Medan Bisnis, 3 September 2007
Pada awal bulan September ini pemerintah dijadwalkan akan kembali merilis data inflasi selama bulan Agustus. Pemerintah berkeyakinan bahwa inflasi masih akan bergerak sesuai koridor yang ditetapkan pemerintah sebelumnya, yakni 6-6.5% selama tahun 2007 ini.
Keyakinan stabilnya laju inflasi selama bulan Agustus tersebut mencuat walaupun sempat terjadi kenaikan harga minyak goreng maupun tarif jalan tol yang turut diiringi oleh kelangkaan minyak tanah di beberapa daerah di Indonesia. Terlebih BPS memperkirakan bahwa laju inflasi selama bulan Agustus akan lebih rendah dari laju inflasi bulan July sebesar 0.72%.
Berita baik, memang demikian. Dengan melambatnya laju inflasi maka akan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) yang saat ini masih berada di level 8.25%. Dengan diturunkannya BI Rate diharapkan akan meningkatkan konsumsi yang berbuntut pada meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB), dan tentunya masih banyak dampak positif lainnya.
Namun, Benarkah BI akan menurunkan BI rate?. Beberapa data yang perlu dicermati adalah perkembangan dari nilai tukar mata uang maupun faktor global lainnya seperti keputusan Bank Sentral Amerika, yang diperkirakan akan turut menjadi acuan BI dalam menentukan BI rate.
Nilai tukar Rupiah yang kembali diperdagangkan melemah dikisaran level 9400 saat ini, diperkirakan akan menahan BI untuk menurunkan BI rate. Padahal Rupiah sempat stabil dikisaran harga 9100. Pelemahan tersebut dipicu oleh memburuknya kinerja indeks bursa global yang turut menyeret sejumlah mata uang dunia.
Rupiah pun sempat mendekati ambang batas nilai tukar yang ditetapkan pemerintah yakni 9500. Anjuran untuk melakukan intervensi pun bermunculan apabila Rupiah menyentuh level psikologis 9500. Hasilnya cukup efektif himbauan tersebut secara psikologis mampu menahan laju penguatan Rupiah lebih jauh.
Sehingga BI tidak mempunyai alasan yang kuat untuk kembali menurunkan BI Rate disaat nilai tukar Rupiah masih terpuruk terhadap US Dolar seperti saat ini. Karena penurunan BI Rate hanya akan membuat para pemodal memindahkan modalnya ke Negara lain yang memberikan imbal hasil yang lebih baik.
Terkait faktor Global, keputusan Bank Sentral Amerka atau The FED Fund Rate dalam menentukan suku bunganya akan berdampak signifikan terhadap kebijakan moneter negeri ini. Maklumlah, The FED masih menjadi acuan arah suku bunga global.
Pada saat ini, perekonomian Amerika masih dihadapkan pada krisis di sektor kredit. Meski demikian Gubernur Bank Sentral Amerika Ben Bernanke maupun Presiden Amerika George W. Bush memberikan sinyal akan kemungkinan penurunan suku bunga US Dolar, yang saat ini berada di level 5.25%.
Dalam pernyataannya Bernanke mengatakan akan melakukan tindakan untuk menyelematkan perekonomian Amerika walaupun dengan menurunkan suku bunga sekalipun dalam bulan September ini. Keputusan tersebut tentunya akan berdampak pada melemahnya mata uang US Dolar serta meningkatnya laju tekanan inflasi akibat terdepresiasinya mata uang US Dolar.
Meski demikian, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI minggu ini, BI diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunganya dalam level (interest rate differential) yang paling aman. Karena keputusan Bank Sentral Amerika (The FED) pada tanggal 18 september mendatang masih akan menjadi pertimbangan BI dalam menentukan suku bunga pada awal bulan Oktober.
Namun bukan tidak mungkin BI akan tetap mempertahankan BI rate. Laju tekanan inflasi diperkirakan akan mengalami puncaknya pada saat perayaan keagamaan (Ramadhan dan Idul Fitri). Meningkatnya konsumsi masyarakat akan memberikan penekanan pada harga sejumlah barang dan bahan makanan dan turut berpotensi membuat Rupiah melemah.
Tanpa adanya kebijakan di sektor pangan, dimana harga bahan makanan pokok bergerak dalam volatilitas yang tajam serta memburuknya kinerja Rupiah seperti yang terjadi pada saat ini, bukan tidak mungkin penurunan suku bunga hanyalah sebuah impian, layaknya seseorang yang mengharapkan berkah di bulan Ramadahan, namun tidak melakukan secuil amal ibadah.
Semua yang disajikan didalam Blog ini merupakan artikel yang dimuat dibeberapa Media Cetak dalam negeri. Merupakan opini pribadi dan tidak merefleksikan pandangan dari institusi dimana penulis bekerja saat ini. Semoga Bermanfaat.
Thursday, September 20, 2007
Tuesday, June 19, 2007
Rupiah Under Pressure
Medan Bisnis, 18 Juni 2007
Selama sesi perdagangan minggu kemarin, Rupiah diperdagangkan dalam fluktuasi yang sangat lebar dan sempat menyentuh level terendah dikisaran harga 9110. Namun laju pelemahan Rupiah sepertinya terhenti dan selanjutnya bergerak terbatas dalam range 8900 hingga 9100. Diturunkannya BI rate sebesar 25 basis poin dinilai menjadi salah satu pemicu utama melemahnya Rupiah terhadap US Dolar.
Padahal di Amerika, The FED masih menyatakan bahwa tingginya laju tekanan inflasi masih menjadi isu penting, sehingga menimbulkan ekspektasi bahwa bunga The FED masih akan bertahan dan dimungkinkan akan kembali dinaikan. Pernyataan hawkish yang dilontarkan beberapa pejabat federal reserve tersebut sempat membuat US Dolar menguat terhadap hampir semua mata uang hard currency lainnya. Meski demikian, aktifitas perdagangan terpantau minim dengan sebagian besar mata uang bergerak dalam kisaran yang sempit.
Sementara itu, BI masih memberikan sinyal bahwa suku bunga masih akan diturunkan lagi hingga ke level 8% sampai akhir tahun ini. Pernyataan tersebut tentunya sangat bertolak belakang dengan langkah sejumlah Bank Sentral termasuk Amerika yang justru diekspektasikan akan menaikan suku bunga acuannya.
Sejauh ini, transaksi model carry trade masih menjadi faktor penggerak utama pasar. Namun minat investor terhadap Rupiah tentunya akan berkurang seiring dengan tren penurunan suku bunga Rupiah. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat BI merasa khawatir dengan melemahnya Rupiah belakangan ini, karena masih somewhere around 9000 dan menurut BI melemahnya Rupiah juga dikarenakan faktor Global. Over confidence mungkin itu yang dirasakan BI saat ini.
Sangat berbeda dengan Selandia Baru, Bank sentral selandia baru atau RBNZ melakukan intervensi dengan membuat mata uang Dolar selandia melemah terhadap mata uang yang memberikan yield lebih rendah, terutama terhadap Yen Jepang dan Franc Swiss. Kebijakan tersebut diambil 4 hari setelah RBNZ menaikan suku bunga menjadi 8% (merupakan suku bunga tertinggi diantara Negara maju lainnya). RBNZ meyakini bahwa penguatan mata uang Dolar Selandia Baru tidak terlepas dari aksi carry trade pelaku pasar.
Kebijakan tersebut menegaskan bahwa RBNZ sangat keberatan dengan terlalu menguatnya mata uang Dolar Selandia Baru. Bukan tidak mungkin langkah serupa juga akan diikuti oleh Negara lainnya yang mengkhawatirkan dampak negatif dari transaksi carry trade.
Tekanan terhadap mata uang Asia, khususnya Rupiah diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring dengan dirilisnya beberapa data perekonomian AS, yang akhir-akhir ini menunjukkan perkembangan-perkembangan yang melebihi ekspektasi. Data-data tersebut membuat pasar berkesimpulan bahwa inflasi masih menjadi masalah utama dan mungkin akan memaksa The Fed mengambil sikap yang bertendensi terhadap kenaikan suku bunga atau hawkish.
Kalau ekspektasi pasar menyebutkan hal seperti itu, maka bisa diperkirakan bahwa ruang penguatan Rupiah akan semakin kecil tentunya, seiring dengan adanya tren kenaikan suku bunga global serta adanya tren penurunan suku bunga di dalam negeri.
Selama sesi perdagangan minggu kemarin, Rupiah diperdagangkan dalam fluktuasi yang sangat lebar dan sempat menyentuh level terendah dikisaran harga 9110. Namun laju pelemahan Rupiah sepertinya terhenti dan selanjutnya bergerak terbatas dalam range 8900 hingga 9100. Diturunkannya BI rate sebesar 25 basis poin dinilai menjadi salah satu pemicu utama melemahnya Rupiah terhadap US Dolar.
Padahal di Amerika, The FED masih menyatakan bahwa tingginya laju tekanan inflasi masih menjadi isu penting, sehingga menimbulkan ekspektasi bahwa bunga The FED masih akan bertahan dan dimungkinkan akan kembali dinaikan. Pernyataan hawkish yang dilontarkan beberapa pejabat federal reserve tersebut sempat membuat US Dolar menguat terhadap hampir semua mata uang hard currency lainnya. Meski demikian, aktifitas perdagangan terpantau minim dengan sebagian besar mata uang bergerak dalam kisaran yang sempit.
Sementara itu, BI masih memberikan sinyal bahwa suku bunga masih akan diturunkan lagi hingga ke level 8% sampai akhir tahun ini. Pernyataan tersebut tentunya sangat bertolak belakang dengan langkah sejumlah Bank Sentral termasuk Amerika yang justru diekspektasikan akan menaikan suku bunga acuannya.
Sejauh ini, transaksi model carry trade masih menjadi faktor penggerak utama pasar. Namun minat investor terhadap Rupiah tentunya akan berkurang seiring dengan tren penurunan suku bunga Rupiah. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat BI merasa khawatir dengan melemahnya Rupiah belakangan ini, karena masih somewhere around 9000 dan menurut BI melemahnya Rupiah juga dikarenakan faktor Global. Over confidence mungkin itu yang dirasakan BI saat ini.
Sangat berbeda dengan Selandia Baru, Bank sentral selandia baru atau RBNZ melakukan intervensi dengan membuat mata uang Dolar selandia melemah terhadap mata uang yang memberikan yield lebih rendah, terutama terhadap Yen Jepang dan Franc Swiss. Kebijakan tersebut diambil 4 hari setelah RBNZ menaikan suku bunga menjadi 8% (merupakan suku bunga tertinggi diantara Negara maju lainnya). RBNZ meyakini bahwa penguatan mata uang Dolar Selandia Baru tidak terlepas dari aksi carry trade pelaku pasar.
Kebijakan tersebut menegaskan bahwa RBNZ sangat keberatan dengan terlalu menguatnya mata uang Dolar Selandia Baru. Bukan tidak mungkin langkah serupa juga akan diikuti oleh Negara lainnya yang mengkhawatirkan dampak negatif dari transaksi carry trade.
Tekanan terhadap mata uang Asia, khususnya Rupiah diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring dengan dirilisnya beberapa data perekonomian AS, yang akhir-akhir ini menunjukkan perkembangan-perkembangan yang melebihi ekspektasi. Data-data tersebut membuat pasar berkesimpulan bahwa inflasi masih menjadi masalah utama dan mungkin akan memaksa The Fed mengambil sikap yang bertendensi terhadap kenaikan suku bunga atau hawkish.
Kalau ekspektasi pasar menyebutkan hal seperti itu, maka bisa diperkirakan bahwa ruang penguatan Rupiah akan semakin kecil tentunya, seiring dengan adanya tren kenaikan suku bunga global serta adanya tren penurunan suku bunga di dalam negeri.
Monday, June 11, 2007
Faktor Global atau Penurunan BI Rate
Medan Bisnis, 11 Juni 2007
Rupiah kembali melemah hingga menembus level 8900, setelah dalam beberapa perdagangan minggu lalu sempat menguat kekisaran level 8700-an. Menurut versi Bank Indonesia, melemahnya nilai tukar rupiah dikarenakan oleh faktor global seperti melemahnya sejumlah mata uang Asia serta technical correction terhadap indeks bursa global.
Pemerintah juga meyakinkan pasar bahwa keadaan tersebut hanya akan bersifat sementara. Namun, sayangnya kita tidak pernah tahu ukuran yang tepat untuk menjelaskan kata sementara tersebut, setiap orang pasti akan mempunyai sudut pandang yang berbeda, sementara bisa diartikan beberapa hari, minggu, bulan atau bahkan selama tahun 2007 ini.
Berbeda dari beberapa fakta yang terjadi, penurunan BI rate sebesar 25 basis poin dari sebelumnya sebesar 8.75% menjadi 8.5% diyakini sebagai salah satu pemicu melemahnya nilai tukar Rupiah ke level 8900-an. Sejauh ini, asumsi pemerintah bahwa suku bunga riil (selisih antara BI rate dan Inflasi) sebesar 1.5% hingga 2% cukup memberikan kenyamanan akan tidak terjadinya pembalikan modal atau reversal.
Selain itu, cadangan devisa yang cukup tinggi serta membaiknya fundamental eknomi Indonesia seperti yang diberitakan media seolah-olah meyakinkan kita bahwa ekonomi sudah berjalan pada jalur yang benar atau on the right track.
Meski demikian, belum ada yang mampu memperkirakan kapan dana-dana panas yang selama ini menjadi kambing hitam penguatan rupiah dan IHSG tidak akan keluar dari negeri ini. Dana-dana jangka pendek tersebut tentunya tidak akan melihat secara jauh keadaan ekonomi bangsa ini. Yang dia (hot money) tahu adalah bagaimana untuk berkembang biak dengan memanfaatkan produk-produk investasi yang menawarkan imbal hasil yang tinggi dan aman.
Sehingga cukup beralasan, Rupiah kembali melemah ketika BI rate kembali diturunkan, sementara beberapa Negara (misal Eropa) justru kembali menaikan suku bunga. Antisipasi yang sangat relevan untuk dilakukan adalah menanti kebijakan dari Bank Indonesia. Selaku penguasa moneter negeri ini, BI memiliki kewenangan untuk menstabilkan Rupiah dengan salah satu caranya adalah melakukan intervensi pasar.
Namun, apakah pembalikan modal yang terjadi akan menyeret bangsa ini ke dalam jurang krisis?, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Pemerintah maupun pihak terkait tentunya diharapkan mampu mengkonversi dana-dana jangka pendek tersebut menjadi FDI (foreign direct investment), dengan memformulasikan kerangka pertumbuhan yang berkorelasi dengan pertumbuhan di sektor riil.
Tentunya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Namun, instabilitas yang selalu terjadi di pasar finansial seharusnya mampu diekspektasikan guna menghindari negeri ini masuk ke jurang krisis yang berkepanjangan.
Kalau saat ini Rupiah melemah, IHSG terkoreksi, maka yang dibutuhkan adalah stabilisasi pasar jangka pendek. Namun kalau itu terjadi berulang-ulang maka kita harus me-review fundamental ekonomi bangsa ini, apakah benar-benar berjalan pada jalur yang benar. Seharusnya tidak menjadi kekhawatiran seandainya fundamental ekonomi negeri ini kuat menopang segala macam bentuk volatilitas pasar finansial.
Rupiah kembali melemah hingga menembus level 8900, setelah dalam beberapa perdagangan minggu lalu sempat menguat kekisaran level 8700-an. Menurut versi Bank Indonesia, melemahnya nilai tukar rupiah dikarenakan oleh faktor global seperti melemahnya sejumlah mata uang Asia serta technical correction terhadap indeks bursa global.
Pemerintah juga meyakinkan pasar bahwa keadaan tersebut hanya akan bersifat sementara. Namun, sayangnya kita tidak pernah tahu ukuran yang tepat untuk menjelaskan kata sementara tersebut, setiap orang pasti akan mempunyai sudut pandang yang berbeda, sementara bisa diartikan beberapa hari, minggu, bulan atau bahkan selama tahun 2007 ini.
Berbeda dari beberapa fakta yang terjadi, penurunan BI rate sebesar 25 basis poin dari sebelumnya sebesar 8.75% menjadi 8.5% diyakini sebagai salah satu pemicu melemahnya nilai tukar Rupiah ke level 8900-an. Sejauh ini, asumsi pemerintah bahwa suku bunga riil (selisih antara BI rate dan Inflasi) sebesar 1.5% hingga 2% cukup memberikan kenyamanan akan tidak terjadinya pembalikan modal atau reversal.
Selain itu, cadangan devisa yang cukup tinggi serta membaiknya fundamental eknomi Indonesia seperti yang diberitakan media seolah-olah meyakinkan kita bahwa ekonomi sudah berjalan pada jalur yang benar atau on the right track.
Meski demikian, belum ada yang mampu memperkirakan kapan dana-dana panas yang selama ini menjadi kambing hitam penguatan rupiah dan IHSG tidak akan keluar dari negeri ini. Dana-dana jangka pendek tersebut tentunya tidak akan melihat secara jauh keadaan ekonomi bangsa ini. Yang dia (hot money) tahu adalah bagaimana untuk berkembang biak dengan memanfaatkan produk-produk investasi yang menawarkan imbal hasil yang tinggi dan aman.
Sehingga cukup beralasan, Rupiah kembali melemah ketika BI rate kembali diturunkan, sementara beberapa Negara (misal Eropa) justru kembali menaikan suku bunga. Antisipasi yang sangat relevan untuk dilakukan adalah menanti kebijakan dari Bank Indonesia. Selaku penguasa moneter negeri ini, BI memiliki kewenangan untuk menstabilkan Rupiah dengan salah satu caranya adalah melakukan intervensi pasar.
Namun, apakah pembalikan modal yang terjadi akan menyeret bangsa ini ke dalam jurang krisis?, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Pemerintah maupun pihak terkait tentunya diharapkan mampu mengkonversi dana-dana jangka pendek tersebut menjadi FDI (foreign direct investment), dengan memformulasikan kerangka pertumbuhan yang berkorelasi dengan pertumbuhan di sektor riil.
Tentunya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Namun, instabilitas yang selalu terjadi di pasar finansial seharusnya mampu diekspektasikan guna menghindari negeri ini masuk ke jurang krisis yang berkepanjangan.
Kalau saat ini Rupiah melemah, IHSG terkoreksi, maka yang dibutuhkan adalah stabilisasi pasar jangka pendek. Namun kalau itu terjadi berulang-ulang maka kita harus me-review fundamental ekonomi bangsa ini, apakah benar-benar berjalan pada jalur yang benar. Seharusnya tidak menjadi kekhawatiran seandainya fundamental ekonomi negeri ini kuat menopang segala macam bentuk volatilitas pasar finansial.
Tuesday, June 05, 2007
Kekhawatiran yang Mendorong Penguatan Valuta
Medan Bisnis, 03 Juni 2007
Pemerintah China kembali mengeluarkan kebijakan di sektor keuangan dengan menaikan pajak atas perdagangan saham menjadi 0.3% dari sebelumnya sebesar 0.1%. Kebijakan tersebut memicu melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia bahkan di dunia. Kebijakan pemerintah China tersebut dilandaskan atas kekhawatiran akan adanya pembalikan modal seiring dengan penguatan pasar ekuitas di China belakangan ini.
Namun, kebijakan pemerintah China tersebut membuat mata uang Yen Jepang kembali menguat. Bahkan mata uang Euro harus mengalami koreksi yang paling dalam setelah mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah terhadap mata uang Yen Jepang. Pengumuman aturan baru oleh pemerintah China tersebut telah memicu kekhawatiran akan resiko yang ditimbulkan dari transaksi carry trade dengan cara meminjam mata uang Yen Jepang.
Tidak hanya itu, imbas dari kebijakan tersebut juga dirasakan pada fokus pasar yang mulai tertuju pada performa pasar saham dunia. Korelasi positif pun terlihat dalam beberapa minggu perdagangan terakhir, dimana ketika pasar saham mengalami koreksi, maka hal serupa juga terjadi pada pergerakan sejumlah mata uang.
Perubahan trenpun diperkirakan akan terjadi. Dimana pada saat sebelumnya Yen Jepang akan melemah apabila terjadi penguatan di pasar saham, maka pada saat ini perubahan porsi dalam transaksi carry trade akan sangat menguntungkan mata uang Yen Jepang, karena ada tren pelemahan pasar saham dunia.
Namun, beberapa data penting dari Amerika seperti Gross Domestic Product (GDP) dan data Non-Farm Payrolls akan berpeluang besar menahan laju penguatan mata uang secara signifikan. Beberapa angka aktual positif serta FOMC (Federal Open Market Committee) minutes juga berpotensi membuat mata uang US Dolar menguat.
Sejauh ini pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve memberikan gambaran bahwa kemungkinan akan diturunkannya bunga The FED semakin kecil. Bahkan ekspektasi akan kembali dinaikkannya bunga The FED masih bermunculan. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan dimana Bank Sentral Amerika tetap mengkhawatirkan akan tingginya laju inflasi di Amerika.
Kemungkinan tersebut diperkuat dengan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga di beberapa Bank Sentral seperti ECB (Zona Euro), BoE (Inggris), dan BoC (kanada) yang diperkirakan masih akan menaikan suku bunga sekali lagi dalam tahun ini.
Sementara itu, mata uang Rupiah juga mengikuti langkah yang sama terhadap pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Melemahnya bursa saham di China juga menjadi alasan utama melemahnya IHSG serta mata uang Rupiah. Namun, hal tersebut dinilai sebagai gejolak keuangan Global, yang diperkirakan tidak akan berlangsung dalam waktu yang lama. Karena memang kebijakan menaikan pajak atas perdagangan saham akan memicu pelemahan indeks bursa dalam beberapa minggu kedepan.
Pemerintah China kembali mengeluarkan kebijakan di sektor keuangan dengan menaikan pajak atas perdagangan saham menjadi 0.3% dari sebelumnya sebesar 0.1%. Kebijakan tersebut memicu melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia bahkan di dunia. Kebijakan pemerintah China tersebut dilandaskan atas kekhawatiran akan adanya pembalikan modal seiring dengan penguatan pasar ekuitas di China belakangan ini.
Namun, kebijakan pemerintah China tersebut membuat mata uang Yen Jepang kembali menguat. Bahkan mata uang Euro harus mengalami koreksi yang paling dalam setelah mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah terhadap mata uang Yen Jepang. Pengumuman aturan baru oleh pemerintah China tersebut telah memicu kekhawatiran akan resiko yang ditimbulkan dari transaksi carry trade dengan cara meminjam mata uang Yen Jepang.
Tidak hanya itu, imbas dari kebijakan tersebut juga dirasakan pada fokus pasar yang mulai tertuju pada performa pasar saham dunia. Korelasi positif pun terlihat dalam beberapa minggu perdagangan terakhir, dimana ketika pasar saham mengalami koreksi, maka hal serupa juga terjadi pada pergerakan sejumlah mata uang.
Perubahan trenpun diperkirakan akan terjadi. Dimana pada saat sebelumnya Yen Jepang akan melemah apabila terjadi penguatan di pasar saham, maka pada saat ini perubahan porsi dalam transaksi carry trade akan sangat menguntungkan mata uang Yen Jepang, karena ada tren pelemahan pasar saham dunia.
Namun, beberapa data penting dari Amerika seperti Gross Domestic Product (GDP) dan data Non-Farm Payrolls akan berpeluang besar menahan laju penguatan mata uang secara signifikan. Beberapa angka aktual positif serta FOMC (Federal Open Market Committee) minutes juga berpotensi membuat mata uang US Dolar menguat.
Sejauh ini pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve memberikan gambaran bahwa kemungkinan akan diturunkannya bunga The FED semakin kecil. Bahkan ekspektasi akan kembali dinaikkannya bunga The FED masih bermunculan. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan dimana Bank Sentral Amerika tetap mengkhawatirkan akan tingginya laju inflasi di Amerika.
Kemungkinan tersebut diperkuat dengan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga di beberapa Bank Sentral seperti ECB (Zona Euro), BoE (Inggris), dan BoC (kanada) yang diperkirakan masih akan menaikan suku bunga sekali lagi dalam tahun ini.
Sementara itu, mata uang Rupiah juga mengikuti langkah yang sama terhadap pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Melemahnya bursa saham di China juga menjadi alasan utama melemahnya IHSG serta mata uang Rupiah. Namun, hal tersebut dinilai sebagai gejolak keuangan Global, yang diperkirakan tidak akan berlangsung dalam waktu yang lama. Karena memang kebijakan menaikan pajak atas perdagangan saham akan memicu pelemahan indeks bursa dalam beberapa minggu kedepan.
Volatilitas Pasar Finansial
Medan Bisnis, 28 Mei 2007
Kekhawatiran akan kembali melemahnya mata uang Rupiah, setelah menguat secara konsisten kembali terbukti. Rupiah yang sempat menguat hingga ke level 8650 kembali terkoreksi hingga di atas level 8800 dalam kurun waktu tak lebih dari 2 hari perdagangan. Namun, pelemahan tersebut dinilai masih berada dalam batas yang belum mengkhawatirkan, karena masih “somewhere around 9000”, begitu Gubernur Bank Indonesia menyatakan sikapnya.
Hal yang dapat menjadi alasan melemahnya Rupiah disinyalir terkait dengan melemahnya Indeks Bursa Jakarta (IHSG). Melemahnya IHSG tersebut diperkirakan juga dipengaruhi oleh memburuknya kinerja indeks bursa Dow Jones (Amerika). Bahkan indeks Dow Jones sempat diperdagangkan dalam volatilitas yang tinggi, yakni ditutup melemah 14 poin meskipun selama sesi perdagangan sempat menguat hingga 70 poin.
Pelaku pasar pun sangat berhati-hati untuk melakukan transaksi carry trade, karena pergerakan indeks bursa Dow Jones sangat berpengaruh besar bagi perdagangan carry trade. Hal ini membuat data Durable Goods Orders/DGO (pemesanan barang tahan lama) serta data New Home Sales (data penjualan rumah baru) Amerika menjadi fokus utama pelaku pasar.
Meski demikian, tren keterpurukan US Dolar sepertinya belum saja berakhir. Sentimen di sektor properti Amerika yang tidak merealisasikan angka aktual yang positif membuat data-data lainnya seperti perumahan juga akan mengikuti hal yang sama. Namun, melemahnya US Dolar akan berkorelasi positif terhadap permintaan barang-barang di sektor transportasi seperti komponen pesawat, walaupun terjadi tekanan terhadap permintaan barang lainnya seperti furniture maupun elektronik.
Seiring dengan memburuknya sejumlah data perekonomian Amerika tersebut, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap keputusan Bank Sentral Amerika atau The FED yang diperkirakan masih tetap mempertahankan suku bunganya. Hal tersebut menjadi salah satu penopang dari terpuruknya mata uang US Dolar lebih jauh.
Selain itu, pertemuan antara pemerintah Amerika dan China di Washington, yang membahas mengenai defisit neraca perdagangan Amerika, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pergerakan US Dolar. Sejauh ini, pemerintah AS tetap menuding bahwa pemerintah China melakukan kecurangan dengan membiarkan mata uang Yuan melemah terhadap US Dolar, yang membuat pasar Amerika kebanjiran produk dari China.
Hal lain yang layak dicermati adalah tren kenaikan indeks bursa dunia yang masih menunjukan potensi akan tetap menguat. Selama indeks bursa dunia menunjukan penguatan maka potensi penguatan US Dolar juga semakin terbuka. Namun, ketika pasar menilai bahwa indeks bursa sudah mulai menunjukan adanya sinyal berbalik arah, maka US Dolar dapat kembali terpukul oleh transaksi carry trade.
Terhadap mata uang lainnya, US Dolar justru relatif stabil terhadap mata uang Yen Jepang. Meskipun mata uang Yen sering digunakan sebagai mata uang yang paling aktif dalam transaksi carry trade, namun ekspektasi kemungkinan Bank Sentral Jepang (BoJ) akan kembali menaikan suku bunganya membuat mata uang Yen tertahan dari keterpurukan yang lebih dalam.
Demikian halnya terhadap Euro, mata uang US Dolar juga tidak bergerak dalam fluktuasi yang lebar. Walau demikian data-data perekonomian zona Euro diperkirakan akan kembali mengalami rebound, sehingga berpotensi membawa Euro kembali menguat terhadap US Dolar. Nah, terhadap mata uang Poundsterling (GBP), US Dolar diperkirakan akan bergerak dalam range perdagangan yang cukup lebar, Hal tersebut dikarenakan sentimen dari pernyataan hawkish para pejabat Bank Sentral Inggris (BoE).
Untuk mata uang Rupiah, walaupun masih menunjukan tren penguatan, namun potensi berbalik arah mata uang Rupiah masih terbuka lebar. Rupiah masih sangat rentan terhadap sentimen-sentimen dari luar. Selain itu, gejala anomali terhadap mata uang Rupiah diperkirakan akan sering terjadi, yang nantinya akan membuat bingung pelaku pasar.
Kekhawatiran akan kembali melemahnya mata uang Rupiah, setelah menguat secara konsisten kembali terbukti. Rupiah yang sempat menguat hingga ke level 8650 kembali terkoreksi hingga di atas level 8800 dalam kurun waktu tak lebih dari 2 hari perdagangan. Namun, pelemahan tersebut dinilai masih berada dalam batas yang belum mengkhawatirkan, karena masih “somewhere around 9000”, begitu Gubernur Bank Indonesia menyatakan sikapnya.
Hal yang dapat menjadi alasan melemahnya Rupiah disinyalir terkait dengan melemahnya Indeks Bursa Jakarta (IHSG). Melemahnya IHSG tersebut diperkirakan juga dipengaruhi oleh memburuknya kinerja indeks bursa Dow Jones (Amerika). Bahkan indeks Dow Jones sempat diperdagangkan dalam volatilitas yang tinggi, yakni ditutup melemah 14 poin meskipun selama sesi perdagangan sempat menguat hingga 70 poin.
Pelaku pasar pun sangat berhati-hati untuk melakukan transaksi carry trade, karena pergerakan indeks bursa Dow Jones sangat berpengaruh besar bagi perdagangan carry trade. Hal ini membuat data Durable Goods Orders/DGO (pemesanan barang tahan lama) serta data New Home Sales (data penjualan rumah baru) Amerika menjadi fokus utama pelaku pasar.
Meski demikian, tren keterpurukan US Dolar sepertinya belum saja berakhir. Sentimen di sektor properti Amerika yang tidak merealisasikan angka aktual yang positif membuat data-data lainnya seperti perumahan juga akan mengikuti hal yang sama. Namun, melemahnya US Dolar akan berkorelasi positif terhadap permintaan barang-barang di sektor transportasi seperti komponen pesawat, walaupun terjadi tekanan terhadap permintaan barang lainnya seperti furniture maupun elektronik.
Seiring dengan memburuknya sejumlah data perekonomian Amerika tersebut, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap keputusan Bank Sentral Amerika atau The FED yang diperkirakan masih tetap mempertahankan suku bunganya. Hal tersebut menjadi salah satu penopang dari terpuruknya mata uang US Dolar lebih jauh.
Selain itu, pertemuan antara pemerintah Amerika dan China di Washington, yang membahas mengenai defisit neraca perdagangan Amerika, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pergerakan US Dolar. Sejauh ini, pemerintah AS tetap menuding bahwa pemerintah China melakukan kecurangan dengan membiarkan mata uang Yuan melemah terhadap US Dolar, yang membuat pasar Amerika kebanjiran produk dari China.
Hal lain yang layak dicermati adalah tren kenaikan indeks bursa dunia yang masih menunjukan potensi akan tetap menguat. Selama indeks bursa dunia menunjukan penguatan maka potensi penguatan US Dolar juga semakin terbuka. Namun, ketika pasar menilai bahwa indeks bursa sudah mulai menunjukan adanya sinyal berbalik arah, maka US Dolar dapat kembali terpukul oleh transaksi carry trade.
Terhadap mata uang lainnya, US Dolar justru relatif stabil terhadap mata uang Yen Jepang. Meskipun mata uang Yen sering digunakan sebagai mata uang yang paling aktif dalam transaksi carry trade, namun ekspektasi kemungkinan Bank Sentral Jepang (BoJ) akan kembali menaikan suku bunganya membuat mata uang Yen tertahan dari keterpurukan yang lebih dalam.
Demikian halnya terhadap Euro, mata uang US Dolar juga tidak bergerak dalam fluktuasi yang lebar. Walau demikian data-data perekonomian zona Euro diperkirakan akan kembali mengalami rebound, sehingga berpotensi membawa Euro kembali menguat terhadap US Dolar. Nah, terhadap mata uang Poundsterling (GBP), US Dolar diperkirakan akan bergerak dalam range perdagangan yang cukup lebar, Hal tersebut dikarenakan sentimen dari pernyataan hawkish para pejabat Bank Sentral Inggris (BoE).
Untuk mata uang Rupiah, walaupun masih menunjukan tren penguatan, namun potensi berbalik arah mata uang Rupiah masih terbuka lebar. Rupiah masih sangat rentan terhadap sentimen-sentimen dari luar. Selain itu, gejala anomali terhadap mata uang Rupiah diperkirakan akan sering terjadi, yang nantinya akan membuat bingung pelaku pasar.
Saturday, May 19, 2007
Refleksi Fundamental Ekonomi
Medan Bisnis, 21 Mei 2007
Kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi yang diperkirakan dapat terulang di tahun 2008 nanti, membuat presiden SBY meminta agar dana-dana yang mengalir ke Indonesia dapat dikontrol dengan baik. Tujuannya adalah agar dana-dana tersebut dapat mengendap di negeri ini tanpa mengalami pembalikan modal (reversal) yang signifikan, yang berpotensi membawa negeri ini mengalami krisis keuangan seperti yang terjadi di tahun 1997.
Namun pernyataan pesimis akan terjadinya krisis moneter dapat di tepis dengan fakta-fakta yang telah terealisasi belakangan ini, misalnya laju inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang meningkat, membaiknya kinerja ekspor, laju pertumbuhan ekonomi yang membaik, nilai tukar Rupiah yang stabil, maupun beberapa alasan lainnya.
Namun, benarkah kita patut bersandar dari fakta-fakta tersebut? Tidak tentunya. Yang pasti kita harus belajar dari pengalaman pahit tahun 1997. Penguatan nilai tukar Rupiah pada saat ini misalnya, yang hampir mirip dengan yang terjadi sebelum krisis, banyak ditopang oleh dana-dana jangka pendek yang umumnya direfleksikan dengan terjadinya penguatan yang signifikan pada mata uang dan indeks bursa.
Semua data ekonomi yang disajikan pada saat ini, lebih merefleksikan adanya ketahanan disisi ekonomi makro, yang notabene memberikan argumen kepastian akan terhindarnya Indonesia ke dalam krisis keuangan. Padahal membaiknya kinerja disisi ekonomi makro tidak dapat menunjukan pola hubungan yang searah terhadap pertumbuhan ekonomi di sektor riil.
Rupiah yang stabil bahkan memiliki kecenderungan menguat pada saat ini, yang turut serta diiringi dengan menguatnya indeks bursa Jakarta, namun tetap saja memberikan kekhawatiran besar akan kembali terjungkalnya pasar finansial di Indonesia. Bahkan, beberapa manajer investasi seolah-olah tak henti-hentinya mengeluhkan semakin mahalnya harga saham saat ini.
Bahkan, saham lapis kedua (bukan saham unggulan) turut melambung tinggi, sehingga semakin kecil saja ruang bagi penguatan harga saham selanjutnya. Secara psikologis komentar dari manajer investasi tersebut memberikan atau bahkan memicu pasar untuk kembali mempertimbangkan atas kepemilikian sahamnya, sehingga mengkondisikan investor untuk melepas saham-sahamnya.
Monkey did, monkey do, ungkapan tersebut selalu muncul ketika seorang pelaku pasar mengikuti jejak pelaku pasar lain yang notabene memiliki dana yang lebih besar. Apabila hal tersebut terjadi, bukan tidak mungkin, mereka yang mempunyai dana besar akan melarikan dananya ke luar dan akan memicu pelaku pasar lain untuk mengikutinya.
Kalau itu terjadi, maka perekonomian yang secara teoritis sudah berada dalam kerangka pertumbuhan yang baik sekalipun, tidak akan ada gunanya lagi. Karena, tindakan spekulasi dalam porsi dana yang cukup signifikan untuk ukuran sebuah Negara, akan mampu memporak-porandakan institusi keuangan besar, bahkan sebuah Negara sekalipun.
Kembali ke permasalahan fundamental ekonomi bangsa kita. Walaupun sejauh ini pemerintahan SBY telah berkoordinasi untuk membentuk ketahanan ekonomi yang lebih stabil, seperti melakukan perjanjian BSA (Bilateral Swap Arrangement) dan berkoordinasi dengan Negara Asia untuk menciptakan sebuah cadangan devisa bersama. Itu semua bukanlah jaminan 100%.
Pengalaman pahit di tahun 1997 harusnya menjadi tolak ukur bagaimana kebijakan di bidang perekonomian seharusnya di buat. Kebijakan sejatinya dibuat dengan mempertimbangkan bentuk kesalahan yang sekecil apapun, karena dampak dari kesalahan tersebut akan ditanggung bangsa ini mungkin dalam waktu yang cukup lama, dengan penderitaan yang seharusnya tidak dapat ditoleransi.
Wacana krisis yang menimbulkan pesimisme di masyarakat seharusnya juga tidak di publikasikan secara vulgar. Tidaklah berlebihan kalau kita menyimpulkan kutipan pernyataan penulis buku terkenal Stephen Covey, dimana kalau kita memikirkan sesuatu hal maka secara tidak langsung tubuh kita akan bergerak ke hal tersebut. Jadi walaupun kita hanya berekspektasi atau berwacana akan tidak terjadinya krisis moneter, maka secara tidak langsung kita justru digiring ke arah tersebut
Kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi yang diperkirakan dapat terulang di tahun 2008 nanti, membuat presiden SBY meminta agar dana-dana yang mengalir ke Indonesia dapat dikontrol dengan baik. Tujuannya adalah agar dana-dana tersebut dapat mengendap di negeri ini tanpa mengalami pembalikan modal (reversal) yang signifikan, yang berpotensi membawa negeri ini mengalami krisis keuangan seperti yang terjadi di tahun 1997.
Namun pernyataan pesimis akan terjadinya krisis moneter dapat di tepis dengan fakta-fakta yang telah terealisasi belakangan ini, misalnya laju inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang meningkat, membaiknya kinerja ekspor, laju pertumbuhan ekonomi yang membaik, nilai tukar Rupiah yang stabil, maupun beberapa alasan lainnya.
Namun, benarkah kita patut bersandar dari fakta-fakta tersebut? Tidak tentunya. Yang pasti kita harus belajar dari pengalaman pahit tahun 1997. Penguatan nilai tukar Rupiah pada saat ini misalnya, yang hampir mirip dengan yang terjadi sebelum krisis, banyak ditopang oleh dana-dana jangka pendek yang umumnya direfleksikan dengan terjadinya penguatan yang signifikan pada mata uang dan indeks bursa.
Semua data ekonomi yang disajikan pada saat ini, lebih merefleksikan adanya ketahanan disisi ekonomi makro, yang notabene memberikan argumen kepastian akan terhindarnya Indonesia ke dalam krisis keuangan. Padahal membaiknya kinerja disisi ekonomi makro tidak dapat menunjukan pola hubungan yang searah terhadap pertumbuhan ekonomi di sektor riil.
Rupiah yang stabil bahkan memiliki kecenderungan menguat pada saat ini, yang turut serta diiringi dengan menguatnya indeks bursa Jakarta, namun tetap saja memberikan kekhawatiran besar akan kembali terjungkalnya pasar finansial di Indonesia. Bahkan, beberapa manajer investasi seolah-olah tak henti-hentinya mengeluhkan semakin mahalnya harga saham saat ini.
Bahkan, saham lapis kedua (bukan saham unggulan) turut melambung tinggi, sehingga semakin kecil saja ruang bagi penguatan harga saham selanjutnya. Secara psikologis komentar dari manajer investasi tersebut memberikan atau bahkan memicu pasar untuk kembali mempertimbangkan atas kepemilikian sahamnya, sehingga mengkondisikan investor untuk melepas saham-sahamnya.
Monkey did, monkey do, ungkapan tersebut selalu muncul ketika seorang pelaku pasar mengikuti jejak pelaku pasar lain yang notabene memiliki dana yang lebih besar. Apabila hal tersebut terjadi, bukan tidak mungkin, mereka yang mempunyai dana besar akan melarikan dananya ke luar dan akan memicu pelaku pasar lain untuk mengikutinya.
Kalau itu terjadi, maka perekonomian yang secara teoritis sudah berada dalam kerangka pertumbuhan yang baik sekalipun, tidak akan ada gunanya lagi. Karena, tindakan spekulasi dalam porsi dana yang cukup signifikan untuk ukuran sebuah Negara, akan mampu memporak-porandakan institusi keuangan besar, bahkan sebuah Negara sekalipun.
Kembali ke permasalahan fundamental ekonomi bangsa kita. Walaupun sejauh ini pemerintahan SBY telah berkoordinasi untuk membentuk ketahanan ekonomi yang lebih stabil, seperti melakukan perjanjian BSA (Bilateral Swap Arrangement) dan berkoordinasi dengan Negara Asia untuk menciptakan sebuah cadangan devisa bersama. Itu semua bukanlah jaminan 100%.
Pengalaman pahit di tahun 1997 harusnya menjadi tolak ukur bagaimana kebijakan di bidang perekonomian seharusnya di buat. Kebijakan sejatinya dibuat dengan mempertimbangkan bentuk kesalahan yang sekecil apapun, karena dampak dari kesalahan tersebut akan ditanggung bangsa ini mungkin dalam waktu yang cukup lama, dengan penderitaan yang seharusnya tidak dapat ditoleransi.
Wacana krisis yang menimbulkan pesimisme di masyarakat seharusnya juga tidak di publikasikan secara vulgar. Tidaklah berlebihan kalau kita menyimpulkan kutipan pernyataan penulis buku terkenal Stephen Covey, dimana kalau kita memikirkan sesuatu hal maka secara tidak langsung tubuh kita akan bergerak ke hal tersebut. Jadi walaupun kita hanya berekspektasi atau berwacana akan tidak terjadinya krisis moneter, maka secara tidak langsung kita justru digiring ke arah tersebut
Kemana Arah Rupiah?
Medan Bisnis, 14 Mei 2007
Rupiah kembali menguat tajam hingga mendekati level 8700. Tren penguatan Rupiah sendiri dimulai sejak akhir tahun 2005, dimana pada saat itu terjadi reshuffle kabinet pertama yang dilakukan oleh pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah spekulasi yang berkembang saat itu menyebutkan bahwa penguatan Rupiah tidak terlepas dari digantinya Menteri Perekonomian Abu Rizal Bakrie menjadi Boediono.
Terlepas dari semua itu, faktor pendukung penguatan Rupiah paling rasional pada saat itu adalah kebijakan disisi moneter yang menaikan BI rate ke level 12.75%. Capital inflows dari luar negeri pun berdatangan hingga membawa Rupiah menguat ke level 8800 sebelum akhirnya terkoreksi hingga ke level 9400.
Kalau kita bandingkan dengan kondisi Rupiah pada saat ini, yang tidak jauh berbeda dengan kondisi setahun sebelumnya. Penguatan Rupiah sendiri turut diiringi dengan reshuffle yang dilakukan pemerintah SBY. Tapi itu hanyalah kebetulan saja, karena penguatan Rupiah sendiri merupakan bentuk antisipasi membaiknya laju inflasi selama bulan april yang justru merealisasikan deflasi sebesar 0.16%.
Secara psikologis, hal tersebut menunjukan bahwa fundamental ekonomi indonesia sudah berjalan sesuai dengan track yang benar, sehingga memicu penurunan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 8.75% saat ini.
Akan tetapi, dengan status Indonesia sebagai nagara yang masih di katakan sebagai emerging market tentunya hal tersebut belum cukup untuk memberikan rasa aman. Kenapa? Karena penguatan Rupiah lebih didominasi oleh dana-dana jangka pendek yang masuk melalui pasar finansial, dan belum merefleksikan dari pertumbuhan ekonomi sesungguhnya yakni sektor riil.
Terlebih, penguatan Rupiah juga ditopang oleh komentar yang secara psikologis memberikan arah kemana Rupiah nantinya. Pernyataan Pejabat BI Miranda S. Goeltom yang menyatakan confidence apabila Rupiah nantinya menguat ke level 8500 menjadi pemicu penguatan Rupiah belakangan ini.
Nah, Kemana Rupiah nantinya?. Mungkinkah ke level 8500. Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, belajar dari pengalaman, bahwa penguatan Rupiah yang terlalu tajam juga akan membawa Rupiah kembali terdepresiasi.
Walaupun saat ini Rupiah diekspektasikan akan terus mengalami penguatan, namun perlu diwaspadai bahwa momen pelemahan Rupiah akan semakin besar tentunya. Apalagi penguatan Rupiah lebih didominasi oleh dana jangka pendek, sehingga sangat rentan terhadap gejolak pasar seperti penurunan suku bunga.
Biasanya yang dilakukan BI apabila Rupiah melemah adalah melakukan intervensi pasar dengan menjual US Dolar. Tapi apakah hal tersebut akan selalu efektif meredam gejolak pasar?. Nah, bagaimana jadinya kalau BI justru kehabisan US Dolar sehingga tidak ada lagi yang banyak diperbuat. Mungkinkah pemerintah mengabaikan sektor riil dengan menaikan kembali BI Rate?.
Tentunya masih banyak pertanyaan lain yang bermunculan. Namun, sejauh ini pemerintah telah melakukan trobosan seperti berkoordinasi dengan negara dikawasan regional Asia, untuk menciptakan ketahan ekonomi seperti dengan melakukan perjanjian Bilateral Swap Arrangement atau BSA. Tujuan dari dibentuknya perjanjian tersebut tidak lain untuk menghindari negara kawasan regional mengalami krisis moneter seperti yang terjadi di era tahun 1997-an.
Efektifkah perjanjian tersebut?, belum terbukti tentunya. Walaupun kondisinya saat ini negara di Asia hampir mirip dengan kondisi 10 tahun silam (mengutip pernyataan Menkeu), namun kehadiran BSA setidaknya memberikan sedikit rasa aman bagi pasar finansial Indonesia.
Kembali ke tema awal, kemanakah Rupiah nantinya?. Tren penguatan akan tetap mendominasi penguatan Rupiah tentunya. Kalau BI mengatakan bahwa Rupiah masih dalam batas aman apabila bergerak menguat ke level 8500, maka kita bisa mengatakan hal yang sama, karena yang melontarkan pernyataan tersebut adalah mereka yang berkompeten dalam menjaga stabilitas keuangan negeri ini.
Namun, bukan berarti Rupiah akan bergerak mulus menguat ke level tersebut. Rupiah masih akan berfluktuasi sebelum mencapai level tersebut atau malah bergerak sebaliknya. Menurut pengamatan yang telah dilakukan, Rupiah masih akan berfluktuasi lebar dikisaran level 8700 hingga 8950 dalam minggu ini.
Rupiah kembali menguat tajam hingga mendekati level 8700. Tren penguatan Rupiah sendiri dimulai sejak akhir tahun 2005, dimana pada saat itu terjadi reshuffle kabinet pertama yang dilakukan oleh pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah spekulasi yang berkembang saat itu menyebutkan bahwa penguatan Rupiah tidak terlepas dari digantinya Menteri Perekonomian Abu Rizal Bakrie menjadi Boediono.
Terlepas dari semua itu, faktor pendukung penguatan Rupiah paling rasional pada saat itu adalah kebijakan disisi moneter yang menaikan BI rate ke level 12.75%. Capital inflows dari luar negeri pun berdatangan hingga membawa Rupiah menguat ke level 8800 sebelum akhirnya terkoreksi hingga ke level 9400.
Kalau kita bandingkan dengan kondisi Rupiah pada saat ini, yang tidak jauh berbeda dengan kondisi setahun sebelumnya. Penguatan Rupiah sendiri turut diiringi dengan reshuffle yang dilakukan pemerintah SBY. Tapi itu hanyalah kebetulan saja, karena penguatan Rupiah sendiri merupakan bentuk antisipasi membaiknya laju inflasi selama bulan april yang justru merealisasikan deflasi sebesar 0.16%.
Secara psikologis, hal tersebut menunjukan bahwa fundamental ekonomi indonesia sudah berjalan sesuai dengan track yang benar, sehingga memicu penurunan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 8.75% saat ini.
Akan tetapi, dengan status Indonesia sebagai nagara yang masih di katakan sebagai emerging market tentunya hal tersebut belum cukup untuk memberikan rasa aman. Kenapa? Karena penguatan Rupiah lebih didominasi oleh dana-dana jangka pendek yang masuk melalui pasar finansial, dan belum merefleksikan dari pertumbuhan ekonomi sesungguhnya yakni sektor riil.
Terlebih, penguatan Rupiah juga ditopang oleh komentar yang secara psikologis memberikan arah kemana Rupiah nantinya. Pernyataan Pejabat BI Miranda S. Goeltom yang menyatakan confidence apabila Rupiah nantinya menguat ke level 8500 menjadi pemicu penguatan Rupiah belakangan ini.
Nah, Kemana Rupiah nantinya?. Mungkinkah ke level 8500. Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, belajar dari pengalaman, bahwa penguatan Rupiah yang terlalu tajam juga akan membawa Rupiah kembali terdepresiasi.
Walaupun saat ini Rupiah diekspektasikan akan terus mengalami penguatan, namun perlu diwaspadai bahwa momen pelemahan Rupiah akan semakin besar tentunya. Apalagi penguatan Rupiah lebih didominasi oleh dana jangka pendek, sehingga sangat rentan terhadap gejolak pasar seperti penurunan suku bunga.
Biasanya yang dilakukan BI apabila Rupiah melemah adalah melakukan intervensi pasar dengan menjual US Dolar. Tapi apakah hal tersebut akan selalu efektif meredam gejolak pasar?. Nah, bagaimana jadinya kalau BI justru kehabisan US Dolar sehingga tidak ada lagi yang banyak diperbuat. Mungkinkah pemerintah mengabaikan sektor riil dengan menaikan kembali BI Rate?.
Tentunya masih banyak pertanyaan lain yang bermunculan. Namun, sejauh ini pemerintah telah melakukan trobosan seperti berkoordinasi dengan negara dikawasan regional Asia, untuk menciptakan ketahan ekonomi seperti dengan melakukan perjanjian Bilateral Swap Arrangement atau BSA. Tujuan dari dibentuknya perjanjian tersebut tidak lain untuk menghindari negara kawasan regional mengalami krisis moneter seperti yang terjadi di era tahun 1997-an.
Efektifkah perjanjian tersebut?, belum terbukti tentunya. Walaupun kondisinya saat ini negara di Asia hampir mirip dengan kondisi 10 tahun silam (mengutip pernyataan Menkeu), namun kehadiran BSA setidaknya memberikan sedikit rasa aman bagi pasar finansial Indonesia.
Kembali ke tema awal, kemanakah Rupiah nantinya?. Tren penguatan akan tetap mendominasi penguatan Rupiah tentunya. Kalau BI mengatakan bahwa Rupiah masih dalam batas aman apabila bergerak menguat ke level 8500, maka kita bisa mengatakan hal yang sama, karena yang melontarkan pernyataan tersebut adalah mereka yang berkompeten dalam menjaga stabilitas keuangan negeri ini.
Namun, bukan berarti Rupiah akan bergerak mulus menguat ke level tersebut. Rupiah masih akan berfluktuasi sebelum mencapai level tersebut atau malah bergerak sebaliknya. Menurut pengamatan yang telah dilakukan, Rupiah masih akan berfluktuasi lebar dikisaran level 8700 hingga 8950 dalam minggu ini.
Tuesday, May 08, 2007
Menanti BI Rate Turun
Medan Bisnis, 7 Mei 2007
Setelah sempat stabil dikisaran level 9100 dalam waktu yang cukup lama, momentum terjadinya deflasi membuat Rupiah saat ini semakin mahal terhadap US Dolar. Tidak lebih dari 4 hari setelah diumumkannya deflasi selama bulan April, Rupiah langsung bergerak menguat dan menembus level psikologis 9000.
Rupiah saat ini berada dalam kisaran level 8970, dan diperkirakan masih berpotensi akan terus menguat. Selain dikarenakan deflasi, penguatan Rupiah juga dipicu oleh penyerapan likuiditas Rupiah yang cukup signifikan melalui instrumen Sertifikat Bank Indonesia atau SBI. Konsekuensinya pemerintah mempunyai kewajiban untuk pembayaran hutang yang semakin besar tentunya.
Dengan terjadinya deflasi, BI diharapkan akan menurunkan BI rate dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI minggu ini. Hal tersebut menjadi sangat diperlukan mengingat pertumbuhan sektor riil yang dinilai masih lamban sementara dana yang tersimpan di Bank Indonesia cukup signifikan.
Apabila dana yang tersimpan di BI (Bank Indonesia) tersebut hanya disimpan tanpa diikuti dengan penyalurannya ke sektor-sektor strategis, maka beban pembayaran hutang pemerintah akan menjadi senjata bagi terjadinya krisis ekonomi, seperti yang dilontarkan beberapa pengamat belakangan ini.
Salah satu cara untuk mempercepat pertumbuhan sektor riil adalah dengan menurunkan suku bunga acuan (BI rate) yang selalu digunakan sebagai acuan oleh perbankan dalam menetapkan suku bunganya. Kalau saat ini, BI rate berada di level 9%, maka suku bunga pinjaman perbankan masih berada dikisaran 13 sampai 15%.
Pasar menilai, suku bunga 13 sampai 15% masih terlalu tinggi. Sejauh ini, walaupun terjadi permintaan kredit yang meningkat, namun peningkatan tersebut didominasi oleh pertumbuhan kredit yang sifatnya konsumsi. Sementara kredit yang tersalurkan di sektor manufaktur masih relatif kecil. Padahal sektor tersebut memberikan andil yang cukup besar bagi penyerapan tenaga kerja.
Disini terlihat bahwa dengan diturunkannya BI rate akan memicu dunia perbankan memacu penyaluran kredit. Dengan begitu, porsi perbankan yang menempatkan dananya di Sertifikat Bank Indonesia akan semakin berkurang. Mengingat perbankan merupakan korporasi yang memberikan kontribusi paling besar atas meningkatnya beban utang pemerintah.
Terlepas dari penyaluran kredit, penurunan BI rate juga mempunyai dampak negatif yang cukup signifikan terhadap Rupiah. Penurunan BI rate dapat menjadi mimpi buruk bagi Rupiah, karena berpotensi terdepresiasi (melemah).
Namun, apabila pemerintah berpendapat bahwa fundamental ekonomi Indonesia sudah berjalan pada jalan yang benar (on the right track), maka semestinya hal-hal negatif yang akan terjadi seiring dengan penurunan BI rate dapat diminimalisir.
Mungkin pemerintah saat ini masih menunggu keputusan negeri paman sam (Amerika) untuk menurunkan The Fed Fund Rate atau suku bunga The FED yang masih berada di level 5.25%. Dengan diturunkannya suku bunga US Dolar tersebut, maka tercipta ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan BI rate.
Menunggu, bukanlah sesuatu hal yang dinanti masyarakat, yang kian terjepit ditengah mahalnya biaya hidup serta diiringi dengan menciutnya mata pencaharian. Bukankah mempercepat penurunan BI rate akan mempersempit peluang meningkatnya jumlah angka kemiskinan, pengangguran bahkan kriminalitas.
Kalau saat ini Rupiah sudah menguat jauh, cadangan devisa meningkat tajam, terjadi peningkatan pertumbuhan ekspor yang signifikan, inflasi cukup terkendali, pergerakan US Dolar yang tidak menjadi ancaman serius, maka apalagi yang harus ditunggu.
Setelah sempat stabil dikisaran level 9100 dalam waktu yang cukup lama, momentum terjadinya deflasi membuat Rupiah saat ini semakin mahal terhadap US Dolar. Tidak lebih dari 4 hari setelah diumumkannya deflasi selama bulan April, Rupiah langsung bergerak menguat dan menembus level psikologis 9000.
Rupiah saat ini berada dalam kisaran level 8970, dan diperkirakan masih berpotensi akan terus menguat. Selain dikarenakan deflasi, penguatan Rupiah juga dipicu oleh penyerapan likuiditas Rupiah yang cukup signifikan melalui instrumen Sertifikat Bank Indonesia atau SBI. Konsekuensinya pemerintah mempunyai kewajiban untuk pembayaran hutang yang semakin besar tentunya.
Dengan terjadinya deflasi, BI diharapkan akan menurunkan BI rate dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI minggu ini. Hal tersebut menjadi sangat diperlukan mengingat pertumbuhan sektor riil yang dinilai masih lamban sementara dana yang tersimpan di Bank Indonesia cukup signifikan.
Apabila dana yang tersimpan di BI (Bank Indonesia) tersebut hanya disimpan tanpa diikuti dengan penyalurannya ke sektor-sektor strategis, maka beban pembayaran hutang pemerintah akan menjadi senjata bagi terjadinya krisis ekonomi, seperti yang dilontarkan beberapa pengamat belakangan ini.
Salah satu cara untuk mempercepat pertumbuhan sektor riil adalah dengan menurunkan suku bunga acuan (BI rate) yang selalu digunakan sebagai acuan oleh perbankan dalam menetapkan suku bunganya. Kalau saat ini, BI rate berada di level 9%, maka suku bunga pinjaman perbankan masih berada dikisaran 13 sampai 15%.
Pasar menilai, suku bunga 13 sampai 15% masih terlalu tinggi. Sejauh ini, walaupun terjadi permintaan kredit yang meningkat, namun peningkatan tersebut didominasi oleh pertumbuhan kredit yang sifatnya konsumsi. Sementara kredit yang tersalurkan di sektor manufaktur masih relatif kecil. Padahal sektor tersebut memberikan andil yang cukup besar bagi penyerapan tenaga kerja.
Disini terlihat bahwa dengan diturunkannya BI rate akan memicu dunia perbankan memacu penyaluran kredit. Dengan begitu, porsi perbankan yang menempatkan dananya di Sertifikat Bank Indonesia akan semakin berkurang. Mengingat perbankan merupakan korporasi yang memberikan kontribusi paling besar atas meningkatnya beban utang pemerintah.
Terlepas dari penyaluran kredit, penurunan BI rate juga mempunyai dampak negatif yang cukup signifikan terhadap Rupiah. Penurunan BI rate dapat menjadi mimpi buruk bagi Rupiah, karena berpotensi terdepresiasi (melemah).
Namun, apabila pemerintah berpendapat bahwa fundamental ekonomi Indonesia sudah berjalan pada jalan yang benar (on the right track), maka semestinya hal-hal negatif yang akan terjadi seiring dengan penurunan BI rate dapat diminimalisir.
Mungkin pemerintah saat ini masih menunggu keputusan negeri paman sam (Amerika) untuk menurunkan The Fed Fund Rate atau suku bunga The FED yang masih berada di level 5.25%. Dengan diturunkannya suku bunga US Dolar tersebut, maka tercipta ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan BI rate.
Menunggu, bukanlah sesuatu hal yang dinanti masyarakat, yang kian terjepit ditengah mahalnya biaya hidup serta diiringi dengan menciutnya mata pencaharian. Bukankah mempercepat penurunan BI rate akan mempersempit peluang meningkatnya jumlah angka kemiskinan, pengangguran bahkan kriminalitas.
Kalau saat ini Rupiah sudah menguat jauh, cadangan devisa meningkat tajam, terjadi peningkatan pertumbuhan ekspor yang signifikan, inflasi cukup terkendali, pergerakan US Dolar yang tidak menjadi ancaman serius, maka apalagi yang harus ditunggu.
Deflasi dan Reshufle Bayangi Rupiah dan IHSG
Medan Bisnis, 30 April 2007
Pada bulan Februari silam kita dikejutkan dengan melambungnya harga beras yang membuat beberapa pengamat memperkirakan akan terjadi lonjakan inflasi yang cukup signifikan. Namun, melonjaknya harga beras yang diiringi dengan banjir besar di Jakarta tidak menjadikan inflasi selama bulan tersebut naik tajam. Bahkan, inflasi yang diperkirakan akan berada diatas 1% tidak terbukti.
Berbeda dengan saat ini, Biro Pusat Statistik (BPS) memperkirakan tidak akan terjadi laju inflasi selama bulan April. Bahkan diperkirakan akan terjadi sebaliknya, yakni deflasi. Deflasi bisa terjadi karena memang ada tren penurunan harga barang, namun dapat juga diakibatkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.
Terkait dengan deflasi, tentunya ekspektasi tersebut akan berdampak positif bagi IHSG dan kadang mempunyai sisi negatif bagi pergerakan nilai tukar Rupiah, yang pada bulan kemarin Rupiah mendapat support dengan tidak diturunkannya BI rate.
Ekspektasi deflasi saat ini akan memberikan dampak psikologis bagi pelaku pasar. Tentunya bakal ada penurunan BI rate pada awal bulan Mei mendatang. Penurunan BI rate akan memberikan dampak positif bagi sektor riil, dan berpotensi mengangkat IHSG.
Namun, penurunan BI rate juga berpotensi membuat Rupiah akan melemah, karena penurunan BI rate akan membuat investor memilih negara yang lebih aman serta memberikan imbal hasil yang mumpuni seperti Amerika. Lagi-lagi itu hanya ekspektasi, kenyataannya kadang terbalik, penurunan BI rate justru diikuti dengan menguatnya IHSG dan Rupiah secara bersama-sama.
Kalaupun Rupiah menguat, namun harus diperhatikan sampai dimana penguatan Rupiah nantinya. Kalau BI berkehendak untuk menahan laju penguatan Rupiah maka bisa diperkirakan Rupiah akan stagnan dikisaran level 9030 hingga 9120. Kalau tidak ditahan, bisa saja Rupiah akan menguat secara signifikan menembus level 9000. Terlebih nilai tukar Dolar Amerika saat ini kian melemah terhadap mata uang dunia.
Nah, kalau IHSG tentunya tetap akan mendapat support dari tren penurunan BI rate. IHSG bahkan telah menembus level psikologis 2000, dan diperkirakan akan terus naik hingga akhir tahun ini. Akan tetapi, tetap diwaspadi aksi profit taking yang berpotensi membawa IHSG kembali ke bawah. Tapi dengan fundamental makro ekonomi Indonesia yang masih kuat saat ini tentunya tetap menumbuhkan keyakinan akan terus membaiknya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Reshufle
Kalau kita merujuk ke politik dalam negeri saat ini, bisa diperkirakan isu reshufle tidak akan berpengaruh signifikan terhadap Rupiah dan IHSG. Karena pada dasarnya investor akan lebih melihat pada kondisi riil ekonomi bangsa ini, daripada melihat profil terhadap seorang menteri.
Memang pada saat Boediono ditunjuk sebagai menteri ekonomi, Rupiah langsung menunjukan penguatan signifikan dari level 11.000-an/US Dolar hingga ke level 9000-an/USDolar. Namun pada saat itu terjadi kenaikan BI rate yang cukup signifikan hingga ke level 12.75%. Aliran dana yang masuk kenegeri ini pun cukup signifikan, dan hampir semua dana yang masuk merupakan aliran dana jangka pendek.
Jadi kalaupun nantinya Presiden SBY kembali mengganti sejumlah menteri yang dinilai kurang kompeten, maka yang perlu dicermati adalah kebijakan dari menteri tersebut. Namun, kalau seandainya nanti menteri yang diganti tidak terkait secara langsung dengan sektor finansial, maka kita bisa memprediksikan kemana arah pasar finansial negeri ini.
Pada bulan Februari silam kita dikejutkan dengan melambungnya harga beras yang membuat beberapa pengamat memperkirakan akan terjadi lonjakan inflasi yang cukup signifikan. Namun, melonjaknya harga beras yang diiringi dengan banjir besar di Jakarta tidak menjadikan inflasi selama bulan tersebut naik tajam. Bahkan, inflasi yang diperkirakan akan berada diatas 1% tidak terbukti.
Berbeda dengan saat ini, Biro Pusat Statistik (BPS) memperkirakan tidak akan terjadi laju inflasi selama bulan April. Bahkan diperkirakan akan terjadi sebaliknya, yakni deflasi. Deflasi bisa terjadi karena memang ada tren penurunan harga barang, namun dapat juga diakibatkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.
Terkait dengan deflasi, tentunya ekspektasi tersebut akan berdampak positif bagi IHSG dan kadang mempunyai sisi negatif bagi pergerakan nilai tukar Rupiah, yang pada bulan kemarin Rupiah mendapat support dengan tidak diturunkannya BI rate.
Ekspektasi deflasi saat ini akan memberikan dampak psikologis bagi pelaku pasar. Tentunya bakal ada penurunan BI rate pada awal bulan Mei mendatang. Penurunan BI rate akan memberikan dampak positif bagi sektor riil, dan berpotensi mengangkat IHSG.
Namun, penurunan BI rate juga berpotensi membuat Rupiah akan melemah, karena penurunan BI rate akan membuat investor memilih negara yang lebih aman serta memberikan imbal hasil yang mumpuni seperti Amerika. Lagi-lagi itu hanya ekspektasi, kenyataannya kadang terbalik, penurunan BI rate justru diikuti dengan menguatnya IHSG dan Rupiah secara bersama-sama.
Kalaupun Rupiah menguat, namun harus diperhatikan sampai dimana penguatan Rupiah nantinya. Kalau BI berkehendak untuk menahan laju penguatan Rupiah maka bisa diperkirakan Rupiah akan stagnan dikisaran level 9030 hingga 9120. Kalau tidak ditahan, bisa saja Rupiah akan menguat secara signifikan menembus level 9000. Terlebih nilai tukar Dolar Amerika saat ini kian melemah terhadap mata uang dunia.
Nah, kalau IHSG tentunya tetap akan mendapat support dari tren penurunan BI rate. IHSG bahkan telah menembus level psikologis 2000, dan diperkirakan akan terus naik hingga akhir tahun ini. Akan tetapi, tetap diwaspadi aksi profit taking yang berpotensi membawa IHSG kembali ke bawah. Tapi dengan fundamental makro ekonomi Indonesia yang masih kuat saat ini tentunya tetap menumbuhkan keyakinan akan terus membaiknya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Reshufle
Kalau kita merujuk ke politik dalam negeri saat ini, bisa diperkirakan isu reshufle tidak akan berpengaruh signifikan terhadap Rupiah dan IHSG. Karena pada dasarnya investor akan lebih melihat pada kondisi riil ekonomi bangsa ini, daripada melihat profil terhadap seorang menteri.
Memang pada saat Boediono ditunjuk sebagai menteri ekonomi, Rupiah langsung menunjukan penguatan signifikan dari level 11.000-an/US Dolar hingga ke level 9000-an/USDolar. Namun pada saat itu terjadi kenaikan BI rate yang cukup signifikan hingga ke level 12.75%. Aliran dana yang masuk kenegeri ini pun cukup signifikan, dan hampir semua dana yang masuk merupakan aliran dana jangka pendek.
Jadi kalaupun nantinya Presiden SBY kembali mengganti sejumlah menteri yang dinilai kurang kompeten, maka yang perlu dicermati adalah kebijakan dari menteri tersebut. Namun, kalau seandainya nanti menteri yang diganti tidak terkait secara langsung dengan sektor finansial, maka kita bisa memprediksikan kemana arah pasar finansial negeri ini.
Rupiah Bergerak Tanpa Sentimen
Medan Bisnis, 23 April 2007
Rupiah nyaris tidak beranjak jauh di kisaran level 9100, walaupun mempunyai kecenderungan menguat. Namun, sejauh ini penguatan Rupiah tidak signfikan dan diperkirakan akan bertahan diatas level 9050 dalam beberapa hari ke depan.
Belum adanya sentimen yang mampu menggerakan pasar seperti spekulasi mengenai arah suku bunga membuat Rupiah hanya bergerak dalam kisaran yang sangat sempit. Keadaan tersebut tentunya juga didukung oleh sejumlah faktor teknikal, dimana Rupiah sudah mendekati level support 9050.
Selain itu, IHSG yang sempat menguat secara signifikan juga diperkirakan akan bergerak sangat terbatas, dengan tetap memiliki kecenderungan menguat. Hal tersebut sangat didukung oleh kebijakan pemerintah yang diperkirakan masih akan menurunkan suku bunga walaupun tidak signifikan seperti tahun lalu.
Namun, tingginya laju inflasi di China akan berdampak buruk pada bursa di negara tersebut dan akan memberikan dampak negatif bagi lantai bursa Asia khususnya Jakarta. Permintah China diperkirakan akan terus melakukan kebijakan pengetatan moneter, guna meredam tingginya laju inflasi di negara tersebut, yang hingga saat ini masih merealisasikan inflasi 2 digit.
Sementara dari dalam negeri, walaupun diyakini BI masih akan menurunkan BI rate, namun masih simpang-siur tepatnya kapan BI akan menurunkan suku bunga. Walaupun laju inflasi masih terkendali, namun saat ini belum jaminan hal tersebut akan membuat BI menurunkan bunga Rupiah.
Sangat berbeda dari tahun lalu, dimana setiap diumumkan besarnya laju inflasi, maka dengan melakukan penilaian terhadap besarnya laju inflasi, BI pun mengambil langkah untuk menurunkan BI rate. Dan sejauh hal tersebut dilakukan, nilai tukar Rupiah juga tidak menunjukan adanya fluktuasi yang tajam.
Jadi walaupun nantinya laju inflasi selama bulan April merealisasikan angka aktual yang cukup kecil, namun BI masih akan sulit untuk menurunkan BI rate, dikarenakan masih relatif tingginya bunga US Dolar dan adanya tren kenaikan suku bunga di zona Euro.
Selama perdagangan minggu kemarin, sentimen pasar hanya tertuju pada seputar pernyataan yang dilontarkan pejabat Bank Sentral AS serta konferensi yang dilakukan menteri keuangan AS Henry Paulson di China. Seiring dengan minimnya data perekonomian yang dirilis membuat sejumlah mata uang dunia bergerak terbatas termasuk Rupiah.
Tema yang akan menjadi penggerak pasar nantinya masih akan terfokus pada melemahnya mata uang US Dolar. Meskipun ada beberapa data yang akan dirilis dari Amerika, namun data tersebut diperkirakan tidak akan berbuat banyak bagi US Dolar, dikarenakan pasar lebih tertuju pada faktor-faktor negatif US Dolar.
Ditengah minimnya sentimen seperti sekarang ini, pasar hanya mengandalkan faktor teknikal maupun carry trade. Tarik ulur dari kedua faktor tersebut berpotensi membuat pasar valuta akan sangat berfluktuasi.
Namun, bagi Rupiah hal tersebut tidaklah berpengaruh banyak. Walaupun sebenarnya faktor carry trade mampu membuat Rupiah bergerak sangat fluktuatif, akan tetapi hanya sedikit pelaku pasar yang memasukan mata uang Rupiah dalam daftar mata uang yang masuk dalam daftar transaksi carry trade.
Rupiah nyaris tidak beranjak jauh di kisaran level 9100, walaupun mempunyai kecenderungan menguat. Namun, sejauh ini penguatan Rupiah tidak signfikan dan diperkirakan akan bertahan diatas level 9050 dalam beberapa hari ke depan.
Belum adanya sentimen yang mampu menggerakan pasar seperti spekulasi mengenai arah suku bunga membuat Rupiah hanya bergerak dalam kisaran yang sangat sempit. Keadaan tersebut tentunya juga didukung oleh sejumlah faktor teknikal, dimana Rupiah sudah mendekati level support 9050.
Selain itu, IHSG yang sempat menguat secara signifikan juga diperkirakan akan bergerak sangat terbatas, dengan tetap memiliki kecenderungan menguat. Hal tersebut sangat didukung oleh kebijakan pemerintah yang diperkirakan masih akan menurunkan suku bunga walaupun tidak signifikan seperti tahun lalu.
Namun, tingginya laju inflasi di China akan berdampak buruk pada bursa di negara tersebut dan akan memberikan dampak negatif bagi lantai bursa Asia khususnya Jakarta. Permintah China diperkirakan akan terus melakukan kebijakan pengetatan moneter, guna meredam tingginya laju inflasi di negara tersebut, yang hingga saat ini masih merealisasikan inflasi 2 digit.
Sementara dari dalam negeri, walaupun diyakini BI masih akan menurunkan BI rate, namun masih simpang-siur tepatnya kapan BI akan menurunkan suku bunga. Walaupun laju inflasi masih terkendali, namun saat ini belum jaminan hal tersebut akan membuat BI menurunkan bunga Rupiah.
Sangat berbeda dari tahun lalu, dimana setiap diumumkan besarnya laju inflasi, maka dengan melakukan penilaian terhadap besarnya laju inflasi, BI pun mengambil langkah untuk menurunkan BI rate. Dan sejauh hal tersebut dilakukan, nilai tukar Rupiah juga tidak menunjukan adanya fluktuasi yang tajam.
Jadi walaupun nantinya laju inflasi selama bulan April merealisasikan angka aktual yang cukup kecil, namun BI masih akan sulit untuk menurunkan BI rate, dikarenakan masih relatif tingginya bunga US Dolar dan adanya tren kenaikan suku bunga di zona Euro.
Selama perdagangan minggu kemarin, sentimen pasar hanya tertuju pada seputar pernyataan yang dilontarkan pejabat Bank Sentral AS serta konferensi yang dilakukan menteri keuangan AS Henry Paulson di China. Seiring dengan minimnya data perekonomian yang dirilis membuat sejumlah mata uang dunia bergerak terbatas termasuk Rupiah.
Tema yang akan menjadi penggerak pasar nantinya masih akan terfokus pada melemahnya mata uang US Dolar. Meskipun ada beberapa data yang akan dirilis dari Amerika, namun data tersebut diperkirakan tidak akan berbuat banyak bagi US Dolar, dikarenakan pasar lebih tertuju pada faktor-faktor negatif US Dolar.
Ditengah minimnya sentimen seperti sekarang ini, pasar hanya mengandalkan faktor teknikal maupun carry trade. Tarik ulur dari kedua faktor tersebut berpotensi membuat pasar valuta akan sangat berfluktuasi.
Namun, bagi Rupiah hal tersebut tidaklah berpengaruh banyak. Walaupun sebenarnya faktor carry trade mampu membuat Rupiah bergerak sangat fluktuatif, akan tetapi hanya sedikit pelaku pasar yang memasukan mata uang Rupiah dalam daftar mata uang yang masuk dalam daftar transaksi carry trade.
Tuesday, April 17, 2007
Sektor Riil Jalan di Tempat
Medan Bisnis, 16 April 2007
Wacana seperti itu sepertinya bukan merupakan hal yang awam bagi semua orang. Sejak diberlakukannya pengetatan likuiditas oleh Bank Indonesia, sektor riil tidak mengalami perubahan signifikan ke jalur positif. Tujuan utama diberlakukannya kebijakan tersebut oleh Bank Indonesia adalah untuk mengamankan nilai tukar Rupiah, serta meredam laju inflasi yang diakibatkan oleh terdepresiasinya nilai tukar Rupiah.
Cukup beralasan memang, namun bagi beberapa analis ekonomi yang masih mengkhawatirkan adanya peningkatan jumlah kemiskinan, sangat menyayangkan kebijakan tersebut. Kebijakan tersebut dinilai tidak pro-pertumbuhan, dan hanya menguntungkan investor yang dinilai sebagai spekulan di pasar keuangan.
Saat ini, BI kembali mendapat kritikan dari banyak pengamat karena tidak menurunkan suku bunga acuan atau BI rate yang masih bertengger di level 9%. Padahal momentum penurunan BI rate sudah tepat, dikarenakan terjadi laju inflasi yang sangat rendah selama bulan Maret serta terkendalinya fluktuasi nilai tukar Rupiah.
Namun, kenapa BI tidak menurunkan BI rate?, ada beberapa alasan yang paling utama tentunya. Perbedaan suku bunga antara Rupiah (9%) dan US Dolar (5.25%) yang kian menyempit, adanya tren kenaikan suku bunga di sejumlah negara ekonomi besar, serta melambatnya laju pertumbuhan negara tujuan ekspor utama Indonesia seperti Jepang.
Perbedaan suku bunga memang kerap menjadi penentu arah kemana modal investor itu akan ditanamkan. Sejauh ini, Indonesia masih menjadi lahan subur bagi para investor karena masih memberikan imbal hasil yang cukup tinggi dibandingkan negara lain.
Sementara itu, ekspektasi bakal terjadinya tren kenaikan suku bunga di zona Euro juga menjadi pertimbangan BI tentunya. Hal tersebut dapat terlihat dari penguatan mata uang Euro terhadap US Dolar maupun Yen Jepang. Apalagi saat ini suku bunga Euro dinilai masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan bunga US Dolar (The FED Fund Rate).
Diantara sejumlah negara maju, Jepang merupakan negara dengan suku bunga paling rendah. Dan karena itulah, mata uang Yen kerap menjadi mata uang yang paling rawan terkena aksi spekulasi. Bahkan, saat ini Euro menguat keposisi tertinggi dalam sejarah terhadap Yen Jepang. Dan mungkin BI tidak mau hal tersebut terjadi pada Rupiah.
Selain itu, laju pertumbuhan ekonomi Jepang yang dinilai masih sangat lambat juga turut mempengaruhi ekspor Indonesia ke negara tersebut. Hingga saat ini, Jepang merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia, sehingga melambatnya pertumbuhan negara tersebut akan berpengaruh pada laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Dari kesemuanya itu pasti ada muaranya. Bukankah Indonesia seharusnya tidak perlu takut kalau BI rate kembali diturunkan atau bahkan lebih rendah dari bunga US Dolar. Masih banyak negara yang memberikan imbal hasil lebih rendah dari Amerika, namun tidak terjadi gejolak pasar finansial di negara tersebut.
Nah, Country Risk masih menjadi permasalahan utama negeri ini. Country Risk yang dimaksud disini adalah kemungkinan resiko yang terjadi apabila investor menanamkan modalnya di Indonesia. Baik dikarenakan karena terjadi gejolak politik, ekonomi biaya tinggi, maupun terkait dengan permasalahan fundamental negeri ini seperti masalah struktural birokrasi.
Jadi, sektor riil tidak hanya ditentukan dari keputusan BI dalam menentukan arah suku bunga. Terlebih dari itu, kestabilan politik serta kemauan politik (political will) para pengambil keputusan yang pro-pertumbuhan dan pro-penuntasan kemiskinan juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan.
Sehingga sinergi positif antara keduanyalah (BI dan Pemerintah) yang akan menentukan apakah sektor riil itu dikatakan sudah berada di jalur hijau, atau masih jalan ditempat seperti yang terjadi saat ini.
Wacana seperti itu sepertinya bukan merupakan hal yang awam bagi semua orang. Sejak diberlakukannya pengetatan likuiditas oleh Bank Indonesia, sektor riil tidak mengalami perubahan signifikan ke jalur positif. Tujuan utama diberlakukannya kebijakan tersebut oleh Bank Indonesia adalah untuk mengamankan nilai tukar Rupiah, serta meredam laju inflasi yang diakibatkan oleh terdepresiasinya nilai tukar Rupiah.
Cukup beralasan memang, namun bagi beberapa analis ekonomi yang masih mengkhawatirkan adanya peningkatan jumlah kemiskinan, sangat menyayangkan kebijakan tersebut. Kebijakan tersebut dinilai tidak pro-pertumbuhan, dan hanya menguntungkan investor yang dinilai sebagai spekulan di pasar keuangan.
Saat ini, BI kembali mendapat kritikan dari banyak pengamat karena tidak menurunkan suku bunga acuan atau BI rate yang masih bertengger di level 9%. Padahal momentum penurunan BI rate sudah tepat, dikarenakan terjadi laju inflasi yang sangat rendah selama bulan Maret serta terkendalinya fluktuasi nilai tukar Rupiah.
Namun, kenapa BI tidak menurunkan BI rate?, ada beberapa alasan yang paling utama tentunya. Perbedaan suku bunga antara Rupiah (9%) dan US Dolar (5.25%) yang kian menyempit, adanya tren kenaikan suku bunga di sejumlah negara ekonomi besar, serta melambatnya laju pertumbuhan negara tujuan ekspor utama Indonesia seperti Jepang.
Perbedaan suku bunga memang kerap menjadi penentu arah kemana modal investor itu akan ditanamkan. Sejauh ini, Indonesia masih menjadi lahan subur bagi para investor karena masih memberikan imbal hasil yang cukup tinggi dibandingkan negara lain.
Sementara itu, ekspektasi bakal terjadinya tren kenaikan suku bunga di zona Euro juga menjadi pertimbangan BI tentunya. Hal tersebut dapat terlihat dari penguatan mata uang Euro terhadap US Dolar maupun Yen Jepang. Apalagi saat ini suku bunga Euro dinilai masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan bunga US Dolar (The FED Fund Rate).
Diantara sejumlah negara maju, Jepang merupakan negara dengan suku bunga paling rendah. Dan karena itulah, mata uang Yen kerap menjadi mata uang yang paling rawan terkena aksi spekulasi. Bahkan, saat ini Euro menguat keposisi tertinggi dalam sejarah terhadap Yen Jepang. Dan mungkin BI tidak mau hal tersebut terjadi pada Rupiah.
Selain itu, laju pertumbuhan ekonomi Jepang yang dinilai masih sangat lambat juga turut mempengaruhi ekspor Indonesia ke negara tersebut. Hingga saat ini, Jepang merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia, sehingga melambatnya pertumbuhan negara tersebut akan berpengaruh pada laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Dari kesemuanya itu pasti ada muaranya. Bukankah Indonesia seharusnya tidak perlu takut kalau BI rate kembali diturunkan atau bahkan lebih rendah dari bunga US Dolar. Masih banyak negara yang memberikan imbal hasil lebih rendah dari Amerika, namun tidak terjadi gejolak pasar finansial di negara tersebut.
Nah, Country Risk masih menjadi permasalahan utama negeri ini. Country Risk yang dimaksud disini adalah kemungkinan resiko yang terjadi apabila investor menanamkan modalnya di Indonesia. Baik dikarenakan karena terjadi gejolak politik, ekonomi biaya tinggi, maupun terkait dengan permasalahan fundamental negeri ini seperti masalah struktural birokrasi.
Jadi, sektor riil tidak hanya ditentukan dari keputusan BI dalam menentukan arah suku bunga. Terlebih dari itu, kestabilan politik serta kemauan politik (political will) para pengambil keputusan yang pro-pertumbuhan dan pro-penuntasan kemiskinan juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan.
Sehingga sinergi positif antara keduanyalah (BI dan Pemerintah) yang akan menentukan apakah sektor riil itu dikatakan sudah berada di jalur hijau, atau masih jalan ditempat seperti yang terjadi saat ini.
Akankah Rupiah Terkoreksi?
Medan Bisnis, 09 April 2007
Dalam sesi perdagaangan beberapa bulan terakhir, Rupiah masih relatif stabil dikisaran level 9050 hingga 9250. Membaiknya indikator ekonomi makro menjadi penopang membaiknya kinerja Rupiah. Namun sampai kapan keadaan tersebut akan bertahan?.
Beberapa data seperti inflasi serta meningkatnya volume ekspor sepertinya akan menjadi data-data yang kerap mewarnai pergerakan Rupiah. Sementara disisi lain, seperti memburuknya kinerja mata uang US Dolar juga akan memberikan dampak positif bagi pergerakan mata uang Rupiah.
Sejauh ini, sejumlah mata uang utama dunia menguat terhadap US Dolar. Namun, keadaan tersebut tidak berpengaruh pada pergerakan Rupiah yang masih stabil dikisaran level 9100. Akan tetapi, secara keseluruhan Rupiah masih menunjukan tren penguatan. Hanya saja penguatan Rupiah dinilai sangat lambat dibandingkan dengan penguatan sejumlah mata uang Asia lainnya.
Padahal banyak analis yang mengatakan bahwa Rupiah seharusnya sudah menguat di bawah level 9000, mengingat banyaknya momentum yang mendukung penguatan Rupiah.
Di tahun 2006 yang lalu, pemerintah khususnya Bank Indonesia pernah memprediksikan pergerakan Rupiah akan berada dalam range 9000 hingga 9500. Level tersebut dinilai level yang tidak akan merugikan eksportir maupun importir. Dan pada saat realisasinya, Rupiah bergerak diatas level 9000 dan dibawah level 9500.
Dan beberapa minggu yang lalu, pemerintah memperkirakan bahwa range pergerakan Rupiah nantinya akan berada di dalam kisaran harga 9000 hingga 9300. hal tersebut tentunya dapat menjadi gambaran bagaimana Rupiah nantinya akan berfluktuasi, kalau kita bersandarkan pada asumsi pemerintah tersebut.
Namun, perlu diwaspadai, bahwa saat ini masih terjadi tren penurunan BI rate. Belum ada yang tahu sampai diberapa nantinya bunga Rupiah akan turun. Apabila keadaan ini terus berlangsung hingga mendekati bunga bank sentral Amerika atau The FED, maka ada kemungkinan pembalikan modal ke luar negeri. Namun, hal tersebut tentunya tidak berkorelasi seratus persen (100%).
Satu hal yang mungkin bisa menjadi acuan, bahwa pemerintah masih akan tetap menjaga adanya interest rate diferential (perbedaan suku bunga) antara BI rate dengan The FED, dan tentunya membuat Rupiah lebih menarik dibandingkan dengan US Dolar dimata para investor.
Selain itu, seperti yang kita ketahui sekarang, cadangan devisa kembali mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah. Hal tersebut memberikan gambaran cukup jelas bahwa pemerintah mempunyai kekuatan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Untuk saat ini, belum ada alasan yang kuat bahwa Rupiah akan melemah dan menembus batas atas (level 9300) seperti yang telah di asumsikan pemerintah saat ini. Membaiknya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga sempat mencatat rekor tertinggi dalam sejarah, akan membuat pasar finansial dalam negeri berada di jalur hijau.
Dalam sesi perdagaangan beberapa bulan terakhir, Rupiah masih relatif stabil dikisaran level 9050 hingga 9250. Membaiknya indikator ekonomi makro menjadi penopang membaiknya kinerja Rupiah. Namun sampai kapan keadaan tersebut akan bertahan?.
Beberapa data seperti inflasi serta meningkatnya volume ekspor sepertinya akan menjadi data-data yang kerap mewarnai pergerakan Rupiah. Sementara disisi lain, seperti memburuknya kinerja mata uang US Dolar juga akan memberikan dampak positif bagi pergerakan mata uang Rupiah.
Sejauh ini, sejumlah mata uang utama dunia menguat terhadap US Dolar. Namun, keadaan tersebut tidak berpengaruh pada pergerakan Rupiah yang masih stabil dikisaran level 9100. Akan tetapi, secara keseluruhan Rupiah masih menunjukan tren penguatan. Hanya saja penguatan Rupiah dinilai sangat lambat dibandingkan dengan penguatan sejumlah mata uang Asia lainnya.
Padahal banyak analis yang mengatakan bahwa Rupiah seharusnya sudah menguat di bawah level 9000, mengingat banyaknya momentum yang mendukung penguatan Rupiah.
Di tahun 2006 yang lalu, pemerintah khususnya Bank Indonesia pernah memprediksikan pergerakan Rupiah akan berada dalam range 9000 hingga 9500. Level tersebut dinilai level yang tidak akan merugikan eksportir maupun importir. Dan pada saat realisasinya, Rupiah bergerak diatas level 9000 dan dibawah level 9500.
Dan beberapa minggu yang lalu, pemerintah memperkirakan bahwa range pergerakan Rupiah nantinya akan berada di dalam kisaran harga 9000 hingga 9300. hal tersebut tentunya dapat menjadi gambaran bagaimana Rupiah nantinya akan berfluktuasi, kalau kita bersandarkan pada asumsi pemerintah tersebut.
Namun, perlu diwaspadai, bahwa saat ini masih terjadi tren penurunan BI rate. Belum ada yang tahu sampai diberapa nantinya bunga Rupiah akan turun. Apabila keadaan ini terus berlangsung hingga mendekati bunga bank sentral Amerika atau The FED, maka ada kemungkinan pembalikan modal ke luar negeri. Namun, hal tersebut tentunya tidak berkorelasi seratus persen (100%).
Satu hal yang mungkin bisa menjadi acuan, bahwa pemerintah masih akan tetap menjaga adanya interest rate diferential (perbedaan suku bunga) antara BI rate dengan The FED, dan tentunya membuat Rupiah lebih menarik dibandingkan dengan US Dolar dimata para investor.
Selain itu, seperti yang kita ketahui sekarang, cadangan devisa kembali mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah. Hal tersebut memberikan gambaran cukup jelas bahwa pemerintah mempunyai kekuatan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Untuk saat ini, belum ada alasan yang kuat bahwa Rupiah akan melemah dan menembus batas atas (level 9300) seperti yang telah di asumsikan pemerintah saat ini. Membaiknya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga sempat mencatat rekor tertinggi dalam sejarah, akan membuat pasar finansial dalam negeri berada di jalur hijau.
Tuesday, March 27, 2007
Hitung-Hitung Investasi ORI
Medan Bisnis, 26 Maret 2007
Pemerintah menjadwalkan akan menerbitkan Obligasi Negara Ritel (ORI) untuk yang kedua kalinya. Karena itu ORI yang akan diterbitkan saat ini bernama ORI-2. tidak jauh berbeda dengan ORI yang diterbitkan sebelumnya. Hanya saja, kupon atau bunga lebih kecil dibandingkan dengan ORI-1. Hal tersebut dikarenakan adanya tren penurunan suku bunga Rupiah.
Selain untuk diversifikasi sumber pembiayaan pemerintah, penerbitan ORI juga bertujuan untuk memperluas basis investor. Khususnya investor dari kalangan ritel. Jadi masyarakat yang mempunyai modal diatas 5 juta mempunyai kesempatan mendapatkan bunga sebesar 9.28% (belum dipotong pajak). Bunga tersebut lebih besar apabila dibandingkan dengan bunga deposito saat ini yang berkisar diantara 6 hingga 8% pertahun.
Jika dibandingkan dengan SBI, ORI-2 juga lebih menarik. Karena SBI saat ini mengacu pada BI Rate sebesar 9%. Selain itu, kalau mau berinvestasi di SBI juga harus mempunyai modal minimal Rp.100 juta, dan harus melalui proses lelang. Jadi ORI tetap lebih menguntungkan dari sisi teknisnya.
Persyaratan lainnya juga tidak begitu rumit, selain membuka rekening kustodi dan tabungan, calon investor juga mampu menunjukan bahwa dia adalah benar merupakan asli penduduk Indonesia dengan melampirkan KTP atau SIM. Bagi calon investor yang belum memiliki rekening kustodian, beberapa Bank telah menyiapkan kemudahan untuk membuka rekening tersebut.
Berinvestasi di ORI hampir tidak memiliki resiko, karena pembayarannya dijamin pemerintah. Namun, di pasar skunder harga Obligasi bisa saja turun sehingga menimbulkan capital loss. Resiko tersebut sering juga disebut dengan market risk (resiko pasar).
Akan tetapi, dengan kecenderungan penurunan suku bunga saat ini, bisa diperkirakan kemungkinan terjadinya capital loss semakin kecil. Karena, pemicu utama turunnya harga Obligasi biasanya karena ada tren kenaikan suku bunga. Bagi mereka yang menginginkan produk investasi tanpa resiko tinggi, maka ORI merupakan pilihan yang tepat.
Selain menawarkan bunga yang lebih tinggi dari deposito. ORI juga menawarkan keuntungan harga Obligasi di pasar skunder. Jadi, seorang investor yang telah membeli ORI di pasar perdana, berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga obligasi di pasar skunder atau capital gain.
Bagaimana itu terjadi?. Data menteri keuangan saat ini menyebutkan bahwa terjadi kenaikan permintaan terhadap ORI yang mencapai lebih dari Rp. 6 Trilyun. Apabila keadaan ini berlangsung hingga ke pasar skunder, maka akan terjadi kenaikan permintaan ORI (oversubscribe), dan sudah dapat dipastikan harga ORI mengalami kenaikan per-unitnya. Nah, selisih yang lebih besar antara harga di pasar skunder dengan harga di pasar perdana itu yang disebut dengan capital gain.
Namun, investor harus tetap jeli dalam memilih agen penjual. Karena setiap agen penjual (perbankan atau perusahaan sekuritas) memberikan biaya administrasi yang berbeda. Pilih agen penjual yang menawarkan biaya administrasi yang rendah.
Hitung seluruh pengeluaran yang diakibatkan dari transaksi ORI, mulai dari pajak hingga biaya administrasi. Pastikan keuntungan bersih yang anda dapatkan lebih besar dari produk investasi lain seperti deposito. Dan lebih baik lagi kalau investasi di ORI bunganya (netto) lebih besar dari laju inflasi, karena investasi yang menguntungkan adalah investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dari laju inflasi.
Pemerintah menjadwalkan akan menerbitkan Obligasi Negara Ritel (ORI) untuk yang kedua kalinya. Karena itu ORI yang akan diterbitkan saat ini bernama ORI-2. tidak jauh berbeda dengan ORI yang diterbitkan sebelumnya. Hanya saja, kupon atau bunga lebih kecil dibandingkan dengan ORI-1. Hal tersebut dikarenakan adanya tren penurunan suku bunga Rupiah.
Selain untuk diversifikasi sumber pembiayaan pemerintah, penerbitan ORI juga bertujuan untuk memperluas basis investor. Khususnya investor dari kalangan ritel. Jadi masyarakat yang mempunyai modal diatas 5 juta mempunyai kesempatan mendapatkan bunga sebesar 9.28% (belum dipotong pajak). Bunga tersebut lebih besar apabila dibandingkan dengan bunga deposito saat ini yang berkisar diantara 6 hingga 8% pertahun.
Jika dibandingkan dengan SBI, ORI-2 juga lebih menarik. Karena SBI saat ini mengacu pada BI Rate sebesar 9%. Selain itu, kalau mau berinvestasi di SBI juga harus mempunyai modal minimal Rp.100 juta, dan harus melalui proses lelang. Jadi ORI tetap lebih menguntungkan dari sisi teknisnya.
Persyaratan lainnya juga tidak begitu rumit, selain membuka rekening kustodi dan tabungan, calon investor juga mampu menunjukan bahwa dia adalah benar merupakan asli penduduk Indonesia dengan melampirkan KTP atau SIM. Bagi calon investor yang belum memiliki rekening kustodian, beberapa Bank telah menyiapkan kemudahan untuk membuka rekening tersebut.
Berinvestasi di ORI hampir tidak memiliki resiko, karena pembayarannya dijamin pemerintah. Namun, di pasar skunder harga Obligasi bisa saja turun sehingga menimbulkan capital loss. Resiko tersebut sering juga disebut dengan market risk (resiko pasar).
Akan tetapi, dengan kecenderungan penurunan suku bunga saat ini, bisa diperkirakan kemungkinan terjadinya capital loss semakin kecil. Karena, pemicu utama turunnya harga Obligasi biasanya karena ada tren kenaikan suku bunga. Bagi mereka yang menginginkan produk investasi tanpa resiko tinggi, maka ORI merupakan pilihan yang tepat.
Selain menawarkan bunga yang lebih tinggi dari deposito. ORI juga menawarkan keuntungan harga Obligasi di pasar skunder. Jadi, seorang investor yang telah membeli ORI di pasar perdana, berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga obligasi di pasar skunder atau capital gain.
Bagaimana itu terjadi?. Data menteri keuangan saat ini menyebutkan bahwa terjadi kenaikan permintaan terhadap ORI yang mencapai lebih dari Rp. 6 Trilyun. Apabila keadaan ini berlangsung hingga ke pasar skunder, maka akan terjadi kenaikan permintaan ORI (oversubscribe), dan sudah dapat dipastikan harga ORI mengalami kenaikan per-unitnya. Nah, selisih yang lebih besar antara harga di pasar skunder dengan harga di pasar perdana itu yang disebut dengan capital gain.
Namun, investor harus tetap jeli dalam memilih agen penjual. Karena setiap agen penjual (perbankan atau perusahaan sekuritas) memberikan biaya administrasi yang berbeda. Pilih agen penjual yang menawarkan biaya administrasi yang rendah.
Hitung seluruh pengeluaran yang diakibatkan dari transaksi ORI, mulai dari pajak hingga biaya administrasi. Pastikan keuntungan bersih yang anda dapatkan lebih besar dari produk investasi lain seperti deposito. Dan lebih baik lagi kalau investasi di ORI bunganya (netto) lebih besar dari laju inflasi, karena investasi yang menguntungkan adalah investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dari laju inflasi.
Menarikkah Bunga Deposito?
Medan Bisnis, 26 Maret 2007
Hingga saat ini, Bank memiliki kecenderungan untuk menyimpan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di Bank Indonesia, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat baik perorangan maupun perusahaan untuk memiliki SBI. Umumnya, hal tersebut dilakukan karena suku bunga SBI memberikan imbal hasil atau yield tinggi dan tanpa resiko gagal bayar.
SBI merupakan instrumen surat berharga yang paling besar pasarnya, karena besarnya tidak dibatasi oleh permintaan maupun kelebihan likuiditas dari perbankan. Akan tetapi, SBI lebih dikaitkan dengan target moneter pemerintah.
Nah, apa jadinya kalau BI rate yang menjadi suku bunga acuan mulai merangkak turun. Tentunya perbankan juga akan mengikuti hal yang sama dan berpotensi memberikan bunga yang lebih rendah dari bunga SBI.
Pada waktu pemerintah menaikan harga BBM yang rata-rata sebesar 126% akhir 2005 lalu, suku bunga SBI sempat bertengger di level 12.75%. Sementara suku bunga deposito perbankan rata-rata berkisar antara 9% hingga 11% pertahun.
Sementara itu, laju inflasi pada saat harga BBM dinaikan diatas angka 17% year on year (2005). Kalau kita hitung angka inflasi sebesar itu tentunya lebih tinggi dari bunga deposito yang hanya berkisar 9% hingga 11% pertahun tersebut.
Kenaikan harga barang yang rata-rata naik sebesar 17% ternyata tidak diikuti oleh kenaikan bunga deposito yang signifikan. Apalagi buat anda yang mengandalkan gaji, apakah kenaikan gaji tersebut sudah naik sebesar laju inflasi?, kalau belum, berarti ada kemrosotan baik daya beli maupun pendapatan real anda pribadi. Hal tersebut selalu menjadi barometer kemana arah angka kemiskinan negeri ini nantinya.
Pada saat ini, BI rate berada di level 9.25%. suku bunga deposito berada dalam kisaran 5 hingga 7%. Ada penurunan, karena BI (Bank Indonesia) melakukan pemotongan BI rate secara gradual dalam setiap rapat dewan gubernur BI di awal bulan.
Memang terjadi penurunan inflasi yang signifikan dari awal tahun (januari) 2006 hingga ke awal tahun 2007, yakni hanya sebesar 6.6% (skala nasional). Tapi perlu diingat, ada kenaikan harga beras yang mencapai 20% selama bulan februari kemarin, yang mengancam meningkatnya laju inflasi pada tahun ini.
Setiap daerah pasti memiliki kontribusi inflasi yang berbeda terhadap laju inflasi secara nasional (skala nasional). Misalkan ada daerah yang tidak mengalami kenaikan bahan makanan (misal:beras) yang tinggi, karena di daerahnya surplus beras. Sehingga kenaikan harga beras yang signifikan tidak begitu berpengaruh terhadap laju inflasi didaerah tersebut.
Beruntung kalau anda tinggal didaerah tersebut. Tapi apa jadinya kalau anda tinggal ditempat dimana semua bahan makanan dikirmkan dari luar daerah tempat anda tinggal. Harga bahan makanan tersebut tentunya berpotensi mengalami fluktuasi harga yang signifikan.
Kaitannya dengan bunga deposito, bagi anda yang suka menyimpan uang dalam deposito, pertimbangkan untuk tetap mengawasi perubahan harga disekitar anda. Jangan-jangan anda yang saat ini terbuai dengan bunga yang tinggi dari deposito, justru mengalami kerugian.
Akan tetapi, kalau anda tertarik untuk investasi di SBI bisa juga. Karena BI juga memberikan kesempatan bagi perorangan untuk ikut dalam lelang SBI. Minimal uang yang harus anda miliki sebesar Rp.100 Juta dan selebihnya kelipatan Rp.50 Juta.
Nah, dalam lelang SBI tersebut siapa saja yang akan menang?, Bagi mereka yang menawarkan suku bunga paling rendah (acuan BI rate) serta nominal yang tinggi maka dialah yang berpotensi menang dalam lelang SBI. Kalau anda menang?, maka anda akan menikmati imbal hasil yang lebih tinggi dari bunga deposito.
Hingga saat ini, Bank memiliki kecenderungan untuk menyimpan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di Bank Indonesia, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat baik perorangan maupun perusahaan untuk memiliki SBI. Umumnya, hal tersebut dilakukan karena suku bunga SBI memberikan imbal hasil atau yield tinggi dan tanpa resiko gagal bayar.
SBI merupakan instrumen surat berharga yang paling besar pasarnya, karena besarnya tidak dibatasi oleh permintaan maupun kelebihan likuiditas dari perbankan. Akan tetapi, SBI lebih dikaitkan dengan target moneter pemerintah.
Nah, apa jadinya kalau BI rate yang menjadi suku bunga acuan mulai merangkak turun. Tentunya perbankan juga akan mengikuti hal yang sama dan berpotensi memberikan bunga yang lebih rendah dari bunga SBI.
Pada waktu pemerintah menaikan harga BBM yang rata-rata sebesar 126% akhir 2005 lalu, suku bunga SBI sempat bertengger di level 12.75%. Sementara suku bunga deposito perbankan rata-rata berkisar antara 9% hingga 11% pertahun.
Sementara itu, laju inflasi pada saat harga BBM dinaikan diatas angka 17% year on year (2005). Kalau kita hitung angka inflasi sebesar itu tentunya lebih tinggi dari bunga deposito yang hanya berkisar 9% hingga 11% pertahun tersebut.
Kenaikan harga barang yang rata-rata naik sebesar 17% ternyata tidak diikuti oleh kenaikan bunga deposito yang signifikan. Apalagi buat anda yang mengandalkan gaji, apakah kenaikan gaji tersebut sudah naik sebesar laju inflasi?, kalau belum, berarti ada kemrosotan baik daya beli maupun pendapatan real anda pribadi. Hal tersebut selalu menjadi barometer kemana arah angka kemiskinan negeri ini nantinya.
Pada saat ini, BI rate berada di level 9.25%. suku bunga deposito berada dalam kisaran 5 hingga 7%. Ada penurunan, karena BI (Bank Indonesia) melakukan pemotongan BI rate secara gradual dalam setiap rapat dewan gubernur BI di awal bulan.
Memang terjadi penurunan inflasi yang signifikan dari awal tahun (januari) 2006 hingga ke awal tahun 2007, yakni hanya sebesar 6.6% (skala nasional). Tapi perlu diingat, ada kenaikan harga beras yang mencapai 20% selama bulan februari kemarin, yang mengancam meningkatnya laju inflasi pada tahun ini.
Setiap daerah pasti memiliki kontribusi inflasi yang berbeda terhadap laju inflasi secara nasional (skala nasional). Misalkan ada daerah yang tidak mengalami kenaikan bahan makanan (misal:beras) yang tinggi, karena di daerahnya surplus beras. Sehingga kenaikan harga beras yang signifikan tidak begitu berpengaruh terhadap laju inflasi didaerah tersebut.
Beruntung kalau anda tinggal didaerah tersebut. Tapi apa jadinya kalau anda tinggal ditempat dimana semua bahan makanan dikirmkan dari luar daerah tempat anda tinggal. Harga bahan makanan tersebut tentunya berpotensi mengalami fluktuasi harga yang signifikan.
Kaitannya dengan bunga deposito, bagi anda yang suka menyimpan uang dalam deposito, pertimbangkan untuk tetap mengawasi perubahan harga disekitar anda. Jangan-jangan anda yang saat ini terbuai dengan bunga yang tinggi dari deposito, justru mengalami kerugian.
Akan tetapi, kalau anda tertarik untuk investasi di SBI bisa juga. Karena BI juga memberikan kesempatan bagi perorangan untuk ikut dalam lelang SBI. Minimal uang yang harus anda miliki sebesar Rp.100 Juta dan selebihnya kelipatan Rp.50 Juta.
Nah, dalam lelang SBI tersebut siapa saja yang akan menang?, Bagi mereka yang menawarkan suku bunga paling rendah (acuan BI rate) serta nominal yang tinggi maka dialah yang berpotensi menang dalam lelang SBI. Kalau anda menang?, maka anda akan menikmati imbal hasil yang lebih tinggi dari bunga deposito.
Tuesday, March 13, 2007
Penurunan BI Rate Belum Signfikan
Medan Bisnis, 12 Maret 2007
Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9% pada saat ini. Penurunan tersebut diambil seiring dengan membaiknya laju tekanan inflasi pada bulan Februari yang hanya sebesar 0.6%.
Laju inflasi tersebut lebih kecil dari ekspektasi analis kebanyakan yang memperkirakan akan terjadi lonjakan inflasi diatas 1% selama bulan Februari. Namun, diperkirakan penurunan tersebut tidak akan berdampak signifikan bagi bergeraknya sektor riil, karena masih terdapat masalah struktural penghambat tumbuhnya sektor riil.
Dengan penurunan BI rate maka akan terjadi penurunan pada bunga SBI, yang juga akan berimbas pada penurunan bunga deposito perbankan. Hal tersebut diperkirakan akan memberikan dampak negatif bagi pengumpulan dana pihak ke-3 perbankan.
Banyak investor akan mencari bentuk investasi lain selain menanamkannya dalam bentuk deposito. Beberapa alternatif memang ditawarkan oleh pemerintah seperti Obligasi Negara Ritel atau ORI. Atau bagi mereka yang mempunyai dana lebih bisa berinvestasi dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang nota bene mempunyai imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito.
Penurunan suku bunga biasanya diikuti dengan berbaliknya sejumlah dana ke bentuk investasi lain yang lebih menguntungkan. Kalau imbal hasil dari investasi yang ditawarkan oleh negara lain lebih mumpuni, maka berpotensi membuat mata uang negeri asal dana tersebut melemah.
Jadi perlu dilakukan sebuah terobosan agar dana tersebut tetap berada di dalam negeri dan tidak parkir di negara lain. Penerbitan ORI merupakan salah satu upaya tersebut. Tapi belum ada jaminan pasar finansial kita akan tetap bergerak di jalur hijau.
Negara lain yang saat ini memberikan suku bunga yang lebih kecil dari BI Rate, memang kalah menarik dibandingkan dengan Indonesia untuk berinvestasi. Namun, investasi yang hanya mengandalkan suku bunga semata, hanya akan membuat investor menyimpan dananya dalam jangka pendek.
Begitu ada penurunan suku bunga, maka kekhawatiran ada arus balik modal bermunculan. Kalau memacu sektor riil, maka pemerintah dituntut untuk memperbaiki masalah struktural hingga memberikan insentif-insentif lainnya seperti keringanan pajak.
Selain itu, negeri ini belum lepas dari sejumlah faktor resiko yang sangat diperhitungkan dalam menentukan investasi. Walaupun saat ini pemerintahan dapat diasumsikan dalam keadaan stabil, namun belum ada jaminan menjelang pemilu nanti kondisi akan tetap sama, namun kita semua pasti tidak mengharapkan ada hal negatif yang terjadi.
Kalaupun sejauh ini sejumlah indikator ekonomi di pasar finansial menunjukan perubahan yang positif, namun belum ada jaminan akan berdampak positif bagi perbaikan sektor riil.
Butuh waktu memang, karena permasalahan pengangguran, kemiskinan, perburuhan dan masalah fundamental ekonomi bangsa ini bukan hanya ditentukan dalam rapat dewan gubernur BI yang menentukan arah suku bunga. Akumulasi kebijakan serta implementasi positif dari semua stake holder lah yang akan menentukan perbaikan ekonomi bangsa ini. Jadi bukan hanya masalah suku bunga.
Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9% pada saat ini. Penurunan tersebut diambil seiring dengan membaiknya laju tekanan inflasi pada bulan Februari yang hanya sebesar 0.6%.
Laju inflasi tersebut lebih kecil dari ekspektasi analis kebanyakan yang memperkirakan akan terjadi lonjakan inflasi diatas 1% selama bulan Februari. Namun, diperkirakan penurunan tersebut tidak akan berdampak signifikan bagi bergeraknya sektor riil, karena masih terdapat masalah struktural penghambat tumbuhnya sektor riil.
Dengan penurunan BI rate maka akan terjadi penurunan pada bunga SBI, yang juga akan berimbas pada penurunan bunga deposito perbankan. Hal tersebut diperkirakan akan memberikan dampak negatif bagi pengumpulan dana pihak ke-3 perbankan.
Banyak investor akan mencari bentuk investasi lain selain menanamkannya dalam bentuk deposito. Beberapa alternatif memang ditawarkan oleh pemerintah seperti Obligasi Negara Ritel atau ORI. Atau bagi mereka yang mempunyai dana lebih bisa berinvestasi dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang nota bene mempunyai imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito.
Penurunan suku bunga biasanya diikuti dengan berbaliknya sejumlah dana ke bentuk investasi lain yang lebih menguntungkan. Kalau imbal hasil dari investasi yang ditawarkan oleh negara lain lebih mumpuni, maka berpotensi membuat mata uang negeri asal dana tersebut melemah.
Jadi perlu dilakukan sebuah terobosan agar dana tersebut tetap berada di dalam negeri dan tidak parkir di negara lain. Penerbitan ORI merupakan salah satu upaya tersebut. Tapi belum ada jaminan pasar finansial kita akan tetap bergerak di jalur hijau.
Negara lain yang saat ini memberikan suku bunga yang lebih kecil dari BI Rate, memang kalah menarik dibandingkan dengan Indonesia untuk berinvestasi. Namun, investasi yang hanya mengandalkan suku bunga semata, hanya akan membuat investor menyimpan dananya dalam jangka pendek.
Begitu ada penurunan suku bunga, maka kekhawatiran ada arus balik modal bermunculan. Kalau memacu sektor riil, maka pemerintah dituntut untuk memperbaiki masalah struktural hingga memberikan insentif-insentif lainnya seperti keringanan pajak.
Selain itu, negeri ini belum lepas dari sejumlah faktor resiko yang sangat diperhitungkan dalam menentukan investasi. Walaupun saat ini pemerintahan dapat diasumsikan dalam keadaan stabil, namun belum ada jaminan menjelang pemilu nanti kondisi akan tetap sama, namun kita semua pasti tidak mengharapkan ada hal negatif yang terjadi.
Kalaupun sejauh ini sejumlah indikator ekonomi di pasar finansial menunjukan perubahan yang positif, namun belum ada jaminan akan berdampak positif bagi perbaikan sektor riil.
Butuh waktu memang, karena permasalahan pengangguran, kemiskinan, perburuhan dan masalah fundamental ekonomi bangsa ini bukan hanya ditentukan dalam rapat dewan gubernur BI yang menentukan arah suku bunga. Akumulasi kebijakan serta implementasi positif dari semua stake holder lah yang akan menentukan perbaikan ekonomi bangsa ini. Jadi bukan hanya masalah suku bunga.
Monday, March 05, 2007
Rupiah Kembali Bergejolak
Medan Bisnis, 05 Maret 2007
Pada pertengahan perdagangan minggu kemarin, Rupiah kembali melemah hingga mendekati level 9200. Melemahnya Rupiah lebih dikarenakan sentimen negatif eksternal, dimana terjadi aksi jual besar-besaran di lantai bursa global.
Melemahnya indeks bursa Dow Jones yang sempat melemah hingga 400 poin menjadi akar masalah dari melemahnya Rupiah. Pernyataan gubernur bank sentral Amerika yang menyatakan bahwa akan terjadi pelemahan pada laju perekonomian Amerika menjadi pemicu memburuknya kinerja pasar finansial di Asia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat melemah hingga 91 poin pada sesi pembukaan perdagangan hari rabu (28/02) minggu kemarin. Melemahnya IHSG turut dibarengi dengan melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia.
Akan tetapi, kinerja mata uang Yen Jepang tetap menunjukan tren penguatan yang signifikan terhadap US Dolar. Sayangnya, penguatan Yen Jepang tersebut tidak memberikan kontribusi positif bagi pergerakan mata uang Asia lainnya termasuk Rupiah.
Selain dikarenakan likuidasi dari transaksi carry trade, menguatnya mata uang Yen Jepang juga didorong oleh langkah repatriasi, dimana perusahaan-perusahaan Jepang menarik dananya dari luar negeri menjelang berakhirnya tahun fiskal.
Sejauh ini, tren penguatan Yen Jepang masih terus berlanjut. Belum ada yang bisa memastikan kapan likuidasi carry trade akan berakhir. Namun, ditengah memburuknya data perekonomian Amerika saat ini, tidak menutup kemungkinan bagi mata uang Yen Jepang untuk terus melanjutkan tren penguatan terhadap US Dolar.
Sementara itu, Rupiah juga tidak menunjukan performa yang baik seiring dengan membaiknya kinerja mata uang Yen Jepang. Padahal, Rupiah mempunyai sentimen positif yang seharusnya mampu mengangkat nilai tukar Rupiah ke level yang lebih baik lagi.
Tidak lain, sentimen positif tersebut adalah dirilisnya data inflasi bulan Februari yang hanya sebesar 0.62%. Angka tersebut lebih kecil dari ekspektasi pasar sebelumnya, yang memperkirakan akan terjadi kenaikan inflasi diatas 1% pada bulan Februari.
Namun, tidak sepenuhnya data inflasi tersebut akan menjadi support bagi penguatan Rupiah. Rendahnya laju tekanan inflasi akan memunculkan spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali memotong besaran suku bunga dalam rapat dewan gubernur (RDG) BI pada tanggal 6 Maret mendatang.
Tentunya, penurunan suku bunga tersebut akan membuat perbedaan suku bunga atau interest rate differential antara Rupiah dan Dolar Amerika semakin mengecil. Namun, terkadang kekhawatiran tersebut tidak terbukti, seperti yang terjadi pada pemotongan BI rate pada bulan-bulan sebelumnya.
Dalam keadaan seperti ini, pelaku pasar sebaiknya melakukan evaluasi jangka menengah ke jangka panjang guna menghindari gejolak fluktuasi mata uang yang signifikan. Karena, dalam jangka pendek fokus pasar akan terpecah pada beberapa isu yang memang sulit untuk diketahui kemana muaranya.
Diantaranya adalah isu invasi terhadap Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Isu tersebut sempat membuat US Dolar melemah, namun melemahnya US Dolar tersebut hanya bersifat sementara.
Guna menghindari efek negatif dari isu yang berkembang, sebaiknya pelaku pasar lebih mengamati faktor fundamental ekonomi dari setiap negara. Untuk nilai tukar Rupiah, walaupun sempat terpuruk hingga mendekati level 9200, namun, keadaan tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Kenapa?, setidak-tidaknya pemerintah saat ini mempunyai cadangan devisa yang cukup signifikan, yang suatu saat dapat digunakan untuk meredam gejolak niali tukar Rupiah yang bergerak liar.
Pada pertengahan perdagangan minggu kemarin, Rupiah kembali melemah hingga mendekati level 9200. Melemahnya Rupiah lebih dikarenakan sentimen negatif eksternal, dimana terjadi aksi jual besar-besaran di lantai bursa global.
Melemahnya indeks bursa Dow Jones yang sempat melemah hingga 400 poin menjadi akar masalah dari melemahnya Rupiah. Pernyataan gubernur bank sentral Amerika yang menyatakan bahwa akan terjadi pelemahan pada laju perekonomian Amerika menjadi pemicu memburuknya kinerja pasar finansial di Asia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat melemah hingga 91 poin pada sesi pembukaan perdagangan hari rabu (28/02) minggu kemarin. Melemahnya IHSG turut dibarengi dengan melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia.
Akan tetapi, kinerja mata uang Yen Jepang tetap menunjukan tren penguatan yang signifikan terhadap US Dolar. Sayangnya, penguatan Yen Jepang tersebut tidak memberikan kontribusi positif bagi pergerakan mata uang Asia lainnya termasuk Rupiah.
Selain dikarenakan likuidasi dari transaksi carry trade, menguatnya mata uang Yen Jepang juga didorong oleh langkah repatriasi, dimana perusahaan-perusahaan Jepang menarik dananya dari luar negeri menjelang berakhirnya tahun fiskal.
Sejauh ini, tren penguatan Yen Jepang masih terus berlanjut. Belum ada yang bisa memastikan kapan likuidasi carry trade akan berakhir. Namun, ditengah memburuknya data perekonomian Amerika saat ini, tidak menutup kemungkinan bagi mata uang Yen Jepang untuk terus melanjutkan tren penguatan terhadap US Dolar.
Sementara itu, Rupiah juga tidak menunjukan performa yang baik seiring dengan membaiknya kinerja mata uang Yen Jepang. Padahal, Rupiah mempunyai sentimen positif yang seharusnya mampu mengangkat nilai tukar Rupiah ke level yang lebih baik lagi.
Tidak lain, sentimen positif tersebut adalah dirilisnya data inflasi bulan Februari yang hanya sebesar 0.62%. Angka tersebut lebih kecil dari ekspektasi pasar sebelumnya, yang memperkirakan akan terjadi kenaikan inflasi diatas 1% pada bulan Februari.
Namun, tidak sepenuhnya data inflasi tersebut akan menjadi support bagi penguatan Rupiah. Rendahnya laju tekanan inflasi akan memunculkan spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali memotong besaran suku bunga dalam rapat dewan gubernur (RDG) BI pada tanggal 6 Maret mendatang.
Tentunya, penurunan suku bunga tersebut akan membuat perbedaan suku bunga atau interest rate differential antara Rupiah dan Dolar Amerika semakin mengecil. Namun, terkadang kekhawatiran tersebut tidak terbukti, seperti yang terjadi pada pemotongan BI rate pada bulan-bulan sebelumnya.
Dalam keadaan seperti ini, pelaku pasar sebaiknya melakukan evaluasi jangka menengah ke jangka panjang guna menghindari gejolak fluktuasi mata uang yang signifikan. Karena, dalam jangka pendek fokus pasar akan terpecah pada beberapa isu yang memang sulit untuk diketahui kemana muaranya.
Diantaranya adalah isu invasi terhadap Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Isu tersebut sempat membuat US Dolar melemah, namun melemahnya US Dolar tersebut hanya bersifat sementara.
Guna menghindari efek negatif dari isu yang berkembang, sebaiknya pelaku pasar lebih mengamati faktor fundamental ekonomi dari setiap negara. Untuk nilai tukar Rupiah, walaupun sempat terpuruk hingga mendekati level 9200, namun, keadaan tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Kenapa?, setidak-tidaknya pemerintah saat ini mempunyai cadangan devisa yang cukup signifikan, yang suatu saat dapat digunakan untuk meredam gejolak niali tukar Rupiah yang bergerak liar.
Tuesday, February 27, 2007
Kenaikan Suku Bunga BOJ Tidak Direspon Pasar
Medan Bisnis, 26 Februari 2007
Walaupun pasar sudah menduga bahwa tidak akan terjadi penurunan suku bunga dalam rapat dewan gubernur Bank of Japan (BOJ) yang berakhir rabu kemarin. Namun, mata uang Yen Jepang tetap berada dibawah tekanan walaupun mendapat support dari kenaikan suku bunga BOJ.
Mata uang Yen belum lepas dari statusnya sebagai mata uang yang banyak digunakan untuk transaksi carry trade. Jadi, walaupun suku bunga BOJ dinaikan sebesar 25 basis poin menjadi 0.5%, pasar menilai mata uang Yen Jepang tetap potensial menjadi mata uang yang layak dipinjam lalu dikonversi dan disimpan dalam bentuk mata uang lain, yang memberikan suku bunga lebih tinggi.
Padahal sebelumnya, Yen Jepang sempat menguat terhadap US Dolar sebelum digelarnya rapat dewan gubernur BOJ tersebut. Namun, penguatan tersebut hanya sementara, selain dikarenakan aksi profit taking, melemahnya Yen Jepang juga dikarenakan membaiknya ekspektasi data perekonomian di Amerika.
Lihat saja data consumer price index (CPI) Amerika yang merealisasikan angka lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Ini menunjukan bahwa kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika atau The FED akan menurunkan suku bunga selama tahun 2007 ini tidak akan terjadi. Meski demikian itu hanyalah perkiraan yang spekulatif.
Alasan dinaikkannya suku bunga BOJ sendiri telah diperkirakan pasar sebelumnya. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi di Jepang selama kuartal ke empat tahun 2006 menjadi pendorong utama keputusan BOJ menaikan suku bunganya.
Berbeda terhadap mata uang Poundsterling dan Euro. US Dolar justru bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terhadap kedua mata uang tersebut. Terhadap Poundsterling US Dolar melemah terdorong oleh pasar yang lebih bersikap hawkish (arah suku bunga yang cenderung naik).
Namun, mata uang Poundsterling diperkirakan akan bergerak dengan fluktuasi yang tajam seiring dengan sejumlah data perekonomian Inggris yang kerap merealisasikan angka yang beragam. Terkadang sejumlah data perekonomian Inggris merealisasikan angka positif, namun, turut dibarengi dengan realisasi negatif di sejumlah data perekonomian lainnya.
Demikian halnya terhadap Euro. Sikap hawkish sejumlah pejabat bank sentral eropa atau ECB sempat membuat Euro menguat terhadap US Dolar. Namun, sikap tersebut memudar setelah sejumlah data perekonomian di zona Euro merealisasikan angka yang tidak lebih baik dari data perekonomian Amerika.
Hal tersebut berujung pada melemahnya mata uang Euro. Namun terhadap Yen Jepang Euro masih membukukan penguatan, yang diperkirakan masih di topang oleh transaksi yang lebih mengedepankan faktor selisih suku bunga (carry trade).
Kedepan, pelemahan US Dolar masih berpotensi sangat lebar. Terlebih kebijakan politik luar negeri Amerika yang hingga saat ini diperkirakan masih akan lebih ofensif dalam menyelesaikan masalah nuklir Iran.
Kebijakan tersebut sempat membuat mata uang US Dolar melemah, sesaat setelah beredar isu bahwa Amerika akan menyerang Iran lewat serangan udara. Kebijakan politik luar negeri Amerika tentunya akan berimplikasi pada sektor keuangan Amerika sendiri.
Walaupun terjadi pergerakan suku bunga di Asia yang stagnan, atau bahkan menurun. Namun, laju pertumbuhan di Asia yang diperkirakan masih akan tetap tumbuh secara signifikan, akan menjadi fundamental bagi pergerakan mata uang di Asia yang masih berpeluang besar untuk tetap menguat.
Walaupun pasar sudah menduga bahwa tidak akan terjadi penurunan suku bunga dalam rapat dewan gubernur Bank of Japan (BOJ) yang berakhir rabu kemarin. Namun, mata uang Yen Jepang tetap berada dibawah tekanan walaupun mendapat support dari kenaikan suku bunga BOJ.
Mata uang Yen belum lepas dari statusnya sebagai mata uang yang banyak digunakan untuk transaksi carry trade. Jadi, walaupun suku bunga BOJ dinaikan sebesar 25 basis poin menjadi 0.5%, pasar menilai mata uang Yen Jepang tetap potensial menjadi mata uang yang layak dipinjam lalu dikonversi dan disimpan dalam bentuk mata uang lain, yang memberikan suku bunga lebih tinggi.
Padahal sebelumnya, Yen Jepang sempat menguat terhadap US Dolar sebelum digelarnya rapat dewan gubernur BOJ tersebut. Namun, penguatan tersebut hanya sementara, selain dikarenakan aksi profit taking, melemahnya Yen Jepang juga dikarenakan membaiknya ekspektasi data perekonomian di Amerika.
Lihat saja data consumer price index (CPI) Amerika yang merealisasikan angka lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Ini menunjukan bahwa kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika atau The FED akan menurunkan suku bunga selama tahun 2007 ini tidak akan terjadi. Meski demikian itu hanyalah perkiraan yang spekulatif.
Alasan dinaikkannya suku bunga BOJ sendiri telah diperkirakan pasar sebelumnya. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi di Jepang selama kuartal ke empat tahun 2006 menjadi pendorong utama keputusan BOJ menaikan suku bunganya.
Berbeda terhadap mata uang Poundsterling dan Euro. US Dolar justru bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terhadap kedua mata uang tersebut. Terhadap Poundsterling US Dolar melemah terdorong oleh pasar yang lebih bersikap hawkish (arah suku bunga yang cenderung naik).
Namun, mata uang Poundsterling diperkirakan akan bergerak dengan fluktuasi yang tajam seiring dengan sejumlah data perekonomian Inggris yang kerap merealisasikan angka yang beragam. Terkadang sejumlah data perekonomian Inggris merealisasikan angka positif, namun, turut dibarengi dengan realisasi negatif di sejumlah data perekonomian lainnya.
Demikian halnya terhadap Euro. Sikap hawkish sejumlah pejabat bank sentral eropa atau ECB sempat membuat Euro menguat terhadap US Dolar. Namun, sikap tersebut memudar setelah sejumlah data perekonomian di zona Euro merealisasikan angka yang tidak lebih baik dari data perekonomian Amerika.
Hal tersebut berujung pada melemahnya mata uang Euro. Namun terhadap Yen Jepang Euro masih membukukan penguatan, yang diperkirakan masih di topang oleh transaksi yang lebih mengedepankan faktor selisih suku bunga (carry trade).
Kedepan, pelemahan US Dolar masih berpotensi sangat lebar. Terlebih kebijakan politik luar negeri Amerika yang hingga saat ini diperkirakan masih akan lebih ofensif dalam menyelesaikan masalah nuklir Iran.
Kebijakan tersebut sempat membuat mata uang US Dolar melemah, sesaat setelah beredar isu bahwa Amerika akan menyerang Iran lewat serangan udara. Kebijakan politik luar negeri Amerika tentunya akan berimplikasi pada sektor keuangan Amerika sendiri.
Walaupun terjadi pergerakan suku bunga di Asia yang stagnan, atau bahkan menurun. Namun, laju pertumbuhan di Asia yang diperkirakan masih akan tetap tumbuh secara signifikan, akan menjadi fundamental bagi pergerakan mata uang di Asia yang masih berpeluang besar untuk tetap menguat.
Tuesday, February 20, 2007
Beras Petani dan Petani Beras
Medan Bisnis, 19 Februari 2007
Setelah banjir melanda Ibu Kota, kini Indonesia kembali dihebohkan dengan kenaikan harga beras yang cukup signifikan. Permasalahan beras sepertinya menjadi permasalahan klasik. Dari permasalahan agraria, produksi, distribusi maupun harga.
Kenaikan harga beras akhir-akhir ini memang menjadi perhatian serius pemerintah. Karena kenaikan beras berpotensi menjadi pemicu tingginya laju inflasi. Secara makro memang demikian, namun, bukankah seharusnya kenaikan harga beras juga memberikan rezeki tambahan bagi petani yang menanam padi. Namun, sejauh ini, kenaikan harga beras juga tidak membuat harga gabah dilevel petani turut naik, seiring dengan kenaikan beras itu sendiri.
Padahal secara ekonomis, pertanian merupakan salah satu fundamental ekonomi bangsa kita yang mampu bertahan ditengah krisis moneter tahun 1997. Kenaikan harga beras saat ini merupakan akumulasi dari kekhawatiran akan berkurangnya stok beras pemerintah yang diakibatkan bencana alam, sehingga menjadikan proses distribusi serta produksi kembali terhambat.
Selain itu, mata rantai distribusi beras yang terlalu panjang juga menjadi lahan tersendiri bagi spekulan untuk meraup keuntungan. Apalagi proses distribusi beras tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, sehingga potensi kenaikan beras jauh lebih tinggi bagi daerah yang sulit dijangkau.
Impor merupakan jalan satu-satunya yang mampu menahan laju kenaikan harga beras. Namun, siapa yang menjamin bahwa beras impor tersebut tidak bocor ke pasar. Sejatinya beras impor hanya digunakan untuk pengamanan stok yang diperuntukan untuk operasi pasar.
Sebenarnya pemerintah juga mempunyai jurus lain untuk menahan kenaikan harga beras. Yakni dengan melakukan pembelian beras dalam negeri. Namun, ketidaksesuaian harga masih menjadi kendala utama. Misalkan, pemerintah menetapkan bahwa harga pembelian di dalam negeri sebesar Rp.3.500/kg. Namun, harga dipasar terkadang diatas harga tersebut, sehingga memudarkan kemauan politik pemerintah untuk membeli beras dalam negeri.
Selain dapat mengurangi cadangan devisa, impor juga membuat beras dalam negeri tidak bersaing. Jadi sudah semestinya, impor beras hanya dilakukan apabila kondisi perberasan dalam negeri benar-benar dalam situasi kritis atau bahkan gawat darurat.
Solusi
Sejauh ini, kesejahteraan petani beras tidak kunjung meningkat walaupun terjadi kenaikan harga beras yang cukup signifikan. Kesejahteraan petani memang sangat dilematis. Kenaikan harga BBM yang naik rata-rata sebesar 126% di akhir tahun 2005, tidak dibarengi dengan kenaikan serupa terhadap harga pembelian gabah. Sehingga kesejahteraan petani tetap merosot.
Kalaupun harga gabah dinaikan, maka harga beras tentunya turut melambung. Inflasi yang merupakan salah satu indikator ekonomi makro juga akan kembali naik. Faktanya pertanian selalu menjadi data terkait dengan perubahan ekonomi makro. Sehingga, memberikan tekanan terhadap pergerakan harga beras menjadi semacam keharusan yang dilakukan guna tetap mempertahankan indikator ekonomi negara kita tetap mengkilap. Dalam hal ini, petani tetap menjadi korban.
Untuk itu, pemerintah dituntut untuk melakukan terobosan guna mengontrol pergerakan harga beras dan menigkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah harus menunjukan komitmen yang kuat terhadap kepentingan petani, seperti menjaga stabilitas harga pupuk, mengoptimalkan produksi pangan lokal, reorganisasi tani, menjamin harga yang berelasi langsung terhadap ongkos produksi maupun subsidi yang lebih besar bagi sektor pertanian.
Tentunya keinginan tersebut juga membutuhkan modal yang sangat besar serta porsi yang lebih besar lagi dalam APBN. Atau, pemerintah dapat melakukan alternatif penyelesaian masalah lain yakni diversifikasi pangan.
Bukankah tidak semua wilayah di Indonesia dapat menghasilkan beras. Masyarakat Indonesia yang beragam mempunyai ragam konsumsi makanan pokok yang berbeda pula. Pemerintah dapat membiarkan masyarakat mengkonsumsi bahan makanan pokok selain beras, sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing dalam menghasilkan produk makanan pokok pilihannya. Dengan begitu pemerintah tidak dipusingkan dengan kenaikan harga beras, yang hampir setiap tahun menjadi polemik.
Di Indonesia, banyak petani yang menggarap lahan kurang dari 0.3 Hektar. Dengan lahan yang sempit itu sulit untuk mencapai produktifitas tinggi serta memperoleh penghasilan yang layak. Apalagi, hampir semua petani di Indonesia merupakan net consumer, dan menghabiskan 50% penghasilannya untuk membeli bahan pangan.
Ini sebuah ironi, dan menunjukan bahwa petani beras sekalipun masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan beras petani itu sendiri. Kedaulatan pangan di negeri ini masih jauh dari harapan. Sampai kapan?, tentu seluruh masyarakat Indonesia berharap ini hanyalah badai yang pasti akan berlalu.
Setelah banjir melanda Ibu Kota, kini Indonesia kembali dihebohkan dengan kenaikan harga beras yang cukup signifikan. Permasalahan beras sepertinya menjadi permasalahan klasik. Dari permasalahan agraria, produksi, distribusi maupun harga.
Kenaikan harga beras akhir-akhir ini memang menjadi perhatian serius pemerintah. Karena kenaikan beras berpotensi menjadi pemicu tingginya laju inflasi. Secara makro memang demikian, namun, bukankah seharusnya kenaikan harga beras juga memberikan rezeki tambahan bagi petani yang menanam padi. Namun, sejauh ini, kenaikan harga beras juga tidak membuat harga gabah dilevel petani turut naik, seiring dengan kenaikan beras itu sendiri.
Padahal secara ekonomis, pertanian merupakan salah satu fundamental ekonomi bangsa kita yang mampu bertahan ditengah krisis moneter tahun 1997. Kenaikan harga beras saat ini merupakan akumulasi dari kekhawatiran akan berkurangnya stok beras pemerintah yang diakibatkan bencana alam, sehingga menjadikan proses distribusi serta produksi kembali terhambat.
Selain itu, mata rantai distribusi beras yang terlalu panjang juga menjadi lahan tersendiri bagi spekulan untuk meraup keuntungan. Apalagi proses distribusi beras tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, sehingga potensi kenaikan beras jauh lebih tinggi bagi daerah yang sulit dijangkau.
Impor merupakan jalan satu-satunya yang mampu menahan laju kenaikan harga beras. Namun, siapa yang menjamin bahwa beras impor tersebut tidak bocor ke pasar. Sejatinya beras impor hanya digunakan untuk pengamanan stok yang diperuntukan untuk operasi pasar.
Sebenarnya pemerintah juga mempunyai jurus lain untuk menahan kenaikan harga beras. Yakni dengan melakukan pembelian beras dalam negeri. Namun, ketidaksesuaian harga masih menjadi kendala utama. Misalkan, pemerintah menetapkan bahwa harga pembelian di dalam negeri sebesar Rp.3.500/kg. Namun, harga dipasar terkadang diatas harga tersebut, sehingga memudarkan kemauan politik pemerintah untuk membeli beras dalam negeri.
Selain dapat mengurangi cadangan devisa, impor juga membuat beras dalam negeri tidak bersaing. Jadi sudah semestinya, impor beras hanya dilakukan apabila kondisi perberasan dalam negeri benar-benar dalam situasi kritis atau bahkan gawat darurat.
Solusi
Sejauh ini, kesejahteraan petani beras tidak kunjung meningkat walaupun terjadi kenaikan harga beras yang cukup signifikan. Kesejahteraan petani memang sangat dilematis. Kenaikan harga BBM yang naik rata-rata sebesar 126% di akhir tahun 2005, tidak dibarengi dengan kenaikan serupa terhadap harga pembelian gabah. Sehingga kesejahteraan petani tetap merosot.
Kalaupun harga gabah dinaikan, maka harga beras tentunya turut melambung. Inflasi yang merupakan salah satu indikator ekonomi makro juga akan kembali naik. Faktanya pertanian selalu menjadi data terkait dengan perubahan ekonomi makro. Sehingga, memberikan tekanan terhadap pergerakan harga beras menjadi semacam keharusan yang dilakukan guna tetap mempertahankan indikator ekonomi negara kita tetap mengkilap. Dalam hal ini, petani tetap menjadi korban.
Untuk itu, pemerintah dituntut untuk melakukan terobosan guna mengontrol pergerakan harga beras dan menigkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah harus menunjukan komitmen yang kuat terhadap kepentingan petani, seperti menjaga stabilitas harga pupuk, mengoptimalkan produksi pangan lokal, reorganisasi tani, menjamin harga yang berelasi langsung terhadap ongkos produksi maupun subsidi yang lebih besar bagi sektor pertanian.
Tentunya keinginan tersebut juga membutuhkan modal yang sangat besar serta porsi yang lebih besar lagi dalam APBN. Atau, pemerintah dapat melakukan alternatif penyelesaian masalah lain yakni diversifikasi pangan.
Bukankah tidak semua wilayah di Indonesia dapat menghasilkan beras. Masyarakat Indonesia yang beragam mempunyai ragam konsumsi makanan pokok yang berbeda pula. Pemerintah dapat membiarkan masyarakat mengkonsumsi bahan makanan pokok selain beras, sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing dalam menghasilkan produk makanan pokok pilihannya. Dengan begitu pemerintah tidak dipusingkan dengan kenaikan harga beras, yang hampir setiap tahun menjadi polemik.
Di Indonesia, banyak petani yang menggarap lahan kurang dari 0.3 Hektar. Dengan lahan yang sempit itu sulit untuk mencapai produktifitas tinggi serta memperoleh penghasilan yang layak. Apalagi, hampir semua petani di Indonesia merupakan net consumer, dan menghabiskan 50% penghasilannya untuk membeli bahan pangan.
Ini sebuah ironi, dan menunjukan bahwa petani beras sekalipun masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan beras petani itu sendiri. Kedaulatan pangan di negeri ini masih jauh dari harapan. Sampai kapan?, tentu seluruh masyarakat Indonesia berharap ini hanyalah badai yang pasti akan berlalu.
US Dolar Terpuruk di Asia
Medan Bisnis, 19 Februari 2007
Dalam sesi perdagangan minggu lalu, mata uang asia khususnya Yen Jepang melemah terhadap US Dolar. Bahkan, spekulasi yang menyebutkan sebelumnya bahwa Yen Jepang akan menjadi tema dalam pertemuan negara yang tergabung dalam G-7 tidak terbukti.
US Dolar pun diperdagangkan dalam rentang perdagangan yang sempit dengan kecenderungan menguat terhadap mata uang utama dunia. Fokus pasar sebelumnya yang tertuju pada testimony Gubernur Bank Sentral Amerika Ben Bernanke, juga sempat mengangkat US Dolar ke level yang lebih tinggi lagi terhadap rivalnya.
Pada saat Bernanke mengadakan pertemuan dengan komisi perbankan senat Amerika, bernanke sempat mendapat pujian dari anggota senat karena mampu mempertahankan perekonomian Amerika dalam jalur yang benar.
Namun, dalam pertemuan tersebut Bernanke menyatakan bahwa laju tekanan inflasi sudah mulai berkurang dan sektor perumahan tetap menjadi permasalahan dalam perekonomian Amerika. Hal tersebut mendapat respon negatif dari psar yang memicu aksi jual US Dolar sehingga berbuntut pada pelemahan mata uang US Dolar (Greenback).
Mata uang di Asia khusunya Yen Jepang juga menguat signifikan terhadap US Dolar. Mata uang lainnya seperti Dolar Singapura juga mengalami penguatan tajam. Bahkan, pemerintah Singapura sempat melakukan intervensi guna menahan laju penguatan Dolar Singapura.
Tidak hanya sampai disitu, mata uang Yen Jepang masih melanjutkan penguatan setelah data pertumbuhan ekonomi Amerika untuk kuartal keempat naik cukup signifikan. Selama kuartal keempat tahun 2006 pertumbuhan ekonomi jepang merealisasikan kenaikan sebesar 1.2%, sehingga mengangkat angka pertumbuhan tahun dari semula sebesar 0.3% menjadi 4.9%.
Sejauh ini, Bank of Japan (BOJ) sangat berfokus pada data consumer spending serta inflasi, guna mengambil keputusan suku bunga BOJ. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi di Jepang mengindikasikan bahwa ada kemungkinan akan dinaikkannya suku bunga BOJ dalam minggu ini.
Penguatan Yen Jepang telah mendorong sejumlah mata uang Asia lainnya menguat termasuk nilai tukar Rupiah. Walaupun laju penguatan Rupiah relatif terbatas, namun Rupiah diperkirakan akan tetap melanjutkan tren penguatan.
Rupiah mampu menembus level psikologis 9000, apabila pemerintah tidak melakukan intervensi terhadap pergerakan Rupiah dipasar. Namun, disisi lain BI juga mempunyai kepentingan untuk tetap menjaga Rupiah agar tidak berfluktuasi dalam rentang perdagangan yang lebar.
Walaupun masih diragukan apakah BI akan kembali menurunkan suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI mendatang. Namun, sejumlah indikator lain seperti meningkatnya cadangan devisa serta pasar finansial regional asia yang diperkirakan masih tetap tumbuh akan memberikan kontribusi positif bagi pasar finansial dalam negeri.
Dalam jangka pendek Rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran yang sempit antara 8980 hingga 9070, dengan kecenderungan menguat. Pergerakan Rupiah sendiri diperkirakan akan lebih banyak memamfaatkan sentimen dalam negeri, kendati sejumlah factor eksternal berpotensi memberikan dorong bagi penguatan Rupiah ke level yang lebih tinggi lagi.
Dalam sesi perdagangan minggu lalu, mata uang asia khususnya Yen Jepang melemah terhadap US Dolar. Bahkan, spekulasi yang menyebutkan sebelumnya bahwa Yen Jepang akan menjadi tema dalam pertemuan negara yang tergabung dalam G-7 tidak terbukti.
US Dolar pun diperdagangkan dalam rentang perdagangan yang sempit dengan kecenderungan menguat terhadap mata uang utama dunia. Fokus pasar sebelumnya yang tertuju pada testimony Gubernur Bank Sentral Amerika Ben Bernanke, juga sempat mengangkat US Dolar ke level yang lebih tinggi lagi terhadap rivalnya.
Pada saat Bernanke mengadakan pertemuan dengan komisi perbankan senat Amerika, bernanke sempat mendapat pujian dari anggota senat karena mampu mempertahankan perekonomian Amerika dalam jalur yang benar.
Namun, dalam pertemuan tersebut Bernanke menyatakan bahwa laju tekanan inflasi sudah mulai berkurang dan sektor perumahan tetap menjadi permasalahan dalam perekonomian Amerika. Hal tersebut mendapat respon negatif dari psar yang memicu aksi jual US Dolar sehingga berbuntut pada pelemahan mata uang US Dolar (Greenback).
Mata uang di Asia khusunya Yen Jepang juga menguat signifikan terhadap US Dolar. Mata uang lainnya seperti Dolar Singapura juga mengalami penguatan tajam. Bahkan, pemerintah Singapura sempat melakukan intervensi guna menahan laju penguatan Dolar Singapura.
Tidak hanya sampai disitu, mata uang Yen Jepang masih melanjutkan penguatan setelah data pertumbuhan ekonomi Amerika untuk kuartal keempat naik cukup signifikan. Selama kuartal keempat tahun 2006 pertumbuhan ekonomi jepang merealisasikan kenaikan sebesar 1.2%, sehingga mengangkat angka pertumbuhan tahun dari semula sebesar 0.3% menjadi 4.9%.
Sejauh ini, Bank of Japan (BOJ) sangat berfokus pada data consumer spending serta inflasi, guna mengambil keputusan suku bunga BOJ. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi di Jepang mengindikasikan bahwa ada kemungkinan akan dinaikkannya suku bunga BOJ dalam minggu ini.
Penguatan Yen Jepang telah mendorong sejumlah mata uang Asia lainnya menguat termasuk nilai tukar Rupiah. Walaupun laju penguatan Rupiah relatif terbatas, namun Rupiah diperkirakan akan tetap melanjutkan tren penguatan.
Rupiah mampu menembus level psikologis 9000, apabila pemerintah tidak melakukan intervensi terhadap pergerakan Rupiah dipasar. Namun, disisi lain BI juga mempunyai kepentingan untuk tetap menjaga Rupiah agar tidak berfluktuasi dalam rentang perdagangan yang lebar.
Walaupun masih diragukan apakah BI akan kembali menurunkan suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI mendatang. Namun, sejumlah indikator lain seperti meningkatnya cadangan devisa serta pasar finansial regional asia yang diperkirakan masih tetap tumbuh akan memberikan kontribusi positif bagi pasar finansial dalam negeri.
Dalam jangka pendek Rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran yang sempit antara 8980 hingga 9070, dengan kecenderungan menguat. Pergerakan Rupiah sendiri diperkirakan akan lebih banyak memamfaatkan sentimen dalam negeri, kendati sejumlah factor eksternal berpotensi memberikan dorong bagi penguatan Rupiah ke level yang lebih tinggi lagi.
Monday, February 12, 2007
Suku Bunga Abaikan Inflasi
Medan Bisnis, 12 Februari 2007
Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 9.25%. Keputusan tersebut diambil dan mengabaikan tingginya ancaman inflasi selama bulan Februari ini yang diakibatkan oleh banjir.
Namun, sebagian pelaku pasar menilai BI konsisten terhadap keputusannya dan sesuai dengan skema semula yakni inflation targeting. Padahal, pasar sebelumnya sempat mengkhawatirkan BI tidak akan kembali menurunkan suku bunga seiring dengan bencana alam yang melanda negeri ini.
Namun, walaupun suku bunga diturunkan, indeks harga saham gabungan atau IHSG tidak menunjukan kinerja yang positif. Indeks justru sempat melemah kurang dari 1%, dimana diyakini dipicu dan sangat erat kaitannya dengan banjir di Ibu Kota.
Banyak saham yang kembali turun harganya, hanya beberapa saham yang mengalami kenaikan, misalnya saham-saham yang mewakili produk-produk makanan. Penurunan harga saham tersebut dinilai wajar, karena dengan kondisi memprihatinkan saat ini, seharusnya potensi melemahnya IHSG lebih besar lagi.
Akan tetapi, sejauh ini Rupiah masih relatif stabil terhadap US Dolar. Derasnya capital inflows yang masuk kenegeri ini membuat Rupiah nyaman walaupun perbedaaan suku bunga Rupiah dan US Dolar kembali mengecil.
Kita lihat saja penerbitan obligasi pemerintah yang didenominasi oleh mata uang US Dolar. Banyak investor yang ingin menanamkan duitnya dalam instrumen tersebut. Bahkan, kabar menyebutkan bahwa penerbitan obligasi yang menyerap likuiditas sebesar $1.5 Milyar kelebihan penawaran atau oversubscride.
Kepercayaan investor asing kembali pulih setelah lembaga pemeringkat Fitch Rating dan Moody’s kembali menaikan peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi positif. Hal ini kabar baik tentunya, dan sekaligus menjadi barometer fundamental ekonomi Indonesia kedepan nantinya.
Dengan penyerapan likuiditas tersebut, pemerintah berhasil menambah cadangan devisa sehingga mempunyai ruang untuk mengendalikan nilai tukar Rupiah. Hal inilah yang menjadi pemicu utama menguatnya Rupiah belakangan ini. Padahal secara keseluruhan pergerakan Rupiah dibayangi oleh sentimen negatif dalam negeri.
Kembali ke masalah suku bunga. Kebijakan BI yang dinilai sangat berani tersebut tentunya menyisakan banyak pertanyaan. Ditengah ancama kenaikan harga bahan makanan pokok di jakarta yang naik rata-rata sebesar 20%, serta langkah Bank sentral Amerika yang tetap mempertahankan suku bunga di level 5.25%, tentunya membuat ruang gerak penurunan suku bunga semakin kecil.
Ada skenario yang mungkin bisa memberikan gambaran kenapa BI mengambil langkah tersebut. Walaupun inflasi diperkirakan naik selama bulan Februari ini, namun data inflasi tersebut baru akan dirilis bulan Maret mendatang.
Jadi, walaupun pasar paham bahwa inflasi akan kembali naik, namun berapa besar kenaikan tersebut tentunya masih sekedar wacana. Ada yang memprediksikan bahwa inflasi selama bulan Februari akan naik diatas 1% walaupun tetap ada yang yakin bahwa laju inflasi masih cukup terkendali.
Nah, ditengah spekulasi tersebut, tentunya ada kesempatan untuk menurunkan suku bunga yang mengacu pada inflasi bulan Januari sebesar 1.04%. Selain itu, Pemerintah tentunya juga sangat mengkhawatirkan besaran inflasi selama bulan Februari yang berpotensi merealisasikan angka yang lebih buruk dari perkiraan.
Sehingga dampak psikologis yang harus diterima juga akan semakin besar nantinya. Bayangkan apabila BI harus menurunkan suku bunga ketika data inflasi selama bulan Februari baru aja dirilis. Tentunya pasar berpotensi bergejolak. Jadi kesempatan itu ada pada saat ini, namun kedepan BI tentunya akan semakin sulit untuk menurunkan suku bunga karena harus mempertimbangkan tingginya inflasi.
Nah kalau sudah begini, dalam hitungan yang sangat optimis sekalipun inflasi akhir tahun di level 7% tentunya akan sulit untuk tercapai, karena harus mempertimbangkan banyak hal. Kecuali, BI melakukan kebijakan yang sangat radikal serta mengabaikan besaran inflasi.
Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 9.25%. Keputusan tersebut diambil dan mengabaikan tingginya ancaman inflasi selama bulan Februari ini yang diakibatkan oleh banjir.
Namun, sebagian pelaku pasar menilai BI konsisten terhadap keputusannya dan sesuai dengan skema semula yakni inflation targeting. Padahal, pasar sebelumnya sempat mengkhawatirkan BI tidak akan kembali menurunkan suku bunga seiring dengan bencana alam yang melanda negeri ini.
Namun, walaupun suku bunga diturunkan, indeks harga saham gabungan atau IHSG tidak menunjukan kinerja yang positif. Indeks justru sempat melemah kurang dari 1%, dimana diyakini dipicu dan sangat erat kaitannya dengan banjir di Ibu Kota.
Banyak saham yang kembali turun harganya, hanya beberapa saham yang mengalami kenaikan, misalnya saham-saham yang mewakili produk-produk makanan. Penurunan harga saham tersebut dinilai wajar, karena dengan kondisi memprihatinkan saat ini, seharusnya potensi melemahnya IHSG lebih besar lagi.
Akan tetapi, sejauh ini Rupiah masih relatif stabil terhadap US Dolar. Derasnya capital inflows yang masuk kenegeri ini membuat Rupiah nyaman walaupun perbedaaan suku bunga Rupiah dan US Dolar kembali mengecil.
Kita lihat saja penerbitan obligasi pemerintah yang didenominasi oleh mata uang US Dolar. Banyak investor yang ingin menanamkan duitnya dalam instrumen tersebut. Bahkan, kabar menyebutkan bahwa penerbitan obligasi yang menyerap likuiditas sebesar $1.5 Milyar kelebihan penawaran atau oversubscride.
Kepercayaan investor asing kembali pulih setelah lembaga pemeringkat Fitch Rating dan Moody’s kembali menaikan peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi positif. Hal ini kabar baik tentunya, dan sekaligus menjadi barometer fundamental ekonomi Indonesia kedepan nantinya.
Dengan penyerapan likuiditas tersebut, pemerintah berhasil menambah cadangan devisa sehingga mempunyai ruang untuk mengendalikan nilai tukar Rupiah. Hal inilah yang menjadi pemicu utama menguatnya Rupiah belakangan ini. Padahal secara keseluruhan pergerakan Rupiah dibayangi oleh sentimen negatif dalam negeri.
Kembali ke masalah suku bunga. Kebijakan BI yang dinilai sangat berani tersebut tentunya menyisakan banyak pertanyaan. Ditengah ancama kenaikan harga bahan makanan pokok di jakarta yang naik rata-rata sebesar 20%, serta langkah Bank sentral Amerika yang tetap mempertahankan suku bunga di level 5.25%, tentunya membuat ruang gerak penurunan suku bunga semakin kecil.
Ada skenario yang mungkin bisa memberikan gambaran kenapa BI mengambil langkah tersebut. Walaupun inflasi diperkirakan naik selama bulan Februari ini, namun data inflasi tersebut baru akan dirilis bulan Maret mendatang.
Jadi, walaupun pasar paham bahwa inflasi akan kembali naik, namun berapa besar kenaikan tersebut tentunya masih sekedar wacana. Ada yang memprediksikan bahwa inflasi selama bulan Februari akan naik diatas 1% walaupun tetap ada yang yakin bahwa laju inflasi masih cukup terkendali.
Nah, ditengah spekulasi tersebut, tentunya ada kesempatan untuk menurunkan suku bunga yang mengacu pada inflasi bulan Januari sebesar 1.04%. Selain itu, Pemerintah tentunya juga sangat mengkhawatirkan besaran inflasi selama bulan Februari yang berpotensi merealisasikan angka yang lebih buruk dari perkiraan.
Sehingga dampak psikologis yang harus diterima juga akan semakin besar nantinya. Bayangkan apabila BI harus menurunkan suku bunga ketika data inflasi selama bulan Februari baru aja dirilis. Tentunya pasar berpotensi bergejolak. Jadi kesempatan itu ada pada saat ini, namun kedepan BI tentunya akan semakin sulit untuk menurunkan suku bunga karena harus mempertimbangkan tingginya inflasi.
Nah kalau sudah begini, dalam hitungan yang sangat optimis sekalipun inflasi akhir tahun di level 7% tentunya akan sulit untuk tercapai, karena harus mempertimbangkan banyak hal. Kecuali, BI melakukan kebijakan yang sangat radikal serta mengabaikan besaran inflasi.
Tuesday, February 06, 2007
Stabilitas Rawan Koreksi
Medan Bisnis, 05 Januari 2007
Kita kembali melihat Rupiah dan IHSG stabil dan membentuk tren positif. Spekulasi yang berkembang pun menyebutkan bahwa pengaruh dibubarkannya CGI (Consultative Group on Indonesia) yang paling memberikan andil besar bagi stabilnya pasar finansial di Indonesia. Mungkin memang demikian, namun masih banyak hal lain yang dapat menjadi pemicu stabilnya pasar finansial kita baru-baru ini.
Tekanan jual Rupiah kian hari semakin berkurang. Sejumlah investor kembali memasukan modalnya dalam sejumlah investasi berbentuk Obligasi, SBI, SUN dan Saham. Pasarpun kebanjiran likuiditas Rupiah. Bahkan suku bunga overnight di pasar interbank negatif.
Namun tetap tidak ada garansi bahwa uang yang masuk tersebut akan bertahan dalam waktu yang lama. Penguatan Rupiah belakangan ini memunculkan kekhawatiran baru bahwa akan ada arus balik atau koreksi secara teknikal.
Terlebih, psikologi pasar yang menyebutkan bahwa nilai tukar Rupiah sudah menemui titik terkuatnya sehingga rawan untuk kembali berbalik arah.
Kalau sudah begini, mungkin kita harus me-review beberapa indikator ekonomi yang baru-baru ini masih belum memberikan harapan akan terciptanya stabilitas yang tahan lama. Misalnya inflasi, pada bulan Januari inflasi masih merealisasikan angka yang dinilai masih cukup tinggi.
Walalupun angka inflasi bulan Januari 2007 sebesar 1.04%, lebih kecil dari bulan Desember 2006 sebesar 1.21%, namun tetap saja angka inflasi sebesar 1.04% selama awal tahun tersebut dinilai diatas angka normal dan cukup mengkhawatirkan.
Kenapa?, karena di bulan Januari nyaris tidak ada perayaan keagamaan maupun perayaan hari besar lain yang biasanya akan memicu naiknya konsumsi masyarakat. Yang ada hanya kenaikan harga beras yang lebih dikarenakan faktor spekulasi yang selalu terkait dengan ketersediaan stok beras dalam negeri maupun hal tak terduga lain seperti bencana alam yang terkait dengan musim panen.
Lain lagi halnya dengan kenaikan gaji PNS di tahun 2007 ini. Dalam skala pasar yang kecil kenaikan gaji PNS selalu menjadi tolak ukur kenaikan harga barang. Padahal kalau dihitung-hitung kontribusi kenaikan gaji PNS terhadap inflasi tidaklah sebesar yang diasumsikan pasar sebelumnya.
Nah, sekarang apalagi?, faktor non ekonomi lagi-lagi akan menjadi pemicu utama melonjaknya inflasi selama bulan Februari. Semua orang tahu kalau saat ini, Jakarta yang merupakan Ibukota negara kita lagi terendam banjir. Bahkan, ada media yang menyatakan bahwa Indonesia saat ini lagi terapung.
Implikasinya jelas, distribusi BBM dan bahan pokok maupun banyak hal lain yang terkait dengan berputarnya roda perekonomian negeri ini akan terganggu. Terus, inflasi juga akan kembali meningkat tentunya. Terlebih, 80% uang beredar di negeri ini hanya berputar-putar di Jakarta. Kedepan, dengan mudah kita sudah bisa memperkirakan kemana arah suku bunga nantinya. Kalau sudah begitu, tentunya kita juga bisa memperkirakan pergerakan Rupiah nantinya.
Jadi, untuk membuat roda perekonomian negeri ini berjalan lancar, manusia tidak hanya dituntut untuk mampu mengelola aspek-aspek yang lebih bersifat ekonomis. Memperbaiki sinergi hubungan antara manusia dan alam juga sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Sekali lagi, walaupun terkadang faktor non-ekonomi (alam) bisa diabaikan, namun, kehadirannya juga mampu merubah pandangan pembuat kebijakan yang terkadang sudah berbicara jauh kedepan mengenai roda ekonomi bangsa ini.
Kita kembali melihat Rupiah dan IHSG stabil dan membentuk tren positif. Spekulasi yang berkembang pun menyebutkan bahwa pengaruh dibubarkannya CGI (Consultative Group on Indonesia) yang paling memberikan andil besar bagi stabilnya pasar finansial di Indonesia. Mungkin memang demikian, namun masih banyak hal lain yang dapat menjadi pemicu stabilnya pasar finansial kita baru-baru ini.
Tekanan jual Rupiah kian hari semakin berkurang. Sejumlah investor kembali memasukan modalnya dalam sejumlah investasi berbentuk Obligasi, SBI, SUN dan Saham. Pasarpun kebanjiran likuiditas Rupiah. Bahkan suku bunga overnight di pasar interbank negatif.
Namun tetap tidak ada garansi bahwa uang yang masuk tersebut akan bertahan dalam waktu yang lama. Penguatan Rupiah belakangan ini memunculkan kekhawatiran baru bahwa akan ada arus balik atau koreksi secara teknikal.
Terlebih, psikologi pasar yang menyebutkan bahwa nilai tukar Rupiah sudah menemui titik terkuatnya sehingga rawan untuk kembali berbalik arah.
Kalau sudah begini, mungkin kita harus me-review beberapa indikator ekonomi yang baru-baru ini masih belum memberikan harapan akan terciptanya stabilitas yang tahan lama. Misalnya inflasi, pada bulan Januari inflasi masih merealisasikan angka yang dinilai masih cukup tinggi.
Walalupun angka inflasi bulan Januari 2007 sebesar 1.04%, lebih kecil dari bulan Desember 2006 sebesar 1.21%, namun tetap saja angka inflasi sebesar 1.04% selama awal tahun tersebut dinilai diatas angka normal dan cukup mengkhawatirkan.
Kenapa?, karena di bulan Januari nyaris tidak ada perayaan keagamaan maupun perayaan hari besar lain yang biasanya akan memicu naiknya konsumsi masyarakat. Yang ada hanya kenaikan harga beras yang lebih dikarenakan faktor spekulasi yang selalu terkait dengan ketersediaan stok beras dalam negeri maupun hal tak terduga lain seperti bencana alam yang terkait dengan musim panen.
Lain lagi halnya dengan kenaikan gaji PNS di tahun 2007 ini. Dalam skala pasar yang kecil kenaikan gaji PNS selalu menjadi tolak ukur kenaikan harga barang. Padahal kalau dihitung-hitung kontribusi kenaikan gaji PNS terhadap inflasi tidaklah sebesar yang diasumsikan pasar sebelumnya.
Nah, sekarang apalagi?, faktor non ekonomi lagi-lagi akan menjadi pemicu utama melonjaknya inflasi selama bulan Februari. Semua orang tahu kalau saat ini, Jakarta yang merupakan Ibukota negara kita lagi terendam banjir. Bahkan, ada media yang menyatakan bahwa Indonesia saat ini lagi terapung.
Implikasinya jelas, distribusi BBM dan bahan pokok maupun banyak hal lain yang terkait dengan berputarnya roda perekonomian negeri ini akan terganggu. Terus, inflasi juga akan kembali meningkat tentunya. Terlebih, 80% uang beredar di negeri ini hanya berputar-putar di Jakarta. Kedepan, dengan mudah kita sudah bisa memperkirakan kemana arah suku bunga nantinya. Kalau sudah begitu, tentunya kita juga bisa memperkirakan pergerakan Rupiah nantinya.
Jadi, untuk membuat roda perekonomian negeri ini berjalan lancar, manusia tidak hanya dituntut untuk mampu mengelola aspek-aspek yang lebih bersifat ekonomis. Memperbaiki sinergi hubungan antara manusia dan alam juga sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Sekali lagi, walaupun terkadang faktor non-ekonomi (alam) bisa diabaikan, namun, kehadirannya juga mampu merubah pandangan pembuat kebijakan yang terkadang sudah berbicara jauh kedepan mengenai roda ekonomi bangsa ini.
Tuesday, January 30, 2007
BOJ Masih Akan Menunda Kenaikan Suku Bunga
Medan Bisnis, 29 Januari 2007
Selama sepekan sebelumnya, pasar dikejutkan oleh langkah Bank Sentral Jepang yang masih mempertahankan suku bunga sebesar 0.25%. Keputusan tersebut diluar ekspektasi pasar yang justru memperkirakan adanya kenaikan suku bunga.
Melemahnya laju perekonomian Jepang mengindikasikan bahwa Bank of Japan masih akan menunda kenaikan suku bunga selama triwulan I 2007. Terlebih data Core CPI (CPI inti) Jepang yang selama bulan Desember mencatatkan kenaikan 0.1%, lebih kecil dari ekspektasi pasar sebelumnya sebesar 0.2%.
Menimbang roda perekonomian Jepang yang relatif jalan ditempat, masih ada hal lain yang dapat dipertimbangkan, yaitu pergerakan mata uang Yen Jepang itu sendiri. Pergerakan Yen yang cenderung terdepresiasi akan menjadi perhatian BOJ untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga BOJ.
Apalagi, karena rendahnya suku bungan Yen, mata uang Yen Jepang menjadi sasaran pasar untuk melakukan transaksi carry trade (mengambil keuntungan dari perbedaan suku bunga).
Dalam pertemuan negara yang tergabung dalam G7, Jepang Yen tidak akan menjadi agenda utama untuk dibahas. Hal tersebut tentunya akan menjadi pertimbangan BOJ kedepan.
Hal tersebut ditekankan oleh wakil menteri ekonomi Jerman Bernd Pfaffenbael, yang menyatakan bahwa Jerman tidak akan merencakan untuk menempatkan mata uang Yen Jepang sebagai agenda utama dalam pertemuan tersebut.
The FED tidak banyak berubah
Data perekonomian AS seperti existing home sales (data penjualan rumah bekas) serta jobless calims (data pengangguran) baru-baru ini juga tidak menunjukan relasisasi yang memuaskan. Data penjualan rumah bekas di Amerika turun dan mencatatkan rekor penurunan terbesar sejak tahun 1989.
Selain itu, data jobless claims naik menjadi 36000, sehingga akan membebani perekonomian AS nantinya. Penurunan suku bunga tentunya sangat dimungkinkan untuk memperbaiki kinerja ke dua data tersebut.
Namun, data existing home sales adalah data “kelas dua”, sehingga tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika .
Data yang sangat berpengaruh tentunya datang dari data penjualan rumah baru di Amerika atau new home sales, yang kembali mencatatkan kenaikan selama bulan Desember 2006. Kenaikannya melebihi ekspektasi pasar sehingga disinyalir merupakan indikasi berakhirnya tren penurunan penjualan perumahan baru sejak tahun 1990.
Selain itu, data durable goods orders (data pemesanan barang yang tahan lama) juga kembali merealisasikan kinerja yang positif. Hal tersebut tentunya akan berdamapak pada meningkatnya laju tekanan inflasi, serta berpotensi menjadi pendorong kenaikan suku bunga AS ke depan.
Namun, bagaimana dengan data pengangguran, kalau seandainya suku bunga AS kembali dinaikan. Tentunya berpotensi akan mencatatkan realisasi yang lebih buruk lagi.
Dengan melihat beberapa indikator tersebut, bisa diperkirakan bahwa The FED masih akan mempertahankan besaran suku bunga sebesar 5.25% dalam rapat dewan Gubernur Bank Sentral AS, 31 Januari mendatang.
Namun, suku bunga Rupiah diperkirakan masih akan terus mengalami kecenderungan menurun di tahun 2007 ini. BI diperkirakan masih akan terus menurunkan suku bunga secara bertahap walaupun ada tren kenaikan suku bunga global.
Selama sepekan sebelumnya, pasar dikejutkan oleh langkah Bank Sentral Jepang yang masih mempertahankan suku bunga sebesar 0.25%. Keputusan tersebut diluar ekspektasi pasar yang justru memperkirakan adanya kenaikan suku bunga.
Melemahnya laju perekonomian Jepang mengindikasikan bahwa Bank of Japan masih akan menunda kenaikan suku bunga selama triwulan I 2007. Terlebih data Core CPI (CPI inti) Jepang yang selama bulan Desember mencatatkan kenaikan 0.1%, lebih kecil dari ekspektasi pasar sebelumnya sebesar 0.2%.
Menimbang roda perekonomian Jepang yang relatif jalan ditempat, masih ada hal lain yang dapat dipertimbangkan, yaitu pergerakan mata uang Yen Jepang itu sendiri. Pergerakan Yen yang cenderung terdepresiasi akan menjadi perhatian BOJ untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga BOJ.
Apalagi, karena rendahnya suku bungan Yen, mata uang Yen Jepang menjadi sasaran pasar untuk melakukan transaksi carry trade (mengambil keuntungan dari perbedaan suku bunga).
Dalam pertemuan negara yang tergabung dalam G7, Jepang Yen tidak akan menjadi agenda utama untuk dibahas. Hal tersebut tentunya akan menjadi pertimbangan BOJ kedepan.
Hal tersebut ditekankan oleh wakil menteri ekonomi Jerman Bernd Pfaffenbael, yang menyatakan bahwa Jerman tidak akan merencakan untuk menempatkan mata uang Yen Jepang sebagai agenda utama dalam pertemuan tersebut.
The FED tidak banyak berubah
Data perekonomian AS seperti existing home sales (data penjualan rumah bekas) serta jobless calims (data pengangguran) baru-baru ini juga tidak menunjukan relasisasi yang memuaskan. Data penjualan rumah bekas di Amerika turun dan mencatatkan rekor penurunan terbesar sejak tahun 1989.
Selain itu, data jobless claims naik menjadi 36000, sehingga akan membebani perekonomian AS nantinya. Penurunan suku bunga tentunya sangat dimungkinkan untuk memperbaiki kinerja ke dua data tersebut.
Namun, data existing home sales adalah data “kelas dua”, sehingga tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika .
Data yang sangat berpengaruh tentunya datang dari data penjualan rumah baru di Amerika atau new home sales, yang kembali mencatatkan kenaikan selama bulan Desember 2006. Kenaikannya melebihi ekspektasi pasar sehingga disinyalir merupakan indikasi berakhirnya tren penurunan penjualan perumahan baru sejak tahun 1990.
Selain itu, data durable goods orders (data pemesanan barang yang tahan lama) juga kembali merealisasikan kinerja yang positif. Hal tersebut tentunya akan berdamapak pada meningkatnya laju tekanan inflasi, serta berpotensi menjadi pendorong kenaikan suku bunga AS ke depan.
Namun, bagaimana dengan data pengangguran, kalau seandainya suku bunga AS kembali dinaikan. Tentunya berpotensi akan mencatatkan realisasi yang lebih buruk lagi.
Dengan melihat beberapa indikator tersebut, bisa diperkirakan bahwa The FED masih akan mempertahankan besaran suku bunga sebesar 5.25% dalam rapat dewan Gubernur Bank Sentral AS, 31 Januari mendatang.
Namun, suku bunga Rupiah diperkirakan masih akan terus mengalami kecenderungan menurun di tahun 2007 ini. BI diperkirakan masih akan terus menurunkan suku bunga secara bertahap walaupun ada tren kenaikan suku bunga global.
Monday, January 22, 2007
Gejolak Pasar Finansial Asia
Medan Bisnis, 22 Januari 2007
Bank Sentral Jepang atau yang lebih dikenal dengan BOJ kembali mempertahankan besaran suku bunga Yen di level 0.25%. Keputusan tersebut membawa mata uang Yen Jepang kembali terpuruk terhadap US Dolar dan beberapa mata uang hard currency lainnya seperti Euro.
Melemahnya sektor konsumsi yang tidak diiringi dengan kenaikan gaji pegawai memaksa BOJ mempertahankan suku bunga acuannya. Sementara itu, data perekonomian lainnya seperti consumer price index (CPI) diperkirakan juga tidak akan mengalami kenaikan selama bulan Januari ini, seiring dengan melemahnya harga minyak dunia.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa Bank Sentral Jepang masih akan mempertahankan suku bunga dalam waktu yang cukup lama. Namun, data gross domestic product (GDP) Jepang untuk kuartal ke-4 diperkirakan akan mengalami kenaikan. Hal tersebut tentunya berpotensi menimbulkan spekulasi akan kenaikan suku bunga.
Akan tetapi, kenaikan GDP yang didominasi oleh sektor konsumsi tersebut belumlah cukup untuk menjadi stimulan. Karena kenaikan GDP kuartal ke-4 hanya dibandingkan dengan GDP kuartal ke-3 yang justru merupakan level terendah.
Hampir tidak ada lagi sentimen yang mampu menjadi isu bagi kenaikan suku bunga Yen. Walaupun Gubernur Bank Sentral Jepang Toshihiko Fukui menyatakan bahwa konsumsi masih menunjukan tren penguatan, namun, tren kenaikan tersebut masih berjalan sangat moderat.
Laju inflasi di Jepang sendiri masih sangat lambat. Diantara negara anggota G-7, Jepang merupakan negara dengan laju inflasi yang paling rendah yakni sebesar 0.3% selama tahun 2006. Bahkan, Jepang juga menjadi negara dengan penyerapan tenaga kerja yang paling sedikit (sebesar 4%) diantara negara anggota G-7 lainnya.
Menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Jepang, sebelumnya mata uang Yen sempat rebound (menguat) setelah sebuah data menunjukan bahwa terjadi peningkatan permintaan permesinan di Jepang. Namun, lagi-lagi data tersebut tidak mampu menopang runtuhnya mata uang Yen lebih jauh.
Nah, Bagaimana dengan mata uang Asia lainnya?, stabil, itu adalah realita yang terjadi saat ini. Sejumlah mata uang di Asia justru masih relatif stabil terhadap US Dolar. Kecuali mata uang Bath Thailand yang masih melemah akibat kontrol devisa yang di berlakukan sejak pertengahan Desember lalu.
Anomali yang terjadi di pasar finansial di Asia tidak terlepas dari serangkaian isu yang masih simpang-siur di beberapa negara ekonomi besar seperti Amerika, Jepang dan kawasan Eropa. Pelaku pasar kembali masuk ke pasar negara berkembang (emerging market) menyusul tidak kembali dinaikkannya suku bunga di Eropa dan Jepang, yang berbuntut pada melemahnya mata uang kedua negara tersebut.
Bahkan US Dolar yang sebelumnya sempat diperkirakan melemah, justru kembali menguat setelah Bank Sentral AS masih mempertahanan suku bunga di level 5.25%. lagi-lagi pasar di buat bingung.
Namun, mata uang Yen Jepang diperkirakan akan menjadi “primadona” selama tahun 2007 ini (selain Euro dan Poundsterling), walaupun momentum perekonomian Jepang masih melambat. Sejauh ini, komentar yang dilontarkan BOJ masih bersifat hawkish, dimana BOJ masih memberikan sinyal kenaikan suku bunga BOJ secara gradual.
Komentar yang dilontarkan BOJ tersebut cukup beralasan, mengingat laju inflasi inti (core CPI) dari tahun ke tahun masih mengalami kenaikan. Namun, apa jadinya kalau fakta justru berbicara lain, tentunya US Dolar berpotensi menjadi “primdona” dibandingkan dengan mata uang lainnya khususnya Yen Jepang. Bahkan, Rupiah yang menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik selama tahun 2006, tentunya akan mengalami tekanan yang semakin berat saja, apalagi ditambah dengan demand dari korporasi yang akan mengimpor BBM.
Bank Sentral Jepang atau yang lebih dikenal dengan BOJ kembali mempertahankan besaran suku bunga Yen di level 0.25%. Keputusan tersebut membawa mata uang Yen Jepang kembali terpuruk terhadap US Dolar dan beberapa mata uang hard currency lainnya seperti Euro.
Melemahnya sektor konsumsi yang tidak diiringi dengan kenaikan gaji pegawai memaksa BOJ mempertahankan suku bunga acuannya. Sementara itu, data perekonomian lainnya seperti consumer price index (CPI) diperkirakan juga tidak akan mengalami kenaikan selama bulan Januari ini, seiring dengan melemahnya harga minyak dunia.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa Bank Sentral Jepang masih akan mempertahankan suku bunga dalam waktu yang cukup lama. Namun, data gross domestic product (GDP) Jepang untuk kuartal ke-4 diperkirakan akan mengalami kenaikan. Hal tersebut tentunya berpotensi menimbulkan spekulasi akan kenaikan suku bunga.
Akan tetapi, kenaikan GDP yang didominasi oleh sektor konsumsi tersebut belumlah cukup untuk menjadi stimulan. Karena kenaikan GDP kuartal ke-4 hanya dibandingkan dengan GDP kuartal ke-3 yang justru merupakan level terendah.
Hampir tidak ada lagi sentimen yang mampu menjadi isu bagi kenaikan suku bunga Yen. Walaupun Gubernur Bank Sentral Jepang Toshihiko Fukui menyatakan bahwa konsumsi masih menunjukan tren penguatan, namun, tren kenaikan tersebut masih berjalan sangat moderat.
Laju inflasi di Jepang sendiri masih sangat lambat. Diantara negara anggota G-7, Jepang merupakan negara dengan laju inflasi yang paling rendah yakni sebesar 0.3% selama tahun 2006. Bahkan, Jepang juga menjadi negara dengan penyerapan tenaga kerja yang paling sedikit (sebesar 4%) diantara negara anggota G-7 lainnya.
Menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Jepang, sebelumnya mata uang Yen sempat rebound (menguat) setelah sebuah data menunjukan bahwa terjadi peningkatan permintaan permesinan di Jepang. Namun, lagi-lagi data tersebut tidak mampu menopang runtuhnya mata uang Yen lebih jauh.
Nah, Bagaimana dengan mata uang Asia lainnya?, stabil, itu adalah realita yang terjadi saat ini. Sejumlah mata uang di Asia justru masih relatif stabil terhadap US Dolar. Kecuali mata uang Bath Thailand yang masih melemah akibat kontrol devisa yang di berlakukan sejak pertengahan Desember lalu.
Anomali yang terjadi di pasar finansial di Asia tidak terlepas dari serangkaian isu yang masih simpang-siur di beberapa negara ekonomi besar seperti Amerika, Jepang dan kawasan Eropa. Pelaku pasar kembali masuk ke pasar negara berkembang (emerging market) menyusul tidak kembali dinaikkannya suku bunga di Eropa dan Jepang, yang berbuntut pada melemahnya mata uang kedua negara tersebut.
Bahkan US Dolar yang sebelumnya sempat diperkirakan melemah, justru kembali menguat setelah Bank Sentral AS masih mempertahanan suku bunga di level 5.25%. lagi-lagi pasar di buat bingung.
Namun, mata uang Yen Jepang diperkirakan akan menjadi “primadona” selama tahun 2007 ini (selain Euro dan Poundsterling), walaupun momentum perekonomian Jepang masih melambat. Sejauh ini, komentar yang dilontarkan BOJ masih bersifat hawkish, dimana BOJ masih memberikan sinyal kenaikan suku bunga BOJ secara gradual.
Komentar yang dilontarkan BOJ tersebut cukup beralasan, mengingat laju inflasi inti (core CPI) dari tahun ke tahun masih mengalami kenaikan. Namun, apa jadinya kalau fakta justru berbicara lain, tentunya US Dolar berpotensi menjadi “primdona” dibandingkan dengan mata uang lainnya khususnya Yen Jepang. Bahkan, Rupiah yang menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik selama tahun 2006, tentunya akan mengalami tekanan yang semakin berat saja, apalagi ditambah dengan demand dari korporasi yang akan mengimpor BBM.
Wednesday, January 10, 2007
Faktor Negatif Eksternal Masih Membayangi IHSG
Medan Bisnis, 08 Januari 2007
Setelah sempat didera oleh kebijakan Bank Sentral Thailand yang sebelumnya mengunci 30% dana yang masuk ke pasar finansialnya, Rupiah dan IHSG selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal lain terkait isu nuklir Iran yang notabene akan mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia.
Sejauh ini, baik Rupiah dan IHSG masih bergerak dengan kecenderungan menguat di awal tahun. Ekspektasi membaiknya laju pertumbuhan ekonomi di tahun 2007 serta stabilnya laju tekanan inflasi yang diiringi dengan tren penurunan suku bunga, menjadi fondasi awal yang kokoh bagi pasar finansial Indonesia kedepan.
Terlepas dari fundamental dalam negeri, ancaman dari luar masih akan membayangi pasar finansial Indonesia. Serangkaian teror bom di Thailand membuat indeks bursa di Thailand dan IHSG terpuruk, walaupun sejumlah indeks bursa Asia lainnya seperti Nikkei dan Hangseng justru menguat.
Sejauh ini, kondisi keamanan di Thailand menunjukan suatu keadaan yang kondusif. Namun, belum ada yang tahu pasti apakah kekerasan di negeri “Gajah Putih” tersebut tidak akan terulang lagi. Terlebih, perpindahan kekuasaan baru-baru ini di Thailand merupakan buah hasil dari aksi kudeta yang berpotensi memunculkan separatis anti pemerintahan Thailand saat ini.
Sangat mungkin gejolak yang terjadi di Thailand masih akan terulang. Hal tersebut berpeluang menciptakan iklim perdagangan yang buruk bagi pasar finansial di kawasan ASEAN. Kejadian di Thailand sejatinya dapat menjadi pelajaran bagi negara lain, untuk tetap mewaspadai aliran dana jangka pendek yang hingga saat ini juga masih mengalir ke Indonesia.
Beralih ke faktor lainnya yang juga sangat berpengaruh, yakni harga minyak dunia. Saat ini, kita bisa tersenyum dengan pergerakan harga minyak yang masih stabil dalam beberapa bulan terakhir. Namun, kita juga harus siap mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga minyak dunia di tahun 2007 ini.
Hingga saat ini, harga minyak dunia menunjukan tren melemah di kisaran level $55/barel. Pasalnya, sebuah data dari Amerika yang sekaligus merupakan negara dengan konsumsi minyak paling besar didunia, memiliki cadangan minyak yang meningkat dalam seminggu terakhir.
Tercatat pada hari kamis (04/01) cadangan minyak Amerika meningkat 2 juta barel dibandingkan hari yang sama minggu sebelumnya. Bahkan saat ini, stok bahan bakar bensin di Amerika lebih tinggi 1.5 juta barel dari Proyeksi Analis sebelumnya.
Melemahnya harga minyak tidak terlepas dari perubahan musim di Amerika. Namun, penurunan tersebut diperkirakan bersifat musiman. Spekulasi lain menyebutkan bahwa sejumlah manager hedge fund kembali mengurangi porsi kepemilikan minyak dalam investasinya, seiring dengan harga minyak dunia yang tak kunjung mengalami kenaikan.
Masalah yang paling nyata adalah langkah negara anggota OPEC yang akan mengurangi produksi minyaknya sebesar 500 ribu barel/hari terhitung mulai 1 Februari mendatang. Tekanan lain muncul dari Iran yang menolak resolusi dewan keamanan PBB terkait dengan program nuklir negara tersebut.
Iran merupakan negara penghasil minyak terbesar kedua di dunia. Sehingga, harga minyak dunia juga sangat ditentukan oleh perkembangan politik di Iran. Apabila Iran masih berada dibawah tekanan PBB, maka bisa diprediksikan Iran dapat membuat kebijakan dengan melakukan kontrol minyak (produksi/distribusi) yang lebih ketat terhadap negara yang dianggap sebagai musuh oleh Iran.
Terkait dengan hal tersebut, tentunya potensi kenaikan harga minyak dunia akan lebih besar lagi. Bahkan, banyak analis yang memperkirakan harga minyak masih berpotensi menembus angka $70/barel dalam tahun ini.
Kenaikan harga minyak tersebut nantinya akan memberikan tekanan terhadap pergerakan Indeks maupun Rupiah. Sejauh ini, pasar masih optimis bahwa IHSG masih akan bergeliat seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat.
Apabila mengandalkan faktor ekonomis dalam negeri, maka Rupiah dan IHSG sudah saatnya untuk kembali bangkit. Walaupun besarnya Inflasi tahun 2006 masih lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi, yang menunjukan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Namun demikian, bayang-bayang hitam dari luar negeri masih kerap meruntuhkan pasar dalam negeri walaupun terkadang hanya sesaat.
Setelah sempat didera oleh kebijakan Bank Sentral Thailand yang sebelumnya mengunci 30% dana yang masuk ke pasar finansialnya, Rupiah dan IHSG selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal lain terkait isu nuklir Iran yang notabene akan mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia.
Sejauh ini, baik Rupiah dan IHSG masih bergerak dengan kecenderungan menguat di awal tahun. Ekspektasi membaiknya laju pertumbuhan ekonomi di tahun 2007 serta stabilnya laju tekanan inflasi yang diiringi dengan tren penurunan suku bunga, menjadi fondasi awal yang kokoh bagi pasar finansial Indonesia kedepan.
Terlepas dari fundamental dalam negeri, ancaman dari luar masih akan membayangi pasar finansial Indonesia. Serangkaian teror bom di Thailand membuat indeks bursa di Thailand dan IHSG terpuruk, walaupun sejumlah indeks bursa Asia lainnya seperti Nikkei dan Hangseng justru menguat.
Sejauh ini, kondisi keamanan di Thailand menunjukan suatu keadaan yang kondusif. Namun, belum ada yang tahu pasti apakah kekerasan di negeri “Gajah Putih” tersebut tidak akan terulang lagi. Terlebih, perpindahan kekuasaan baru-baru ini di Thailand merupakan buah hasil dari aksi kudeta yang berpotensi memunculkan separatis anti pemerintahan Thailand saat ini.
Sangat mungkin gejolak yang terjadi di Thailand masih akan terulang. Hal tersebut berpeluang menciptakan iklim perdagangan yang buruk bagi pasar finansial di kawasan ASEAN. Kejadian di Thailand sejatinya dapat menjadi pelajaran bagi negara lain, untuk tetap mewaspadai aliran dana jangka pendek yang hingga saat ini juga masih mengalir ke Indonesia.
Beralih ke faktor lainnya yang juga sangat berpengaruh, yakni harga minyak dunia. Saat ini, kita bisa tersenyum dengan pergerakan harga minyak yang masih stabil dalam beberapa bulan terakhir. Namun, kita juga harus siap mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga minyak dunia di tahun 2007 ini.
Hingga saat ini, harga minyak dunia menunjukan tren melemah di kisaran level $55/barel. Pasalnya, sebuah data dari Amerika yang sekaligus merupakan negara dengan konsumsi minyak paling besar didunia, memiliki cadangan minyak yang meningkat dalam seminggu terakhir.
Tercatat pada hari kamis (04/01) cadangan minyak Amerika meningkat 2 juta barel dibandingkan hari yang sama minggu sebelumnya. Bahkan saat ini, stok bahan bakar bensin di Amerika lebih tinggi 1.5 juta barel dari Proyeksi Analis sebelumnya.
Melemahnya harga minyak tidak terlepas dari perubahan musim di Amerika. Namun, penurunan tersebut diperkirakan bersifat musiman. Spekulasi lain menyebutkan bahwa sejumlah manager hedge fund kembali mengurangi porsi kepemilikan minyak dalam investasinya, seiring dengan harga minyak dunia yang tak kunjung mengalami kenaikan.
Masalah yang paling nyata adalah langkah negara anggota OPEC yang akan mengurangi produksi minyaknya sebesar 500 ribu barel/hari terhitung mulai 1 Februari mendatang. Tekanan lain muncul dari Iran yang menolak resolusi dewan keamanan PBB terkait dengan program nuklir negara tersebut.
Iran merupakan negara penghasil minyak terbesar kedua di dunia. Sehingga, harga minyak dunia juga sangat ditentukan oleh perkembangan politik di Iran. Apabila Iran masih berada dibawah tekanan PBB, maka bisa diprediksikan Iran dapat membuat kebijakan dengan melakukan kontrol minyak (produksi/distribusi) yang lebih ketat terhadap negara yang dianggap sebagai musuh oleh Iran.
Terkait dengan hal tersebut, tentunya potensi kenaikan harga minyak dunia akan lebih besar lagi. Bahkan, banyak analis yang memperkirakan harga minyak masih berpotensi menembus angka $70/barel dalam tahun ini.
Kenaikan harga minyak tersebut nantinya akan memberikan tekanan terhadap pergerakan Indeks maupun Rupiah. Sejauh ini, pasar masih optimis bahwa IHSG masih akan bergeliat seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat.
Apabila mengandalkan faktor ekonomis dalam negeri, maka Rupiah dan IHSG sudah saatnya untuk kembali bangkit. Walaupun besarnya Inflasi tahun 2006 masih lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi, yang menunjukan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Namun demikian, bayang-bayang hitam dari luar negeri masih kerap meruntuhkan pasar dalam negeri walaupun terkadang hanya sesaat.
Wednesday, December 20, 2006
Negosiasi Mata Uang Yuan Cina
Medan Bisnis, 19 Desember 2006
Pada tahun 1998, Pemerintah Cina mematok nilai tukar Yuan di harga 8.28 per Dolar AS. Hal tersebut dikarenakan meroketnya laju pertumbuhan ekonomi China serta adanya tekanan dari negara Eropa dan Amerika
Namun laju pertumbuhan yang tinggi tersebut tidak dapat diimbangi dengan nilai tukar Yuan. Keadaaan tersebut memaksa Yuan kembali menguat sebanyak 5.5% di level 7.83 per US Dolar saat ini.
Pada pertengahan Bulan Desember ini, Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke beserta Menteri Keuangan Amerika Henry Paulson kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke Cina. Tujuan kunjungan tersebut tidak lain adalah untuk meminta Cina memberlakukan kebijakan mata uang yang lebih fleksibel.
Maksudnya, Cina diminta untuk membiarkan mata uang Yuan kembali menguat. Hal tersebut dipicu oleh membengkaknya defisit neraca perdagangan AS yang tak kunjung menunjukan penurunan signifikan. Terlebih lagi apabila harga minyak dunia kembali naik, maka defisit neraca perdagangan AS pun kembali membengkak.
Hingga saat ini, Cina merupakan negara penyumbang defisit terbesar Amerika yang selanjutnya diikuti oleh Jepang, Kanada dan Jerman. Maklum saja, apabila Amerika kembali menekan Cina untuk membiarkan mata uang Yuan menguat.
Dengan menguatnya mata uang Yuan, maka biaya impor negara Cina akan semakin kecil, namun, akan membuat produk ekspor Cina mengalami penurunan daya saing. Saat ini, ekspor Amerika ke China sebesar 4.6%, lebih kecil dari impor Amerika sebesar 14.5%.
Dengan begitu, Revaluasi mata uang Yuan diharapkan nantinya mampu mengurangi impor Amerika, sehingga mengurangi peredaran produk dari Cina di pasaran Amerika. Amerika dan sejumlah negara Eropa lainnya menuduh Cina telah melakukan kecurangan dengan tetap mempertahankan mata uang Yuan melemah.
Akan tetapi sejumlah hasil penelitian menunjukan bahwa tanpa Cina, Amerika juga akan tetap mengalami defisit neraca perdagangan dengan sejumlah negara mitra dagang Amerika lainnya. Namun, sebuah studi yang lain menunjukan angka defisit neraca perdagangan AS akan turun signifikan tanpa memperhitungkan defisit yang ditimbulkan dari Cina.
Mata uang Yuan Cina atau biasa disebut dengan renminbi masih berpotensi menguat signifikan terhadap US Dolar, walaupun seandainya Cina membiarkan pergerakan mata uangnya berdasarkan mekanisme pasar. Bahkan, sejumlah kalangan optimis Yuan akan menguat hingga diatas 15% dalam kurun waktu 2 tahun mendatang.
Namun, apakah benar dengan melemahnya mata uang Yuan, maka defisit neraca perdagangan AS akan berkurang. Sebuah studi yang dilakukan oleh The Cato Institute’s Center for Trade Policy Studies, menyimpulkan bahwa melemah/menguat nilai tukar mata uang suatu negara tidak akan berdampak langsung terhadap defisit/surplus neraca perdagangan negara tersebut.
Misalnya Kanada, yang mata uangnya sudah terapresiasi sebesar 23% sejak tahun 2002 hingga 2005. Namun, bagaimana dengan defisit neraca perdagangan Amerika terhadap Kanada?, Defisit Amerika kembali membengkak hingga 58% dari $48 Milyar menjadi $76 Milyar.
Jadi, kebijakan Amerika yang menekan Cina adalah sangat beresiko. Kalau sekiranya Amerika ingin membicarakan defisit neraca perdagangan, ada baiknya orang-orang Amerika dianjurkan untuk lebih banyak menabung daripada berbelanja atau konsumsi.
Pada tahun 1998, Pemerintah Cina mematok nilai tukar Yuan di harga 8.28 per Dolar AS. Hal tersebut dikarenakan meroketnya laju pertumbuhan ekonomi China serta adanya tekanan dari negara Eropa dan Amerika
Namun laju pertumbuhan yang tinggi tersebut tidak dapat diimbangi dengan nilai tukar Yuan. Keadaaan tersebut memaksa Yuan kembali menguat sebanyak 5.5% di level 7.83 per US Dolar saat ini.
Pada pertengahan Bulan Desember ini, Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke beserta Menteri Keuangan Amerika Henry Paulson kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke Cina. Tujuan kunjungan tersebut tidak lain adalah untuk meminta Cina memberlakukan kebijakan mata uang yang lebih fleksibel.
Maksudnya, Cina diminta untuk membiarkan mata uang Yuan kembali menguat. Hal tersebut dipicu oleh membengkaknya defisit neraca perdagangan AS yang tak kunjung menunjukan penurunan signifikan. Terlebih lagi apabila harga minyak dunia kembali naik, maka defisit neraca perdagangan AS pun kembali membengkak.
Hingga saat ini, Cina merupakan negara penyumbang defisit terbesar Amerika yang selanjutnya diikuti oleh Jepang, Kanada dan Jerman. Maklum saja, apabila Amerika kembali menekan Cina untuk membiarkan mata uang Yuan menguat.
Dengan menguatnya mata uang Yuan, maka biaya impor negara Cina akan semakin kecil, namun, akan membuat produk ekspor Cina mengalami penurunan daya saing. Saat ini, ekspor Amerika ke China sebesar 4.6%, lebih kecil dari impor Amerika sebesar 14.5%.
Dengan begitu, Revaluasi mata uang Yuan diharapkan nantinya mampu mengurangi impor Amerika, sehingga mengurangi peredaran produk dari Cina di pasaran Amerika. Amerika dan sejumlah negara Eropa lainnya menuduh Cina telah melakukan kecurangan dengan tetap mempertahankan mata uang Yuan melemah.
Akan tetapi sejumlah hasil penelitian menunjukan bahwa tanpa Cina, Amerika juga akan tetap mengalami defisit neraca perdagangan dengan sejumlah negara mitra dagang Amerika lainnya. Namun, sebuah studi yang lain menunjukan angka defisit neraca perdagangan AS akan turun signifikan tanpa memperhitungkan defisit yang ditimbulkan dari Cina.
Mata uang Yuan Cina atau biasa disebut dengan renminbi masih berpotensi menguat signifikan terhadap US Dolar, walaupun seandainya Cina membiarkan pergerakan mata uangnya berdasarkan mekanisme pasar. Bahkan, sejumlah kalangan optimis Yuan akan menguat hingga diatas 15% dalam kurun waktu 2 tahun mendatang.
Namun, apakah benar dengan melemahnya mata uang Yuan, maka defisit neraca perdagangan AS akan berkurang. Sebuah studi yang dilakukan oleh The Cato Institute’s Center for Trade Policy Studies, menyimpulkan bahwa melemah/menguat nilai tukar mata uang suatu negara tidak akan berdampak langsung terhadap defisit/surplus neraca perdagangan negara tersebut.
Misalnya Kanada, yang mata uangnya sudah terapresiasi sebesar 23% sejak tahun 2002 hingga 2005. Namun, bagaimana dengan defisit neraca perdagangan Amerika terhadap Kanada?, Defisit Amerika kembali membengkak hingga 58% dari $48 Milyar menjadi $76 Milyar.
Jadi, kebijakan Amerika yang menekan Cina adalah sangat beresiko. Kalau sekiranya Amerika ingin membicarakan defisit neraca perdagangan, ada baiknya orang-orang Amerika dianjurkan untuk lebih banyak menabung daripada berbelanja atau konsumsi.
Harga Emas Dunia Kembali Turun
Medan Bisnis, 18 Desember 2006
Menguatnya mata uang US Dolar membuat sejumlah manager hedge fund mengalihkan investasinya dari emas ke US Dolar. Hal tersebut berdampak pada melemahnya harga emas dunia. Padahal harga emas dunia sempat menyentuh level tertinggi di harga $649.50/troy ounce (01 Desember 2006). Level tersebut merupakan level tertinggi dari perdagangan 6 minggu sebelumnya.
Harga emas telah jatuh secara gradual seiring dengan aksi ambil untung para pemegang emas menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Aksi jual emas diperkirakan akan berlangsung hingga awal bulan Januari 2007 mendatang.
Sejumlah faktor lain, seperti naiknya harga minyak dunia di level $62/barel saat ini, diperkirakan tidak akan berpengaruh banyak pada harga emas. Hal ini dikarenakan perdagangan emas yang relatif sepi menjelang akhir tahun.
Pasar biasanya mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia dengan melakukan aksi beli emas untuk menghindari laju tekanan inflasi. Namun, dengan relatif sepinya pasar saat ini, harga emas diperkirakan akan bergerak stabil dengan kecenderung melemah.
Kalaupun harga emas nantinya turun signifikan, namun diperkirakan tidak akan jatuh hingga dibawah $610/troy ounce. Sejumlah analis memperkirakan aksi ambil untung saat ini tidak akan berlangsung lama seiring dengan semakin tingginya harga minyak dunia saat ini. Peluang naiknya harga emas masih terbuka lebar.
Harga Minyak Dunia
Sementara itu, harga minyak dunia mulai merangkak naik seiring dengan langkah negara anggota OPEC (Organisation of Petrolium Exporting Countries) yang akan kembali menurunkan produksinya mulai bulan Februari mendatang.
Melonjaknya harga minyak dunia saat ini juga tidak terlepas dari meningkatnya permintaan minyak di Amerika seiring dengan musim dingin di negara tersebut. Meski demikian permintaan tersebut nantinya hanya akan bersifat sementara, karena meningkatnya kebutuhan akan minyak lebih bersifat musiman.
Namun, bukan berarti ada jaminan bahwa harga minyak dunia akan kembali turun. Sejauh ini, sentimen yang datang lebih dikarenakan adanya penurunan produksi serta meningkatnya permintaan di sejumlah negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat seperti China dan India.
Kenaikan harga minyak nantinya juga akan membuat sejumlah mata uang terutama US Dolar kembali melemah. Selain itu, dengan semakin pesatnya laju pertumbuhan suatu negara akan membuat sejumlah harga komoditas logam kembali naik. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan logam.
Sehingga, kemungkinan di tahun 2007 adalah bahwa naiknya harga minyak dunia akan diiringi dengan naiknya harga barang komoditas dari logam seperti emas dan platina. Bahkan, sejumlah analis memperkirakan harga emas berpotensi menembus level $650/troy ounce tahun depan. Hal tersebut nantinya akan berpengaruh bagi kenaikan harga emas di dalam negeri.
Menguatnya mata uang US Dolar membuat sejumlah manager hedge fund mengalihkan investasinya dari emas ke US Dolar. Hal tersebut berdampak pada melemahnya harga emas dunia. Padahal harga emas dunia sempat menyentuh level tertinggi di harga $649.50/troy ounce (01 Desember 2006). Level tersebut merupakan level tertinggi dari perdagangan 6 minggu sebelumnya.
Harga emas telah jatuh secara gradual seiring dengan aksi ambil untung para pemegang emas menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Aksi jual emas diperkirakan akan berlangsung hingga awal bulan Januari 2007 mendatang.
Sejumlah faktor lain, seperti naiknya harga minyak dunia di level $62/barel saat ini, diperkirakan tidak akan berpengaruh banyak pada harga emas. Hal ini dikarenakan perdagangan emas yang relatif sepi menjelang akhir tahun.
Pasar biasanya mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia dengan melakukan aksi beli emas untuk menghindari laju tekanan inflasi. Namun, dengan relatif sepinya pasar saat ini, harga emas diperkirakan akan bergerak stabil dengan kecenderung melemah.
Kalaupun harga emas nantinya turun signifikan, namun diperkirakan tidak akan jatuh hingga dibawah $610/troy ounce. Sejumlah analis memperkirakan aksi ambil untung saat ini tidak akan berlangsung lama seiring dengan semakin tingginya harga minyak dunia saat ini. Peluang naiknya harga emas masih terbuka lebar.
Harga Minyak Dunia
Sementara itu, harga minyak dunia mulai merangkak naik seiring dengan langkah negara anggota OPEC (Organisation of Petrolium Exporting Countries) yang akan kembali menurunkan produksinya mulai bulan Februari mendatang.
Melonjaknya harga minyak dunia saat ini juga tidak terlepas dari meningkatnya permintaan minyak di Amerika seiring dengan musim dingin di negara tersebut. Meski demikian permintaan tersebut nantinya hanya akan bersifat sementara, karena meningkatnya kebutuhan akan minyak lebih bersifat musiman.
Namun, bukan berarti ada jaminan bahwa harga minyak dunia akan kembali turun. Sejauh ini, sentimen yang datang lebih dikarenakan adanya penurunan produksi serta meningkatnya permintaan di sejumlah negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat seperti China dan India.
Kenaikan harga minyak nantinya juga akan membuat sejumlah mata uang terutama US Dolar kembali melemah. Selain itu, dengan semakin pesatnya laju pertumbuhan suatu negara akan membuat sejumlah harga komoditas logam kembali naik. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan logam.
Sehingga, kemungkinan di tahun 2007 adalah bahwa naiknya harga minyak dunia akan diiringi dengan naiknya harga barang komoditas dari logam seperti emas dan platina. Bahkan, sejumlah analis memperkirakan harga emas berpotensi menembus level $650/troy ounce tahun depan. Hal tersebut nantinya akan berpengaruh bagi kenaikan harga emas di dalam negeri.
Monday, December 11, 2006
Ekonomi AS Memburuk, US Dolar Terpuruk
Medan Bisnis, 11 Desember 2006
Bank Sentral AS atau yang biasa disebut The FED masih optimis mengenai prospek perekonomian Amerika kedepan, meskipun tanda-tanda melemahnya sektor perumahan di AS semakin jelas.
Sektor perumahan yang merupakan andalan negeri Paman Sam tersebut merupakan indikator utama ekonomi yang sangat berpengaruh bagi pergerakan US Dolar maupun data-data perekonomian Amerika lainnya.
US Dolar sendiri terpantau melemah terhadap mata uang Euro bersamaan dengan liburnya market Amerika yang merayakan Thanks Giving Day (24/11). Meskipun pada saat itu tidak ada data perekonomian AS yang dirilis, namun pergerakan pasar sangat berfluktuasi dan membawa Euro menguat hingga ke level 1.31 terhadap US Dolar untuk pertama kalinya sejak April 2005.
Melemahnya US Dollar tidak terlepas dari akumulasi serangkaian perkembangan negatif dalam beberapa pekan sebelumnya. Selain itu, isu diversifikasi cadangan devisa bank-bank sentral turut memberikan kontribusi negatif bagi pergerakan US Dolar.
Bahkan, Wakil Gubernur Bank Sentral China (PboC) Wu Xiaoling dalam sebuah artikelnya menyatakan bahwa sejumlah negara di Asia berpotensi mendapatkan kerugian dari terdepresiasinya mata uang US Dolar, mengingat porsi US Dolar dalam cadangan devisa sangat mendominasi.
Kembali ke fundamental ekonomi AS, 5 dari 10 data yang menyusun indeks sektor manufaktur ISM (Institute for Supply Management) Amerika mencatatkan penurunan. Indeks yang menunjukan kondisi sektor manufaktur nasional AS tersebut untuk bulan November mengalami penurunan hingga dibawah angka 50 sejak April 2003.
Terkait dengan hal tersebut US Dolar kembali tumbang, bahkan spekulasi yang berkembang menyebutkan bahwa Bank Sentral AS akan memotong suku bunganya (The FED Fund Rate) pada awal tahun 2007 mendatang.
Berbeda dengan ISM di sektor manufaktur, ISM di sektor jasa Amerika yang semula diprediksi turun ternyata mengalami kenaikan. US Dolar sempat terkoreksi akibat spekulasi yang berkembang sebelumnya. Indeks sektor jasa ISM selama bulan November naik menjadi 58.9 dari bulan sebelumnya sebesar 57.1. padahal spekulasi yang berkembang sebelumnya menyebutkan bahwa ISM Services akan turun dikisaran angka 55.5.
Mengingat sektor jasa menguasi lebih kurang 70% perekonomian Amerika, menguatnya data tersebut berhasil menahan laju pelemahan US Dolar serta kembali menumbuhkan ekspektasi bahwa Bank Sentral AS tidak akan memotong suku bunganya di tahun 2007 mendatang.
Terkait dengan hal itu, Euro melemah terhadap US Dolar hingga dikisaran harga 1.3286/US Dolar (05/12). Namun solidnya data perekonomian di Zona Euro khususnya PMI sektor jasa serta Retail Sales yang naik diluar perkiraan sebelumnya, turut menahan laju pelemahan mata uang Euro. Terhadap Poundsterling, US Dolar kembali menguat 0.3% di level 1.9730 dari level pembukaan.
Terhadap Yen, US Dolar juga menguat sekitar 0.5%. namun, US Dolar sempat terpuruk sebelumnya di level 114.40 seiring dengan pernyataan yang dilontarkan Atsushi Mizuno anggota dewan Bank Sentral Jepang (BoJ) yang mengatakan salah apabila BoJ diasumsikan akan menaikan suku bunga hingga semua data perekonomian menunjukan peningkatan.
Terlepas dari semua itu, US Dolar saat ini kembali menguat terhadap mata uang dunia pada perdagangan akhir minggu kemarin (08/12). Terhadap Euro, US Dolar diperdagangkan di level 1.3196, atau menguat 0.6% dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level 1.3290.
Terhadap GBP, US Dolar menguat 0.5% di level 1.9540 dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level 1.9641. Terhadap Yen Jepang US Dolar menguat di level 116.29 dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level 115.19.
Apa gerangan yang membuat US Dolar kembali menguat terhadap rivalnya. Tak lain adalah membaiknya data Non-Farm Payrolls AS yang menunjukan adanya peningkatan. Non-Farm Payrolls adalah data yang menunjukan jumlah tenaga kerja baru di luar sektor pertanian baik yang bekerja Full-Time maupun Part-Time.
Data yang dirilis akhir minggu kemarin, menunjukan bahwa perekonomian Amerika masih berada di “jalur hijau” meskipun indikator ekonomi lainnya di sektor perumahan dan manufaktur mengalami penurunan.
Selama bulan November jumlah tenaga kerja baru yang terserap sebanyak 132.000 jiwa dari rata-rata bulan sebelumnya yang berkisar 79.000 jiwa. Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah Retail, Restoran serta Perusahaan penyedia jasa kesehatan.
Terkait dengan data tersebut, Spekulasi mengenai penurunan suku bunga US Dolar mulai berguguran. Selain itu, asumsi yang menyebutkan bahwa perekonomian AS mendekati masa resesi juga mulai hilang.
Sejauh ini laju Inflasi di AS belum berada dalam taraf yang mengkhawatirkan. Namun, dengan melemahnya sejumlah data perekonomian AS, diperkirakan Gross Domestic Product (GDP) untuk kuartal 4 2006 berpotensi mencatatkan angka realisasi yang lebih kecil dari kuartal ke 3 yang sebesar 2.2%.
Bank Sentral AS atau yang biasa disebut The FED masih optimis mengenai prospek perekonomian Amerika kedepan, meskipun tanda-tanda melemahnya sektor perumahan di AS semakin jelas.
Sektor perumahan yang merupakan andalan negeri Paman Sam tersebut merupakan indikator utama ekonomi yang sangat berpengaruh bagi pergerakan US Dolar maupun data-data perekonomian Amerika lainnya.
US Dolar sendiri terpantau melemah terhadap mata uang Euro bersamaan dengan liburnya market Amerika yang merayakan Thanks Giving Day (24/11). Meskipun pada saat itu tidak ada data perekonomian AS yang dirilis, namun pergerakan pasar sangat berfluktuasi dan membawa Euro menguat hingga ke level 1.31 terhadap US Dolar untuk pertama kalinya sejak April 2005.
Melemahnya US Dollar tidak terlepas dari akumulasi serangkaian perkembangan negatif dalam beberapa pekan sebelumnya. Selain itu, isu diversifikasi cadangan devisa bank-bank sentral turut memberikan kontribusi negatif bagi pergerakan US Dolar.
Bahkan, Wakil Gubernur Bank Sentral China (PboC) Wu Xiaoling dalam sebuah artikelnya menyatakan bahwa sejumlah negara di Asia berpotensi mendapatkan kerugian dari terdepresiasinya mata uang US Dolar, mengingat porsi US Dolar dalam cadangan devisa sangat mendominasi.
Kembali ke fundamental ekonomi AS, 5 dari 10 data yang menyusun indeks sektor manufaktur ISM (Institute for Supply Management) Amerika mencatatkan penurunan. Indeks yang menunjukan kondisi sektor manufaktur nasional AS tersebut untuk bulan November mengalami penurunan hingga dibawah angka 50 sejak April 2003.
Terkait dengan hal tersebut US Dolar kembali tumbang, bahkan spekulasi yang berkembang menyebutkan bahwa Bank Sentral AS akan memotong suku bunganya (The FED Fund Rate) pada awal tahun 2007 mendatang.
Berbeda dengan ISM di sektor manufaktur, ISM di sektor jasa Amerika yang semula diprediksi turun ternyata mengalami kenaikan. US Dolar sempat terkoreksi akibat spekulasi yang berkembang sebelumnya. Indeks sektor jasa ISM selama bulan November naik menjadi 58.9 dari bulan sebelumnya sebesar 57.1. padahal spekulasi yang berkembang sebelumnya menyebutkan bahwa ISM Services akan turun dikisaran angka 55.5.
Mengingat sektor jasa menguasi lebih kurang 70% perekonomian Amerika, menguatnya data tersebut berhasil menahan laju pelemahan US Dolar serta kembali menumbuhkan ekspektasi bahwa Bank Sentral AS tidak akan memotong suku bunganya di tahun 2007 mendatang.
Terkait dengan hal itu, Euro melemah terhadap US Dolar hingga dikisaran harga 1.3286/US Dolar (05/12). Namun solidnya data perekonomian di Zona Euro khususnya PMI sektor jasa serta Retail Sales yang naik diluar perkiraan sebelumnya, turut menahan laju pelemahan mata uang Euro. Terhadap Poundsterling, US Dolar kembali menguat 0.3% di level 1.9730 dari level pembukaan.
Terhadap Yen, US Dolar juga menguat sekitar 0.5%. namun, US Dolar sempat terpuruk sebelumnya di level 114.40 seiring dengan pernyataan yang dilontarkan Atsushi Mizuno anggota dewan Bank Sentral Jepang (BoJ) yang mengatakan salah apabila BoJ diasumsikan akan menaikan suku bunga hingga semua data perekonomian menunjukan peningkatan.
Terlepas dari semua itu, US Dolar saat ini kembali menguat terhadap mata uang dunia pada perdagangan akhir minggu kemarin (08/12). Terhadap Euro, US Dolar diperdagangkan di level 1.3196, atau menguat 0.6% dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level 1.3290.
Terhadap GBP, US Dolar menguat 0.5% di level 1.9540 dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level 1.9641. Terhadap Yen Jepang US Dolar menguat di level 116.29 dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level 115.19.
Apa gerangan yang membuat US Dolar kembali menguat terhadap rivalnya. Tak lain adalah membaiknya data Non-Farm Payrolls AS yang menunjukan adanya peningkatan. Non-Farm Payrolls adalah data yang menunjukan jumlah tenaga kerja baru di luar sektor pertanian baik yang bekerja Full-Time maupun Part-Time.
Data yang dirilis akhir minggu kemarin, menunjukan bahwa perekonomian Amerika masih berada di “jalur hijau” meskipun indikator ekonomi lainnya di sektor perumahan dan manufaktur mengalami penurunan.
Selama bulan November jumlah tenaga kerja baru yang terserap sebanyak 132.000 jiwa dari rata-rata bulan sebelumnya yang berkisar 79.000 jiwa. Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah Retail, Restoran serta Perusahaan penyedia jasa kesehatan.
Terkait dengan data tersebut, Spekulasi mengenai penurunan suku bunga US Dolar mulai berguguran. Selain itu, asumsi yang menyebutkan bahwa perekonomian AS mendekati masa resesi juga mulai hilang.
Sejauh ini laju Inflasi di AS belum berada dalam taraf yang mengkhawatirkan. Namun, dengan melemahnya sejumlah data perekonomian AS, diperkirakan Gross Domestic Product (GDP) untuk kuartal 4 2006 berpotensi mencatatkan angka realisasi yang lebih kecil dari kuartal ke 3 yang sebesar 2.2%.
Monday, December 04, 2006
Konsolidasi Pasar Menjelang Rapat Dewan Gubernur BI
Medan Bisnis, 04 Desember 2006
Setelah sempat terkoreksi tajam (37 poin) pada perdagangan hari selasa, IHSG akhirnya kembali menguat pada sesi perdagangan akhir minggu kemarin. Penguatan IHSG terdorong oleh menguatnya indeks bursa regional yang turut diiringi dengan ekspektasi penurunan suku bunga Rupiah.
Selain itu, pelemahan IHSG pada saat itu hanya bersifat teknikal, dimana pelaku pasar merealisasikan keuntungan dengan memamfaatkan penguatan IHSG sebelumnya. Namun, kejatuhan IHSG tersebut malah menyulut keyakinan bahwa IHSG masih akan kembali naik lagi. Aksi beli saham unggulan pun kembali meriah.
Bagaimana dengan Rupiah?, Rupiah sendiri masih relatif stabil kendati memiliki kecenderungan melemah selama sesi perdagangan minggu kemarin. Melemahnya mata uang US Dollar di pasar Global tidak membuat mata uang Rupiah bergerak menguat.
Hal tersebut dapat dimaklumi, karena sebagian pelaku pasar khususnya investor asing kembali mengkonversi Rupiah yang dimiliki dalam SBI (Sertifikat Bank Indonesia) maupun bentuk investasi lain ke mata uang US Dollar. Ekspektasi melemahnya laju tekanan inflasi serta spekulasi penurunan BI Rate diperkirakan menjadi pemicunya.
Akan tetapi, memburuknya kinerja Rupiah selama minggu kemarin tidak terlepas dari permintaan US Dollar oleh korporasi menjelang akhir bulan. Apalagi kalau jumlah permintaan tersebut dikaitkan dengan perayaan keagamaan selama bulan Desember dan menjelang tahun baru, tentunya kebutuhan akan US Dollar juga relatif lebih banyak.
Pergerakan Rupiah dan IHSG kedepan akan sangat bergantung pada keputusan BI dalam menentukan BI rate. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada tanggal 07 Desember mendatang, BI diperkirakan akan kembali memotong BI Rate seiring dengan melemahnya laju tekanan inflasi.
Selama bulan November laju inflasi hanya sebesar 0.34%, turun dari bulan sebelumnya sebesar 0.86%. Data tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai arah pergerakan suku bunga nantinya.
Sejauh ini, ekspektasi penurunan suku bunga telah memberikan tekanan terhadap pergerakan Rupiah, namun disisi lain, ekspektasi penurunan suku bunga telah membawa IHSG kembali naik secara signifikan.
Pasar sepertinya sudah mulai mengantisipasi penurunan BI rate sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Apabila keadaan ini dibiarkan maka Rupiah berpotensi untuk kembali terkoreksi secara tajam. Tentunya Bank Indonesia menjadi tumpuan harapan agar laju pelemahan Rupiah terhenti.
Dengan beberapa asumsi pasar yang spekulatif, sangat mungkin Rupiah diperdagangkan dalam range yang cukup lebar. Walaupun US Dollar masih menunjukan tren pelemahan terhadap mata uang dunia, namun hal tersebut tidak menjadi jaminan Rupiah akan menguat terhadap US Dollar.
Sejauh ini, suku bunga diperkirakan akan kembali dipotong sebesar 50 basis poin. Namun, dengan mulai bergejolaknya nilai tukar Rupiah saat ini, tidak menutup kemungkinan BI akan memperkecil penurunan suku bunga, sebesar 25 basis poin.
Setelah sempat terkoreksi tajam (37 poin) pada perdagangan hari selasa, IHSG akhirnya kembali menguat pada sesi perdagangan akhir minggu kemarin. Penguatan IHSG terdorong oleh menguatnya indeks bursa regional yang turut diiringi dengan ekspektasi penurunan suku bunga Rupiah.
Selain itu, pelemahan IHSG pada saat itu hanya bersifat teknikal, dimana pelaku pasar merealisasikan keuntungan dengan memamfaatkan penguatan IHSG sebelumnya. Namun, kejatuhan IHSG tersebut malah menyulut keyakinan bahwa IHSG masih akan kembali naik lagi. Aksi beli saham unggulan pun kembali meriah.
Bagaimana dengan Rupiah?, Rupiah sendiri masih relatif stabil kendati memiliki kecenderungan melemah selama sesi perdagangan minggu kemarin. Melemahnya mata uang US Dollar di pasar Global tidak membuat mata uang Rupiah bergerak menguat.
Hal tersebut dapat dimaklumi, karena sebagian pelaku pasar khususnya investor asing kembali mengkonversi Rupiah yang dimiliki dalam SBI (Sertifikat Bank Indonesia) maupun bentuk investasi lain ke mata uang US Dollar. Ekspektasi melemahnya laju tekanan inflasi serta spekulasi penurunan BI Rate diperkirakan menjadi pemicunya.
Akan tetapi, memburuknya kinerja Rupiah selama minggu kemarin tidak terlepas dari permintaan US Dollar oleh korporasi menjelang akhir bulan. Apalagi kalau jumlah permintaan tersebut dikaitkan dengan perayaan keagamaan selama bulan Desember dan menjelang tahun baru, tentunya kebutuhan akan US Dollar juga relatif lebih banyak.
Pergerakan Rupiah dan IHSG kedepan akan sangat bergantung pada keputusan BI dalam menentukan BI rate. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada tanggal 07 Desember mendatang, BI diperkirakan akan kembali memotong BI Rate seiring dengan melemahnya laju tekanan inflasi.
Selama bulan November laju inflasi hanya sebesar 0.34%, turun dari bulan sebelumnya sebesar 0.86%. Data tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai arah pergerakan suku bunga nantinya.
Sejauh ini, ekspektasi penurunan suku bunga telah memberikan tekanan terhadap pergerakan Rupiah, namun disisi lain, ekspektasi penurunan suku bunga telah membawa IHSG kembali naik secara signifikan.
Pasar sepertinya sudah mulai mengantisipasi penurunan BI rate sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Apabila keadaan ini dibiarkan maka Rupiah berpotensi untuk kembali terkoreksi secara tajam. Tentunya Bank Indonesia menjadi tumpuan harapan agar laju pelemahan Rupiah terhenti.
Dengan beberapa asumsi pasar yang spekulatif, sangat mungkin Rupiah diperdagangkan dalam range yang cukup lebar. Walaupun US Dollar masih menunjukan tren pelemahan terhadap mata uang dunia, namun hal tersebut tidak menjadi jaminan Rupiah akan menguat terhadap US Dollar.
Sejauh ini, suku bunga diperkirakan akan kembali dipotong sebesar 50 basis poin. Namun, dengan mulai bergejolaknya nilai tukar Rupiah saat ini, tidak menutup kemungkinan BI akan memperkecil penurunan suku bunga, sebesar 25 basis poin.
Subscribe to:
Posts (Atom)