Semua yang disajikan didalam Blog ini merupakan artikel yang dimuat dibeberapa Media Cetak dalam negeri. Merupakan opini pribadi dan tidak merefleksikan pandangan dari institusi dimana penulis bekerja saat ini. Semoga Bermanfaat.
Friday, January 22, 2010
Tekanan Inflasi Terus Melunak
Penurunan harga BBM oleh pemerintah per tanggal 15 Januari kemarin membawa berkah bagi kita semua. Dengan penurunan tersebut diharapkan harga bahan kebutuhan pokok juga ikut turun. Selain itu, penurunan tersebut juga memberikan angin segar bagi dunia perbankan khususnya Bank Indonesia, yang diyakini akan menurunkan suku bunga acuan atau BI rate.
Semua kalangan menilai positif langkah pemerintah tersebut, terlebih pelaku bisnis. Dengan penurunan harga BBM diharapkan pemerintah memiliki peluang untuk terus mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, ditengah krisis keuangan global. Penurunan harga BBM merupakan memomentum yang sangat baik untuk menatap hari esok.
Daya beli masyarakat yang turun akibat terpaan krisis global setidaknya masih dapat diminimalisir dengan adanya langkah positif dari pemerintah tersebut. Penurunan BBM juga diharapkan mampu mengurangi beban dunia industri. Dan lebih dari itu, industri-industri baru sudah seharusnya bangkit kembali memanfaatkan momentum saat ini.
Faktor yang paling mendukung penurunan harga BBM adalah penurunan harga minyak dunia yang sangat signifikan. Harga minyak dunia terus mengalami penurunan yang tajam dan berada dikisaran $36/barel saat ini. Harga minyak yang sempat naik setelah Israel menyerang Palestina, dan kembali bergerak turun setelah terjadi penurunan konsumsi minyak seiring krisis keuangan dunia.
Langkah negara anggota OPEC juga tidak membuahkan hasil setelah mereka memotong produksinya untuk mendongkrak harga minyak. Namun, ini bukanlah berita baik juga. Karena penurunan konsumsi masyarakat dunia menggambarkan suramnya perputaran roda ekonomi masyarakat global. Dan dapat mengakibatkan perlambatan ekonomi domestik.
Sulit untuk menggambarkan wajah perekonomian kita kedepan. Meskipun telah ditopang dengan sederatan langkah kebijakan uang longgar. Perputaran roda ekonomi domestik belum menunjukan hasilnya. Dan belum jadi garansi bahwa langkah pemerintah untuk menggelontorkan sejumlah uang untuk menstimulus ekonomi, akan berjalan mulus seperti yang diharapkan.
Ekspor tetap menjadi salah satu andalan negara kita dalam mencetak devisa. Ditengah melemahnya permintaan dari negara lain, tak urung kebijakan yang memaksakan akan konsumsi dalam negeri terus dikumandangkan. Sulit mengilustrasikan, bagaimana masyarakat yang terus melemah adaya belinya akibat krisis global, dipaksa untuk mengkonsumsi lebih banyak lagi dengan uang yang digelontorkan pemerintah, meskipun dengan biaya (bunga) murah.
Dunia perbankan tentunya enggan menyalurkan dana-dana tersebut karena mengandung sejumlah resiko yang akan berakibat pada meningkatnya kredit macet. Pasar tentunya akan melihat prospek ekonomi ke depan dengan menganalisa sejumlah faktor. Dan setidaknya itu dilakukan hingga semester pertama tahun 2009. Hal itu seiring dengan sejumlah pengamatan para analis yang mengindikasikan bahwa perubahan akan terlihat setelah 6 bulan kedepan. Walaupun belum ada yang bisa memastikan perubahan seperti apa yang akan terjadi.
Namun, ada hal yang cukup menggembirakan kita semua, setidaknya hingga 1 sampai 3 tahun kedepan. Hal ini terkait dengan melunaknya laju tekanan inflasi. Hal tersebut sepertinya akan dijadikan momentum dan alasan kuat agar perekonomian kita tetap berputar serta ditopang dengan kebijakan suku bunga rendah. Dan tentunya kondisi tersebut akan memberikan ruang bagi terus berkembangnya dunia usaha dan penciptaan lapangan kerja baru. Semoga.
APBN 2009, Akankah Berubah Lagi?
Pemerintah telah menetapkan asumsi dasar ekonomi makro tahun 2009. Dari sekian banyak data yang dibuat. Beberapa data perekonomian yang menjadi asumsi dasar sangat optimis, meskipun realisasi data pada saat ini sangat jauh dibandingkan dengan asumsi pemerintah dalam APBN 2009. Salah satunya adalah nilai tukar Rupiah yang diasumsikan bergerak di kisaran 9400/$.
Nilai tukar Rupiah yang saat ini berada di level 11.000/$, tentunya belum bisa memberikan harapan apa-apa. Karena nilai tukar Rupiah saat ini masih sangat jauh dibandingkan dengan asumsi dasar ekonomi makro dalam APBN 2009. Namun, kebijakan yang diambil pemerintah tersebut cukup realistis. Setidaknya nilai tukar Rupiah ditopang dengan cadangan devisa yang cukup.
Selain itu, nilai impor Indonesia yang diperkirakan akan terus turun seiring dengan krisis global, akan meningkatkan surplus di neraca perdagangan Indonesia, apabila turut dibarengi dengan kinerja ekspor yang memadai. Belajar dari pengalaman sebelumnya, yakni pada saat Rupiah melemah ke level 12.000/$ paska kenaikan BBM di era pemerintahan SBY (tahun 2005), mampu diredam hingga akhirnya Rupiah kembali sempat menguat ke level 8.700/$.
Namun yang dilakukan pemerintah pada saat itu adalah dengan menaikan suku bunga acuan (BI rate) secara signifikan diatas rata-rata 12%. Keputusan tersebut dinilai mampu menarik dana asing masuk ke Indonesia meskipun banyak yang mensinyalir dana tersebut masih merupakan dana panas. Kondisi sebaliknya justru terjadi pada saat ini. Dimana terus terjadi penurunan suku bunga acuan (BI rate).
Sehingga kalaupun kita melihat indikasi ekonomi makro khususnya Rupiah maka bisa diperkirakan pemerintah masih mengalami sejumlah hambatan untuk merealisasikan targetnya tersebut. Karena kondisi perekonomian AS yang masih memburuk justru membuat nilai tukar US Dolar semakin perkasa terhadap mata uang dunia.
Selain itu, asumsi dasar tentang harga minyak dunia per barel yang masih $80/barel juga sangat jauh dari realisasi harga minyak pada saat ini yang rata-rata sebesar $40/barel. Namun penulis menilai asumsi harga minyak tersebut sangat realistis. Di tahun 2008 saja harga minyak sempat naik tajam di pertengahan bulan juli ($147/barel) dan terjun bebas menjelang akhir tahun 2008 ($40/barel).
Fluktuasi yang tajam tersebut dapat memberikan gambaran jelas bahwa acuan harga minyak sangat rentan dengan perubahan eksternal. Saran dari DPR yang meminta harga minyak diasumsikan di level $60-$70/barel sangat beresiko. Tahun 2009 belum memberikan gambaran jelas arah perubahan harga minyak. Ditengah ketidakpastian tersebut sudah selayaknya pemerintah lebih memilih untuk pilihan yang terburuk yang mungkin terjadi.
Selain itu, harga minyak masih berpotensi untuk kembali naik. Krisis geopolitik di jalur gaza juga sempat membuat harga minyak berfluktuasi dengan kecenderungan terus naik. Dan masih banyak hal lainnya yang mungkin terjadi selama tahun 2009 tentunya. Dari kondisi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan akan menunjukan peforma buruk di tahun 2009, akan berdampak semakin berkurangnya permintaan akan minyak.
Sementara asumsi dasar lainnya menurut penulis masih dalam ukuran yang wajar. Laju inflasi, laju pertumbuhan, SBI 3 bulan serta suku bunga acuan (BI rate) masih cukup rasional. Hanya saja suku bunga sepertinya masih akan dipatok dengan angka yang cukup tinggi. Padahal Amerika Serikat yang selama ini acuan suku bunganya (The FED Fund Rate) menjadi patokan telah turun hingga mendekati 0%.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah masih membutuhkan likuiditas yang lebih dalam mengontrol cash flow untuk mengamankan sektor keuangan. Dan dari pengamatan penulis hampir semua Negara yang tergolong dalam emerging market (Negara berkembang) melakukan langkah yang serupa. Tapi semuanya itu akan terus berubah (indikator ekonomi global). Dan jangan heran apabila APBN juga akan terus mencari keselarasan (berubah) dengan perubahan indikator tersebut. Dan jangan heran kalau nanti ada perubahan APBN lagi.
Tahun 2009, Penuh Tantangan
Di tahun 2009 ini, diperkirakan masih akan tetap terjadi gejolak ekonomi akibat dari serentetan kejadian di tahun 2008 sebelumnya. Misalkan saja dari dalam negeri, akan terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), perubahan asumsi ekonomi makro di dalam APBN, PEMILU, hingga penurunan harga BBM. Dari ranah global, menurunnya laju pertumbuhan ekonomi global, tren suku bunga yang terus turun, perubahan kepemimpinan di AS, program ekonomi pemerintah Barack Obama, hingga ke situasi politik di timur tengah.
Sejauh ini, banyak negara yang mengaku bahwa tahun 2009 merupakan tahun yang tidak mengenakan karena puncak dari resesi akan terjadi di tahun tersebut. Kalau benar demikian maka tahun 2009, Indonesia juga akan menghadapi suatu kondisi yang tidak jauh berbeda dengan negara lain. Tapi banyak yang beranggapan kita masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan negara lainnya.
Benarkah?, coba kita lihat dari sejumlah indikasi yang ada. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyatakan bahwa PHK sebanyak 1 Juta karyawan di tahun 2009 bukanlah sebuah gertakan. PHK lazimnya akan menambah beban bagi negara karena akan menurunkan daya beli. Selain itu, PHK juga akan memberikan dampak sosial yang tidak baik.
Kalau melihat program pemerintah yang akan memberikan stimulus sebesar Rp. 50 triliun di tahun 2009. Dana sisa anggaran APBN tahun 2008 itu belum diketahui secara jelas akan digunakan pada sektor apa. Namun, pemerintah memastikan dana tersebut akan digunakan untuk menggerakan sektor riil. Rencana penggelontoran dana tersebut masih harus dilihat keefektifannya.
Ada satu instrumen yang bisa membantu program pemerintah dalam memberikan rangsangan pertumbuhan, yakni suku bunga. Tren penurunan suku bunga global sudah seharusnya diikuti oleh BI untuk menurunkan BI rate. Karena BI rate dinilai masih cukup tinggi padahal banyak negara lain yang sudah menurunkan suku bunga secara drastis bahkan penurunannya dinilai tidak lazim.
Selain itu, rencana penurunan harga BBM juga harus cepat direalisasikan. Mengingat harga minyak dunia yang sudah turun tajam. Penurunan harga BBM dan BI rate cukup ampuh dalam merangsang pertumbuhan sehingga diharapkan mampu mengurangi dampak negatif yang diakibatkan oleh PHK massal. Dan langkah tersebut juga lebih efektif dari hanya sekedar program stimulus dengan menggelontorkan sejumlah uang seperti yang pernah dilakukan negeri paman sam.
Namun, perubahan dasar ekonomi makro seperti acuan harga minyak yang harus di waspadai terlebih dahulu. Karena gejolak politik di timur tengah berpotensi membawa harga minyak naik lagi. Sehingga penurunan BBM di dalam negeri nantinya akan terganggu dan menambah beban pada APBN.
Kalau melihat sejumlah indikasi eksternal (global). Maka, kita tidak pungkiri bahwa efektifitas pemerintah Barack Obama nantinya yang akan menjadi acuan kita dalam memprediksi ekonomi di tahun 2009. Kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh Obama akan sangat berpengaruh pada indikasi perubahan ekonomi dunia.
Medan Bisnis, 5 Januari 2009
Meskipun sejauh ini Obama mampu membuat pasar merespon positif. Namun, fakta yang akan terjadi setelah Barack Obama menempati gedung putih (20 Januari), akan lebih banyak berbicara dari hanya sekedar janji manis Obama selama masa kampanye.
Pasar menilai Obama yang berasal dari Partai Demokrat lebih memiliki visi untuk menstabilkan ekonomi dari hanya sekedar menghabiskan uang untuk perang. Kepemimpinan Bill Clinton dahulu yang juga dari partai demokrat dinilai lebih baik karena mampu menstabilkan ekonomi, dibandingkan dengan kepemimpinan George W. Bush pada saat ini.
Dari gambaran tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa meskipun puncak resesi akan terjadi di tahun 2009 nanti. Namun, resiko-resiko terburuk yang akan terjadi terus semakin berkurang. Hal ini terlihat dari sejumlah langkah yang diambil pemerintah SBY. Selain itu, kita juga pernah mengalami dan seharusnya sudah belajar dari pengalaman krisis tahun 1997-1998. Mengawali tahun 2009 ini bukan suatu hal yang berlebihan kalau kita tetap optimis. Selamat tahun baru 2009.
Penurunan BBM, Disengaja atau Memang Saatnya Turun?
Sebelumnya penulis mengucapkan selamat karena harga BBM kemnbali diturunkan dari sebelumnya Rp.6000 (premium) sudah menjadi Rp.5000 saat ini. Ada penurunan sekitar 16% sejak BBM dinaikan bulan Mei lalu. Penurunan juga terjadi pada BBM jenis solar. Muncul banyak argumen yang bertentangan dengan penurunan BBM tersebut.
Bagi yang menjadi lawan politik SBY dan partainya, tentu akan menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan lawan politiknya. Dengan mengatakan bahwa penurunan BBM disengaja karena menjelang Pemilu. Karena penurunan BBM akan menjadi senjata ampuh untuk mengalahkan lawan politik SBY dan meningkatkan pamor SBY. Sehingga penurunan BBM sepertinya syarat dengan muatan politik.
Benarkah demikian?, Siapa yang tahu. Namun, kita bisa melihat fakta-fakta sebenarnya yang terjadi di lapangan. Pada saat harga BBM Rp.6000/liter, harga minyak mentah dunia sempat berada di level $147/barel. Dengan alasan bahwa defisit APBN kian membengkak, maka harga BBM pun dinaikan. Waktu terus berjalan, krisis yang diawali di Amerika memberikan berkah tersendiri bagi penurunan harga minyak dunia.
Negara konsumsi minyak terbesar ini terus mengurangi konsumsinya yang juga membuat negara lain seperti China juga melakukan hal yang sama. Alhasil, minyak mentah dunia terjun bebas. Harga minyak mentah dunia kehilangan lebih dari $100/barel, karena saat ini harganya tinggal di kisaran level $40/barel. Indonesia yang bukan lagi negara pengekspor minyak dan keluar dari keanggotaan OPEC (Organization of Petrolium Exporting Countries), tentunya sangat diuntungkan dengan penurunan harga minyak mentah dunia tersebut.
Dari sisi anggaran, DPR juga menyetujui apabila BBM diturunkan kembali ke harga Rp.4500 (premium) dan Rp.4300 (solar). Dengan asumsi bahwa nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar mampu dipertahankan maksimal di harga Rp.11.000/$ sedangkan harga minyak tetap bertahan di level $40/barel. Berdasarkan hitung-hitungan, beban subsidi minyak di APBN hanya sebesar Rp. 5 triliun untuk harga BBM Rp.5000.
Nah, kalau diturunkan kembali menjadi Rp.4500 tentunya beban subsidi BBM di APBN meningkat sebesar Rp. 26 Triliun. Beban subsidi tersebut masih jauh lebih kecil dari yang dianggarkan pemerintah yang mencapai Rp. 57 Triliun untuk APBN tahun 2009. Sehingga, pemerintah juga tidak perlu repot-repot lagi memikirkan bagaimana menambal defisit APBN yang diperkirakan membengkak sebesar 2%.
Pemerintah menyatakan pada bulan januari mendatang, harga BBM bisa kembali turun. Bagaimana menyikapinya?. Ada beberapa hal yang menjadi hambatan untuk menurunkan harga BBM kembali ke level sebelum dinaikkan. Pertama, OPEC yang akan mengurangi produksi minyaknya secara signifikan akan memberikan dorongan terhadap harga minyak untuk naik kembali. Karena, akan terjadi penurunan dari sisi supply nya.
Kedua, Indonesia akan melakukan hajatan besar yakni pemilihan umum yang akan menelan biaya Rp. 9 triliun. Ketiga, program bantuan langsung tunai yang menghabiskan anggaran lebih dari Rp. 6 trilliun. Kondisi ini akan sangat membebani APBN tahun 2009. Sehingga keinginan pemerintah untuk kembali menurunkan harga BBM sangat bergantung pada fluktuasi harga minyak dunia serta nilai tukar Rupiah. Dimana tentunya diharapkan untuk terus menunjukan tren penurunan (minyak dunia) dan tren penguatan untuk nilai tukar Rupiah.
Nah kembali ke tema awal. Apakah benar penurunan BBM ini merupakan faktor kesengajaan?. Tentunya ya, karena pemerintah tentunya dengan secara sadar mengeluarkan kebijakan penurunan BBM. Dan memang saatnya sudah untuk turun mengingat kondisi harga minyak global yang terus mengalami penurunan.
Apabila dikaitkan dengan pemilu. Mungkin ini bagaikan durian runtuh yang kebetulan saja SBY yang mendapatkannya. Sehingga benar-benar dimanfaatkan baik untuk dirinya sendiri dan orang yang berada disekitarnya (Indonesia). Nah kalau nanti pemerintah dinilai berhasil dalam menjalankan roda perekonomian, tentunya bergantung dari sudut pandang setiap orang.
Akan tetapi, apabila dilihat dari penurunan harga minyak, tentunya akan banyak yang mengatakan ya!. Nah kalau nanti partainya SBY mengumpulkan suara banyak, mungkin ya, dan mungkin juga SBY kembali terpilih pada pemilihan mendatang. Karena masyarakat pemilih saat ini sudah semakin pintar. Momen seperti ini akan menjadi penilaian tersendiri, meskipun belum ada yang tahu, apakah harga BBM akan naik kembali.
Tetap Optimis Di Harga Saham Murah
Indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) masih stabil dan berkutat di angka –an. Kondisi tersebut berlangsung sudah cukup lama serta diyakini sebagai level terendah oleh sejumlah pelaku pasar. Selain itu, level tersebut juga merupakan momen yang tepat untuk kembali membeli saham, karena diyakini indeks akan kembali menguat (rebound) setelah sebelumnya sempat tertekan akibat aksi jual secara besar-besaran seiring dengan krisis global yang terjadi.
Banyak pelaku pasar yang terjebak membeli di harga yang lebih tinggi dari harga saat ini. Kondisi tersebut, selain meninggalkan trauma yang cukup dalam juga membuat pelaku pasar enggan untuk masuk ke bursa. Padahal lantai bursa masih menjanjikan sebagai wahana untuk berinvestasi.
Selain itu, pelaku pasar yang tidak mau rugi tentunya akan menunggu hingga harga kembali naik dan melebihi harga beli sebelumnya untuk mendapatkan keuntungan atau capital gain. Kerap muncul pertanyaan, Kapan itu akan terjadi?. Bagi yang mengetahuinya mungkian akan dijadikan kesempatan untuk membuat dirinya kaya raya.
Meskipun belum ada yang bisa memprediksikan, pada dasarnya bukan hal yang tidak mungkin untuk memperkirakan pergerakan indeks maupun harga saham kedepan. Dengan melakukan analisa fundamental maupun teknikal, maka kita masih bias memperkirakan harga saham ke depan.
Secara fundamental, faktor pegerakan saham di Amerika masih menjadi acuan dan motor penggerak harga saham domestik. Apabila kita melihat fundamental ekonomi dalam negeri tentunya masih memberikan indicator yang cukup baik. Sehingga banyak yang menilai bahwa harga saham yang terlalu murah pada saat ini tidak mencerminkan fundamental emiten maupun ekonomi secara keseluruhan.
Untuk harga saham sendiri, apabila dilihat dari nilai buku (book value), Price Earning Ratio (PER) maupun Earning Per Share (EPS), mengindikasikan bahwa hampir semua saham layak dibeli. Namun, sejauh ini belum terlihat investor melakukan aksi beli secara signifikan di level yang rendah seperti sekarang ini.
Karena masih banyak yang berkeyakinan bahwa Indeks belum menyentuh level terendahnya. Meskipun tidak ada yang tahu dimana level terendah harga saham maupun indeks sebenarnya. Karena semuanya masih bersift asumsi maupun ekspektasi. Nah sikap yang sangat berhati-hati berpotensi membuat investor kehilangan kesempatan untuk meraup keuntungan karena sudah tertinggal.
Untuk para pelaku pasar atau investor harus terus mendapatkan informasi secara berkesinambungan yang terkait dengan lantai bursa sebelum mengambil suatu keputusan. Kalau Indeks Bursa Amerika (Dow Jones) menjadi acuan, maka sudah seharusnya kita mendapatkan informasi seputar pasar di Amerika.
Selanjutnya kita juga harus melihat kondisi yang lebih kecil seperti kondisi emiten yang menerbitkan saham. Kebijakan yang terkait dengan perusahaan perlu dicermati karena disinilah sebenarnya fundamental dari harga saham itu nantinya. Yang memang juga tak luput dari kondisi fundamental ekonomi negeri kita. Untuk informasi tersebut biasanya akan disediakan di media-media informasi maupun tempat dimana investor melakukan transaksi saham (broker).
Mampu mengenali resiko serta mengetahui bagaimana transaksinya itulah modal utama untuk berinvestasi di bursa efek. Momentum harga saham murah seperti sekarang ini harus mampu dimanfaatkan karena memberikan harapan yang cukup baik dalam jangka waktu yang fleksibel (pendek, menengah atau panjang).
Saatnya Masuk Ke Bursa
Harga-harga saham yang diperdagangkan di bursa efek Indonesia saat ini berada pada posisi layak beli setelah sebelumnya turun drastis (oversold) akibat krisis global. Fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup baik memberikan harapan akan membaiknya harga saham emiten domestik.
Namun menurut pantauan yang dilakukan di pasar, investor domestik memiliki kecenderungan untuk mengikuti langkah yang dilakukan oleh investor asing. Sehingga momentum dalam mengambil kebijakan selalu tertinggal sehingga terkadang merugikan investor dalam negeri. Ketidakpercayaan investor domestik perlu ditumbuhkan dengan cara sosialisasi yang tepat serta transparansi dari pemerintah.
Secara teknikal, harga saham berbasis sumber daya alam lebih menjanjikan pada saat ini, meskipun tetap berpotensi terkoreksi. Meski demikian, investor seharusnya tidak perlu takut, khususnya bagi investor yang menanamkan investasinya dalam jangka panjang. Banyak analis yang memperkirakan harga saham akan kembali normal 2 atau 3 tahun lagi, dan akan sangat menguntungkan apabila kita mampu memanfaatkan momentum seperti saat ini.
Bahkan beberapa pelaku asing yang terkenal dengan sebutan sebagai spekulan besar kembali masuk dengan memborong sejumlah saham berbasis pertambangan, yang saat ini harganya sudah lebih murah 8 kali dari harga tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya. Aksi dari spekulan asing tersebut tentunya memiliki ekspektasi yang kuat kedepan terhadap saham emiten yang diincar.
Krisis global memang sangat dirasakan dampaknya pada perdagangan saham dalam negeri. Kejatuhan indeks bursa di Amerika menyeret sejumlah indeks bursa di dunia ke dalam teritori negatif. Namun, dengan kesabaran serta ketelitian dan analisa yang kuat tentunya momen-momen seperti sekarang ini tetap bisa di manfaatkan untuk meraup keuntungan.
Fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai lebih baik dari Negara lain seiring dengan krisis global saat ini, tentunya memberikan harapan yang lebih baik pada transaksi saham. Kekhawatiran akan imbas yang lebih buruk dari krisis global harus disikapi dengan cara yang lebih bijaksana dengan meilhat sisi positif dari fundamental perekonomian kita saat ini.
Pergerakan harga saham memang tidak luput dari pengaruh banyak hal terutama ekspektasi. Isu maupun rumor yang berkembang di pasar lebih dominan mempengaruhi pelaku pasar dalam membuat keputusan, ketimbang kondisi fundamental emiten. Sehingga tidak jarang keputusan yang diambil justru merugikan pelaku pasar itu sendiri dan juga si emiten.
Akan tetapi itu semua kembali ke sifat dasar pelaku pasar yang terlibat. Spekulan pada umumnya akan lebih berorientasi pada pencapaian keuntungan yang tinggi, dengan tidak begitu peduli pada dampak buruk dari tindakan yang diambil. Karena spekulan lebih identik dengan pelaku pasar yang memutar uang panas dalam jangka pendek.
Spekulan dengan dana yang signifikan tentunya mampu membuat opini pasar sehingga mampu membuat para pelaku pasar panik. Kepanikan umumnya akan berdampak pada keputusan untuk melakukan langkah serupa dan terkadang mengabaikan kondisi riil yang terlihat nyata.
Monkey Did, Monkey Do, begitulah pasar menyebut mereka yang hanya suka ikut-ikutan. Oleh karena itu, perlu kiranya para pelaku pasar lebih banyak mengumpulkan informasi yang berimbang. Bila perlu pelaku pasar berkonsultasi pada manejer investasi untuk menggali informasi sebelum melakukan keputusan.
Mentolerir Krisis Global
Asosiasi Penguasaha Indonesia (APINDO) telah menyatakan kesulitannya dalam menjalankan roda usaha, serta kesulitan mencari solusi yang lain untuk menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masal. Alasan krisis finansial di Amerika telah dirasakan di Indonesia memberikan pukulan sangat kuat dan menyakitkan bagi para pelaku dunia usaha.
Sejumlah data yang dilansir di beberapa media menyebutkan bahwa telah terjadi PHK secara besar-besaran di Amerika. Dan sepertinya akan merembet ke hampir semua Negara termasuk Indonesia. PHK di Indonesia telah terjadi di sejumlah perusahaan garment dengan lebih dari 1.200 orang di PHK. Tidak menutup kemungkinan perusahaan lainnya akan mengikuti langkah serupa. Terutama bagi perusahaan yang menjadikan Amerika sebagai mitra dagang utama.
Gejala membaiknya perekonomian global sepertinya belum akan terlihat dalam waktu dekat ini. Langkah awal yang dilakukan pemerintah AS dengan program bailout-nya tidak cukup efektif dalam meredam gejolak finansial yang kian terpuruk. Hanya berimbas positif terhadap penguatan mata uang US Dolar.
Dalam fluktuasi jangka pendek/sesaat sesekali terlihat sentimen baik di pasar dan terkadang menjadi asumsi akan adanya proses pemulihan ekonomi. Namun, sentiment sesaat tersebut sepertinya hanya berupa asumsi yang sering dijadikan alasan bagi para pelaku pasar dalam meraih keuntungan, atau biasa disebut dengan spekulan. Sehingga terkadang terjadi keganjalan atau anomali yang terjadi pasar finansial.
Langkah-langkah yang dilakukan mulai dari penggalangan dana bersama (bailout) hingga penurunan suku bunga secara dramatis belum juga memberikan hasil yang baik dalam proses pemulihan ekonomi serta mencegah PHK secara besar-besaran. Tingkat konsumsi yang kian menurun akibat penurunan daya beli kembali kian menjadi-jadi karena harus ditambah dengan jumlah pengangguran yang meningkat cukup drastis.
PHK yang terjadi di Indonesia yang dimulai di tahun 2008 ini, juga diperkirakan masih akan berlanjut hingga ke pertengahan tahun 2009 mendatang. SKB 4 menteri yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha untuk menentukan upah minimal buruh ternyata di respon negatif oleh para buruh. Padahal pemerintah mempunyai niat baik terhadap kaum buruh.
Setidaknya ada pencegahan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masal dengan keputusan tersebut. Selain itu, dengan diminimalisirnya PHK maka akan menahan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi yang diakibatkan oleh membengkaknya jumlah pengangguran. Dalam hal ini pemerintah meminta agar para kaum buruh mau mengerti akan keputusan yang dibuat.
Mentolerir keputusan pemerintah ini sama dengan mentolerir krisis global yang dirasakan langsung pada dunia usaha. Perlambatan aktifitas ekonomi yang sudah mulai terasa ini sepertinya akan berlanjut hingga di tahun 2009 mendatang. Belum ada yang tahu bagaimana cara mengatasi krisis yang memberikan tekanan kuat di sektor keuangan dan telah mewabah ke sektor lain.
Sejauh ini banyak Negara yang bersikap lebih reaktif, yakni dengan melakukan sejumlah kebijakan yang terfokus pada bagaimana mengurangi dampak-dampak negatif yang diakibatkan oleh krisis. Belum pada usaha bagaimana mengatasi krisis. Dalam kondisi yang serba sulit seperti yang terjadi sekarang ini, sebenarnya ada hal yang bisa dilakukan untuk menggairahkan perekonomian domestik.
Yakni dengan melakukan diversifikasi ekspor ke Negara tujuan. Kalau dahulu Amerika menyerap ¼ dari total ekspor dunia. Maka dengan krisis yang terjadi sekarang ini, Amerika mulai kehilangan ke adidayaannya. Kalau menggairahkan perekonomian domestik dengan menstimulus konsumsi dalam negeri, hal tersebut justru akan memberikan resiko yang lebih besar, karena saat ini kita justru kea rah sebaliknya.
Rupiah Tergonjang-Ganjing
Nilai tukar Rupiah diperdagangkan jatuh dikisaran level 10.500/$, jauh lebih buruk dibandingkan dengan perdagangan di awal tahun 2008 ini. Krisis global yang diawali di AS telah memporak-porandakan perekonomian Indonesia dengan terlihat dari menurunnya nilai tukar Rupiah serta kembali terkurasnya cadangan devisa.
Aksi intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) memang cukup dirasakan di pasar. Dimana aksi tersebut cukup menahan nilai tukar Rupiah tidak berfluktuasi cukup tajam, dan relatif stabil dikisaran 10.500/$. Secara keseluruhan, kebijakan pemerintah dalam menanggapi krisis memang terlihat hasilnya, namun dikhawatirkan kemampuaan pemerintah dalam menghadapi tekanan hebat seperti sekarang ini tidak berlangsung cukup lama.
Sejauh ini, dibandingkan dengan mata uang lain se-kawasan (Asia) Rupiah relatif stabil. Namun, kerapuhan perekonomian Indonesia semakin terlihat seiring dengan memburuknya kondisi perekonomian global. Nilai tukar yang melemah, cadangan devisa yang menurun, Indeks bursa yang tertekan, Suku bunga yang tinggi serta melemahnya laju pertumbuhan.
Dengan kondisi yang tidak menentu tersebut, muncul gagasan agar supaya dilakukan pengontrolan devisa. Padahal menurut hemat penulis, langkah tersebut dapat dilakukan dengan jumlah cadangan devisa yang cukup signifikan. Karena pengontrolan devisa salah satunya dengan melakukan batasan terhadap laju pergerakan nilai tukar Rupiah.
Mungkinkah pengontrolan devisa tersebut dilakukan pada saat seperti ini?, sangat sulit tentunya. Selain itu, kontrol devisa juga harus memperhitungkan dimana level aman atau biasa disebut dengan range pergerakan mata uang. Dan hal ini harus mengkaitkan banyak pihak termasuk pengusaha,
Dalam waktu dekat, Rupiah sepertinya sulit untuk kembali menguat. Beberapa alasan yang patut dicermati adalah, tren penguatan mata uang US$ seiring dengan kebijakan penurunan suku bunga di Eropa. Terpilihnya Presiden Barack Obama juga memberikan sentimen baru dipasar dan menjadi pemicu menguatnya mata uang US$.
Yang paling sangat menonjol adalah penguatan US$ ditengah memburuknya data tenaga kerja AS, dimana indeks pengangguran berada di level 6.5%, dan AS harus kehilangan sekitar 240.000 lapangan kerja. Kondisi perekonomian AS jelas memang sangat buruk, stimulus yang diberikan pemerintah AS juga belum mampu menyelamatkan perekonomian AS.
Seiring dengan memburuknya perekonomian AS, jelas akan memberikan tekanan hebat bagi pemerintah Indonesia. Bahkan, kemungkinan yang lebih buruk masih saja terus membayangi dan terjadi. Kalau bicara mengenai ketergantungan dengan pihak asing, Indonesia tentunya sulit untuk melepaskan ketergantungannya dalam sekejap. Dibutuhkan waktu untuk merealisasikannya.
Semua orang tentunya menyadari perlunya membangun perekonomian secara mandiri. Namun, tidak ada satu Negara pun di dunia ini yang tidak membutuhkan peran Negara luar dalam menjalankan perekonomiannya. Mandiri mungkin bisa dikatakan berbasis pada pengelolaan perekonomian yang terfokus pada pemanfaatan ekonomi domestik.
Dengan kondisi yang terpuruk seperti ini, tentunya sangat sulit untuk memikirkan hal itu semua. Yang paling rasional dilakukan adalah mengatasi masalah yang paling diprioritaskan agar dapat terhindar dari akibat yang lebih buruk lagi dimasa yang akan datang yang tidak diinginkan.
Kembali ke ekonomi sesuai dengan UUD 1945, jelas ekonomi yang lebih bersifat kerakyatan. Tidak salah memang, namun untuk merealisasikannya butuh waktu yang mungkin tidak singkat. Banyak proses yang perlu dilalui, serta metode yang bagai mana yang sesuai dengan kultur bangsa ini.
Dan yang pasti perekonomian yang dikembangkan pemerintah saat ini juga berorientasi kepada ekonomi kerakyatan. Meskipun portofolio lantai bursa banyak dipenuhi orang asing, rupiah diperdagangkan cukup bebas, yang pasti kenapa hanya sedikit orang Indonesia yang mau menempatkan dananya di lantai bursa (bandingkan dengan kepemilikan asing yang lebih dari 50%), disaat Rupiah terpuruk apakah orang Indonesia masih mencintai Rupiah?. Bukankah orang Indonesia atau Rakyat juga yang bisa menyelamatkan Indonesia dari krisis!.
Menurunkan Bunga Hadapi Krisis
Bank Sentral Amerika diperkirakan akan kembali memangkas suku bunganya sebesar 50 basis poin atau mungkin lebih. Perkiraan tersebut dilandasai oleh semakin terfokusnya pemerintah AS untuk kembali meningkatkan daya beli masyarakat di negeri paman sam tersebut, serta untuk menggenjot pertumbuhan perekonomian masyarakat AS yang pada saat ini lagi lesu
Langkah-langkah antisipatif seperti menggelontorkan dana dalam jumlah besar ternyata tidaklah cukup untuk mengatasi krisis finansial yang melanda masyarakat AS. Jumlah uang yang besar untuk menyelamatkan AS dari krisis finansial ternyata kurang berhasil. Meskipun demikian, dana talangan (bailout) dinilai mampu menahan dampak negatif yang lebih besar yang mungkin saja bisa terjadi.
Selain itu, Rencana penurunan suku bunga The FED tersebut mampu mendongkrak harga saham. Membuat perdagangan saham di wall street kembali bergairah setelah sebelumnya sempat porak poranda diakibatkan oleh pengalihan investasi dari saham ke bentuk investasi lainnya seperti tabungan.
Padahal masyarakat di AS sebelumnya sempat mengkhawatirkan dananya yang diinvestasikan di saham terkait dengan bangkrutnya beberapa korporasi besar di AS. Namun, sentimen baru dipasar seperti penurunan bunga akan menjadi pemicu sementara untuk mengembalikan kepercayaan para investor dan para pelaku pasar lainnya.
Bukan hanya menjadi sentimen positif untuk bursa saham, rencana penurunan suku bunga juga telah kembali mengangkat harga minyak lebih dari $1, dan mendekati level psikologis $65/barel. Kenaikan tersebut setidaknya mampu mengangkat harga komoditas lainnya, sehingga masih menyisahkan harapan akan kembali membaiknya harga komoditas lokal yang saat ini harganya sangat memprihatinkan sekali dan cenderung sangat merugikan para petani.
Selain di AS, pemerintah jepang juga memotong besaran suku bunganya guna menyelamatkan perekonomian yang sedang tidak baik. Rapat yang digelar oleh BOJ (Bank Of Japan) yang merupakan Bank Sentral Jepang menyepakati usulan penurunan suku bunga. Keputusan itu seiring dengan membaiknya nilai tukar Yen Jepang terhadap rivalnya, yang saat ini Yen diuntungkan dengan adanya Risk Aversion.
Pemerintah India diluar ekspektasi juga kembali menurunkan besaran suku bunganya dari 8% menjadi 7.5%. Pemerintah India melalui Gubernur Bank Sentralnya Duvvuri Subbarao memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah benar-benar fokus untuk membenahi pertumbuhan ekonomi India. Dan berharap dengan melemahnya nilai mata uang rupee setidaknya mampu mengurangi ketergantungan akan barang impor dan mengurangi laju tekanan inflasi.
Bank Indonesia belum bisa dipastikan apakah akan melakukan langkah serupa seperti AS, Jepang dan India. Penurunan suku bunga memang menjadi prioritas tatkala telah terjadi pertumbuhan yang rendah atau bahkan negatif. Namun, setiap negara mempunyai permasalahan ekonominya sendiri, sehingga mengadopsi kebijakan yang dibuat negara lain belum tentu efektif dilakukan di negara sendiri.
Apalagi saat ini nilai tukar Rupiah benar-benar tertekan dan telah menembus level psikologis Rp.10.000/$. Sikap reaktif dengan menurunkan suku bunga berpotensi membuat Rupiah tertekan lebih dalam lagi. Dan akan memberikan dampak negatif bagi perusahaan yang memiliki hutang dalam US Dolar serta berpotensi membuat laju tekanan inflasi meningkat.
Belum ada hitung-hitungan yang akurat mana yang lebih menguntungkan apakah dengan membiarkan mata uang Rupiah terdevaluasi, atau menurunkan suku bunga guna terus bertahan agar tetap terjadi pertumbuhan. Sulit untuk menetapkan mana yang terlebih dahulu diselamatkan, namun menyelamatkan yang lebih prioritas akan lebih baik dari pada bersikap serakah untuk menyelamatkan keduanya.
Dan jangan mencoba untuk bersikap spekulatif, namun kebijakan apapun yang akan diambil akan memberikan sisi negatif yang suatu saat akan di bicarakan dipermukaan dan menimbulkan resistensi kepada pemerintah.
Harga Komoditas Yang Mengkhawatirkan
Beberapa harga komoditas seperti sawit, karet, biji timah turun drastis dan memukul banyak pelaku usaha dalam negeri khususnya bagi mereka yang menjadikan komoditas tersebut sebagai tumpuan usaha. Komoditas tersebut merupakan komoditas ekspor dimana harganya sangat dipengaruhi oleh perubahan harga pasar, yang saat ini tengah dilanda krisis.
Penurunan harga komoditas tersebut dipicu oleh semakin memburuknya pertumbuhan perekonomian di Negara besar yang sedang dilanda krisis. Telah terjadi pola konsumsi yang menurun, yang mengakibatkan pasar dibanjiri oleh komoditas sementara disisi permintaannya menunjukan penurunan yang signifikan. Hal inilah yang dijadikan alasan kenapa harga komoditas tersebut terjun bebas.
Penurunan tersebut membuat sejumlah pengusaha di sektor pertanian dan pertambangan mulai merugi. Dan berpotensi menurunkan omzet yang berbuntut turunnya pendapatan. Sehingga wajar apabila sejumlah pengusaha meminta bantuan pemerintah untuk menyelamatkan industrinya. Mulai dari keringanan/penghapusan pajak hingga bentuk perlindungan lain seperti subsidi untuk para petani (sawit dan karet).
Yang paling sangat dirugikan saat ini adalah para petani sawit dan karet. Dimana, harga jual petani yang relatif murah tidak dibarengi dengan penurunan harga pupuk dan biaya operasional perawatan lahan. Sehingga kerap muncul ancaman dari para petani yang akan mentelantarkan lahannya apabila omzet yang didapat tidak dapat menutupi biaya hidup sehari-hari dan operasional. Padahal, komoditas sawit dan karet merupakan komoditas ekspor unggulan permintah Indonesia selain minyak dan gas.
Muncul beberapa kekhawatiran apabila terjadi penurunan harga yang signifikan secara terus menerus dan melebihi ambang batas. Kekhawatiran tersebut antara lain peralihan lahan, pengangguran meningkat, ketidak percayaan akan usaha serupa dimasa yang akan datang karena rentan terhadap guncangan krisis serta hilangnya keadidayaan Indonesia sebagai Negara besar pengekspor sawit (CPO) dan karet.
Kalau mengacu pada statement wakil presiden yusuf kalla yang menyatakan bahwa tidak mungkin tidak ada yang butuh sawit dan karet, itu mengindikasikan bahwa para petani harus lebih sabar hingga kondisi krisis ini pulih. Logikanya memang cukup sederhana, karena sawit dan karet dapat dijadikan barang yang sangat dibutuhkan orang dimanapun, bahkan mencakup kebutuhan pokok manusia seperti minyak goreng.
Namun, kebutuhan makan dan kecukupan kebutuhan sehari-hari bukanlah hal yang dapat ditunda, apalagi tidak makan sambil menunggu krisis ini selesai, itu kan tidak mungkin. Sehingga petani juga tidak akan menunggu sampai selesai, tapi apa yang bisa dilakukan saat ini untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ini juga merupakan ujian bagi pemerintah yang sejauh ini masih direpotkan dengan krisis global.
Meski demikian ada sisi positif yang mungkin akan terjadi apabila peralihan lahan itu benar-benar terjadi. Yakni, peralihan ke sektor pertanian seperti palawija. Sehingga banyak orang yang akan kembali lagi menanam padi. Namun, sangat tidak bijaksana apabila petani “dipaksa” untuk beralih ke sektor tersebut. Terkesan sangat memanfaatkan situasi atau aji mumpung.
Harga yang terus turun tidak hanya terjadi pada komoditas tersebut. Harga minyak dunia juga terjun bebas hingga mendekati level $60/barel. Turun lebih dari 60% dari posisi tertinggi $147/barel. Hal tersebut juga menuntut pemerintah untuk kembali menurunkan harga BBM. Yang sejauh ini menurut kementerian ESDM (Energi dan Sumberdaya Mineral) sedang digodok.
Disaat seperti ini, saatnya pemerintah fokus pada permasalahan di level grassroot khususnya petani. Penurunan harga BBM meskipun akan berakibat pada penurunan pendapatan Negara atau APBN, setidaknya akan mengurangi biaya operasional bagi para pengusaha dan petani. Selain itu, secara politis penurunan BBM juga akan menambah kepercayaan terhadap pemerintahan SBY dan akan mendongkrak popularitasnya seiring dengan PEMILU yang akan diselenggarakan tahun 2009 mendatang.
Meskipun sangat sulit karena harga minyak terus berubah setiap saat. Namun, satu hal yang harus diperhatikan, keberpihakan ke sektor riil akan memberikan dampak positif yang lebih luas dan jangka panjang dari hanya sekedar keberpihakan di sektor keuangan. Disaat krisis seperti sekarang ini, pemerintah justru dinilai lebih berpihak pada sektor finansial dibandingkan dengan sektor riil.
Menggalang Kekuatan Hadapi Krisis
Medan Bisnis, 20 Oktober 2008
Para pemimpin negara di dunia pada saat ini kembali disibukkan dengan sejumlah rangkaian pertemuan dalam menghadapi bayangan resesi yang mengancam perekonomian dunia. Seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan kawasan negara Eropa. Dalam pertemuan yang rencananya akan digelar di AS setelah tanggal 4 november mendatang, merupakan pertemuan pertama yang dipastikan akan membahas permasalahan seputar guncangan ekonomi global.
Belum bisa dipastikan, apakah nantinya pertemuan tersebut menghasilkan sebuah penggalangan dana bersama untuk menyelesaikan krisis. Namun, langkah-langkah konkrit dalam menyelesaikan krisis sepertinya akan mulai tampak pada rencana pertemuan yang kedua. Dalam pertemuan yang pertama sepertinya akan lebih terfokus pada perumusan masalah-masalah utama seputar krisis.
Belum bisa dipastikan apakah nantinya pertemuan tersebut menghasilkan sebuah kebijakan yang benar-benar mampu meredam krisis finansial global seperti sekarang ini. Namun, menurut persfektip psikologis pasar, pertemuan tersebut setidaknya memberikan sedikit rasa aman, karena sedang ditangani secara serius.
Di Indonesia, pemerintah SBY telah melakukan koordinasi dengan banyak pihak untuk mengatasi krisis keuangan. Baik dari dalam dan luar negeri. Mulai dari pengusaha lokal hingga kerjasama penanggulangan krisis dengan negara di kawasan ASEAN dan Dunia. Hasilnya cukup menggemberikan meskipun belum sepenuhnya terbebas dari bayangan resesi global.
Beberapa kebijakan pemerintah yang dinilai tepat yakni melakukan aksi beli saham dengan mengintervensi bursa saham melalui buy back saham BUMN. Menaikkan jaminan simpanan di Bank dari sebelumnya sebesar Rp. 100 Juta menjadi Rp. 2 Milyar. Memberikan kelonggaran dalam menerapkan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan. Serta bersedia mengucurkan dana untuk LKBB (lembaga keuangan bukan Bank) yang sedang sakit seperti perusahaan asuransi, pengelolaan dana pensiun, perusahaan efek dan Multifinance.
Meski demikian belum diketahui lebih jelas mengenai kriteria perusahaan yang bagaimana yang akan mendapatkan bantuan LKBB. Apakah terkait dengan kinerja perusahaan tersebut dalam mengelola NPL (Net Performing Loan), atau aspek lainnya yang harus dipertimbangkan. Namun yang pasti Bapepam selaku sebagai pemegang kuasa masih akan membuat perpu terkait LKBB.
Langkah koordinasi yang dilakukan pemerintah dengan banyak pihak seperti KADIN, Pengusaha, BI, Menteri terkait, hingga pemerintahan daerah telah memberikan rasa aman bagi banyak pihak termasuk pasar meski diiringi dengan gejolak finansial yang cukup tajam.
Yang sangat mengesankan adalah kembali bergairahnya bursa saham meskipun banyak pengamat yang menyatakan index BEI akan jatuh pada awal pembukaan hari senin minggu kemarin. Nilai tukar Rupiah juga mulai bergerak menguat setelah sempat diperkirakan akan terjun bebas di atas Rp.10.000/$. Padahal banyak pedagang valas atau money changer yang justru sebelumnya memperdagangkan US$ diatas Rp. 10.000/$, yang disinyalir sebagai akibat kepanikan.
Langkah pemerintah dalam menangani krisis dengan tidak bergantung pada bantuan eksternal (IMF) juga menunjukan kepada masyarakat dunia, bahwa Indonesia masih mampu menangani krisis secara mandiri serta tetap terfokus untuk mampu mengembalikan kepercayaan dunia usaha.
Langkah strategis yang dilakukan pemerintah sudah seharusnya juga melibatkan negara se-kawasan seperti ASEAN dan Asia atau bahkan kerjasama yang lebih luas lagi. Dalam kondisi seperti ini, kerjasama secara multilateral sangat diperlukan, baik untuk keperluan berbagi pengalaman hingga kerjasama dibidang perdagangan sehingga terdapat peralihan orientasi negara mitra dagang dari negara maju yang sedang dilanda krisis ke negara dengan potensi pertumbuhan yang lebih menjanjikan.
Sunday, October 12, 2008
Psikologis Pasar Menghadapi Krisis
Indeks Bursa Amerika Dow Jones sempat turun di bawah level 8000, akibat guncangan krisis finansial meskipun dana talangan $700 Milyar telah disuntikan guna menyelamatkan dunia perbankan. Kepanikan di sektor keuangan sepertinya telah merambah ke negara lain yang notabene mempunyai fundamental perekonomian yang lebih baik dari Amerika seperti Indonesia.
Otoritas bursa di Indonesia harus menutup sementara aktifitas perdagangan di lantai bursa karena khawatir akan terjadi penurunan yang lebih parah seperti indeks bursa dow jones di Amerika. Keputusan tersebut memang baik, guna memberi waktu kepada pemerintah untuk memberikan solusi serta mengetahui langkah konkrit apa yang akan dilakukan pemerintah dalam mengatasi gejolak pasar.
Buy back saham BUMN. Sekilas seperti aji mumpung atau kesempatan yang dimanfaatkan untuk membeli saham BUMN karena harganya juga lebih murah pada saat ini. Namun, bila dilihat lebih jauh langkah pemerintah tersebut lebih dari hanya sekedar membeli kembali. Akan tetapi merupakan ajakan bersama untuk kembali masuk ke lantai bursa, serta memberikan keyakinan kepada pasar bahwa pemerintah sendiri masih mempunyai keyakinan terhadap lantai bursa indonesia.
Dana yang dikeluarkan pemerintah juga cukup besar untuk masuk ke lantai bursa, sekitar Rp. 10 Trilyun. Namun pertanyaan yang muncul adalah efektifkah langkah pemerintah tersebut?. Pengalaman negeri paman sam yang mengucurkan dana ratusan milyar $ dalam menghadapi krisis dinilai kurang efektif. Tapi tentu kondisinya kan berbeda, bukankah langkah pemerintah AS tersebut ditopang dengan sektor riil AS yang amburadul. Sehingga masih tetap memberikan optimisme bagi pemerintah Indonesia untuk melakukan langkah konkrit seperti yang telah diwacanakan dalam minggu ini. Karena fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan tahun 1998 maupun Amerika sendiri.
Memang pada saat ini, fundamental perekonomian tidaklah cukup untuk meyakinkan pasar yang terlanjur panik terlebih dahulu. Kebijakan nyata serta keberpihakan ke pasar mutlak diperlukan, bila perlu bailout serupa juga diterapkan di negeri ini. Kepanikan akan memunculkan rasa tidak percaya pada dunia finansial seperti perbankan. Selain itu, panik secara psikologis juga berdampak pada pembetukan opini bersama serta mengabaikan kondisi riil yang seharusnya menjadi pertimbangan.
Kondisi panik, walaupun hanya sesaat akan berdampak pada pemulihan kondisi pasar yang cukup lama atau bahkan bisa membuat pasar terjerumus kedalam depresi dan bisa berujung pada krisis moneter. Tuntutan agar pelaku pasar berpikir logis juga sulit untuk diterapkan apabila “penyakit” panik masih mewabah dikalangan pelaku pasar. Dan apa yang bisa membuat banyak orang dan pelaku pasar kembali tenang dan tidak panik?. Bigung menjawabnya. Terkadang muncul gagasan bahwa Nasionalisme mutlak diperlukan.
Gerakan cinta Rupiah dan produk dalam negeri harus benar-benar diterjemahkan menjadi langkah, pola dan tingkah laku sehari-hari. Kalau sebelumnya kita beranggapan Amerika adalah negara dengan adidaya ekonomi menjadi kiblat perekonomian dunia. Bukankah saat ini perekonomainnya sedang terpuruk dan keadidayaannya dipertanyakan. Masihkah kita berkiblat ke mereka?. Penulis berharap kita semua bisa mengambil sisi positif dari perekonomian Amerika serta meninggalkan sisi negatif yang memang tidak harus kita miliki.
Negeri yang memiliki 240 Juta penduduk ini selayaknya mampu menghadapi krisis secara mandiri tanpa bantuan pihak asing seperti yang dilakukan pemerintah di era soeharto menghadapi krisis tahun 1997-1998 dengan meminta bantuan IMF. Banyak kalangan menilai bahwa krisis yang diawali di AS memberikan peluang untuk mengembalikan kepercayaan terhadap produk-produk dalam negeri serta berkontribusi positif untuk tidak ikut-ikutan panik seperti yang terjadi di Amerika.
Ketahuilah bahwa krisis finansial bukan bermula dari negeri ini. Namun, hanya merupakan efek global karena negara kaya yang mengendalikan ¼ PDB dunia sedang menjadi pesakitan. Meskipun tetap memberikan efek negatif, tidak akan separah seperti apa yang ditakutkan oleh mereka yang saat ini sedang ikut-ikutan panik.
Pada hari senin ini, pemerintah direncanakan untuk kembali membuka bursa saham yang telah ditutup sebelumnya selama 3 hari. Kembalilah dengan keyakinan karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau ada yang bilang portofolio di lantai bursa lebih dari 50% dimiliki asing yang sedang kolaps, namun bukankah portofolio tersebut memberikan kesempatan kepada pelaku pasar domestik untuk membelinya. Kalau sudah begitu tentunya bursa akan tetap aman. Dalam menghadapi krisis, maka berbuatlah untuk negeri ini dengan tidak menjadikannya sebagai tempat hanya untuk mencari uang semata, namun jadikanlah diri kita sebagai Ibu untuk negeri yang kita cintai ini.
Sunday, October 05, 2008
Versi Penyelamatan Krisis Finansial
Langkah penyelamatan krisis finansial secara besar-besaran melalui bailout yang dilakukan pemerintah AS, telah menjadi pelajaran bagi Negara lain untuk melakukan langkah penyelamatan krisis finansial yang terjadi di Negara masing-masing. Krisis finansial tersebut juga sebenarnya diawali dengan “demam” yang mewabah di perekonomian AS.
Kucuran dana sebesar $700 Milyar yang disetujui oleh pemerintah AS ternyata tidak akan ditiru oleh Negara lain dalam menyikapi krisis yang terjadi dinegaranya masing-masing. Seperti langkah yang dilakukan pemerintah di zona eropa. Mereka menyatakan tidak akan membentuk dana penyelamatan namun akan memberikan kelonggaran kebijakan di pasar finansial eropa.
Pertemuan yang dilakukan di paris tersebut diwakili oleh beberapa Negara eropa seperti Jerman, Perancis, Luxembourg, Italia dan Britain. Dalam pertemuannya tersebut mereka menekankan pentingnya proses penyelesaian masalah dengan cara yang sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh masing-masing Negara.
Hal senada juga dikemukakan oleh presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang menyatakan bahwa setiap Negara akan menyelesaikan masalah sesuai dengan caranya masing-masing yang sesuai dengan tujuan setiap Negara tersebut, namun tetap melakukan koordinasi dengan Negara eropa lainnya.
Dana penyelamatan krisis finansial atau Joint Bailout Fund sebelumnya sempat diisukan akan dilakukan oleh pemerintah dikawasan eropa. Namun, usulan tersebut tidak mendapat dukungan oleh Negara eropa yang melakukan pertemuan tersebut. Namun, sejumlah pemimpin tertinggi setiap Negara tersebut menyetujui paket penyelamatan di sektor kredit.
Seperti yang akan dilakukan di Irlandia, sejumlah petinggi tersebut menyetujui untuk melakukan harmonisasi terhadap setiap tingkatan deposito, Bahkan The U.K. Bank juga telah meningkatkan batas maksimal asuransi untuk setiap orang menjadi 50.000 Pounds dari sebelumnya sebesar 35.000 pounds guna membatasi dana yang mengalir ke Irlandia.
Namun langkah para pemimpin tersebut tentunya tidak akan didukung oleh dunia perbankan, yang sejauh ini masih mengharapkan adanya bailout serupa yang dilakukan pemerintah AS. Dunia perbankan di Eropa sepertinya harus menahan rasa kecewa yang diakibatkan oleh kebijakan tersebut.
Pemerintah Indonesia juga mempunyai sikap yang tak jauh berbeda dalam mengantisipasi krisis finansial yang terjadi. Seperti yang dikemukakan oleh Menneg PPN/Ketua Bappenas Paskah Suzetta. Dimana ada 3 tahapan proses penyelamatan yakni menyelamatkan belanja pemerintah, perluasan jaringan pengaman sosial serta revitalisasi modal ventura.
Dalam implementasinya belanja pemerintah harus lebih ditingkatkan serta merevisi keppres No.80 karena dianggap menjadi penghambat dalam pengadaan barang dan jasa. Dalam perluasan JPS paskah juga mengusulkan untuk dijadikan 6 bulan di tahun 2009, dari hanya selama 3 bulan di tahun 2008 ini. Serta untuk revitalisasi modal ventura, ini merupakan alternatif dari kebijakan suku bunga tinggi serta membutuhkan dukungan dari pemerintah.
Namun, itu masih merupakan usulan dari seorang Menneg PPN, belum merupakan keputusan bersama oleh sejumlah petinggi yang terkait. Sejauh ini penulis menilai kebijakan yang diambil baik yang masih merupakan wacana sekalipun, berupa kebijakan jangka pendek yang terfokus pada penyelamatan krisis keuangan.
Belum merupakan paket kebijakan konkrit untuk menyelamatkan perekonomian dalam jangka panjang. Sudah semestinya pemerintah mampu menciptakan formula untuk memberikan kredit lunak dengan suku bunga rendah serta berperan serius dalam penyaluran kredit UKM. Pengalaman yang lalu mengajarkan kita bahwa UKM lebih tahan terhadap guncangan krisis dibandingkan korporasi besar.
Sunday, September 28, 2008
Mewaspadai Singa Yang Bersiap Untuk Bangun
Kongres AS telah menyetujui program penyelamatan perekonomian AS sebear $700 Milyar pada sabtu malam kemarin. Program yang menghabiskan dana besar dan merupakan yang pertama tersebut akan menjadi ancaman baru bagi pergerakan pasar di luar AS. Langkah negeri paman sam tersebut sepertinya hanya menunggu tahap implementasi di lapangan dari hanya sekedar wacana serta debat seperti yang terjadi sepanjang minggu kemarin.
Apa yang akan terjadi sebenarnya adalah sentimen positif bagi nilai tukar US Dolar dan memaksa pasar lainnya untuk bergerak di teritori negatif. Dan tidak menutup kemungkinan akan berimbas pada pergerakan saham dan mata uang di negeri ini. Padahal pasar domestik kita justru memasuki masa liburan menyambut hari raya Idul Fitri.
Nancy Pelosi yang merupakan pembicara di kongres menyatakan bahwa perbedaan yang pernah terjadi sebelumnya sudah terpecahkan, sehingga kita (AS) dapat melangkah kedepan dengan sejumlah paket untuk menstabilkan pasar. Sebuah pernyataan yang tidak menunjukan isi dari paket yang akan dilakukan pemerintah AS, namun cukup memberikan sinyal bahwa program penyelamatan dari krisis finansial baru saja di mulai.
Rencana penyelamatan tersebut seharusnya memberikan kewenangan bagi Departemen Keuangan AS untuk membeli aset-aset bermasalah yang dimiliki oleh perusahaan Investasi dan Bank. Kepastian mengenai program tersebut rencananya sudah akan kelar sebelum pasar asia di buka senin pagi.
Kekhawatiran bukan hanya akan timbul dari pasar di Asia, namun pasar di London juga sudah mencium kecemasan serupa terkait dengan rencana pemerintah AS tersebut. Pasar di London diperkirakan akan bergerak dalam teritori negatif apabila pemerintah AS benar-benar merealisasikan programnya tersebut. Dan akan mengembalikan kerugian yang pernah dialami US Dolar terhadap mata uang Poundsterling.
Meskipun tetap menyisakan kontroversial mengenai efektifitas program tersebut. Namun, Presiden AS George Walker Bush telah memberikan lampu hijau bagi penyelamatan program tersebut. Melalui Tony Fratto, juru bicara kepresidenan, Bush memberikan apresiasi terhadap sejumlah langkah yang akan ditempuh untuk menyelamatkan pasar finansial serta melindungi perekonomian Amerika.
Langkah pemerintah AS tersebut juga akan memberikan dampak yang positif dan sangat luas apabila berhasil dalam tahap implementasinya. Kepercayaan pasar akan institusi keuangan setidaknya akan kembali tumbuh setelah sempat terombang-ambing sebelumnya. Daya beli yang diharapkan membaik akan menyelamatkan dunia industri dari ancaman kebangkrutan.
Pasar keuangan akan menemukan kestabilan yang baru setelah sempat bergejolak signifikan. Namun semuanya itu masih menunggu kepastian dari pemerintah AS, dan apabila programnya sudah terealisasi seharusnya akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi Amerika namun global. Karena Amerika saat ini merupakan Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar serta menyerap hampir ¼ PDB dunia.
Selain itu, harga komoditas yang sebelumnya telah merobek kantong pemerintah akibat tingginya harga minyak dunia, diharapkan akan terus menunjukan tren penurunan dan menstabilkan harga pangan di dalam negeri.
Semoga saja kemenangan rencana AS terhadap penyelamatan krisis finansialnya juga memberikan angin segar bagi komoditas ekspor yang dikirim ke AS dari negeri ini, dan memberikan sumbangsih bagi PDB (Produk Domestik Bruto) kita. Dan semoga saja kita terhindar dari krisis finansial yang pernah terjadi 11 tahun silam. Penulis Mengucapkan, Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Monday, September 22, 2008
Biaya Penyelematan Krisis Yang Sangat Mahal
Meskipun saat ini Bank Sentral AS memberlakukan kebijakan suku bunga acuan yang cukup moderat hanya sekitar 2%, namun kebijakan tersebut ternyata tidak cukup untuk melindungi masyarakat AS yang kian terpuruk daya belinya. Konsumsi masyarakat AS kian hari kian menurun yang diakibatkan oleh melemahnya ekonomi AS.
Amerika sejauh ini masih terjebak dalam asset-asset bermasalah yang menyebabkan krisis di sektor kredit. Sektor peumahan merupakan sektor yang menjadi prioritas utama untuk diselamatkan dimana krisis keuangan di AS dimulai dari sektor tersebut. Kekhawatiran yang muncul belakangan ini dari bangkrutnya Bank investasi terbesar AS Lehman Brothers serta bailout perusahaan asuransi terbesar AS AIG (American International Group).
Krisis di sektor perbankan tersebut telah menimbulkan ketidak percayaan Bank untuk meminjamkan modalnya ke Bank lain. Sehingga Bank yang mengalami kesulitan likuiditas akan kian terpuruk dan berujung pada kebangkrutan. Ketegangan di dunia perbankan tersebut telah memaksa The FED (bank sentral AS) menginjeksi milyaran dolar guna menyelamatkan pasar dari tekanan pembiayaan.
Demi menyelamatkan sektor keuangan AS dari krisis yang mungkin muncul seperti yang terjadi di Asia pada tahun 1997. Pada sabtu malam pemerintah AS melalui menteri keuangan Henry Paulson meminta kongres untuk menyetujui program penyelamatan krisis finansial senilai $700 Milyar.
Langkah pemerintah AS tersebut akan meningkatkan porsi hutang negeri paman sam. Dan akan menghabiskan dana lebih besar dari dana tahunan yang dibutuhkan oleh 3 departemen sekaligus seperti Departemen Pertahanan AS, Pendidikan dan Kesehatan serta Human Service. Dan oleh karena itu proposal pengajuan penyelamatan dari krisis finansial menghabiskan dana diluar dari biasanya dan bahkan belum pernah terjadi sebelumnya.
Pasar pun merespon positif terhadap langkah AS tersebut. Hal tersebut terbukti dari membaiknya nilai tukar US Dolar terhadap hampir semua mata uang rivalnya. Sentimen positif yang datang dari pemerintah AS tersebut mengkukuhkan US Dolar sebagai mata uang yang paling kuat untuk sementara ini. Penguatan US Dolar juga didorong oleh minimnya sentimen global.
Pasar boleh saja bernafas lega. Kucuran dana yang akan dikeluarkan pemerintah AS tersebut telah memberikan harapan akan kembali bergairahnya perdagangan di pasar finansial. Serta memberikan rasa aman bahwa krisis lebih dapat dikendalikan. Hal senada juga dikemukakan oleh senator AS Charles Schumer yang menyatakan bahwa kesalahan pemerintah AS dalam mendukung sistem keuangan akan membawa AS kedalam jurang depresi.
Selain itu, Schumer juga menyatakan bahwa tidak melakukan apa-apa akan meningkatkan resiko ekonomi yang terus menunjukan tren penurunan dan tidak pernah terlihat sebelumnya dalam 60 tahun terakhir. Hal tersebut mengindikasikan kuatnya komitmen pemerintah AS dalam menstabilkan pasar keuangan dan sinyal kuat bahwa penyelamatan krisis dengan dana besar berpotensi untuk dilakukan.
Namun, benarkah dana tersebut akan mampu mengcover kredit-kredit bermasalah di AS? Karena banyak ahli justru berpendapat bahwa penyelamatan krisis finansial di AS akan menghabiskan dana sampai $1 Trilyun. Sebuah dana yang fantastis yang belum akan mungkin terjadi di Indonesia.
Akan tetapi, langkah pemerintah AS tersebut meskipun berupa sederetan langkah positif namun tetap memiliki imbas negatif di pasar keuangan Indonesia. Coba liat nilai tukar Rupiah yang kian terpuruk. Hal tersebut akan menambah beban berat pada pemerintah khususnya dalam hal pengendalian inflasi.
Sejauh ini, inflasi yang kian tinggi telah membuat pemerintah Indonesia melakukan kebijakan yang terus meningkatkan suku bunga. Apabila rakyat Indonesia mulai terjebak dengan suku bunga tinggi, maka akan menimbulkan resiko kemungkinan gagal bayar yang lebih besar. Mungkinkah pemerintah akan menggelontorkan dana untuk membeli asset-asset rakyat yang bermasalah!. Atau tetap melakukan langkah tradisional dengan tetap memberlakukan kebijakan uang ketat. Entahlah.
Rapor Merah Pergerakan Indeks
Daya beli masyarakat dunia yang terus menurun telah mempengaruhi pergerakan indeks global telah terjadi koreksi yang cukup dalam di hampir semua indeks di Asia. Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan pergerakan harga saham di bursa Wall Street di AS. Penguatan US Dolar turut disinyalir sebagai pemicu melemahnya pergerakan indeks harga saham dunia.
Tingginya harga minyak dunia beberapa waktu lalu yang turut dibarengi dengan melemahnya konsumsi masyarakat AS seiring dengan memburuknya sektor property telah menghancurkan fundamental perekonomian dunia. Inflasi yang tinggi telah membuat laju pertumbuhan ekonomi tertekan dan pengetatan kebijakan moneter bank sentral pada umumnya turut menekan harga saham dunia.
Saat ini, harga minyak terus mengalami koreksi yang cukup tajam setelah meroket pada pertengahan bulan Juli lalu. Kondisi tersebut tidak membuat perdagangan di lantai bursa bergeliat, karena penurunan tersebut justru diyakini sebagai melemahnya konsumsi masyarakat dunia yang mengindikasikan telah terjadi perlambatan terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Hal yang paling mungkin terjadi yang akan membuat indeks bursa saham kembali menggeliat adalah kemungkinan rebound secara teknikal. Psikologis pasar yang telah jenuh mengalami aksi jual menjadi kesempatan bagi para pelaku pasar untuk membuka posisi beli yang baru. Walaupun, kondisi secara teknikal tersebut kemungkinan hanya berlangsung dalam tempo yang singkat sehingga hanya memberikan peluang rebound atau menguat sementara.
Harga saham di sektor manufaktur dan transportasi yang sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak dunia juga belum menunjukan peforma yang lebih baik meskipun biaya produksi sudah di tekan akibat penurunan harga minyak dunia. Kendala utama yang dihadapai yakni justru dari melemahnya daya beli msyarakat sehingga produk yang dijual tidak laku dan menurunkan pendapatan perusahaan di sektor tersebut.
Gejala penurunan daya beli juga diperparah oleh data yang dikeluarkan pemerintah AS dimana telah terjadi penurunan penjualan ritel di bulan agustus seiring dengan berakhirnya musim panas di AS. Kondisi melemahnya daya beli masyarakat AS juga diyakini sebagai salah satu pemicunya. Harapan yang masih dinanti adalah data penjualan perumahan di AS yang diharapkan akan kembali membaik, pasca diakuisisinya perusahaan properti AS terbesar Fannie Mae dan Freddi Mac oleh pemerintah AS.
Selain itu, ada beberapa hal yang tidak lazim yang jarang terjadi dan mempengaruhi pengerakan harga saham pada umumnya dan minyak khususnya. Yakni badai yang melanda teluk mexico yang mengancam produksi minyak AS. Uniknya badai tersebut seharusnya mampu menjadi pemicu melambungnya harga minyak dunia.
Dan sekali lagi pasar komoditas justru terus memperdagangkan minyak yang terus berusaha bergerak turun dibawah level $100/barel. Padahal pasokan minyak diperkirakan akan terus menurun apalagi OPEC juga berkomitmen untuk menurunkan produksi minyaknya guna mengimbangi harga dan kebutuhan minyak global.
Kondisi pasar keuangan dan saham yang tidak menentu itu saat ini telah terfokus pada pelemahan pertumbuhan ekonomi yang terjebak oleh tingginya suku bunga kredit. Penurunan harga minyak yang telah terkoreksi cukup signifikan bahkan tidak mampu menjadi stimulus bagi kembali bergeliatnya konsumsi masyarakat dunia. Dan sekaligus mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi global sedang terjepit oleh ketidak pastian pertumbuhan.
Pelaku pasar juga terus berupaya mencari lahan yang lebih menguntungkan dengan memanfaatkan kondisi yang serba tidak pasti. Sehingga menjadi pemicu semakin maraknya aksi spekulasi dikalangan pelaku pasar. Ketidakpastian ekonomi global tersebut juga akan berbanding lurus terhadap pergerakan indeks dan pasar keuangan, serta mempengaruhi kondisi perekonomian di negeri ini, meskipun negeri ini sedikit diuntungkan oleh penurunan harga minyak dunia.
Mata Uang Asia Terpuruk
Rupiah kembali melemah dan menembus level diatas 9300/US Dolar. Pelemahan tersebut seiring dengan melemahnya beberapa mata uang asia seperti Won Korea, Kiwi (Newzealand Dolar), Baht Thailand serta beberapa mata uang asia lainnya. Kisruh politik di Thailand diyakini menjadi pemicu utama melemahnya Rupiah belakangan ini.
Kebijakan Bank Indonesia yang menaikan suku bunga acuan atau biasa disebut dengan BI rate, tidak berpengaruh banyak bagi pergerakan nilai tukar Rupiah yang masih terpuruk. Kondisi geopolitik di kawasan asia sepertinya lebih dominan dan mempengaruhi kinerja nilai tukar Rupiah dari hanya sekedar menaikan BI Rate.
Selain itu, mata uang US Dolar kian menunjukan keperkasaannya terhadap hampir semua mata uang di dunia seiring dengan penurunan ekonomi global yang mewabah di kawasan Eropa. Tercatat mata uang Euro sempat mencatatkan level paling rendah (05/09). Pelemahan tersebut dipicu oleh pernyataan dari ECB (European Central Bank) yang menyatakan bahwa perekonomian Eropa masih lemah. Kondisi tersebut juga diperparah dengan pernyataan dari Perdana Menteri Luxemburg yang menyatakan bahwa nilai tukar Euro masih cukup tinggi.
Selain itu Bank Sentral Eropa atau ECB juga menurunkan prediksi angka pertumbuhan selama tahun 2008 ini menjadi 1.4%, sebelumnya ECB memprediksikan bahwa perumbuhan ekonomi di tahun 2008 sebesar 1.8%. Bukan hanya itu, prediksi pertumbuhan di tahun 2009 juga dipangkas turun dari sebelumnya sebesar 1.5% menjadi 1.2%.
Belum habis pembicaraan mengenai laju pertumbuhan ekonomi eropa yang kian melemah. Inflasi di kawasan Euro juga diperkirakan masih akan naik lagi. ECB memprediksikan selama tahun 2008 ini inflasi yang terjadi sebesar 3.5%, lebih tinggi dari prediksi sebelumnya sebesar 3.4%. Selain itu, inflasi ditahun 2009 juga direvisi lebih tinggi lagi, dari semula sebesar 2.4% menjadi 2.6%.
Hal tersebut mencerminkan bahwa perekonomian di zona eropa belum menunjukan adanya tanda perbaikan. Sehingga banyak investor yang melepas mata uang dalam Euro ke mata uang US Dolar. Hal tersebut diyakini turut menjadi pemicu menguatnya US Dolar terhadap mata uang dunia.
Penguatan US Dolar juga didorong oleh sentimen ketidak percayaan terhadap pasar komoditi. Berita kehancuran perusahaan komoditi terbesar dunia Osprae Management LLC telah membuat investor berpikir 2 kali mengalihkan dananya ke bursa komoditi. Sehingga membuat US Dolar terlihat lebih aman dibandingkan dengan produk investasi lainnya.
Harga komoditas yang kembali turun seperti emas ternyata juga memberikan efek negatif pada mata uang Newzealand Dolar atau biasa disebut dengan Kiwi. Hal tersebut turut memberikan sentimen bagi mata uang komoditas lainnya seperti Australian Dolar.
Dibalik penguatan mata uang US Dolar, justru berita buruk datang dari negeri paman sam itu sendiri. Berita mengenai tingkat pengangguran di AS yang meningkat menjadi 6.1% pada saat ini tentunya memberikan sentimen negatif bagi pergerakan mata uang US Dolar kedepan. Level tersebut merupakan level tertinggi selama 5 tahun terakhir.
Negeri paman sam banyak kehilangan pekerjaan pada beberapa sektor seperti manufaktur, service dan retail, seperti yang di beritakan oleh departemen tenaga kerja AS. Selama bulan Agustus perekonomian AS telah kehilangan 84.000 pekerjaan atau sekitar 605.000 pekerjaan terhitung sejak bulan januari.
Padahal perekonomian AS seharusnya mampu menciptakan 100.000 lapangan pekerjaan baru setiap bulan guna menampung jumlah tenaga kerja baru. Dengan kondisi ini maka rata-rata perbulan perekonomian AS kehilangan sekitar 23.500 pekerjaan dalam satu tahun terakhir. Data tersebut tentunya akan menjadi berita negatif dan memberikan tekanan bagi nilai tukar US Dolar.
Kembali ke Rupiah, akibat makkin perkasanya US Dolar Rupiah kembali terpuruk dikisaran level 9.329/US Dolar. Kondisi dimana banyak analis yang sudah memperkirakan sebelumnya bahwa pada saat Rupiah menembus level 9.200/US$ maka ada kemungkinan Rupiah terpuruk lebih dalam lagi. Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan langkah BI yang telah menaikan BI rate.
Selain itu, kondisi US$ yang menguat juga justru tidak ditopang dengan fundamentalnya yang kuat. Banyak pertanyaan kenapa Rupiah terus kian terpuruk. Namun, beberapa hal seperti tekanan inflasi domestik yang kemungkinan akan kembali meningkat selama Ramadhan serta diperburuk kondisi geopolitik di Asia seperti kemungkinan kudeta di Thailand akan menjadi sentimen negatif bagi Rupiah. Meskipun Jumat kemarin US Dolar mendapat berita yang tidak sedap dari departemen tenaga kerjanya, namun bukan berarti Rupiah akan kembali menguat secara signifikan terhadap US Dolar, bisa jadi justru yang sebaliknya.
Mewaspadai Tradisi Inflasi Tinggi
Lebaran sebentar lagi, Ramadhan telah tiba. Tradisi umat muslim Indonesia yang merayakan lebaran dengan berkumpul dengan sanak keluarga merupakan sebuah tradisi yang cukup unik, dan jarang terjadi di negara muslim lainnya. Semua orang tahu tradisi tersebut menjadi biang keladi terhadap timbulnya masalah transportasi yang disebabkan oleh adanya arus mudik dan balik. Dibalik banyak kebaikan bulan Ramadhan dan perayaan Lebaran, namun keduanya juga menyisakan masalah yang tak kalah penting yakni meningkatnya tekanan laju inflasi.
Walaupun keliatannya sudah biasa, namun tahukah kita bahwa kebiasaan menyediakan sesuatu yang istimewa (makanan) selama Ramadhan dan Lebaran juga memberikan tekanan di pasar uang. Kita lihat bagaimana korelasinya.
Harga telur, dan daging kembali mencatatkan kenaikan tinggi dibandingkan dengan kebutuhan pokok lainnya. Kenaikan tersebut bukan disebabkan oleh karena pasokannya yang berkurang namun dikarenakan oleh tingginya permintaan. Jadi, sekalipun pasokannya ditambah tetap akan sulit dalam menstabilkan harga.
Harga yang lebih mahal tentunya harus dibayar dengan jumlah uang yang lebih banyak pula. Meskipun terkadang bisa di tolerasnsi besarannya oleh setiap individu, namun pernahkah membayangkan besarannya apabila dikalikan dengan 200 juta lebih penduduk Indonesia.
Setiap ada penambahan jumlah uang yang beredar, yang diakibatkan oleh kenaikan harga, tentunya akan membuat nilai mata uang tersebut lebih murah dibandingkan dengan sebelum terjadi kenaikan harga. Misal, sebelum Ramadhan harga telur Rp. 500, di bulan Ramadhan harganya menjadi Rp. 600. Setiap keluarga diasumsikan mengkonsumsi 10 butir telur per hari. Kalau ada 50 Juta keluarga saja, bayangkan berapa banyak Rupiah yang telah dibuang untuk kenaikan Rp. 100 per butir telur.
Terlihat, ada penurunan nilai jual dari mata uang Rupiah, dimana rupiah lebih murah dibandingkan dengan telur yang Rp.100 lebih mahal. Kenaikan tersebut akan memberikan kontribusi bagi besaran inflasi. Apabila ternyata laju inflasi lebih besar dari perkiraan dan berada di atas asumsi APBN, maka kita juga tahu bahwa sulit bagi BI untuk menurunkan suku bunga, karena inflasi yang tinggi memberikan konskuensi bagi banyaknya jumlah uang beredar dan harus diserap dengan suku bunga tinggi, atau bahasa yang lebih halus memberikan insentif agar kita lebih rajin menabung daripada membelanjakan uang kita.
Dengan suku bunga yang tinggi, kita juga tahu bahwa sulit bagi kita untuk meminjam uang dari Bank. Nah, bagaimana kalau niat meminjam uang justru akan digunakan sebagai modal usaha. Bukankah membuka usaha akan menambah lapangan kerja, dan justru itulah yang diharapkan kita semua. Bukankah demikian.
Kembali lagi, tekanan laju inflasi yang membuat suku bunga tetap tinggi juga berdampak bagi peningkatan dana asing untuk ditanamkan di Indonesia. Para pemodal di seantero bumi ini selalu mencari tempat untuk mengkembangbiakan uangnya pada instrument yang memberikan imbal hasil yang tinggi. Dan Indonesia dikenal dengan suku bunga yang tinggi pula, dengan kenyaman investasi yang masih cukup aman.
Kalau BI rate tetap tinggi, maka dunia perbankan akan menetapkan suku bunga seperti Deposito dan bunga pinjaman dalam nominal yang tinggi pula. Dan satu hal yang perlu diperhatikan bahwa bukan hanya kita yang tinggal di Indonesia yang tertarik dengan imbal hasil tinggi, namun mereka yang tinggal diluar Negara kita tentunya juga akan berminat untuk menanamkan uangnya di negeri ini.
Dengan sistem keuangan yang terintegrasi secara global, sulit bagi kita untuk tidak membiarkan dana-dana panas tersebut (asing) berkembang biak di negeri ini. Kalau mereka menyimpan dalam jumlah nominal yang cukup signifikan, bayangkan bagaimana bunga yang harus dibayar oleh kita ke mereka. Sialnya lagi bunga atau keuntungan yang mereka terima akan mereka bawa pulang, sehingga apa yang kita dapat!.
Kita tahu bahwa harga minyak dunia saat ini mencoba untuk kembali merangkak naik, dan kita juga harus tahu bahwa negeri ini juga membeli minyak dari luar untuk memenuhi kebutuhannya. Dan seharusnya kita tahu bagaimana kenaikan harga minyak dunia telah membuat pemerintah kita menaikan harga BBM dan membuat inflasi meroket.
Kita hanya mengambil satu contoh dalam kasus telur, namun kita harus menyadari bahwa kenaikan tidak hanya terjadi pada harga telur saja. Umumnya semua harga sembako akan mengalami kenaikan pada hampir setiap perayaan keagamaan. Tanpa kita sadari bahwa pola konsumsi yang cenderung meningkat selama bulan Ramadhan serta perayaan keagamaan lainnya ternyata meninggalkan masalah di sisi lain. Yang tanpa disadari menjadi biang keladi terhadap masalah yang kita hadapi seperti transportasi, inflasi, pengangguran dan bisa merambah ke masalah resesi.
Berani hidup di bawah standart, dengan tetap tidak merubah pola konsumsi selama Ramadhan ini dan Lebaran nanti, akan lebih banyak memberikan manfaat yang besar serta tetap mebawa kita kepada kemenangan. Bukankah substansi berpuasa dan lebaran bukan pada makanan-makanan yang enak, pakaian mewah, maupun pemenuhan kebutuhan yang lebih dari biasanya.
Dan tahukah kita bahwa THR (Tunjangan Hari Raya) juga telah membuat kita lebih konsumtif. Jika semua karyawan yang bekerja mendapatkan THR, bayangkan berapa potensi jumlah uang yang akan dibelanjakan, bayangkan bagaimana jumlah uag beredar dan bayangkan juga akibatnya. Walaupun hanya bersifat musiman, namun bukankah tuhan juga tidak mau kita menyepelekannya.
Stimulan Kredit Untuk Recovery
Setelah sempat digoyang oleh gonjang ganjing harga minyak, pada saat ini pasar sedikit lebih tenang karena fluktuasi harga minyak cukup stabil dan memiliki kecenderungan turun. Kondisi yang paling mudah untuk dilihat adalah tanda adanya penguatan nilai tukar US Dolar terhadap major currency. Hal tersebut menandakan bahwa harga komoditas mulai terkendali meskipun tidak menutup kemungkinan masih ada tekanan laju inflasi.
Pertumbuhan yang cukup lamban seiring dengan melonjaknya harga komoditas seharusnya menjadi stimulan bagi kestabilan harga dan inflasi. Meski demikian, masih terdapat sejumlah faktor penting yang berpotensi menjadi pemicu kembali melambungnya harga komoditas, sehingga tetap saja masih terbuka kemungkinan bahwa komoditas khususnya minyak belum akan mencapai kestabilan ditengah tingginya permintaan oleh negara-negara yang mencetak angka pertumbuhan tinggi seperti China dan India.
Dari sisi persediaan memang telah terjadi peningkatan terhadap produksi minyak oleh negara anggota OPEC. Namun, lifting produksi minyak tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan minyak dunia. Terlebih menjelang akhir tahun ini, harga minyak kemungkinan saja masih akan naik lagi seiring dengan tingginya permintaan menjelang musim dingin.
Untuk Indonesia, perayaan keagamaan seperti lebaran yang jatuh sedikit lebih awal dibulan Oktober diperkirakan akan mengurangi beban pemerintah sehingga laju inflasi nantinya masih relatif terkendali. Bayangkan saja, apabila lebaran justru jatuh berdekatan dengan perayaan Natal dan musim dingin di belahan negara lain. Sudah tentunya pemerintah akan mendapatkan tekanan dahsyat akibat melambungnya permintaan serta banyaknya jumlah uang beredar.
Walaupun bersifat musiman dan hanya berlangsung beberapa hari dalam setahun, namun kontribusi yang diberikan terhadap tekanan inflasi secara tahunan akan sangat terasa dampaknya. Dan tentunya akan mempersulit Bank Indonesia dalam melakukan kontrol terhadap laju tekanan inflasi.
Di beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, kondisi ekonomi yang menuju ke lubang resesi telah memaksa pejabat di negara tersebut untuk menyalurkan dana segar guna menyelamatkan perekonomian. Sektor yang mendapat perhatian serius sebelumnya adalah sektor energi. Namun, saat ini telah bergulir usulan agar sektor otomotif juga membutuhkan adanya kucuran dana untuk menyelamatkan industri otomotif.
Perusahaan terbesar otomotif AS General Motor yang mengalami kerugian sebesar $15.5 Milyar memang membutuhkan kucuran dana segar. Dana tersebut nantinya akan berguna untuk merehabilitasi perusahaan dengan membeli mesin-mesin baru serta penilitian untuk membuat kendaraan yang hemat enerji.
Langkah yang diambil pemerintah AS terbilang cukup berani dengan memberikan stimulan kredit. Bahkan sektor perumahan AS yang dijadikan kambing hitam pemicu memburuknya perekonomian dunia diperkirakan akan segera berakhir. Seorang milyader bernama Warren Buffet menyatakan bahwa kedua perusahaan finansial terkemuka bernama Fannie Mae dan Fraddie Mac akan menerima kucuran dana sebesar $12 Trilliun guna menyelamatkan kedua perusahaan tersebut dari masa sulit seperti sekarang ini.
Indonesia juga mengalami masalah yang tak jauh berbeda dengan AS. Hanya saja langkah yang diambil Indonesia lebih bersifat pengendalian moneter dengan tetap menjaga kestabilan harga dan laju inflasi. Sehingga, kalaupun ada laju pertumbuhan yang disebabkan kondisi tersebut, namun pertumbuhan itu bukan yang bersifat padat karya, sehingga menimbulkan sebuah pertumbuhan semu.
Program pemerintah untuk menumbuhkan jiwa wiraswasta dengan KUR (kredit usaha rakyat) dinilai juga belum maksimal. Karena perbankan juga enggan menyalurkan kredit dengan jumlah besar apabila tidak tersedia jaminan. Sehingga akses untuk mendapatkan KUR masih sangat terbatas. Dibutuhkan langkah konkrit serta keberanian pemerintah dalam mengambil resiko. Karena untuk kembali meningkatkan daya beli serta mendongkrak laju pertumbuhan salah satunya dilakukan dengan mengalokasikan dana dengan akses yang lebih mudah untuk sektor riil atau padat karya.
Pelemahan Ekonomi Eropa Sentimen Baik Bagi Komoditas
Pergerakan mata uang Euro kembali melemah cukup tajam terhadap mata uang US$ dikisaran 1.501/US$. Pelemahan tersebut dipicu oleh pernyataan Gubernur Bank Sentral Eropa Jean Claude Treachet mengenai kemungkinan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi zona Euro, pada kuartal keempat tahun ini. Hal tersebut sekaligus menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan bahwa Bank Sentral Eropa tidak menaikan suku bunganya.
Dampaknya kian terasa terhadap penguatan mata uang US$ yang tentunya lebih diminati seiring dengan pernyataan tersebut. Selain itu, harga komoditas seperti minyak dunia juga kembali mereda hingga mendekati level $100/barel, seiring dengan penguatan mata uang US$. Penguatan mata uang US$ berhasil mengabaikan sentimen negatif data dari departemen tenaga kerja AS yang merilis bahwa sektor manufaktur justru turun sebesar 1.4%.
Ekonomi Eropa menghadapi perekonomian kian sulit setelah Produk Domestik Bruto Italia mengalami penurunan yang diringi dengan kebijakan ECB (European Central Bank) yang menahan suku bunga Euro di level 4.25%. Padahal keputusan tersebut diambil ditengah ancaman tingginya tekanan inflasi dalam beberapa waktu kedepan.
Sehingga ekspektasi kemungkinan akan kembali diturunkannya suku bunga oleh ECB dan BoE (Bank of England) masih cukup terbuka lebar. Sementara Bank Sentral AS atau biasa disebut dengan The FED masih tetap menunjukan gelagat akan menaikan kembali suku bunganya. Sehingga kemungkinan US$ menguat terhadap mata uang global cukup besar.
Kondisi tersebut akan membuat tekanan harga pada beberapa komoditas diperkirakan akan terus melemah. Minyak misalnya yang sempat diperdagangkan mendekati level $150/Barel, pada saat ini telah mereda dan berada dikisaran level $113/barel. Sementara itu harga emas turun dalam posisi terendah selama 3 bulan terakhir diposisi $851/ troy ounce. Demikian halnya dengan perak yang juga turun drastis sebanyak 5%.
Kembali menguatnya US Dolar juga membuat harga komoditas seperti CPO turun signifikan. Hal tersebut tercermin dengan semakin terkendalinya harga pasaran minyak goreng di dalam negeri. Banyak hal positif yang dapat diambil dari penguatan US Dolar, tak terkecuali terhadap laju mata uang Rupiah yang kembali sedikit tertekan oleh penguatan US$.
Secara keseluruhan harga minyak mentah dunia telah turun sebanyak 20% setelah sempat mencapai titik puncaknya di level $147/Barel pada tanggal 11 Juli lalu. Selain itu, eksplorasi minyak yang akan dilakukan Iraq setelah 20 tahun tertunda akibat sanski oleh PBB diharapkan mampu menambah kapasitas minyak menjadi dua kalilipat. Nantinya hal tersebut akan menjadi berita bagus bagi perdagangan komoditas karena akan ada tambahan pada pasokan minyak dunia.
Pasar kedepan akan lebih fokus pada perkembangan data di zona Eropa dan Inggris ketimbang memburuknya data perekonomian di AS. Beberapa hal yang akan menjadi penekanan disini adalah keputusan Bank Sentral seperti ECB dan BoE. Dimana langkah yang akan diambil menjadi tolak ukur untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh menguatnya US$ secara signifikan dalam beberapa hari belakangan ini. Dan diperkirakan US$ akan melanjutkan tren penguatannya dalam pekan ini dan harga komoditas juga akan kembali mengalami penguatan serupa seiring dengan penguatan US$.
Di dalam negeri kenaikan BBM serta penurunan harga minyak dunia pada saat ini akan menjadi sebuah kesempatan untuk APBN agar bisa sedikit bernapas, karena sebelumnya sempat tertekan dan mengalami defisit yang diakibatkan oleh kenaikan minyak mentah dunia.
Ekspektasi akan kembali menguatnya harga minyak dunia juga tetap ada. Kemungkinan akan terpilihnya calon presiden AS Barrack Obama yang selalu diasumsikan sebagai sentimen positif. Karena Obama mempunyai perhatian yang lebih terhadap masalah Iraq. Sehingga secara politis akan mengurangi tekanan harga minyak.
Namun bukan berarti harapan minyak turun tanpa ada kemungkinan sebaliknya. Harga minyak dunia sangat dipengaruhi oleh masalah Demand & Supply, Politik, Spekulasi, maupun Iklim. Sehingga kestabilan harga minyak itu sendiri akan sangat tergantung pada kestabilan faktor yang mempengaruhinya.
Pasar Kembali Berkonsolidasi
Setelah sempat gunjang-ganjing fluktuasi pasar yang disebabkan harga minyak. Saat ini pasar kembali berkonsolidasi dengan tetap fokus kepada data-data perekonomian Amerika. Sekali lagi data perkonomian AS kembali membuat kejutan dengan merealisasikan angka aktual diluar perkiraan sebelumnya.
Diantaranya data permintaan terhadap barang-barang tahan lama atau durable goods order yang naik selama bulan juni 2008 sebesar 0.8%. Selain itu, data penjualan rumah juga menunjukan hal serupa dimana lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya. Kedua data tersebut kembali mengangkat nilai tukar US Dolar yang kembali menguat terhadap hampir semua mata uang utama dunia.
Pasar saat ini pasar tidak memiliki sentiment yang cukup yang akan menjadi penggerak pasar selanjutnya. Namun, konsolidasi yang dilakukan pasar saat ini sepertinya akan lebih menjadi pendorong positif bagi penguatan US Dolar ke depan. Seiring dengan memudarnya ekspektasi kenaikan suku bunga di kawasan Eropa.
Kejutan-kejutan yang sering terjadi pada pergerakan harga minyak sepertinya tidak akan begitu terasa, karena telah terjadi penurunan harga yang cukup signifikan setelah sempat naik tajam sebelumnya. Hingga saat ini, fluktuasi harga minyak belum menunjukan adanya fluktuasi yang tajam seiring dengan membaiknya hubungan AS dan Iran.
Selain itu, dalam waktu dekat mata uang US Dolar juga akan mendapatkan angin segar seiring akan dirilisnya data Gross Domestic Product (GDP), yang diperkirakan juga akan mengalami peningkatan seiring dengan membaiknya data perekonomian AS. Hal tersebut akan berpengaruh cukup signifikan bagi greenback untuk mengurangi kerugiannya terhadap major currency.
Namun, beberapa kemungkinan tersebut bisa saja tidak sesuai dengan ekspektasi. Karena saat ini calon presiden AS yang baru Barrack Obama justru menyatakan sikap untuk membawa Iran kembali mengikuti aturan PBB terkait dengan pengemabangan program nuklirnya.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa AS tetap akan mempermasalahkan program nuklir yang dikembangkan Iran ke depan, dan berpotensi membawa harga minyak naik lebih tajam lagi. Ketegangan tersebut sepertinya belum akan berakhir meskipun akan terjadi perubahan kepemimpinan di Amerika.
Kembali ke dalam negeri. Pergerakan US Dolar yang masih labil tidak akan berpengaruh banyak bagi pergerakan Rupiah. Nilai tukar rupiah masih menunjukan pergerakan yang relatif stabil meskipun terjadi fluktuasi yang tajam pada mata uang utama dunia.
Inflasi yang cukup stabil serta dibarengi oleh BI yang terus melakukan penetrasi terhadap kemungkinan fluktuasi Rupiah (intervensi pasar) akan tetap membuat mata uang Rupiah bergerak dalam rentang yang terbatas. Apalagi BI mempunyai cadangan devisa yang cukup untuk meredam segala bentuk gejolak pasar yang kemungkinan terjadi.
Meski demikian bursa saham belum mampu menunjukan peforma yang lebih baik. Hal tersebut dikarenakan banyak Bank sentral di dunia ini yang memberlakukan kebijakan uang ketat atau tight money policy guna meredam laju inflasi. Saham-saham yang berpeluang terkoreksi sangat dalam adalah saham-saham perbankan. Karena Bank diperkirakan akan mengalami kesulitan dalam penyaluran kredit, akibat tekanan suku bunga yang cukup tinggi.
Minyak Turun, US Dolar Berpotensi Menguat
Harga minyak mentah dunia sempat menyentuh level tertingginya, seiring dengan peluncuran uji coba senjata yang dilakukan oleh Iran. Aksi pamer senjata tersebut ternyata ditanggapi sebagai bentuk ujicoba pertahanan militer Iran terhadap kemungkinan serangan senjata yang akan dilancarkan oleh tentara Israel.
Kekhawatiran pun muncul di pasar finansial. Serangan tersebut akan membuat harga minyak semakin mahal dan langka, sementara menurut laporan cadangan minyak di Amerika Serikat mulai menurun. Tak terelakkan lagi harga minyak naik tajam dan membuat kekhawatiran akan tingginya laju tekanan inflasi.
Terlepas dari permasalahan fundamental harga minyak seperti demand & supply. Permasalahan geopolitik di Iran baru-baru ini telah menyita perhatian banyak pelaku bisnis, dan sempat dijadikan biang keladi melambungnya harga minyak dunia. Ditambah lagi aksi beli para spekulan.
Namun, benarkah pemerintah AS merestui serangan yang akan dilancarkan Israel ke Iran?. Tentu tidak, bukan karena AS atau Israel tidak memiliki amunisi yang cukup maupun teknologi yang tidak memadai. Namun, membaiknya hubungan Iran dan AS baru-baru ini lebih disebabkan oleh kekhawatiran akan kembali bergejolaknya harga minyak dunia dan mengancam perekonomian di AS.
Iran yang sebelumnya dituduh sebagai negara yang melanggar ketentuan PBB dalam pengembangan senjata nuklir, ternyata tetap mendapatkan perlakuan khusus. Hal ini disebabkan bargaining position (posisi tawar) Iran jauh lebih baik dibandingkan dengan posisi Amerika. Iran yang menjadi negara pengekspor minyak terbesar no.2 dunia dan tentunya masih akan tetap diperhitungkan di kancah perpolitikan internasional.
Posisi Iran tersebut tentunya akan membuat negara tersebut imun (kebal) terhadap segala bentuk ancaman serangan militer dari luar khususnya Amerika. Sumber daya alam yang dimiliki tetap berguna sebagai tameng dalam menangkal intervensi politik terhadap negara tersebut. Dan cukup berguna untuk menekan negara lain.
Selain itu, posisi Iran serta langkah yang diambil Iran dengan sedikit merapatkan badan dengan Amerika Serikat juga berguna bagi kestabilan perekonomian global. Bayangkan hanya dengan memperbaiki hubungan dengan AS, harga minyak dunia turun ke level US$128/barel, setelah sempat naik ke level US$147/barel.
Bahkan mata uang US Dolar sendiri sempat menguat secara tajam dibandingkan dengan pergerakan mata uang Euro. Meskipun banyak yang menilai bahwa turunnya harga minyak disebabkan oleh persepsi pasar yang tidak menginginkan harga minyak naik lebih jauh lagi karena menghambat laju pertumbuhan ekonomi.
Namun, penulis berpendapat turunnya harga minyak lebih dikarenakan oleh membaiknya hubungan yang dijalin antara AS dan Iran. Meskipun belum ada yang memprediksikan sampai sejauh mana hubungan tersebut akan terjalin. Namun, setidaknya akan memberikan kenyamanan pada pasar finansial dalam jangka pendek.
Dalam beberapa waktu kedepan US Dolar masih berpotensi untuk terus menguat terhadap mata uang Global. Mengingat pemerintah AS yang dinilai mampu dalam mengatasi permasalahan di dua perusahaan properti terbesar di AS. Euro diperkirakan akan kembali melanjutkan tren pelemahan terhadap US$ karena Gubernur Bank Sentral Eropa menyatakan bahwa pelemahan ekonomi di zona Eropa masih berlanjut.
Seiring dengan meningkatnya laju tekanan inflasi di AS, maka US$ masih tetap akan mendapatkan sentimen positif, karena diprediksi akan kembali dinaikkannya suku bunga Bank Sentral AS atau The FED Fund Rate.
Kegelisahan Baru di Pasar Global
Negeri paman sam masih terus berjuang untuk melawan perekonomian yang kian tak menentu. Hal tersebut dapat terlihat dengan serangkaian kebijakan yang telah dibuat, maupun koordinasi dengan banyak negara guna mengurangi dampak negatif yang lebih luas dari tren penurunan perekonomian di Amerika.
Namun, usaha tersebut sepertinya terkesan tidak mampu berbuat banyak. Karena kebijakan apapun yang akan diambil hanya bersifat memperpanjang umur belaka dan bukan menuntaskan permasalahan. Karena kebijakan apapun yang diambil Amerika akan tetap memberikan dampak negatif pada sisi lainnya, karena belum ada formulasi kebijakan yang bisa menyembuhkan semua penyakit (permasalahan).
Yang paling menyedihkan adalah berita yang baru-baru ini muncul. Berasal dari 2 lembaga keuangan pembiayaan perumahan paling penting di AS yang bernama Fannie Mae dan Freddie Mac. Diberitakan bahwa kedua perusahaan tersebut sedang jungkir-balik dan membutuhkan suntikan dana cukup besar guna tetap beroperasi.
Kondisi tersebut terang aja membuat pelaku pasar panik yang dibuktikan dengan anjloknya bursa saham di AS serta melemahnya nilai tukar US Dolar terhadap mata uang Euro. Kekhawatiran tersebut jelas menggambarkan akan terpuruknya perekonomian AS serta memunculkan pesimisme baru dikalangan pelaku pasar. Yang seakan-akan memberikan kabar bahwa hal yang lebih buruk bisa saja akan segera terjadi.
Bahkan kinerja buruk yang terjadi di bursa saham wall street mengabaikan penurunan harga minyak serta tetap terpojok oleh sentimen negatif dari kedua perusahaan perumahan besar Amerika tersebut. Kejadian itu membuat Bank Sentral AS akan kembali membuat kebijakan guna menyelamatkan perekonomian dari keterpurukan di sektor perumahan yang lebih dalam lagi.
Dibalik keterpurukan tersebut banyak pengamat yang memperkirakan bahwa kemungkinan yang akan terjadi nantinya akan jauh lebih buruk dari yang dibayangkan saat ini. Sebuah kondisi yang mungkin diluar ekspektasi semua orang pada saat ini, walaupun masih hanya sekedar sebuah wacana.
Kegelisahan tersebut nantinya akan membuat US Dolar kembali terpuruk signifikan serta akan membuat harga minyak naik lebih tinggi lagi. Dalam perdagangan sepekan ini harga minyak sempat meroket ke level $147/barel. Kondisi ini akan membuat banyak negara terjebak dalam stagflasi. Dimana tidak ada pertumbuhan namun diiringi dengan meroketnya laju inflasi.
IMF juga memberikan statement serupa, dimana perekonomian yang sedang dihadapi saat ini berada diantara pertumbuhan yang stagnan yang dibarengi dengan laju inflasi yang tak terkendali. Namun lebih jauh IMF juga berpendapat bahwa negara yang tergolong dalam ekonomi berkembang (emerging market) memiliki kesempatan untuk selamat dari resesi lebih besar. Meskipun tidak dibarengi dengan alasan yang cukup kuat.
Dari kejutan-kejutan baru tersebut, Indonesia diperkirakan juga akan mengalami hal yang serupa terhadap penyesuaian-penyesuaian yang mungkin saja terjadi, sekalipun terhadap asumsi di dalam APBN. Karena dari sekian banyak asumsi, harga minyak dan inflasi tetap terus berubah-ubah sehingga APBN dituntut untuk lebih fleksibel lagi.
Meskipun tidak semudah membalikan telapak tangan, namun kondisi yang lebih buruk semestinya sudah dapat diantisipasi di depan. Sebelum melakukan penyesuaian yang terkadang dikatakan terlambat serta mempertaruhkan kredibilitas pemerintah. Sejauh ini perubahan yang terjadi pada harga komoditas minyak dunia, dicoba untuk ditepiskan dengan memberikan statement yang seolah-olah pemerintah masih sanggup untuk mengatasinya.
Misal, harga minyak dunia dikisaran level $145/barel masih akan membuat APBN tetap aman. Bayangkan sekarang harganya sudah di $147/barel. Mungkin pemerintah sudah menunjukan kegelisahannya dan berharap tidak ada kenaikan lagi. Namun, tensi perselisihan yang terjadi di Iran dan Israel tetap memberi peluang akan kenaikan yang tak terduga lagi. Semoga saja tidak.
Iran Menjadi Kunci Penting Kestabilan Ekonomi
Rencana Israel yang akan melakukan invasi terhadap pusat pembangkit tenaga nuklir di Iran menimbulkan tekanan terhadap perkembangan harga minyak yang terus naik keatas. Maklum saja Iran merupakan negara pengekspor minyak terbesar ke 2 di dunia. Sehingga, menjadi kunci penting bagi perdagangan minyak di pasar internasional.
Sejauh ini, Iran bersikukuh bahwa tenaga nuklir yang dikembangkan saat ini adalah untuk keperluan pembangkit tenaga listrik semata. Namun, pendapat berbeda justru datang dari Eropa dan Amerika yang menyatakan perkembangan tenaga nuklir di Iran digunakan sebagai pembuatan senjata militer yang mengancam keselamatan umat manusia di bumi ini.
Dan permasalahan geo-politik Iran pada saat ini telah di “kambing hitam-kan” sebagai salah satu pemicu tingginya harga minyak dunia. Pada bulan Januari 2006 Iran memang telah melanggar perjanjian PBB dengan meluncurkan program yang diberi nama Nuklir Natanz untuk pengayaan Uranium. Dan Iran sendiri telah mengembangkan penelitian yang sudah berlangsung sekitar 2 tahun pada saat itu.
Menghadapi hal tersebut pemerintah Iran terus melakukan langkah ofensif dengan sejumlah pernyataan yang mengancam akan menngurangi pasokan minyaknya ke Eropa dan Amerika apabila negara tersebut benar-benar di invasi. Dan OPEC sendiri sangat mengkhawatirkan langkah Iran yang akan mengurangi pasokan, karena akan membuat cadangan minyak dunia terancam dan akan membuat harga minyak naik serta menekan laju pertumbuhan.
Kini, dunia kembali dihadapkan dengan masalah geo politik Iran yang berpotensi membuat banyak negara terjebak dalam krisis yang berkepanjangan. Permasalahan tersebut juga membuat banyak negara seperti Indonesia yang kedodoran menghadapi tingginya laju kenaikan harga minyak. Bahkan pemerintah memperingatkan untuk tidak meributkan masalah kenaikan harga minyak dengan tetap mencari solusi dalam menghadapinya.
Tidak jauh berbeda dengan Amerika. Negeri paman sam tersebut juga direpotkan dengan semakin mahalnya harga minyak, menurunnya pasokan minyak dalam negeri yang turut diperparah dengan memburuknya data-data perekonomian Amerika.
Kondisi tersebut juga menimbulkan ekspektasi dimana Bank Sentral ragu untuk kembali menaikan suku bunga. Hal tersebut nantinya akan berdampak pada semakin terpuruknya mata uang US Dolar meskipun sempat menguat di akhir pekan ini. Dan akan membuat harga minyak naik lebih tinggi lagi.
Meskipun harga minyak sempat turun di minggu kemarin, namun penurunan tersebut tidak lebih karena aksi profit taking (ambil untung) para pelaku pasar. Penurunan harga minyak tersebut juga membuat harga emas turun cukup signifikan. Dan turut diiringi dengan penguatan nilai tukar US Dolar terhadap mata uang dunia terutama Euro.
Selain itu, penguatan US Dolar juga didorong oleh dirilisnya data Non Farm Payroll, yang tidak seburuk dengan perkiraan sebelumnya. Sehingga memberikan sedikit angin segar bagi perdagangan US Dolar. Meski demikian di Amerika telah terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja selama semester pertama tahun 2008. Dan hal tersebut akan tetap menjadi sentimen negatif bagi US$ dalam jangka panjang.
Dengan adanya kejutan-kejutan baru seperti masalah geo politik Iran, perekonomian Amerika juga akan berfluktuasi cukup tajam. Sehingga belum mampu memberikan kepastian akan kebijakan apa yang akan di ambil pemerintah AS dalam menghadapi permasalahan ke depan. Penyelesaian masalah Iran yang nantinya berujung pada Invasi akan memberikan tekanan lain di pasar keuangan dan saham sehingga tetap menyisahkan efek negatif dari aksi tersebut.
Langkah pemerintah Iran dalam menghadapi tekanan internasional akan berimplikasi langsung terhadap pergerakan harga minyak dunia, US$ maupun emas. Isu yang berkembang saat ini sangat mudah digunakan oleh para spekulan untuk meraup keuntungan. Sehingga tidak hanya dipengaruhi oleh demand and supply, kenaikan harga komoditas (dalam waktu dekat) seperti minyak juga akan bergantung pada kebijakan yang arif dari para stakeholders, politik dan para spekulan yang tidak bertanggung jawab.