Semua yang disajikan didalam Blog ini merupakan artikel yang dimuat dibeberapa Media Cetak dalam negeri. Merupakan opini pribadi dan tidak merefleksikan pandangan dari institusi dimana penulis bekerja saat ini. Semoga Bermanfaat.
Friday, January 22, 2010
Tidak Ada Kenaikan Yang Abadi
Akhir minggu kemarin, pada sesi ertama IHSG baik 2%, namun seperti hari jum’at pada umumnya, dimana IHSG sering ditutup melemah. Di Hari jm’at minggu lalu IHSG terpaksa ditutup turun tajam. IHSG mengakhiri pekan kemarin dengan anjlok sebesar -1,91% ke level 1750,91. Demikian halnya juga dengan indeks sektor unggulan atau LQ45 juga turun sebesar -1,27% di level 340,977.
Penurunan tersebut mengkahiri rally kenaikan IHSG sebelumnya dimana sempat naik signifikan. Jum’at kemarin IHSG ditutup anomaly dengan indeks bursa regional maupun global yang pada umumnya ditutup menguat. Anomali tersebut diyakini akibat aksi profit taking pelaku pasar. Dimana saham group bakrie dan saham di sektor pertambangan yang mengalami penurunan paling besar.
Beberapa saham yang turun antara lain Bumi Resources (BUMI) turun 8,21% ke Rp 1790, Energi Mega (ENRG) turun 24,74% ke Rp 365, Bukit Asam (PTBA) turun 2,53% ke Rp 9650, dan ANTM turun 3,98% ke Rp 1690. Diantara penurunan tersebut tetap ada saham yang masih mempertahankan harganya yakni Astra Agro (AALI) naik 5,33% ke Rp 17800, GGRM naik 3,77% ke Rp 8250, BMRI naik 1,92% ke Rp 2650, dan BBNI naik 2,07% ke Rp 1480.
Rally panjang IHSG pada hari-hari sebelumnya ternyata memberikan koreksi yang tajam. Keputusan politis yang dinanti pelaku pasar juga memberikan kekhawatiran tersendiri. Selain karena manuver politik yang tajam, keputusan koalisi serta statemen yang premature membuat informasi berubah dalam rentan waktu yang cukup singkat. Ditengah ketidakpastian tersebut pasar sepertinya lebih memilih wait and see ketimbang membuat posisi baru.
Pada perdagangan jum’at kemarin IHSG semestinya mampu menguat lebih jauh lagi. Namun, kenaikan Indeks Bursa Dow Jones yang ditutup menguat tipis 0.6% tidak membakar semangat para pelaku pasar untuk tetap mengoleksi portfolio/saham. Kalaupun ada sentimen lainnya maka pasar sepertinya akan menunggu hingga peta pemilihan presiden tergambar dengan cukup jelas sehingga akan menjadi sentimen positif dan direspon oleh pasar.
Ada 3 pasawangan Capres dan Cawapres yang akan bersaing dalam pemilihan presiden mendatang. Keputusan SBY yang merangkul Boediono sebenarnya menunjukan bahwa besar kemungkinan kebijakan yang dibuat nantinya sangat mendukung kinerja perekonomian dan direspon positif oleh pasar, apabila dibandingkan dengan calon lainnya. Namun, itupun kalau nantinya mereka terpilih.
Nah, menjelang pemilihan presiden selain terfokus pada permasalahan politik, IHSG masih akan tetap menjadikan indeks bursa regional seperti Hang Seng (Hongkong) dan Nikkei (Jepang) menjadi acuan. Selain itu, Indeks bursa Dow Jones masih akan tetap menjadi lokomotif pada pergerakan indeks bursa ke depan. Sehingga, sembari menunggu siapa yang akan menang dalam Pilpres nantinya, ada baiknya kita melihat indeks bursa diluar untuk dijadikan patokan dalam mengambil keputusan.
Fluktuasi pada perdagangan saham dilantai bursa nantinya akan sangat volatile. Volatilitas tersebut dipicu oleh ketidakpastian arah perubahan ekonomi nantinya serta kenaikan IHSG yang saat ini sangat rawan dengan aksi profit taking. Rally pada IHSG selanjutnya masih menunggu kepastian siapa yang menang dalam Pilpres. Meski demikian, proses pemilihan presiden yang berjalan lancar nantinya akan menjadi pendongkrak bagi kenaikan IHSG.
Untuk menghindari kerugian akibat ketidakpastian tersebut maka ada baiknya melakukan transaksi yang jangka pendek, atau melakukan investasi dalam jangka panjang sekaligus. Keberanian dalam melakukan take profit maupun cut loss menjadi kunci utama keberhasilan ditengah kondisi seperti sekarang ini. Dan itu semua kembali kepada keberanian setiap individu.
Musim Banjir Sentimen Pasar
Setelah sempat ditutup melemah pada perdagangan kamis minggu kemarin, Indeks Bursa Dow Jones kembali menguat secara signifikan setelah Laporan Stress Test yang dilakukan oleh perbankan AS. Dimana sektor finansial memimpin penguatan bursa, hasil sari stress test yang dilakukan pemerintah AS ternyata lebih baik dari ekspektasi sebelumnya.
Sekitar 10 dari 19 bank dinyatakan perlu meningkatkan permodalannya sejumlah total $74.6 miliar, dan sejumlah bank lainnya tidak perlu meningkatkan modal. Selain dikarenakan hasil stress test, penguatan Dow Jones juga dipicu oleh dirilisnya data ketenaga kerjaan AS atau Non Farm Payroll (NFP), yang menunjukan bahwa pada bulan April terdapat 539,000 pemangkasan pekerja, yang jauh lebih kecil dari perkiraan, dan terendah sejak Oktober. Meski demikian angka tersebut belum mampu mengurangi jumlah pengangguran di AS.
Kenaikan Indeks Dow Jones tersebut diyakini akan menjadi pemicu bagi indeks bursa lainnya untuk melanjutkan tren penguatan termasuk Bursa Efek Indonesia (IDX). Secara historis kenaikan indeks bursa Dow Jones lebih banyak direspon positif oleh para pelaku pasar. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa indeks bursa Dow Jones menjadi lokomotif bagi pergerakan indeks bursa Negara lainnya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini diperkirakan juga akan mengalami penguatan signifikan, dan sangat mungkin mendekati level 1.900 atau bahkan langsung menembus level tersebut. Meskipun secara teknikal IHSG sangat rentan dengan aksi profit taking karena dinilai sudah naik tinggi. Namun, kondisi tersebut tidak akan membuat IHSG pada hari ini menghentikan tren penguatannya.
Beberapa sentimen hal yang mendukung bagi penguatan IHSG adalah pertama, hasil stress test perbankan Amerika yang dinilai masih cukup solid. Hasil tersebut telah mengangkat sejumlah harga saham sektor perbankan, dan diperkirakan akan membuat harga saham perbankan Indonesia terangkat. Kedua, penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia pada dasarnya akan menambah tenaga bagi kinerja saham. Dan ketiga, rencana PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) yang diisukan berkoalisi dengan Partai Demokrat juga akan menambah IHSG makin perkasa.
Meski demikian, penguatan IHSG yang signifikan bukan tanpa resiko. Secara teknikal IHSG selalu berada dalam kondisi yang sepatutnya sudah harus turun kembali. Selain itu, porsi kepemilikan asing di saham yang belum signifikan, serta rencana pemerintah yang masih memiliki hajatan besar (Pemilihan Presiden) berpotensi menjadi penghalang bagi tren kenaikan IHSG.
Selain data yang sedang hangat diperbincangkan. Penguatan IHSG masih terbuka lebar apabila Pemilihan Presiden nanti berjalan lancar. Seperti pada pemilihan legislative sebelumnya, dimana paska pileg IHSG menguat signifikan meskipun kembali terkoreksi setelah adanya pecah kkongis antara SBY dan JK.
Penurunan BI rate, kenaikan harga energi (minyak dunia) serta komoditas seperti CPO akan membuat saham di semua sektor industri berpeluang naik. Saham perbankan akan menjadi pemimpin baghi penguatan indeks pada hari ini diikuti dengan penguatan saham disektor energi dan komoditas.
Dalam 1 atau 2 minggu kedepan IHSG diperkirakan akan mencoba menembus level 2.000. Pada level tersebut pemerintah berkeyakinan bahwa pasar sudah kembali dalam batas normal. Sehingga sudah saatnya untuk melakukan hajatan seperti penerbitan saham perdana atau IPO (Initial Public Offering). Dimana beberapa saham BUMN akan dilepas ke pasar.
Deflasi, Mata Uang dan IHSG
Dalam ilmu ekonomi, Deflasi merupakan suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan mengakibatkan nilai tukar atau uang bertambah.Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar.
Di bulan April kemarin telah terjadi deflasi sebesar 0.31%. Besarnya deflasi yang diumumkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tanggal 1 Mei kemarin telah mengangkat nilai tukar Rupiah dan membuat IHSG ditutup keteritori positif. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ruang penurunan suku bunga (BI rate) terbuka lebar.
Menurut pemerintah, terjadinya deflasi dikarenakan turunnya sektor konsumer terkait turunnya permintaan bahan makanan selama dua bulan berturut-turut. Selain itu, penguatan nilai tukar Rupiah juga diyakini menjadi pemicu terjadinya deflasi. Semoga saja hal yang dikemukan tersebut benar adanya. Asalkan jangan sampai deflasi terjadi karena telah terjadi penurunan daya beli masyarakat sehingga dikuti oleh penurunan harga barang.
Sejauh ini, pengumuman deflasi oleh pemerintah telah membawa pasar keuangan kita berkinerja baik. Lihat saja nilai tukar Rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diperdagangkan menguat pada perdagangan minggu kemarin. Penguatan tersebut diyakini sebagai sinyal bahwa akan ada penurunan BI rate yang nantinya akan membuat wajah ekonomi Indonesia lebih baik lagi, khususnya sektor riil.
Lain lading lain belalang, meskipun terjadi deflasi serupa antra Indonesia dan Jepang namun, pemerintah Jepang justru mendapatkan hal yang sebaliknya. Menanggapi rilis data ekonomi ini nilai tukar yen mengalami pergerakan melemah dan telah mencapai level terendahnya dalam dua minggu belakangan terhadap dolar AS.
Pada bulan Maret lalu indeks harga konsumen di Jepang mengalami kontraksi. Kontraksi sebesar 0.1% ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak bulan September tahun 2007 lalu. Deflasi yang terjadi di Jepang ini merupakan sinyal bahwa resesi telah menimbulkan kemungkinan untuk menciptakan deflasi spiral.
Menanggapi rilis data ekonomi hari ini nilai tukar yen mengalami penurunan terhadap dolar dan euro. Terhadap dolar yen melemah ke level 98.94 per dolar dari penutupan dini hari tadi di posisi 98.55 per dolar. Sementara itu terhadap euro yen mengalami penurunan ke level 131.11 per euro dari penutupan 130.48 per euro. Baik terhadap dolar maupun euro yen mengalami penurunan ke level terendah sejak tanggal 16 dan 20 April.
Dalam minggu ini, sentiment deflasi masih akan mewarnai transaksi di lantai bursa maupun pada nilai tukar mata uang (valas). Dengan tetap menunjukan adanya tren kenaikan pada pergerakan keduanya, baik IHSG dan nilai tukar Rupiah. Akan tetapi kenaikan IHSg secara terus menerus dan menembus level 1.700 jangan membuat pelaku pasar terlena.
Kenaikan tersebut sebenarnya telah membawa kita ke resiko yang lebih besar lagi. Semakin tinggi naiknya, maka akan terasa sakit sekali kalau kita juga merasakan jatuhnya. Dengan tidak lupa bila sedang berada diatas, sebaiknya kita juga harus ingat bahwa kita tidak akan selamanya diatas. Dan untuk itu kita harus lebih waspada lagi.
Mengawali minggu ini, IHSG diperkirakan akan menguat seiring dengan membaiknya indikator ekonomi makro kita. Selain itu, IHSG juga akan kebagian “berkah” dari penguatan indeks bursa dow jones yang datang dari negeri paman sam.
Pemilu Dan IHSG
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) paska PEMILU legislatif kemarin sempat menjadi motor bagi IHSG untuk menguat selama 6 hari berturut-turut. Penguatan tersebut sekaligus membuat IHSG menjadi salah satu indeks bursa regional yang paling banyak mencatatkan kenaikan dan memiliki kinerja terbaik.
Kenaikan indeks juga ditopang oleh kembali bergairahnya perdagangan beberapa saham yang telah keluar dari “pertapaan”, atau tidak aktif diperdagangkan dalam beberapa bulan sebelumnya. Misal untuk saham grup Bakrie seperti ENRG (Energi Mega Persada), BNBR (Bakrie and Brothers). Maupun saham lainnya seperti TRUB (Truba Manunggal).
Bahkan tak jarag, IHSG mengalami anomali, yakni menguat ditengah melemahnya indeks bursa regional lainnya. Penguatan IHSG yang cukup fantastis tersebut ternyata tidak bertahan lama. Setelah rencana koalisi antara Partai Demokrat dan Golkar terhenti. Harga saham berguguran, nilai tukar Rupiah juga melemah terhadap US Dolar.
Kondisi pasar yang diwarnai dengan panic selling terus membayangi perdagangan dalam sepekan terakhir. Alhasil, IHSG ditutup ke teritori negatif dengan fluktuasi pergerakan harga saham yang cukup tinggi dalam setiap sesi perdagangannya. Pecahnya koalisi SBY-JK membuat kepercayaan pasar menurun dan lebih memilih wait and see. Kondisi politik memerankan peran yang lebih dibandingkan dengan isu ekonomi selama sesi perdagangan minggu kemarin.
Arah pergerakan pasar masih menunggu keputusan SBY dalam menentukan siapa yang akan maju menjadi calon wakil presiden atau cawapres. Kalau kemarin pasar merasa nyaman apabila SBY-JK kembali maju dalam pemilihan presiden mendatang. Sehingga kebijakan sebelumnya dapat terus dilanjutkan.
Untuk saat ini, khususnya bagi pelaku pasar, Wakil Presiden yang diusung SBY harus mendapat persetujuan dari pasar. Kalau tidak maka IHSG maupun Rupiah sangat rentan untuk terkoreksi kembali. Karena, wakil presiden yang diusung dengan ideologi yang dinilai kurang pro-pasar akan memberikan efek negatif bagi pasar keuangan domestik.
Pecah kongsi PD-Golkar pada dasarnya telah membuat kabinet di pemerintahan menjadi tidak harmonis. Menurut hemat penulis, pecah kongsi tersebut nantinya akan merubah formasi kabinet, sehingga membuat kabinet yang sekarang kurang optimal dalam menjalankan fungsinya, meskipun para menteri tersebut telah memiliki sistemnya sendiri.
Meskipun menteri keuangan Sri Mulyani menyatakan sebaliknya, namun respon pasar terhadap IHSG yang berlawanan memberikan gambaran jelas atas pandangan pasar terhadap kondisi kabinet pada saat ini. Sehingga dalam waktu dekat IHSG akan terus berfluktuasi hingga ada kejelasan yang pasti akan siapa yang maju dalam pemilihan presiden mendatang, khususnya bagi pasangan SBY nantinya.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan bagi pelaku pasar, ada baiknya mencermati beberapa saham untuk mengurangi resiko rugi yang diakibatkan oleh ketidakpastian politik. Beberapa saham yang sangat rentan dengan gejolak politik adalah saham Group Bakrie. Keberadaan Bakrie sebagai menteri di pemerintahan SBY kembali dipertanyakan setelah kongsi PD-Golkar pecah.
Untuk melakukan aksi terhadap saham tersebut, maka ada baiknya mnenggunakan analisa teknikal mengingat beberapa harga saham bakrie yang telah terkoreksi sekitar 50%. Sehingga keputusan yang diambil mengacu pada target maupun level support dan resistance dan hanya bersifat jangka pendek. Dan maksimalkan waktu untuk terus mengikuti perkembangan situasi terakhir. Karena fluktuasi yang tajam tetap bisa memberikan kesempatan untuk menuai keuntungan.
Memanfaatkan Momen Penguatan Indeks
Luar Biasa, mungkin itulah ungkapan pasar setelah terjadi kenaikan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) selama 5 hari berturut-turut. Diyakini optimisme terhadap perekonomian Indonesia mengagkat indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup naik 9,703 poin (0,6 persen) menjadi 1.634,790 pada perdagangan jum’at minggu kemarin.
Perekonomian Indonsia dinilai lebih baik di bandingkan di Negara lain sekawasan (asia tenggara). Sentimen PEMILU sepertinya masih menjadi pemicu membaiknya persepsi pasar terhadap Indonesia. Selain itu, Indonesia juga diuntungkan dengan kerusuhan yang terjadi di Thailand. Hal tersebut membuat saham-saham domestic diminati investor. Bukan hanya itu saja, kunjungan wisatawan asing ke Indonesia diberitakan meningkat khususnya di Bali.
Beberapa indikator lainnya yang meningkatkan optimisme pasar adalah pertumbuhan ekonomi kuartal I pada 2009 yang diperkirakan sekitar 4,5%. Ditambah lagi, laju tekanan inflasi yang terus menurun juga menjadi sentimen positif.
Pada penutupan perdagangan kali ini, transaksi yang terjadi mencapai 115.708 kali
dengan volume saham yang diperdagangkan 10,785 miliar lembar saham dan total nilai Rp4,29 triliun.
Tidak hanya indeks bursa, nilai tukar Rupiah juga membentuk pola tren kenaikan yang sama. Penguatan nilai tukar Rupiah diyakini menjadi sentimen kuat bagi Indeks untuk terus melanjutkan tren penguatan. Faktor-faktor eksternal lainnya seperti membaiknya pembayaran kartu kredit AS, laporan keuangan beberapa emiten besar seperti Citigroup dan GE (general electric), yang ternyata diatas ekspektasi sebelumnya juga berpotensi menjadi sentimen baru di pasar.
Dan tahukah anda, pejabat The Fed kembali melontarkan pernyataan bahwa tanda-tanda bahwa resesi mulai teredam bermunculan. Kebijakan injeksi dana dalam ekonomi AS berangsur-angsur mampu memperbaiki perekonomian AS. Dan The FED optimis bahwa ekonomi AS akan pulih pada tahun ini.
Meskipun itu masih sebuah pernyataan yang tentunya masih harus dibuktikan. Akan tetapi langkah pemerintah AS yang menguji 19 Bank besar di AS akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi atau Stress Test menjadi sentimen yang dinanti tentunya. Meskipun hasilnya belum dipublikasikan, namun beberapa informasi menyatakan test yang dilakukan berhasil atau lulus.
Bukan suatu hal yang tidak mungkin, seiring dengan membaiknya perekonomian AS serta perekonomian Domestik yang masih kuat. IHSG menembus level psikologis 1.700 dalam waktu dekat ini. Dan nilai tukar Rupiah kembali mencoba menguat dan menembus level 10.000/US Dolar.
Dengan kuatnya sntimen positif baru dipasar, tentunya ada kesempatan atau momen yang tepat untuk memanfaatkan kenaikan IHSG. Bahkan beberapa saham yang sebelumnya tidak aktif diperdagangkan dalam 6 bulan terakhir mulai menunjukan tren kenaikan dalam perdagangan beberapa hari terakhir.
Kapitalisasi transaksi saham terakhir sudah mulai membukukan angka yang cukup signifikan. Investor asing sudah mulai mengincar beberapa saham perbankan. Dengan harga saham yang relatif murah serta potensi kenaikan IHSG yang berpeluang cukup lebar, sudah saatnya kita masuk kepasar.
Saat ini, secara teknkal IHSG telah membentuk tren kenaikan (channel). Meskipun masih berpeluang untuk terkoreksi, namun, IHSG masih akan terus dibayangi sentimen positif dan IHSG akan lebih percaya diri lagi untuk bergerak keatas. Kalaupun ada koreksi di tengah tren kenaikan, itu merupakan sinyal bahwa kita harus segera masuk.
Pemilu Lancar, Pasar Akan Berikan Respon Positif
Pada tanggal 9 April, hari kamis minggu kemarin, Indonesia telah melakukan pelaksanaan pemilihan umum (PEMILU) yang berjalan cukup lancar. Bukan karena dimenangkan oleh Partai Demokrat, namun respon pasar sepertinya akan lebih tertuju pada keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan proses demokrasi, yang juga di klaim sebagai demokrasi terbesar di dunia.
Meskipun masih sebatas penghitungan cepat (quick count), namun pasar sepertinya sudah siap untuk merespon, meskipun penghitungan manual versi KPU akan selesai pada tanggal 20 nanti. Kemenangan partai Demokrat menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih merasa puas dengan kinerja pemerintah. Mengapa Demokrat? Karena Presiden SBY sebagai Pembina partai tersebut.
Kemenangan partai berlambang bintang dengan corak warna merah putih dan memiliki warna dasar biru tersebut, memberikan gambaran kepada kita bahwa kita dapat memperkirakan siapa yang akan menang dalam pemilihan presiden di tahun ini. Kalau berpatokan pada partai yang menang dalam PEMILU kemarin.
Nah demikian halnya juga dengan pasar. Proses PEMILU yang berjalan lancar, aman serta cukup terkendali memberikan sebuah garansi bahwa berinvestasi di Indonesia cukup aman. Hal inilah yang menjadi pemicu utama kembali bergairahnya pasar pada perdagangan senin ini. Baik Saham maupun Valas (Valuta Asing). Bahkan menurut penulis akan terjadi semacam euphoria.
Selain itu, selama kita libur kemarin. Bagi anda yang terus memantau perkembangan PEMILU tentunya akan melihat ticker yang memberitakan bahwa indeks regional dikabarkan terus membukukan penguatan. Jadi pergerakan indeks di pasar modal akan bergerak positif baik internal maupun eksternal.
Memang pada saat menjelang PEMILU indeks sempat tertekan. Namun, kondisi harap-harap cemas dari para investor akan berkurang pada perdagangan minggu ini. Bahkan investor juga akan lebih tenang menghadapi pemilihan presiden mendatang. Selain itu, tertekannya indeks sebelum PEMILU juga disebabkan oleh melemahnya pergerakan indeks regional. Meski demikian, IHSG tertekan sangat terbatas (-1%) jika dibandingkan dengan pergerakan indeks regional yang turun 4% (-4%).
Disamping itu, sebenarnya ada momen yang terlewatkan dan sangat disayangkan. Yakni pertemuan KTT (konferensi tingkat tinggi) ASEAN. Padahal dalam pertemuan tersebut akan dibahas penggalangan dana bersama Negara ASEAN dalam menuntaskan krisis, dimana China, Jepang dan Korea Selatan yang akan menjadi Negara donor.
Pertemuan tersebut sebenarnya merupakan tindak lanjut dari pertemuan G-20. Namun, karena ruang pertemuan dikuasai oleh demonstran anti pemerintah Thailand saat ini. Maka pertemuan ASEAN+3 harus ditunda. Padahal, apabila KTT ASEAN tersebut berjalan sesuai yang direncanakan maka, Indeks tentunya mendapatkan tenaga baru untuk menguat.
Respon positif pasar akan ditunjukan dengan menguatnya nilai tukar Rupiah serta menguatnya indeks bursa. Bahkan beberapa analis memperkirakan Rupiah berpotensi menguat tajam. Untuk saham, beberapa saham yang terkoreksi menjelang PEMILU kemarin, sepertinya akan berbalik arah dan kembali menguat pada perdagangan minggu ini.
Perlu dicermati pula saham Indofood yang memiliki kode INDF. Saham tersebut memiliki potensi menguat dalam jangka panjang. Karena selain bisnis utamanya di sektor makanan yang terintegrasi, Saham INDF juga termasuk dalam saham defensive. Sehingga lebih tahan terhadap guncangan ekonomi.
Akan tetapi bukan hanya saham Indofood saja yang berpotensi naik. Dengan momen yang sangat baik seperti sekarang ini, apabila anda telah memiliki saham sebelumnya. Maka perhatikan saja, bahwa kenaikan IHSG (perkiraan) saat ini seharusnya memberikan berkah bagi saham yang anda koleksi. Itupun jika anda tidak salah pilih saham.
Langkah IHSG Kedepan Setelah 1500
Pada perdagangan jum’at kemarin IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) kembali melanjutkan tren penguatannya dan ditutup menguat tipis 0.62 poin di level 1.500,361. Penguatan tersebut lebih rendah dari pencapaian IHSG selama sesi perdagangan jum’at yang sempat menyentuh kisaran level 1.509.
Pergerakan IHSG kembali tertekan oleh aksi profit taking dari para pelaku pasar akibat kenaikan pada perdagangan hari sebelumnya. Hal ini membuat IHSG hanya naik tipis, padahal ada banyak sentimen positif seperti penguatan Indeks Bursa Regional, wall street dan penurunan BI Rate. Pada perdagangan minggu kemarin kontribusi bagi kenaikan indeks didorong oleh kenaikan harga saham seperti saham PT. INCO, Indosat, Antam dan Perusahaan Gas Negara.
Dari seluruh saham yang ditransaksikan terdapat 69 saham naik, 82 saham turun dan 60 saham tidak berubah. Pada perdagangan akhir minggu kemarin tercatat volume perdagangan sebanyak 3,247 miliar unit saham, dengan nilai transaksi Rp. 3,411 Triliun dengan frekwensi transaksi sebanyak 86.991 kali.
Naiknya IHSG secara signifikan pada dasarnya secara psikologis membuat indeks bursa rentan akan koreksi. Meskipun dibanjiri oleh sentimen positif seperti penurunan BI rate, hasil rapat Negara yang tergabung dalam G-20, maupun pergerakan indeks bursa regional asia yang sejauh ini masih menunjukan tren kenaikan.
Selain itu, faktor yang sangat berpengaruh bagi terkoreksinya Indeks adalah minimnya data keuangan (makroekonomi global) yang akan dirilis minggu depan. Hal ini akan membuat Indeks akan bergerak terbatas dengan peluang koreksi yang cukup besar. Meski demikian sentimen penurunan suku bunga (BI rate) akan membuat beberapa harga saham naik di minggu depan.
Saham-saham yang sangat dipengaruhi oleh penurunan BI rate yakni saham di sektor perbankan serta saham semen. BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 0.25 basis poin menjadi 7.5% saat ini. Dengan tren penurunan suku bunga tersebut diharapkan perbankan dapat menurunkan suku bunga kredit sehingga akan mengurangi LDR (Loan to Deposit Ratio) perbankan serta kembali meningkatkan permintaan kredit dan memperbaiki kinerja perbankan.
Selain itu, dengan penurunan BI rate diharapkan proyek pembangunan property kembali bergairah. Dengan suku bunga pinjaman yang semakin kecil maka diharapkan pembangunan di sektor property akan membaik dan nantinya akan meningkatkan permintaan akan semen. Hal inilah yang menjadi alasan utama kenapa saham di sektor semen perlu untuk dicermati.
Hal lain yang perlu juga untuk dicermati adalah kenaikan indeks bursa Dow Jones yang kembali menembus level psikologis 8.000. Kondisi indeks bursa Dow Jones dan IHSG sebenarnya tidak jauh berbeda. Karena sama-sama baru menapaki level psikologis yang sama-sama dicapai pada perdagangan akhir minggu kemarin Tapi ada baiknya kita melihat tren kenaikan bursa Amerika tersebut. Kenapa? Meskipun tidak 100% akan membuat IHSG mengikuti tren kenaikan indeks bursa Dow Jones, namun Dow Jones selaku menjadi gerbong lokomotif paling depan bagi acuan pergerakan indeks bursa global.
Kenapa? Karena setidak-tidaknya pergerakan Dow Jones yang ke teritori positif menggambarkan persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi Amerika yang saat ini tengah dilanda krisis. Dan tidak salah apabila kita menjadikan Dow Jones sebagai barometer perbaikan krisis ada di Amerika.
Mengawali perdagangan minggu ini, melihat dari sisi kenaikan IHSG yang cukup signifikan dan rentan koreksi, namun dibanjiri oleh sentimen positif. Maka IHSG sebenarnya memiliki peluang yang lebih besar untuk menguat, meskipun perlu selektif dalam memilih saham mana yang layak untuk di koleksi.
Recovery Ekonomi AS Dan Implikasinya
Indikator ekonomi makro AS menunjukkan menunjukan adanya pergerakan yang lebih aktif dalam pembentukan permintaan agregat. Hal ini sekaligus menimbulkan optimisme yang lebih baik terhadap pulihnya perekonomian AS. Indikasi permintaan agregat dapat dijadikan sebagai salah satu acuan bahwa telah terjadi proses recovery perekonomian AS. Dan pemulihan tersebut lebih cepat dibandingkan dengan Uni Eropa.
Beberapa data perkonomian yang mendukung permintaan agregat antara lain dikarenakan terjadinya peningkatan pada data Personal Spending (tingkat konsumsi individu) sebesar 0.2% dan telah terjadi peningkatan serupa pada periode sebelumnya sebesar 1.0%. Meningkatnya data permintaan agregat AS ini di keluarkan oleh Bureau of Economic Analysis AS.
Peningkatan pada indikator ini merupakan indikasi yang sangat penting dalam sebuah perekonomian yang berada dalam situasi resesi, karena menunjukkan proses pemulihan yang dampak lanjutannya diharapkan dapat membawa perekonomian menuju fase countercyclical yang dapat mengeluarkan ekonomi dari resesi.
Namun, data pendapatan individu justru mengalami penurunan sebesar 0,2%. Kondisi tersebut sesuai dengan apa yang telah diprediksi oleh para ahli ekonomi sebelumnya. Selain itu, tingkat tabungan masyarakat AS pada bulan Februari juga mengalami peningkatan sebesar 4,2%. Telah terjadi perubahan kebiasaan masyarakat AS yang tengah dilanda krisis.
Himbauan pemerintah AS yang menyarankan rakyatnya untuk menggiatkan kembali kegiatan menabung guna memberikan kontribusi dalam upaya memulihkan sektor perbankan yang terpukul akibat krisis sektor finansial ternyata menuai hasil. Padahal sebelumnya masyarakat AS hanya menyisihkan sekitar 2% pendapatannya untuk menabung, sangat rendah dibandingkan dengan kebiasaan masyarakat di uni eropa.
Data-data perkonomian AS lainnya juga masih mencatatkan kenaikan. Diantaranya adalah pengeluaran konsumen untuk barang-barang yang tidak tahan lama (non durable goods) yang naik sebesar 1.8%. Serta diikuti dengan pengeluaran untuk jasa yang juga meningkat sebesar 0.1%. Akan tetapi disisi lain, pengeluaran konsumen untuk durable goods (barang tahan lama) di bulan Februari justru mengalami penurunan sebesar 1,3%.
Terkait dengan data perekomian AS, mata uang US Dolar atau biasa disebut dengan greenback terus mengalami penguatan terhadap mata uang utama dunia lainnya. Bahkan dalam beberapa hari perdagangan minggu kemarin, US Dolar terus melakukan tekanan terhadap mata uang Poundsterling Inggris.
Memburuknya kinerja mata uang Poundsterling juga dipicu oleh pernyataan Gubernur BOE (Bank of England) Marvin King pada hari selasa minggu kemarin. Dimana Marvin King memaparkan data-data perekonomian Inggris memiliki kecenderungan memburuk. Hingga saat ini, data-data makroekonomi yang dirilis masih menunjukkan semakin limbungnya perekonomian Inggris, terutama data inflasi dan indikator daya konsumsi masyarakat yang lebih buruk dari perkiraan sebelumnya. Pada indikator inflasi CPI mencapai 3.2% dari 2.6% yang diperkirakan, CBI Realized Sales yang jatuh menjadi sebesar -44% dan data Retail Sales yang menunjukkan pengurangan penjualan hingga mencapai -1.9%.
Terlepas dari hal itu semua, Mata uang Rupiah justru bertolak belakang dengan Poundsterling. Meskipun diperdagangkan sangat beragam, namun pada perdagangan minggu kemarin mata uang rupiah bergerak menguat terhadap US Dolar. Demikian halnya juga dengan Indeks bursa yang terus mengalami kenaikan.
Pasar terus berharap perekonomian AS adapat pulih dari krisis saat ini. Sehingga akan berdampak positif bagi pemulihan ekonomi di belahan dunia lainnya. Namun, pasar keuangan domestik tidak serta merta akan mengikuti perkembangan serupa. Terkadang pasar keuangan kita bergerak anomali. Tidak akan menjadi jaminan yang kuat memburuknya perekonomian di tingkat regional maupun global akan memberikan dampak serupa bagi pasar keuangan kita secara menyeluruh.
Pemerintah biasanya akan mengkaitkan perubahan positif di pasar keuangan dengan ekspektasi positif terhadap gejala indikasi perubahan ekonomi makro kita. Akan tetapi, disisi lain ada penilaian bahwa Indonesia masih memberikan yield yang tinggi, sehingga masih menjadi tempat pilihan investor untuk berinvestasi. Biasanya dana investor tersebut merupakan uang panas yang sufatnya terkadang akan mengendap sebentar dan bisa pergi serta tidak kembali lagi.
IHSG Dan Rupiah Ke Teritori Positif
Bursa Saham di AS kembali tertekan pada penutupan perdagangan akhir minggu ini, sektor perbankan memberikan tekanan paling besar setelah The Fed - Bank Sentral AS melakukan injeksi dana ke sistem keuangan mereka sehari sebelumnya. Sektor keuangan terus terjatuh ke teritori negatif, dan melanjutkan tren penurunan serta memasuki hari kedua terkoreksinya harga saham di sektor tersebut.
Investor berpendapat, meskipun pemerintah AS mengeluarkan sekitar 2.5% dari $200 milyar melalui program revitalisasi perbankan, TALF -Terms Asset Backed Security Loan, belum mampu menjadi penolong karena justru pernah gagal sebelumnya. Saham yang paling besar terkoreksi di bursa Dow Jones adalah Chevron. Saham tersebut turun sebesar 3.6 percent setelah harga minyak mentah dunia juga terkoreksi.
Sementara itu, perusahaan penerbit kartu kredit AS bernama American Express juga terkoreksi 6.2 percent. Kredit macet di kartu kredit AS merupakan kekhawatiran kedua setelah kredit macet di sektor perumahan AS. Dikhawatirkan akan terjadi potensi kerugian penerbit kartu kredit tersebut, sehingga devidennya kemungkinan juga akan terpangkas.
Indeks Dow Jones jatuh 122.42 points, atau 1.65 percent, ke level 7,278.38. Indeks Standard & Poor's 500 jatuh 15.50 points, atau 1.98 percent, ke level 768.54. Indeks Nasdaq jatuh 26.21 points, atau 1.77 percent, ke level 1,457.27
Ditengah ketidakpastian pergerakan Indeks bursa global, IHSG justru kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan akhir minggu kemarin. Sentimen positif masih dipengaruhi oleh kebijakan Bank sentral AS yang menggelontorkan stimulus sebesar $1 Trilyun serta mempertahankan kebijakan suku bunga rendah.
Sejak hari Rabu minggu kemarin, IHSG terus menunjukan tren penguatan kendati pergerakan pasar saham global bergerak sangat bervariasi. Korelasi penguatan IHSG juga diiringi dengan penguatan nilai tukar Rupiah. Rupiah menutup akhir pekan ini dengan penguatan yang cukup besar. Tren melemahnya dolar AS karena pasokan valas di pasar yang mulai normal menjadi kesempatan rupiah untuk terus bergerak ke teritori positif.
Pada penutupan perdagangan valas jumat kemarin, rupiah menguat 60 poin (0,5%) ke posisi 11.725 per dolar AS. Dalam perdagangan sehari tersebut Rupiah bahkan sempat menguat ke level 11.650 per dolar AS. Dan lagi-lagi Bank Indonesia optimistis rupiah berpotensi bisa menguat lagi karena pasokan pasar saat ini dibanjiri dengan Dolar AS.
Selain nilai tukar Rupiah yang menguat, mata uang regional juga kebanyakan menguat terhadap dolar AS seperti dolar Singapura menguat 0,29%, bath Thailand menguat 0,2%, dolar Taiwan menguat 0,44%. Namun, beberapa mata uang lainnya masih melemah terhadap US Dolar seperti Won Korea yang melemah1,46% dan Yen Jepang yang juga melemah 0,07%
Sejauh ini, pasar masih dibanjiri oleh sentiment positif yang dimulai dengan digelontorkannnya sejumlah uang untuk membantu memperbaiki perekonomian AS oleh Bank Sentral AS. Namun, langkah-langkah tersebut bukanlah jaminan bahwa pasar keuangan akan kembali membaik di tahun ini.
Pemerintah AS boleh-boleh saja melakukan langkah tersebut. Namun, waktu juga yang akan menentukan apakah langkah pemerintah AS tersebut akan menuai keberhasilan atau justru membuat kondisi semakin terpuruk. Ditengah ketidakpastian seperti ini, banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Penguatan Indeks dan Nilai tukar rupiah pada perdagangan minggu kemarin memang perlu diapresiasi. Namun, sentimen yang belum pasti menujukan arah pergerakan kedepan, membuat nilai tukar Rupiah dan Indeks Bursa Saham masih sangat rentan dan mudah untuk kembali terkoreksi.
Data Ekonomi Buruk, Bursa Tertekan
Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS dalam periode kuartal 4 tahun 2008 mengalami penurunan. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa tingkat GDP kuartal terakhir 2008 turun sebesar 6,2%. Level tersebut merupakan level terendah sejak kuartal pertama tahun 1982. Melemahnya pertumbuhan ekonomi sebenarnya telah diprediksi oleh banyak pihak mengingat perekonomian AS pada periode tersebut belum menunjukan pergerakan postif yang cukup signifikan.
Lesunya perekonomian yang dibarengi oleh buruknya data-data ekonomi membuat perekonomian tidak terlepas dari teritori negatif. Data-data ekonomi yang menjadi faktor utama dari penurunan pertumbuhan ekonomi diantaranya ialah pengeluaran konsumen yang turun 4,3% pada periode yang sama, sedangkan data durable goods anjlok sebesar 22,1%.
Pertumbuhan ekonomi AS dalam jangka pendek diperkirakan masih akan bergerak pada level yang negatif. Apalagi sampai dengan semester pertama tahun ini perkembangan ekonomi masih belum menunjukan perubahan yang signifikan meskipun pemerintah telah menrapkan kebijakan stimulus perekonomian hingga mencapai 775 miliar dollar.
Sementara itu, Eurostat yang merupakan lembaga riset terbesar mengumumkan bahwa tingkat inflasi Eropa pada bulan Januari mengalami penurunan. Laporan tersebut diketahui bahwa tingkat inflasi mengalami penurunan sebesar 0,8%. Level tersebut berhasil mencetak rekor penurunan inflasi terbesar sejak tahun 1997.
Tekanan Inflasi yang terus turun akan membuat Bank Sentral Eropa atau BOE untuk kembali menurunkan tingkat suku bunganya di bulan kedepan. Harga minyak mentah dunia yang masih melemah diyakini sebagai pemicu utama rendahnya laju tekanan inflasi.
Namun, nilai tukar mata uang USD mengalami penguatan terutama terhadap Euro dan Poundsterling. Penguatan ini tidak terlepas dari tindakan investor yang kembali melakukan aksi safe heaven sehubungan dengan turunnya bursa saham. Spekulasi yang menyebutkan bahwa Citigroup akan membutuhkan dana dari sektor swasta untuk mengangkat perekonomian menjadi sentimen negatif bagi perdagangan saham.
Saham-saham di lantai bursa AS berjatuhan dimana indeks bursa S&P 500 mencetak kinerja terburuk kedua sejak tahun 1933, paska pemerintah AS mengumumkan akan menambah jumlah kepemilikan saham mereka di Citigroup. langkah pemerintah AS ini dinilai sebagai bentuk Nasionalisasi sektor perbankan dan hal ini mengkhawatirkan para investor.
Harga saham Citigroup jatuh 39 percent setelah pemerintah AS mengumumkan akan menambah modal sebesar $25 milyar dalam kepemilikan saham umum bank tersebut sehinga hal ini akan mendilusi keberadaan pemilik saham saat ini sekitar 74 percent. Indek S&P sektor keuangan jatuh 8.1 percent akhirnya. Ada satu keyakinan bahwa Citibank bukanlah merupakan bank terakhir yang akan diambil alih oleh pemerintah AS. Dengan keyakinan bahwa jika pemerintah AS melakukan penambahan rasio kepemilikan saham antara 30-40 persen saja, sebagaimana yang dilakukan pada Citibank, maka hal tersebut sudah layak dikatakan sebagai langkah nasionalisasi oleh pemerintah AS.
Melemahnya Indeks bursa saham di Amerika telah menyeret indeks bursa regional ikut terkoreksi. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) juga ikut terkoreksi seiring memburuknya perekonomian di AS. Hal tersebut diperkirakan akan terus menjadi bayang-bayang hitam bagi perdagangan di Bursa Efek Indonesia setidaknya sampai ada sentiment positif di pasar.
IHSG Di Bawah Tekanan
Indeks Bursa Dow Jones kembali diperdagangkan melemah pada jum’at kemarin. Saham-saham AS jatuh ke posisi terendah dalam enam tahun terakhir, di tengah rumor nasionalisasi bank yang seketika dibantah presiden AS Barack Obama. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 100,28 poin atau 1,34 persen menjadi 7.365,67 poin setelah sehari sebelumnya merosot tajam.
Kekhawatirkan buruknya sistem perbankan yang dibebani kerugian akibat krisis perumahan AS telah memicu kekacauan global. Para pedagang di lantai bursa AS juga sangat mengkhawatirkan saham-saham finansial, yang diiringi dengan sejumlah statement bahwa bank-bank kemungkian dinasionalisasi dan akan mengalami pengurangan dividen.
Pasar saham di AS bergerak dengan volatilitas yang tinggi seiring dengan kecemasan pasar finansial AS kedepan. Namun, saham-saham sedikit pulih setelah Gedung Putih bergerak menenangkan pasar dengan menyatakan bank-bank masih akan berada di bawah kendali swasta.Pemerintahan Barack Obama sepertinya terus memperkuat kepercayaan bahwa swasta tetap dipertahankan dalam sistem perbankan selanjutnya.
Bursa Asia juga diperkirakan akan tertekan pada perdagangan hari ini setelah wall Street jatuh cukup signifikan paska libur panjang. Kenyataan ini seakan menyambung kembali kepanikan pasar AS yang terhenti setelah bulan November lalu. Bursa AS terkoreksi 5.8 percent, dimana sektor keuangannya paling besar mendapat tekanan.
Pasar sepertinya kecewa dengan Obama yang dalam pidato pelantikannya tidak menunjukkan secara khusus dan detail lebih jauh mengenai bagaimana dia akan menghadapi tantangan ekonomi kedepannya. Dilain sisi, jumlah pengangguran di AS telah menyentuh angka 5 juta orang. Dan hal tersebut tentunya akan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan sektor finansial AS.
Sementara itu, di Indonesia IHSG (indeks Harga Saham Gabungan) juga mencatatkan penurunan dan menembus level psikologis 1.300. Pada penutupan perdagangan juam’at kemarin IHSG sempat terkoreksi hingga ke 1.293 sebelum akhirnya ditutup di level 1.296.
Pelemahan indeks bursa Dow Jones diyakini sebagai pemicu utama tertekannya indeks bursa asia tak terkecuali Indonesia. Kejatuhan indeks bursa tersebut memberikan sinyal akan begitu buramnya wajah perekonomian global terutama perekonomian AS. Namun, Indeks bursa Indonesia (IDX) diperkirakan akan tetap berkonsolidasi dikisaran level 1.300.
Meskipun terdapat tekanan yang luar biasa apabila indeks bursa global terjun bebas. IHSG juga diperkirakan akan mengikuti laju pelemahan indeks bursa global tersebut. Hanya saja penurunan indeks bursa domestik sepertinya tidak akan separah seperti yang terjadi pada indeks Dow Jones.
Mengutip pernyataan Budi Susanto, Head of Research PT. Danareksa Sekuritas, yang mengatakan bahwa “pada saat ini kita benar-benar masuk ke dalam resesi puncak yang diperkirakan mulai akan menunjukan tanda-tanda perbaikan di semester ke-2 tahun ini”. Hal tersebut dengan sangat jelas telah ditunjukan dengan terkoreksinya indeks bursa global.
Meskipun indeks bursa mengalami tekanan hebat, akan tetapi tetap masih memberikan peluang akan harga murah dari saham-saham yang diperdagangkan saat ini. Dibutuhkan momentum yang tepat serta keberanian yang cukup untuk masuk ke pasar saat ini. Belum bisa dipastikan batas bawah Indeks nantinya. Satu hal yang pasti ditengah keruwetan pasar finansial saat ini, masih tetap ada peluang yang bisa kita manfaatkan.
Berinvestasi Di SUKUK Ritel
Pemerintah telah menerbitkan SUKUK ritel atau Surat Berharga Syariah Negara atau lebih dikenal dengan istilah SBSN. Semenjak disahkannya undang-undang sukuk oleh DPR pada 10 April 2008 lalu, pemerintah mulai mempersiapkan penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Ritel perdana atau SR-01 yang sudah ditawarkan di dalam negeri hingga tanggal 20 bulan februari ini.
Ini merupakan salah satu wujud nyata dukungan pemerintah beserta anggota dewan bagi perkembangan perbankan syariah di tanah air. SBSN yang diterbitkan pemerintah saat ini menggunakan akad ijarah. Dimana Kata Al ijarah sendiri berasal dari kata Al ajru yang berarti Al 'Iwadhu (ganti) sedangkan menurut pengertian syara, Al Ijarah adalah suatu jenis akad untuk mengambil manfaat suatu barang dengan jalan penggantian.
Beberapa contoh kontrak ijarah (pemilikan manfaat) seperti (a) Manfaat yang berasal dari aset seperti rumah untuk ditempati, atau mobil untuk dikendarai, (b) Manfaat yang berasal karya seperti hasil karya seorang insinyur bangun¬an, tukang tenun, tukang pewarna, penjahit, dll (c) Manfaat yang berasal dari skill/keahlian individu seperti pekerja kantor, pembantu rumah tangga, dll.
Mengenai sukuk sendiri, dalam buku Handbook of Islamic Banking, 2007. Secara umum sukuk didefinisikan sebagai sertifikat pertisipasi Islami yang dapat diperdagangkan berdasarkan kepemilikan dan pertukaran dari asset yang disepakati bersama. Khusus untuk sukuk ijarah, kontrak yang mendasarinya adalah ijarah yaitu sewa menyewa (leasing).
Sebagaimana ketentuan transaksi bisnis syariah yang membedakannya dengan ketentuan transaksi bisnis konvensional, kegiatan sukuk ijarah tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah seperti : Perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional; Usaha yang memproduksi, mendistribusi, serta memperdagangkan makanan dan minuman haram; Usaha yang memproduksi, mendistribusi, dan atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat (Fatwa No. 20 DSN-MUI/IV/2001).
Dan keuntungan yang akan dibagikan oleh penerbit sukuk ijarah harus bersumber dari hasil usaha/pengelolaan sukuk ijarah itu sendiri. Mengenai penerbitan SUKUK Ritel oleh Departemen Keuangan saat ini, maka pemeritah menjadikan aset-aset di Departemen Keuangan seperti bangunan untuk disewakan kembali. Dan hasil dari sewa menyewa akan dibagikan pada investor SUKUK dalam bentuk imbal hasil tetap atau fixed rate.
Menurut Analisa penulis, suku bunga yang memiliki kecenderungan untuk terus turun seiring dengan melemahnya laju inflasi di tahun 2009. Maka berinvestasi di SUKUK mempunyai kelebihan karena imbal hasil yang diberikan sebesar 12%. Lebih menguntungkan karena lebih baik dari suku bunga Deposito perbankan.
Untuk investor muslim, penerbitan SUKUK merupakan nilai lebih karena selain menggunakan prinsip syariah dan juga sesuai dengan keyakinan. Selain itu, ditengah penurunan tren suku bunga deposito. SUKUK yang nantinya akan diperdagangkan dipasar skunder juga memiliki peluang pada harga per-unitnya untuk naik. Sehingga berpotensi memberikan keuntungan (capital gain), selain imbal hasil sebesar 12%.
Imbal hasil itu sendiri nantinya akan dibayarkan pemerintah setiap bulan, yang Insya Allah setiap tanggal 25. Sangat berbeda dari penerbitan Obligasi pemerintah lainnya, seperti ORI. Karena bunga yang dibayarkan sangat variatif ada yang 3 bulanan, 6 bulanan dan yang lainnya.
SUKUK Ritel atau SBSN ini juga memiliki pemanis sekaligus resiko. Pada saat di perdagangkan di pasar skunder bisa saja harga per-unit SUKUK jatuh atau turun. Namun, jangan khawatir pemerintah telah berjanji untuk membayar pada harga 100% pada saat SUKUK jatuh Tempo (3 tahun). Resiko gagal bayar sepertinya juga tidak perlu dikhawatirkan, karena Pemerintah yang akan membayar, bukan perusahaan BUMN maupun lembaga keuangan bonafid. Sehingga menurut penulis SUKUK masih lebih aman dibandingkan berinvestasi pada produk keuangan dari perusahaan yang memiliki nama besar bahkan perusahaan yang menyandang nama plat merah.
Level Support Indeks
Pada perdagangan akhir minggu kemarin IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) menguat signifikan, dan terkesan mengabaikan pergerakan indeks di Amerika yang melemah. Penguatan indeks dipicu oleh menguatnya sejumlah saham, khususnya saham BUMI (PT. Bumi Resources, Tbk).
Bahkan harga saham BUMI harus ditutup lebih cepat perdagangannya karena telah menembus level 680, dimana secara otomatis harga saham bumi langsung masuk ke batas auto rejection. Penguatan harga saham tersebut seolah-olah memberikan harapan bahwa Indeks saat ini telah bergerak ke teritori positif. Benarkah?
Sejauh ini, Indeks memang bergerak cukup volatile seiring dengan gonjang-ganjing pasar keuangan dunia. Kondisi ini cukup memberikan ketidakpastian bagi pergerakan saham domestik. Namun, ada hal yang cukup memberikan angin segar, sewaktu Indeks mulai bergerak turun dan mendekati level psikologis 1.300 indeks justru berubah arah dan bergerak menguat dengan meyakinkan.
Mungkin ini sebuah pertanda bahwa Indeks kemungkinan akan tertahan laju pelemahannya apabila bergerak turun menunju level (1.300) tersebut. Secara teknikal itu bukanlah suatu kemungkinan saja. Bisa juga dikatakan sebagai fakta. Karena secara psikologis investor bisa saja memandang bahwa tekanan jual sudah menemui level terendahnya, sehingga level tersebut sudah saatnya untuk beli atau it’s time to buy.
Tidak hanya itu saja, penguatan indeks sepertinya juga mengikuti perkembangan kebijakan yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat. Paket stimulus yang sedang diwacanakan sepertinya mampu menjadi angin segar serta memberikan pengharapan akan terjadi perubahan kondisi ekonomi yang lebih baik.
Namun, masih banyak juga pelaku lain yang justru melihat bahwa Indeks saat ini masih dalam tahap konsolidasi. Penguatannya yang secara meyakinkan belum jaminan bahwa Indeks akan terus menguat, karena perubahan secara tak terduga masih besar kemungkinannya akan terjadi. Terlebih apabila melihat kondisi perekonomian global yang masih dalam ketidak pastian
Pendapat seperti itu boleh-boleh saja, namun yang pasti bahwa resiko kemungkinan rugi akibat masuk ke pasar di level saat ini pasti lebih kecil ketika Indeks berada diatas 2.000. Karena kalaupun ada pelemahan indeks kembali tentu pelemahannya sangat terbatas. Kebijakan pemerintah serta otoritas bursa yang memberlakukan system auto rejection juga dinilai efektif dalam mencegah indeks bergerak terlalu liar.
Sehingga tidak perlu dikhawatirkan harga saham akan melorot sangat signifikan dalam satu hari tanpa ada batas pelemahan yang jelas. Karena pada saat ini kondis-kondisi tersebut telah diantisipasi dengan system yang lebih baik seperti auto rejection. Lebih aman, namun terkesan merugikan apabila ada harga saham yang memiliki tren penguatan dalam satu hari perdagangangan.
Selain itu, keraguan untuk masuk kepasar saat ini seharusnya lebih melihat prospek perkembangan ekonomi dalam negeri dan tidak hanya terpaku pada perkembangan ekonomi diluar sana. Terlebih banyak pengamat hingga lembaga keuangan internasional yang menyatakan bahwa Indonesia akan lebih tahan terhadap goncangan krisis yang terjadi pada saat ini.
Kalau menunggu indeks bergerak menguat, maka kapan ya itu akan terjadi!. Jangan-jangan itu hanya merupakan keraguan kita dalam melihat prospek perkembangan pasar kedepan. Dan jangan samapi ketinggalan dan menyadari bahwa kita sebenarnya tidak dapat memanfaatkan peluang pelemahan indeks yang saat ini berada jelas didepan kita.
Dibutuhkan Kebijakan Cepat Atasi Krisis
Pada bulan Aptil mendatang, Negara yang tergabung dalam kelompok akan melakukan hajatan besar berupa pertemuan yang akan membahas masalah krisis global. Diharapkan akan ada semacam kebijakan praktis guna mengatasi dampak buruk dari krisis global yang telah merusak sendi-sendi perekonomian dunia.
Anggota kelompok G-20 itu adalah Argentina, Australia, Brazil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, dan AS serta Uni Eropa. Dan Inggris yang akan menjadi tuan rumah dalam pertemuan tersebut.
Sejauh ini, Negara-negara yang dilanda krisis pada dasarnya telah melakukan kebijakan individu dalam menanggulangi dampak negatif dari krisis global. Namun hasilnya belumlah optimal. Karena setiap Negara yang dilanda krisis sangat terikat dengan Negara lainnya. Terlebih yang dilanda krisis adalah Amerika, Negara dengan konsumsi terbesar dunia dan yang paling besar dalam memberikan kontribusi bagi produk domestik bruto (PDB) dunia.
Amerika Serikat juga belum mampu membuat kebijakan dalam mengatasi krisis. Rencana AS yang akan menggelontorkan sejumlah uang (lebih dari $800 Milyar) untuk stimulus ekonomi dinilai belum optimal. Masih dibutuhkan banyak uang lagi untuk membuat roda perekonomian AS kembali berputar. Seperti yang dikemukakan oleh George Soros maupun pengamat ekonomi dunia lainnya.
Great Depression yang terjadi di tahun 1930 sepertinya kembali terluang pada tahun ini. AS yang mampu keluar dari krisis tersebut diharapkan juga mampu keluar dari krisis yang terjadi pada saat ini. Belum tahu persis apa yang akan dilakukan bersama untuk mengatasi krisis yang terjadi saat ini meskipun ada rencana pertemuan akbar. Yang pasti hal yang mungkin dilakukan oleh setiap masing Negara adalah dengan menyelamatkan perekonomian negerinya sendiri. Sehingga, kebulatan tekad bersama (G-20) sangat bergantung pada sejauh mana kebijakan tersebut efektif bagi masing-masing Negara.
Jadi apabila ada Negara yang menilai bahwa kebijakan bersama dari pertemuan tersebut (G-20) kurang efektif, maka ada kemungkinan Negara tersebut akan mengambil langkah sendiri meskipun sebenarnya telah dicapai kesepakatan bersama. Karena dalam kondisi yang serba sulit seperti sekarang ini tentunya banyak orang/Negara yang lebih memilih kebijakan yang pragmatis.
Terlebih bagi Negara berkembang atau miskin. Banyaknya jumlah penduduk miskin yang sangat rentan terhadap kejutan-kejutan ekonomi yang muncul, akan sangat berpengaruh pada kondisi sosial di masing-masing Negara. Kebijakan yang tidak populis akan kian mempersulit pemerintahan dalam membuat keputusan, dan berpotensi mengancam keberlangsungan ssistem pemerintahan yang telah berjalan.
Indonesia juga sangat rentan terhadap isu perkembangan ekonomi global. Keputusan pemerintah yang menurunkan BBM bukanlah murni sebagai kebijakan dari pemerintah. Namun lebih dikarenakan faktor keberuntungan karena terjadi penurunan harga minyak mentah dunia.
Dalam rangka PEMILU dan diiringi dengan terus kian merosotnya perputaran roda ekonomi, jelas terlihat Indonesia sebenarnya berada dalam kondisi yang serba sulit dan sangat rentan terhadap gejolak yang timbul. Meskipun demikian banyak pengamat yang menyatakan bahwa Indonesia masih akan bias bertahan dalam kondisi yang serba sulit ini.
Nah kira-kira apa yang diharapkan Indonesia dalam pertemuan kelompok G-20 untuk menanggulangi krisis?. Banyak Negara yang tentunya akan berkata sama yakni kita butuh likuiditas lebih untuk memacu perekonomian. Kalau bicara likuiditas ini tentunya akan berujung pada permasalahan hutang.
Kalau Negara kreditur saat ini sedang sakit akibat krisis global, maka IMF menjadi salah satu alternatifnya. Mungkin ga!, mungkin Indonesia tidak akan lagi menggunakan IMF. Kalau menerbitkan Obligasi (surat utang)? Tentunya lebih masuk akal. Tentunya kita akan ngomong ngapain kita ngutang lagi. Dan pemerintah juga tentunya akan meminta masukan ide bagaimana menanggulangi krisis secara cepat dan tidak ngutang. Bisakah kita berharap pada pertuman G-20 nanti!.
Tekanan Inflasi Terus Melunak
Penurunan harga BBM oleh pemerintah per tanggal 15 Januari kemarin membawa berkah bagi kita semua. Dengan penurunan tersebut diharapkan harga bahan kebutuhan pokok juga ikut turun. Selain itu, penurunan tersebut juga memberikan angin segar bagi dunia perbankan khususnya Bank Indonesia, yang diyakini akan menurunkan suku bunga acuan atau BI rate.
Semua kalangan menilai positif langkah pemerintah tersebut, terlebih pelaku bisnis. Dengan penurunan harga BBM diharapkan pemerintah memiliki peluang untuk terus mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, ditengah krisis keuangan global. Penurunan harga BBM merupakan memomentum yang sangat baik untuk menatap hari esok.
Daya beli masyarakat yang turun akibat terpaan krisis global setidaknya masih dapat diminimalisir dengan adanya langkah positif dari pemerintah tersebut. Penurunan BBM juga diharapkan mampu mengurangi beban dunia industri. Dan lebih dari itu, industri-industri baru sudah seharusnya bangkit kembali memanfaatkan momentum saat ini.
Faktor yang paling mendukung penurunan harga BBM adalah penurunan harga minyak dunia yang sangat signifikan. Harga minyak dunia terus mengalami penurunan yang tajam dan berada dikisaran $36/barel saat ini. Harga minyak yang sempat naik setelah Israel menyerang Palestina, dan kembali bergerak turun setelah terjadi penurunan konsumsi minyak seiring krisis keuangan dunia.
Langkah negara anggota OPEC juga tidak membuahkan hasil setelah mereka memotong produksinya untuk mendongkrak harga minyak. Namun, ini bukanlah berita baik juga. Karena penurunan konsumsi masyarakat dunia menggambarkan suramnya perputaran roda ekonomi masyarakat global. Dan dapat mengakibatkan perlambatan ekonomi domestik.
Sulit untuk menggambarkan wajah perekonomian kita kedepan. Meskipun telah ditopang dengan sederatan langkah kebijakan uang longgar. Perputaran roda ekonomi domestik belum menunjukan hasilnya. Dan belum jadi garansi bahwa langkah pemerintah untuk menggelontorkan sejumlah uang untuk menstimulus ekonomi, akan berjalan mulus seperti yang diharapkan.
Ekspor tetap menjadi salah satu andalan negara kita dalam mencetak devisa. Ditengah melemahnya permintaan dari negara lain, tak urung kebijakan yang memaksakan akan konsumsi dalam negeri terus dikumandangkan. Sulit mengilustrasikan, bagaimana masyarakat yang terus melemah adaya belinya akibat krisis global, dipaksa untuk mengkonsumsi lebih banyak lagi dengan uang yang digelontorkan pemerintah, meskipun dengan biaya (bunga) murah.
Dunia perbankan tentunya enggan menyalurkan dana-dana tersebut karena mengandung sejumlah resiko yang akan berakibat pada meningkatnya kredit macet. Pasar tentunya akan melihat prospek ekonomi ke depan dengan menganalisa sejumlah faktor. Dan setidaknya itu dilakukan hingga semester pertama tahun 2009. Hal itu seiring dengan sejumlah pengamatan para analis yang mengindikasikan bahwa perubahan akan terlihat setelah 6 bulan kedepan. Walaupun belum ada yang bisa memastikan perubahan seperti apa yang akan terjadi.
Namun, ada hal yang cukup menggembirakan kita semua, setidaknya hingga 1 sampai 3 tahun kedepan. Hal ini terkait dengan melunaknya laju tekanan inflasi. Hal tersebut sepertinya akan dijadikan momentum dan alasan kuat agar perekonomian kita tetap berputar serta ditopang dengan kebijakan suku bunga rendah. Dan tentunya kondisi tersebut akan memberikan ruang bagi terus berkembangnya dunia usaha dan penciptaan lapangan kerja baru. Semoga.
APBN 2009, Akankah Berubah Lagi?
Pemerintah telah menetapkan asumsi dasar ekonomi makro tahun 2009. Dari sekian banyak data yang dibuat. Beberapa data perekonomian yang menjadi asumsi dasar sangat optimis, meskipun realisasi data pada saat ini sangat jauh dibandingkan dengan asumsi pemerintah dalam APBN 2009. Salah satunya adalah nilai tukar Rupiah yang diasumsikan bergerak di kisaran 9400/$.
Nilai tukar Rupiah yang saat ini berada di level 11.000/$, tentunya belum bisa memberikan harapan apa-apa. Karena nilai tukar Rupiah saat ini masih sangat jauh dibandingkan dengan asumsi dasar ekonomi makro dalam APBN 2009. Namun, kebijakan yang diambil pemerintah tersebut cukup realistis. Setidaknya nilai tukar Rupiah ditopang dengan cadangan devisa yang cukup.
Selain itu, nilai impor Indonesia yang diperkirakan akan terus turun seiring dengan krisis global, akan meningkatkan surplus di neraca perdagangan Indonesia, apabila turut dibarengi dengan kinerja ekspor yang memadai. Belajar dari pengalaman sebelumnya, yakni pada saat Rupiah melemah ke level 12.000/$ paska kenaikan BBM di era pemerintahan SBY (tahun 2005), mampu diredam hingga akhirnya Rupiah kembali sempat menguat ke level 8.700/$.
Namun yang dilakukan pemerintah pada saat itu adalah dengan menaikan suku bunga acuan (BI rate) secara signifikan diatas rata-rata 12%. Keputusan tersebut dinilai mampu menarik dana asing masuk ke Indonesia meskipun banyak yang mensinyalir dana tersebut masih merupakan dana panas. Kondisi sebaliknya justru terjadi pada saat ini. Dimana terus terjadi penurunan suku bunga acuan (BI rate).
Sehingga kalaupun kita melihat indikasi ekonomi makro khususnya Rupiah maka bisa diperkirakan pemerintah masih mengalami sejumlah hambatan untuk merealisasikan targetnya tersebut. Karena kondisi perekonomian AS yang masih memburuk justru membuat nilai tukar US Dolar semakin perkasa terhadap mata uang dunia.
Selain itu, asumsi dasar tentang harga minyak dunia per barel yang masih $80/barel juga sangat jauh dari realisasi harga minyak pada saat ini yang rata-rata sebesar $40/barel. Namun penulis menilai asumsi harga minyak tersebut sangat realistis. Di tahun 2008 saja harga minyak sempat naik tajam di pertengahan bulan juli ($147/barel) dan terjun bebas menjelang akhir tahun 2008 ($40/barel).
Fluktuasi yang tajam tersebut dapat memberikan gambaran jelas bahwa acuan harga minyak sangat rentan dengan perubahan eksternal. Saran dari DPR yang meminta harga minyak diasumsikan di level $60-$70/barel sangat beresiko. Tahun 2009 belum memberikan gambaran jelas arah perubahan harga minyak. Ditengah ketidakpastian tersebut sudah selayaknya pemerintah lebih memilih untuk pilihan yang terburuk yang mungkin terjadi.
Selain itu, harga minyak masih berpotensi untuk kembali naik. Krisis geopolitik di jalur gaza juga sempat membuat harga minyak berfluktuasi dengan kecenderungan terus naik. Dan masih banyak hal lainnya yang mungkin terjadi selama tahun 2009 tentunya. Dari kondisi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan akan menunjukan peforma buruk di tahun 2009, akan berdampak semakin berkurangnya permintaan akan minyak.
Sementara asumsi dasar lainnya menurut penulis masih dalam ukuran yang wajar. Laju inflasi, laju pertumbuhan, SBI 3 bulan serta suku bunga acuan (BI rate) masih cukup rasional. Hanya saja suku bunga sepertinya masih akan dipatok dengan angka yang cukup tinggi. Padahal Amerika Serikat yang selama ini acuan suku bunganya (The FED Fund Rate) menjadi patokan telah turun hingga mendekati 0%.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah masih membutuhkan likuiditas yang lebih dalam mengontrol cash flow untuk mengamankan sektor keuangan. Dan dari pengamatan penulis hampir semua Negara yang tergolong dalam emerging market (Negara berkembang) melakukan langkah yang serupa. Tapi semuanya itu akan terus berubah (indikator ekonomi global). Dan jangan heran apabila APBN juga akan terus mencari keselarasan (berubah) dengan perubahan indikator tersebut. Dan jangan heran kalau nanti ada perubahan APBN lagi.
Tahun 2009, Penuh Tantangan
Di tahun 2009 ini, diperkirakan masih akan tetap terjadi gejolak ekonomi akibat dari serentetan kejadian di tahun 2008 sebelumnya. Misalkan saja dari dalam negeri, akan terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), perubahan asumsi ekonomi makro di dalam APBN, PEMILU, hingga penurunan harga BBM. Dari ranah global, menurunnya laju pertumbuhan ekonomi global, tren suku bunga yang terus turun, perubahan kepemimpinan di AS, program ekonomi pemerintah Barack Obama, hingga ke situasi politik di timur tengah.
Sejauh ini, banyak negara yang mengaku bahwa tahun 2009 merupakan tahun yang tidak mengenakan karena puncak dari resesi akan terjadi di tahun tersebut. Kalau benar demikian maka tahun 2009, Indonesia juga akan menghadapi suatu kondisi yang tidak jauh berbeda dengan negara lain. Tapi banyak yang beranggapan kita masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan negara lainnya.
Benarkah?, coba kita lihat dari sejumlah indikasi yang ada. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyatakan bahwa PHK sebanyak 1 Juta karyawan di tahun 2009 bukanlah sebuah gertakan. PHK lazimnya akan menambah beban bagi negara karena akan menurunkan daya beli. Selain itu, PHK juga akan memberikan dampak sosial yang tidak baik.
Kalau melihat program pemerintah yang akan memberikan stimulus sebesar Rp. 50 triliun di tahun 2009. Dana sisa anggaran APBN tahun 2008 itu belum diketahui secara jelas akan digunakan pada sektor apa. Namun, pemerintah memastikan dana tersebut akan digunakan untuk menggerakan sektor riil. Rencana penggelontoran dana tersebut masih harus dilihat keefektifannya.
Ada satu instrumen yang bisa membantu program pemerintah dalam memberikan rangsangan pertumbuhan, yakni suku bunga. Tren penurunan suku bunga global sudah seharusnya diikuti oleh BI untuk menurunkan BI rate. Karena BI rate dinilai masih cukup tinggi padahal banyak negara lain yang sudah menurunkan suku bunga secara drastis bahkan penurunannya dinilai tidak lazim.
Selain itu, rencana penurunan harga BBM juga harus cepat direalisasikan. Mengingat harga minyak dunia yang sudah turun tajam. Penurunan harga BBM dan BI rate cukup ampuh dalam merangsang pertumbuhan sehingga diharapkan mampu mengurangi dampak negatif yang diakibatkan oleh PHK massal. Dan langkah tersebut juga lebih efektif dari hanya sekedar program stimulus dengan menggelontorkan sejumlah uang seperti yang pernah dilakukan negeri paman sam.
Namun, perubahan dasar ekonomi makro seperti acuan harga minyak yang harus di waspadai terlebih dahulu. Karena gejolak politik di timur tengah berpotensi membawa harga minyak naik lagi. Sehingga penurunan BBM di dalam negeri nantinya akan terganggu dan menambah beban pada APBN.
Kalau melihat sejumlah indikasi eksternal (global). Maka, kita tidak pungkiri bahwa efektifitas pemerintah Barack Obama nantinya yang akan menjadi acuan kita dalam memprediksi ekonomi di tahun 2009. Kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh Obama akan sangat berpengaruh pada indikasi perubahan ekonomi dunia.
Medan Bisnis, 5 Januari 2009
Meskipun sejauh ini Obama mampu membuat pasar merespon positif. Namun, fakta yang akan terjadi setelah Barack Obama menempati gedung putih (20 Januari), akan lebih banyak berbicara dari hanya sekedar janji manis Obama selama masa kampanye.
Pasar menilai Obama yang berasal dari Partai Demokrat lebih memiliki visi untuk menstabilkan ekonomi dari hanya sekedar menghabiskan uang untuk perang. Kepemimpinan Bill Clinton dahulu yang juga dari partai demokrat dinilai lebih baik karena mampu menstabilkan ekonomi, dibandingkan dengan kepemimpinan George W. Bush pada saat ini.
Dari gambaran tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa meskipun puncak resesi akan terjadi di tahun 2009 nanti. Namun, resiko-resiko terburuk yang akan terjadi terus semakin berkurang. Hal ini terlihat dari sejumlah langkah yang diambil pemerintah SBY. Selain itu, kita juga pernah mengalami dan seharusnya sudah belajar dari pengalaman krisis tahun 1997-1998. Mengawali tahun 2009 ini bukan suatu hal yang berlebihan kalau kita tetap optimis. Selamat tahun baru 2009.
Penurunan BBM, Disengaja atau Memang Saatnya Turun?
Sebelumnya penulis mengucapkan selamat karena harga BBM kemnbali diturunkan dari sebelumnya Rp.6000 (premium) sudah menjadi Rp.5000 saat ini. Ada penurunan sekitar 16% sejak BBM dinaikan bulan Mei lalu. Penurunan juga terjadi pada BBM jenis solar. Muncul banyak argumen yang bertentangan dengan penurunan BBM tersebut.
Bagi yang menjadi lawan politik SBY dan partainya, tentu akan menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan lawan politiknya. Dengan mengatakan bahwa penurunan BBM disengaja karena menjelang Pemilu. Karena penurunan BBM akan menjadi senjata ampuh untuk mengalahkan lawan politik SBY dan meningkatkan pamor SBY. Sehingga penurunan BBM sepertinya syarat dengan muatan politik.
Benarkah demikian?, Siapa yang tahu. Namun, kita bisa melihat fakta-fakta sebenarnya yang terjadi di lapangan. Pada saat harga BBM Rp.6000/liter, harga minyak mentah dunia sempat berada di level $147/barel. Dengan alasan bahwa defisit APBN kian membengkak, maka harga BBM pun dinaikan. Waktu terus berjalan, krisis yang diawali di Amerika memberikan berkah tersendiri bagi penurunan harga minyak dunia.
Negara konsumsi minyak terbesar ini terus mengurangi konsumsinya yang juga membuat negara lain seperti China juga melakukan hal yang sama. Alhasil, minyak mentah dunia terjun bebas. Harga minyak mentah dunia kehilangan lebih dari $100/barel, karena saat ini harganya tinggal di kisaran level $40/barel. Indonesia yang bukan lagi negara pengekspor minyak dan keluar dari keanggotaan OPEC (Organization of Petrolium Exporting Countries), tentunya sangat diuntungkan dengan penurunan harga minyak mentah dunia tersebut.
Dari sisi anggaran, DPR juga menyetujui apabila BBM diturunkan kembali ke harga Rp.4500 (premium) dan Rp.4300 (solar). Dengan asumsi bahwa nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar mampu dipertahankan maksimal di harga Rp.11.000/$ sedangkan harga minyak tetap bertahan di level $40/barel. Berdasarkan hitung-hitungan, beban subsidi minyak di APBN hanya sebesar Rp. 5 triliun untuk harga BBM Rp.5000.
Nah, kalau diturunkan kembali menjadi Rp.4500 tentunya beban subsidi BBM di APBN meningkat sebesar Rp. 26 Triliun. Beban subsidi tersebut masih jauh lebih kecil dari yang dianggarkan pemerintah yang mencapai Rp. 57 Triliun untuk APBN tahun 2009. Sehingga, pemerintah juga tidak perlu repot-repot lagi memikirkan bagaimana menambal defisit APBN yang diperkirakan membengkak sebesar 2%.
Pemerintah menyatakan pada bulan januari mendatang, harga BBM bisa kembali turun. Bagaimana menyikapinya?. Ada beberapa hal yang menjadi hambatan untuk menurunkan harga BBM kembali ke level sebelum dinaikkan. Pertama, OPEC yang akan mengurangi produksi minyaknya secara signifikan akan memberikan dorongan terhadap harga minyak untuk naik kembali. Karena, akan terjadi penurunan dari sisi supply nya.
Kedua, Indonesia akan melakukan hajatan besar yakni pemilihan umum yang akan menelan biaya Rp. 9 triliun. Ketiga, program bantuan langsung tunai yang menghabiskan anggaran lebih dari Rp. 6 trilliun. Kondisi ini akan sangat membebani APBN tahun 2009. Sehingga keinginan pemerintah untuk kembali menurunkan harga BBM sangat bergantung pada fluktuasi harga minyak dunia serta nilai tukar Rupiah. Dimana tentunya diharapkan untuk terus menunjukan tren penurunan (minyak dunia) dan tren penguatan untuk nilai tukar Rupiah.
Nah kembali ke tema awal. Apakah benar penurunan BBM ini merupakan faktor kesengajaan?. Tentunya ya, karena pemerintah tentunya dengan secara sadar mengeluarkan kebijakan penurunan BBM. Dan memang saatnya sudah untuk turun mengingat kondisi harga minyak global yang terus mengalami penurunan.
Apabila dikaitkan dengan pemilu. Mungkin ini bagaikan durian runtuh yang kebetulan saja SBY yang mendapatkannya. Sehingga benar-benar dimanfaatkan baik untuk dirinya sendiri dan orang yang berada disekitarnya (Indonesia). Nah kalau nanti pemerintah dinilai berhasil dalam menjalankan roda perekonomian, tentunya bergantung dari sudut pandang setiap orang.
Akan tetapi, apabila dilihat dari penurunan harga minyak, tentunya akan banyak yang mengatakan ya!. Nah kalau nanti partainya SBY mengumpulkan suara banyak, mungkin ya, dan mungkin juga SBY kembali terpilih pada pemilihan mendatang. Karena masyarakat pemilih saat ini sudah semakin pintar. Momen seperti ini akan menjadi penilaian tersendiri, meskipun belum ada yang tahu, apakah harga BBM akan naik kembali.
Tetap Optimis Di Harga Saham Murah
Indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) masih stabil dan berkutat di angka –an. Kondisi tersebut berlangsung sudah cukup lama serta diyakini sebagai level terendah oleh sejumlah pelaku pasar. Selain itu, level tersebut juga merupakan momen yang tepat untuk kembali membeli saham, karena diyakini indeks akan kembali menguat (rebound) setelah sebelumnya sempat tertekan akibat aksi jual secara besar-besaran seiring dengan krisis global yang terjadi.
Banyak pelaku pasar yang terjebak membeli di harga yang lebih tinggi dari harga saat ini. Kondisi tersebut, selain meninggalkan trauma yang cukup dalam juga membuat pelaku pasar enggan untuk masuk ke bursa. Padahal lantai bursa masih menjanjikan sebagai wahana untuk berinvestasi.
Selain itu, pelaku pasar yang tidak mau rugi tentunya akan menunggu hingga harga kembali naik dan melebihi harga beli sebelumnya untuk mendapatkan keuntungan atau capital gain. Kerap muncul pertanyaan, Kapan itu akan terjadi?. Bagi yang mengetahuinya mungkian akan dijadikan kesempatan untuk membuat dirinya kaya raya.
Meskipun belum ada yang bisa memprediksikan, pada dasarnya bukan hal yang tidak mungkin untuk memperkirakan pergerakan indeks maupun harga saham kedepan. Dengan melakukan analisa fundamental maupun teknikal, maka kita masih bias memperkirakan harga saham ke depan.
Secara fundamental, faktor pegerakan saham di Amerika masih menjadi acuan dan motor penggerak harga saham domestik. Apabila kita melihat fundamental ekonomi dalam negeri tentunya masih memberikan indicator yang cukup baik. Sehingga banyak yang menilai bahwa harga saham yang terlalu murah pada saat ini tidak mencerminkan fundamental emiten maupun ekonomi secara keseluruhan.
Untuk harga saham sendiri, apabila dilihat dari nilai buku (book value), Price Earning Ratio (PER) maupun Earning Per Share (EPS), mengindikasikan bahwa hampir semua saham layak dibeli. Namun, sejauh ini belum terlihat investor melakukan aksi beli secara signifikan di level yang rendah seperti sekarang ini.
Karena masih banyak yang berkeyakinan bahwa Indeks belum menyentuh level terendahnya. Meskipun tidak ada yang tahu dimana level terendah harga saham maupun indeks sebenarnya. Karena semuanya masih bersift asumsi maupun ekspektasi. Nah sikap yang sangat berhati-hati berpotensi membuat investor kehilangan kesempatan untuk meraup keuntungan karena sudah tertinggal.
Untuk para pelaku pasar atau investor harus terus mendapatkan informasi secara berkesinambungan yang terkait dengan lantai bursa sebelum mengambil suatu keputusan. Kalau Indeks Bursa Amerika (Dow Jones) menjadi acuan, maka sudah seharusnya kita mendapatkan informasi seputar pasar di Amerika.
Selanjutnya kita juga harus melihat kondisi yang lebih kecil seperti kondisi emiten yang menerbitkan saham. Kebijakan yang terkait dengan perusahaan perlu dicermati karena disinilah sebenarnya fundamental dari harga saham itu nantinya. Yang memang juga tak luput dari kondisi fundamental ekonomi negeri kita. Untuk informasi tersebut biasanya akan disediakan di media-media informasi maupun tempat dimana investor melakukan transaksi saham (broker).
Mampu mengenali resiko serta mengetahui bagaimana transaksinya itulah modal utama untuk berinvestasi di bursa efek. Momentum harga saham murah seperti sekarang ini harus mampu dimanfaatkan karena memberikan harapan yang cukup baik dalam jangka waktu yang fleksibel (pendek, menengah atau panjang).
Saatnya Masuk Ke Bursa
Harga-harga saham yang diperdagangkan di bursa efek Indonesia saat ini berada pada posisi layak beli setelah sebelumnya turun drastis (oversold) akibat krisis global. Fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup baik memberikan harapan akan membaiknya harga saham emiten domestik.
Namun menurut pantauan yang dilakukan di pasar, investor domestik memiliki kecenderungan untuk mengikuti langkah yang dilakukan oleh investor asing. Sehingga momentum dalam mengambil kebijakan selalu tertinggal sehingga terkadang merugikan investor dalam negeri. Ketidakpercayaan investor domestik perlu ditumbuhkan dengan cara sosialisasi yang tepat serta transparansi dari pemerintah.
Secara teknikal, harga saham berbasis sumber daya alam lebih menjanjikan pada saat ini, meskipun tetap berpotensi terkoreksi. Meski demikian, investor seharusnya tidak perlu takut, khususnya bagi investor yang menanamkan investasinya dalam jangka panjang. Banyak analis yang memperkirakan harga saham akan kembali normal 2 atau 3 tahun lagi, dan akan sangat menguntungkan apabila kita mampu memanfaatkan momentum seperti saat ini.
Bahkan beberapa pelaku asing yang terkenal dengan sebutan sebagai spekulan besar kembali masuk dengan memborong sejumlah saham berbasis pertambangan, yang saat ini harganya sudah lebih murah 8 kali dari harga tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya. Aksi dari spekulan asing tersebut tentunya memiliki ekspektasi yang kuat kedepan terhadap saham emiten yang diincar.
Krisis global memang sangat dirasakan dampaknya pada perdagangan saham dalam negeri. Kejatuhan indeks bursa di Amerika menyeret sejumlah indeks bursa di dunia ke dalam teritori negatif. Namun, dengan kesabaran serta ketelitian dan analisa yang kuat tentunya momen-momen seperti sekarang ini tetap bisa di manfaatkan untuk meraup keuntungan.
Fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai lebih baik dari Negara lain seiring dengan krisis global saat ini, tentunya memberikan harapan yang lebih baik pada transaksi saham. Kekhawatiran akan imbas yang lebih buruk dari krisis global harus disikapi dengan cara yang lebih bijaksana dengan meilhat sisi positif dari fundamental perekonomian kita saat ini.
Pergerakan harga saham memang tidak luput dari pengaruh banyak hal terutama ekspektasi. Isu maupun rumor yang berkembang di pasar lebih dominan mempengaruhi pelaku pasar dalam membuat keputusan, ketimbang kondisi fundamental emiten. Sehingga tidak jarang keputusan yang diambil justru merugikan pelaku pasar itu sendiri dan juga si emiten.
Akan tetapi itu semua kembali ke sifat dasar pelaku pasar yang terlibat. Spekulan pada umumnya akan lebih berorientasi pada pencapaian keuntungan yang tinggi, dengan tidak begitu peduli pada dampak buruk dari tindakan yang diambil. Karena spekulan lebih identik dengan pelaku pasar yang memutar uang panas dalam jangka pendek.
Spekulan dengan dana yang signifikan tentunya mampu membuat opini pasar sehingga mampu membuat para pelaku pasar panik. Kepanikan umumnya akan berdampak pada keputusan untuk melakukan langkah serupa dan terkadang mengabaikan kondisi riil yang terlihat nyata.
Monkey Did, Monkey Do, begitulah pasar menyebut mereka yang hanya suka ikut-ikutan. Oleh karena itu, perlu kiranya para pelaku pasar lebih banyak mengumpulkan informasi yang berimbang. Bila perlu pelaku pasar berkonsultasi pada manejer investasi untuk menggali informasi sebelum melakukan keputusan.
Mentolerir Krisis Global
Asosiasi Penguasaha Indonesia (APINDO) telah menyatakan kesulitannya dalam menjalankan roda usaha, serta kesulitan mencari solusi yang lain untuk menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masal. Alasan krisis finansial di Amerika telah dirasakan di Indonesia memberikan pukulan sangat kuat dan menyakitkan bagi para pelaku dunia usaha.
Sejumlah data yang dilansir di beberapa media menyebutkan bahwa telah terjadi PHK secara besar-besaran di Amerika. Dan sepertinya akan merembet ke hampir semua Negara termasuk Indonesia. PHK di Indonesia telah terjadi di sejumlah perusahaan garment dengan lebih dari 1.200 orang di PHK. Tidak menutup kemungkinan perusahaan lainnya akan mengikuti langkah serupa. Terutama bagi perusahaan yang menjadikan Amerika sebagai mitra dagang utama.
Gejala membaiknya perekonomian global sepertinya belum akan terlihat dalam waktu dekat ini. Langkah awal yang dilakukan pemerintah AS dengan program bailout-nya tidak cukup efektif dalam meredam gejolak finansial yang kian terpuruk. Hanya berimbas positif terhadap penguatan mata uang US Dolar.
Dalam fluktuasi jangka pendek/sesaat sesekali terlihat sentimen baik di pasar dan terkadang menjadi asumsi akan adanya proses pemulihan ekonomi. Namun, sentiment sesaat tersebut sepertinya hanya berupa asumsi yang sering dijadikan alasan bagi para pelaku pasar dalam meraih keuntungan, atau biasa disebut dengan spekulan. Sehingga terkadang terjadi keganjalan atau anomali yang terjadi pasar finansial.
Langkah-langkah yang dilakukan mulai dari penggalangan dana bersama (bailout) hingga penurunan suku bunga secara dramatis belum juga memberikan hasil yang baik dalam proses pemulihan ekonomi serta mencegah PHK secara besar-besaran. Tingkat konsumsi yang kian menurun akibat penurunan daya beli kembali kian menjadi-jadi karena harus ditambah dengan jumlah pengangguran yang meningkat cukup drastis.
PHK yang terjadi di Indonesia yang dimulai di tahun 2008 ini, juga diperkirakan masih akan berlanjut hingga ke pertengahan tahun 2009 mendatang. SKB 4 menteri yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha untuk menentukan upah minimal buruh ternyata di respon negatif oleh para buruh. Padahal pemerintah mempunyai niat baik terhadap kaum buruh.
Setidaknya ada pencegahan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masal dengan keputusan tersebut. Selain itu, dengan diminimalisirnya PHK maka akan menahan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi yang diakibatkan oleh membengkaknya jumlah pengangguran. Dalam hal ini pemerintah meminta agar para kaum buruh mau mengerti akan keputusan yang dibuat.
Mentolerir keputusan pemerintah ini sama dengan mentolerir krisis global yang dirasakan langsung pada dunia usaha. Perlambatan aktifitas ekonomi yang sudah mulai terasa ini sepertinya akan berlanjut hingga di tahun 2009 mendatang. Belum ada yang tahu bagaimana cara mengatasi krisis yang memberikan tekanan kuat di sektor keuangan dan telah mewabah ke sektor lain.
Sejauh ini banyak Negara yang bersikap lebih reaktif, yakni dengan melakukan sejumlah kebijakan yang terfokus pada bagaimana mengurangi dampak-dampak negatif yang diakibatkan oleh krisis. Belum pada usaha bagaimana mengatasi krisis. Dalam kondisi yang serba sulit seperti yang terjadi sekarang ini, sebenarnya ada hal yang bisa dilakukan untuk menggairahkan perekonomian domestik.
Yakni dengan melakukan diversifikasi ekspor ke Negara tujuan. Kalau dahulu Amerika menyerap ¼ dari total ekspor dunia. Maka dengan krisis yang terjadi sekarang ini, Amerika mulai kehilangan ke adidayaannya. Kalau menggairahkan perekonomian domestik dengan menstimulus konsumsi dalam negeri, hal tersebut justru akan memberikan resiko yang lebih besar, karena saat ini kita justru kea rah sebaliknya.
Rupiah Tergonjang-Ganjing
Nilai tukar Rupiah diperdagangkan jatuh dikisaran level 10.500/$, jauh lebih buruk dibandingkan dengan perdagangan di awal tahun 2008 ini. Krisis global yang diawali di AS telah memporak-porandakan perekonomian Indonesia dengan terlihat dari menurunnya nilai tukar Rupiah serta kembali terkurasnya cadangan devisa.
Aksi intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) memang cukup dirasakan di pasar. Dimana aksi tersebut cukup menahan nilai tukar Rupiah tidak berfluktuasi cukup tajam, dan relatif stabil dikisaran 10.500/$. Secara keseluruhan, kebijakan pemerintah dalam menanggapi krisis memang terlihat hasilnya, namun dikhawatirkan kemampuaan pemerintah dalam menghadapi tekanan hebat seperti sekarang ini tidak berlangsung cukup lama.
Sejauh ini, dibandingkan dengan mata uang lain se-kawasan (Asia) Rupiah relatif stabil. Namun, kerapuhan perekonomian Indonesia semakin terlihat seiring dengan memburuknya kondisi perekonomian global. Nilai tukar yang melemah, cadangan devisa yang menurun, Indeks bursa yang tertekan, Suku bunga yang tinggi serta melemahnya laju pertumbuhan.
Dengan kondisi yang tidak menentu tersebut, muncul gagasan agar supaya dilakukan pengontrolan devisa. Padahal menurut hemat penulis, langkah tersebut dapat dilakukan dengan jumlah cadangan devisa yang cukup signifikan. Karena pengontrolan devisa salah satunya dengan melakukan batasan terhadap laju pergerakan nilai tukar Rupiah.
Mungkinkah pengontrolan devisa tersebut dilakukan pada saat seperti ini?, sangat sulit tentunya. Selain itu, kontrol devisa juga harus memperhitungkan dimana level aman atau biasa disebut dengan range pergerakan mata uang. Dan hal ini harus mengkaitkan banyak pihak termasuk pengusaha,
Dalam waktu dekat, Rupiah sepertinya sulit untuk kembali menguat. Beberapa alasan yang patut dicermati adalah, tren penguatan mata uang US$ seiring dengan kebijakan penurunan suku bunga di Eropa. Terpilihnya Presiden Barack Obama juga memberikan sentimen baru dipasar dan menjadi pemicu menguatnya mata uang US$.
Yang paling sangat menonjol adalah penguatan US$ ditengah memburuknya data tenaga kerja AS, dimana indeks pengangguran berada di level 6.5%, dan AS harus kehilangan sekitar 240.000 lapangan kerja. Kondisi perekonomian AS jelas memang sangat buruk, stimulus yang diberikan pemerintah AS juga belum mampu menyelamatkan perekonomian AS.
Seiring dengan memburuknya perekonomian AS, jelas akan memberikan tekanan hebat bagi pemerintah Indonesia. Bahkan, kemungkinan yang lebih buruk masih saja terus membayangi dan terjadi. Kalau bicara mengenai ketergantungan dengan pihak asing, Indonesia tentunya sulit untuk melepaskan ketergantungannya dalam sekejap. Dibutuhkan waktu untuk merealisasikannya.
Semua orang tentunya menyadari perlunya membangun perekonomian secara mandiri. Namun, tidak ada satu Negara pun di dunia ini yang tidak membutuhkan peran Negara luar dalam menjalankan perekonomiannya. Mandiri mungkin bisa dikatakan berbasis pada pengelolaan perekonomian yang terfokus pada pemanfaatan ekonomi domestik.
Dengan kondisi yang terpuruk seperti ini, tentunya sangat sulit untuk memikirkan hal itu semua. Yang paling rasional dilakukan adalah mengatasi masalah yang paling diprioritaskan agar dapat terhindar dari akibat yang lebih buruk lagi dimasa yang akan datang yang tidak diinginkan.
Kembali ke ekonomi sesuai dengan UUD 1945, jelas ekonomi yang lebih bersifat kerakyatan. Tidak salah memang, namun untuk merealisasikannya butuh waktu yang mungkin tidak singkat. Banyak proses yang perlu dilalui, serta metode yang bagai mana yang sesuai dengan kultur bangsa ini.
Dan yang pasti perekonomian yang dikembangkan pemerintah saat ini juga berorientasi kepada ekonomi kerakyatan. Meskipun portofolio lantai bursa banyak dipenuhi orang asing, rupiah diperdagangkan cukup bebas, yang pasti kenapa hanya sedikit orang Indonesia yang mau menempatkan dananya di lantai bursa (bandingkan dengan kepemilikan asing yang lebih dari 50%), disaat Rupiah terpuruk apakah orang Indonesia masih mencintai Rupiah?. Bukankah orang Indonesia atau Rakyat juga yang bisa menyelamatkan Indonesia dari krisis!.
Menurunkan Bunga Hadapi Krisis
Bank Sentral Amerika diperkirakan akan kembali memangkas suku bunganya sebesar 50 basis poin atau mungkin lebih. Perkiraan tersebut dilandasai oleh semakin terfokusnya pemerintah AS untuk kembali meningkatkan daya beli masyarakat di negeri paman sam tersebut, serta untuk menggenjot pertumbuhan perekonomian masyarakat AS yang pada saat ini lagi lesu
Langkah-langkah antisipatif seperti menggelontorkan dana dalam jumlah besar ternyata tidaklah cukup untuk mengatasi krisis finansial yang melanda masyarakat AS. Jumlah uang yang besar untuk menyelamatkan AS dari krisis finansial ternyata kurang berhasil. Meskipun demikian, dana talangan (bailout) dinilai mampu menahan dampak negatif yang lebih besar yang mungkin saja bisa terjadi.
Selain itu, Rencana penurunan suku bunga The FED tersebut mampu mendongkrak harga saham. Membuat perdagangan saham di wall street kembali bergairah setelah sebelumnya sempat porak poranda diakibatkan oleh pengalihan investasi dari saham ke bentuk investasi lainnya seperti tabungan.
Padahal masyarakat di AS sebelumnya sempat mengkhawatirkan dananya yang diinvestasikan di saham terkait dengan bangkrutnya beberapa korporasi besar di AS. Namun, sentimen baru dipasar seperti penurunan bunga akan menjadi pemicu sementara untuk mengembalikan kepercayaan para investor dan para pelaku pasar lainnya.
Bukan hanya menjadi sentimen positif untuk bursa saham, rencana penurunan suku bunga juga telah kembali mengangkat harga minyak lebih dari $1, dan mendekati level psikologis $65/barel. Kenaikan tersebut setidaknya mampu mengangkat harga komoditas lainnya, sehingga masih menyisahkan harapan akan kembali membaiknya harga komoditas lokal yang saat ini harganya sangat memprihatinkan sekali dan cenderung sangat merugikan para petani.
Selain di AS, pemerintah jepang juga memotong besaran suku bunganya guna menyelamatkan perekonomian yang sedang tidak baik. Rapat yang digelar oleh BOJ (Bank Of Japan) yang merupakan Bank Sentral Jepang menyepakati usulan penurunan suku bunga. Keputusan itu seiring dengan membaiknya nilai tukar Yen Jepang terhadap rivalnya, yang saat ini Yen diuntungkan dengan adanya Risk Aversion.
Pemerintah India diluar ekspektasi juga kembali menurunkan besaran suku bunganya dari 8% menjadi 7.5%. Pemerintah India melalui Gubernur Bank Sentralnya Duvvuri Subbarao memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah benar-benar fokus untuk membenahi pertumbuhan ekonomi India. Dan berharap dengan melemahnya nilai mata uang rupee setidaknya mampu mengurangi ketergantungan akan barang impor dan mengurangi laju tekanan inflasi.
Bank Indonesia belum bisa dipastikan apakah akan melakukan langkah serupa seperti AS, Jepang dan India. Penurunan suku bunga memang menjadi prioritas tatkala telah terjadi pertumbuhan yang rendah atau bahkan negatif. Namun, setiap negara mempunyai permasalahan ekonominya sendiri, sehingga mengadopsi kebijakan yang dibuat negara lain belum tentu efektif dilakukan di negara sendiri.
Apalagi saat ini nilai tukar Rupiah benar-benar tertekan dan telah menembus level psikologis Rp.10.000/$. Sikap reaktif dengan menurunkan suku bunga berpotensi membuat Rupiah tertekan lebih dalam lagi. Dan akan memberikan dampak negatif bagi perusahaan yang memiliki hutang dalam US Dolar serta berpotensi membuat laju tekanan inflasi meningkat.
Belum ada hitung-hitungan yang akurat mana yang lebih menguntungkan apakah dengan membiarkan mata uang Rupiah terdevaluasi, atau menurunkan suku bunga guna terus bertahan agar tetap terjadi pertumbuhan. Sulit untuk menetapkan mana yang terlebih dahulu diselamatkan, namun menyelamatkan yang lebih prioritas akan lebih baik dari pada bersikap serakah untuk menyelamatkan keduanya.
Dan jangan mencoba untuk bersikap spekulatif, namun kebijakan apapun yang akan diambil akan memberikan sisi negatif yang suatu saat akan di bicarakan dipermukaan dan menimbulkan resistensi kepada pemerintah.
Harga Komoditas Yang Mengkhawatirkan
Beberapa harga komoditas seperti sawit, karet, biji timah turun drastis dan memukul banyak pelaku usaha dalam negeri khususnya bagi mereka yang menjadikan komoditas tersebut sebagai tumpuan usaha. Komoditas tersebut merupakan komoditas ekspor dimana harganya sangat dipengaruhi oleh perubahan harga pasar, yang saat ini tengah dilanda krisis.
Penurunan harga komoditas tersebut dipicu oleh semakin memburuknya pertumbuhan perekonomian di Negara besar yang sedang dilanda krisis. Telah terjadi pola konsumsi yang menurun, yang mengakibatkan pasar dibanjiri oleh komoditas sementara disisi permintaannya menunjukan penurunan yang signifikan. Hal inilah yang dijadikan alasan kenapa harga komoditas tersebut terjun bebas.
Penurunan tersebut membuat sejumlah pengusaha di sektor pertanian dan pertambangan mulai merugi. Dan berpotensi menurunkan omzet yang berbuntut turunnya pendapatan. Sehingga wajar apabila sejumlah pengusaha meminta bantuan pemerintah untuk menyelamatkan industrinya. Mulai dari keringanan/penghapusan pajak hingga bentuk perlindungan lain seperti subsidi untuk para petani (sawit dan karet).
Yang paling sangat dirugikan saat ini adalah para petani sawit dan karet. Dimana, harga jual petani yang relatif murah tidak dibarengi dengan penurunan harga pupuk dan biaya operasional perawatan lahan. Sehingga kerap muncul ancaman dari para petani yang akan mentelantarkan lahannya apabila omzet yang didapat tidak dapat menutupi biaya hidup sehari-hari dan operasional. Padahal, komoditas sawit dan karet merupakan komoditas ekspor unggulan permintah Indonesia selain minyak dan gas.
Muncul beberapa kekhawatiran apabila terjadi penurunan harga yang signifikan secara terus menerus dan melebihi ambang batas. Kekhawatiran tersebut antara lain peralihan lahan, pengangguran meningkat, ketidak percayaan akan usaha serupa dimasa yang akan datang karena rentan terhadap guncangan krisis serta hilangnya keadidayaan Indonesia sebagai Negara besar pengekspor sawit (CPO) dan karet.
Kalau mengacu pada statement wakil presiden yusuf kalla yang menyatakan bahwa tidak mungkin tidak ada yang butuh sawit dan karet, itu mengindikasikan bahwa para petani harus lebih sabar hingga kondisi krisis ini pulih. Logikanya memang cukup sederhana, karena sawit dan karet dapat dijadikan barang yang sangat dibutuhkan orang dimanapun, bahkan mencakup kebutuhan pokok manusia seperti minyak goreng.
Namun, kebutuhan makan dan kecukupan kebutuhan sehari-hari bukanlah hal yang dapat ditunda, apalagi tidak makan sambil menunggu krisis ini selesai, itu kan tidak mungkin. Sehingga petani juga tidak akan menunggu sampai selesai, tapi apa yang bisa dilakukan saat ini untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ini juga merupakan ujian bagi pemerintah yang sejauh ini masih direpotkan dengan krisis global.
Meski demikian ada sisi positif yang mungkin akan terjadi apabila peralihan lahan itu benar-benar terjadi. Yakni, peralihan ke sektor pertanian seperti palawija. Sehingga banyak orang yang akan kembali lagi menanam padi. Namun, sangat tidak bijaksana apabila petani “dipaksa” untuk beralih ke sektor tersebut. Terkesan sangat memanfaatkan situasi atau aji mumpung.
Harga yang terus turun tidak hanya terjadi pada komoditas tersebut. Harga minyak dunia juga terjun bebas hingga mendekati level $60/barel. Turun lebih dari 60% dari posisi tertinggi $147/barel. Hal tersebut juga menuntut pemerintah untuk kembali menurunkan harga BBM. Yang sejauh ini menurut kementerian ESDM (Energi dan Sumberdaya Mineral) sedang digodok.
Disaat seperti ini, saatnya pemerintah fokus pada permasalahan di level grassroot khususnya petani. Penurunan harga BBM meskipun akan berakibat pada penurunan pendapatan Negara atau APBN, setidaknya akan mengurangi biaya operasional bagi para pengusaha dan petani. Selain itu, secara politis penurunan BBM juga akan menambah kepercayaan terhadap pemerintahan SBY dan akan mendongkrak popularitasnya seiring dengan PEMILU yang akan diselenggarakan tahun 2009 mendatang.
Meskipun sangat sulit karena harga minyak terus berubah setiap saat. Namun, satu hal yang harus diperhatikan, keberpihakan ke sektor riil akan memberikan dampak positif yang lebih luas dan jangka panjang dari hanya sekedar keberpihakan di sektor keuangan. Disaat krisis seperti sekarang ini, pemerintah justru dinilai lebih berpihak pada sektor finansial dibandingkan dengan sektor riil.
Menggalang Kekuatan Hadapi Krisis
Medan Bisnis, 20 Oktober 2008
Para pemimpin negara di dunia pada saat ini kembali disibukkan dengan sejumlah rangkaian pertemuan dalam menghadapi bayangan resesi yang mengancam perekonomian dunia. Seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan kawasan negara Eropa. Dalam pertemuan yang rencananya akan digelar di AS setelah tanggal 4 november mendatang, merupakan pertemuan pertama yang dipastikan akan membahas permasalahan seputar guncangan ekonomi global.
Belum bisa dipastikan, apakah nantinya pertemuan tersebut menghasilkan sebuah penggalangan dana bersama untuk menyelesaikan krisis. Namun, langkah-langkah konkrit dalam menyelesaikan krisis sepertinya akan mulai tampak pada rencana pertemuan yang kedua. Dalam pertemuan yang pertama sepertinya akan lebih terfokus pada perumusan masalah-masalah utama seputar krisis.
Belum bisa dipastikan apakah nantinya pertemuan tersebut menghasilkan sebuah kebijakan yang benar-benar mampu meredam krisis finansial global seperti sekarang ini. Namun, menurut persfektip psikologis pasar, pertemuan tersebut setidaknya memberikan sedikit rasa aman, karena sedang ditangani secara serius.
Di Indonesia, pemerintah SBY telah melakukan koordinasi dengan banyak pihak untuk mengatasi krisis keuangan. Baik dari dalam dan luar negeri. Mulai dari pengusaha lokal hingga kerjasama penanggulangan krisis dengan negara di kawasan ASEAN dan Dunia. Hasilnya cukup menggemberikan meskipun belum sepenuhnya terbebas dari bayangan resesi global.
Beberapa kebijakan pemerintah yang dinilai tepat yakni melakukan aksi beli saham dengan mengintervensi bursa saham melalui buy back saham BUMN. Menaikkan jaminan simpanan di Bank dari sebelumnya sebesar Rp. 100 Juta menjadi Rp. 2 Milyar. Memberikan kelonggaran dalam menerapkan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan. Serta bersedia mengucurkan dana untuk LKBB (lembaga keuangan bukan Bank) yang sedang sakit seperti perusahaan asuransi, pengelolaan dana pensiun, perusahaan efek dan Multifinance.
Meski demikian belum diketahui lebih jelas mengenai kriteria perusahaan yang bagaimana yang akan mendapatkan bantuan LKBB. Apakah terkait dengan kinerja perusahaan tersebut dalam mengelola NPL (Net Performing Loan), atau aspek lainnya yang harus dipertimbangkan. Namun yang pasti Bapepam selaku sebagai pemegang kuasa masih akan membuat perpu terkait LKBB.
Langkah koordinasi yang dilakukan pemerintah dengan banyak pihak seperti KADIN, Pengusaha, BI, Menteri terkait, hingga pemerintahan daerah telah memberikan rasa aman bagi banyak pihak termasuk pasar meski diiringi dengan gejolak finansial yang cukup tajam.
Yang sangat mengesankan adalah kembali bergairahnya bursa saham meskipun banyak pengamat yang menyatakan index BEI akan jatuh pada awal pembukaan hari senin minggu kemarin. Nilai tukar Rupiah juga mulai bergerak menguat setelah sempat diperkirakan akan terjun bebas di atas Rp.10.000/$. Padahal banyak pedagang valas atau money changer yang justru sebelumnya memperdagangkan US$ diatas Rp. 10.000/$, yang disinyalir sebagai akibat kepanikan.
Langkah pemerintah dalam menangani krisis dengan tidak bergantung pada bantuan eksternal (IMF) juga menunjukan kepada masyarakat dunia, bahwa Indonesia masih mampu menangani krisis secara mandiri serta tetap terfokus untuk mampu mengembalikan kepercayaan dunia usaha.
Langkah strategis yang dilakukan pemerintah sudah seharusnya juga melibatkan negara se-kawasan seperti ASEAN dan Asia atau bahkan kerjasama yang lebih luas lagi. Dalam kondisi seperti ini, kerjasama secara multilateral sangat diperlukan, baik untuk keperluan berbagi pengalaman hingga kerjasama dibidang perdagangan sehingga terdapat peralihan orientasi negara mitra dagang dari negara maju yang sedang dilanda krisis ke negara dengan potensi pertumbuhan yang lebih menjanjikan.