membaiknya data Non-Farm Payrolls AS yang menunjukan adanya peningkatan. Non-Farm Payrolls adalah data yang menunjukan jumlah tenaga kerja baru di luar sektor pertanian baik yang bekerja Full-Time maupun Part-Time.

Data yang dirilis akhir minggu kemarin, menunjukan bahwa perekonomian Amerika masih berada di “jalur hijau” meskipun indikator ekonomi lainnya di sektor perumahan dan manufaktur mengalami penurunan.

Selama bulan November jumlah tenaga kerja baru yang terserap sebanyak 132.000 jiwa dari rata-rata bulan sebelumnya yang berkisar 79.000 jiwa. Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah Retail, Restoran serta Perusahaan penyedia jasa kesehatan.

Terkait dengan data tersebut, Spekulasi mengenai penurunan suku bunga US Dolar mulai berguguran. Selain itu, asumsi yang menyebutkan bahwa perekonomian AS mendekati masa resesi juga mulai hilang.
Sejauh ini laju Inflasi di AS belum berada dalam taraf yang mengkhawatirkan. Namun, dengan melemahnya sejumlah data perekonomian AS, diperkirakan Gross Domestic Product (GDP) untuk kuartal 4 2006 berpotensi mencatatkan angka realisasi yang lebih kecil dari kuartal ke 3 yang sebesar 2.2%.

Monday, December 04, 2006

Konsolidasi Pasar Menjelang Rapat Dewan Gubernur BI

Medan Bisnis, 04 Desember 2006
Setelah sempat terkoreksi tajam (37 poin) pada perdagangan hari selasa, IHSG akhirnya kembali menguat pada sesi perdagangan akhir minggu kemarin. Penguatan IHSG terdorong oleh menguatnya indeks bursa regional yang turut diiringi dengan ekspektasi penurunan suku bunga Rupiah.

Selain itu, pelemahan IHSG pada saat itu hanya bersifat teknikal, dimana pelaku pasar merealisasikan keuntungan dengan memamfaatkan penguatan IHSG sebelumnya. Namun, kejatuhan IHSG tersebut malah menyulut keyakinan bahwa IHSG masih akan kembali naik lagi. Aksi beli saham unggulan pun kembali meriah.

Bagaimana dengan Rupiah?, Rupiah sendiri masih relatif stabil kendati memiliki kecenderungan melemah selama sesi perdagangan minggu kemarin. Melemahnya mata uang US Dollar di pasar Global tidak membuat mata uang Rupiah bergerak menguat.

Hal tersebut dapat dimaklumi, karena sebagian pelaku pasar khususnya investor asing kembali mengkonversi Rupiah yang dimiliki dalam SBI (Sertifikat Bank Indonesia) maupun bentuk investasi lain ke mata uang US Dollar. Ekspektasi melemahnya laju tekanan inflasi serta spekulasi penurunan BI Rate diperkirakan menjadi pemicunya.

Akan tetapi, memburuknya kinerja Rupiah selama minggu kemarin tidak terlepas dari permintaan US Dollar oleh korporasi menjelang akhir bulan. Apalagi kalau jumlah permintaan tersebut dikaitkan dengan perayaan keagamaan selama bulan Desember dan menjelang tahun baru, tentunya kebutuhan akan US Dollar juga relatif lebih banyak.

Pergerakan Rupiah dan IHSG kedepan akan sangat bergantung pada keputusan BI dalam menentukan BI rate. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada tanggal 07 Desember mendatang, BI diperkirakan akan kembali memotong BI Rate seiring dengan melemahnya laju tekanan inflasi.

Selama bulan November laju inflasi hanya sebesar 0.34%, turun dari bulan sebelumnya sebesar 0.86%. Data tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai arah pergerakan suku bunga nantinya.

Sejauh ini, ekspektasi penurunan suku bunga telah memberikan tekanan terhadap pergerakan Rupiah, namun disisi lain, ekspektasi penurunan suku bunga telah membawa IHSG kembali naik secara signifikan.

Pasar sepertinya sudah mulai mengantisipasi penurunan BI rate sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Apabila keadaan ini dibiarkan maka Rupiah berpotensi untuk kembali terkoreksi secara tajam. Tentunya Bank Indonesia menjadi tumpuan harapan agar laju pelemahan Rupiah terhenti.

Dengan beberapa asumsi pasar yang spekulatif, sangat mungkin Rupiah diperdagangkan dalam range yang cukup lebar. Walaupun US Dollar masih menunjukan tren pelemahan terhadap mata uang dunia, namun hal tersebut tidak menjadi jaminan Rupiah akan menguat terhadap US Dollar.

Sejauh ini, suku bunga diperkirakan akan kembali dipotong sebesar 50 basis poin. Namun, dengan mulai bergejolaknya nilai tukar Rupiah saat ini, tidak menutup kemungkinan BI akan memperkecil penurunan suku bunga, sebesar 25 basis poin.

Thursday, November 30, 2006

Tren Bullish yang Masih Akan Menggeliat

Medan Bisnis, 28 November 2007
Setelah kunjungan Presiden AS George W. Bush senin lalu, IHSG pada hari rabu (22/11) mencatatkan rekor tertinggi baru dalam sejarah Indeks Bursa Jakarta dan menembus level psikologis 1700, tepatnya di level 1705.44.

Kenaikan indeks tersebut menepis sejumlah anggapan yang sebelumnya menyebutkan bahwa Rupiah dan IHSG akan berada dibawah tekanan terkait dengan kunjungan Presiden Amerika. Asumsi tersebut sangat bertolak belakang dengan antusias pelaku pasar yang justru menilai bahwa kunjungan Presiden AS nantinya akan mengundang para pemodal khususnya investor asing, untuk berinvestasi di Indonesia.

Namun, apa benar demikian?, bukankan penguatan Rupiah dan IHSG karena ditopang oleh ekspektasi fundamental ekonomi Indonesia yang lebih baik dimasa yang akan datang?, bisa juga demikian. Yang pasti, pelaku pasar lebih optimis terhadap gambaran perekonomian Indonesia kedepan.

Dalam economic outlook 2007 yang baru digelar belum lama ini, pemerintah memberikan gambaran yang cukup realistis terhadap perekonomian Indonesia kedepan. Meski demikian, ekspektasi tersebut tidak terlepas dari pengaruh Global seperti dihentikannya siklus kebijakan uang ketat di Amerika serta melemahnya harga minyak dunia. Dan tentunya masih ada faktor eksternal lain yang turut mendukung membaiknya kinerja ekonomi Indonesia.

Beberapa asumsi dasar yang paling ditekankan pemerintah adalah laju inflasi yang ditargetkan akan tumbuh dibawah 6% di tahun 2007. Dengan laju inflasi yang rendah BI diharapkan mampu mengeluarkan kebijakan yang pro-pertumbuhan. Akan tetapi, perlu diwaspadai bahwa kenaikan gaji PNS di tahun 2007 juga berpotensi menambah tekanan terhadap laju inflasi. Karena laju inflasi yang tinggi akan membuat laju pertumbuhan ekonomi akan menjadi sia-sia.

Sejauh ini, ekspektasi yang optimis tersebut langsung maupun tidak langsung telah membawa IHSG maupun Rupiah merangkak naik dan diperdagangkan dalam jalur hijau. Kenaikan Indeks Bursa Wall Street serta menguatnya sejumlah mata uang asia turut memberikan kontribusi positif bagi pergerakan IHSG maupun Rupiah. Namun sejauh ini, kekhawatiran akan kembali melemahnya IHSG dan Rupiah secara teknikal bermunculan.

Secara fundamental, rupiah masih berpotensi melemah. Terlebih lagi, apabila BI kembali memotong suku bunga Rupiah dalam Rapat Dewan Gubernur BI awal Desember mendatang. Tentunya perbedaan suku bunga atau interest rate differential akan semakin kecil, hal inilah yang selalu membuat pelaku pasar melarikan dananya keluar negeri.

Tapi tunggu dulu, bukankah Bank Sentral Amerika diperkirakan tidak akan menaikan suku bunganya. Bahkan beberapa kalangan menilai bahwa The FED Fund Rate (suku bunga US Dollar) berpotensi untuk kembali dipangkas. Kalau memang suku bunga US Dollar akan dipotong, maka, tekanan terhadap rupiah secara sistematis akan berkurang.

Tidak hanya itu, prospek ekonomi AS kedepan juga tidak akan cukup menopang mata uang US Dollar melewati masa keterpurukannya seperti sekarang ini. Melemahnya daya beli masyarakat AS, melambatnya laju pertumbuhan Amerika, serta meningkatnya laju tekanan inflasi yang ditambah dengan defisit neraca perdagangan AS yang terus membengkak, kiranya akan menambah tekanan terhadap US Dollar, yang hingga saat ini masih melemah terhadap sejumlah mata uang dunia, dan diperkirakan akan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

Jadi, walaupun BI nantinya kembali memotong suku bunga, cukup beralasan kiranya kita berasumsi bahwa hal tersebut tidak akan berpengaruh signifikan terhadap Rupiah.

Bagaimana dengan IHSG?, Sejauh ini, kenaikan IHSG tidak terlepas dengan ekspektasi penurunan BI Rate serta ditambah faktor eksternal lain seperti melemahnya harga minyak dunia dan kenaikan indeks di beberapa lantai bursa di Asia dan Amerika.

Harga minyak dunia kembali turun seiring dengan melemahnya permintaan akan minyak dunia. Ekspektasi laju pertumbuhan ekonomi di negara Asia telah membawa investor asing kembali memburu saham-saham di lantai bursa Regional.

Banyak kalangan menilai, harga saham saat ini masih relatif murah apabila dibandingkan dengan prospek kenaikan IHSG di tahun 2007. Sejumlah saham multifinance maupun ritel diperkirakan akan menjadi primadona seiring dengan daya beli masyarakat yang semakin membaik.

Bahkan dalam beberapa perdagangan IHSG sempat mengalami anomali, yakni menguat ditengah memburuknya sejumlah indeks bursa Asia. Pada perdagangan hari jumat (24/11) IHSG kembali menguat di level 1717.73 walaupun sejumlah indeks bursa Asia terjungkal. IHSG seperti terdorong oleh sentimen positif dalam negeri serta mengabaikan sejumlah sentimen negatif eksternal.
Dengan menggambarkan bahwa sejumlah faktor non-ekonomi (keamanan, politik) dalam keadaan kondusif, maka Rupiah dan IHSG masih akan menunjukan tren bullish yang masih akan menggeliat di tahun 2007.

Monday, November 20, 2006

Mengantisipasi Tren Penguatan Rupiah dengan Dual Currency Deposit

Medan Bisnis, 20 November 2006
Nilai tukar Rupiah diprediksi akan kembali menguat di tahun 2007. Perkiraan tersebut dikemukakan oleh sejumlah pengamat berdasarkan asumsi perkembangan ekonomi makro Indonesia yang terus membaik.

Selain itu, untuk saat ini tren pelemahan US Dollar di pasar global diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Melemahnya laju tekanan inflasi di AS membuat pelaku pasar berkeyakinan bahwa The FED akan menghentikan kebijakan uang ketatnya. Sementara itu, perekonomian AS diperkirakan akan terfokus pada masalah inflasi daripada laju pertumbuhan ekonomi yang kian melambat.

Terkait dengan semua itu, ada produk investasi yang layak dijadikan pertimbangan untuk mengantispasi tren penguatan (bullish) rupiah, yakni Dual Currency Deposit (DCD). DCD adalah deposito dalam mata uang IDR, USD, EUR, JPY atau mata uang lain yang ditentukan.

DCD memberikan suku bunga yang tetap hingga saat jatuh tempo. Selain itu, besarnya suku bunga juga lebih besar dari suku bunga deposito biasa. DCD merupakan deposito dengan masa jatuh tempo 1 sampai 12 bulan.

Meskipun DCD memberikan imbal hasil yang cukup tinggi, namun berinvestasi dalam DCD tetap beresiko. Resikonya adalah nasabah berpotensi menerima mata uang pengganti yang melemah terhadap mata uang asal, sehingga memungkinkan pokok deposito berkurang (unprotected principal).

Namun, kunci keberhasilan terletak pada ekspektasi nasabah terhadap ekspektasi melemahnya suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Misalnya, karena saat ini US Dollar diprediksi melemah terhadap Rupiah, maka pilihlah US Dollar sebagai mata uang asal dan Rupiah sebagai mata uang pengganti.

DCD tidak dapat dicairkan sebelum masa jatuh tempo, demikian halnya dengan bunga, juga dibayarkan pada saat jatuh tempo. Sementara itu, penentuan penerimaan dalam mata uang asal atau pengganti adalah 2 hari kerja sebelum jatuh waktu DCD. Untuk mempermudah pemahaman mengenai produk DCD, kita simak simulasi transaski DCD sebagai berikut.

Misalkan, pada tanggal 1 November 2006, seorang nasabah bernama PT Mujur mempunyai cadangan US Dollar sebesar $100.000 dari hasil ekspornya. Karena melihat US Dollar tidak mempunyai fundamental yang kuat serta memiliki kecenderung melemah terhadap Rupiah, PT Mujur menyimpan dananya dalam bentuk DCD untuk jangka waktu 1 bulan, maka transaksinya adalah.

Mata Uang Asal : US Dollar (USD)
Mata Uang Pengganti : IDR
Penempatan Dana : USD 100.000,-
Tanggal Efektif : 1 November 2006
Tanggal Jatuh Tempo : 1 Desember 2006
Bunga Deposito : 9.75% p.a
Bunga Premi : 1% p.a
Kurs USD/IDR (spot) : 9150
Kurs Konversi : 9200 (strike price)
Tanggal Eksekusi : 29 November 2006, dengan batas waktu jam 13.00 WIB

Pada saat jatuh tempo (1 Desember), total imbal hasil yang akan diterima PT Mujur = USD 100.000 x (9.75+1)% x 30/365 = USD 883.56. karena selama masa observasi (1 November hingga 29 November) US Dollar tidak pernah menyentuh level 9200 (strike price), maka PT Mujur akan menerima = USD 100.000 + USD 883.56 = $100.883,56

Namun, apabila selama masa observasi US Dollar sempat menyentuh level 9200, maka PT Mujur menerima dalam mata uang pengganti yakni : USD 100.883,56 x 9200 = IDR 928.128.752,-. PT Mujur berpotensi mendapatkan kerugian apabila USD/IDR pada saat eksekusi lebih besar dari harga konversi (strike price).

Pemahaman mengenai pergerakan suatu mata uang menjadi sangat penting karenanya. Lama jatuh tempo yang akan dipilih nasabah akan sangat mempengaruhi bunga premi maupun deposito, namun, semakin lama jatuh tempo yang ditentukan maka semakin besar pula resiko yang akan diterima.

Monday, November 13, 2006

Deposito Dinamis Single Range sebagai Strategi Investasi dimasa Tren Penurunan Suku Bunga

Medan Bisnis, 13 November 2006
BI kembali memotong suku bunga Rupiah sebesar 50 basis poin menjadi 10.25% saat ini. Penurunan suku bunga tersebut turut diiringi dengan stabilnya kondisi pasar finansial dalam negeri.

Hal tersebut terlihat dengan stabilnya nilai tukar rupiah, yang dalam beberapa minggu perdagangan terakhir diperdagangkan dalam range antara 9050 hingga 9200. IHSG juga kembali menunjukan tren penguatan seiring dengan langkah Bank Indonesia yang menurunkan BI Rate. Perbankan diyakini juga akan mengikuti langkah BI tersebut untuk menurunkan suku bunga.

Sejauh ini, langkah BI menurunkan suku bunga secara gradual disambut positif oleh sejumlah kalangan khususnya para debitur. Selain itu, penurunan suku bunga diharapkan mampu memberikan stimulus bagi percepatan pembangunan ekonomi.

Namun, tidak selamanya regulasi dari BI tersebut mendapat sambutan positif. Dampak penurunan suku bunga yang sangat signifikan akan sangat merugikan para deposan. Pergerakan suku bunga yang cenderung menurun berpotensi membuat deposan mencari alternatif investasi lain yang lebih menguntungkan.

Ditengah tren penurunan suku bunga saat ini, ada beberapa produk investasi yang layak dijadikan pertimbangan untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi, yang lebih besar dari bunga deposito. Salah satunya adalah Deposito Dinamis Single Range.

Deposito Dinamis Single Range adalah deposito dalam mata uang IDR, USD, EUR, JPY atau mata uang lain yang ditentukan oleh Bank. Karena dalam simulasi kita menggunakan mata uang US Dollar, serta menggunakan pasangan mata uang USD/IDR, maka kita akan menyebutnya sebagai Deposito Dinamis Single Range Dollar. Yang untuk selanjutnya akan kita sebut sebagai Single Range Dollar untuk mempermudah dalam pembacaannya.

Single Range Dollar merupakan deposito dalam mata uang US Dollar. Besarnya bunga Single Range Dollar mengacu pada besarnya suku bunga mata uang US Dollar yang ditetapkan oleh Bank Sentral Amerika.

Namun, apakah besarnya bunga Single Range Dollar akan lebih besar dari suku bunga acuan US Dollar yang ditetapkan oleh Bank Sentral Amerika?, bisa juga tidak. Besarnya total yield yang diberikan dalam Single Range Dollar akan sangat bergantung dari kepiawaian pemodal itu sendiri.

Akan tetapi, buat mereka yang memiliki pengetahuan serta memiliki kemampuan memprediksi pasar akan mendapatkan keuntungan yang lebih daripada memarkirkan dananya dalam bentuk deposito Dollar biasa.

Pemodal akan mendapatkan keuntungan/bonus apabila kurs pasangan mata uang USD/IDR yang disepakati senantiasa berada dalam range yang telah disepakati selama masa observasi, yang apabila dihitung total yield-nya lebih besar dari bunga deposito biasa.

Menarik tentunya, namun, investasi dalam Single Range Dollar bukan tanpa resiko. Apabila pemodal salah dalam memperhitungkan pergerakan pasar, maka nasabah hanya mendapatkan bunga minimum yang lebih kecil dari bunga deposito biasa.

Apabila pemodal atau deposan tidak mempunyai pengetahuan yang cukup, carilah informasi sebanyak-banyaknya atau berkonsultasi dengan konsultan keuangan yang dipercaya. Hal tersebut dimungkinkan untuk membantu deposan dalam mengambil keputusan. Karena kegagalan atau kerugian yang timbul atas pelaksanaan transaksi sepenuhnya menjadi tanggung jawab deposan.

Besarnya bunga Single Range Dollar menggunakan perhitungan bunga per tahun (365 hari). Pembayaran bunga minimum dibayarkan pada saat jatuh tempo. Namun, besarnya bonus yang akan diterima sangat bergantung pada jangka waktu kontrak yang akan dibuat. Semakin lama jangka waktunya, maka bonus yang diberikan juga akan semakin besar.

Dalam simulasi yang dibuat, bonus untuk Single Range Dollar jangka waktu 30 hari (1 bulan) sebesar 2%. Sementara simulasi bonus untuk Single Range dalam mata uang Rupiah jangka waktu 1 bulan sebesar 8%. Namun bonus akan bertambah besar apabila deposan membuat kontrak transaksi untuk jangka waktu 3 bulan, 6 bulan, dan seterusnya.

Simulasi
Single Range dalam mata uang US Dollar
1. Awal Transaksi
Dana Deposan : USD 5.000.000,- (Lima Juta US Dollar)
Pasangan mata uang : USD/IDR
Tgl Transaksi : 02 November 2006
Tgl Efektif : 02 November 2006
Tgl Jatuh Tempo : 02 Desember 2006
Masa Observasi : 02 November – 30 November 2006, setiap hari
kerja mulai jam 08.00 WIB – 16.00 WIB,
kecuali tanggal 30 November observasi
dilakukan hanya sampai jam 13.00 WIB.
Jangka Waktu : 30 hari (1 bulan)
Harga spot : USD/IDR 9.100
Range : USD/IDR 9.000 – 9.250
Bunga Minimum : 3.5% p.a (dibayarkan pada saat jatuh tempo)
Bonus : 2% p.a (dibayarkan apabila memenuhi
parameter)
2. Akhir Transaksi
a) Selama masa observasi kurs USD/IDR berada di dalam range
Total imbal hasil yang diterima Deposan
= USD 5.000.000 x (3.50+2)% x 30/365
= USD 5.020.547,95
b) Selama masa observasi kurs USD/IDR berada di luar range
Total imbal hasil yang diterima Deposan
= USD 5.000.000 x 3.50% x 30/365
= USD 5.014.383,56

Single Range dalam mata uang Rupiah
1. Awal Transaksi
Dana Deposan : IDR 1.000.000.000,- (Satu Milyar Rupiah)
Pasangan mata uang : USD/IDR
Tgl Transaksi : 02 November 2006
Tgl Efektif : 02 November 2006
Tgl Jatuh Tempo : 02 Desember 2006
Masa Observasi : 02 November – 30 November 2006, setiap hari
kerja mulai jam 08.00 WIB – 16.00 WIB,
kecuali tanggal 30 November observasi
dilakukan hanya sampai jam 13.00 WIB.
Jangka Waktu : 30 hari (1 bulan)
Harga spot : USD/IDR 9.100
Range : USD/IDR 9.000 – 9.250
Bunga Minimum : 5% p.a (dibayarkan pada saat jatuh tempo)
Bonus : 8% p.a (dibayarkan apabila memenuhi
parameter)
2. Akhir Transaksi
a) Selama masa observasi kurs USD/IDR berada di dalam range
Total imbal hasil yang diterima Deposan
= IDR 1.000.000.000 x (5+8)% x 30/365
= IDR 1.010.684.931,51
b) Selama masa observasi kurs USD/IDR berada di luar range
Total imbal hasil yang diterima Deposan
= IDR 1.000.000.000 x 5% x 30/365
= IDR 1.004.109.589,04

Monday, October 02, 2006

Optmisme diantara angka Pertumbuhan, Pengangguran dan Kemiskinan

Medan Bisnis, 02 Oktober 2006
Pada tanggal 11 september yang lalu, pemerintah telah menyepakati empat asumsi dasar RAPBN 2007. Diantara ke 4 asumsi tersebut (Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi, Kurs Rupiah serta SBI 3 bulan), hanya pertumbuhan ekonomi yang dinilai tidak realistis dan sempat menjadi perdebatan serius antara Pemerintah dengan anggota Komisi XI DPR RI.

Laju pertumbuhan ekonomi diasumsikan akan tumbuh sebesar 6.3% pada tahun 2007, padahal rata-rata realisasi pertumbuhan pada tahun 2000 – 2005 hanya sebesar 4.7%.

Terjadi lonjakan angka yang cukup signifikan antara realisasi laju pertumbuhan ekonomi selama periode 2000-2005 dengan asumsi laju pertumbuhan di tahun 2007. Namun, Gubernur BI menyatakan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 6.3% merupakan batas atas dari target pertumbuhan pemerintah.

Jadi pertumbuhan ekonomi masih berpeluang untuk tumbuh moderat atau mungkin (dengan asumsi yang paling pesimis) tidak banyak berubah dari pertumbuhan di tahun sebelumnya.

Berdasarkan asumsi pemerintah sebelumnya bahwa setiap 1% pertumbuhan akan menciptakan lapangan kerja sebanyak 459.000 orang. Dengan laju pertumbuhan angkatan kerja sebanyak 2 juta orang/tahun, maka, dengan asumsi laju pertumbuhan sebesar 6.3% pada tahun 2007 akan menyerap tenaga kerja sebanyak 2,9 Juta orang.

Tentunya angka tersebut merupakan angka fantastis yang mampu mengurangi jumlah pengangguran secara signifikan. Namun, fakta tidak selalu sama dengan ekspektasi. Selama periode tahun 2000 – 2005, setiap 1% pertumbuhan hanya menciptakan lapangan kerja sebanyak 213.000 orang. Bahkan selama tahun 2006 ini, 1% pertumbuhan hanya menciptakan lapangan kerja sebanyak ± 50.000 orang.

Mengapa demikian?, Pengamat menilai telah terjadi disorientasi investasi dari semula dalam bentuk investasi langsung (FDI) ke bentuk investasi dalam surat berharga yang notabene dapat bersifat jangka pendek.

Insentif kebijakan ekonomi pemerintah dengan memberlakukan kebijakan uang ketat (suku bunga tinggi) diperkirakan menjadi akar masalah penghambat investasi. Hal tersebut diperparah dengan permasalahan struktural yang belum berkesudahan.

Cukup sampai disitu?, belum. Permasalahan lain seperti peringkat investasi indonesia yang hanya menduduki peringkat 50 (setelah direvisi dari peringkat 69 sebelumnya) dari 125 negara versi WEF (World Economic Forum), menunjukan kalau indonesia bukan merupakan negara tujuan investasi yang paling disukai. Kita masih tertinggal jauh dengan Singapura yang ditempatkan ditempat paling atas dalam soal tujuan investasi.

Sejauh ini, optimisme pemerintah muncul dengan akan digulirkannya sejumlah kebijakan terkait konsolidasi fiskal, termasuk diantaranya meningkatkan pendapatan pemerintah yang bersumber dari pajak dan non pajak. Pemerintah bertekad akan melakukan reformasi administrasi di tubuh Dirjen Pajak dan Bea Cukai.

Bahkan baru-baru ini Pemerintah menargetkan penerimaan pajak sebesar ± Rp. 800 trilyun pada tahun 2007. Angka tersebut lebih besar dari asumsi RAPBN 2007 yang ditargetkan sebesar Rp. 505,9 trilyun.

Selain itu, trend defisit APBN yang cenderung menurun turut menjadi landasan keyakinan akan membaiknya kondisi perekonomian kedepan. Namun, perlu diingat defisit anggaran memiliki kecenderungan membengkak apabila terjadi bencana alam seperti yang terjadi belum lama ini.

Tanpa dibarengi dengan rencana kenaikan tarif Dasar Listrik (TDL), laju inflasi diasumsikan akan tumbuh sebesar 6.5% pada tahun 2007. Selama tahun 2006 ini, laju tekanan inflasi menunjukan adanya pelemahan dan bergerak cukup terkendali, yakni 3.9% hingga agustus 2006 (data BPS). Meskipun pada bulan september dan oktober diyakini akan terjadi lonjakan laju inflasi yang cukup signifikan, namun inflasi akan berada dikisaran angka 8% hingga akhir tahun ini.

Waspadai faktor Global
Sejumlah indikator finansial dalam negeri sedikit memberikan harapan akan terciptanya pertumbuhan ekonomi seperti yang telah diasumsikan dalam RAPBN 2007. Namun, sejumlah faktor global seperti harga minyak dunia serta trend kenaikan suku bunga global turut menjadi faktor penting dalam merumuskan kerangka kebijakan ekonomi ke depan.

Pemerintah cukup optimis dengan mengasumsikan harga minyak dunia di level $65/barel. Dibandingkan dengan kondisi sekarang, asumsi tersebut cukup beralasan mengingat harga minyak dunia saat ini berada dikisaran level $60/barel. Tapi, peluang harga minyak untuk kembali naik masih terbuka lebar.

Melemahnya harga minyak saat ini diperkirakan terkait dengan membaiknya kondisi geopolitik serta melambatnya laju pertumbuhan ekonomi di beberapa negara seperti AS, Jepang, China dan kawasan Eropa.

China kembali menaikan suku bunga Yuan untuk meredam laju pertumbuhan ekonomi yang ekstrim. Negara di kawasan Eropa menaikan suku bunga guna menahan laju inflasi yang terus mengalami kenaikan. Suku bunga US Dolar masih relatif tinggi yang diiringi juga dengan melambatnya laju pertumbuhan ekonomi AS. Sementara Jepang diperkirakan akan kembali menaikan suku bunga Yen tahun depan.

Bagaimana dengan Indonesia?, tentunya perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara tersebut juga akan mempengaruhi kinerja perekonomian dalam negeri, khususnya kinerja ekspor. Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi seperti di AS, tentunya akan menyebabkan kontraksi di negara lain.

Alhasil, dengan alasan untuk menarik minat investasi di negeri ini, maka asumsi pertumbuhan masih dapat di ”rasional” kan. Dengan harapan tidak terjadi hal-hal negatif diluar perkiraan sebelumnya.

Namun, apakah dapat me”rasional”kan peningkatan angka kemiskinan yang dibarengi dengan menciutnya jumlah lapangan kerja, sementara sejumlah indikator finansial menunjukan perubahan dalam trend yang positif?, Distorsi tentunya.

Monday, August 28, 2006

Mengantisipasi Exposure Transaksi dalam Valas

Medan Bisnis, 28 Agustus 2006
Dalam kurun waktu 1 bulan terakhir, rupiah mampu bergerak dalam range yang cukup terkendali dalam rentang antara 9050 hingga 9300. sebagian pelaku pasar bahkan meyakini kalau rupiah akan bergerak stabil dikisaran harga 9000 hinggga 9500 sesuai dengan asumsi maupun pernyataan dari pejabat yang berwenang di negeri ini.

Tentunya ini kabar baik, apabila rupiah nantinya benar-benar bergerak sesuai dengan asumsi tersebut. Setidak-tidaknya pelaku bisnis akan lebih mudah dalam menentukan keputusan pembiayaan maupun investasi. Khususnya pelaku bisnis yang terkait dengan bisnis Global.

Umumnya perusahaan Global atau yang biasa dikenal dengan MNC (Multinational Company) maupun TNC (Transnational Company) selalu mempunyai kaitan erat dengan transaksi valas (valuta asing). Karena jenis perusahaan tersebut biasanya beroperasi di dua atau lebih negara, dan menggunakan lebih dari satu mata uang dalam operasionalnya.

Apabila sebagian besar kekayaan perusahaan didominasi dalam valas, maka dampak negatif resiko valas yang mungkin terjadi juga akan semakin besar, terlebih apabila nilai mata uang dalam valas tersebut berfluktuasi secara tajam.

Dalam kajian resiko valas, segala bentuk pengaruh yang diakibatkan oleh perubahan kurs valas biasa disebut dengan Exposure.

Dalam mengantisipasi kemungkinan exposure tersebut, biasanya investor akan mengambil tindakan hedging (lindung nilai atas kekayaan/utang dalam valas agar terhindar dari gejolak yang terjadi dalam valas). Dengan asumsi investor mempunyai informasi yang komplit serta mampu memprediksi arah pergerakan kurs secara akurat.

Namun, selayaknya tindakan hedging tidak dilakukan apabila investor justru diasumsikan sebaliknya. Karena kerugian yang timbul akan berdampak signifikan apabila tindakan hedging tersebut justru bertolak belakang dengan ekspektasi investor sebelumnya.

Dengan menggunakan teknik kontraktual, seorang investor umumnya menggunakan transaksi Forward, Swap maupun Option. Selain itu, investor juga dapat melakukan tindakan leading (mempercepat pembayaran ketika valas masih lebih murah dibandingkan dengan mata uang domestik, misal Rp), atau melakukan tindakan lagging (memperlambat pembayaran ketika mata uang domestik lebih murah dari valas).

Transaksi Forward
Seorang eksportir yang mendapatkan valas dari hasil ekspornya ke luar negeri, biasanya akan melakukan transaksi forward jual valas. Karena investor mendapatkan pemasukan dalam mata uang asing. Sementara importir akan melakukan sebaliknya, yakni melakukan transaksi forward beli valas.

Sebagai ilustrasi, seorang eksportir melakukan transaski forward jual valas (misal US$). Kurs US$/Rp saat ini (spot) 9000. Sementara kurs forward jual US$ satu bulan adalah 9050 (Kurs Spot 9000 ditambah premi forward satu bulan sebesar 50). Dalam hal ini investor mempunyai harapan bahwa kurs satu bulan yang akan datang nantinya lebih kecil dari kurs forward (9050).

Apabila kurs US$/Rp satu bulan yang akan datang sebesar 8950, maka investor telah mendapatkan keuntungan sebesar 100 poin (9050 – 8950). Namun apabila kurs US$/Rp satu bulan lebih besar dari kurs saat kontrak forward dibuat (9050) maka investor akan mengalami kerugian, karena harus menjual US$ di harga yang lebih rendah dari harga sebenarnya (misal 9100).

Transaksi Swap
Umumnya transaksi swap dilakukan dengan melakukan tindakan beli/jual valas dan akan melakukan transaksi jual/beli valas pada saat yang akan datang. Sehingga transaksi swap mempunyai dua arah yaitu beli dan jual atau jual dan beli.

Misalkan seorang importir membeli US Dolar pada harga saat ini di level 9000. dan akan berniat menjualnya kembali satu bulan yang akan datang. Apabila harga kurs satu bulan yang akan datang lebih besar dari 9000, maka importir mendapatkan keuntungan dengan melakukan hedging menggunakan transaksi Swap.

Namun importir juga akan mendapatkan kerugian apabila harga kurs US$/Rp nantinya lebih kecil dari kurs transaksi Swap disepakati (9000).

Transaksi Option
Meskipun belum begitu dikenal, namun transaksi option tidaklah jauh berbeda dengan transaksi Swap. Namun, Option memberikan fleksibilitas dibandingkan bentuk transaksi lainnya.

Misalkan seorang investor membeli US Dolar sebesar $10.000,- di level 9000, dan akan menjualnya kembali satu bulan yang akan datang. Sementara itu, harga pada saat satu bulan yang akan datang di sepakati sebesar 9100. Selain itu, investor juga diminta untuk membayar premi selama satu bulan, misal sebesar $10.

Apabila pada saat satu bulan yang akan datang kurs berada di level 9110, maka investor mempunyai hak untuk menjual di level 9110, meskipun kontrak transaksi option disepakati di level 9100. Namun apabila kurs satu bulan yang akan datang lebih kecil dari kurs saat transaksi option dibuat (9100). Maka, investor memilki hak untuk tidak menjual US$ nya, dan hanya dikenakan biaya sebesar $10 (premi satu bulan).

Tentunya, ada beberapa alternatif lainnya yang tersedia bagi investor untuk melakukan tindakan hedging. Namun, apapun bentuk transaksinya seorang calon investor harus memiliki tujuan yang jelas, dan tetap berhati-hati dalam melakukan transaksi.

Namun tidak selamanya exposure perlu untuk diantisipasi guna menghindari gejolak fluktuasi di pasar uang. Misalkan seorang importir tidak melakukan hedging atas utang-utangnya (dalam mata uang asing/valas), apabila investor mempunyai ekspektasi kuat bahwa terjadi pelemahan terhadap mata uang asing yang mendominasi utangnya tersebut.

Selain itu, berdasarkan pergerakan kurs satu bulan terakhir yang berada dalam kisaran 9050 hingga 9300, dan diprediksi akan terus bergerak sama hingga akhir tahun ini, maka exposure juga tidak berpengaruh signifikan terhadap suatu perusahaan. Sehingga resiko valas yang akan terjadi masih dapat diminimalisir tanpa harus melakukan transaksi hedging.

Tuesday, August 01, 2006

Pajak ORI Bersifat Final dan Tidak Ada Batas Penjatahan

Medan,(Analisa),01 Agustus 2006
Kekuatiran adanya pengenaan pajak yang bersifat tidak final dan batas penjatahan maksimal Rp 50 juta terhadap calon investor Obligasi Ritel Negara (ORI) seri 001, adalah tidak benar.

Demikian dikatakan pemerhati pasar uang Gunawan dari salah satu bank BUMN, Senin (31/7) bahwa ketegasan itu secara jelas telah disampaikan pemerintah sehubungan dengan besarnya peminat ORI. "Pemerintah pada dasarnya tidak membatasi jumlah maksimum pemesanan, demikian pula pengenaan pajak atas bunga kupon sebesar 20% dan pajak capital gain 20% juga sudah final, berapapun besarnya jumlah investasi yang ditanamkan," kata Gunawan.

Adanya kekuatiran pembatasan maksimal Rp 50 juta, katanya, merupakan komitmen pemerintah untuk memberikan kepastian penjatahan. Terhadap agen penjual, pemerintah memberikan keleluasaan untuk menentukan urutan prioritas dengan minimal pemesanan Rp 5 juta dan harus mampu mengutamakan pemesanan hingga Rp 50 juta, sementara kepada investor sama sekali tidak dibatasi besarnya jumlah pemesanan.

Hal senada juga diungkapkan Rusdi, Pimpinan Cabang Trimegah Medan, bahwa sesuai dengan keputusan Depkeu yang tidak membatasi jumlah maksimum pemesanan ORI maka pihaknya juga tidak melakukan pembatasan terhadap calon investor. Adanya kesalahpahaman mengenai memorandum sebelumnya, yang mengutarakan mengenai pembatasan pemesanan telah disalahartikan oleh calon investor.

Hanya saja, kata Rusdi, yang ditegaskan bagi calon investor haruslah mereka yang berkewarganegaraan Indonesia dan mengisi formulir selambatlambatnya sebelum batas akhir pemesanan pada 4 Agustus mendatang. Artinya, selambatlambatnya pada 3 Agustus, calon investor telah harus membereskan semua dana yang masuk (good fund) ke rekening agen penjual untuk diproses.

Sementara mengenai perhitungan besarnya suku bunga ORI sebesar 12% yang tidak jauh berbeda dengan suku bunga deposito saat ini, Gunawan mengatakan sebetulnya tidak benar. Karena saat ini, pemerintah telah menegaskan akan menurunkan suku bunga perbankan seiring dengan menguatnya Rupiah dan menurunnya inflasi. "Memang saat ini kelihatan tidak jauh berbeda, tetapi bagaimanapun ORI jauh lebih menguntungkan, selain karena perhitungan suku bunga yang telah final, pemberian suku bunga juga tetap selama tiga tahun," kata Gunawan seraya memberikan perbandingan antara investasi ke dalam bentuk deposito dan ORI, masing masing Rp 100 juta.

Karena merupakan instrumen yang aman, maka jumlah peminat ORI meningkat pesat. Dikatakannya, ada kemungkinan penawaran ORI yang ditargetkan akan melebihi dari permintaan di masyarakat. "Tentu saja, karena investor pemula cukup dengan modal Rp 5 juta telah diperkenankan membeli obligasi, dan memang di Medan cukup banyak investor demikian," katanya. (fin)

Memahami Obligasi Pemerintah bernama ORI

Medan Bisnis, 17 Juli 2006
Ditengah kecenderungan suku bunga akan turun, saat ini ditengah masyarakat hadir produk investasi baru bernama ORI. ORI adalah obligasi negara yang dijual kepada individu atau perorangan Warga Negara Indonesia melalui agen penjual, dengan jumlah nominal yang telah ditetapkan.

Tujuan penerbitan ORI tidak lain adalah untuk membiayai anggaran negara, diversifikasi sumber pembiayaan, mengelola portofolio utang negara dan memperluas basis investor. Dasar hukum penerbitan ORI sendiri sesuai dengan peraturan Menteri Keuangan tentang penjualan obligasi negara ritel dipasar perdana maupun UU No.24 tahun 2002 tentang Surat Utang Negara.

ORI merupakan Goverment Bond (Obligasi Pemerintah) karena diterbitkan oleh pemerintah. Oleh karena itu pembayaran kupon dan pokok juga dijamin pemerintah. Untuk mengetahui apa itu ORI lebih jauh, ada baiknya kita simak ilustrasi berikut ini.

Misalkan ada seorang peternak sukses bernama Sunardi yang ingin menginvestasikan uangnya sejumlah Rp 70 Juta ke dalam bentuk investasi surat berharga bernama ORI. Maka yang pertama dilakukan Sunardi adalah menghubungi Agen penjual yang telah ditetapkan pemerintah seperti, Bank Mandiri, Citibank, Mega, Bukopin, Danamon, Panin, Permata, NISP, maupun sejumlah perusahaan sekuritas seperti Tri Megah, Valbury dan Danareksa.

Syarat yang pertama adalah Sunardi benar-benar WNI, dibuktikan dengan menunjukan KTP atau SIM. Selanjutnya, Sunardi akan diminta untuk membuka rekening tabungan serta rekening surat berharga (kustodian).

Setelah itu, Sunardi kini tinggal menunggu penawaran ORI oleh pemerintah. Yakni dimulai tanggal 17 Juli hingga 4 Agustus 2006 (penjadwalan transaksi ORI selengkapnya dapat dilihat pada gambar). Namun, sebelum membeli ORI sejumlah faktor resiko harus diketahui oleh Sunardi terlebih dahulu.

Beberapa resiko tersebut antara lain yaitu Sovereign Risk (Keadaan dimana pemerintah gagal membayar kupon dan pokok), Liquidity Risk (Investor tidak menemukan lawan transaksi jual/beli di pasar sekunder), maupun Interest Rate Risk (Resiko yang ditimbulkan akibat adanya perubahan suku bunga di pasar uang).

Namun, sejumlah faktor resiko tersebut diperkirakan tidak akan terjadi; dengan asumsi Negara dalam keadaan Stabil (baik Politik, Ekonomi dan Keamanan) serta tidak ada kenaikan suku bunga yang signifikan.

Setelah semua syarat dipenuhi, dan ketika telah tiba masa penawaran, ORI dipatok dengan harga Rp1 Juta/unit dengan minimal pembelian sebesar Rp 5 Juta dan maksimal sejumlah Rp 50 Juta. Kupon atau suku bunga ORI sebesar 12.05%/tahun dibayarkan setiap bulan.

Akan tetapi, Uang Sunardi sejumlah Rp 70 Juta masih akan tetap diterima selama masih dalam masa penawaran. Namun, keputusan berapa besar uang Sunardi yang berhak diinvestasikan akan diumumkan pada tanggal 7 Agustus 2006 oleh pemerintah (atau lebih dikenal dengan istilah penjatahan).

Tiba saatnya pada tanggal 7 Agustus, Sunardi diasumsikan hanya diberi jatah sebesar Rp 50 Juta yang berhak untuk diinvestasikan ke ORI. Jadi sisanya sebesar Rp 20 Juta dikembalikan.

Selang beberapa hari selanjutnya, tepatnya pada tanggal 09 agustus ORI diterbitkan dan pada tanggal 10 Agustus Sunardi sudah mendapat konfirmasi kepemilikan ORI. Sunardi mendapatkan 50 Unit ORI (50 Juta/1 Juta). Bahkan ORI milik Sunardi juga sudah bisa diperdagangkan dipasar sekunder.

Setelah melakukan pembelian di pasar Perdana, Sunardi mulai menghitung keuntungan yang akan didapat per bulan dari modalnya yang diinvestasikan ke ORI sebesar Rp 50 Juta, dengan suku bunga 12.05%/tahun, serta pajak atas kupon sebesar 20 %, maka :

Bunga yang diterima Sunardi/Bulan = Rp 50 Juta x 12.05% : 12 bulan = Rp 500.000
Bunga/Kupon dipotong pajak 20 % = Rp 500.000 x 20% = Rp 100.000 -
Bunga/kupon bersih yang diterima Sunardi/bulan adalah = Rp 400.000

Dengan demikian, Sunardi mendapatkan bunga bersih sebesar Rp 400.000/bulan setiap tanggal 09 (sesuai dengan tanggal penerbitan ORI di pasar perdana) selama tiga tahun. Nah, pada saat jatuh tempo pembayaran pokok (3 tahun yang akan datang), Pemerintah akan membayar semua modal Sunardi sebesar Rp 50 Juta (100%).

Namun, sebelum masa jatuh tempo tepatnya pada tanggal 22 Mei 2007 Sunardi berencana menjual semua kepemilikan ORI nya. Ternyata harga 1 Unit ORI sudah naik menjadi Rp 1.100.000 (sebelumnya Rp 1 Juta) atau naik Rp 100 Ribu/unit.

Jadi, 50 Unit ORI milik Sunardi mendapatkan Capital Gain sebanyak Rp 5 Juta (Rp100 Ribu x 50 Unit). Dipotong pajak Capital Gain sebesar 20%, maka Capital Gain bersih diterima Sunardi adalah Rp 5 Juta – (Rp 5 Juta x 20%) = Rp 4 Juta

Kita mengetahui bahwa Sunardi selalu mendapatkan bunga sebesar Rp 400 ribu setiap tanggal 9 dan setiap bulan. Maka ada selisih 13 hari antara tanggal 09 Mei hingga tanggal 22 Mei (tanggal dimana Sunardi menjual seluruh kepemilikan ORI nya).

Sementara itu, jumlah hari pada bulan Mei adalah 31 hari. Maka rumus untuk mencari bunga selama 13 hari (09 Mei s/d 22 Mei) tersebut adalah 13/31 x (12.05%/12) x Rp 50 Juta = Rp 209.677. Bunga tersebut masih harus dipotong pajak sebesar 20%, Maka bunga bersih yang diterima Sunardi selama 13 hari adalah Rp 167.742 (Rp 209.677 - (Rp 209.677 x 20%)).

Jadi total keseluruhan uang yang diterima Sunardi pada saat menjual semua ORI miliknya pada tanggal 22 Mei adalah

Rp 50 Juta + Rp 4 Juta (Capital Gain) + Rp 167.742 (Bunga 13 Hari) = Rp 54.167.142

Disini terlihat bahwa selain mendapat bunga tetap per bulan, Sunardi sebagai investor juga mendapatkan Capital Gain. Namun pendapatan Sunardi tersebut diasumsikan tanpa ada biaya administrasi yang pastinya berbeda-beda antara satu agen penjual dengan agen penjual lainnya.

Setelah membaca ilustrasi tersebut anda tentunya dapat dengan mudah memahami ORI. Semua simulasi yang dijelaskan sebelumnya juga berlaku untuk kemungkinan resiko yang terjadi seperti Capital Loss. Kaidah-kaidah yang dijelaskan sebelumnya juga berlaku untuk semua bentuk transaksi di pasar sekunder. Untuk Capital Loss tidak dikenakan pajak apapun apabila jumlah Capital Loss lebih besar dari bunga yang diterima.

Namun, para investor harus jeli dalam memilih agen penjual. Karena biaya yang ditetapkan setiap agen penjual berbeda, bahkan ada bank ”plat merah” yang membebaskan beberapa biaya administrasi seperti pembukaan rekening kustodian, penyimpanan surat berharga serta biaya transfer kupon.

Jadi, Jangan sampai investasi yang kita miliki tidak optimal dalam memberikan keuntungan nantinya. Karena belum tentu ada investor yang seberuntung Sunardi (tokoh fiktif) yang selama berinvestasi dibebaskan dari biaya administrasi. Semoga sukses.

Minat Investor ORI Masih Sulit Dipantau

Medan, (Analisa), 19 Juli 2006
Masih sulit memantau minat investor dari kalangan ritel yang tertarik untuk berinvestasi Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI) seri 001 hingga resmi dijual oleh pemerintah pada awal Agustus nanti.

"ORI diterbitkan dengan tujuan untuk membiayai anggaran negara atau defisit APBN, memenuhi kebutuhan dana tunai jangka pendek maupun sebagai instrumen pengelolaan portofolio utang negara. Jadi besarnya minat investasi dari kalangan ritel sejauh ini belum terpantau hingga pada saat penawaran perdana oleh pemerintah awal agustus nanti," kata pemerhati pasar uang Gunawan dari salah satu bank BUMN, Senin (17/7).

Penjualan obligasi untuk ritel yang pertama ini, menurutnya akan menarik banyak deposan dalam negeri. Karena pada umumnya metode pengenaan pajak dan minimun investasi cukup kecil dimulai dari Rp 5 juta. Untuk pengenaan biaya pengenaan pajak, investor dikenakan pajak atas bunga kupon sebesar 20% dan pajak atas capital gain juga sebesar 20%.

"Mengenai besaran pajak, belum bisa dinilai apakah terlalu mahal atau tidak, tergantung dari persepsi investor itu sendiri," paparnya. Meskipun demikian, kemungkinan terjadinya capital loss jauh lebih kecil daripada kemungkinan perolehan capital gain. Hal ini disebabkan suku bunga perbankan diprediksikan akan terus menurun. "Capital gain dan capital loss kemungkinan pasti akan terjadi di pasar sekunder, namun jika suku bunga perbankan terus menurun maka minat orang untuk berinvestasi ke obligasi akan semakin tinggi," katanya.

Sementara pimpinan Trimegah Medan Rusdi yang didampingi Rachmat waluyanto (Depkeu) di sela-sela seminar Trim-ORI, Sabtu kemarin mengatakan resiko investasi ORI sangat kecil.
Sejauh ini peraturan mengenai ORI tercakup dalam UU No.24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara, maupun Peraturan menteri Keuangan Nomor 06/PMK.06/2006 tentang Penjualan Obligasi Ritel di Pasar Perdana. Menurut rencana, obligasi ini akan diterbitkan 9 Agustus 2006. "Selain itu, biaya pembelian kepada agen penjual misalnya melalui Trimegah hingga kini masih bebas. Karena untuk penjualan ORI pemerintah telah menunjuk 11 agen penjual yang terdiri dari lembaga keuangan bank dan non bank ," katanya.

Walaupun masa jatuh tempo ORI, kata Rachmat adalah tiga tahun, namun sebelum habis masa jatuh tempo, investor juga dapat menjual kembali ORI kepada pasar sekunder.

Hanya saja, Gunawan menyarankan agar investor jeli dalam memilih agen penjual. Sejumlah agen menetapkan biaya administrasi yang berbeda. contohnya, beberapa bank kustodian menetapkan biaya pembukaan rekening kustodian rata-rata Rp 60 ribu.
Namun ada juga bank "plat merah" yang membebaskan biaya tersebut untuk nasabahnya yang ingin ikut berinvestasi di ORI."Jadi investor dituntut proaktif sebelum menentukan agen penjual," kata Gunawan. (fin)