Sunday, June 22, 2008

Harga Minyak di Tahun 2009

Medan Bisnis, 16 Juni 2008
Pemerintah melalui Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzeta kembali menjamin bahwa tidak akan terjadi kenaikan harga minyak di tahun 2009. Pernyataan tersebut dilontarkan seiring dengan asumsi pemerintah bahwa harga minyak akan menjadi hal yang sangat sensitif karena bersamaan dengan pelaksanaan pemilihan umum.

Kalau selama tahun 2008, pemerintah sangat direpotkan dengan lonjakan harga minyak yang bergerak liar. Maka pada tahun 2009, kalaupun ada lonjakan harga minyak kembali, pemerintah sepertinya lebih memilih untuk membebankan pada APBN, karena agenda pemerintah masih akan terfokus pada pemilu.

Minyak memang merupakan masalah sensitif karena mampu merubah pandangan masyarakat terhadap efektifitas kinerja pemerintah yang berkuasa. Meskipun kepercayaan publik saat ini terhadap pemerintah mulai menurun, namun setidaknya tidak ada opini yang lebih buruk lagi di masa yang akan datang. Menaikkan harga minyak baru-baru ini dinilai mampu mengurangi beban APBN dan bermanfaat untuk kembali menumbuhkan kepercayaan masyarakat hingga menjelang pemilu yang akan datang.

Namun, sayangnya pemerintah hanya mematok asumsi harga minyak di level $120/barel. Padahal harga minyak mentah dunia saat ini bergerak mendekati level $140/barel. Yang lebih parah lagi asumsi tersebut juga akan dipakai pada tahun 2009. Padahal dalam tahun ini saja harga minyak tetap berpotensi untuk naik lebih tajam lagi dan bahkan ada yang berani memproyeksikan hingga ke level $200/barel.

Sehingga asumsi harga minyak pemerintah saat ini dinilai tidak realistis karena terlalu dini diputuskan. Dan tidak mempertimbangkan aspek volatilitasnya. Meskipun negara anggota OPEC berpendapat bahwa harga minyak dunia kemungkinan akan turun seiring dengan sepinya permintaan, bukan berarti bahwa harga minyak memiliki kecenderungan untuk kembali turun.
Memang pertumbuhan di AS dan Eropa saat ini menunjukan adanya pelemahan. Sehingga berpotensi menjadi pemicu sepinya permintaan akan minyak. Akan tetapi bukan berarti bahwa harga minyak tidak akan kembali naik. Minyak merupakan komoditas yang diperdagangkan, harganya bergantung pada mekanisme pasar.

Permintaan akan minyak bukan hanya disebabkan oleh faktor pertumbuhan di setiap negara. Tapi, lebih dari itu, pergerakan harga minyak juga disebabkan oleh peralihan minat investasi. Dimana para investor sangat bergantung pada investasi yang memberikan imbal hasil yang lebih baik.

Kalau saat ini, banyak negara yang mematok suku bunga cukup rendah. Maka minyak memberikan imbal hasil yang cukup baik karena menjadi komoditas yang menurut banyak pakar mulai sedikit jumlahnya (minyak bumi). Semakin sedikit maka harganyapun akan semakin mahal. Sementara, proses peralihan ke sumber energi baru seperti biofuel juga belum memberikan dampak yang cukup signifikan.

Hingga saat ini kontroversi mengenai apa penyebab kenaikan harga minyak belum terlihat dengan jelas. International Monetery Fund (IMF) juga masih terus mengkaji penyebab lonjakan harga minyak pada saat ini. Sementara itu agenda para menteri keuangan Group 8 (G8) juga masih akan mengangkat minyak menjadi topik pertemuan di Osaka Jepang.

Menghadapi permasalahan tersebut, APBN dituntut untuk lebih fleksibel terhadap volatilitas harga minyak. Asumsi pemerintah yang telah dilontarkan pada saat ini sangat tidak relevan dengan menggambarkan keadaan di masa yang akan datang. Janji yang dikeluarkan pemerintah bersifat politis dan justru akan berdampak negatif terhadap pandangan masyarakat pada umumnya.

Secara historis, pemerintah memang kurang kredibel dalam menentukan besaran harga minyak. Hampir semua asumsi tentang harga minyak meleset dan berujung pada kenaikan harga BBM. Kalaupun ada kebijakan alternatif lainnya, pemerintah justru hanya mampu memformulasikan dan mengalami kesulitan pada tahap implementasinya.

Sehingga jangan terpaku dan merasa aman dengan statement yang telah dilontarkan. karena pemerintah berasumsi pada kondisi yang terjadi saat ini. Pemerintah memprediksikan berdasarkan harga pada saat ini, bukan memprediksikan besaran harga yang terjadi di masa yang akan datang. Sehingga tidak ada jaminan bahwa harga minyak tidak akan naik di tahun 2009 nanti.

Rupiah Kembali Tertekan Akibat Melonjaknya Harga Minyak

Medan Bisnis, 9 Juni 2008
Bank Indonesia yang kembali menaikan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 basis poin, sempat menahan mata uang Rupiah terpuruk seiring dengan melemahnya mata uang regional Asia. Keputusan tersebut diambil setelah terjadi kenaikan haraga minyak dalam negeri yang bertujuan untuk meredam laju tekanan inflasi.

Namun keputusan tersebut tidak menjadi efektif, setelah harga minyak dunia kembali menguat (naik) di harga rata-rata sebesar $128/barel. Kenaikan harga minyak tersebut dipicu oleh menguatnya mata uang Euro terhadap US Dolar. Melemahnya US Dolar sendiri terkait dengan memburuknya data perekonomian AS, serta pernyataan pejabat Bank Sentral Eropa yang akan menaikan kembali besaran suku bunga ECB (European Central Bank) pada bulan Juli mendatang.

Kebijakan ECB tersebut dimaksudkan guna meredam inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia. Beberapa bank sentral lain seperti BOE (Bank of England) juga akan mempergunakan suku bunga tinggi guna meredam gejolak harga yang diakibatkan oleh fluktuasi harga minyak yang cukup tajam.

Mata uang Euro yang menguat cukup signifikan akibat berbagai isu dipasar keuangan diyakini akan terus menguat bahkan dalam jangka panjang. Selain dikarenakan faktor tren kenaikan suku bunga, penguatan Euro juga didukung oleh pengendalian inflasi yang cukup efektif serta pertumbuhan ekonomi di Negara kawasan eropa yang masih solid.

Apabila terus terjadi penguatan mata uang Euro, maka bisa dipastikan akan ada cukup alasan buat harga minyak untuk terus bergerak menguat. Selama penguatan itu terjadi maka akan berdampak pada peningkatan tekanan terhadap mata uang Rupiah yang memang masih rapuh apabila dilihat dari sisi fundamentalnya.

Permasalahan yang sangat mendasar dalam beberapa waktu kedepan adalah permasalahan inflasi akibat kenaikan bahan bakar. Meskipun kenaikan bahan bakar telah membuat banyak Negara melakukan efisiensi penggunaan BBM. Namun dampak dari kenaikan BBM yang telah memicu inflasi, dan membuat minyak menjadi investasi yang menggairahkan dimata para investor.

Hal tersebut memang terbukti, selama kenaikan harga minyak bulan Mei cadangan minyak di AS terus mengalami peningkatan dan sempat membuat harga minyak melemah atau turun. Namun diversifikasi investasi sepertinya lebih banyak berpengaruh bagi melonjaknya harga minyak, meskipun telah terjadi penurunan konsumsi di berbagai Negara di belahan dunia.
Hal ini juga menunjukan bahwa harga minyak sangat rentan dengan ulah spekulasi yang akan berdampak pada memburuknya kinerja mata uang Rupiah. Sehingga upaya yang dilakukan bisa saja menjadi tidak berguna terlebih apabila sudah menggunakan asumsi bahwa harga minyak akan terkendali apabila stok juga memadai.

Stok tidaklah cukup, namun kebijakan untuk tetap mempertahankan suku bunga tinggi diperkirakan mampu menahan kenaikan harga minyak yang lebih ekstrim. Negara kita yang masih membutuhkan upaya pemenuhan kebutuhan dengan mengimpor minyak akan tetap berpotensi menjadi sentimen negatif dalam jangka panjang. Pergerakan rupiah pun akan mengikuti pola pergerakan harga minyak.

Dimana apabila terjadi kenaikan harga minyak maka Rupiah akan berjalan sebaliknya. Kalaupun tidak, pergerakan Rupiah akan terus dipertahankan meskipun harus kembali menaikan harga BBM dalam negeri serta menaikan suku bunga acuan atau BI rate.

Pemasalahannya adalah sampai kapan kebijakan tersebut akan terus dijalankan. Penyelesaian permasalahan yang fundamental seperti peningkatan produksi minyak yang juga belum terealisasi. Bahkan terkesan sebagai wacana karena yang terjadi malah sebaliknya. Kebijakan Boediono sebagai Gubernur BI yang mengendalikan inflasi cukup efektif.

Namun, efek negatif dari kebijakan tersebut tetaplah ada. Jadi apabila kita melihat, kebijakan BI sepertinya akan terus menaikan suku bunga dan melakukan penyelamatan Rupiah apabila melihat ada kemungkinan kenaikan inflasi, seperti yang diakibatkan oleh kenaikan minyak baru-baru ini. Sehingga kebijakan pemerintah lebih bersifat defensive.

Friday, June 20, 2008

Jangan Banyak Berharap Pada Pertumbuhan

Medan Bisnis, 2 Juni 2008

Kenaikan BBM beberapa waktu lalu yang turut dibarengi dengan kenaikan BBM untuk industri per 1 Juni 2008 akan memberikan bobot pada peningkatan tekanan terhadap laju inflasi. Hampir semua Negara di dunia pada saat ini mengalami laju tekanan inflasi yang sangat kuat yang membuat roda perekonomian mengalami overheating (kepanasan).

Laju tekanan inflasi di Negara kawasan Asia yang masih bergerak liar, membuat banyak Bank Sentral di Asia lebih fokus terhadap pengendalian harga/inflasi dibandingkan dengan memikirkan permasalahan sosial seperti pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Harga minyak dunia yang terus menggila membuat Negara tetangga kita Vietnam terjepit dengan rata-rata kenaikan harga barang sebesar 25%.

Laju pertumbuhan Negara di Asia juga dipangkas menjadi sekitar 7%. Padahal Asia saat ini merupakan Negara yang memberikan kontribusi paling besar terhadap laju pertumbuhan ekonomi Dunia. Dengan melemahnya daya beli di AS, Asia diharapkan menjadi Negara yang mampu menjadi penyeimbang karena tingginya pertumbuhan di China (11%) serta di India (8,7%).

Namun, kondisi tersebut sangat berbeda saat ini. Negara-negara di kawasan Asia terjebak dengan tingginya inflasi namun tidak ada tanda adanya pertumbuhan (stagflasi). Negara yang lebih mengandalkan ekspor terlebih ekspor ke AS akan menjadi sangat terbebani karena rendahnya daya beli masyarakat di Amerika. Dengan laju pertumbuhan ekonomi AS rata-rata dibawah 2%, maka Negara yang menjadikan AS sebagai tujuan utama ekspor akan mengalami kontraksi di negaranya sendiri.

Kondisi yang demikian akan membuat banyak Negara mengalihkan ekspornya ke Negara lain, salah satunya adalah Negara di kawasan Asia. Namun, apakah Asia akan tetap diminati?, tentunya tetap karena masih memberikan pertumbuhan lebih tinggi. Namun, apabila inflasi terus menggerogoti daya beli, maka popularitas Asia sebagai Negara tujuan ekspor akan terus memudar.

Termasuk juga Indonesia. Negara ini juga tidak terlepas dari jebakan resesi dunia. Kenaikan inflasi akibat kenaikan harga BBM membawa negeri ini untuk kembali memberlakukan kebijakan uang ketat atau suku bunga kredit tinggi. Tekanan inflasi akan semakin memburuk tatkala pemerintah telah menaikan harga BBM Industri.

Dengan kenaikan tersebut maka biaya operasional industri akan cenderung meningkat dan akan membuat produk dari industri tersebut semakin mahal. Inflasi akan bergerak seiring dengan pergerakan produk tersebut selama dalam proses distribusi ke pengguna akhir. Bayangkan apabila proses distribusi tersebut di lakukan dengan biaya harga BBM yang mahal, tentunya akan berdampak pada meningkatnya harga jual barang tersebut. Semakin jauh barang tersebut di distribusikan maka semakin mahal pula harganya.

Dampak yang dapat dirasakan adalah apabila produk yang telah dipasarkan tersebut ternyata tidak terjual di pasaran. Misal dikarenakan terlalu mahal atau diluar kemampuan konsumen untuk membelinya. Sehingga akan mengurangi omzet dari perusahaan. Jelas apabila terjadi penurunan pendapatan maka perusahaan akan melakukan rasionalisasi termasuk melakukan PHK.

Disini sangat jelas sekali, bahwa kenaikan BBM akan menambah jumlah pengangguran dan orang miskin. Pengendalian inflasi/harga yang dilakukan pemerintah pada saat ini hanya akan berdampak pada pasar keuangan. Karena pengendalian inflasi biasanya dilakukan dengan cara menaikan suku bunga guna menambah cadangan Bank Sentral (BI).


Cara yang dilakukan oleh BI pun hanya akan menambah jumlah uang panas, yang lebih bersifat jangka pendek. Sementara itu ruang lingkup pertumbuhan ekonomi kian mengecil. Sehingga selama pemerintah masih mengatakan bahwa pentingnya pengendalian harga/inflasi, maka selama itu pula kita jangan terlalu berharap adanya pertumbuhan ekonomi yang akan merubah nasib kita menjadi lebih baik.

Sunday, June 01, 2008

Dampak Kenaikan BBM

Medan Bisnis, 26 May 2008

Pemerintah telah memutuskan untuk menaikan harga BBM rata-rata sebesar 28.7%. Keputusan tersebut diambil guna mengamankan APBN serta menyelamatkan program-program sosial pemerintah. Kompensasi dari kenaikan tersebut adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Pertanyaan yang kerap muncul adalah sejauh mana BLT mampu memperbaiki daya beli masyarakat yang kian merosot?. Ditengah tingginya inflasi akibat kenaikan BBM, BLT hanya akan bersifat mempertahankan daya beli.

Para penerima BLT tidak semuanya akan terlindungi dari kenaikan harga barang akibat melambungnya harga BBM. Bagi para penerima BLT yang bekerja diluar sektor pertanian seperti jasa (tukang becak, ojek, maupun buruh), akan sangat merasakan dampaknya dibandingkan dengan mereka yang mengandalkan sektor pertanian dan penerima BLT. Karena, para petani akan lebih terlindungi karena mampu memproduksi makanan pokok mereka sendiri.

Disini terlihat bahwa BLT sebenarnya kurang efektif karena belum mampu meng-cover semua lapisan masyarakat. Karena program BLT yang memberikan uang tunai dengan nominal yang sama dan tidak memperhitungkan disektor manasaja para penerima BLT itu bekerja. Sehingga para penerima BLT yang bermukim di perkotaan kurang terlindungi dari dampak kenaikan harga BBM, sehingga daya beli tetap merosot.

Dampak sosial pun kerap menerpa dari kenaikan BBM. Bersyukur Indonesia tidak mengalami demikian, namun pada dasarnya kenaikan BBM akan memberikan dampak pada tingginya angka kriminalitas, putus sekolah, keputus asa-an, hingga kerawanan sosial yang lebih luas seperti demonstrasi, dan aksi terorisme.

Dampak ke Pasar Keuangan

Kenaikan BBM nantinya akan membuat inflasi kurang terkendali. Banyak pakar yang memperkirakan inflasi akan berada dilevel 10%, jauh dari asumsi pemerintah dalam RAPBN yang memperkirakan inflasi akan berada di kisaran 6%. Apabila kenaikan inflasi tidak dibarengi kenaikan suku bunga, maka akan terjadi pembalikan modal keluar (sudden reversal).

Obligasi yang memberikan imbal hasil tetap, akan menjadi obligasi yang tidak menarik terlebih bunga yang diberikan lebih rendah daripada laju inflasi. Apabila ada obligasi yang memberikan suku bunga dikisaran 7 hingga 9%. Maka dapat diprediksikan harga dari obligasi tersebut akan terjun bebas karena inflasi (misal 10%) jauh berada diatas rata-rata bunga obligasi. Sehingga potensi kerugian yang ditanggung investor sebesar 1 hingga 3%.

Untuk menghindari hal tersebut investor tentunya akan melakukan diversifikasi investasi (mencari investasi yang lebih menguntungkan). Yang dikhawatirkan adalah dimana investor menanamkan modalnya untuk belanja komoditas – minyak. Sehingga berdampak pada kelebihan permintaan dan berpotensi membawa minyak ke harga yang lebih tinggi lagi.

Pasar saham juga demikian. Perusahaan yang lebih mengandalkan investasinya pada modal perbankan akan kesulitan dalam mempertahankan maupun mengembangkan bisnis karena tersangkut oleh tingginya suku bunga kredit perbankan. Sehingga berpotensi menggerus keuntungan dari perusahaan tersebut, dan membuat harga sahamnya diperdagangkan lebih murah (jatuh).

Tidak ubahnya nilai tukar Rupiah. Kenaikan BBM akan membuat masyarakat membelanjakan uang lebih banyak sehingga menambah banyaknya uang beredar. Kenaikan harga minyak dunia membuat pemerintah membelanjakan uangnya lebih banyak sehingga membuat nilai tukar Rupiah cenderung lebih murah dibandingkan dengan mata uang lainnya, seperti US Dolar. Namun, kekhawatiran akan memburuknya nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar tidak perlu dikhawatirkan mengingat nilai tukar US Dolar juga masih sangat murah dibandingkan dengan pergerakan mata uang lainnya.

Secara keseluruhan dampak kenaikan BBM akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter yang ketat oleh BI (tight money policy) akan menghambat akses masyarakat dalam membuat pusat-pusat bisnis baru. Sehingga penyerapan angkatan kerja akan mengecil dan membuat angka pengangguran meningkat.

Krisis yang terjadi saat ini memang dirasakan di semua negara di dunia, mulai dari yang kaya hingga ke yang miskin. Tidak hanya Indonesia namun juga negara besar seperti Amerika. Walaupun sepertinya krisis berawal dari negeri Paman Sam, namun bukan berarti AS yang menyelesaikan masalah kita disini.

Wednesday, May 21, 2008

Janji Kebijakan Ekonomi Yang Hanya Berisi Estimasi

Medan Bisnis, 19 Mei 2008

Dengan pertimbangan serta analisis yang cukup mendalam dari para pakar, terhadap segala bentuk estimasi dari perubahan ekonomi (Internal) yang akan datang, selalu dituangkan dalam rancangan anggaran yang biasa disebut dengan RAPBN (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), serta dapat dilakukan perubahan sesuai dengan jadwal, apabila terjadi perubahan asumsi atau estimasi, maka akan ada rancangan anggaran perubahan atau diistilahkan dengan RAPBN – P (Perubahan).

Dalam perumusan tersebut tentunya anggaran telah disiapkan dan akan digunakan untuk kepentingan strategis pemerintah. Namun, dalam perjalanannya anggaran bisa saja kurang mencukupi sehingga berpotensi defisit. Kejadian tersebut tidak sepenuhnya dikarenakan ketidak akuratan si pembuat kebijakan namun dapat dikarenakan oleh faktor-faktor yang bersifat unpredictable (sulit diprediksi).

Dalam kasus yang terjadi sekarang ini, asumsi mengenai Inflasi dan Harga Minyak dalam RAPBN menjadi tidak realistis karena realitasnya jauh dari asumsi pemerintah. Namun kejadian tersebut bukan hanya terjadi disini (Indonesia), banyak Negara lain di belahan dunia yang juga mengalami hal serupa. Sehingga komentar-komentar yang berbau ekonomi selalu meralat sejumlah asumsi yang telah dibuat.

Belum lepas dari ingatan kita, pada saat pemerintah menjamin bahwa harga minyak tidak akan dinaikan selama tahun 2008 ini. Namun, baru-baru ini telah terdengar rencana kenaikan BBM yang mungkin terjadi di awal bulan Juni mendatang. Janji yang sebelumnya pernah terucap menjadi pepesan kosong yang membuat orang untuk tidak mempercayai kembali apabila ada janji-janji lain yang nantinya terdengar dari sang penguasa negeri ini.

Namun, janji yang dikeluarkan tersebut sebenarnya berlandaskan pada suatu hal yang masuk akal atau bahkan cukup rasional. Kestabilan nilai tukar rupiah, stabilnya harga minyak dunia, asumsi masih solidnya perekonomian Amerika, Inflasi yang terkendali serta membaiknya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia, tentunya membuat pemerintah pada saat itu sangat percaya diri, untuk menjamin tidak akan ada kebijakan ekonomi yang akan menyesengsarakan rakyatnya (kenaikan BBM).

Akan tetapi, waktu terus berlalu. Kebijakan maupun komentar atau bahkan janji pemerintah memasuki tahap diuji untuk dikatakan bahwa kerangka kebijakan tersebut benar-benar berhasil. Dalam prosesnya, kebijakan tersebut dihadapkan pada sebuah kondisi diluar prediksi sebelumnya. Dimana, sebuah Negara dengan ekonomi terbesar didunia (AS) mengalami keterpurukan, harga minyak dunia naik diluar ekspektasi baik disebabkan oleh diversifikasi investasi, alam, hingga ke permasalahan politis.

Inflasi kembali bergejolak liar, harga pangan membumbung tinggi hingga menemui kelangkaannya, defisit belanja negara terus membengkak, sehingga memaksa pemerintah untuk mengurangi/menghilangkan subsidi. Dampaknya jelas, penduduk miskin dan pengangguran bertambah.

Kesimpulan akhir adalah bahwa perekonomian terjebak dalam sebuah lingkaran setan. Dimana setiap kebijakan yang akan diambil tidak akan bisa memberikan solusi pada sisi lain dan tetap berpotensi menimbulkan resistensi (perlawanan) dari seantero penduduk yang berkediaman di negeri ini.

Faktor-faktor alam memang bukan suatu hal yang dapat diprediksikan. Gempa hebat yang melanda China membuat Negara itu mengkonsumsi minyak lebih banyak lagi untuk kembali menggairahkan roda perekonomiannya. Keadaan tersebut juga telah membuat harga minyak naik hingga mencatatkan rekor tertinggi terbaru $127/barel.

Negeri paman sam (amerika) yang biasa mengkonsumsi minyak dalam jumlah yang cukup besar juga menghadapi tekanan hebat. Karena hampir semua minyaknya dibeli dari negeri lain, Amerika kerap meminta negara produsen minyak untuk menambah kapasitas produksinya. Namun, apa boleh dikata, negara pengekspor minyak terbesar Arab Saudi menyatakan ketidak bersediannya untuk menambah kapasitas produksi minyaknya. Kondisi tersebut membuat partai demokrat di AS berang dan mengusulkan untuk dilakukan embargo ke Arab Saudi.

Permasalahan-permasalahan tersebut diatas berpotensi membawa harga minyak bergerak ke level yang lebih buruk lagi. Kondisi tersebut juga sangat membingungkan pemerintah Indonesia untuk menaikan harga BBM karena terpaku pada pergerakan harga minyak global yang terus bergerak liar. Sehingga seberapa besar kenaikan minyak nantinya bukan jaminan bahwa tidak akan terjadi kenaikan BBM lagi.

Sunday, May 11, 2008

BBM Naik, Others Can Only Follow

Medan Bisnis, 12 Mei 2008
Bursa saham di eropa kembali tergerus seiring dengan naiknya harga minyak. Rencana kenaikan harga minyak juga membuat pemerintah dikritik habis-habisan di negeri ini. Tidak ada yang salah dari kebijakan pemerintah, rencana kenaikan harga BBM merupakan opsi dari beberapa opsi lainnya.

Namun, pernyataan dari pejabat pemerintah saja yang membuat banyak orang maupun media yang berspekulasi bahwa harga minyak pasti naik. Padahal pemerintah juga sedang mengkaji opsi lain sepereti penggunaan smart card di beberapa SPBU di Jakarta. Seiring dengan itu, banyak orang yang telah menjadi spekulan minyak yang mengakibatkan panic buying (rame-rame beli minyak) di masyarakat.

Di pasar dunia, harga minyak sempat menembus level tertingginya $126/Barel meskipun banyak analis yang menyimpulkan bahwa harga minyak akan tertahan di level psikologis $120/Barel. Gejolak harga minyak yang ditimbukan karena banyak alasan, akan tetapi rencana pemberian sanksi atas Negara Columbia oleh AS telah memicu munculnya pernyataan dari pemerintah Venezuela untuk mengurangi pasokan minyaknya ke AS, dan diyakini sebagai biang keladi meroketnya harga minyak belakangan ini.

Selain itu, meroketnya harga minyak juga dipicu oleh tren pelemahan mata uang US Dolar, yang kian terperosok apabila dibandingkan dengan mata uang Euro. Melemahnya US Dolar terhadap Euro tidak lebih disebabkan oleh rencana Bank Sentral Eropa untuk tetap mempertahankan suku bunga Euro seiring tingginya inflasi di Negara pengguna mata uang Euro.

Setelah menembus level $126/Barel, harga minyak bisa saja mencoba mendekati level $150/Barel dalam tahun ini atau mungkin saja $200/Barel. Analisis tersebut cukup beralasan karena permintaan akan minyak mentah dunia global diperkirakan masih akan tetap tinggi. Gejolak politik di Nigeria serta musim dingin di China akan membuat permintaan akan minyak tetap tinggi. Belum lagi karena faktor spekulasi oleh para hedge fund manager.

Banyak Negara pada saat ini memotong ekspetasi pertumbuhan ekonomi negaranya dikarenakan tingginya inflasi akibat kenaikan harga pangan, yang dipicu oleh meroketnya harga minyak dunia. Bahkan bank sentral di Negara tersebut tetap akan mempertahankan besaran suku bunganya atau bahkan dinaikan termasuk di Indonesia.

Hal tersebut akan membuat US Dolar kian terpuruk oleh mata uang lainnya sehingga berpotensi membawa harga minyak ke level yang lebih tinggi lagi. Beban masyarakat dunia belum berakhir disitu, meskipun harga minyak sepertinya sudah cukup tinggi terbang, masih akan ada tambahan lain yakni daya beli yang tidak kunjung membaik karena laju pertumbuhan mengalami penurunan.

Di beberapa Negara seperti Perancis dan Spanyol, kenaikan harga minyak telah membuat Negara tersebut berpikir untuk menggunakan energi alternatif lainnya. Seperti menggunakan energi bahan bakar tumbuhan atau biofuel hingga penggunaan energi matahari secara besar-besaran. Meskipun tetap mempunyai dampak negatif, namun antisipasi untuk menyelamatkan kebutuhan energi dalam negeri terlihat nyata.

Untuk Indonesia, Kenaikan harga BBM memaksa presiden untuk mengajak seluruh masyarakat di Indonesia berhemat energi. Seiring dengan hal itu, opsi-opsi penyelamatan keuangan Negara seperti menaikan harga BBM, hingga alternatif kenaikan untuk warga tertentu juga tengah di gulirkan.

Reaksi keras dan beragam dari seantero masyarakat di Indonesia sudah lazim terdengar belakangan ini. Asumsi APBN yang kian tidak realistis seperti asumsi mengenai Inflasi, Laju pertumbuhan, serta harga minyak membuat pemerintah kehilangan kredibilitasnya. Walaupun masih baru rencana menaikan BBM, namun apaboleh dikata harga kebutuhan pangan telah meroket mendahului si “empu” nya (BBM). Sudah menjadi hal yang biasa BBM naik, maka yang lainnya hanya akan mengikuti (Others Can Only Follow).

The FED Turun, Harga Pangan Tetap Akan Naik

Medan Bisnis, 5 Mei 2008
Bank Sentral Amerika atau The FED kembali memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin menjadi 2%. Keputusan tersebut bertujuan untuk mengurangi dampak krisis dari kredit di sektor perumahan serta menjadi stimulus agar konsumsi masyarakat di AS kembali membaik. Selain itu, penurunan suku bunga The FED juga dibarengi dengan penyuntikan likuiditas agar permintaan kredit tetap meningkat.

Dampak dari keputusan The Fed tersebut sangat terasa di pasar keuangan khususnya Bursa Saham dan Pasar Uang. Keputusan The FED telah mengangkat indeks saham di BEI (Bursa Efek Indonesia) serta beberapa indeks bursa lain seperti Nikkei (Jepang) maupun HangSeng (Hongkong).

Selain itu, membaiknya indeks bursa saham juga dipengaruhi oleh membaiknya harga minyak dunia yang sempat turun dikisaran harga $112/barel. Namun, sejauh ini penguatan harga minyak tersebut hanya akan berfluktuasi sementara dan tetap akan menjadi pemicu bagi kenaikan sejumlah harga komoditas lainnya.

Suku bunga global dimana acuannya adalah suku bunga The FED memang mengalami tren penurunan. Akan tetapi, tren penurunan suku bunga tersebut sepertinya akan terus memicu konsumsi karena penurunan suku bunga akan berdampak pada tingginya permintaan kredit serta konsumsi. Sehingga harga pangan diperkirakan akan terus naik, dan bahkan akan lebih buruk lagi karena dibarengi dengan tingginya inflasi.

Beberapa negara yang mengalami laju pertumbuhan tercepat saat ini telah menciptakan permintaan akan komoditas yang cukup signifikan. Dan diyakini sebagai salah satu pemicu memburuknya krisis pangan dunia. Beberapa negara tersebut yaitu China, India dan juga termasuk Malaysia. Padahal dibeberapa belahan negara lain mengalami kesulitan akan pangan karena faktor cuaca maupun dikarenakan oleh pelemahan mata uang US Dolar.

Konversi kebutuhan pangan seperti sawit (CPO), Jagung, maupun komoditas lain menjadi sumber energi seperti bahan bakar minyak juga menjadi sumbangsih terhadap kenaikan harga komoditas global yang terus berfluktuasi secara tajam. Di Amerika yang biasanya surplus pangan, kini beramai-ramai menjual komoditasnya keluar, karena lebih mahal serta diikuti dengan melemahnya nilai tukar US Dolar.

Penurunan suku bunga The FED sepertinya tidak akan menyelamatkan ekonomi AS dari keterpurukan dan akan mengalami recovery/penyelamatan yang lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Penurunan suku bunga The FED akan terus menekan pasar keuangan di AS, yang hingga saat ini terus mengalami pembalikan modal keluar (sudden reversal).

Terlebih The FED saat ini tidak memberikan sinyal yang jelas akan gambaran keputusannya dimasa yang akan datang. Pernyataan The FED “Kita Akan Bergerak Jika Diperlukan” mempunyai penafsiran yang beragam dan tidak memberikan kepastian. The Fed sepertinya ragu untuk menentukan pilihan apakah menaikan atau menurunkan suku bunganya, ditengah gejolak ekonomi global seperti sekarang ini.

Namun, satu hal yang pasti, The FED akan sulit untuk kembali menaikkan suku bunganya apabila kondisi perekonomian AS dan Global masih mengalami perlambatan seperti yang terjadi pada saat ini. Tingginya harga energi yang dibarengi dengan tingginya inflasi dan diperburuk oleh krisis keuangan yang berkepanjangan, tentunya akan memaksa The FED untuk tidak menaikkan suku bunga.

Di Indonesia, suku bunga masih dipertahankan meskipun telah terjadi penurunan yang signifikan pada suku bunga The FED. Inflasi yang tinggi di dalam negeri sepertinya tetap menjadi fokus utama seakan-akan mengabaikan perkembangan suku bunga global. Fokus utama pemerintah masih tertuju pada penstabilan harga pangan dalam negeri.

Pemerintah melalui Presiden SBY telah menyatakan pentingnya untuk berhemat energi. Tingginya harga minyak dunia telah membuat APBN terseok-seok menanggung beban subsidi yang kian membesar. Pemerintah juga telah menawarkan solusi yakni dengan penggunaan smart card atau menaikan harga BBM bersubsidi rata-rata 28.7%.
Menurut hemat penulis, lebih baik memilih smart card yang bertujuan mengendalikan penggunaan BBM bersubsidi oleh mereka yang memiliki daya beli lebih baik (ekonomi menengah keatas). Kenapa, karena apabila pemerintah menaikan harga minyak subsidi secara menyeluruh, hal tersebut akan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat dan akan berpotensi menjadi pemicu terhadap permasalahan sosial.

Sunday, May 04, 2008

Likuiditas Pemerintah (Defisit) Terhadap Obligasi SUN, ORI dan Pasar Keuangan

Medan Bisnis, 28 April 2008
Kebijakan pemerintah yang belum menaikan harga minyak domestik, akan mengancam perdagangan surat berharga (obigasi) khususnya obligasi yang diterbikan oleh pemerintah atau biasa disebut dengan government bond. Sejauh ini pemerintah masih mensubsidi kebutuhan minyak yang kian berimbas pada membengkaknya defisit sehingga berpotensi menimbulkan kepanikan dipasar karena akan mengurangi kepercayaan investor yang disebabkan asumsi kemungkinan gagal bayar (default).

Walaupun asumsi tersebut masih tergolong wacana, namun keprihatinan akan kenaikan harga minyak dunia tetap akan memberikan dampak psikologis bagi para pelaku pasar. Terlebih ada tren kenaikan di sejumlah harga komoditas yang lebih menguntungkan. Apabila investor mengkonversi aset dalam obligasi ke instrumen lainnya maka ada kemungkinan pemerintah akan mengalami kesulitan dalam menyediakan likuiditas (gagal bayar).

Kondisi tersebut berpotensi memicu krisis seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Dimana ketika ada gagal bayar di sektor perumahan, maka para investor yang memegang produk turunan (sub ordinasi) dari perumahan tersebut melepaskan kepemilikannya dan beralih ke instrumen lain seperti komoditas. Sehingga dampak negatif dari peralihan tersebut adalah terjadi kenaikan yang signifikan terhadap harga komoditas dunia.

Selain itu, defisit yang kian membesar juga akan mempersulit pemerintah dalam menyediakan pembiayaan infrastruktur dan sektor riil lainnya. Karena distribusi dana APBN akan terus terkonsentrasi pada subsidi, sehingga ruang lain bagi stimulus pembangunan sektor riil akan menyempit.

Sejauh ini pemerintah juga terus memberikan kepastian yang kurang realistis, seperti tidak akan terjadi kenaikan harga minyak serta menyatakan bahwa APBN akan tetap aman hingga akhir tahun. Padahal guncangan eksternal sangat terasa guncangannya dan terus memberikan tekanan terhadap pasar keuangan nasional.

Obligasi, Saham maupun mata uang Rupiah juga belum berada pada posisi yang aman, dan diperkirakan akan terus berfluktuasi tajam selama tahun ini. Pasar obligasi diperkirakan akan mengalami gunjangan lebih serius bahkan dalam interval waktu yang cukup pendek, apabila harga minyak tidak dinaikan meski telah terjadi kenaikan luar biasa di pasar dunia.

Sejauh ini, obligasi yang diterbitkan pemerintah masih cukup diminati oleh para pemodal baik dari dalam maupun luar negeri. Karena imbal hasil yang diberikan oleh obligasi pemerintah lebih kompetitif dibandingkan obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah lain. Namun, ditengah tingginya inflasi seperti yang terjadi disaat ini, tentunya akan membuat investor berpikir ulang dan berpotensi memudarkan ketertarikannya terhadap obligasi.

Laju harga minyak dunia saat ini, terus mencoba menembus angka psikologis $120/barel. Walaupun relatif tertahan secara teknikal di level tersebut, namun belum ada yang bisa memastikan sampai kapan kondisi tersebut akan tetap bertahan. Terlebih ketegangan yang timbul di negara di kawasan asia tengah berpotensi memicu spekulasi, dan membawa harga minyak ke level yang lebih tinggi lagi.

Di Indonesia, belum terdengar kebijakan yang secara langsung akan menyelamatkan pasar keuangan domestik. Kebijakan yang diambil masih pada seputar penyelamatan ekonomi nasional (fundamental) yang terkonsentrasi pada penyelamatan APBN. Meski demikian, tindakan yang diambil pemerintah tersebut nantinya juga akan berimbas pada pasar keuangan yang sedang berfluktuasi liar.

Statement yang dikeluarkan dan terkait dengan permasalahan fundamental pemerintah belakangan juga masih menyisakan kontroversi. Meski demikian perlu dipahami bahwa statement tersebut tetap mempunyai tujuan yang baik, misalnya menyelamatkan pasar, memberikan ketenangan di masyarakat, minimalisasi wacana yang menyesatkan, memulihkan kepercayaan pemodal, membentuk citra mereka sendiri atau mungkin menceritakan keadaan sebenarnya.

Kendati demikian, statement/pernyataan bahwa harga minyak tidak akan naik, APBN akan tetap aman setidaknya akan memberikan rasa aman walaupun hanya sesaat, meskipun hanya pada saat pernyataan tersebut dilontarkan. Seiring dengan berjalannya waktu, pemerintah terus akan berusaha untuk melengkapi bukti-bukti yang bisa membuat masyarakat menerima apabila pemerintah meralat semua yang telah diucapkannya.

Terpuruknya US Dolar Mengancam Rezim Demokratis

Medan Bisnis, 21 April 2008
Melemahnya US Dolar belakangan ini, terus menekan harga minyak ke level yang lebih tinggi lagi. Ini disebabkan karena nilai intrinsik dari US Dolar itu sendiri, sehingga pelemahannya akan memicu harga komoditas lain membumbung tinggi. Faktor spekulasi selalu dijadikan biang keladi terhadap krisis keuangan yang melebar menjadi krisis pangan.

Habbit dari para pemegang modal yang terus mencari tempat yang paling aman dan menguntungkan dalam berinvestasi diyakini sebagai penyebab utama melambungnya harga minyak dunia pada saat ini. Namun, belum bisa dipastikan, karena aksi spekulasi memainkan harga minyak dunia juga dipicu oleh langkah pemerintah AS yang terus menurunkan suku bunga.

Salah satu negara anggota OPEC menyatakan bahwa, penambahan kapasitas produksi minyak mentah dunia seharusnya mampu mengimbangi kebutuhan minyak sehingga mampu menstabilkan harga minyak dipasaran. Namun, kondisinya sangat jauh berbeda, dimana pelemahan US Dolar memegang peranan penting dan turut bertanggung jawab terhadap peningkatan harga pangan yang memicu inflasi.

Pada dasarnya pelemahan US Dolar itu sendiri merupakan dampak dari ketidaktertarikan investor untuk terus memegang mata uang dalam US Dolar. Terlebih langkah Bank Sentral Amerika (The FED) yang terus menurunkan suku bunga akibat krisis sektor perumahan. Penurunan suku bunga tersebut kian membuat US Dolar terjun bebas terhadap mata uang lainnya. Sehingga Bank Sentral AS atau The FED juga turut bertanggung jawab terhadap gejolak ekonomi yang mewabah seperti sekarang ini.

Kalau sudah begini, para pemodal tentunya akan melakukan penyelamatan asset dengan menyimpan modalnya pada instrumen keuangan lain yang lebih aman, termasuk komoditas seperti emas dan minyak dunia. Sehingga permintaan akan komoditas tersebut membuat harganya semakin mahal.

Misalnya, harga minyak mentah dunia yang saat ini diperdagangkan mendekati level $115/barel. Kenaikan harga minyak tersebut turut membuat asumsi harga minyak dunia dalam APBN semakin tidak realistis. Sehingga daya tahan APBN tersebut dalam merespon perubahan ekonomi semakin lemah. Dalam banyak hal, melemahnya ketahanan APBN akan memicu pemerintah melakukan penghematan di sana-sini bahkan bila perlu menghapus subsidi.

Banyak negara demokrasi seperti Indonesia, masalah pangan merupakan masalah krusial yang berpotensi menggulingkan sebuah rezim demokratis seperti saat ini. Faktor global seperti fluktuasi harga pangan dibeberapa kebutuhan dasar masyarakat membuat pemerintah Indonesia kian tidak berdaya dalam merumuskan kebijakan, walaupun kebijakan yang sangat baik sekalipun.

Kearifan masyarakat dalam menilai permasalahan menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan sebuah rezim. Akan tetapi, apabila kondisi ini terus berlangsung maka masyarakat akan mencoba mencari pendekatan lain, walau dengan menghancurkan sebuah kekuasaan dan menyuarakan untuk dilakukan sebuah revolusi.

Kekuasaan presiden SBY saat ini benar-benar berada dalam tekanan yang sangat sulit, bahkan dalam ancaman. Sejauh ini, belum ada solusi maupun langkah konkrit yang mampu memberikan penyelesaian bagi semua pihak layaknya obat untuk semua penyakit. Yang ada hanyalah berupa kebijakan menyembuhkan penyakit yang satu walau dengan menahan sakit dari penyakit lainnya, dan mengurangi dampak penularan terhadap organ tubuh lainnya.

Kondisi seperti ini tentunya juga dirasakan oleh banyak negara lainnya. Krisis pangan telah menjadi ancaman serius dibanyak negara khususnya negara yang sedang berkembang. Berbagai langkah tengah diupayakan, pemenuhan kebutuhan pangan tentu menjadi fokus utamanya. Oleh sebab itu, dibanyak negara di ASEAN menjadikan sektor pertanian merupakan sektor yang perlu diselamatkan terebih dahulu.

Kalau Indonesia saat ini tengah mempunyai cadangan beras yang cukup. Maka, pertimbangkan dahulu untuk tidak mengekspornya ke luar negeri, walaupun harus melawan anjuran dari seorang wakil kepala negara sekalipun. Karena, belum ada yang bisa memastikan kapan gejolak pelemahan US Dolar yang memberikan dampak luas bagi negara lain akan berakhir. Dengan sistem keuangan yang terintegrasi seperti sekarang ini, sulit untuk mengelak apalagi mengabaikan faktor eksternal tersebut.

Guncangan Ekonomi Kian Terasa

Medan Bisnis, 14 April 2008

Pasar keuangan global kembali dihadapkan pada guncangan ekonomi yang sangat kuat seiring dengan tingginya harga minyak dunia serta ancaman melemahnya laju pertumbuhan ekonomi global. Bahkan beberapa Bank Sentral tetap menekankan pentingnya stabilitas pengendalian harga yang menjadi pemicu tingginya inflasi belakangan ini.

Kredit sektor perumahan AS juga belum menunjukan adanya perbaikan sehingga diperkirakan akan terus membebani perputaran ekonomi global yang kian suram. IMF (International Monetery Fund) juga menyatakan bahwa pentingnya persiapan dalam menghadapi krisis keuangan (finansial) yang kemungkinan akan terjadi.

Sementara itu, ditengah gejolak fluktuasi pasar yang cukup tajam, pemerintah Indonesia kembali mengeluarkan opsi untuk menaikan harga BBM seiring degan tingginya harga minyak mentah dunia. Hal tersebut tentunya bukan opsi yang akan diterima dengan mudah oleh masyarakat luas karena tetap akan menimbulkan resistensi dari semua kalangan.

Daya beli masyarakat diperkirakan akan terus semakin lemah seiring dengan tingginya harga pangan belakangan ini. Opsi kenaikan BBM dinilai tidak tepat untuk saat ini, meskipun pemerintah belum punya pilihan lain. Saat ini, harga minyak mentah dunia berada dikisaran level $111/barel, jauh diatas asumsi harga minyak mentah dalam APBNP-2008(Angggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2008) sebesar $95/barel.

Tentunya dengan asumsi tersebut sudah dipastikan pemerintah kembali mengalami defisit yang kian menganga. Sehingga sudah sepantasnya departemen keuangan mengingatkan pemerintah untuk menaikan harga BBM guna terhindar dari defisit yang lebih besar lagi. Secara sosial, kenaikan harga BBM tersebut akan berdampak pada semakin melemahnya daya beli masyarakat dan berpotensi menjadi pemicu gejolak sosial.

Dalam mengantisipasi tingginya laju inflasi yang disebabkan oleh meroketnya harga kebutuhan pangan belakangan ini. Pemerintah bisa saja menaikan suku bunga acuan atau biasa disebut dengan BI rate. Namun, kenaikan BI rate tentunya akan memperlambat laju pertumbuhan. Padahal laju pertumbuhan itu sendiri sangat dibutuhkan guna menyelamatkan pertumbuhan ekonomi domestik.

Kebijakan BI yang mempertahankan suku bunga dinilai masih cukup realistis. Walaupun bukan pilihan yang tepat, namun keputusan tersebut masih bersifat menyelamatkan perekonomian dalam jangka pendek, belum memberikan dampak positif yang lebih luas dalam jangka panjang. Kebijakan yang diambilpun bukan hanya karena bertumpu pada data-data perekonomian domestik, namun juga sangat dipengaruhi oleh data perekonomian global. Sehingga, apapun yang terjadi diluar sana tetap diperhitungkan oleh pengambil kebijakan di dalam negeri.

Kesemuanya itu akan kembali pada ketahan perekonomian nasional. Dampak negatif dari gejolak ekonomi global masih dapat diantisipasi oleh sebuah negara dengan struktur ekonomi yang kuat. Ketahan APBN kita memang belum memenuhi syarat untuk itu. Sementara daya beli masyarakat yang lemah tidak akan membaik segera walau ada stimulus kebijakan penurunan suku bunga.

Dipasar keuangan sepertinya juga akan terus mengalami fluktuasi yang tajam. Melemahnya US Dolar yang cukup memprihatinkan bukan berarti akan membuat Rupiah kembali perkasa. Karena penguatan Rupiah yang ditopang oleh dana-dana jangka pendek tetap menyisakan resiko akan terjadinya pembalikan modal. Terlebih apabila kedepan akan terjadi kenaikan laju inflasi yang cukup tinggi. Sehingga untuk mempertahankan nilai tukar diperlukan kenaikan suku bunga atau BI rate.

Kalau diibaratkan makan buah simalakama. Tentunya pemerintah harus mengambil keputusan dengan melihat keuntungan apa yang bisa diambil walaupun dengan menyia-yiakan benefit yang lainnya. Pemerintah memang dihadapkan pada stagflasi seperti sekarang ini, namun, pemerintah harus mengambil sikap untuk tetap menjaga stabilitas harga. Karena tidak menambah jumlah penduduk miskin masih lebih baik ketimbang mengangkat penduduk miskin dari kemiskinannya.

Sunday, April 06, 2008

Menghindar Dari Stagflasi

Medan Bisnis, 07 April 2008
Stagflasi adalah suatu keadaan dimana perekonomian dihadapkan pada laju tekanan inflasi yang tinggi dan dibarengi dengan melambatnya laju pertumbuhan. Keadaan tersebut apabila tanpa ada solusi yang konkret akan membawa sebuah negara masuk kedalam jurang resesi. Pada saat ini, stagflasi lebih dikarenakan oleh memburuknya kinerja ekonomi dinegara besar seperti Eropa, AS dan Jepang, dimana telah terjadi penurunan terhadap daya beli masyarakat disana.

Sistem keuangan yang terintegrasi antara negara yang satu dengan lainnya (global) akan sangat dipengaruhi oleh faktor fundamental dari masing-masing negara. Negara yang lebih kuat fundamental perekonomiannya mempunyai posisi tawar (bargaining) yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara lainnya. Sehingga permintaan (demand) maupun penawaran/persediaan (supply) dari negara tersebut akan menjadi tolak ukur (benchmark) terhadap terciptanya proses keseimbangan pasar (equilibrium).

Negara adidaya seperti Amerika Serikat telah menjadi kekuatan ekonomi yang sangat berpengaruh pada saat ini. AS menguasai hampir seperempat produk domestik bruto (PDB) dunia. Sehingga sangatlah wajar apabila setiap perkembangan data perekonomian serta kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah AS selalu menjadi tolak ukur dalam pengambilan kebijakan negara lain. Tujuannya adalah menciptakan kesimbangan baru terhadap kebijakan yang telah diambil AS.

Seperti pada kebijakan Bank Sentral AS dalam mengendalikan suku bunga The FED (The FED Fund Rate). Kebijakan The FED sebelumnya selalu menjadi pertimbangan Bank Sentral Negara lain termasuk Indonesia dalam menentukan arah kebijakan suku bunga dalam negeri. Namun, keadaan sepertinya sudah berubah, memburuknya kinerja perekonomian AS seperti sekarang ini telah memudarkan kepercayaan negara lain untuk terus mengikuti langkahnya.

Berawal dari krisis kredit perumahan AS yang dibarengi dengan meningkatnya harga komoditas utama seperti minyak mentah dunia. Keadaan tersebut telah menyebabkan kontraksi di negara lain. Negara di Asia sangat terpukul dengan kondisi tersebut. Terlebih negara yang menjadikan Amerika sebagai mitra utama tujuan ekspor. Sehingga sangat sulit untuk negara berkembang (emerging market) dalam mengantisipasi kejutan-kejutan negatif yang disebabkan oleh downside trend (tren kebawah) sebuah negara dengan kekuatan ekonomi besar.

Banyak Bank Sentral di dunia yang kesulitan dalam menentukan arah kebijakannya kedepan. Stagflasi adalah dua buah mata pisau dimana satu sisi dapat dipergunakan (diselamatkan), sementara sisi yang lain akan membunuh si penggunanya. Pada saat ini banyak negara yang telah terjebak didalam stagflasi. Indonesia merupakan salah satunya.

Disaat harga kebutuhan pangan mengalami lonjakan yang signifikan, disaat itu pula sulit untuk menurunkan suku bunga yang sudah terlanjur tinggi, sehingga sulit untuk memulihkan daya beli masyarakat. Kelangkaan minyak, melambungnya harga pangan sudah menjadi berita yang sering terdengar. Pemerintah sepertinya masih sulit untuk menentukan formula yang tepat guna terhindar dari stagflasi.

Memang layak apabila pemerintah menjadikan faktor eksternal (luar negeri) menjadi kambing hitam atas keadaan ini. Namun, harus disadari bahwa akan ada efek dari keadaan tersebut, yang harus dikompensasi dengan harga yang cukup mahal nantinya. Dari sisi finansial, stagflasi akan menambah beban APBN karena berpotensi menambah portsi utang pemerintah. Selain itu, ada hal lain yang perlu menjadi perhatian khusus, yakni keadaan dimana perekonomian yang runyam harus dibayar dengan gejolak sosial seperti kerusuhan di tahun 1997.

Pemerintah dan kebanyakan negara lainnya lebih memilih untuk mengendalikan inflasi, dibandingkan dengan menggenjot daya beli masyarakat atau pertumbuhan. Kebijakan yang diambil pun berputar dan berkosentrasi pada pengendalian moneter. Seperti kebijakan uang ketat (tigh money policy), yang akan berimbas pada penguatan nilai tukar rupiah.

Kenaikan harga beberapa komoditas dunia seperti minyak, gandum, kedelai, CPO (crude palm oil) sepertinya sulit untuk dielakkan. Sehingga Up trend (tren naik) harga komoditas dapat diminimalisir dengan pengendalian moneter seperti penguatan mata uang Rupiah. Belum ada kepastian apakah kita dapat menghindar sepenuhnya dari stagflasi. Kejutan-kejutan negatif bisa saja terjadi. Fokus penyelesaian ekonomi juga akan terpecah seiring dengan meningkatnya gejolak ekonomi. Namun tetaplah fokus pada akibat dari stagflasi yang berpotensi menimbulkan resesi maupun gejolak sosial.

Dimana Letak Keseimbangan Rupiah?

Medan Bisnis, 31 Maret 2008
Sejumlah mata uang dunia diperdagangkan relatif menguat terhadap US Dolar. Penguatan mata uang tersebut terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan laju ekonomi di Amerika. Berawal dari memburuknya krisis kredit perumahan AS yang merambat hingga penurunan suku bunga The FED secara drastis, meningkatnya jumlah pengangguran, melambungnya harga komoditas yang diakumulasikan sebagai pertanda resesi di negeri paman sam.

Posisi Amerika yang tidak menguntungkan tersebut secara sistematis akan memberikan keuntungan bagi mata uang negara lain yang menguat terhadap US Dolar. Sudah bisa dipastikan ekspor di negara yang mata uangnya menguat terhadap US Dolar akan terus menunjukan peningkatan dan akan memberikan efek bagi peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB).
Hanya saja, asumsi kenaikan ekspor tersebut harus diikuti oleh melemahnya laju pertumbuhan ekonomi AS yang berdampak pada penurunan daya beli masyarakat disana. Sehingga akan tetap menjadi faktor pengurang bagi kinerja ekspor negara mitra Amerika.

Indonesia juga mengalami hal yang sama. Melemahnya US Dolar juga membuat mata uang Rupiah menguat dikisaran 9200/US Dolar dari sebelumnya dikisaran 9400/US Dolar. Penguatan tersebut tidak lebih di karenakan dana jangka pendek yang masuk yang memanfaatkan selisih suku bunga antara BI rate dan The Fed yang kian melebar.

Padahal, kalau saja penurunan suku bunga Bank Sentral AS (The FED) diikuti oleh penurunan suku bunga Rupiah maka bisa dipastikan Rupiah akan bergerak stabil (dengan tetap ada kecenderungan melemah) tanpa dibarengi dengan penguatan nilai tukar yang cukup signifikan. Pada dasarnya perbedaan suku bunga yang melebar tersebut juga harus dibayar dengan pembayaran bunga yang tinggi pada instrumen keuangan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Pembayaran bunga tersebut akan terus membebani APBN yang pada saat ini harus berjuang untuk mensiasati pembengkakan defisit yang kian membesar, akibat kenaikan harga minyak dunia. Alasan dari pemerintah adalah guna menjaga stabilitas harga pangan yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia atau biasa diistilahkan dengan imported inflation.

Kontroversipun bermunculan, mana yang lebih didahulukan, apakah membiarkan mata uang rupiah melemah dengan mengurangi beban APBN atau sebaliknya, membiarkan mata uang menguat dengan membebankan biaya bunga serta menerima resiko akan kemungkinan adanya pembalikan modal secara tiba-tiba atau suddent reversal.

Jawaban yang terbaik menurut pemerintah adalah kebijakan yang diambil pemerintah pada saat ini. Dengan kasat mata kita melihat bahwa rupiah terus menguat terhadap US Dolar. Penguatannya bahkan diprediksi mampu menembus level psikologis 9000/US Dolar.
Namun, prediksi tersebut tidak selamanya benar. Kondisi mata uang US Dolar yang kian terjun bebas ternyata tidak secara langsung membuat Rupiah menguat tanpa halangan. Bisa saja dikarenakan faktor teknikal dimana sangat tergantung oleh kondisi psikologis pelaku pasar. Atau bisa saja penguatan Rupiah yang seharusnya, justru ditahan oleh intervensi pemerintah agar Rupiah tidak menguat secara drastis.

Dalam melakukan intervensi pemerintah bisa melakukan 2 hal paling mendasar yakni melakukan aksi beli valas atau jual valas. Untuk kondisi seperti sekarang ini, pemerintah biasanya akan melakukan aksi beli valas. Aksi beli valas tersebut (US Dolar) akan meningkatkan cadangan devisa yang sewaktu-waktu dapat digunakan apabila terjadi pembalikan modal (Suddent Reversal).

Pemerintah pernah mengungkapkan bahwa Rupiah yang stabil adalah berada dalam kisaran 9000 hingga 9500 per US Dolar, walaupun ada juga yang menyatakan bahwa range yang ideal untuk rupiah adalah dikisaran 8500 hingga 9500 per US Dolar. Dalam menciptakan kestabilannya Rupiah biasanya bergerak sesuai dengan mekanisme pasar. Namun, Indonesia tidak sepenuhnya membiarkan Rupiah bergerak sesuai mekanisme yang berlaku, karena kerap melakukan intervensi.

Kembali ke data statistik, dalam 3 tahun terakhir Rupiah sempat bergerak dikisaran level 8700/US Dolar (paling kecil) hingga sempat mendekati level 12.000/US Dolar. Dan pemerintah diperkirakan melakukan intervensi apabila Rupiah berada dikisaran level tersebut. Namun, menurut pengamatan belakangan ini, Rupiah relatif jalan ditempat di antara 9000 hingga 9500/US Dolar.

Fluktuasi Rupiah masih cenderung terkendali meskipun terjadi gejolak pasar keuangan global yang buruk. Pemerintah sepertinya lebih confident apabila rupiah tetap berada di kisaran tersebut. Tapi ini bukanlah sepenuhnya merupakan kestabilan nilai tukar Rupiah, karena kestabilan rupiah pada saat ini bukanlah merupakan bentuk dari keseimbangan pasar, tetapi bisa jadi merupakan hasil dari campur tangan pemerintah juga.

Panik Harga Minyak

Medan Bisnis, 24 Maret 2008

Dalam perdagangan 2 minggu terakhir, harga minyak dunia sempat diperdagangkan naik di kisaran level $110/barel. Kenaikan tersebut merupakan kenaikan tertinggi dan telah memberikan kekhawatiran baru bagi pasar finansial global. Harga minyak yang tinggi telah menimbulkan kepanikan karena akan membuat laju inflasi tak terkendali. Keterpurukan US Dolar di pasar disinyalir menjadi pemicu melambungnya harga minyak dunia.

Walaupun pada saat ini harga minyak dunia kembali diperdagangkan turun diatas $93/barel, namun penurunan tersebut merupakan imbas dari faktor teknikal belaka. Melemahnya laju pertumbuhan ekonomi AS telah menjadi isu di pasar, dan telah menyebarkan wacana bahwa konsumsi minyak di negara adidaya tersebut akan berkurang. Akan tetapi tetap saja harga minyak dunia diperkirakan akan terus bergerak naik dan akan mencoba menembus level psikologis yang baru.

Pada dasarnya harga minyak dunia mempunyai nilai intrinsik, yang juga dimiliki oleh beberapa komoditas lainnya. Di saat US Dolar melemah tajam maka harga minyak akan relatif lebih murah terhadap mata uang kuat selain US Dolar seperti Euro dan Yen Jepang. Oleh karena itu, walaupun harga minyak dunia mengalami kenaikan hal tersebut tidak akan secara langsung membuat ketertarikan akan minyak berkurang.

Terlebih China dan beberapa negara berkembang lainnya diperkirakan masih akan menunjukan kenaikan terhadap konsumsi minyak dalam negerinya, khususnya guna mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Sehingga bisa diprediksikan bagaimana harga minyak dunia kedepan akan terus mengalami kenaikan secara konsisten.

Kenaikan harga minyak juga telah membuat sejumlah komoditas pangan naik secara signifikan, yang menimbulkan dampak pada tingginya laju inflasi dan menggiring banyak bank sentral di dunia mempertahankan suku bunganya. Bank sentral Australia (RBA) menyatakan pentingnya kebijakan suku bunga tinggi guna meredam tingginya laju inflasi yang dibarengi dengan pertumbuhan perekonomian global yang masih dibawah trend.

Bank sentral Inggris atau biasa disebut dengan BOE, juga masih terus berjuang guna menaklukan tingginya laju inflasi. Harga minyak, makanan dan komoditas telah menjadi faktor utama kenaikan inflasi di negara tersebut. Sejauh ini, Bank of England akan lebih memprioritaskan pada pertumbuhan ekonomi guna memenuhi permintaan konsumen. Namun, keputusan tersebut juga akan tetap menyisakan masalah karena akan berdampak pada meningkatnya laju tekanan inflasi.

Dikepung dengan 2 hal yang saling tidak menguntungkan, pemerintah Indonesia juga mengalami hal yang sama. Sejauh ini kenaikan harga minyak telah membuat panitia anggaran DPR mencari cara guna menyelamatkan negara dari defisit yang kian besar. Asumsi harga minyak dalam APBN sebesar $83/barel sepertinya tidak menyelamatkan pemerintah dari defisit yang kian menganga.

Sejauh ini, pemerintah hanya berkutat pada solusi bagaimana mensiasati subsidi BBM yang kian membesar, tanpa ada keberanian untuk memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan besaran suku bunga acuan atau BI rate, meskipun kesempatan tersebut masih terbuka lebar. Keputusan pemerintah yang terkesan lebih menekankan pada aspek moneter mencerminkan pemerintah kurang berani dalam menerima resiko. Proses penyelesaian defisit pada saat ini lebih tertuju pada pemenuhan hasil jangka pendek.

Menaikan harga minyak merupakan salah satu opsi pemerintah dalam mensiasati tingginya harga minyak dunia belakangan ini. Beberapa opsi yang lain seperti menaikan cukai premium serta membatasi penjualan minyak bersubsidi juga akan diajukan pemerintah ke parlemen. Namun, opsi tersebut nantinya tetap berujung pada melemahnya daya beli masyarakat atau bisa jadi gagal pada tahap impelementasi dilapangan.

Kebijakan dengan menurunkan suku bunga secara signifikan sepertinya belum menjadi alternatif terhadap gejolak harga minyak dunia di tengah ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global. Padahal laju pertumbuhan ekonomi dapat didorong dengan mengambil langkah tersebut. Pada saat ini, langkah yang diambil pemerintah Indonesia dinilai belum menyentuh dan berpihak pada penyelesaian masalah kesejahteraan bangsa ini seperti penanggulangan pengangguran dan kemiskinan.

Sunday, March 23, 2008

Inflasi Yang Tak Terkendali

Medan Bisnis, 10 Maret 2008
Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi global, yang turut dibarengi dengan kenaikan harga komoditas pemicu inflasi, memberikan efek negatif bagi kenaikan harga kebutuhan pangan dalam negeri. Harga minyak goreng kembali bergerak naik tanpa ada rambu-rambu yang jelas seiring dengan melonjaknya harga komoditas CPO (Crude Palm Oil) di pasar dunia.

Beberapa negara besar seperti Amerika dan Eropa masih terjebak dalam inflasi yang tinggi serta pertumbuhan yang stagnan. Sementara China dan India yang menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi global juga mengalami penurunan dalam laju pertumbuhan. Hal tersebut sangat berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam pengendalian laju inflasi belakangan ini, Bank Indonesia memilih untuk tetap mempertahankan BI rate di level 8% guna memicu masuknya modal asing ke dalam negeri. Dan oleh karena itu, telah terjadi penguatan mata uang Rupiah terhadap US Dolar. Rupiah diperdagangkan di bawah kisaran 9100/US Dolar, walaupun menyisakan ancaman sudden reversal (pembalikan modal secara tiba-tiba).

Bank Sentral AS (The FED) serta pemerintah Amerika Serikat lebih memilih memicu laju pertumbuhan ekonomi serta mengabaikan pergerakan nilai tukar US Dolar yang kian merosot. Keputusan tersebut tercermin dengan langkah Bank Sentral Amerika yang terus menurunkan suku bunga secara agresif dari level 5.25% menjadi 3% pada saat ini, serta tetap memberikan ruang penurunan suku bunga lebih jauh lagi.

Guna memacu pertumbuhan, itulah alasan utama keputusan Bank Sentral Amerika tersebut. Sangat jauh berbeda dengan langkah pemerintah Indonesia dalam mengambil keputusan. BI lebih menekankan pada penguatan nilai tukar rupiah guna meredam inflasi, khususnya imported inflation (inflasi yang disebabkan oleh pengaruh dari luar).

Krisis pangan yang disebabkan oleh melonjaknya harga pangan dunia telah menyisakan kesengsaraan pada masyarakat di level bawah. Langkah-langkah yang diambil pemerintah guna mengatasi permasalahan ekonomi yang rumit kian tidak menentu, karena tidak dapat membuat kebijakan tanpa melibatkan faktor-faktor (harga) dari luar.

Menekan laju tekanan inflasi ditengah ancaman tingginya inflasi dunia sepertinya tidak akan berjalan dengan baik seperti skema. Lebih menekankan laju pertumbuhan ekonomi dengan suku bunga rendah juga bukan merupakan pilihan yang baik karena hanya akan memicu inflasi dan berpotensi memberikan benturan sosial yang menakutkan.

Apabila pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan nyata yang pro-rakyat miskin, maka pesan dari kebijakan tersebut tidak akan terdengar karena subsidi juga belum mampu mengembalikan daya beli masyarakat yang kian melemah. Sehingga, pesan yang akan diterima pemerintah dari rakyatnya adalah bahwa pemerintah dinilai gagal dan tidak pro-rakyat.

Proses komunikasi yang tidak tersampaikan ditengah fluktuasi harga yang tidak menentu menyebabkan kesinambungan perputaran roda ekonomi terancam terhenti. Walaupun bukan sepenuhnya dikarenakan oleh ketidakmampuan pemerintah dalam pengendalian ekonomi, namun rakyat tidak akan pernah tahu, yang mereka tahu adalah harga kian tinggi dan sudah kewajiban pemerintah dalam memberikan solusi.

Posisi dilematis tersebut berpotensi menjadi boomerang bagi pemerintah. Karena setiap kebijakan yang akan diambil tetap akan menyisakan masalah yang sangat terkait langsung dengan masalah perut masyarakat Indonesia. Tidak ada satu pilihan pun yang membebaskan pemerintah dari resiko. Yang ada hanyalah resiko mana yang lebih bisa diminimalisirkan.

Inflasi diluar kendali, mungkin itu tema yang tepat bagi kenaikan harga pangan belakangan ini. Keyakinan pemerintah dalam pengendalian laju inflasi yang tertuang dalam APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) juga sangat diragukan kredibilitasnya belakangan ini, karena telah direvisi lebih tinggi lagi.

Pemerintah juga mengeluarkan kebimbangan mengenai kebijakan yang akan di ambil. Apakah harus menghilangkan subsidi dengan membiarkan harga pangan naik, atau tetap mempertahankan subsidi dengan konsekuensi memikirkan pembiayaannya. Padahal tanpa harus bertanya pada rakyat maka dengan mudah pikiran rakyat dapat ditebak bahwa harga turun adalah menjadi jawaban yang tidak mungkin diragukan lagi.

Kalau pemerintah tidak menurunkan harga terlebih melepas subsidi, maka dengan mudah akan terjadi revolusi. Rakyat akan menilai pemerintah gagal dalam menjalankan amanah yang telah diberikan, maka “pemerintah turun” akan menjadi statement biasa yang akan terdengar.

Sunday, March 09, 2008

Akankah Suku Bunga Turun Drastis?

Medan Bisnis, 04 Maret 2008
Mata uang US Dolar kembali terpuruk dalam 2 minggu terakhir. Melemahnya kinerja US Dolar dipicu oleh data perekonomian Amerika yang belum menunjukan adanya perubahan positif. Hal tersebut membuat masyarakat AS berpendapat bahwa Amerika benar-benar dalam masa resesi pada saat sekarang ini.

Amerika dihadapkan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang rendah serta tingkat inflasi yang cukup tinggi, atau biasa dikenal dengan stagflasi. Guna mengantisipasi hal tersebut pemerintah Amerika mengeluarkan kebijakan stimulus ekonomi dengan mengembalikan pajak mulai dari $600 hingga $1200. Namun, bagi-bagi uang tersebut sepertinya tidak akan efektif dalam jangka panjang. Daya beli masyarakat AS akan tertolong selama uang tersebut digunakan, seiring dengan itu inflasi akan terus menjadi ancaman ditengah tingginya harga komoditas dunia.

Sementara itu, Bank Sentral Amerika diperkirakan akan kembali menurunkan suku bunganya dalam Federal Open Market Committee (FOMC) bulan maret ini. Menurunkan suku bunga secara drastis sepertinya akan ditempuh guna menghindari Amerika dari keterpurukan yang lebih dalam lagi. Pasar sepertinya telah menangkap sinyal dari pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke yang akan kembali memangkas suku bunganya dalam beberapa pertemuan mendatang.

Sinyal tersebut sepertinya sudah dapat ditangkap oleh pelaku pasar, yang terbukti dengan memburuknya mata uang US Dolar dalam 2 pekan terkahir. Tak ada lagi yang dapat dihindari, melemahnya nilai tukar akan mendorong harga komoditas naik dan akan memberikan kontribusi bagi tingginya inflasi dalam beberapa waktu kedepan.

Di Indonesia, tingginya inflasi telah membuat Bank Indonesia tetap menahan besaran suku bunga sebesar 8%. Penurunan suku bunga Bank Sentral AS (The FED Fund Rate) sepertinya bukan menjadi acuan mutlak dalam menurunkan suku bunga Rupiah. Ada banyak hal yang melandasi keputusan BI tersebut, mulai dari penstabilan harga pangan, penyelamatan APBN dari subsidi yang berlebihan ataupun hal lain seperti dengan membiarkan mata uang Rupiah terus menguat.

Walaupun akan berkontribusi negatif atas kinerja ekspor. Namun pemerintah sepertinya lebih percaya diri guna mendukung kebijakan yang lebih menekankan pada aspek moneter. Karena pendekatan tersebut lebih cepat dan dapat dirasakan efeknya dibandingkan dengan memberikan stimulus kebijakan yang pro sektor riil.

Sebenarnya Bank Indonesia mempunyai peluang yang cukup besar atas pengendalian moneter pada saat ini, walau selalu dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi global. Penurunan suku suku bunga The FED secara drastis telah membuat spread (selisih) antara BI rate dan The FED Fund Rate semakin lebar. Sehingga dengan spread yang besar tersebut Indonesia telah dibanjiri dana-dana panas atau Hot Money yang cukup signifikan dan membuat Rupiah menguat terhadap US Dolar.

Meski demikian, dalam RAPBN-P 2008, BI rate ditetapkan di level 7.5%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa masih ada kemungkinan BI rate untuk turun kembali selama tahun 2008 ini. Walaupun dalam kisaran angka yang cukup kecil. Yang jelas kebijakan Bank Indonesia akan mengacu pada laju inflasi nasional ketimbang tren penurunan suku bunga global.
Dalam jangka pendek efek dari kebijakan tersebut cukup jelas di pasar keuangan dan saham. Penguatan pasar finansial yang ditopang dari dana-dana jangka pendek telah membuat harga saham dan nilai tukar Rupiah berfluktuasi dengan kecenderungan menguat. Walaupun sebenarnya penguatan tersebut akan menyisakan kekhawatiran pada masa yang akan datang, karena dana tersebut dapat berpindah dengan mudah ketika ada lahan lain yang lebih menguntungkan.

Tak perlu dikhawatirkan, selama Amerika Serikat masih memperjuangkan laju pertumbuhan ekonomi ketimbang pengendalian inflasi. Selama itu pula tersirat optimisme bahwa pasar finansial kita akan tetap berkinerja baik. Dan suku bunga akan turun walaupun dalam rentang waktu yang cukup lama. Pengendalian moneter sepertinya masih akan menjadi pilihan bagi pemerintahan kita dalam beberapa waktu kedepan.

Namun, ada hal penting yang harus kita sadari. Jangan pernah terlalu berharap suku bunga akan turun cepat, pelayanan pendidikan dan kesehatan akan menjadi lebih baik, sektor riil akan berputar dan menopang ekonomi, angka kemiskinan dan pengangguran akan berkurang drastis, karena pemerintah telah menurunkan anggaran di setiap departemen yang terkait, guna berhemat. Melonjaknya harga komoditas seperti minyak dan bahan pangan lainnya telah merobek kantong pemerintah sehingga kita harus memilih seperti pilihan pemerintah itu sendiri.

Sunday, March 02, 2008

Krisis Pangan Kembali Mengancam

Medan Bisnis, 24 Februari 2008
Harga sejumlah komoditas seperti minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan yang cukup signifikan seiring dengan melemahnya mata uang US Dolar. Selain itu, laju inflasi yang cukup tinggi di beberapa negara seperti China, India, Indonesia maupun Filiphina juga akan berdampak sangat buruk bagi pemenuhan kebutuhan pangan.

Harga minyak mentah dunia pada perdagangan hari rabu sempat melebihi harga $100 per barel atau tepatnya di level $100,700 per barel. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi harga sejumlah komoditas lainnya seperti emas, perak dan gandum. Selain itu, memburuknya kinerja perekonomian Amerika turut memberikan andil besar terhadap kenaikan harga sejumlah komoditas.

Di China laju inflasi berlari lebih dari 7%. Kenaikan tersebut tentunya akan membuat biaya hidup masyarakat disana akan meningkat, dan akan berimbas pada kenaikan gaji buruh. Kalau gaji buruh mulai menunjukan peningkatan tentunya akan dikompensasi dengan kenaikan harga produksi, yang akan berujung pada kenaikan harga dimana barang tersebut dipasarkan.
Inflasi sepertinya akan menjadi ancaman serius bagi perekonomian global kedepan. Selain dikarenakan stagnasi perekonomian AS, inflasi tinggi juga disebabkan oleh tren penurunan suku bunga. Indonesia juga akan sulit menghindari ancaman inflasi dunia yang diperkirakan akan berimbas pada kenaikan harga bahan pangan di dalam negeri.

Sejauh ini pemerintah lebih memilih untuk mengambil opsi subsidi untuk bahan pangan maupun minyak. Kebijakan pemerintah tersebut akan memberikan dampak pada membengkaknya defisit APBN dan akan menguras cadangan devisa. Selain itu, pola stabilisasi harga dengan subsidi juga berpotensi menambah utang luar negeri pemerintah.

Disaat sulit untuk menaikan laju pertumbuhan perekonomian seperti sekarang ini, pemerintah Indonesia sepertinya sudah terjepit ditengah memburuknya perekonomian global. Harga minyak diperkirakan akan terus menghantui karena masih berpotensi untuk naik lebih tinggi lagi. Asumsi APBN yang mematok harga minyak dilevel $83 per barel sepertinya juga akan meleset.

Walaupun ada penguatan pada nilai tukar Rupiah, namun belum bisa dipastikan apakah penguatan Rupiah dapat meng-cover kenaikan harga minyak dunia seperti yang terjadi pada saat ini. Selain itu, kenaikan harga minyak juga telah merubah pola produksi minyak Pertamina yang sebelumnya membeli minyak mentah untuk dilakukan penyulingan sebelum menjadi bahan bakar, menjadi membeli barang jadi minyak untuk dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar.

Berita menggembirakan sempat menyelimuti perdagangan komoditas ini di New York Merchantile Exchange (NYMEX). Yakni berita dari departemen energi AS mengenai melemahnya permintaan minyak oleh Amerika, yang dikarenakan meningkatnya pasokan minyak di negara tersebut. Harga minyak pun langsung turun dikisaran level $97 per barel.

Namun, belum diketahui sampai kapan harga minyak akan bertahan dibawah level $100 per barel, karena banyak pengamat dan lembaga yang memperkirakan bahwa harga minyak diatas $100 per barel hanyalah masalah waktu. Hal tersebut dilandasi oleh kebutuhan minyak beberapa negara seperti China dan India yang diperkirakan akan “minum” minyak lebih banyak lagi dalam beberapa tahun kedepan. Di beberapa negara di Eropa juga mengalami tekanan inflasi tertinggi sejak diberlakukannya mata uang Euro pada tahun 1999, Inflasi sebesar 2,6% pada saat ini.

Sejumlah komoditas seperti kacang kedelai diperkirakan akan terus mengalami tekanan di pasar domestik. Kebijakan pemerintah yang melakukan subsidi diperkirakan akan terbebani apabila harga kacang kedelai kembali naik di pasar global.

Mendekati Pemilu di tahun 2009 mendatang, kenaikan sejumlah harga barang akan menjadi isu penting dalam kampanye politik. Pemerintahan SBY akan mengalami guncangan hebat semasa beliau menjabat sebagai Presiden RI. Alasan ketidakmampuan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan akan menjadi isu yang nyata dan mempunyai realita seperti yang terjadi pada saat ini.

Harga komoditas yang melambung akan menjadi menu utama yang cukup efektif dalam kampanye nantinya. Walaupun pemerintah SBY masih melakukan subsidi guna meredam harga, namun pasti ada celah lain seperti Hutang yang membengkak atau defisit APBN yang kian membesar yang dapat dijadikan bumerang untuk menjatuhkannya.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pernyataan SBY yang menyatakan kelangkaan pangan merupakan masalah global benar adanya. Namun, kenaikan harga pangan sangat erat kaitannya dengan masalah perut. Ancaman serius dari harga pangan sepertinya tidak akan mampu tertutupi oleh retorika seorang pejabat kuat seperti SBY sekalipun.

Sunday, February 24, 2008

Buah Simalakama Ala Amerika

Medan Bisnis, 18 Februari 2008
Bank Sentral Amerika atau biasa disebut denga The FED kembali dihadapkan dengan data-data perekonomian Amerika, yang lagi-lagi menunjukan performa yang buruk. Kebijakan menurunkan suku bunga acuan The FED secara drastis belakangan ini, menimbulkan masalah lain walaupun diperkirakan cukup mampu mengurangi defisit neraca perdagangan Amerika.

Departemen tenaga kerja AS melaporkan telah terjadi kenaikan sejumlah harga barang seperti makanan dan energi yang disebabkan oleh meningkatnya laju tekanan inflasi akibat meningkatnya harga barang impor. Memburuknya kinerja mata uang US Dolar telah membuat negara tersebut membayar lebih mahal terhadap semua barang impor yang masuk ke Amerika.

Harga barang impor di Amerika telah mengalami kenaikan sebesar 1.7% selama bulan Januari 2008. Kenaikan tersebut nantinya juga akan memaksa sejumlah perusahaan di Amerika menaikan harga barang sehingga mendongkrak laju inflasi negara tersebut. Untuk meredam laju inflasi itu, maka langkah yang harus diambil oleh Bank Sentral Amerika adalah dengan menaikkan suku bunga acuan atau The FED Fund Rate.

Tidak mungkin, kredit sektor perumahan Amerika masih dalam masa keterpurukan. Daya beli masyarakat Amerika kembali menurun. Menaikan suku bunga akan menambah beban masyarakat di negara tersebut dan dapat memperburuk kinerja perekonomian Amerika yang masih berkutat pada kredit bermasalah dan berpotensi membawa AS menuju resesi.

Keputusan menaikan suku bunga juga sangat bertolak belakang dengan kebijakan stimulus perekonomian Amerika yang telah disetujui oleh congress amerika. Kebijakan suku bunga tinggi atau tight money policy juga akan berdampak pada memburuknya kinerja perekonomian global, karena Amerika masih menjadi negara tujuan utama ekspor di hampir semua negara di belahan dunia.

Sangat dilematis, dan bagaikan makan buah simalakama. Namun, solusi untuk masalah tersebut adalah dengan menetapkan prioritas. Pemerintah AS harus dipaksa menentukan 1 pilihan yang sama-sama punya sisi negatif dan memiliki keterikatan antara satu dengan yang lainnya. Namun pilihan tersebut sepertinya telah terungkap dengan jelas seiring dengan pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke dalam rapat FOMC (Federal Open Market Committee).

Dalam Pidatonya Bank Sentral AS siap untuk menurunkan suku bunga lagi dalam mendorong pertumbuhan, serta memberikan jaminan akan munculnya ancaman dari kebijakan yang akan dibuat tersebut. Langkah tersebut jelas tidak populis, namun apamau dikata, biarkan saja inflasi naik, harga barang naik, banyak uang beredar asalkan mampu mendongkrak daya beli masyarakat.

Tapi bagaimana mungkin?, bukankah laju inflasi yang tinggi juga sebagai indikasi awal bahwa daya beli masyarakat akan kembali melemah nantinya. Bagi-bagi uang (paket stimulus ekonomi AS) juga akan kurang bermanfaat apabila masyarakat Amerika menerima uang, namun harus membayar harga yang lebih mahal terhadap produk yang akan di belinya.

Mirip lomba lari seperti perayaan acara 17-an. Kita hanya tinggal melihat manakah diantara Inflasi dan Pertumbuhan yang akan mencapai garis finish duluan. Kalau pertumbuhan ekonomi Amerika akan dipacu dengan suku bunga rendah dan dilengkapi dengan paket stimulus ekonomi, nah Inflasi akan di pacu dengan US Dolar yang melemah serta tingginya harga komoditas dunia.

Kalau paket stimulus AS berhasil membawa masyarakat Amerika jauh dari potensi resesi, maka hal tersebut tentunya akan dikompensasi dengan membaiknya perekonomian global yang ditandai dengan membaiknya daya beli masyarakat Amerika. Dan hal tersebut tentunya akan berdampak positif bagi kinerja ekspor negara-negara yang menjadikan Amerika sebagai tujuan utama.

Nah kalau ancaman inflasi yang lebih menonjol, maka hal tersebut akan memberikan dampak negatif terhadap perekonomian AS, sehingga perekonomian global akan mengalami kontraksi juga. Kita (Indonesia) tentunya tidak hanya menonton, kita harus mengantisipasi dampak dari kebijakan Amerika tersebut.

Kalau kita saat ini mengantisipasi dengan cara meningkatkan konsumsi dalam negeri. Maka kita akan melihat bahwa gejolak perekonomian Global tidak akan berpengaruh banyak bagi kegiatan ekonomi domestik. Posisi kita akan sangat lebih diuntungkan dari ancaman resesi negara lain.

Namun, tidak mudah untuk menaikan belanja masyarakat kita seperti sekarang ini. Selain karena APBN yang harus tambal sulam, tingginya harga komoditas seperti minyak, kedelai maupun gandum. Kita juga masih harus meminjam uang dengan suku bunga cukup tinggi, karena BI rate belum pasti akan turun dari tempat duduknya yang masih seharga 8%.

Wednesday, February 13, 2008

Ditengah Ketidakpastian Pertumbuhan

Medan Bisnis, 11 Februari 2008
Bank Sentral Inggris atau BOE kembali memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin menjadi 5,25% pada saat ini. keputusan tersebut diambil menyusul membaiknya laju pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Keputusan itu juga sepertinya untuk mengimbangi besaran suku bunga The FED yang juga turun akhir-akhir ini.

Selain itu, kepercayaan akan pertumbuhan ekonomi di zona euro seperti yang diungkapkan baru-baru ini sepertinya sangat bertolak belakang dengan prediksi IMF (International Monetery Fund) yang justru merevisi prediksi laju pertumbuhan untuk zona euro sebesar 1.6% pada tahun 2008 ini.

Krisis sektor perumahan AS telah membawa perubahan yang cukup signifikan bagi laju pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang Amerika seperti negara di kawasan Eropa. Gubernur bank sentral eropa (ECB) Jean C. Trichet mengeluarkan statement bahwa tanda-tanda pertumbuhan ekonomi di Eropa masih cukup solid sehingga kemungkinan suku bunga akan turun tetap terbuka. Namun, hal tersebut ditanggapi dengan melemahnya mata uang Euro di pasar keuangan.

Dalam pertemuan negara anggota G-7 baru-baru ini, kelompok G-7 menyatakan bahwa laju pertumbuhan di Amerika serikat sepertinya masih akan memburuk dalam waktu yang cukup lama. Hal ini mengindikasikan bahwa ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi global akan tetap terjadi dalam kurun waktu yang belum bisa dipastikan.

Dalam statementnya negara anggota G-7 bertekad untuk menekan dampak buruk dari krisis yang berlangsung pada saat ini. Namun, lebih jauh tidak dijelaskan dengan jelas instrumen apa yang akan digunakan untuk meredam gejolak ketidakpastian ekonomi yang terjadi pada saat ini. Yang tentunya akan memunculkan kekhawatiran baru atas kredibilitas negara ekonomi besar dunia yang dinilai tidak kompeten.

Memburuknya perekonomian AS sepertinya sudah menjadi ancaman di pasar keuangan global, sehingga tidak banyak yang dapat dilakukan pemerintah Amerika untuk meredam dampak negatifnya pada saat ini. Pemangkasan suku bunga seperti yang dilakukan Bank Sentral Amerika atau The FED akhir-akhir ini sepertinya tidak berpengaruh signifikan dan hanya mengangkat harga komoditas ke level yang lebih tinggi lagi.

Kongres Amerika akhirnya membuat sebuah kebijakan (solusi) guna mempercepat perbaikan dalam ekonomi AS. Kebijakan tersebut diantaranya menyetujui paket stimulus ekonomi yang intinya memberikan dana bagi setiap warga AS guna meningkatkan konsumsi yang diharapkan mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) AS. 130 juta warga Amerika diperkirakan akan mendapatkan dana tersebut.

Dana tersebut dibagikan bagi warga yang mempunyai penghasilan dibawah $3.000/tahun. Dengan ketentuan $600 untuk setiap orang, atau $1.200 bagi pasangan dan $300 untuk masing-masing anak. Termasuk para pensiunan yang mendapat jaminan sosial juga mendapatkan dana tersebut. Presiden AS George W. Bush menyatakan bahwa langkah tersebut cukup efektif guna menghindari Amerika dari resesi.

Sementara itu, seiring dengan tren penurunan suku bunga di Amerika, pasar keuangan Indonesia kembali dibanjiri oleh dana -dana asing atau lebih dikenal dengan Hot Money. Dana tersebut masuk melalui pasar keuangan maupun saham. Sejauh ini, BI selaku pemegang otoritas keuangan tertinggi tidak merisaukan arus dana masuk tersebut, yang tercermin dengan menguatnya nilai tukar rupiah belakangan ini.

BI bisa saja menurunkan besaran bunga acuan atau BI rate yang saat ini masih bertahan di level 8%. Penguatan rupiah sepertinya akan tetap bermanfaat bagi stabilitas harga pangan di dalam negeri khususnya kedelai dan gandum. Harga kedelai yang melambung telah membuat pemerintah membayar mahal untuk mengimpor kedelai dengan harga sekitar Rp. 6.000,- dan dijual dengan harga Rp. 3.000. Entah apa lagi yang akan dilakukan pemerintah guna menambal defisit APBN kedepan.

Dengan penguatan nilai tukar Rupiah setidaknya mengurangi beban pemerintah dalam menghimpun dana untuk mengimpor kedelai. Walaupun sebenarnya keadaan tersebut sangat mengkhawatirkan bagi pergerakan rupiah dalam jangka panjang. Apabila dana dana yang masuk saat ini (Hot Money) keluar secara tiba-tiba akibat volatilitas yang cukup tinggi di pasar global maka nilai tukar rupiah akan terjun bebas dan menggerus cadangan devisa. Kalau hal tersebut terjadi maka rakyat yang saat ini disubsidi dengan harga kedelai murah tentunya tetap akan membayar apabila Rupiah kembali begerak liar.

Gambaran Perekonomian AS Kian Buram

Medan Bisnis, 4 Februari 2008
Federal Reserve atau lebih dikenal dengan The FED sebagai sebutan untuk Bank Sentral Amerika Serikat, baru-baru ini kembali menurunkan suku bunga menjadi 3% pada saat ini. Keputusan tersebut dilatar belakangi dengan masih memburuknya kredit macet sektor perumahan Amerika serta anjloknya data tenaga kerja diluar sektor pertanian atau biasa disebut dengan Non-Farm Payroll.

Non-Farm Payroll AS turun menjadi sebesar 17.000 jiwa pada bulan januari 2008 setelah sempat naik sebanyak 82.000 jiwa pada bulan desember 2007. Hal tersebut sangat jauh berbeda dengan analisa banyak pengamat keuangan yang justru memperkirakan adanya pertumbuhan pada jumlah tenaga kerja baru yang terserap pada bulan Januari kemarin.

Kebijakan uang ketat atau Tight Money Policy The FED pada masa Alan Greenspan sepertinya sudah mulai pudar eksistensinya dan lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu, disinyalir memburuknya kinerja perekonomian AS tidak terlepas dari besarnya utang negara Amerika, dimana lebih fokus untuk mengkampanyekan program melawan teroris di belahan dunia selama pemerintahan presiden George W. Bush.

Memburuknya perekonomian AS juga diperparah dengan semakin tingginya harga minyak mentah dunia. Apabila harga minyak dunia kembali naik signifikan bisa dipastikan bahwa Amerika lagi-lagi akan menghadapi masalah sulit karena harus membeli dengan nominal yang cukup besar dalam memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Dalam setiap kebijakan mengenai suku bunganya The FED selalu memberikan komentar yang biasanya digunakan untuk memprediksi arah pergerakan suku bunga ke depan. Sejauh ini, pasar lebih optimis bahwa The FED masih akan memotong besaran suku bunganya dalam pertemuan FOMC (federal open market committee) bulan mendatang.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa The FED masih mengkhawatirkan sektor perumahan yang mengalami kredit macet serta lebih menekankan pada laju pertumbuhan untuk mendorong konsumsi masyarakat disana. Dan oleh karena itu, mata uang US Dolar kembali terpuruk cukup dalam terhadap semua mata uang dunia.

Untuk mengatasi dampak negatif dari memburuknya perekonomian Amerika, negara Eropa seperti Inggris kembali mengeluarkan regulasi perbankan yang lebih melindungi deposan serta menjaga pasar finansial dari volatilitas yang cukup tinggi. Dampak negatif dari memburuknya perekonomian AS juga dapat dirasakan diseluruh belahan dunia dengan mengeluarkan sebuah kebijakan untuk menghadapi skenario stres (stress scenario).

Stress scenario yang paling mungkin terjadi adalah terpuruknya nilai tukar US Dolar (sharp decoupling), stagnasi akibat inflasi tinggi (stagflation) dan stagnasi akibat kelesuan ekonomi (stagnation). Sehingga bisa diperkirakan bahwa ekonomi global akan terus mencoba untuk mencapai titik keseimbangan (equilibrium) selama tahun 2008 – 2009. Walaupun beberapa kekuatan ekonomi dunia yang baru (China dan India) diperkirakan mampu untuk mengimbangi kelesuan ekonomi global saat ini, namun kekuatan ekonomi AS sepertinya masih akan tetap mendominasi serta akan mempengaruhi ekonomi global dari segala aspeknya.

Dalam negeri
Indonesia merupakan negara yang juga terintegrasi dalam sistem keuangan global. Keterpurukan ekonomi AS juga membuat Indonesia terkena dampaknya seperti kenaikan harga bahan pangan baru-baru ini. Sulit untuk mengatakan apakah kita secara mandiri dapat menghindari dari gejala resesi yang diawali dengan memburuknya perekonomian AS.

Amerika bukan negara tujuan ekspor utama Indonesia, namun karena Amerika menguasai hampir seperempat (¼) produk domestik bruto (PDB) dunia, jadi sangatlah sulit untuk terhindar dari efek awal resesi perekonomian dunia pada saat ini. Bukan mustahil apabila Amerika mengalami krisis ekonomi maka akan diikuti oleh Indonesia.

Suku bunga atau BI rate juga dipertahankan sama di level 8% pada saat ini. Hal tersebut dikarenakan masih tingginya inflasi pada bulan januari yang dirilis BPS (badan pusat statistik) sebesar 1.7%. Hal tersebut akan membuat pemerintah dan otoritas moneter negara kita bekerja ekstra keras karena target inflasi tahun 2008 ini adalah sebesar 5% plus minus 1%.

Ruang penurunan BI rate semakin kecil, sehingga perbankan diperkirakan masih akan tetap memberlakukan suku bunga tinggi sehingga berdampak pada stagnasi penyaluran kredit. Dunia bisnis pun akan mengalami hal yang sama yaitu stagnasi. Siapapun pemerintahan sekarang ini pastilah akan sulit untuk mengatasi perekonomian Indonesia yang tidak mengalami gejala perubahan yang lebih baik secara signifikan.

Sejumlah faktor baik Internal maupun Eksternal bukan perkara mudah untuk dikendalikan. Faktor eksternal (global) sangat rentan dengan permasalahan global dan sifatnya juga sangat sulit untuk diprediksi (unpredictable). Namun, tidak jauh berbeda dengan permasalahan internal, melambungnya harga bahan makanan pokok merupakan hasil dari reaksi perubahan perekonomian global. Sehingga siklus perputaran ekonomi tak ubahnya seperti lingkaran. Dimana akan lebih nyaman berada diatas dari pada tergilas pada saat di bawah.

Antara Paket Stimulus Ekonomi AS, Tempe dan Minyak Goreng

Medan Bisnis, 29 Januari 2008
Perekonomian Amerika Serikat kembali menghadapi resesi yang mungkin akan berkepanjangan. Hal tersebut terbukti dengan bangkrutnya sejumlah perusahaan jasa keuangan AS yang sekaligus memicu anjloknya indeks bursa saham wall street, serta menyeret sejumlah indeks bursa global. Mata uang US Dolar juga tidak luput dari keterpurukan sehingga membutuhkan insetif baru guna menyelamatkannya.

Tidak tanggung-tanggung, melemahnya US Dolar turut memicu melambungnya harga komoditas seperti minyak mentah dunia, yang turut membawa komoditas lainnya seperti gandum, kedelai kembali meroket tajam. Imbasnya jelas, para produsen tempe sempat menghentikan produksinya karena kenaikan harga bahan baku kacang kedelai.

Ungkapan yang muncul seperti “Amerika Bersin, Maka Negara Lain akan Demam”, sepertinya cukup menggambarkan bagaimana dampak dari kredit macet perumahan AS berimbas pada kebutuhan bahan makanan pokok di dalam negeri. Bahkan, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa permasalahan pangan belakangan ini merupakan masalah global, jadi bukan Indonesia saja yang kesulitan dalam menghadapi kelangkaan pangan, namun negara lain juga merasakan hal yang sama.

Namun yang pasti akan lebih bermartabat kalau pemerintah mampu mengatasi kelangkaan pangan dalam negeri walaupun negara lain justru kesulitan dalam mengatasinya. Bukan hanya beretorika serta mencari alasan lain sebagai kambing hitam dan dijadikan alasan untuk tidak melakukan sesuatu.

Indonesia lagi-lagi berada dalam posisi yang dirugikan pada saat ini. Belum lagi tuntas masalah pencapaian pertumbuhan yang tidak memenuhi harapan, Indonesia kembali dihadapkan pada laju tekanan inflasi akibat melambungnya harga sejumlah kebutuhan makanan pokok. Sehingga, banyak yang optimis bahwa pada tahun 2008 ini pemerintah tidak akan mencapai pertumbuhan ekonomi seperti yang telah ditargetkan.

Banyak yang bertanya-tanya, kenapa harga minyak goreng tetap mahal dipasaran, padahal Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Dunia. Jawabannya jelas, para pengusaha kelapa sawit akan lebih senang kalau sawitnya dijual di pasar global karena jauh lebih menguntungkan ketimbang harus dijual didalam negeri, yang notabene lebih murah karena untuk menstabilkan harga minyak goreng di pasar domestik.

Moral hazard dari para pengekspor CPO (Crude Palm Oil) / minyak kelapa sawit sempat diketuk ketika harga minyak goreng malambung tinggi. Namun, apakah kita sadar bahwa kenaikan harga CPO di pasar global juga akan mengangkat pendapatan petani sawit dalam negeri pada umumnya. Ngalor-ngidul dan tetap berkutat ke permasalahan itu, akhirnya pemerintah mengambil kebijakan untuk menaikan pajak ekspor dari penjualan CPO.
Efektifkah?, jawabannya tentu relatif tergantung kemampuan daya beli kita terhadap minyak goreng itu sendiri. Mahal atau tidaknya suatu barang tentu akan bergantung pada isi kantong kita masing-masing. Belum ada yang tahu kapan kesengsaraan ini akan berakhir.

Mungkinkah lagu dari Alm.Chrisye yang berjudul Badai Pasti Berlalu benar-benar akan menjadi doa yang akan terwujud, atau sebagai hiburan atas kesabaran mengahadapi cobaan seperti sekarang ini.

Namun, kita semua pasti dapat memperhitungkan semuanya. Mari kita sama-sama menganalisa. Kredit macet yang terjadi di Amerika telah membuat daya beli masyarakat disana menurun, sehingga mengurangi kinerja ekspor negara kita ke AS.

Hal tersebut tentunya akan berdampak pada menurunnya produktifitas perusahaan yang penjualannya bergantung pada Amerika Serikat. Dan memungkinkan perusahaan tersebut akan merugi, terlebih perusahaan tersebut tidak mempunyai negara tujuan ekspor lainnya. Dan kita tentunya sudah tahu apa yang akan dilakukan jika sebuah perusahaan itu merugi.

Nah, ada beberapa negara lain seperti China dan India yang tetap menunjukan laju pertumbuhan ekonomi yang dahsyat. Sehingga membuat negara tersebut kehausan akan minyak dan membuat harga minyak dunia melambung jauh diatas harga yang ditetapkan dalam APBN. Apabila harga minyak dunia naik tajam sudah tetntunya hal tersebut akan berimbas pada melambungnya harga barang yang berbasis impor. Karena harga barang tersebut akan ditambah dengan harga pengiriman yang juga membutuhkan bahan bakar.

Inilah yang menjadi pemicu kenapa harga kebutuhan pokok turut melambung tinggi belakangan ini. Kalaupun pemerintah mampu menstabilkan harga dengan cara subsidi, namun kita tidak akan pernah tahu sampai kapan negara ini akan mampu dibebani dengan biaya subsidi yang semakin besar.

Pada saat ini, Amerika Serikat direncanakan akan mendapat dana bantuan untuk menghindari negara tersebut dari krisis ekonomi, yang disebut juga dengan rencana stimulus kebijakan ekonomi. Ada harapan akan membaiknya daya beli masyarakat di AS yang sejalan dengan pemangkasan suku bunga The FED belakangan ini. Dan tentunya ada harapan pula dengan peningkatan kinerja ekspor negara kita.

Namun, turut diwaspadai pula bahwa peningkatan laju pertumbuhan ekonomi Amerika akan membuat negara tersebut semakin rakus akan minyak mentah, yang berpotensi mengangkat harga minyak mentah ke level yang lebih tinggi lagi. Sehingga sulit untuk menciptakan harga barang yang peduli pada masyarakat kita pada umumnya. Sehingga Teori yang benar untuk mengungkapkan ini semua adalah teori keseimbangan (equilibrium). Dimana pada dasarnya kita tetap berada pada sebuah titik keseimbangan, tidak kurang dan tidak lebih. Kalaupun anda merasa lebih tentunya ada sisi lain yang kekurangan.

Kesengsaraan (Hutang) Tiada Akhir

Medan Bisnis, 14 Januari 2008
Banyak pihak yang merasa kecewa ketika banyak media mengabarkan bahwa perbankan masih saja menyimpan dananya ke Bank Indonesia melalui instrumen keuangan Sertifikat Bank Indonesia atau biasa disebut dengan SBI. Dana nganggur di Perbankan tersebut seharusnya dapat dijadikan instrumen keuangan bagi dunia usaha atau biasa disebut dengan kredit.

Penyaluran kredit akan meningkatkan belanja masyarakat dan akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, dan sekaligus sebagai wadah mediasi perbankan itu sendiri. Namun, perbankan juga masih mengeluhkan penyerapan yang kurang maksimal dari para pelaku dunia usaha, baik itu karena suku bunga dinilai masih relatif tinggi, tingginya harga bahan bakar minyak, mahalnya bahan baku, penurunan daya beli hingga ke permasalahan struktural yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi.

Permasalahan tersebut disinyalir sebagai akar dari lemahnya penyerapan APBD di sejumlah daerah di Indonesia. Namun, alasan lain seperti ketakutan akan kekuatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang gencar dalam memberantas penyalahgunaan uang Negara (korupsi) kerap dijadikan masalah juga. Padahal penggunaan anggaran yang dapat dipertanggung jawabkan tentunya dapat dijadikan garansi.

Kondisi yang seperti demikian akan memicu sejumlah daerah menempatkan dananya di perbankan dengan fasilitas yang sama yaitu SBI. Karena SBI memberikan imbal hasil yang lebih baik dibandingkan dengan produk keuangan lain seperti Deposito. Sehingga pantas kiranya kalau pemerintah juga memberikan kontribusi bagi lambatnya pertumbuhan ekonomi, lemahnya penyerapan tenaga kerja hingga ketidak berdayaan dalam mengentaskan kemiskinan.

Rakyat yang jelas-jelas tidak terlibat sedikitpun dalam setiap pengambilan keputusan tersebut sangat dirugikan, karena beban dari bunga yang harus dibayarkan juga harus dibayar dengan keringat mereka. Sehingga subsidi (dalam bentuk apapun) yang diterima rakyat seperti sekarang ini tidak sebanding dengan kesempatan lain yang bisa diraih seperti pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan yang lebih layak.

Kalau saja penulis diberikan pilihan, maka penulis akan memilih untuk tidak menerima subsidi sama sekali asalkan dapat mendapatkan pekerjaan yang layak. Lagipula, subsidi yang diberikan pemerintah pada saat ini juga tidak sepenuhnya memihak kepada rakyat miskin karena mereka yang berpendapatan lebih baik juga dapat menggunakan subsidi tersebut.

Sejak menjelang akhir tahun 2007 hingga awal tahun 2008 ini, posisi pemerintah semakin sulit untuk menyesuaikan kenaikan harga minyak yang sebelumnya dalam APBN dipatok $60/barel, padahal harga minyak dunia pada saat ini mendekati level $100/barel. Defisit APBN pun tidak bisa dihindari.

Hingga pemerintah melalui menteri keuangan kembali menerbitkan surat utang dalam denominasi mata uang US Dolar sebesar US$ 2 Milyar yang biasa disebut dengan global bond, dan diberi nama indo 38 dan indo 18. Dengan masing-masing jatuh tempo 30 tahun untuk indo 38 serta 10 tahun untuk indo 18.

Ada hal yang menarik dari penerbitan dua obligasi tersebut, yakni bunga yang ditawarkan sebesar 7.74% (indo 38) serta 6.90% (indo 18). Menarik disini bukanlah karena bunga yang dibayar terlalu murah, akan tetapi lebih tinggi dari penerbitan obligasi di Amerika sendiri yang berada di range 4% hingga 6%.

Walaupun rating utang Indonesia yang diberikan lembaga pemeringkat utang sudah membaik akhir-akhir ini, namun sepertinya kebanyakan investor di negeri paman sam tidak mau ambil resiko, mereka tetap meminta bunga yang lebih tinggi lagi. Nah, siapakah yang akan membayar bunga segede itu?, kita (rakyat) tentunya dong, melalui pemerintah pastinya.

Walaupun tidak akan ada tagihan secara langsung yang ditujukan kepada kita, tapi yakinlah bunga segede itu akan berdampak pada berkurangnya kualitas subsidi yang kita terima selama ini, maupun hilangnya kesempatan lain untuk mendapatkan subsidi yang baru. Subsidi tersebut juga belum terbebas dengan aksi penggelapan oleh oknum pemerintah, yang tentunya akan menambah lengkap penderitaan kita (rakyat).

Dengan porsi utang pemerintah melalui SBI yang mendekati Rp.300 Trilyun, serta utang lain seperti penerbitan global bond, mengindikasikan bahwa kita (rakyat) masih akan terus berjuang untuk lepas dari kesengsaraan. Kalau perjuangan tersebut sudah mengalami titik jenuh, maka tidak ada pilihan lain selain pasrah kepada Tuhan.

Perputaran Uang Panas (Hot Money)

Medan Bisnis, 7 Januari 2008
Salah satu mata uang kuat dunia US Dolar kembali terpuruk akibat meningkatnya jumlah angka pengangguran di negeri paman sam. Alhasil, pelemahan tersebut membuat sejumlah mata uang rivalnya seperti Yuan China kembali menguat signifikan.

Penguatan mata uang Yuan tidak terlepas dari pengaruh memburuknya kondisi perekonomian Amerika, dimana selama bulan desember 2007 di Amerika Serikat terjadi penyerapan tenaga kerja baru sebanyak 18.000 jiwa, jauh lebih kecil dari ekspektasi pasar sebelumnya sebanyak 70.000 jiwa. Data tersebut merupakan data terkecil sejak 4 tahun terakhir.

Indeks jumlah pengangguran juga naik menjadi 5% pada saat ini, atau lebih tinggi dari ekspektasi analis sebesar 4.8%. Peningkatan jumlah pengangguran tidak dapat dihindari sejak krisis sektor perumahan atau subprime mortgage melanda pasar finansial Amerika di tahun 2007 lalu. Dampak dari krisis perumahan tersebut sepertinya masih akan menjadi stimulus negatif bagi perekonomian Amerika di tahun 2008 ini.

Akibat data tersebut, Indeks Bursa Dow Jones juga kembali terpuruk (turun 2%) seiring dengan melemahnya nilai tukar US Dolar. Penurunan indeks Bursa Dow Jones juga berimbas pada melemahnya indeks bursa di Eropa dan Jepang. Namun, tidak selamanya dampak negatif dari memburuknya perekonomian Amerika juga akan dirasakan di Negara lainnya.

Memburuknya kinerja perekonomian Amerika akhir-akhir ini berpotensi menjadi pemicu larinya sejumlah aliran dana keluar dari Amerika. Kemana?, ke Negara yang memberikan imbal hasil yang lebih baik tentunya. Negara berkembang atau biasa disebut emerging market berpotensi mendapatkan keuntungan dari memburuknya perekonomian Amerika.

Kalau kita cermati, mata uang Yuan China, menunjukan peforma yang cukup baik, dan bergerak sebaliknya dibandingkan pergerakan mata uang US Dolar. Diperkirakan penguatan Yuan terkait dengan masuknya aliran dana dari luar, khususnya Amerika sehingga membuat pasar finansial dibanjiri oleh dana dari mana saja. Uang yang masuk yang memanfaatkan gain suku bunga dan tidak termasuk sebagai dana yang digunakan untuk investasi (Foreign Direct Investment – FDI) biasa disebut dengan uang panas atau hot money.

Dalam jangka pendek dana tersebut akan menyebabkan permintaan pada produk keuangan yang diterbitkan di Negara asal sehingga terjadi permintaan akan obligasi, saham maupun produk keuangan lainnya. Efek yang ditimbulkan adalah permintaan akan mata uang Negara asal yang terus meningkat dan menguat terhadap mata uang Negara lainnya.

China merupakan salah satu peta kekuatan ekonomi dunia yang diperhitungkan pada saat ini. Dengan laju pertumbuhan diatas 10%, tingkat inflasi yang cukup tinggi serta jumlah penduduk yang terbanyak di dunia memberikan imbal hasil (suku bunga) yang cukup baik dibandingkan dengan Negara lainnya. Kondisi tersebut tentunya akan menjadi penilaian positif bagi investor untuk mengembang biakan dananya ke Negara tersebut.

Laju pertumbuhan yang tinggi umumnya akan dibarengi dengan inflasi yang tinggi pula. Hal tersebut berdampak pada pengetatan kebijakan moneter di China yang secara meyakinkan terus menaikan suku bunganya. Sehingga dapat menimbulkan dampak pada mengalirnya sejumlah dana -hot money- ke Negara tersebut.

Bahkan, Amerika menuding China melakukan kecurangan dengan tidak membiarkan mata uang Yuan menguat sesuai dengan mekanisme pasar. Monopoli terhadap produk buatan China di pasar China dituding menjadi akar permasalahan bagi defisit neraca perdagangan Amerika. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Yuan masih akan terus menguat lebih jauh lagi, walaupun tanpa kebijakan untuk meliberalkan mata uang Yuan.

Bukan berarti keadaan tersebut akan terus menguntungkan China. Perputaran uang (hot money) sangat rentan terhadap isu global yang berpotensi akan menjadi boomerang bagi Negara yang saat ini sangat diuntungkan oleh hot money tersebut. Indonesia juga pernah mengalami hal serupa, bahkan sebelum kirisis melanda Indonesia pada tahun 1997.

Dana panas biasanya akan membanjiri produk keuangan jangka pendek yang dapat dicairkan seketika. Apabila terjadi gejolak yang menimbulkan dampak negatif pada perekonomian, dengan cepat dana panas tersebut akan segera keluar dan menyebabkan fluktuasi pada pasar finansial.

Apabila Negara yang mengalami fluktuasi tersebut tidak sigap ataupun salah dalam mengambil tindakan, dikhawatirkan akan berdampak pada krisis berkepanjangan seperti yang dialami Indonesia sejak tahun 1997.

Uang tidak pernah mengenal nasionalisme, dan juga tidak mengenal humanisme. Uang akan terus berkembang biak sesuai dengan kemauan sang pemiliknya. Peredarannya lebih dikarenakan sebagai alat pemuas semata bagi tuannya. Tanpa mengenal lelah uang akan terus beputar dan berpihak pada siapa (Negara) dia akan lebih menguntungkan. Uang memang berguna bagi kebanyakan manusia, tapi pahamilah bahwa uang panas, dana panas atau hot money itu ga ada gunanya.