Medan Bisnis, 15 November 2010
Kerupuk, Bakso, sate dan nasi goreng. Mungkin itu hal yang paling bisa dimengerti oleh kebanyakan Masyarakat Indonesia terkait dengan pidato Obama sewaktu mengunjungi Indonesia. Kemampuan Obama dalam berbahasa Indonesia didapatnya sejak dia tinggal di Indonesia semasa kecilnya dahulu. Obama menyatakan bahwa Indonesia merupakan bagian dari dirinya. Pernyataan tersebut spontan di balas dengan suara gemuruh tepuk tangan.
Obama mengunjungi Indonesia yang merupakan bagian dari kunjungan Obama yang sempat tertunda sebelumnya. Namun, kunjungan tersebut berlangsung kurang dari 24 jam. Padahal jika Obama memberikan waktu yang lebih banyak tentunya Indonesia mempunyai kesempatan untuk melakukan pendekatan-pendekatan serta memungkinkan membangun sebuah kerjasama yang lebih luas dengan Amerika Serikat.
Dalam kesempatan yang singkat tersebut, Obama menyatakan akan terus memperbaiki hubungan bilateral Indonesia dan Amerika. Mulai dari kebijakan tukar pelajar maupun di bidang ekonomi. Mungkin janji-janji obama tersebut bisa kita tagih suatu saat nanti. Untuk ekonomi, Amerika Serikat melalui obama menyatakan optimismenya terhadap perkembangan ekonomi AS yang dinilainya masih memberikan harapan akan pemulihan di masa yang akan datang.
Obama masih sangat yakin meskipun AS sendiri mengalami masa-masa sulit yang memang sangat sulit untuk di lewati. PDB AS yang relative stagnan, jumlah pengangguran yang terus meningkat serta defisit neraca perdagangan AS dengan China. AS sendiri di asia mulai hilang pamornya seiring munculnya India dan China sebagai salah satu kekuatan ekonomi Dunia. China merupakan Negara terbesar dalam hal ekonomi di Asia.
Fakta-fakta tersebut tentunya membuat banyak Negara di dunia meragukan ekonomi AS yang sedang di landa krisis. Namun, Obama tetap menunjukan optmisme yang luar biasa akan kebijakan ekonomi AS yang sedang dilakukan. Nah, disini yang mulai akan kita bicarakan. Kebijakan pemerintah Barack Obama baru-baru ini menggelontorkan uang sebesar $600 Milyar untuk membeli obligasi pemerintah.
Konsekuensi dari kebijakan tersebut adalah harga obligasi akan naik namun akan menekan suku bunga perbankan di AS. Nah, kebijakan tersebut diambil dengan tujuan agar konsumsi kredit meningkat dengan harapan sector riil kembali bergerak sehingga mengurangi jumlah pengangguran. Efektif kah? mungkin itu adalah langkah yang dinilai perlu dilakukan saat ini, kefektifan tinggal menunggu masalah implementasi dan waktu saja.
Bukan tanpa resiko. Apabila resiko serta semua yang ditakutkan terjadi maka keefektifan kebijakan pemerintah AS sudah pasti tidak efektif. Resiko yang dikwatirkan tersebut adalah inflasi. Bila inflasi berjalan lebih kencang dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi yang tercipta dari stimulus tersebut maka AS kembali masuk kedalam perangkap untuk memperketat kebijakan moneternya.
Kalau nantinya suku bunga AS dinaikkan maka, yang terjadi pertumbuhan ekonomi kembali akan mengalami kendala berat dan sulit untuk kembali ditingkatkan. Nah resiko awal yang terjadi baru-baru ini mulai muncul. Sengketa dengan Negara-negara dunia dalam hal mata uang sepertinya menemui jalan buntu dalam rapat G-20 baru-baru ini.
Rapat tersebut menghasilkan proteksionisme dari Negara-negara lain terhadap penguatan mata uangnya. Yang terjadi adalah US$ kembali menguat terhadap mata uang utama dunia dan indeks bursa global terkoreksi tajam termasuk IHSG. Padahal untuk meningkatkan kinerja ekonomi AS, Amerika sangat membutuhkan akan mata uangnya melemah sehingga mampu menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi AS serta mengurangi defisit neraca perdagangan AS.
Semua yang disajikan didalam Blog ini merupakan artikel yang dimuat dibeberapa Media Cetak dalam negeri. Merupakan opini pribadi dan tidak merefleksikan pandangan dari institusi dimana penulis bekerja saat ini. Semoga Bermanfaat.
Wednesday, February 16, 2011
Stimulus The FED, Menggairahkan Pasar?
Medan Bisnis, 8 November 2010
Dalam beberapa hari terakhir Bursa Asia mengalami lonjakan kenaikan yang signifkan, seiring dengan penguatan bursa Wall Street. Menguatnya bursa Wall Street terkait dengan langkah Bank Sentral AS yang akan menggelontorkan stimulus jilid 2. Sementara itu, dollar justru mendapat tekanan terkait dengan pertemuan Federal Reserve.
Selain The FED, penguatan bursa di AS juga didukung oleh pemilihan parlemen AS yang berjalan lancar. Meski demikian, kemenangan kubu partai republik di perkirakan akan memberikan tekanan kepada presiden Barack Obama dalam membuat kebijakan. Karena Barack Obama berasal dari kubu partai Demokrat. Dan saat ini parlemen lebih banyak dikuasai oleh oposisi yang umumnya suka berseberangan pendapat.
Stimulus yang dijalankan The FED tetap memunculkan spekulasi, berhasil atau tidak. Selain itu, sisi negative dari keputusan Bank Sentral AS lebih bisa terlihat dibandingkan dengan keberhasilan stimulus yang dijalankan. Menurut rencananya, The FED akan menggelontorkan US$ 600 Miliar untuk membeli obligasi dari perbankan dan lembaga keuangan lainnya dan akan berlangsung hingga akhir juni tahun depan.
Kekhawatiran yang timbul adalah uang tersebut nantinya akan banyak mengalir ke Negara-negara lain. Khususnya kawasan emerging market (Negara berkembang). Dan implikasinya adalah penguatan mata uang lain terhadap US Dolar. Kondisi ini tentu tidak sehat bagi lalu lintas perdagangan internasional. Banyak Negara yang akan mengurangi ekspor dikarenakan mata uangnya menguat terhadap US Dolar. Tentunya akan berdampak pada proses pemulihan ekonomi dunia yang berjalan lebih lambat.
Namun, apabila stimulus itu nantinya mampu meperbaiki daya beli masyarakat AS. Maka, AS tetap mempertahankan posisinya sebagai Negara adidaya ekonomi Dunia. Dengan catatan bila stimulus itu benar-benar berhasil sesuai dengan tujuannya. Permasalahan yang paling mendasar adalah bagaimana stimulus itu nantinya dapat mengurangi angka pengangguran di AS.
AS tentunya tidak ingin pengangguran berkurang dalam waktu singkat selama dijalankannya stimulus tersebut. Namun harapan lain adalah stimulus tersebut mampu mengurangi beban AS serta mengangkat AS keluar dari krisis yang berkepanjangan. Dampak lainnya adalah inflasi yang semakin sulit untuk dikendalikan.
Membanjirnya US Dolar dipasar tentu akan membuat mata uang Negara lainnya menguat. Contohnya Yen Jepang. Pemerintah Jepang tampaknya sulit mencapai target inflasi sebesar 0,6% di tahun 2010, karena mata uangnya – yen - terus menguat. Mata uang yen sempat mencapai 80,41 per USD, tertinggi dalam 15 tahun. Dan memaksa Bank sentral Jepang (BoJ) membeli obligasi pemerintah senilai 5 triliun yen (US$61 miliar).
Indonesia juga akan mengalami hal serupa. Dengan IHSG yang dinilai sudah ketinggian ini, Pasar di buat bingung dengan wacana “IHSG mungkin akan mencentak rekor tertinggi barunya”. Buka suatu hal yang mustahil memang, seiring dengan membaiknya kinerja bursa saham global karena stimulus The FED. Namun akan sampai berapa lama?. Stimulus bukanlah mencerminkan kondisi fundamental sebenarnya dari hasil mekanisme pasar, karena stimulus merupakan campur tangan pemerintah terhadap gejolak ekonomi yang tidak pasti.
Rupiah juga demikian, kian perkasa. Cadangan devisa juga naik dan sudah mendekati $ 100 Milyar. Akan tetapi itu bukan berita positif semata, kenapa? pengelolaan cadangan devisa yang masuk lewat surat utang Negara dan hanya mengendap sesaat, hanya akan membuat repot pemerintah bila tidak mampu mentransformasikannya ke dalam bentuk investasi sektor riil. Yang pada akhirnya akan menciptakan gelembung ekonomi yang suatu saat bisa pecah kapan saja.
Dalam beberapa hari terakhir Bursa Asia mengalami lonjakan kenaikan yang signifkan, seiring dengan penguatan bursa Wall Street. Menguatnya bursa Wall Street terkait dengan langkah Bank Sentral AS yang akan menggelontorkan stimulus jilid 2. Sementara itu, dollar justru mendapat tekanan terkait dengan pertemuan Federal Reserve.
Selain The FED, penguatan bursa di AS juga didukung oleh pemilihan parlemen AS yang berjalan lancar. Meski demikian, kemenangan kubu partai republik di perkirakan akan memberikan tekanan kepada presiden Barack Obama dalam membuat kebijakan. Karena Barack Obama berasal dari kubu partai Demokrat. Dan saat ini parlemen lebih banyak dikuasai oleh oposisi yang umumnya suka berseberangan pendapat.
Stimulus yang dijalankan The FED tetap memunculkan spekulasi, berhasil atau tidak. Selain itu, sisi negative dari keputusan Bank Sentral AS lebih bisa terlihat dibandingkan dengan keberhasilan stimulus yang dijalankan. Menurut rencananya, The FED akan menggelontorkan US$ 600 Miliar untuk membeli obligasi dari perbankan dan lembaga keuangan lainnya dan akan berlangsung hingga akhir juni tahun depan.
Kekhawatiran yang timbul adalah uang tersebut nantinya akan banyak mengalir ke Negara-negara lain. Khususnya kawasan emerging market (Negara berkembang). Dan implikasinya adalah penguatan mata uang lain terhadap US Dolar. Kondisi ini tentu tidak sehat bagi lalu lintas perdagangan internasional. Banyak Negara yang akan mengurangi ekspor dikarenakan mata uangnya menguat terhadap US Dolar. Tentunya akan berdampak pada proses pemulihan ekonomi dunia yang berjalan lebih lambat.
Namun, apabila stimulus itu nantinya mampu meperbaiki daya beli masyarakat AS. Maka, AS tetap mempertahankan posisinya sebagai Negara adidaya ekonomi Dunia. Dengan catatan bila stimulus itu benar-benar berhasil sesuai dengan tujuannya. Permasalahan yang paling mendasar adalah bagaimana stimulus itu nantinya dapat mengurangi angka pengangguran di AS.
AS tentunya tidak ingin pengangguran berkurang dalam waktu singkat selama dijalankannya stimulus tersebut. Namun harapan lain adalah stimulus tersebut mampu mengurangi beban AS serta mengangkat AS keluar dari krisis yang berkepanjangan. Dampak lainnya adalah inflasi yang semakin sulit untuk dikendalikan.
Membanjirnya US Dolar dipasar tentu akan membuat mata uang Negara lainnya menguat. Contohnya Yen Jepang. Pemerintah Jepang tampaknya sulit mencapai target inflasi sebesar 0,6% di tahun 2010, karena mata uangnya – yen - terus menguat. Mata uang yen sempat mencapai 80,41 per USD, tertinggi dalam 15 tahun. Dan memaksa Bank sentral Jepang (BoJ) membeli obligasi pemerintah senilai 5 triliun yen (US$61 miliar).
Indonesia juga akan mengalami hal serupa. Dengan IHSG yang dinilai sudah ketinggian ini, Pasar di buat bingung dengan wacana “IHSG mungkin akan mencentak rekor tertinggi barunya”. Buka suatu hal yang mustahil memang, seiring dengan membaiknya kinerja bursa saham global karena stimulus The FED. Namun akan sampai berapa lama?. Stimulus bukanlah mencerminkan kondisi fundamental sebenarnya dari hasil mekanisme pasar, karena stimulus merupakan campur tangan pemerintah terhadap gejolak ekonomi yang tidak pasti.
Rupiah juga demikian, kian perkasa. Cadangan devisa juga naik dan sudah mendekati $ 100 Milyar. Akan tetapi itu bukan berita positif semata, kenapa? pengelolaan cadangan devisa yang masuk lewat surat utang Negara dan hanya mengendap sesaat, hanya akan membuat repot pemerintah bila tidak mampu mentransformasikannya ke dalam bentuk investasi sektor riil. Yang pada akhirnya akan menciptakan gelembung ekonomi yang suatu saat bisa pecah kapan saja.
Menanti Kebijakan The FED
Medan Bisnis, 1 November 2010
Tidak seperti biasanya, bursa wall street di AS ditutup sideways, padahal konsesus data yang dikeluarkan oleh AS menunjukan perubhan yang positif. Hanya saja, mengingat potensi akan kebijakan moneter yang lebih lunak di minggu depan sepertinya pelaku pasar lebih memilih wait & see. The FED diperkirakan akan menempuh kebijakan yang lebih longgar guna menopang perekonomian AS.
Selama sesi perdagangan akhir minggu kemarin, perdagangan berlangsung dengan volume yang minimum sebagai bentuk antisipasi segala kebijakan yang muncul di minggu depan. Data PDB AS yang belum mampu merealisasikan angka di atas prediksi pasar membuat pasar bingung dan berspekulasi akan kemungkinan kebijakan the FED di minggu depan.
Selain itu, kondisi politik AS yang semakin menghangat menjelang pemilihan umum juga menyita perhatian para investor. Kubu demokrat yang telah mengusung Barack Obama menjadi presiden AS dikalahkan oleh kubu republik berdasarkan hasil jajak pendapat. Jika jajak pendapat tersebut benar-benar menggambarkan parlemen AS nantinya, maka parlemen akan lebih banyak diisi oleh orang-orang dari kubu republik. Yang secara politis akan mempengaruhi kebijakan Presiden Barack Obama dalam membuat keputusan nantinya.
Di sisi lain, Bursa Eropa justru menutup perdagangan bulan ini dengan ditutup menguat. Penguatan tersebut sekaligus melanjutkan penguatan yang pernah terjadi sebulan sebelumnya. Sentimen data PDB AS serta akan kemungkinan AS menerapkan kebijakan yang lebih longgar pada rapat minggu depan. Meskipun pada dasarnya masih ada kemungkinan lain yang bisa saja muncul.
Sementara itu mata uang US$ diperdagangkan melemah terhadap mata uang lainnya terkait dengan dengan ketidakpastian kebijakan moneter yang akan diambil oleh Amerika Serikat. US$ terkoreksi terhadap mata uang Yen Jepang. Disisi lain Euro justru terkoreksi sepanjang bulan ini. Padahal di bulan sebelumnya Euro sempat mencatatkan kenaikan sebesar 7.5 percent. Pelemhan Euro dalam seminggu terkahir sekaligus merupakan kinerja pekan terburuk sejak pertengahan September lalu.
Pada perdagangan akhir bulan kemarin, volatilitas transaksi perdagangan meningkat karena pasar mencoba mencerna segala kemungkinan apa yang akan terjadi setelah dirilisnya data perekonomian AS. Dan sekali lagi, pasar ditempatkan tepat “dipersimpangan” yang sangat membingungkan.
Sejauh ini, bursa Dow jones sangat bersahabat menjelang awal bulan baru, setidaknya kenaikan Dow Jones terjadi dalam selama delapan bulan berturut-turut. Namun, saatnya kita berpikir mengenai data yang kemungkinan dirilis di akhir tahun. Data mengenai konsumen, percaya kah kita bahwa rakyat AS percaya diri untuk berbelanja di akhir tahun.
Bila AS menerapkan kebijakan suku bunga yang lebih longgar, tentunya pasar keuangan kita akan mengalami crash. Meski demikian selisih tingkat suku bunga kita yang masih relative lebar dengan bunga di AS menjadi penahan akan kemungkinan reversal (pembalikan dana ke luar). Selain itu, fundamental ekonomi Negara kita yang cukup colid masih menjadi katalis pasar keuangan kita menguat dalam jangka panjang.
Tidak seperti biasanya, bursa wall street di AS ditutup sideways, padahal konsesus data yang dikeluarkan oleh AS menunjukan perubhan yang positif. Hanya saja, mengingat potensi akan kebijakan moneter yang lebih lunak di minggu depan sepertinya pelaku pasar lebih memilih wait & see. The FED diperkirakan akan menempuh kebijakan yang lebih longgar guna menopang perekonomian AS.
Selama sesi perdagangan akhir minggu kemarin, perdagangan berlangsung dengan volume yang minimum sebagai bentuk antisipasi segala kebijakan yang muncul di minggu depan. Data PDB AS yang belum mampu merealisasikan angka di atas prediksi pasar membuat pasar bingung dan berspekulasi akan kemungkinan kebijakan the FED di minggu depan.
Selain itu, kondisi politik AS yang semakin menghangat menjelang pemilihan umum juga menyita perhatian para investor. Kubu demokrat yang telah mengusung Barack Obama menjadi presiden AS dikalahkan oleh kubu republik berdasarkan hasil jajak pendapat. Jika jajak pendapat tersebut benar-benar menggambarkan parlemen AS nantinya, maka parlemen akan lebih banyak diisi oleh orang-orang dari kubu republik. Yang secara politis akan mempengaruhi kebijakan Presiden Barack Obama dalam membuat keputusan nantinya.
Di sisi lain, Bursa Eropa justru menutup perdagangan bulan ini dengan ditutup menguat. Penguatan tersebut sekaligus melanjutkan penguatan yang pernah terjadi sebulan sebelumnya. Sentimen data PDB AS serta akan kemungkinan AS menerapkan kebijakan yang lebih longgar pada rapat minggu depan. Meskipun pada dasarnya masih ada kemungkinan lain yang bisa saja muncul.
Sementara itu mata uang US$ diperdagangkan melemah terhadap mata uang lainnya terkait dengan dengan ketidakpastian kebijakan moneter yang akan diambil oleh Amerika Serikat. US$ terkoreksi terhadap mata uang Yen Jepang. Disisi lain Euro justru terkoreksi sepanjang bulan ini. Padahal di bulan sebelumnya Euro sempat mencatatkan kenaikan sebesar 7.5 percent. Pelemhan Euro dalam seminggu terkahir sekaligus merupakan kinerja pekan terburuk sejak pertengahan September lalu.
Pada perdagangan akhir bulan kemarin, volatilitas transaksi perdagangan meningkat karena pasar mencoba mencerna segala kemungkinan apa yang akan terjadi setelah dirilisnya data perekonomian AS. Dan sekali lagi, pasar ditempatkan tepat “dipersimpangan” yang sangat membingungkan.
Sejauh ini, bursa Dow jones sangat bersahabat menjelang awal bulan baru, setidaknya kenaikan Dow Jones terjadi dalam selama delapan bulan berturut-turut. Namun, saatnya kita berpikir mengenai data yang kemungkinan dirilis di akhir tahun. Data mengenai konsumen, percaya kah kita bahwa rakyat AS percaya diri untuk berbelanja di akhir tahun.
Bila AS menerapkan kebijakan suku bunga yang lebih longgar, tentunya pasar keuangan kita akan mengalami crash. Meski demikian selisih tingkat suku bunga kita yang masih relative lebar dengan bunga di AS menjadi penahan akan kemungkinan reversal (pembalikan dana ke luar). Selain itu, fundamental ekonomi Negara kita yang cukup colid masih menjadi katalis pasar keuangan kita menguat dalam jangka panjang.
Setahun SBY dan Pasar Saham
Medan Bisnis, 25 Oktober 2010
Dalam setahun terkahir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menorehkan kinerja yang luar biasa. IHSG terus melanjutkan tren penguatan dan mencatat rekor tertinggi baru dalam sejarahnya. IHSG terus menguat walaupun indeks bursa rnegara lain di Amerika dan Eropa masih terseok-seok. Anomali di IHSG sepertinya masih akan tetap bertahan, entah sampai kapan.
Pelaku pasar sepertinya akan terlena akan kemungkinan pembalikan modal atau reversal yang berpeluang membuat IHSG terkoreksi. Analis pun mulai meragukan analisanya sendiri dengan membuat gambaran baru pergerakan IHSG yang sepertinya masih akan ke atas lagi. IHSG sepertinya masih memiliki prospek yang cerah di tahun yang akan datang. Seiring dengan peringkat Indonesia sebagai Negara layak investasi. Penilaian tersebut berasal dari pemeringkat internasional yang diakui.
Kejayaan IHSG sebenarnya dimulai pada tahun lalu setelah dilanda krisis di tahun 2008. IHSG cenderung naik secara konstan hingga saat ini. Dan yang paling mengherankan adalah anomali di saat bulan ramadhan kemarin. Disaat semua analis mengkhawatirkan tingginya Inflasi, IHSG kian terus perkasa hingga ke level 3600 saat ini. Bahkan perdagangan di bulan ramadhan kemarin selalu ramai dengan frekwensi dan volume transaksi yang tinggi.
Kenaikan IHSG tidak terbantahkan. Hal yang paling membingungkan adalah apa yang menyebabkan IHSG begitu cepat melesat. Yang mengkhawatirkan adalah apakah IHSG benar-benar ditopang oleh fundamental yang kuat sehingga terus melaju kencang atau jangan-jangan karena factor spekulasi semata.
Tidak dipungkiri, dana asing yang terus menerus mengalir ke bursa Indonesia melengkapi dana investor domestik yang lebih dulu lincah bermain. Masuknya dana asing sukses memberikan rasa percaya diri bagi investor domestik untuk terus melakukan aksi beli saham. Dan itulah mengapa IHSG terus mencatatkan rekor terbaru.
Peran asing yang dananya banyak masuk ke Indonesia mengundang kekhawatiran tersendiri bagi para pengamat ekonomi dan keuangan. Sinyal akan pembalikan modal sudah saatnya didengungkan mulai saat ini, sehingga para pelaku pasar modal dan pemerintah khususnya dapat bersikap arif dalam menyikapinya. Dan bila perlu pemerintah mengambil tindakan pencegahan terhadap derasnya uang asing yang masuk ke Indonesia.
Bank Indonesia yang telah lebih dulu membentengi pasar uang dengan membatasi masa waktu pembelian surat berharga minimal satu tahun, dinilai tak cukup untuk membentengi perekonomian nasional dari ancaman capital outflow. Kenaikan pesat IHSG sebenarnya juga menyediakan ruang secara lebih luas kepada aksi ambil untung atau profit taking.
Di satu tahun pemerintahan SBY jilid 2 ini, semoga saja SBY waspada akan kemungkinan buruk yang bias saja terjadi di lantai bursa. Sebagai pelaku di pasar modal tentunya kita tidak ingin IHSG terkoreksi secara tiba-tiba dengan penurunan yang tidak wajar dan sangat merugikan kita secara financial. Jika SBY yakin dengan kerja tim ekonominya, maka seharusnya beliau juga meyakini bahwa pasar saham sebenarnya sudah bergerak melewati batas kinerja tim ekonominya dan memang saatnya dimungkinkan koreksi.
Dalam setahun terkahir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menorehkan kinerja yang luar biasa. IHSG terus melanjutkan tren penguatan dan mencatat rekor tertinggi baru dalam sejarahnya. IHSG terus menguat walaupun indeks bursa rnegara lain di Amerika dan Eropa masih terseok-seok. Anomali di IHSG sepertinya masih akan tetap bertahan, entah sampai kapan.
Pelaku pasar sepertinya akan terlena akan kemungkinan pembalikan modal atau reversal yang berpeluang membuat IHSG terkoreksi. Analis pun mulai meragukan analisanya sendiri dengan membuat gambaran baru pergerakan IHSG yang sepertinya masih akan ke atas lagi. IHSG sepertinya masih memiliki prospek yang cerah di tahun yang akan datang. Seiring dengan peringkat Indonesia sebagai Negara layak investasi. Penilaian tersebut berasal dari pemeringkat internasional yang diakui.
Kejayaan IHSG sebenarnya dimulai pada tahun lalu setelah dilanda krisis di tahun 2008. IHSG cenderung naik secara konstan hingga saat ini. Dan yang paling mengherankan adalah anomali di saat bulan ramadhan kemarin. Disaat semua analis mengkhawatirkan tingginya Inflasi, IHSG kian terus perkasa hingga ke level 3600 saat ini. Bahkan perdagangan di bulan ramadhan kemarin selalu ramai dengan frekwensi dan volume transaksi yang tinggi.
Kenaikan IHSG tidak terbantahkan. Hal yang paling membingungkan adalah apa yang menyebabkan IHSG begitu cepat melesat. Yang mengkhawatirkan adalah apakah IHSG benar-benar ditopang oleh fundamental yang kuat sehingga terus melaju kencang atau jangan-jangan karena factor spekulasi semata.
Tidak dipungkiri, dana asing yang terus menerus mengalir ke bursa Indonesia melengkapi dana investor domestik yang lebih dulu lincah bermain. Masuknya dana asing sukses memberikan rasa percaya diri bagi investor domestik untuk terus melakukan aksi beli saham. Dan itulah mengapa IHSG terus mencatatkan rekor terbaru.
Peran asing yang dananya banyak masuk ke Indonesia mengundang kekhawatiran tersendiri bagi para pengamat ekonomi dan keuangan. Sinyal akan pembalikan modal sudah saatnya didengungkan mulai saat ini, sehingga para pelaku pasar modal dan pemerintah khususnya dapat bersikap arif dalam menyikapinya. Dan bila perlu pemerintah mengambil tindakan pencegahan terhadap derasnya uang asing yang masuk ke Indonesia.
Bank Indonesia yang telah lebih dulu membentengi pasar uang dengan membatasi masa waktu pembelian surat berharga minimal satu tahun, dinilai tak cukup untuk membentengi perekonomian nasional dari ancaman capital outflow. Kenaikan pesat IHSG sebenarnya juga menyediakan ruang secara lebih luas kepada aksi ambil untung atau profit taking.
Di satu tahun pemerintahan SBY jilid 2 ini, semoga saja SBY waspada akan kemungkinan buruk yang bias saja terjadi di lantai bursa. Sebagai pelaku di pasar modal tentunya kita tidak ingin IHSG terkoreksi secara tiba-tiba dengan penurunan yang tidak wajar dan sangat merugikan kita secara financial. Jika SBY yakin dengan kerja tim ekonominya, maka seharusnya beliau juga meyakini bahwa pasar saham sebenarnya sudah bergerak melewati batas kinerja tim ekonominya dan memang saatnya dimungkinkan koreksi.
Perang Mata Uang
Medan Bisnis, 18 Oktober 2010
Proteksionisme menjadi alasan utama yang membuat kebijakan bank sentral di amerika dan eropa melakukan intervensi terhadap pergerakan nilai tukar uangnya. Diawali dari China, AS menuding China sebagai Negara yang memanipulasi mata uangnya yang seharusnya menguat signifikan terhadap US dolar. Langkah China yang membiarkan mata uangnya melemah membuat pasar internasional kebanjiran produk China sehingga ekspor China naik dibandingkan dengan Negara mitra dagangnya.
Defisit neraca perdagangan AS membengkak sementara neraca perdagangan China terus mengalami kenaikan. Sejumlah upaya yang dilakukan oleh Bank Sentral di Eropa AS Jepang dan China pada akhirnya akan mengakibatkan volatilitas pergerakan mata uang global semakin tidak terkontrol.
China yang benar-benar diuntungkan dengan pelemahan mata uang Yuan, membuat kinerja ekspor China menggeliat dan juga telah membuat cadangan devisa China menembus rekor sesuai dengan perkiraan Bloomberg sebesar $2.5 trilyun. Cadangan Devisa tersebut merupakan cadangan terbesar di dunia.
Sehingga, dengan cadangan devisa yang besar tersebut, pada dasarnya China lebih siap apabila mata uangnya terapresiasi terhadap US dolar. Karena apabila china tetap membiarkan mata uangnya melemah maka ketidakseimbangan global ini menurut versi AS akan membuat AS meningkatkan retorikanya dalam mengkritisi kebijakan nilai tukar Yuan. Seperti pernyataan yang pernah dikeluarkan AS sebelumnya. Dimana AS dan kongresnya memungkinkan pemberian sanksi kepada China, bila China tetap bersikukuh tidak membiarkan mata uang Yuan menguat.
Di Asia selainJepang, Thailand dikabarkan menghapus fasilitas pembebasan pajak 15% bagi pembelian obligasi oleh investor asing. Dampak dari kebijakan tersebut akan membuat mata uang baht tidak menguat signifikan terhadap US$. Dan India juga diberitakan akan melakukan intervensi di pasar valas jika perekonomiannya mulai terganggu dengan penguatan Rupee yang terlalu tajam.
Dalam permasalahan seperti ini, yang menjadi pertanyaan penulis adalah dimana peran WTO?. Benarkah langkah yang dilakukan AS dalam menekan china?. Sejauh ini dalam berbagai kesempatan di forum-forum internasional seperti G-20, APEC atau IMF, AS selalu memberikan tekanannya terhadap China, dan selalu menjadikan China sebagai masalah atas krisis yang berkepanjangan.
Melihat dinamika dunia keuangan internasional seperti itu, dimanakah posisi Indonesia?. Kalau produk china saling berhadapan dengan produk yang dihasilkan dari AS. Maka produk China selalu lebih murah dibandingkan dengan AS. Sehingga produk China akan lebih menguasai pasar dibandingkan dengan produk dari AS.
Indonesia memiliki komoditas ekspor yang jarang dimiliki Negara lain khususnya Negara seperti Amerika, Eropa dan China. Ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditas seperti Sawit dan Karet serta komoditas alam lainnya. Sehingga dengan perang mata uang tersebut pasar Ekspor kita kecil sekali mengalami guncangan.
Namun, mata uang Rupiah memang menguat sangat tajam akhir-akhir ini. Penguatan tersebut bisa saja menggerus ekspor, namun disisi lain akan lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Akan tetapi mata uang US$ bisa saja kembali melemah, jika Amerika sudah mulai kehilangan kesabaran dan melakukan kebijakan yang membuat US Dolar itu melemah. Seperti pembelian Obligasi oleh Bank Sentral AS itu sendiri.
Proteksionisme menjadi alasan utama yang membuat kebijakan bank sentral di amerika dan eropa melakukan intervensi terhadap pergerakan nilai tukar uangnya. Diawali dari China, AS menuding China sebagai Negara yang memanipulasi mata uangnya yang seharusnya menguat signifikan terhadap US dolar. Langkah China yang membiarkan mata uangnya melemah membuat pasar internasional kebanjiran produk China sehingga ekspor China naik dibandingkan dengan Negara mitra dagangnya.
Defisit neraca perdagangan AS membengkak sementara neraca perdagangan China terus mengalami kenaikan. Sejumlah upaya yang dilakukan oleh Bank Sentral di Eropa AS Jepang dan China pada akhirnya akan mengakibatkan volatilitas pergerakan mata uang global semakin tidak terkontrol.
China yang benar-benar diuntungkan dengan pelemahan mata uang Yuan, membuat kinerja ekspor China menggeliat dan juga telah membuat cadangan devisa China menembus rekor sesuai dengan perkiraan Bloomberg sebesar $2.5 trilyun. Cadangan Devisa tersebut merupakan cadangan terbesar di dunia.
Sehingga, dengan cadangan devisa yang besar tersebut, pada dasarnya China lebih siap apabila mata uangnya terapresiasi terhadap US dolar. Karena apabila china tetap membiarkan mata uangnya melemah maka ketidakseimbangan global ini menurut versi AS akan membuat AS meningkatkan retorikanya dalam mengkritisi kebijakan nilai tukar Yuan. Seperti pernyataan yang pernah dikeluarkan AS sebelumnya. Dimana AS dan kongresnya memungkinkan pemberian sanksi kepada China, bila China tetap bersikukuh tidak membiarkan mata uang Yuan menguat.
Di Asia selainJepang, Thailand dikabarkan menghapus fasilitas pembebasan pajak 15% bagi pembelian obligasi oleh investor asing. Dampak dari kebijakan tersebut akan membuat mata uang baht tidak menguat signifikan terhadap US$. Dan India juga diberitakan akan melakukan intervensi di pasar valas jika perekonomiannya mulai terganggu dengan penguatan Rupee yang terlalu tajam.
Dalam permasalahan seperti ini, yang menjadi pertanyaan penulis adalah dimana peran WTO?. Benarkah langkah yang dilakukan AS dalam menekan china?. Sejauh ini dalam berbagai kesempatan di forum-forum internasional seperti G-20, APEC atau IMF, AS selalu memberikan tekanannya terhadap China, dan selalu menjadikan China sebagai masalah atas krisis yang berkepanjangan.
Melihat dinamika dunia keuangan internasional seperti itu, dimanakah posisi Indonesia?. Kalau produk china saling berhadapan dengan produk yang dihasilkan dari AS. Maka produk China selalu lebih murah dibandingkan dengan AS. Sehingga produk China akan lebih menguasai pasar dibandingkan dengan produk dari AS.
Indonesia memiliki komoditas ekspor yang jarang dimiliki Negara lain khususnya Negara seperti Amerika, Eropa dan China. Ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditas seperti Sawit dan Karet serta komoditas alam lainnya. Sehingga dengan perang mata uang tersebut pasar Ekspor kita kecil sekali mengalami guncangan.
Namun, mata uang Rupiah memang menguat sangat tajam akhir-akhir ini. Penguatan tersebut bisa saja menggerus ekspor, namun disisi lain akan lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Akan tetapi mata uang US$ bisa saja kembali melemah, jika Amerika sudah mulai kehilangan kesabaran dan melakukan kebijakan yang membuat US Dolar itu melemah. Seperti pembelian Obligasi oleh Bank Sentral AS itu sendiri.
Analisa Fundamental Saham Perbankan
Medan Bisnis, 4 Oktober 2010
Menganalisa laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu cara yang digunakan dalam Analisa fundamental. Banyak investor yang menggunakan analisa fundamental untuk memperkirakan pergerakan harga saham dalam jangka waktu panjang. Untuk saham berbasis perbankan beberapa indikator rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja antara lain PER (rasio antara harga saham dan pendapatannya), CAR (rasio kecukupan modal), ROA (rasio antara asset dan pendapatan) dan LDR (rasio antara simpanan dan pinjaman). Meskipun masih ada beberapa rasio keuangan lainnya.
CAR digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan permodalan bank dalam mengantisipasi penurunan aktiva. Pada dasarnya semakin tinggi CAR maka akan semakin tinggi pula harga saham karena bank yang mempunyai CAR yang tinggi berarti bank tersebut mempunyai modal yang cukup untuk melakukan kegiatan usahanya dan cukup pula menanggung resiko apabila bank tersebut dilikuidasi. Semakin tinggi CAR juga dapat menggambarkan bahwa bank tersebut semakin solvabel.
Dengan modal yang cukup maka suatu bank akan dapat membiayai produk jasanya yang banyak, selain itu CAR yang besar sama dengan modal yang besar dan aktiva berisiko rendah. Hal yang pokok adalah dengan CAR yang tinggi, risiko dalam berinvestasi rendah. Hal seperti itulah yang akan mendorong para investor memilih membeli saham tersebut. Dan tentunya akan diikuti dengan kenaikan harga saham.
Karena prediksi harga saham dilakukan dengan mempertimbangkan proyeksi prestasi perusahaan dimasa depan. Kondisi fundamental mencerminkan kinerja variabel-variabel keuangan yang dianggap mendasar atau penting dalam perubahan harga saham. Para penganut analisis fundamental berkeyakinan semakin bagus kinerja perusahaan nantinya maka harga saham yang diharapkan juga semakin bagus. Dan dalam beberapa riset ternyata ROA tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan yang ditransaksikan di BEI.
Dalam beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa LDR berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI. Karena LDR mencerminkan kegiatan usaha atau operasi sehari-hari perbankan. Bagaimana operasinya dibiayai, apakah lebih banyak dari hutang atau modal perusahaan. Investor akan lebih memilih bank-bank yang mampu membiayai operasinya dengan modal atau apabila dibiayai dengan hutang, maka bank tersebut harus bisa mengembalikannya dengan asset yang dimiliki.
Selain itu, investor tidak perlu mengkhawatirkan anggapan akan turunnya penilaian kinerja keuangan bank yang diakibatkan oleh besarnya pengeluaran atau yang disebut pula beban operasional ini. Karena besarnya beban operasional tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap perubahan harga saham. Asalkan beban operasional tersebut tidak menimbulkan kerugian atau bank masih memiliki laba kotor yang cukup memadai, harga saham masih berpeluang naik.
Sementara itu, NPM (keuntungan bersih) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan. Karena keuntugan perusahaan tersebut harus diterjemahkan dalam bentuk rasio keuangan yang lain yang biasanya menggunakan rasio keuangan bernama PER (Price earning Rasio) atau biasa disebut rasio harga saham dengan laba per sahamnya.
Jika bank memiliki laba bersih dengan perbandingan yang besar terhadap pendapatan operasionalnya, harga sahamnya cenderung menurun di bursa. perubahan inipun tidaklah signifikan mengingat adanya faktor lain yang akan diperhatikan terlebih dulu oleh investor sebelum melakukan transaksi. Untuk menyiasati keadaan ini, manajemen bank sebaiknya memanfaatkan laba bersihnya untuk melakukan ekspansi kredit. Dalam menetapkan kebijakan maka bank perlu mempertimbangkan unsur kecukupan modal, kualitas aktiva produktif dan penyaluran kredit. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk meningkatkan nilai perusahaannya di BEI, maka bank perlu memfokuskan kebijakan pada kecukupan capital, kualitas Assets, dan fungsi intermediasinya.
Menganalisa laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu cara yang digunakan dalam Analisa fundamental. Banyak investor yang menggunakan analisa fundamental untuk memperkirakan pergerakan harga saham dalam jangka waktu panjang. Untuk saham berbasis perbankan beberapa indikator rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja antara lain PER (rasio antara harga saham dan pendapatannya), CAR (rasio kecukupan modal), ROA (rasio antara asset dan pendapatan) dan LDR (rasio antara simpanan dan pinjaman). Meskipun masih ada beberapa rasio keuangan lainnya.
CAR digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan permodalan bank dalam mengantisipasi penurunan aktiva. Pada dasarnya semakin tinggi CAR maka akan semakin tinggi pula harga saham karena bank yang mempunyai CAR yang tinggi berarti bank tersebut mempunyai modal yang cukup untuk melakukan kegiatan usahanya dan cukup pula menanggung resiko apabila bank tersebut dilikuidasi. Semakin tinggi CAR juga dapat menggambarkan bahwa bank tersebut semakin solvabel.
Dengan modal yang cukup maka suatu bank akan dapat membiayai produk jasanya yang banyak, selain itu CAR yang besar sama dengan modal yang besar dan aktiva berisiko rendah. Hal yang pokok adalah dengan CAR yang tinggi, risiko dalam berinvestasi rendah. Hal seperti itulah yang akan mendorong para investor memilih membeli saham tersebut. Dan tentunya akan diikuti dengan kenaikan harga saham.
Karena prediksi harga saham dilakukan dengan mempertimbangkan proyeksi prestasi perusahaan dimasa depan. Kondisi fundamental mencerminkan kinerja variabel-variabel keuangan yang dianggap mendasar atau penting dalam perubahan harga saham. Para penganut analisis fundamental berkeyakinan semakin bagus kinerja perusahaan nantinya maka harga saham yang diharapkan juga semakin bagus. Dan dalam beberapa riset ternyata ROA tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan yang ditransaksikan di BEI.
Dalam beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa LDR berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI. Karena LDR mencerminkan kegiatan usaha atau operasi sehari-hari perbankan. Bagaimana operasinya dibiayai, apakah lebih banyak dari hutang atau modal perusahaan. Investor akan lebih memilih bank-bank yang mampu membiayai operasinya dengan modal atau apabila dibiayai dengan hutang, maka bank tersebut harus bisa mengembalikannya dengan asset yang dimiliki.
Selain itu, investor tidak perlu mengkhawatirkan anggapan akan turunnya penilaian kinerja keuangan bank yang diakibatkan oleh besarnya pengeluaran atau yang disebut pula beban operasional ini. Karena besarnya beban operasional tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap perubahan harga saham. Asalkan beban operasional tersebut tidak menimbulkan kerugian atau bank masih memiliki laba kotor yang cukup memadai, harga saham masih berpeluang naik.
Sementara itu, NPM (keuntungan bersih) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan. Karena keuntugan perusahaan tersebut harus diterjemahkan dalam bentuk rasio keuangan yang lain yang biasanya menggunakan rasio keuangan bernama PER (Price earning Rasio) atau biasa disebut rasio harga saham dengan laba per sahamnya.
Jika bank memiliki laba bersih dengan perbandingan yang besar terhadap pendapatan operasionalnya, harga sahamnya cenderung menurun di bursa. perubahan inipun tidaklah signifikan mengingat adanya faktor lain yang akan diperhatikan terlebih dulu oleh investor sebelum melakukan transaksi. Untuk menyiasati keadaan ini, manajemen bank sebaiknya memanfaatkan laba bersihnya untuk melakukan ekspansi kredit. Dalam menetapkan kebijakan maka bank perlu mempertimbangkan unsur kecukupan modal, kualitas aktiva produktif dan penyaluran kredit. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk meningkatkan nilai perusahaannya di BEI, maka bank perlu memfokuskan kebijakan pada kecukupan capital, kualitas Assets, dan fungsi intermediasinya.
Mengukur Penguatan Nilai Tukar Rupiah
Medan Bisnis, 27 September 2010
Setiap negara di dunia ini tentunya mempunyai mata uang masing-masing, sementara proses pertukaran valuta asing terjadi melalui Bank yang juga merupakan pusat pasar valuta asing. Bank berfungsi berperan sebagai agen yang mempertemukan pembeli dan penjual valuta asing. Sifat kurs valuta asing tergantung dari sifat pasar. Bila transaksi jual beli valuta asing dapat dilakukan secara bebas dipasar, maka kurs valas berubah sesuai dengan perubahan permintaan dan penawaran. Meskipun masih ada negara lain yang tidak membiarkan pergerakan mata uangnya diperdagangkan melalui mekanisme pasar.
Jika suatu negara melakukan pertukaran barang dengan negara lain, didalamnya terdapat perbandingan nilai tukar, nilai tukar itulah sebenarnya semacam harga bagi pertukaran tersebut. Demikian juga pertukaran antar dua mata uang berbeda, akan terdapat perbandingan nilai atau harga antar kedua mata uang tersebut. Perbandingan inilah yang disebut dengan exchange rate. Fluktuasi nilai rupiah terhadap mata uang asing akan sangat mempengaruhi iklim investasi dalam negeri, terutama pasar modal.
Ada beberapa variabel penting yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar. Suku bunga merupakan salah satunya. Suku bunga adalah nilai dari uang yang digunakan untuk disalurkan ke masyarakat dalam bentuk pinjaman atau kredit. Tingkat suku bunga yang tinggi akan mempengaruhi nilai sekarang (present value) aliran kas perusahaan, sehingga kesempatan investasi yang ada menjadi kurang menarik.
Tingkat bunga yang tinggi juga akan meningkatkan biaya modal yang harus ditanggung perusahaan. Disamping itu tingkat bunga yang tinggi juga akan menyebabkan return yang diisyaratkan investor dari suatu investasi cenderung meningkat. Instrumen keuangan yang sering digunakan Bank Indonesia adalah SBI (sertifikat bank indonesia), surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang dikeluarkan BI tersebut digunkan sebagai pengakuan utang jangka pendek.
Selanjutnya adalah Inflasi. Inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang terlalu kepanasan (over heated), artinya kondisi ekonomi mengalami permintaan atas produk yang lebih tinggi dari penawaran produknya, sehingga harga-harga barang cenderung mengalami kenaikan. Kondisi ekonomi yang over heated tersebut juga akan menurunkan daya beli uang (purchasing power of money) dan mengurangi tingkat pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasinya.
Inflasi meningkatkan pendapatan dan biaya perusahaan. Jika peningkatan biaya produksi lebih tinggi dari peningkatan harga yang dapat dinikmati oleh perusahaan maka profitabilitas perusahaan akan turun. Bila dikaitkan dengan mitra dagang negara kita, maka inflasi yang bergerak melebihi pergerakan inflasi di negara mitra dagang maka biasanya mata uang kita lebih cenderung melemah terhadap mata uang mitra dagang tersebut.
Konsep penentuan kurs diawali dengan konsep Purchasing Power Parity(PPP), kemudian berkembang konsep dengan pendekatan neraca pembayaran ( balance of payment theory ). Perkembangan konsep penentuan kurs valuta asing selanjutnya adalah pendekatan moneter (monetary approach). Pendekatan moneter menekankan bahwa kurs valuta asing sebagai harga relatif dari dua jenis mata uang, ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran uang. Pendekatan moneter mempunyai dua anggapan pokok, yaitu berlakunya teori paritas daya beli dan adanya teori permintaan uang yang stabil dari sejumlah variabel ekonomi agregate. Hal tersebut berarti model pendekatan moneter terhadap kurs valuta asing dapat ditentukan dengan mengembangkan model permintaan uang dan model paritas daya beli.
Meskipun mata uang kita diperdagangkan dengan melalui mekanisme pasar. Namun Bank indonesia tetap melakukan pengendalian serta melakukan intervensi ke pasar jika diperlukan. Bila dikaitkan dengan laju inflasi yang tinggi di Indonesia, sebenarnya mata uang kita berpeluang turun terhadap mata uang lain khususnya US Dollar. Sehingga pendekatan moneter yang dilakukan Bank Indonesia ke depan akan lebih bersifat menguras cadangan devisa jika US Dolar berbalik menguat nantinya.
Setiap negara di dunia ini tentunya mempunyai mata uang masing-masing, sementara proses pertukaran valuta asing terjadi melalui Bank yang juga merupakan pusat pasar valuta asing. Bank berfungsi berperan sebagai agen yang mempertemukan pembeli dan penjual valuta asing. Sifat kurs valuta asing tergantung dari sifat pasar. Bila transaksi jual beli valuta asing dapat dilakukan secara bebas dipasar, maka kurs valas berubah sesuai dengan perubahan permintaan dan penawaran. Meskipun masih ada negara lain yang tidak membiarkan pergerakan mata uangnya diperdagangkan melalui mekanisme pasar.
Jika suatu negara melakukan pertukaran barang dengan negara lain, didalamnya terdapat perbandingan nilai tukar, nilai tukar itulah sebenarnya semacam harga bagi pertukaran tersebut. Demikian juga pertukaran antar dua mata uang berbeda, akan terdapat perbandingan nilai atau harga antar kedua mata uang tersebut. Perbandingan inilah yang disebut dengan exchange rate. Fluktuasi nilai rupiah terhadap mata uang asing akan sangat mempengaruhi iklim investasi dalam negeri, terutama pasar modal.
Ada beberapa variabel penting yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar. Suku bunga merupakan salah satunya. Suku bunga adalah nilai dari uang yang digunakan untuk disalurkan ke masyarakat dalam bentuk pinjaman atau kredit. Tingkat suku bunga yang tinggi akan mempengaruhi nilai sekarang (present value) aliran kas perusahaan, sehingga kesempatan investasi yang ada menjadi kurang menarik.
Tingkat bunga yang tinggi juga akan meningkatkan biaya modal yang harus ditanggung perusahaan. Disamping itu tingkat bunga yang tinggi juga akan menyebabkan return yang diisyaratkan investor dari suatu investasi cenderung meningkat. Instrumen keuangan yang sering digunakan Bank Indonesia adalah SBI (sertifikat bank indonesia), surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang dikeluarkan BI tersebut digunkan sebagai pengakuan utang jangka pendek.
Selanjutnya adalah Inflasi. Inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang terlalu kepanasan (over heated), artinya kondisi ekonomi mengalami permintaan atas produk yang lebih tinggi dari penawaran produknya, sehingga harga-harga barang cenderung mengalami kenaikan. Kondisi ekonomi yang over heated tersebut juga akan menurunkan daya beli uang (purchasing power of money) dan mengurangi tingkat pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasinya.
Inflasi meningkatkan pendapatan dan biaya perusahaan. Jika peningkatan biaya produksi lebih tinggi dari peningkatan harga yang dapat dinikmati oleh perusahaan maka profitabilitas perusahaan akan turun. Bila dikaitkan dengan mitra dagang negara kita, maka inflasi yang bergerak melebihi pergerakan inflasi di negara mitra dagang maka biasanya mata uang kita lebih cenderung melemah terhadap mata uang mitra dagang tersebut.
Konsep penentuan kurs diawali dengan konsep Purchasing Power Parity(PPP), kemudian berkembang konsep dengan pendekatan neraca pembayaran ( balance of payment theory ). Perkembangan konsep penentuan kurs valuta asing selanjutnya adalah pendekatan moneter (monetary approach). Pendekatan moneter menekankan bahwa kurs valuta asing sebagai harga relatif dari dua jenis mata uang, ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran uang. Pendekatan moneter mempunyai dua anggapan pokok, yaitu berlakunya teori paritas daya beli dan adanya teori permintaan uang yang stabil dari sejumlah variabel ekonomi agregate. Hal tersebut berarti model pendekatan moneter terhadap kurs valuta asing dapat ditentukan dengan mengembangkan model permintaan uang dan model paritas daya beli.
Meskipun mata uang kita diperdagangkan dengan melalui mekanisme pasar. Namun Bank indonesia tetap melakukan pengendalian serta melakukan intervensi ke pasar jika diperlukan. Bila dikaitkan dengan laju inflasi yang tinggi di Indonesia, sebenarnya mata uang kita berpeluang turun terhadap mata uang lain khususnya US Dollar. Sehingga pendekatan moneter yang dilakukan Bank Indonesia ke depan akan lebih bersifat menguras cadangan devisa jika US Dolar berbalik menguat nantinya.
BPR Permasalahan dan Perkembangannya
Medan Bisnis, 20 September 2010
Peran perbankan dalam perekonomian adalah sangat vital khususnya dalam lalu lintas perputaran uang. Diantara begitu banyak perbankan, kehadiran BPR yang menyediakan produk keuangan yang serupa dengan Bank konvensional lain ternyata memiliki penetrasi yang lebih baik dibandingkan dengan perbankan lain khususnya untuk Usaha Mikro dan Kecil. Seiring dengan persaingan dunia perbankan yang kian ketat, BPR sepertinya tidak akan luntur serta masih menjadi salah satu perbankan yang diminati masyarakat.
Ada banyak hal yang memoengaruhi kinerja BPR baik yang dipengaruhi oleh sisi internal dan eksternal. Karakteristik BPR yang memiliki kemudahan dalam penyaluran kredit serta memberikan keuntungan simpanan dibandingkan dengan bank konvensional lain menjadi daya tarik tersendiri sehingga BPR masih diminati. Segmentasi pasar BPR yang memasarkan produknya kepada masyarakat kecil serta UMK diperkirakan menjadi alasan utama kenapa BPR bisa bertahan hingga saat ini.
BPR adalah salah satu bentuk lembaga keuangan mikro di Indonesia yang telah memiliki akar dalam sosial ekonomi masyarakat pedesaan Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan tersedianya lembaga perkreditan ditengah masyarakat Indonesia seperti Lembaga Perkreditan Rakyat di Jawa pada tahun 1900 (Colter, 1984).
Dan untuk di daerah Sumatera Utara, lembaga kemasyarakatan yang berfungsi membantu masyarakat dalam bidang permodalan usaha kecil merupakan cikal bakal BPR. Selanjutnya peran para perantau sumatera utara yang berada diluar daerah yang bersepakat untuk memupuk modal dan mendirikan BPR dengan tujuan dapat membantu UMK yang ada di Sumatera Utara, merupakan komponen penting yang turut mengembangkan BPR di SUMUT dalam perkembangannya.
Walaupun jumlah penyaluran kredit BPR ke masyarakat menunjukan tren peningkatan. Namun, peningkatan itu masih relatif kecil dari jumlah kredit yang disalurkan oleh Perbankan kepada UKM. Peran BPR sebagai lembaga intermediasi yang mudah dijangkau oleh usaha rakyat sampai ke perdesaan diharapkan mampu menumbuh kembangkan dan meningkatkan daya saing UMK.
Bank Indonesia di tahun 2006 silam menyarankan untuk meningkatkan peran BPR dalam pemberian pelayanan kepada UMK adalah dengan memperkuat kelembagaan BPR dengan membenahi berbagai faktor diantaranya struktur pendanaan, SDM, selera konsumen, infrastruktur pendukung, dan operasional BPR yang efisien. Karena persaingan yang kian ketat dimana BPR saat ini harus bersaing dengan unit pembiayaan lainnya seperti dengan bank umum, koperasi dan pegadaian.
Sejauh ini, BPR di Sumatera Utara, telah berperan dalam menjalankan fungsi intermediasi dengan cukup baik. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah dana, yang dapat dihinipun dan disalurkan lebih jauh peran ini juga dapat terlihat dari meningkatnya jumlah nasabah yang dilayani BPR serta adanya peningkatan prestasi UMK yang menjadi nasabah BPR. Namun demikian ada kendala yang harus di hadapi BPR.
Kendala tersebut seperti Relatif tingginya tingkat bunga yang di tawarkan oleh BPR, tingginya cost of fund, biaya provisi dan biaya operasional yang juga tinggi, belum tersosialisasinya keberadaan. BPR ditengah masyarakat, Keengganan pengusaha itu sendiri berhubungan dengan BPR. Yang seharusnya dapat menjadi nasabah potensial BPR. Hingga tingginya tingkat persaingan BPR dalam pembiayaan UMK baik bersaing dengan sesama, BPR maupun dengan lembaga keuangan dan non keuangan lainnya.
Prospek BPR untuk pembiayaan UMK dimasa datang masih sangat besar. Hal ini sejalan dengan prediksi yang menunjukkan terus berkembangnya UMK dimasa datang. Hal ini seiring dengan peran UMK sebagai tulang punggung perekonomian yang bisa diandalkan, sehingga pemerintah pusat dan daerah. memiliki kepentingan untuk terus mendorong pertumbuhan UMK untuk dapat memberikan kontribusi maksimum terhadap perekonomian.
Peran perbankan dalam perekonomian adalah sangat vital khususnya dalam lalu lintas perputaran uang. Diantara begitu banyak perbankan, kehadiran BPR yang menyediakan produk keuangan yang serupa dengan Bank konvensional lain ternyata memiliki penetrasi yang lebih baik dibandingkan dengan perbankan lain khususnya untuk Usaha Mikro dan Kecil. Seiring dengan persaingan dunia perbankan yang kian ketat, BPR sepertinya tidak akan luntur serta masih menjadi salah satu perbankan yang diminati masyarakat.
Ada banyak hal yang memoengaruhi kinerja BPR baik yang dipengaruhi oleh sisi internal dan eksternal. Karakteristik BPR yang memiliki kemudahan dalam penyaluran kredit serta memberikan keuntungan simpanan dibandingkan dengan bank konvensional lain menjadi daya tarik tersendiri sehingga BPR masih diminati. Segmentasi pasar BPR yang memasarkan produknya kepada masyarakat kecil serta UMK diperkirakan menjadi alasan utama kenapa BPR bisa bertahan hingga saat ini.
BPR adalah salah satu bentuk lembaga keuangan mikro di Indonesia yang telah memiliki akar dalam sosial ekonomi masyarakat pedesaan Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan tersedianya lembaga perkreditan ditengah masyarakat Indonesia seperti Lembaga Perkreditan Rakyat di Jawa pada tahun 1900 (Colter, 1984).
Dan untuk di daerah Sumatera Utara, lembaga kemasyarakatan yang berfungsi membantu masyarakat dalam bidang permodalan usaha kecil merupakan cikal bakal BPR. Selanjutnya peran para perantau sumatera utara yang berada diluar daerah yang bersepakat untuk memupuk modal dan mendirikan BPR dengan tujuan dapat membantu UMK yang ada di Sumatera Utara, merupakan komponen penting yang turut mengembangkan BPR di SUMUT dalam perkembangannya.
Walaupun jumlah penyaluran kredit BPR ke masyarakat menunjukan tren peningkatan. Namun, peningkatan itu masih relatif kecil dari jumlah kredit yang disalurkan oleh Perbankan kepada UKM. Peran BPR sebagai lembaga intermediasi yang mudah dijangkau oleh usaha rakyat sampai ke perdesaan diharapkan mampu menumbuh kembangkan dan meningkatkan daya saing UMK.
Bank Indonesia di tahun 2006 silam menyarankan untuk meningkatkan peran BPR dalam pemberian pelayanan kepada UMK adalah dengan memperkuat kelembagaan BPR dengan membenahi berbagai faktor diantaranya struktur pendanaan, SDM, selera konsumen, infrastruktur pendukung, dan operasional BPR yang efisien. Karena persaingan yang kian ketat dimana BPR saat ini harus bersaing dengan unit pembiayaan lainnya seperti dengan bank umum, koperasi dan pegadaian.
Sejauh ini, BPR di Sumatera Utara, telah berperan dalam menjalankan fungsi intermediasi dengan cukup baik. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah dana, yang dapat dihinipun dan disalurkan lebih jauh peran ini juga dapat terlihat dari meningkatnya jumlah nasabah yang dilayani BPR serta adanya peningkatan prestasi UMK yang menjadi nasabah BPR. Namun demikian ada kendala yang harus di hadapi BPR.
Kendala tersebut seperti Relatif tingginya tingkat bunga yang di tawarkan oleh BPR, tingginya cost of fund, biaya provisi dan biaya operasional yang juga tinggi, belum tersosialisasinya keberadaan. BPR ditengah masyarakat, Keengganan pengusaha itu sendiri berhubungan dengan BPR. Yang seharusnya dapat menjadi nasabah potensial BPR. Hingga tingginya tingkat persaingan BPR dalam pembiayaan UMK baik bersaing dengan sesama, BPR maupun dengan lembaga keuangan dan non keuangan lainnya.
Prospek BPR untuk pembiayaan UMK dimasa datang masih sangat besar. Hal ini sejalan dengan prediksi yang menunjukkan terus berkembangnya UMK dimasa datang. Hal ini seiring dengan peran UMK sebagai tulang punggung perekonomian yang bisa diandalkan, sehingga pemerintah pusat dan daerah. memiliki kepentingan untuk terus mendorong pertumbuhan UMK untuk dapat memberikan kontribusi maksimum terhadap perekonomian.
Ramadhan Inflasi Dan Kemiskinan
Medan Bisnis, 30 Agustus 2010
Kemiskinan merupakan masalah yang paling mendesak untuk segera ditanggulangi saat ini. Kemiskinan belum pernah hilang dari dunia ini. Di Indonesia jumlah orang miskin tidak banyak berkurang dalam tiga puluh tahun terakhir. Masih dikisaran 40 juta jiwa masyarakat miskin di Indonesia.
Sementara itu, penerapan kebijakan moneter oleh pemerintah merupakan instrument keuangan modern sebagai salah satu cara untuk mengentaskan kemiskinan. Kebijakan moneter memiliki peran strategis dalam mengentaskan kemiskinan. Kebijakan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI Rate) secara krusial turut menentukan kondisi perekonomian nasional.
Meski demikian kebijakan moneter yang mengedepankan pengendalian suku bunga memiliki dampak yang berbeda bila dilihat dari jangka waktu (panjang/pendek) terhadap golongan miskin. Seperti kebijakan moneter yang ekspansif yang lebih bersifat menambah laju pertumbuhan akan memberikan dampak positif terhadap perbaikan kondisi golongan miskin dalam jangka pendek.
Sementara itu, kebijakan moneter yang lebih bersifat hati-hati (prudent) dengan mengendalikan inflasi agar tetap rendah serta pertumbuhan ekonomi yang stabil akan berkorelasi positif terhadap perbaikan ekonomi golongan miskin dalam jangka panjang.
Pada dasarnya tingkat kemiskinan akan berkurang apabila tingkat pengangguran berkurang. Dan hubungan tersebut bisa dilakukan dengan kebijakan moneter yang lebih longgar (suku bunga rendah). Meskipun akan timbul inflasi karena kebijakan moneter longgar, namun inflasi tersebut akan menurunkan jumlah golongan miskin dalam jangka waktu pendek.
Seperti di Bulan suci ramadhan ini. Aktifitas ekonomi masyarakat kita yang lebih banyak mengkonsumsi jelas berdampak pada tingginya laju inflasi. Namun, disaat itu juga perputaran uang semakin besar sehingga jumlah permintaan meningkat dan menciptakan jumlah permintaan tenaga kerja sehingga mengurangi tingkat pengangguran dan golongan miskin.
Akan tetapi, kondisi tersebut akan menambah laju tekanan inflasi sehingga berdampak pada kebijakan moneter yang lebih ketat. Yang berujung pada meningkatnya suku bunga acuan dan berdampak pada semakin mengecilnya kemampuan ekonomi dalam menyerap tenaga kerja baru serta mengurangi pengangguran.
Laju inflasi yang tidak terkendali dan bergerak liar tentunya akan meningkatkan resiko ekonomi yang besar pula. Dan hari-hari yang paling besar memberikan kontribusi terhadap inflasi salah satunya adalah hari-hari di bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Dimana inflasi selalu berada dalam puncak tertinggi dalam kurun waktu setahun.
Sepanjang sejarah Indonesia, kemiskinan selalu menjadi masalah fenomenal. Kemiskinan selalu identik dengan ketidak mampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan yang paling mendasar. Kemiskinan dapat berupa kelaparan, ketiadaan rumah, tidak dapat berobat, tidak punya pekerjaan, tidak bisa bersekolah. Ada kekhawatiran pada golongan miskin dalam menatap masa depan, karena kemampuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup hari ini saja.
Kemiskinan itu memiliki seribu wajah, berubah dari waktu ke waktu. Namun yang pasti kemiskinan merupakan situasi dimana seseorang butuh ditolong atau diselamatkan. Kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan yang bersifat multidimensional. Yang berkaitan dengan aspek social, ekonomi, budaya dan aspek lainnya (sumodiningrat, 1998:26).
Oleh karena itu, dari sisi moneter, kebijakan yang lebih mengutamakan pengendalian inflasi serta dapat menjaga stabilitas pertumbuhan merupakan kebijakan yang tepat untuk pengentasan kemiskinan dalam jangka panjang. Dan untuk menambah daya beli masyarakat golongan miskin, bertepatan dengan bulan ramdhan umat muslim dapat menggunakan zakat sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi ketidakmampuan golongan miskin.
Kemiskinan merupakan masalah yang paling mendesak untuk segera ditanggulangi saat ini. Kemiskinan belum pernah hilang dari dunia ini. Di Indonesia jumlah orang miskin tidak banyak berkurang dalam tiga puluh tahun terakhir. Masih dikisaran 40 juta jiwa masyarakat miskin di Indonesia.
Sementara itu, penerapan kebijakan moneter oleh pemerintah merupakan instrument keuangan modern sebagai salah satu cara untuk mengentaskan kemiskinan. Kebijakan moneter memiliki peran strategis dalam mengentaskan kemiskinan. Kebijakan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI Rate) secara krusial turut menentukan kondisi perekonomian nasional.
Meski demikian kebijakan moneter yang mengedepankan pengendalian suku bunga memiliki dampak yang berbeda bila dilihat dari jangka waktu (panjang/pendek) terhadap golongan miskin. Seperti kebijakan moneter yang ekspansif yang lebih bersifat menambah laju pertumbuhan akan memberikan dampak positif terhadap perbaikan kondisi golongan miskin dalam jangka pendek.
Sementara itu, kebijakan moneter yang lebih bersifat hati-hati (prudent) dengan mengendalikan inflasi agar tetap rendah serta pertumbuhan ekonomi yang stabil akan berkorelasi positif terhadap perbaikan ekonomi golongan miskin dalam jangka panjang.
Pada dasarnya tingkat kemiskinan akan berkurang apabila tingkat pengangguran berkurang. Dan hubungan tersebut bisa dilakukan dengan kebijakan moneter yang lebih longgar (suku bunga rendah). Meskipun akan timbul inflasi karena kebijakan moneter longgar, namun inflasi tersebut akan menurunkan jumlah golongan miskin dalam jangka waktu pendek.
Seperti di Bulan suci ramadhan ini. Aktifitas ekonomi masyarakat kita yang lebih banyak mengkonsumsi jelas berdampak pada tingginya laju inflasi. Namun, disaat itu juga perputaran uang semakin besar sehingga jumlah permintaan meningkat dan menciptakan jumlah permintaan tenaga kerja sehingga mengurangi tingkat pengangguran dan golongan miskin.
Akan tetapi, kondisi tersebut akan menambah laju tekanan inflasi sehingga berdampak pada kebijakan moneter yang lebih ketat. Yang berujung pada meningkatnya suku bunga acuan dan berdampak pada semakin mengecilnya kemampuan ekonomi dalam menyerap tenaga kerja baru serta mengurangi pengangguran.
Laju inflasi yang tidak terkendali dan bergerak liar tentunya akan meningkatkan resiko ekonomi yang besar pula. Dan hari-hari yang paling besar memberikan kontribusi terhadap inflasi salah satunya adalah hari-hari di bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Dimana inflasi selalu berada dalam puncak tertinggi dalam kurun waktu setahun.
Sepanjang sejarah Indonesia, kemiskinan selalu menjadi masalah fenomenal. Kemiskinan selalu identik dengan ketidak mampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan yang paling mendasar. Kemiskinan dapat berupa kelaparan, ketiadaan rumah, tidak dapat berobat, tidak punya pekerjaan, tidak bisa bersekolah. Ada kekhawatiran pada golongan miskin dalam menatap masa depan, karena kemampuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup hari ini saja.
Kemiskinan itu memiliki seribu wajah, berubah dari waktu ke waktu. Namun yang pasti kemiskinan merupakan situasi dimana seseorang butuh ditolong atau diselamatkan. Kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan yang bersifat multidimensional. Yang berkaitan dengan aspek social, ekonomi, budaya dan aspek lainnya (sumodiningrat, 1998:26).
Oleh karena itu, dari sisi moneter, kebijakan yang lebih mengutamakan pengendalian inflasi serta dapat menjaga stabilitas pertumbuhan merupakan kebijakan yang tepat untuk pengentasan kemiskinan dalam jangka panjang. Dan untuk menambah daya beli masyarakat golongan miskin, bertepatan dengan bulan ramdhan umat muslim dapat menggunakan zakat sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi ketidakmampuan golongan miskin.
Tren Bullish Pasar Akan Tertahan
Medan Bisnis, 23 Agustus 2010
Pasar uang kembali terguncang dan membuat panik bursa saham. Banyak investor yang menjual sahamnya dan beralih ke aset yang lebih aman atau biasa disebut dengan safe heaven. Yang menjadi pemicu memburuknya kinerja pasar keuangan global adalah realisasi klaim pengangguran di AS yang meningkat melebihi ekspektai sebelumnya.
Klaim pengangguran di AS meningkat 12,000 dari angka 500,000 minggu lalu, tertinggi sejak pertengahan November lalu. Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebelumnya yang sebesar 476,000. Data tersebut berdampak pada menguatnya nilai tukar US Dolar karena banyak investor yang melirik Obligasi dibandingkan dengan pasar saham.
Hal ini mengakibatkan nilai Dolar naik dan memaksa Euro terkoreksi mendekati harga terendah dalam lima minggu terkahir di $1.2660. Selain itu koreksi juga terjadi di pasar komoditi. Harga minyak dunia turun lebih dari 1 persen. Penurunan harga minyak tersebut menambah sederet berita buruk bagi pasar keuangan global seiring memburuknya jumlah pengangguran AS serta data sektor fabrikan yang juga terus memburuk.
Indikator bursa saham AS seperti Indeks Dow Jones ditutup minus 57.59 points, atau 0.56 percent, ke 10,213.62, sementara indek Standard & Poor's 500 jatuh 3.94 points, atau 0.37 percent, ke 1,071.69. Hanya indeks Nasdaq yang naik 0.81 points, atau 0.04 percent, ke 2,179.76. Memburuknya kinerja bursa AS tersebut akan memberikan dampak negatif bagi perdangangan saham di bursa global.
Dari kawasan Eropa, perekonomian negara tersebut juga masih mengkhawatirkan. Seiring pernyataan dari salah satu pejabat Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa, bahwa ECB semestinya memperpanjang kebijakan fiskal yang lebih longgar. Pernyataan tersebut langsung di respon negatif oleh pasar serta menambah kekhawatiran bahwa ekonomi di zona Euro belum sepenuhnya pulih.
Di Indonesia, Bursa Saham kita maupun nilai tukar rupiah masih bergerak menguat dan seolah mengabaikan buruknya data perekonomian dari luar. Anomali yang terjadi di lantai bursa dan Rupiah seharusnya membuat kita semakin waspada akan kemungkinan adanya pembalikan modal atau biasa disebut dengan reversal.
Meskipun di topang oleh fundamental yang cukup kuat, Ekonomi kita dalam jangka pendek masih dibayangi oleh memburuknya kinerja inflasi yang suatu saat akan memberikan dampak negatif bagi Indeks Bursa dan Rupiah. Sentimen negatif dari luar tidak akan berlalu begitu saja tanpa memberikan dampak serupa terhadap kinerja pasar keuangan kita.
Terlebih bila Bank Indonesia tidak menaikkan suku bunga seiring dengan meningkatnya laju tekanan inflasi. Yang akan berdampak pada melemahnya nilai tukar Rupiah. Selain itu, pelemahan Rupiah tidak akan berdampak positif bagi kinerja ekspor kita karena lesunya perekonomian global yang menurunkan permintaan barang, khususnya barang barang komoditas.
Untuk itu, jangan terlalu berkeyakinan bahwa baik indeks bursa dan Rupiah akan melanjutkan tren penguatan dalam waktu dekat ini. Setidaknya data inflasi serta memburuknya kinerja sektor keuangan global akan tetap berpengaruh dalam waktu dekat ini. Anomali yang terjadi tidak menggaransi bahwa Rupiah dan saham akan sangat kuat terhadap guncangan eksternal.
Tren bullish yang terjadi saat ini tidak akan bertahan lama dan sangat rapuh sekali. Meskipun dalam jangka panjang masih menjanjikan, namun belum ada yang berani menjanjikan kapan ekonomi global akan terbebas dari kontraksi, yang kapan saja dapat mengguncang perekonoimian dalam negeri.
Pasar uang kembali terguncang dan membuat panik bursa saham. Banyak investor yang menjual sahamnya dan beralih ke aset yang lebih aman atau biasa disebut dengan safe heaven. Yang menjadi pemicu memburuknya kinerja pasar keuangan global adalah realisasi klaim pengangguran di AS yang meningkat melebihi ekspektai sebelumnya.
Klaim pengangguran di AS meningkat 12,000 dari angka 500,000 minggu lalu, tertinggi sejak pertengahan November lalu. Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebelumnya yang sebesar 476,000. Data tersebut berdampak pada menguatnya nilai tukar US Dolar karena banyak investor yang melirik Obligasi dibandingkan dengan pasar saham.
Hal ini mengakibatkan nilai Dolar naik dan memaksa Euro terkoreksi mendekati harga terendah dalam lima minggu terkahir di $1.2660. Selain itu koreksi juga terjadi di pasar komoditi. Harga minyak dunia turun lebih dari 1 persen. Penurunan harga minyak tersebut menambah sederet berita buruk bagi pasar keuangan global seiring memburuknya jumlah pengangguran AS serta data sektor fabrikan yang juga terus memburuk.
Indikator bursa saham AS seperti Indeks Dow Jones ditutup minus 57.59 points, atau 0.56 percent, ke 10,213.62, sementara indek Standard & Poor's 500 jatuh 3.94 points, atau 0.37 percent, ke 1,071.69. Hanya indeks Nasdaq yang naik 0.81 points, atau 0.04 percent, ke 2,179.76. Memburuknya kinerja bursa AS tersebut akan memberikan dampak negatif bagi perdangangan saham di bursa global.
Dari kawasan Eropa, perekonomian negara tersebut juga masih mengkhawatirkan. Seiring pernyataan dari salah satu pejabat Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa, bahwa ECB semestinya memperpanjang kebijakan fiskal yang lebih longgar. Pernyataan tersebut langsung di respon negatif oleh pasar serta menambah kekhawatiran bahwa ekonomi di zona Euro belum sepenuhnya pulih.
Di Indonesia, Bursa Saham kita maupun nilai tukar rupiah masih bergerak menguat dan seolah mengabaikan buruknya data perekonomian dari luar. Anomali yang terjadi di lantai bursa dan Rupiah seharusnya membuat kita semakin waspada akan kemungkinan adanya pembalikan modal atau biasa disebut dengan reversal.
Meskipun di topang oleh fundamental yang cukup kuat, Ekonomi kita dalam jangka pendek masih dibayangi oleh memburuknya kinerja inflasi yang suatu saat akan memberikan dampak negatif bagi Indeks Bursa dan Rupiah. Sentimen negatif dari luar tidak akan berlalu begitu saja tanpa memberikan dampak serupa terhadap kinerja pasar keuangan kita.
Terlebih bila Bank Indonesia tidak menaikkan suku bunga seiring dengan meningkatnya laju tekanan inflasi. Yang akan berdampak pada melemahnya nilai tukar Rupiah. Selain itu, pelemahan Rupiah tidak akan berdampak positif bagi kinerja ekspor kita karena lesunya perekonomian global yang menurunkan permintaan barang, khususnya barang barang komoditas.
Untuk itu, jangan terlalu berkeyakinan bahwa baik indeks bursa dan Rupiah akan melanjutkan tren penguatan dalam waktu dekat ini. Setidaknya data inflasi serta memburuknya kinerja sektor keuangan global akan tetap berpengaruh dalam waktu dekat ini. Anomali yang terjadi tidak menggaransi bahwa Rupiah dan saham akan sangat kuat terhadap guncangan eksternal.
Tren bullish yang terjadi saat ini tidak akan bertahan lama dan sangat rapuh sekali. Meskipun dalam jangka panjang masih menjanjikan, namun belum ada yang berani menjanjikan kapan ekonomi global akan terbebas dari kontraksi, yang kapan saja dapat mengguncang perekonoimian dalam negeri.
Benarkah Momentum Pemulihan Telah Datang?
Medan Bisnis, 16 Agustus 2010
Sejatinya proses pemulihan selalu mengangkat harga minyak ke level yang tinggi. Namun dalam beberapa hari perdagangan terakhir harga minyak dunia kembali turun setelah sebelumnya sempat berada di level $80/Barel. Tak lain dan tak bukan pernyataan Gubernur Bank Sentral AS yang masih meragukan pemulihan ekonomi AS menjadi salah satu pemicunya.
Kemampuan AS dalam menyerap minyak mulai melambat. Sebagaimana tersaji pada data cadangan BBM AS yang naik dan sekaligus merupakan rekor tertinggi berdasarkan laporan mingguan dalam periode 10 tahun terakhir. Performa menurun minyak juga diperburuk oleh data US trade deficit, yang diluar ekspektasi naik senilai 49.9 milyar dollar pada bulan Juni. Tertinggi sejak Oktober 2008 pada saat import naik menuju rekor dan eksport anjlok.
Indikator tersebut jelas bahwa ekonomi AS masih dalam perlambatan karena indicator harga minyak mentah dunia masih bergerak dan membentuk tren penurunan dari sisi harganya. Selama pasokan tetap tinggi, daya serap minyak masih rendah dan harga minyak cenderung turun maka kita masih bisa menilai bahwa proses pemulihan ekonomi dunia belum sepenuhnya on the track.
Sementara itu, laju pertumbuhan ekonomi di Asia juga masih disangsikan mampu membantu proses pemulihan ekonomi dunia. Kenyataannya data ekonomi terkini dari AS dan negara-negara lain menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi sedang kehilangan momentum. Terlebih ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa melambatnya ekonomi di AS dan negara-negara lain termasuk Eropa dan China dan diperkirakan tidak akan sanggup untuk mempertahankan proses pemulihan ekonomi yang sedang berjalan.
Setelah Fed memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi AS sedang melambat, beberapa data dari Negara lainnya juga merealisasikan angka yang sama buruknya. Yang pertama datang dari China. China yang sebelumnya sempat membukukan pertumbuhan yang fantastis ternyata saat ini sedang menunjukan gejala perlambatan.
Selain itu, Bank of England menurunkan lagi outlook terhadap kondisi ekonomi di Inggris. Dan kondisi ini diperparah lagi mengenai data perdagangan dari AS yang menunjukkan terjadinya penurunan ekspor dari negara tersebut, sinyal bahwa para pengusaha manufaktur dalam negeri tidak dapat terus mengandalkan pasar luar negeri untuk menjadi pengganti turunnya permintaan di dalam negeri.
Dan selanjutnya kita pasti bisa memperkirakan bahwa data tersebut mengakibatkan kepanikan di pasar saham. Dan hampir semua saham di dunia tergkoreksi tajam. Bahkan Dow Jones sempat anjlok 265 poin. Dan anjloknya bursa saham AS tersebut diikuti oleh bursa-bursa saham di Asia. Nikkei anjlok sebesar 0.9% sementara Hang Seng mengalami penurunan 1.5%.
Hal tersebut menepis keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi ternyata belum mampu mengangkat perekonomian AS dari keterpurukan. Meskipun ekonomi mulai kembali tumbuh, namun petumbuhannya terlalu lambat untuk dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kembali pendapatan masyarakat.
Dengan melambatnya perekonomian China serta belum pulihnya ekonomi AS, maka akan terjadi fluktuasi yang berpotensi mengguncang pasar keuangan kita. Menjelang awal pekan ini, AS akan merilis data produksi pabrikan AS dan penjualan perumahan yang diperkirakan meningkat selama bulan juli lalu.
Prediksi tersebut belum sepenuhnya benar, Masih ada kemungkinan yang terjadi lainnya. Oleh karena itu kita harus tetap mewaspadai kemungkinan yang terjadi sebelum data tersebut bener-bener dirilis. Setidaknya ekspektasi data tersebut diikuti denganlonjakan harga minyak mentah dunia.
Sejatinya proses pemulihan selalu mengangkat harga minyak ke level yang tinggi. Namun dalam beberapa hari perdagangan terakhir harga minyak dunia kembali turun setelah sebelumnya sempat berada di level $80/Barel. Tak lain dan tak bukan pernyataan Gubernur Bank Sentral AS yang masih meragukan pemulihan ekonomi AS menjadi salah satu pemicunya.
Kemampuan AS dalam menyerap minyak mulai melambat. Sebagaimana tersaji pada data cadangan BBM AS yang naik dan sekaligus merupakan rekor tertinggi berdasarkan laporan mingguan dalam periode 10 tahun terakhir. Performa menurun minyak juga diperburuk oleh data US trade deficit, yang diluar ekspektasi naik senilai 49.9 milyar dollar pada bulan Juni. Tertinggi sejak Oktober 2008 pada saat import naik menuju rekor dan eksport anjlok.
Indikator tersebut jelas bahwa ekonomi AS masih dalam perlambatan karena indicator harga minyak mentah dunia masih bergerak dan membentuk tren penurunan dari sisi harganya. Selama pasokan tetap tinggi, daya serap minyak masih rendah dan harga minyak cenderung turun maka kita masih bisa menilai bahwa proses pemulihan ekonomi dunia belum sepenuhnya on the track.
Sementara itu, laju pertumbuhan ekonomi di Asia juga masih disangsikan mampu membantu proses pemulihan ekonomi dunia. Kenyataannya data ekonomi terkini dari AS dan negara-negara lain menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi sedang kehilangan momentum. Terlebih ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa melambatnya ekonomi di AS dan negara-negara lain termasuk Eropa dan China dan diperkirakan tidak akan sanggup untuk mempertahankan proses pemulihan ekonomi yang sedang berjalan.
Setelah Fed memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi AS sedang melambat, beberapa data dari Negara lainnya juga merealisasikan angka yang sama buruknya. Yang pertama datang dari China. China yang sebelumnya sempat membukukan pertumbuhan yang fantastis ternyata saat ini sedang menunjukan gejala perlambatan.
Selain itu, Bank of England menurunkan lagi outlook terhadap kondisi ekonomi di Inggris. Dan kondisi ini diperparah lagi mengenai data perdagangan dari AS yang menunjukkan terjadinya penurunan ekspor dari negara tersebut, sinyal bahwa para pengusaha manufaktur dalam negeri tidak dapat terus mengandalkan pasar luar negeri untuk menjadi pengganti turunnya permintaan di dalam negeri.
Dan selanjutnya kita pasti bisa memperkirakan bahwa data tersebut mengakibatkan kepanikan di pasar saham. Dan hampir semua saham di dunia tergkoreksi tajam. Bahkan Dow Jones sempat anjlok 265 poin. Dan anjloknya bursa saham AS tersebut diikuti oleh bursa-bursa saham di Asia. Nikkei anjlok sebesar 0.9% sementara Hang Seng mengalami penurunan 1.5%.
Hal tersebut menepis keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi ternyata belum mampu mengangkat perekonomian AS dari keterpurukan. Meskipun ekonomi mulai kembali tumbuh, namun petumbuhannya terlalu lambat untuk dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kembali pendapatan masyarakat.
Dengan melambatnya perekonomian China serta belum pulihnya ekonomi AS, maka akan terjadi fluktuasi yang berpotensi mengguncang pasar keuangan kita. Menjelang awal pekan ini, AS akan merilis data produksi pabrikan AS dan penjualan perumahan yang diperkirakan meningkat selama bulan juli lalu.
Prediksi tersebut belum sepenuhnya benar, Masih ada kemungkinan yang terjadi lainnya. Oleh karena itu kita harus tetap mewaspadai kemungkinan yang terjadi sebelum data tersebut bener-bener dirilis. Setidaknya ekspektasi data tersebut diikuti denganlonjakan harga minyak mentah dunia.
Ramadhan Tiba, Inflasi Tiba Lebih Dulu, BI Rate Menyusul
Medan Bisnis, 9 Agustus 2010
Laju inflasi selama bulan Juli 2010 naik secara fantastis sebesar 1.57%. Besaran kenaikan inflasi tersebut banyak di sumbang oleh kenaikan kebutuhan pokok. Pemicu kenaikan harga barang tersebut diyakini berasal dari tahun ajaran baru, kenaikan TDL (Tarif dasar Listrik) hingga musim penghujan yang membuat banyak petani gagal panen.
Laju tekanan inflasi yang tinggi tersebut diyakini akan berlanjut di bulan Agustus ini. Kenapa? Inflasi musiman akan datang seiring dengan perayaan keagamaan seperti Bulan Ramadhan, Idul Fitri. Menjelang akhir tahun akan ada Natal dan Tahun Baru yang nantinya juga akan menyumbang bagi tekanan inflasi. Selain itu, dampak buruk dari kenaikan TDL akan menjadi mimpi buruk terhadap harga barang nantinya.
Meski Inflasi sudah beranjak naik, namun kita bersyukur Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di angka 6.5%. Keputusan BI tersebut akan memberikan kontribusi positif terhadap ekspektasi PDB (produk domestik bruto) Indonesia di semester II 2010 ini. Realisasi PDB kita yang sangat fantastis melebihi ekspektasi pasar kembali menggairahkan pasar keuangan kita.
Nilai tukar Rupiah menguat tajam terhadap US Dolar di kisaran Rp.8980/$. Cadangan devisa pun meningkat signifikan. Cukup untuk membiayai impor 6 bulan kedepan. Angka angka fenomenal tersebut membuat pasar semakin optimis bahwa Indonesia nantinya akan mencetak pertumbuhan melebihi ekspektasi menteri keuangan Indonesia yang baru. Angka pertumbuhan yang diprediksikan IMF (lebih tinggi dari prediksi pemerintah) sepertinya lebih mungkin terealisasi.
Hanya saja suku bunga acuan atau BI Rate diyakini akan naik menjelang akhir tahun ini. Inflasi yang tinggi memang harus diredam dengan suku bunga yang lebih tinggi pula. Walau demikian, pemerintah tetap optimis laju tekanan inflasi di tahun 2011 akan lebih terkendali dibandingkan dengan tahun 2010 ini.
Namun, hal tersebut tidaklah selalu tepat. Prospek pemulihan ekonomi global bisa saja mendongkrak harga minyak mentah dunia. Sejauh ini pemerintah selalu membuat asumsi harga minyak yang dinilai tidak sepenuhnya tepat karena minyak itu sendiri bergejolak. Dan tentunya hal tersebut harus diwaspadai. Apabila tidak maka akan ada peluang terciptanya tekanan inflasi yang berdampak pada kenaikan BI Rate. Karena BI Rate yang terlalu tinggi tidak cukup sehat untuk mencetak laju pertumbuhan ekonomi.
Sejauh ini yang dapat kita lihat adalah BI dengan Dewan Gubernur-nya yang akan menempuh kebijakan moneter dan perbankan yang diperlukan agar perkembangan inflasi ke depan tetap berada pada sasaran yang ditetapkan, yaitu 5 persen ± 1 persen untuk tahun 2010 dan 2011.
Beberapa kebijakan yang umum adalah pengendalian Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan, serta pengendalian jumlah uang beredar di masyarakat. Dimana kebijakan GWM tersebut biasanya akan mengganggu proses intermediasi perbankan. Meskipun masih dapat dikendalikan.
Hal-hal yang dapat membuat BI nyaman dalam mengendalikan inflasi kedepan adalah penguatan nilai tukar Rupiah yang sangat tajam. Penguatan mata uang Rupiah itulah yang nantinya akan menyelamatkan kita dari lonjakan harga minyak mentah dunia, impor yang tinggi hingga tekanan inflasi yang signifikan. Dengan semua indikator tanpa ada kejutan2 lain maka BI Rate diharapkan hanya naik satu kali lagi hingga akhir tahun 2011 mendatang.
Laju inflasi selama bulan Juli 2010 naik secara fantastis sebesar 1.57%. Besaran kenaikan inflasi tersebut banyak di sumbang oleh kenaikan kebutuhan pokok. Pemicu kenaikan harga barang tersebut diyakini berasal dari tahun ajaran baru, kenaikan TDL (Tarif dasar Listrik) hingga musim penghujan yang membuat banyak petani gagal panen.
Laju tekanan inflasi yang tinggi tersebut diyakini akan berlanjut di bulan Agustus ini. Kenapa? Inflasi musiman akan datang seiring dengan perayaan keagamaan seperti Bulan Ramadhan, Idul Fitri. Menjelang akhir tahun akan ada Natal dan Tahun Baru yang nantinya juga akan menyumbang bagi tekanan inflasi. Selain itu, dampak buruk dari kenaikan TDL akan menjadi mimpi buruk terhadap harga barang nantinya.
Meski Inflasi sudah beranjak naik, namun kita bersyukur Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di angka 6.5%. Keputusan BI tersebut akan memberikan kontribusi positif terhadap ekspektasi PDB (produk domestik bruto) Indonesia di semester II 2010 ini. Realisasi PDB kita yang sangat fantastis melebihi ekspektasi pasar kembali menggairahkan pasar keuangan kita.
Nilai tukar Rupiah menguat tajam terhadap US Dolar di kisaran Rp.8980/$. Cadangan devisa pun meningkat signifikan. Cukup untuk membiayai impor 6 bulan kedepan. Angka angka fenomenal tersebut membuat pasar semakin optimis bahwa Indonesia nantinya akan mencetak pertumbuhan melebihi ekspektasi menteri keuangan Indonesia yang baru. Angka pertumbuhan yang diprediksikan IMF (lebih tinggi dari prediksi pemerintah) sepertinya lebih mungkin terealisasi.
Hanya saja suku bunga acuan atau BI Rate diyakini akan naik menjelang akhir tahun ini. Inflasi yang tinggi memang harus diredam dengan suku bunga yang lebih tinggi pula. Walau demikian, pemerintah tetap optimis laju tekanan inflasi di tahun 2011 akan lebih terkendali dibandingkan dengan tahun 2010 ini.
Namun, hal tersebut tidaklah selalu tepat. Prospek pemulihan ekonomi global bisa saja mendongkrak harga minyak mentah dunia. Sejauh ini pemerintah selalu membuat asumsi harga minyak yang dinilai tidak sepenuhnya tepat karena minyak itu sendiri bergejolak. Dan tentunya hal tersebut harus diwaspadai. Apabila tidak maka akan ada peluang terciptanya tekanan inflasi yang berdampak pada kenaikan BI Rate. Karena BI Rate yang terlalu tinggi tidak cukup sehat untuk mencetak laju pertumbuhan ekonomi.
Sejauh ini yang dapat kita lihat adalah BI dengan Dewan Gubernur-nya yang akan menempuh kebijakan moneter dan perbankan yang diperlukan agar perkembangan inflasi ke depan tetap berada pada sasaran yang ditetapkan, yaitu 5 persen ± 1 persen untuk tahun 2010 dan 2011.
Beberapa kebijakan yang umum adalah pengendalian Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan, serta pengendalian jumlah uang beredar di masyarakat. Dimana kebijakan GWM tersebut biasanya akan mengganggu proses intermediasi perbankan. Meskipun masih dapat dikendalikan.
Hal-hal yang dapat membuat BI nyaman dalam mengendalikan inflasi kedepan adalah penguatan nilai tukar Rupiah yang sangat tajam. Penguatan mata uang Rupiah itulah yang nantinya akan menyelamatkan kita dari lonjakan harga minyak mentah dunia, impor yang tinggi hingga tekanan inflasi yang signifikan. Dengan semua indikator tanpa ada kejutan2 lain maka BI Rate diharapkan hanya naik satu kali lagi hingga akhir tahun 2011 mendatang.
Uji Ketahanan (Stress Test) Bank di Eropa
Medan Bisnis, 26 Juli 2010
Komite Pengawas Perbankan Eropa (CEBS) mengumumkan bahwa tujuh dari 91 lembaga-lembaga keuangan Uni Eropa, yang mewakili 65 persen dari sektor perbankan Uni Eropa, telah gagal dalam tes yang dirancang untuk menilai kapasitas menghadapi krisis ekonomi atau keuangan. Yang berarti kondisi perbankan di Eropa masih Aman dalam melewati krisis yang sedang menjangkiti ekonomi di kawasan eropa tersebut.
Sementara itu, Portugal yang sebelumnya sempat di khawatirkan akan terpuruk karena defisitnya yang membesar. Justru saat ini bernafas lega karena empat bank utama Portugal semuanya telah lolos stress tests (uji ketahanan) Eropa. Dari hasil test tersebut berarti ke empat Bank tersebut tidak membutuhkan tambahan dana segar. Padahal sebelumnya Bank swasta terbesar di Portugal sempat diturunkan peringkatnya oleh pemeringkat utang Fitch karena membutuhkan dana dari bank sentral Eropa agar tetap menjalankan bisnis.
Namun, pasar punya pandangan tersendiri terhadap mata uang Euro . Sesaat setelah diumumkan Euro sempat melemah terhadap US Dolar meskipun kembali menguat tipis. Hal ini menunjukan bahwa pasar tidak sepenuhnya menyambut baik atas hasil stress test tersebut. Nuansa cemas masih tetap ada karena dari hasil tersebut tidak semua Bank dinyatakan sehat. Perlu penelaahan yang lebih mendalam terkait hasil uji ketahanan Bank tersebut.
Terkait dengan hasil uji ketahanan Bank di Eropa, penulis meyakini pasar keuangan kita akan kembali bergeliat. Hal tersebut dikarenakan kepercayaan investor akan kembali kepada Negara yang memberikan yield tinggi. Rupiah berpeluang menguat signifikan dalam perdagangan minggu ini. Demikian halnya juga dengan IHSG, berpeluang besar naik terus dan meninggalkan level 3000.
Gejolak pada pasar keuangan kita bisa diredam dan akan mengembalikan kepercayaan investor akan pentingnya faktor fundamental. Selain itu, bursa di AS masih tetap membukukan kenaikan setelah beberapa emiten besar tetap membukukan kenaikan laba yang berujung pada melonjaknya harga saham emiten tersebut. Data sektor perumahan AS juga lebih baik dari ekspektasi banyak analis sebelumnya.
Kredibilitas hasil uji ketahanan Bank di Eropa memang masih belum teruji sepenuhnnya. Seperti pada uji ketahanan Bank di AS, dimana hasil stress test menunjukkan 10 dari 19 bank besar AS ternyata memerlukan tambahan modal. Dan tentunya itu menimbulkan skeptisme yang luar biasa dan berdampak pada koeksi yang tajam terhadap pasar keuangan kita.
Bank-bank Asing yang beroperasional di Indonesia tentunya akan terpengaruh dengan hasil stress test yang jelek. Soalnya Bank sebagai intermediator aliran dana, dan sebagai “jantung” yang memompa perputaran uang. Tentunya bila Bank Sakit maka sektor lain juga akan sakit. Akan tetapi, hasil dari stress test Bank di Eropa tersebut sepertinya tidak akan berdampak negatif terhadap perbankan kita.
Tidak begitu banyak Bank di Eropa yang membutuhkan suntikan dana dalam operasionalnya. Perbankan kita dinilai juga masih sehat, apalagi kita masih mencetak pertumbuhan ekonomi kendati banyak Negara yang justru pertumbuhan ekonominya negatif. Jepang yang menaikan rating Indonesia masuk dalam investment grade versi mereka juga sangat menguntungkan perbankan kita. Kita hanya menunggu lembaga pemeringkat lain untuk mengikuti langkah serupa dari negeri sakura tersebut.
Dunia perbankan kita masih ditopang oleh fundamental yang mumpuni. Indeks bursa kita dinilai masih aman dari gejolak yang bisa saja muncul terkait dengan uji ketahanan Bank di Eropa. Nilai tukar Rupiah, IHSG masih akan dilirik oleh pemodal baik dari dalam dan luar negeri. Aliran dana akan tetap mengalir kepada Negara yang memberlakukan suku bunga tinggi, salah satunya Indonesia.
Komite Pengawas Perbankan Eropa (CEBS) mengumumkan bahwa tujuh dari 91 lembaga-lembaga keuangan Uni Eropa, yang mewakili 65 persen dari sektor perbankan Uni Eropa, telah gagal dalam tes yang dirancang untuk menilai kapasitas menghadapi krisis ekonomi atau keuangan. Yang berarti kondisi perbankan di Eropa masih Aman dalam melewati krisis yang sedang menjangkiti ekonomi di kawasan eropa tersebut.
Sementara itu, Portugal yang sebelumnya sempat di khawatirkan akan terpuruk karena defisitnya yang membesar. Justru saat ini bernafas lega karena empat bank utama Portugal semuanya telah lolos stress tests (uji ketahanan) Eropa. Dari hasil test tersebut berarti ke empat Bank tersebut tidak membutuhkan tambahan dana segar. Padahal sebelumnya Bank swasta terbesar di Portugal sempat diturunkan peringkatnya oleh pemeringkat utang Fitch karena membutuhkan dana dari bank sentral Eropa agar tetap menjalankan bisnis.
Namun, pasar punya pandangan tersendiri terhadap mata uang Euro . Sesaat setelah diumumkan Euro sempat melemah terhadap US Dolar meskipun kembali menguat tipis. Hal ini menunjukan bahwa pasar tidak sepenuhnya menyambut baik atas hasil stress test tersebut. Nuansa cemas masih tetap ada karena dari hasil tersebut tidak semua Bank dinyatakan sehat. Perlu penelaahan yang lebih mendalam terkait hasil uji ketahanan Bank tersebut.
Terkait dengan hasil uji ketahanan Bank di Eropa, penulis meyakini pasar keuangan kita akan kembali bergeliat. Hal tersebut dikarenakan kepercayaan investor akan kembali kepada Negara yang memberikan yield tinggi. Rupiah berpeluang menguat signifikan dalam perdagangan minggu ini. Demikian halnya juga dengan IHSG, berpeluang besar naik terus dan meninggalkan level 3000.
Gejolak pada pasar keuangan kita bisa diredam dan akan mengembalikan kepercayaan investor akan pentingnya faktor fundamental. Selain itu, bursa di AS masih tetap membukukan kenaikan setelah beberapa emiten besar tetap membukukan kenaikan laba yang berujung pada melonjaknya harga saham emiten tersebut. Data sektor perumahan AS juga lebih baik dari ekspektasi banyak analis sebelumnya.
Kredibilitas hasil uji ketahanan Bank di Eropa memang masih belum teruji sepenuhnnya. Seperti pada uji ketahanan Bank di AS, dimana hasil stress test menunjukkan 10 dari 19 bank besar AS ternyata memerlukan tambahan modal. Dan tentunya itu menimbulkan skeptisme yang luar biasa dan berdampak pada koeksi yang tajam terhadap pasar keuangan kita.
Bank-bank Asing yang beroperasional di Indonesia tentunya akan terpengaruh dengan hasil stress test yang jelek. Soalnya Bank sebagai intermediator aliran dana, dan sebagai “jantung” yang memompa perputaran uang. Tentunya bila Bank Sakit maka sektor lain juga akan sakit. Akan tetapi, hasil dari stress test Bank di Eropa tersebut sepertinya tidak akan berdampak negatif terhadap perbankan kita.
Tidak begitu banyak Bank di Eropa yang membutuhkan suntikan dana dalam operasionalnya. Perbankan kita dinilai juga masih sehat, apalagi kita masih mencetak pertumbuhan ekonomi kendati banyak Negara yang justru pertumbuhan ekonominya negatif. Jepang yang menaikan rating Indonesia masuk dalam investment grade versi mereka juga sangat menguntungkan perbankan kita. Kita hanya menunggu lembaga pemeringkat lain untuk mengikuti langkah serupa dari negeri sakura tersebut.
Dunia perbankan kita masih ditopang oleh fundamental yang mumpuni. Indeks bursa kita dinilai masih aman dari gejolak yang bisa saja muncul terkait dengan uji ketahanan Bank di Eropa. Nilai tukar Rupiah, IHSG masih akan dilirik oleh pemodal baik dari dalam dan luar negeri. Aliran dana akan tetap mengalir kepada Negara yang memberlakukan suku bunga tinggi, salah satunya Indonesia.
TDL Naik, Luka Lama (Inflasi) Muncul Kembali?
Medan Bisnis, 19 Juli 2010Besaran kenaikan tariff dasar listrik (TDL) menjadi polemik baru-baru ini. Pemerintah menempuh kebijakan tersebut seiring disaat semua kebutuhan pokok naik menjelang bulan suci Ramadahan, liburan sekolah, serta cuaca buruk yang menyebabkan banyak petani yang gagal panen.
TDL memang tidak naik untuk semua kalangan masyarakat. Bagi pengguna listrik di bawah 900 watt masih bisa bernafas lega karena TDL masih tetap sama. Akan tetapi, kenaikan TDL tersebut akan berdampak pada laju inflasi yang tinggi dan bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK). Mereka yang paling dirugikan adalah para pengguna listrik diatas 900 Watt, atau para pelaku usaha tentunya.
Besaran kenaikan TDL yang menurut PLN berada dikisaran 5-18%, tentunya tidak membuat para pengusaha bergembira. Bahkan apabila kenaikan TDL lebih dari 18%, maka Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menilai kenaikan tarif dasar listrik tersebut tidak sesuai dengan komitmen Perusahaan Listrik Negara (PLN). Rasa penuh kecurigaan muncul karena APINDO menilai PLN bisa saja menaikkan TDL lebih besar dari yang dijanjikan sebelumnya.
Kenaikan TDL seperti skenario saat ini, seolah-olah mampu menyelamatkan masyarakat dari dampak negatif ekonomis bagi mereka yang menggunakan daya lebih kecil dari 900 watt. Benarkah demikian?. Kalau dihitung-hitung kenaikan TDL sebesar apapun akan tetap berdampak pada ekonomi masyarakat kita secara keseluruhan. Kenaikan TDL akan memberikan dampak kenaikan biaya produksi dan nilai jual, yang dapat berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kenaikan TDL meskipun tidak diperuntukan bagi masyarakat kalangan bawah, namun melonjaknya harga kebutuhan akibat kenaikan TDL akan tetap membebani masyarakat di sisi lain. Sehingga laju tekanan inflasi akan terus meningkat, dan nantinya akan mempengaruhi suku bunga acuan atau biasa dikenal denga istilah BI Rate.
Kenaikan BI Rate, biasaya akan langsung diikuti oleh kenaikan suku bunga Bank yang nantinya akan berdampak pada meningkatnya suku bunga kredit. Sehingga kemampuan sektor riil dalam menyerap tenaga kerja baru menurun. Pasar keuangan kita yang dibebani dengan suku bunga tinggi akan menekan nilai tukar Rupiah sehingga berdampak pada meningkatnya laju tekanan inflasi untuk barang impor.
Selain itu, tingkat suku bunga yang rendah di Negara lain akan memberikan berkah dan pengaruh tersendiri bagi masuknya dana jangka pendek dari luar atau biasa disebut dengan hot money. Nah, Uang panas tersebut yang nantinya akan menahan tekanan terhadap rupiah. Meskipun entah berapa lama penguatan tersebut akan bertahan. Pastinya berharap agar dana panas tersebut lama mengendap di negeri ini.
Kenaikan TDL yang dilakukan pemerintah saat ini seperti aji mumpung. Di saat Indonesia masuk dalam Negara yang layak investasi, maka tepat kiranya jika TDL dinaikkan . Jepang telah memasukan Indonesia sebagai Negara yang layak investasi, sementara lembaga pemeringkat kelas dunia masih harus menilai Indonesia setidaknya 2 tahun kedepan agar Indonesia masuk dalam Negara layak investasi. Dampak membaiknya rating Indonesia akan mengangkat level Indonesia dan mempermudah Negara kita untuk mendapatkan investor luar untuk berinvestasi disini.
Jadi, kisruh kenaikan TDL saat ini akan tertutupi dengan hal lain yang nantinya dinilai masih akan tetap memberikan kabar baik buat Negara kita. Inflasi yang tinggi, perayaan keagamaan, tahun ajaran baru serta cuaca buruk yang berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok naik, akan menjadi topik utama dalam waktu dekat ini.
Meskipun terkadang masih jauh dari mungkin atau bahkan hanya mimpi, semoga aja kenaikan barang yag menjepit kita saat ini tidak berlarut-larut, dan memberikan harapan akan pemulihan di masa yag akan datang. Short term pain but a chance for long term gain.
TDL memang tidak naik untuk semua kalangan masyarakat. Bagi pengguna listrik di bawah 900 watt masih bisa bernafas lega karena TDL masih tetap sama. Akan tetapi, kenaikan TDL tersebut akan berdampak pada laju inflasi yang tinggi dan bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK). Mereka yang paling dirugikan adalah para pengguna listrik diatas 900 Watt, atau para pelaku usaha tentunya.
Besaran kenaikan TDL yang menurut PLN berada dikisaran 5-18%, tentunya tidak membuat para pengusaha bergembira. Bahkan apabila kenaikan TDL lebih dari 18%, maka Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menilai kenaikan tarif dasar listrik tersebut tidak sesuai dengan komitmen Perusahaan Listrik Negara (PLN). Rasa penuh kecurigaan muncul karena APINDO menilai PLN bisa saja menaikkan TDL lebih besar dari yang dijanjikan sebelumnya.
Kenaikan TDL seperti skenario saat ini, seolah-olah mampu menyelamatkan masyarakat dari dampak negatif ekonomis bagi mereka yang menggunakan daya lebih kecil dari 900 watt. Benarkah demikian?. Kalau dihitung-hitung kenaikan TDL sebesar apapun akan tetap berdampak pada ekonomi masyarakat kita secara keseluruhan. Kenaikan TDL akan memberikan dampak kenaikan biaya produksi dan nilai jual, yang dapat berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kenaikan TDL meskipun tidak diperuntukan bagi masyarakat kalangan bawah, namun melonjaknya harga kebutuhan akibat kenaikan TDL akan tetap membebani masyarakat di sisi lain. Sehingga laju tekanan inflasi akan terus meningkat, dan nantinya akan mempengaruhi suku bunga acuan atau biasa dikenal denga istilah BI Rate.
Kenaikan BI Rate, biasaya akan langsung diikuti oleh kenaikan suku bunga Bank yang nantinya akan berdampak pada meningkatnya suku bunga kredit. Sehingga kemampuan sektor riil dalam menyerap tenaga kerja baru menurun. Pasar keuangan kita yang dibebani dengan suku bunga tinggi akan menekan nilai tukar Rupiah sehingga berdampak pada meningkatnya laju tekanan inflasi untuk barang impor.
Selain itu, tingkat suku bunga yang rendah di Negara lain akan memberikan berkah dan pengaruh tersendiri bagi masuknya dana jangka pendek dari luar atau biasa disebut dengan hot money. Nah, Uang panas tersebut yang nantinya akan menahan tekanan terhadap rupiah. Meskipun entah berapa lama penguatan tersebut akan bertahan. Pastinya berharap agar dana panas tersebut lama mengendap di negeri ini.
Kenaikan TDL yang dilakukan pemerintah saat ini seperti aji mumpung. Di saat Indonesia masuk dalam Negara yang layak investasi, maka tepat kiranya jika TDL dinaikkan . Jepang telah memasukan Indonesia sebagai Negara yang layak investasi, sementara lembaga pemeringkat kelas dunia masih harus menilai Indonesia setidaknya 2 tahun kedepan agar Indonesia masuk dalam Negara layak investasi. Dampak membaiknya rating Indonesia akan mengangkat level Indonesia dan mempermudah Negara kita untuk mendapatkan investor luar untuk berinvestasi disini.
Jadi, kisruh kenaikan TDL saat ini akan tertutupi dengan hal lain yang nantinya dinilai masih akan tetap memberikan kabar baik buat Negara kita. Inflasi yang tinggi, perayaan keagamaan, tahun ajaran baru serta cuaca buruk yang berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok naik, akan menjadi topik utama dalam waktu dekat ini.
Meskipun terkadang masih jauh dari mungkin atau bahkan hanya mimpi, semoga aja kenaikan barang yag menjepit kita saat ini tidak berlarut-larut, dan memberikan harapan akan pemulihan di masa yag akan datang. Short term pain but a chance for long term gain.
Eropa, Masih Jauh Dari Pemulihan?
Medan Bisnis, 12 Juli 2010
Dalam beberapa hari terakhir mata uang Eropa terpantau menguat terhadap hampir semua mata uang dunia. Pelaku pasar berpendapat bahwa proses recovery global mulai menunjukan pemulihan yang berarti sehingga membuat kepercayaan investor kembali pulih terhadap Euro.
Ekonomi negara perancis mengalami perbaikan seperti yang dilansir oleh Institut Statistik dan Ekonomi Nasional Perancis (Institut National de la Statistique et des Études Économiques: INSEE) yang melaporkan adanya peningkatan kinerja pada sektor industri Perancis. Lembaga tersebut melaporkan bahwa indikator French Industrial Production m/m mengalami kenaikan menjadi 1.7%. dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya naik menjadi 0.3% dari nilai pada periode lalu yaitu -0.5%.
Sementara itu, dari Inggris, National Statistics melaporkan aktivitas ekonomi di Inggris belum menunjukan aktivitas ekonomi yang lebih baik dimana tingkat harga umum barang-barang input produksi perekonomian Inggris masih bernilai negatif. Walaupun sedikit lebih baik dari periode seblumnya namun hasil tersebut masih menunjukkan adanya kelesuan pada aktivitas produksi.
Selain itu defisit neraca perdagangan negara tersebut juga dilaporkan meningkat. Rilis dat terkini menunjukkan bahwa indikator Trade Balance turun menjadi -8.1 miliar Poundsterling dimana sebelumnya diperkirakan akan membaik menjadi -7.1 miliar Poundsterling dari nilai pada periode sebelumnya yaitu -7.3 miliar Poundsterling .
Kondisi ekonomi eropa tersebut diyakini mampu memberikan angin segar ke pasar keuangan meskipun dalam tempo yang tidak lama. Selin itu, datang dukungan dari menguatnya indeks konsumsi masyarakat AS yang mengalami kenaikan. Hal tersebut telah mendorong indeks bursa dow jones dan bursa global naik signifikan. Dow Jones bahkan kembali menanjak di atas level 10.000.
Sejauh ini negara di kawasan Eropa masih mengandalkan kebijakan penghematan anggaran yang dinilai belum akan mampu menuntaskan permasalahan pokok dari krisis keuangan saat ini. Penghematan anggaran berarti akan mengurangi kemampuan negara tersebut dalam memerangi pengangguran. Hal yang paling krusial yang harus segera di benahi.
Terlebih, baru-baru ini International Monetery Fund (IMF) mengeluarkan pernyataan bahwa Uni Eropa menghadapi resiko yang besar terkait krisis keuangan publik. Pernyataan tersebut telah memicu spekulasi bahwa kebijakan penghematan anggaran akan tentunya akan mengurangi permintaan terhadap komoditi. Dan lagi-lagi China sepertinya juga mengalami hal yang sama dengan menurunkan permintaan akan komoditi khususnya batu bara.
Kebijakan-kebijakan yang diambil tersebut belum menggambarkan adanya pemulihan yang signifikan. Wacana-wacana yang berkembang seputar ekonomi masih berputar-putar dan belum memberikan jawaban pasti akan pemulihan yang sebenarnya. Silih berganti wacana tersebut memberikan warna dan sekaligus menjadi berita yang bisa saja ditafsirkan dalam banyak sudut pandang, dan terkadang memunculkan spekulasi.
Para pelaku pasar juga terlarut dalam dinamika tersebut. Dan berdampak pada pola pergerakan mata uang dan saham yang memiliki volatilitas yang searah dengan perubahan wacana. Perlu pemahaman serta kesabaran dalam menganalisa aktifitas ekonomi tersebut dalam jangka panjang, sehingga tidak terjebak pada volatilitas yang menghasilkan kerugian finansial.
Dalam beberapa hari terakhir mata uang Eropa terpantau menguat terhadap hampir semua mata uang dunia. Pelaku pasar berpendapat bahwa proses recovery global mulai menunjukan pemulihan yang berarti sehingga membuat kepercayaan investor kembali pulih terhadap Euro.
Ekonomi negara perancis mengalami perbaikan seperti yang dilansir oleh Institut Statistik dan Ekonomi Nasional Perancis (Institut National de la Statistique et des Études Économiques: INSEE) yang melaporkan adanya peningkatan kinerja pada sektor industri Perancis. Lembaga tersebut melaporkan bahwa indikator French Industrial Production m/m mengalami kenaikan menjadi 1.7%. dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya naik menjadi 0.3% dari nilai pada periode lalu yaitu -0.5%.
Sementara itu, dari Inggris, National Statistics melaporkan aktivitas ekonomi di Inggris belum menunjukan aktivitas ekonomi yang lebih baik dimana tingkat harga umum barang-barang input produksi perekonomian Inggris masih bernilai negatif. Walaupun sedikit lebih baik dari periode seblumnya namun hasil tersebut masih menunjukkan adanya kelesuan pada aktivitas produksi.
Selain itu defisit neraca perdagangan negara tersebut juga dilaporkan meningkat. Rilis dat terkini menunjukkan bahwa indikator Trade Balance turun menjadi -8.1 miliar Poundsterling dimana sebelumnya diperkirakan akan membaik menjadi -7.1 miliar Poundsterling dari nilai pada periode sebelumnya yaitu -7.3 miliar Poundsterling .
Kondisi ekonomi eropa tersebut diyakini mampu memberikan angin segar ke pasar keuangan meskipun dalam tempo yang tidak lama. Selin itu, datang dukungan dari menguatnya indeks konsumsi masyarakat AS yang mengalami kenaikan. Hal tersebut telah mendorong indeks bursa dow jones dan bursa global naik signifikan. Dow Jones bahkan kembali menanjak di atas level 10.000.
Sejauh ini negara di kawasan Eropa masih mengandalkan kebijakan penghematan anggaran yang dinilai belum akan mampu menuntaskan permasalahan pokok dari krisis keuangan saat ini. Penghematan anggaran berarti akan mengurangi kemampuan negara tersebut dalam memerangi pengangguran. Hal yang paling krusial yang harus segera di benahi.
Terlebih, baru-baru ini International Monetery Fund (IMF) mengeluarkan pernyataan bahwa Uni Eropa menghadapi resiko yang besar terkait krisis keuangan publik. Pernyataan tersebut telah memicu spekulasi bahwa kebijakan penghematan anggaran akan tentunya akan mengurangi permintaan terhadap komoditi. Dan lagi-lagi China sepertinya juga mengalami hal yang sama dengan menurunkan permintaan akan komoditi khususnya batu bara.
Kebijakan-kebijakan yang diambil tersebut belum menggambarkan adanya pemulihan yang signifikan. Wacana-wacana yang berkembang seputar ekonomi masih berputar-putar dan belum memberikan jawaban pasti akan pemulihan yang sebenarnya. Silih berganti wacana tersebut memberikan warna dan sekaligus menjadi berita yang bisa saja ditafsirkan dalam banyak sudut pandang, dan terkadang memunculkan spekulasi.
Para pelaku pasar juga terlarut dalam dinamika tersebut. Dan berdampak pada pola pergerakan mata uang dan saham yang memiliki volatilitas yang searah dengan perubahan wacana. Perlu pemahaman serta kesabaran dalam menganalisa aktifitas ekonomi tersebut dalam jangka panjang, sehingga tidak terjebak pada volatilitas yang menghasilkan kerugian finansial.
Badai Itu Datang Kembali
Medan Bisnis, 5 Juli 2010
Badan Metereologi Dan Geofisika (BMG) menyatakan bahwa telah terjadi musim hujan yang seharusnya tidak terjadi di saat musim kemarau itu tiba. Perubahan iklim yang terjadi tersebut telah membuat prediksi para ahli meleset. Namun, anomali yang serupa ternyata juga sempat menghampiri bursa kita dalam perdaganganga beberapa hari sebelumnya.
Bursa kita sempat menguat meskipun terjadi pelemahan pada hampir semua bursa di Asia dan Dunia. Anomali tersebut seolah-olah menggambarkan fundamental ekonomi kita yang sangat kuat sehingga mampu menahan volatilitas bursa global yang liar serta memiliki kecenderungan harga yang terus menurun. Kebijakan dari lembaga pemeringkat yang akan memotong sejumlah peringkat hutang Negara eropa seolah menjadai badai yang siap meluluh-lantakkan bursa.
Lihat saja Spanyol, negara matador tersebut akan dipangkas peringkat hutangnya oleh Fitch Ratings sehingga menekan pasar keuangan di Eropa. Demikian halnya berita buruk dari China. Negara tersebut diyakini melambat pertumbuhannya. Sehingga mata uang Yuan China kembali beranjak melemah terhadap US Dolar.
Dan masih ada lagi kabar buruk lainnya. Pelemahan di bursa Wall Street masih berlanjut seiring masih datangnya kabar-kabar ekonomi yang negatif, salah satunya dari angka pengangguran AS yang belum juga membaik. Departemen Tenaga Kerja AS menyatakan bahwa pengangguran meningkat menjadi 472.000 (pada minggu 26 juni) atau meningkat 13.000 dari minggu sebelumnya yang tercatat diangka 459.000.
Belum lagi selesai data ketenaga kerjaan, datang lagi berita buruk lainnya, yaitu angka penjualan rumah AS yang turun selama Mei. National Association Realtors mengungkapkan, indeks penjualan rumahnya turun 30% menjadi 77,6 berdasarkan kontrak yang dibuat di bulan Mei. Indeks ini sebelumnya telah naik selama 3 bulan berturut-turut bahkan sempat menembus titik tertingginya di 110,9 pada periode sebelumya.
Diantara semua kabar buruk tersebut, ada kabar baik yang tersisa, yakni data manufaktur AS. Dimana tumbuh untuk 11 bulan berturut-turut, meskipun dalam angka yang masih lebih jelek dari ekspektasi sebelumnya. Harga Saham di AS pada jumat kemarin mengalami tekanan meskipun mulai mereda di saat menjelang penutupan.
Pada perdagangan Kamis (1/7/2010), indeks Dow Jones melemah 41,49 poin (0,42%) ke level 9.732,53. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 3,33 poin (0,32%) ke level 1.027,38 dan Nasdaq melemah 7,88 poin (0,37%) ke level 2.101,36. Perhatian pasar sepertinya mulai beralih dari masalah krisis di Eropa ke data-data perekonomian AS yang mengkhawatirkan seiring lambatnya pemulihan ekonomi.
Awal pekan ini, IHSG sepertinya akan bernasib serupa. Melemahnya indeks bursa dunia di yakini akan berdampak pada pelemahan harga saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG akan kembali mengalami tekanan hebat, karena IHSG sudah menguat cukup tinggi, sehingga IHSG lebih rentan terhadap guncangan yang terjadi di bursa global.
Penguatan nilai tukar Rupiah akan sedikit memberikan angin segar bagi pergerakan indeks. Namun Rupiah diyakini tidak akan menguat lebih tinggi lagi. Musim pembagian deviden sepertinya tidak akan mampu mencuri perhatian dari rontoknya indeks bursa dunia. Namun, pelemahan tersebut akan memacu indeks turun kedalam posisi yang secara teknikal sudah murah. Sehingga akan memicu rebound sesaat secara teknikal.
Badan Metereologi Dan Geofisika (BMG) menyatakan bahwa telah terjadi musim hujan yang seharusnya tidak terjadi di saat musim kemarau itu tiba. Perubahan iklim yang terjadi tersebut telah membuat prediksi para ahli meleset. Namun, anomali yang serupa ternyata juga sempat menghampiri bursa kita dalam perdaganganga beberapa hari sebelumnya.
Bursa kita sempat menguat meskipun terjadi pelemahan pada hampir semua bursa di Asia dan Dunia. Anomali tersebut seolah-olah menggambarkan fundamental ekonomi kita yang sangat kuat sehingga mampu menahan volatilitas bursa global yang liar serta memiliki kecenderungan harga yang terus menurun. Kebijakan dari lembaga pemeringkat yang akan memotong sejumlah peringkat hutang Negara eropa seolah menjadai badai yang siap meluluh-lantakkan bursa.
Lihat saja Spanyol, negara matador tersebut akan dipangkas peringkat hutangnya oleh Fitch Ratings sehingga menekan pasar keuangan di Eropa. Demikian halnya berita buruk dari China. Negara tersebut diyakini melambat pertumbuhannya. Sehingga mata uang Yuan China kembali beranjak melemah terhadap US Dolar.
Dan masih ada lagi kabar buruk lainnya. Pelemahan di bursa Wall Street masih berlanjut seiring masih datangnya kabar-kabar ekonomi yang negatif, salah satunya dari angka pengangguran AS yang belum juga membaik. Departemen Tenaga Kerja AS menyatakan bahwa pengangguran meningkat menjadi 472.000 (pada minggu 26 juni) atau meningkat 13.000 dari minggu sebelumnya yang tercatat diangka 459.000.
Belum lagi selesai data ketenaga kerjaan, datang lagi berita buruk lainnya, yaitu angka penjualan rumah AS yang turun selama Mei. National Association Realtors mengungkapkan, indeks penjualan rumahnya turun 30% menjadi 77,6 berdasarkan kontrak yang dibuat di bulan Mei. Indeks ini sebelumnya telah naik selama 3 bulan berturut-turut bahkan sempat menembus titik tertingginya di 110,9 pada periode sebelumya.
Diantara semua kabar buruk tersebut, ada kabar baik yang tersisa, yakni data manufaktur AS. Dimana tumbuh untuk 11 bulan berturut-turut, meskipun dalam angka yang masih lebih jelek dari ekspektasi sebelumnya. Harga Saham di AS pada jumat kemarin mengalami tekanan meskipun mulai mereda di saat menjelang penutupan.
Pada perdagangan Kamis (1/7/2010), indeks Dow Jones melemah 41,49 poin (0,42%) ke level 9.732,53. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 3,33 poin (0,32%) ke level 1.027,38 dan Nasdaq melemah 7,88 poin (0,37%) ke level 2.101,36. Perhatian pasar sepertinya mulai beralih dari masalah krisis di Eropa ke data-data perekonomian AS yang mengkhawatirkan seiring lambatnya pemulihan ekonomi.
Awal pekan ini, IHSG sepertinya akan bernasib serupa. Melemahnya indeks bursa dunia di yakini akan berdampak pada pelemahan harga saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG akan kembali mengalami tekanan hebat, karena IHSG sudah menguat cukup tinggi, sehingga IHSG lebih rentan terhadap guncangan yang terjadi di bursa global.
Penguatan nilai tukar Rupiah akan sedikit memberikan angin segar bagi pergerakan indeks. Namun Rupiah diyakini tidak akan menguat lebih tinggi lagi. Musim pembagian deviden sepertinya tidak akan mampu mencuri perhatian dari rontoknya indeks bursa dunia. Namun, pelemahan tersebut akan memacu indeks turun kedalam posisi yang secara teknikal sudah murah. Sehingga akan memicu rebound sesaat secara teknikal.
Sunday, February 13, 2011
China Melunak Terhadap Kebijakan Mata Uang Yuan
Medan Bisnis, 28 Juni 2010
Dalam setiap pertemuan penting tingkat internasional, Amerika Serikat selalu mengkampanyekan bahwa penyelesaian krisis dapat dilakukan dengan cara merevaluasi mata uang Yuan China. Dampak revaluasi Yuan China akan memberikan peluang bagi terciptanya kestabilan ekonomi dunia serta mempercpat proses pemulihan ekonomi dari krisis global. Setidaknya begitulah bntuk kampanye yang di lakukan negri paman sam.
Akan tetapi, pemrintah China melalui presidennya Hu Jintao menolak tekanan dari presiden Barrack Obama dengan mengatakan bahwa "penguatan Yuan tidak akan membuat perdagangan AS-Cina menjadi seimbang ataupun menyelesaikan persoalan pengangguran di Amerika". Begitulah isi pembicaraan kedua negara di sela-sela konferensi nuklir april lalu.
Presiden Obama memang mendapatkan tekanan dari dalam negerinya sendiri untuk menekan China. Karena negara tirai bambu tersebut mematok mata uangnya, sehingga barang-barang yang dihasilkan Amerika selalu lebih mahal dibandingkan dengan barang-barang China. Hal tersebutlah yang membuat barang-barang China lebih kompetitif dibandinkan dengan produk AS. Dan disinyalir sebagai akar masalah defisit neraca perdagangan AS.
Bahkan beberapa bulan yang lalu, dua senator AS mengisyaratkan ke kongres AS agar memberikan predikat kepada china sebagai “Currency Manipulator”. Atau Negara yang dengan sengaja memanipulasi mata uangnya demi tujuan maupun kepentingan Negara itu sendiri.
Ada beberapa alasan mengapa China menolak tekanan Amerika, yakni : melindungi produk China agar tetap kompetitif di pasar, menjaga agar nilai ekspor china tetap terjaga, menguasai pangsa pasar dunia, menumpuk cadangan devisa ataupun mengganti posisi Amerika sebagai Negara dengan tingkat PDB yang terbesar.
Tentunya ada begitu banyak penjelasan lain mengapa China melakukan kebijakan tersebut. Namun, Amerika juga punya alasan mengapa tetap menekan China. Amerika mengatakan kebijakan mata uang Yuan menciptakan ketidakseimbangan perdagangan antara kedua negara karena produk-produk China yang lebih murah harganya lebih banyak diserap pasar Amerika dibandingkan dengan barang-barang Amerika yang mahal yang masuk ke pasaran Cina dan kurang kompetitif.
Dengan menekan China, AS berharap China mampu menjadi pengganti AS yang sedang dilanda krisis untuk menjadi motor penggerak ekonomi dunia. AS memang berada dalam posisi yang kurang menguntungkan apabila dihadapkan dengan China. Kalau mengharapkan China menggantikan AS maka proses peralihan tersebut tidaklah semudah dan secepat yang diharapkan.
Kesalahan AS sebagai Negara yang besar karena defisit melebar serta hutang yang banyak, dan sedang dilanda krisis hebat memang membutuhkan China agar turut mampu menjadi stimulus untuk mengurangi permasalahan AS sendiri seperti pengangguran serta menkan defisit. Karena, Amerika yang terkena resesi akan lebih diuntungkan jika nilai tukar yuan terhadap dolar menguat atau dengan kata lain kurs dolar melemah, sehingga kinerja ekspor AS dapat ditingkatkan.
Begitulah perseteruan itu bergulir sebelumnya. Namun tgl 22 juni kemarin Nilai tukar yuan mengalami kenaikan tajam. Yuan menguat ke posisi tertinggi sejak mata uang ini di-revaluasi pada tahun 2005 lalu. Selain itu, Bank sentral China berjanji akan membiarkan nilai tukar yuan makin mengambang dengan bebas serta membuktikan komitmen China untuk membiarkan nilai tukar mata uang yang fleksibel.
China memutuskan melonggarkan kontrol terhadap nilai tukar yuan menjelang pertemuan negara anggota G-20 yang akan berlangsung akhir minggu ini. Selama dua tahun belakangan bank sentral China menerapkan kebijakan nilai tukar fixed terhadap dolar AS yang telah memicu banyak kritik dan menimbulkan ketegangan perdagangan antara AS dan China. China melunak rupanya.
Namun, bukan berarti permasalahan krisis langsung terselesaikan. Butuh pembuktian nyata apakah revaluasi Yuan saat ini benar-benar berdampak langsung terhadap proses pemulihan ke arah yang positif. Bisa saja ya, namun bagaimana kalau permasalahan krisis itu terbukti benar karena kesalahan AS yang punya banyak hutang serta kebijakan yang ceroboh dengan membiarkan deficit yang besar. Kalauitu terbukti, maka China dapat berubah pikiran untuk tetap mematok mata uangnya.
Dalam setiap pertemuan penting tingkat internasional, Amerika Serikat selalu mengkampanyekan bahwa penyelesaian krisis dapat dilakukan dengan cara merevaluasi mata uang Yuan China. Dampak revaluasi Yuan China akan memberikan peluang bagi terciptanya kestabilan ekonomi dunia serta mempercpat proses pemulihan ekonomi dari krisis global. Setidaknya begitulah bntuk kampanye yang di lakukan negri paman sam.
Akan tetapi, pemrintah China melalui presidennya Hu Jintao menolak tekanan dari presiden Barrack Obama dengan mengatakan bahwa "penguatan Yuan tidak akan membuat perdagangan AS-Cina menjadi seimbang ataupun menyelesaikan persoalan pengangguran di Amerika". Begitulah isi pembicaraan kedua negara di sela-sela konferensi nuklir april lalu.
Presiden Obama memang mendapatkan tekanan dari dalam negerinya sendiri untuk menekan China. Karena negara tirai bambu tersebut mematok mata uangnya, sehingga barang-barang yang dihasilkan Amerika selalu lebih mahal dibandingkan dengan barang-barang China. Hal tersebutlah yang membuat barang-barang China lebih kompetitif dibandinkan dengan produk AS. Dan disinyalir sebagai akar masalah defisit neraca perdagangan AS.
Bahkan beberapa bulan yang lalu, dua senator AS mengisyaratkan ke kongres AS agar memberikan predikat kepada china sebagai “Currency Manipulator”. Atau Negara yang dengan sengaja memanipulasi mata uangnya demi tujuan maupun kepentingan Negara itu sendiri.
Ada beberapa alasan mengapa China menolak tekanan Amerika, yakni : melindungi produk China agar tetap kompetitif di pasar, menjaga agar nilai ekspor china tetap terjaga, menguasai pangsa pasar dunia, menumpuk cadangan devisa ataupun mengganti posisi Amerika sebagai Negara dengan tingkat PDB yang terbesar.
Tentunya ada begitu banyak penjelasan lain mengapa China melakukan kebijakan tersebut. Namun, Amerika juga punya alasan mengapa tetap menekan China. Amerika mengatakan kebijakan mata uang Yuan menciptakan ketidakseimbangan perdagangan antara kedua negara karena produk-produk China yang lebih murah harganya lebih banyak diserap pasar Amerika dibandingkan dengan barang-barang Amerika yang mahal yang masuk ke pasaran Cina dan kurang kompetitif.
Dengan menekan China, AS berharap China mampu menjadi pengganti AS yang sedang dilanda krisis untuk menjadi motor penggerak ekonomi dunia. AS memang berada dalam posisi yang kurang menguntungkan apabila dihadapkan dengan China. Kalau mengharapkan China menggantikan AS maka proses peralihan tersebut tidaklah semudah dan secepat yang diharapkan.
Kesalahan AS sebagai Negara yang besar karena defisit melebar serta hutang yang banyak, dan sedang dilanda krisis hebat memang membutuhkan China agar turut mampu menjadi stimulus untuk mengurangi permasalahan AS sendiri seperti pengangguran serta menkan defisit. Karena, Amerika yang terkena resesi akan lebih diuntungkan jika nilai tukar yuan terhadap dolar menguat atau dengan kata lain kurs dolar melemah, sehingga kinerja ekspor AS dapat ditingkatkan.
Begitulah perseteruan itu bergulir sebelumnya. Namun tgl 22 juni kemarin Nilai tukar yuan mengalami kenaikan tajam. Yuan menguat ke posisi tertinggi sejak mata uang ini di-revaluasi pada tahun 2005 lalu. Selain itu, Bank sentral China berjanji akan membiarkan nilai tukar yuan makin mengambang dengan bebas serta membuktikan komitmen China untuk membiarkan nilai tukar mata uang yang fleksibel.
China memutuskan melonggarkan kontrol terhadap nilai tukar yuan menjelang pertemuan negara anggota G-20 yang akan berlangsung akhir minggu ini. Selama dua tahun belakangan bank sentral China menerapkan kebijakan nilai tukar fixed terhadap dolar AS yang telah memicu banyak kritik dan menimbulkan ketegangan perdagangan antara AS dan China. China melunak rupanya.
Namun, bukan berarti permasalahan krisis langsung terselesaikan. Butuh pembuktian nyata apakah revaluasi Yuan saat ini benar-benar berdampak langsung terhadap proses pemulihan ke arah yang positif. Bisa saja ya, namun bagaimana kalau permasalahan krisis itu terbukti benar karena kesalahan AS yang punya banyak hutang serta kebijakan yang ceroboh dengan membiarkan deficit yang besar. Kalauitu terbukti, maka China dapat berubah pikiran untuk tetap mematok mata uangnya.
Jangan Lengah Saat Piala Dunia
Medan Bisnis, 21 Juni 2010
Transaksi di lantai bursa boleh saja menipis dari hari kejari seiring dengan perhelatan akbar piala dunia. Sebelum piala dunia di gelar, tepatnya satu pekan sebelum di mulai indeks mulai bergerak dengan tren yang turun. Namun, setelah perhelatan akbar tersebut dimulai indeks harga saham gabung terus merangkak naik.
Sebelum piala dunia dimulai, indeks bursa di amerika pernah diperdagangkan di bawah level 10.000. Namun, setelah itu indeks bursa dow jones perlahan tapi pasti merangkak naik dan membuat indeks bursa lain turut terangkat ke atas. Pada saat semua mata tertuju pada ajang sepak bola piala dunia, Yunani, Portugal dan Spanyol mulai berbenah terhadap perekonomian yang saat ini sedang di landa krisis.
Saya pikir kita harus tetap memantau perkembangan seputar dunia keuangan yang terakhir. Jangan sampai kita ketinggalan kereta dan baru menyadari bahwa indeks ternyata sudah menembus 3000 karena kita tanpa sadar terfokus pada ajang piala dunia. Lihat saja indeks harga saham gabungan yang saat ini sudah mendekati level 2900. sadar atau tidak, IHSG mencoba membuat rekor tertinggi yang baru.
Perlahan tapi pasti, itulah ungkapan yang pas untuk kinerja IHSG. Investor asing kembali membeli saham-saham yang dinilai masih murah. Selama perhelatan piala dunia IHSG terus membukukan kenaikan yang ternyata lebih besar dari kenaikan indeks bursa regional maupun global. Di saat Hang Seng maupun Nikkei bergerak naik dikisaran nol koma sekian persen, IHSG bergerak diatas itu yakni naik dikisaran 1 Persen.
Meskipun kenaikan IHSG tidak sepenuhnya didukung oleh volume transaksi yang besar. Hal ini menunjukan bahwa ada yang mencoba mencuri kesempatan di saat semua orang lengah. Kelengahan tersebut bisa saja datang dari para analis yang menyatakan bahwa indeks selama piala dunia bergerak dengan kecenderungan turun. Atau bisa saja karena pelaku dipasar modal lebih mengikuti turnamen dalam ajang piala dunia dari pada perkembangan di dunia keuangan.
Ataupun ada alasan lain yang lebih bisa menjelaskan mengapa pasar yang bisa dibilang memasuki tren bullish saat ini, meskipun tidak dibarengi dengan volume transaksi yang besar. Historis mungkin bisa saja membuat fakta sedemikian rupa sehingga kita mempercayai bahwa yang pernah terjadi di masa lalu akan kembali terulang di masa yang akan datang.
Namun, faktor fundamental selalu mengungkapkan fakta yang tidak pernah bohong. Fundamental selalu membawa kita pada kenyataan yang sulit untuk dipungkiri. Fundamental itu bisa datang dari ekspektasi terhadap perekonomian di masa yang akan datang ataupun kinerja perusahaan yang memang masih sangat prospektif nantinya.
Fundamental, itulah ungkapan yang pas untuk menjelaskan kenapa bursa kita tetap naik walaupun banyak yang bilang akan turun di saat piala dunia. Lebih dari itu, disaat pemerintah menaikan traif dasar listrik (TDL), namun IHSG masih saja tetap melaju meskipun ada ancaman inflasi. Ini bukti bahwa fundamental ekonomi kita masih tetap solid nantinya.
Inflasi yang tercipta setelah kenaikan TDL memang akan menciptakan lonjakan inflasi. Meski demikian kejutan inflasi tersebut hanya terjadi sesaat, tidak akan membuat tekanan inflasi dalam jangka yang panjang. Karena ada indikator ekonomi lain yang akan membaik nantinya seiring dengan pengurangan subsidi pemerintah, salah satunya adalah cadangan devisa.
Meskipun kita belum sepenuhnya terlepas dari krisis. Namun jangan dilupakan kalau semua negara yang terkena krisis tengah bersusah payah mengatasinya, dan progress nya kian membuat pasar optimis. Kalau anda optimis bahwa negara jagoan anda akan menang dalam piala dunia, saya optimis IHSG akan terus membentuk tren bullish meskipun negara jagoan saya kalah dalam piala dunia.
Transaksi di lantai bursa boleh saja menipis dari hari kejari seiring dengan perhelatan akbar piala dunia. Sebelum piala dunia di gelar, tepatnya satu pekan sebelum di mulai indeks mulai bergerak dengan tren yang turun. Namun, setelah perhelatan akbar tersebut dimulai indeks harga saham gabung terus merangkak naik.
Sebelum piala dunia dimulai, indeks bursa di amerika pernah diperdagangkan di bawah level 10.000. Namun, setelah itu indeks bursa dow jones perlahan tapi pasti merangkak naik dan membuat indeks bursa lain turut terangkat ke atas. Pada saat semua mata tertuju pada ajang sepak bola piala dunia, Yunani, Portugal dan Spanyol mulai berbenah terhadap perekonomian yang saat ini sedang di landa krisis.
Saya pikir kita harus tetap memantau perkembangan seputar dunia keuangan yang terakhir. Jangan sampai kita ketinggalan kereta dan baru menyadari bahwa indeks ternyata sudah menembus 3000 karena kita tanpa sadar terfokus pada ajang piala dunia. Lihat saja indeks harga saham gabungan yang saat ini sudah mendekati level 2900. sadar atau tidak, IHSG mencoba membuat rekor tertinggi yang baru.
Perlahan tapi pasti, itulah ungkapan yang pas untuk kinerja IHSG. Investor asing kembali membeli saham-saham yang dinilai masih murah. Selama perhelatan piala dunia IHSG terus membukukan kenaikan yang ternyata lebih besar dari kenaikan indeks bursa regional maupun global. Di saat Hang Seng maupun Nikkei bergerak naik dikisaran nol koma sekian persen, IHSG bergerak diatas itu yakni naik dikisaran 1 Persen.
Meskipun kenaikan IHSG tidak sepenuhnya didukung oleh volume transaksi yang besar. Hal ini menunjukan bahwa ada yang mencoba mencuri kesempatan di saat semua orang lengah. Kelengahan tersebut bisa saja datang dari para analis yang menyatakan bahwa indeks selama piala dunia bergerak dengan kecenderungan turun. Atau bisa saja karena pelaku dipasar modal lebih mengikuti turnamen dalam ajang piala dunia dari pada perkembangan di dunia keuangan.
Ataupun ada alasan lain yang lebih bisa menjelaskan mengapa pasar yang bisa dibilang memasuki tren bullish saat ini, meskipun tidak dibarengi dengan volume transaksi yang besar. Historis mungkin bisa saja membuat fakta sedemikian rupa sehingga kita mempercayai bahwa yang pernah terjadi di masa lalu akan kembali terulang di masa yang akan datang.
Namun, faktor fundamental selalu mengungkapkan fakta yang tidak pernah bohong. Fundamental selalu membawa kita pada kenyataan yang sulit untuk dipungkiri. Fundamental itu bisa datang dari ekspektasi terhadap perekonomian di masa yang akan datang ataupun kinerja perusahaan yang memang masih sangat prospektif nantinya.
Fundamental, itulah ungkapan yang pas untuk menjelaskan kenapa bursa kita tetap naik walaupun banyak yang bilang akan turun di saat piala dunia. Lebih dari itu, disaat pemerintah menaikan traif dasar listrik (TDL), namun IHSG masih saja tetap melaju meskipun ada ancaman inflasi. Ini bukti bahwa fundamental ekonomi kita masih tetap solid nantinya.
Inflasi yang tercipta setelah kenaikan TDL memang akan menciptakan lonjakan inflasi. Meski demikian kejutan inflasi tersebut hanya terjadi sesaat, tidak akan membuat tekanan inflasi dalam jangka yang panjang. Karena ada indikator ekonomi lain yang akan membaik nantinya seiring dengan pengurangan subsidi pemerintah, salah satunya adalah cadangan devisa.
Meskipun kita belum sepenuhnya terlepas dari krisis. Namun jangan dilupakan kalau semua negara yang terkena krisis tengah bersusah payah mengatasinya, dan progress nya kian membuat pasar optimis. Kalau anda optimis bahwa negara jagoan anda akan menang dalam piala dunia, saya optimis IHSG akan terus membentuk tren bullish meskipun negara jagoan saya kalah dalam piala dunia.
Fokus Pasar Yang beralih Ke Piala Dunia
Medan Bisnis, 14 Juni 2010
Pagelaran akbar empat tahun sekali Piala Dunia telah dimulai dengan menyuguhkan pertandingan perdana antara Mexico dan Afrika Selatan yang berakhir dengan 1-1. Perhelatan yang diikuti 32 negara tersebut diyakini akan menjadi magnet tersendiri yang mampu menggeser sentiment investor di pasar keuangan. Meskipun sepak bola tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar keuangan, namun habit dari orang yang gila bola mampu membuat kita dapat melupakan dunia keuangan walaupun dalam tempo sesaat.
Fokus khalayak ramai akan terpaku kepada kinerja tim sepak bola di lapangan. Dan yang pasti kita tidak akan menemukan Negara besar ekonomi seperti AS dan China serta merta merajai dunia persepakbolaan,apalagi memenangkan tropi piala dunia – kecuali AS yang masuk dalam kompetisi, sehingga memiliki peluang untuk menjadi juara.
Dunia sepak bola tentunya berbeda dengan dunia keuangan. Sehingga kita tidak dapat mengukur kemampuan sebuah Negara besar (PDB yang tinggi) turut menjadi besar pula dalam dunia sepak bola. Kecuali dalam olimpiade, Negara besar seperti AS dan China kerap identik dengan merebut gelar juara di olimpiade. Karena Brazil yang sudah merebut gelar juara 5 kali dalam piala dunia, bukan merupakan Negara dengan PDB tertinggi, karena PDB Brazil berada diurutan 9 Dunia.
Brazil memang fantastis di dunia sepak bola. Tapi ekonomi brazil tidak sehebat Negara lain yang juga di jagokan di piala dunia. Lihat saja Italia, Negara yang juga difavoritkan juara pada piala dunia kali ini, masih lebih unggul dari Brazil kalau dilihat dari PDB nya. Kalau PDB dibandingkan dengan sepak bola. Maka AS dan China lah yang lebih “memalukan”. Terlebih China dengan PDB yang besar serta berpeluang menggeser AS sebagai Negara adidaya ekonomi dunia. China tidak tampil sama sekali di piala dunia.
Oleh karena itu, sulit untuk menemukan tolak ukur maupun formula yang tepat untuk mengukur sejauh mana hubungan atau korelasi antara ekonomi dengan sepak bola. Namun, banyak yang berpendapat bahwa pagelaran piala dunia selalu membuat pasar saham sepi transaksi, dan IHSG lebih cenderung turun pada saat piala dunia. Hebat.
Berdasarkan pengalaman pada Piala Dunia 2006 (9 Juni-9 Juli), indeks cenderung menurun sejak pertengahan Mei 2006. Tren ini diprediksi berlanjut sampai pelaksanaan turnamen Piala Dunia 2010. Kalau berkiblat pada data sebelumnya, maka kita akan melihat IHSG bergerak sideways dengan kecenderungan melemah. Nah, apa jadinya kalau piala dunia di selenggarakan di Negara dengan ekonomi besar seperti AS, Eropa dan Asia (China).
Di Indonesia saja pelaku pasar modalnya mulai kehilangan fokus. Bagaimana kalau sempat pelaku pasar modal di Negara besar tersebut kehilangan fokus. Tentunya indeks bursa global akan mengalami hal yang serupa yakni semua bursa dunia berpeluang terkoreksi. Sehingga kesimpulan yang akan mengemuka adalah Piala Dunia pemicu turunnya indeks bursa global.
Yang menarik bagi penulis adalah Korea Utara. Negara yang tertutup ekonominya itu, juga menutup diri dalam ajang sepak bola dunia. Dalam rilis di sebuah berita elektronik, Korea Utara melarang pemainnya untuk berinteraksi dengan wartawan. Korea Utara kian membuat orang berpikir bahwa Korea Utara sangat misterius.
Berbicara mengenai Ekonomi, Korea Utara sempat membuat indeks bursa global rontok pada saat Korea Utara dituding sebagai penyebab tenggelamnya kapal Korea Selatan. Dan berpotensi memicu perang di semenanjung korea. Coba kita bayangkan, apa jadinya bila Korea Utara bertemu Korea Selatan di ajang piala dunia. Mungkin perang tersebut sekaligus menjadi perang idiologi antara kedua Negara tersebut. Semoga saja piala dunia berjalan lancar dan tidak menimbulkan dampak negative terhadap pasar keuangan dunia.
Pagelaran akbar empat tahun sekali Piala Dunia telah dimulai dengan menyuguhkan pertandingan perdana antara Mexico dan Afrika Selatan yang berakhir dengan 1-1. Perhelatan yang diikuti 32 negara tersebut diyakini akan menjadi magnet tersendiri yang mampu menggeser sentiment investor di pasar keuangan. Meskipun sepak bola tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar keuangan, namun habit dari orang yang gila bola mampu membuat kita dapat melupakan dunia keuangan walaupun dalam tempo sesaat.
Fokus khalayak ramai akan terpaku kepada kinerja tim sepak bola di lapangan. Dan yang pasti kita tidak akan menemukan Negara besar ekonomi seperti AS dan China serta merta merajai dunia persepakbolaan,apalagi memenangkan tropi piala dunia – kecuali AS yang masuk dalam kompetisi, sehingga memiliki peluang untuk menjadi juara.
Dunia sepak bola tentunya berbeda dengan dunia keuangan. Sehingga kita tidak dapat mengukur kemampuan sebuah Negara besar (PDB yang tinggi) turut menjadi besar pula dalam dunia sepak bola. Kecuali dalam olimpiade, Negara besar seperti AS dan China kerap identik dengan merebut gelar juara di olimpiade. Karena Brazil yang sudah merebut gelar juara 5 kali dalam piala dunia, bukan merupakan Negara dengan PDB tertinggi, karena PDB Brazil berada diurutan 9 Dunia.
Brazil memang fantastis di dunia sepak bola. Tapi ekonomi brazil tidak sehebat Negara lain yang juga di jagokan di piala dunia. Lihat saja Italia, Negara yang juga difavoritkan juara pada piala dunia kali ini, masih lebih unggul dari Brazil kalau dilihat dari PDB nya. Kalau PDB dibandingkan dengan sepak bola. Maka AS dan China lah yang lebih “memalukan”. Terlebih China dengan PDB yang besar serta berpeluang menggeser AS sebagai Negara adidaya ekonomi dunia. China tidak tampil sama sekali di piala dunia.
Oleh karena itu, sulit untuk menemukan tolak ukur maupun formula yang tepat untuk mengukur sejauh mana hubungan atau korelasi antara ekonomi dengan sepak bola. Namun, banyak yang berpendapat bahwa pagelaran piala dunia selalu membuat pasar saham sepi transaksi, dan IHSG lebih cenderung turun pada saat piala dunia. Hebat.
Berdasarkan pengalaman pada Piala Dunia 2006 (9 Juni-9 Juli), indeks cenderung menurun sejak pertengahan Mei 2006. Tren ini diprediksi berlanjut sampai pelaksanaan turnamen Piala Dunia 2010. Kalau berkiblat pada data sebelumnya, maka kita akan melihat IHSG bergerak sideways dengan kecenderungan melemah. Nah, apa jadinya kalau piala dunia di selenggarakan di Negara dengan ekonomi besar seperti AS, Eropa dan Asia (China).
Di Indonesia saja pelaku pasar modalnya mulai kehilangan fokus. Bagaimana kalau sempat pelaku pasar modal di Negara besar tersebut kehilangan fokus. Tentunya indeks bursa global akan mengalami hal yang serupa yakni semua bursa dunia berpeluang terkoreksi. Sehingga kesimpulan yang akan mengemuka adalah Piala Dunia pemicu turunnya indeks bursa global.
Yang menarik bagi penulis adalah Korea Utara. Negara yang tertutup ekonominya itu, juga menutup diri dalam ajang sepak bola dunia. Dalam rilis di sebuah berita elektronik, Korea Utara melarang pemainnya untuk berinteraksi dengan wartawan. Korea Utara kian membuat orang berpikir bahwa Korea Utara sangat misterius.
Berbicara mengenai Ekonomi, Korea Utara sempat membuat indeks bursa global rontok pada saat Korea Utara dituding sebagai penyebab tenggelamnya kapal Korea Selatan. Dan berpotensi memicu perang di semenanjung korea. Coba kita bayangkan, apa jadinya bila Korea Utara bertemu Korea Selatan di ajang piala dunia. Mungkin perang tersebut sekaligus menjadi perang idiologi antara kedua Negara tersebut. Semoga saja piala dunia berjalan lancar dan tidak menimbulkan dampak negative terhadap pasar keuangan dunia.
Kecemasan Baru Muncul di Semenanjung Korea
Medan Bisnis, 31 Mei 2010
Dalam perdagangan beberapa hari terakhir sebelumnya Bursa saham Korea Selatan ditutup turun, tertekan oleh ketidakpastian hubungan politik dengan korea utara. Tim investigasi mengatakan Korea Utara sengaja menenggelamkan kapal perang Korea. Bursa pun berguguruan ditambah sentimen negatif kekhawatiran yang terus berlanjut di kawasan Eropa.
Mata uang Dollar AS pun ikut naik tajam terhadap won Korea. Dan diyakini ketegangan korea yang berkelanjutan akan memberikan tekanan terhadap Kospi, ditengah kekhawatiran yang masih berlanjut pada perekonomian kawasan Eropa. Korea Selatan merupakan Negara yang banyak menghasilkan Chip serta memiliki industri besar di bidang otomotif harus menelan pil pahit karena saham di sektor tersebut berguguran.
Dampak yang paling menonjol dari ketegangan korea adalah rontoknya indeks bursa di kawasan asia, tanpa terkecuali Indonesia. Meski dalam kondisi tegang dan berpeluang menciptakan perang baru, namun perkembangan terhadap proses yang sedang terjadi sepertinya masih dapat meminimalisir kemungkinan rontoknya indeks bursa. Hingga perang yang dikhawatirkan itu benar-benar terjadi.
Korea Utara merupakan Negara yang unik sebagai negara sosialis, namun dikelilingi oleh negara dengan ekonomi liberal yang berpendapatan tinggi. Akan tetapi korut sendiri tidak terpengaruh dengan liberalisasi negara-negara tetangganya. Korea Utara memiliki ideologi yang mengatur dan menjadi kunci utama hubungan luar negeri korea utara. Korea Utara mengisolasi negerinya dari perdagangan luar negeri. Dan sulit buat Negara di kawasan Asia Timur yang mengharapkan adanya regionalisasi kawasan.
Meskipun mengisolasi negaranya dari perdagangan, namun bukan berarti korut tidak melakukan perdagangan sama sekali, hanya saja terbatas. Partai yang berkuasa di Korea Utara adalah Democratic People’s Republic of Korea (DPRK: Korea Utara) yang diciptakan oleh Kim Il Sung. Dengan ideologi juche sebagai panduan utamanya. Sehingga negeri ini tidak akan terpengaruh secara langsung terhadap berbagai macam krisis yang terjadi di luar negeri seperti AS dan Eropa saat ini.
Bahkan dalam kebijakan pertahanan Negara, Korut menggunakan cara-cara yang sangat di tentang oleh Negara luar karena dinilai sangat provokatif. Bentuk pertahanan tersebut tekah dibuktikan dengan ditenggelamkannya kapal milik Korea selatan yang membuat indeks KOSPI korsel terseret dalam teritori negatif.
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Asia, kehadiran Korut seharusnya bisa mengharmonisasikan perdagangan di kawasan Asia, dan Indonesia juga berpeluang dapat melakukan kerjasama dengan Korea Utara. Pertanyaan yang muncul adalah apakah juche yang mengendalikan perilaku Korut mau membuka dirinya dalam kancah perdagangan yang lebih luas dengan Negara lain atau liberalis.
Beberapa ancaman yang timbul seperti, Ancaman yang timbul dikarenakan oleh kompetisi kekuatan besar beberapa Negara (balance of power contest) untuk menguasai aspek-aspek tertentu, akhirnya akan mengabaikan bentuk kerja sama. Ancaman yang lain adalah grass fire conflicts dimana ancaman keamanan berasal dari permasalahan lokal antar negara dalam kawasan. Ancaman tersebut sepertinya lebih dapat menggambarkan kemelut yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara saat ini.
Dengan sistem keuangan yang terintegrasi seperti saat ini. Korut yang saat ini telah menyebarkan ancaman perang dengan korea selatan tentunya akan memberikan dampak besar terhadap pasar keuangan dunia termasuk Indonesia. Dan apabila ketegangan itu terus berlanjut dengan intensitas yang meningkat maka pasar keuangan regional juga akan membentuk pola yang serupa.
Dalam perdagangan beberapa hari terakhir sebelumnya Bursa saham Korea Selatan ditutup turun, tertekan oleh ketidakpastian hubungan politik dengan korea utara. Tim investigasi mengatakan Korea Utara sengaja menenggelamkan kapal perang Korea. Bursa pun berguguruan ditambah sentimen negatif kekhawatiran yang terus berlanjut di kawasan Eropa.
Mata uang Dollar AS pun ikut naik tajam terhadap won Korea. Dan diyakini ketegangan korea yang berkelanjutan akan memberikan tekanan terhadap Kospi, ditengah kekhawatiran yang masih berlanjut pada perekonomian kawasan Eropa. Korea Selatan merupakan Negara yang banyak menghasilkan Chip serta memiliki industri besar di bidang otomotif harus menelan pil pahit karena saham di sektor tersebut berguguran.
Dampak yang paling menonjol dari ketegangan korea adalah rontoknya indeks bursa di kawasan asia, tanpa terkecuali Indonesia. Meski dalam kondisi tegang dan berpeluang menciptakan perang baru, namun perkembangan terhadap proses yang sedang terjadi sepertinya masih dapat meminimalisir kemungkinan rontoknya indeks bursa. Hingga perang yang dikhawatirkan itu benar-benar terjadi.
Korea Utara merupakan Negara yang unik sebagai negara sosialis, namun dikelilingi oleh negara dengan ekonomi liberal yang berpendapatan tinggi. Akan tetapi korut sendiri tidak terpengaruh dengan liberalisasi negara-negara tetangganya. Korea Utara memiliki ideologi yang mengatur dan menjadi kunci utama hubungan luar negeri korea utara. Korea Utara mengisolasi negerinya dari perdagangan luar negeri. Dan sulit buat Negara di kawasan Asia Timur yang mengharapkan adanya regionalisasi kawasan.
Meskipun mengisolasi negaranya dari perdagangan, namun bukan berarti korut tidak melakukan perdagangan sama sekali, hanya saja terbatas. Partai yang berkuasa di Korea Utara adalah Democratic People’s Republic of Korea (DPRK: Korea Utara) yang diciptakan oleh Kim Il Sung. Dengan ideologi juche sebagai panduan utamanya. Sehingga negeri ini tidak akan terpengaruh secara langsung terhadap berbagai macam krisis yang terjadi di luar negeri seperti AS dan Eropa saat ini.
Bahkan dalam kebijakan pertahanan Negara, Korut menggunakan cara-cara yang sangat di tentang oleh Negara luar karena dinilai sangat provokatif. Bentuk pertahanan tersebut tekah dibuktikan dengan ditenggelamkannya kapal milik Korea selatan yang membuat indeks KOSPI korsel terseret dalam teritori negatif.
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Asia, kehadiran Korut seharusnya bisa mengharmonisasikan perdagangan di kawasan Asia, dan Indonesia juga berpeluang dapat melakukan kerjasama dengan Korea Utara. Pertanyaan yang muncul adalah apakah juche yang mengendalikan perilaku Korut mau membuka dirinya dalam kancah perdagangan yang lebih luas dengan Negara lain atau liberalis.
Beberapa ancaman yang timbul seperti, Ancaman yang timbul dikarenakan oleh kompetisi kekuatan besar beberapa Negara (balance of power contest) untuk menguasai aspek-aspek tertentu, akhirnya akan mengabaikan bentuk kerja sama. Ancaman yang lain adalah grass fire conflicts dimana ancaman keamanan berasal dari permasalahan lokal antar negara dalam kawasan. Ancaman tersebut sepertinya lebih dapat menggambarkan kemelut yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara saat ini.
Dengan sistem keuangan yang terintegrasi seperti saat ini. Korut yang saat ini telah menyebarkan ancaman perang dengan korea selatan tentunya akan memberikan dampak besar terhadap pasar keuangan dunia termasuk Indonesia. Dan apabila ketegangan itu terus berlanjut dengan intensitas yang meningkat maka pasar keuangan regional juga akan membentuk pola yang serupa.
Sudah Berakhirkah Krisis di Eropa?
Medan Bisnis, 24 Mei 2010
Indeks bursa saham di Amerika naik setelah sempat turun tajam dalam perdagangan beberapa minggu terkahir. Melemahnya mata uang Euro serta memburuknya kinerja harga komoditas memicu investor melepas kepemilikan portofolio di lantai bursa dan pasar keuangan.
Mata uang US$ pun kembali menjadi incaran di tengah kondisi yang serba tidak pasti seperti sekarang. Alhasil, US$ pun menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia termasuk Rupiah. Namun, keperkasaan US$ tidak serta merta diikuti oleh membaiknya kinerja indeks bursa Dow Jones yang dalam beberapa hari perdagangan terkahir berada di bawah tekanan.
Pada perdagangan jumat akhir minggu kemarinm, Dow Jones kembali unjuk gigi dengan menguat di atas 1 persen. Namun, penguatan tersebut lebih dikarenakan dengan membaiknya data-data perekonomias AS seperti data penjualan rumah baru, permintaan barang-barang yang meningkat serta daya beli masyarakat AS. Dimana untuk setiap data yang dikeluarkan tersebut mengalami kenaikan.
Berita positif untuk AS, dan akan mempengaruhi kinerja pasar saham dan pasar keuangan dalam negeri. Mungkinkah?, bukankah IHSG dan Rupiah dalam beberapa pekan terkahir juga luruh akibat dampak krisis dari Yunani dan Negara eropa lainnya. Bahkan Amerika juga kebagian dampak negatif dari memburuknya kinerja ekonomi dikawasan itu.
Kalau berbicara mengenai kemungkinan ya tentunya mungkin saja. Namun, mungkinkah kawasan eropa benar-benar telah pulih. Tentunya kita tidak dapat melihat dari kinerja indeks bursanya saja yang akhir minggu kemarin kebetulan ditutup di teritori positif. Karena Indonesia sebenarnya juga memiliki fundamental yang baik namun kinerja indeks bursanya masih saja jelek (diterpa guncangan eksternal).
Banyak ekonom yang memperkirakan bahwa Eropa masih sangat rentan dengan potensi krisis baru yang akan muncul. Bahkan ada yang menyimpulkan bahwa depresi hebat di tahun 1933 kemungkinan besar akan terjadi di Negara kawasan Eropa saat ini. Dikarenakan banyaknya hutang pemerintah di banyak Negara.
Dan rasio utang tersebut masih belum turun meskipun berada di kondisi yang stabil. Kalaupun pemerintah menggelontorkan sejumlah uang untuk menyelamatkan perekonomiannya baik dengan cara meminjam atau lewat subsidi. Maka kemungkinan selanjutnya adalah tingginya inflasi dan bangkrut.
Sementara itu, dilain sisi defisit neraca yang terjadi sudah cukup besar sehingga akan menambah beban dan berpotensi menciptakan krisis yang baru. Masalah yang paling mendasar adalah bagaimana meningkatkan pertumbuhan sementara defisit dapat dikatakan anggaran sulit untuk dikendalikan. Maka resesi yang lebih dalam berpeluang untuk terjadi.
Bukan hanya Yunani. Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan Spanyol (PIIGS) disinyalir memiliki permasalahan yang jauh lebih besar dibandingkan utang yang tinggi. Ekonom juga mempermasalahkan penguatan mata uang Euro selama periode 2006-2008. Sehingga berdampak pada mahalnya mata uang Euro yang saat ini tengah terpuruk terhadap mata uang dunia.
Hadirnya China sebagai motor penggerak ekonomi baru serta Negara di kawasan Asia lainnya turut memberikan kontribusi terhadap menurunnya daya saing di eropa. Bumi terus berputar dan terus merubah posisi setiap yang ada di dunia ini untuk terus mengikuti siklus hidup yang ditentukan dari alam. Guna meminimalisir kemungkinan resiko yang timbul akibat krisis, tetaplah berhati-hati apabila masuk ke bursa saham. Terlihat harga saham memang sudah murah, namun tidak ada garansi akan turun dan lebih murah lagi.
Indeks bursa saham di Amerika naik setelah sempat turun tajam dalam perdagangan beberapa minggu terkahir. Melemahnya mata uang Euro serta memburuknya kinerja harga komoditas memicu investor melepas kepemilikan portofolio di lantai bursa dan pasar keuangan.
Mata uang US$ pun kembali menjadi incaran di tengah kondisi yang serba tidak pasti seperti sekarang. Alhasil, US$ pun menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia termasuk Rupiah. Namun, keperkasaan US$ tidak serta merta diikuti oleh membaiknya kinerja indeks bursa Dow Jones yang dalam beberapa hari perdagangan terkahir berada di bawah tekanan.
Pada perdagangan jumat akhir minggu kemarinm, Dow Jones kembali unjuk gigi dengan menguat di atas 1 persen. Namun, penguatan tersebut lebih dikarenakan dengan membaiknya data-data perekonomias AS seperti data penjualan rumah baru, permintaan barang-barang yang meningkat serta daya beli masyarakat AS. Dimana untuk setiap data yang dikeluarkan tersebut mengalami kenaikan.
Berita positif untuk AS, dan akan mempengaruhi kinerja pasar saham dan pasar keuangan dalam negeri. Mungkinkah?, bukankah IHSG dan Rupiah dalam beberapa pekan terkahir juga luruh akibat dampak krisis dari Yunani dan Negara eropa lainnya. Bahkan Amerika juga kebagian dampak negatif dari memburuknya kinerja ekonomi dikawasan itu.
Kalau berbicara mengenai kemungkinan ya tentunya mungkin saja. Namun, mungkinkah kawasan eropa benar-benar telah pulih. Tentunya kita tidak dapat melihat dari kinerja indeks bursanya saja yang akhir minggu kemarin kebetulan ditutup di teritori positif. Karena Indonesia sebenarnya juga memiliki fundamental yang baik namun kinerja indeks bursanya masih saja jelek (diterpa guncangan eksternal).
Banyak ekonom yang memperkirakan bahwa Eropa masih sangat rentan dengan potensi krisis baru yang akan muncul. Bahkan ada yang menyimpulkan bahwa depresi hebat di tahun 1933 kemungkinan besar akan terjadi di Negara kawasan Eropa saat ini. Dikarenakan banyaknya hutang pemerintah di banyak Negara.
Dan rasio utang tersebut masih belum turun meskipun berada di kondisi yang stabil. Kalaupun pemerintah menggelontorkan sejumlah uang untuk menyelamatkan perekonomiannya baik dengan cara meminjam atau lewat subsidi. Maka kemungkinan selanjutnya adalah tingginya inflasi dan bangkrut.
Sementara itu, dilain sisi defisit neraca yang terjadi sudah cukup besar sehingga akan menambah beban dan berpotensi menciptakan krisis yang baru. Masalah yang paling mendasar adalah bagaimana meningkatkan pertumbuhan sementara defisit dapat dikatakan anggaran sulit untuk dikendalikan. Maka resesi yang lebih dalam berpeluang untuk terjadi.
Bukan hanya Yunani. Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan Spanyol (PIIGS) disinyalir memiliki permasalahan yang jauh lebih besar dibandingkan utang yang tinggi. Ekonom juga mempermasalahkan penguatan mata uang Euro selama periode 2006-2008. Sehingga berdampak pada mahalnya mata uang Euro yang saat ini tengah terpuruk terhadap mata uang dunia.
Hadirnya China sebagai motor penggerak ekonomi baru serta Negara di kawasan Asia lainnya turut memberikan kontribusi terhadap menurunnya daya saing di eropa. Bumi terus berputar dan terus merubah posisi setiap yang ada di dunia ini untuk terus mengikuti siklus hidup yang ditentukan dari alam. Guna meminimalisir kemungkinan resiko yang timbul akibat krisis, tetaplah berhati-hati apabila masuk ke bursa saham. Terlihat harga saham memang sudah murah, namun tidak ada garansi akan turun dan lebih murah lagi.
Yunani Mengguncang Dunia
Medan Bisnis, 17 Mei 2010
Bantuan senilai 750 milar euro yang diprakarsai Uni Eropa berhasil mengangkat mata uang euro dan menenangkan pasar keuangan dunia sebelumnya, wujud solidaritas persatuan masyarakat uni eropa. Bantuan tersebut sebelumnya sempat menjadi euforia di bursa global, bahkan Wall Street mencatat penguatan terbesarnya dalam setahun terakhir. Rincian dana bantuan tersebut sekitar 440 miliar euro datang dari pemerintah zona euro sendiri, 250 miliar euro disediakan oleh IMF, sisanya 60 miliar euro datang dari anggaran Uni Eropa.
Keputusan itu diambil setelah melalui perdebatan dan kebimbangan di antara para pemimpin Eropa selama berminggu – minggu. Perdebatan telah menghantam mata uang euro dan menjatuhkan pasar dunia karena kecemasan krisis bisa menyebar. Permasalahan krisis yunani tersebut diperkirakan akan menyebar dan menghantam negara lain seperti spanyol dan portugal.
Yang menjadi kekhawatiran adalah paket tersebut tidak memecahkan masalah utama Eropa. Negara eropa lain menuding negara yang terbelit masalah dikatakan sembrono dan berdampak pada pelemahan Euro dan semua mitranya juga harus menanggung bebannya. Hutang yang dikucurkan untuk mengatasi masalah Eropa diperkirakan hanya akan memperburuk, karena harus menanggung beban hutang yang lebih besar.
Permasalahan Yunani jelas membuat proses pemulihan ekonomi global terganggu. Fokus penyelesaian krisis yang di mulai AS sebelumnya harus mengalami hambatan berat dan diperburuk oleh masalah di Eropa. Gali lubang untuk menutup lubang yang lama dinilai tidak akan efektip dan hanya akan menambah masalah yang lebih besar. Banyak ekonom memandang meminjamkan uang ke pemerintah yang sudah berutang banyak tidak akan menyelesaikan masalah.
Masalah yang mendasar yang dihadapi Yunani adalah PDB yang rendah, pengangguran yang tinggi dan produktivitas yang rendah. Bahkan untuk mendapatkan pinjaman luar biasa yang tersebut ada beberapa syarat yang harus dipenuhi Yunani, yakni pengetatan anggaran. Yunani harus memperketat anggaran agar bisa mengurangi defisitnya dari 13% PDB menjadi 3% sampai 2014. Jelas sekali hal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan Yunani adalah dengan menggenjot laju pertumbuhan. Karena itu bisa menjadi jawaban untuk menyelesaikan masalah. Akan tetapi bukan perkara yang mudah.
Negara uni eropa lainnya harus sigap dan mengambil langkah yang tepat guna mengatasi penyebaran krisis. UE harus mampu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap kemungkinan penyebaran krisis negara eropa lain. Mata uang Euro harus segera diselamatkan agar tidak menganggu perekonomian Eropa. Sejauh ini Bank sentral Eropa (ECB) membeli obligasi pemerintah dan swasta melalui pasar sekunder dalam rangka mengatasi krisis yang mengancam stabilitas euro.
Dalam pernyataannya, ECB mengatakan pihaknya ingin mengatasi gejolak di segmen pasar tertentu yang membahayakan mekanisme dan pelaksanaan kebijakan moneter. Oleh karena itu, ECB akan mengintervensi pasar yang sedang disfungsi tersebut. Namun, skala intervensi tersebut masih harus diputuskan dewan. Karena pada dasarnya ECB tidak boleh membeli obligasi langsung dari pemerintah.
Kondisi di Yunani tersebut tentunya tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Yang tidak memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pasar eropa. Namun, volatilitas yang terjadi di pasar keuangan global akan membuat pasar kita turut terganggu. Indikator yang bias terlihat adalah terjadinya fluktuasi nilai tukar Rupiah dan IHSG.
Pelemahan Euro selalu akan diikuti oleh penguatan nilai tukar US$ terhadap rupiah dan akan terus menekan nilai tukar Rupiah. Dan secara psikologis pelaku pasar di pasar modal juga akan keluar dari pasar modal apabila kekhawatiran yang mengguncang masih terus berlanjut. Meskipun kita memiliki fundamental yang lebih baik.
Bantuan senilai 750 milar euro yang diprakarsai Uni Eropa berhasil mengangkat mata uang euro dan menenangkan pasar keuangan dunia sebelumnya, wujud solidaritas persatuan masyarakat uni eropa. Bantuan tersebut sebelumnya sempat menjadi euforia di bursa global, bahkan Wall Street mencatat penguatan terbesarnya dalam setahun terakhir. Rincian dana bantuan tersebut sekitar 440 miliar euro datang dari pemerintah zona euro sendiri, 250 miliar euro disediakan oleh IMF, sisanya 60 miliar euro datang dari anggaran Uni Eropa.
Keputusan itu diambil setelah melalui perdebatan dan kebimbangan di antara para pemimpin Eropa selama berminggu – minggu. Perdebatan telah menghantam mata uang euro dan menjatuhkan pasar dunia karena kecemasan krisis bisa menyebar. Permasalahan krisis yunani tersebut diperkirakan akan menyebar dan menghantam negara lain seperti spanyol dan portugal.
Yang menjadi kekhawatiran adalah paket tersebut tidak memecahkan masalah utama Eropa. Negara eropa lain menuding negara yang terbelit masalah dikatakan sembrono dan berdampak pada pelemahan Euro dan semua mitranya juga harus menanggung bebannya. Hutang yang dikucurkan untuk mengatasi masalah Eropa diperkirakan hanya akan memperburuk, karena harus menanggung beban hutang yang lebih besar.
Permasalahan Yunani jelas membuat proses pemulihan ekonomi global terganggu. Fokus penyelesaian krisis yang di mulai AS sebelumnya harus mengalami hambatan berat dan diperburuk oleh masalah di Eropa. Gali lubang untuk menutup lubang yang lama dinilai tidak akan efektip dan hanya akan menambah masalah yang lebih besar. Banyak ekonom memandang meminjamkan uang ke pemerintah yang sudah berutang banyak tidak akan menyelesaikan masalah.
Masalah yang mendasar yang dihadapi Yunani adalah PDB yang rendah, pengangguran yang tinggi dan produktivitas yang rendah. Bahkan untuk mendapatkan pinjaman luar biasa yang tersebut ada beberapa syarat yang harus dipenuhi Yunani, yakni pengetatan anggaran. Yunani harus memperketat anggaran agar bisa mengurangi defisitnya dari 13% PDB menjadi 3% sampai 2014. Jelas sekali hal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan Yunani adalah dengan menggenjot laju pertumbuhan. Karena itu bisa menjadi jawaban untuk menyelesaikan masalah. Akan tetapi bukan perkara yang mudah.
Negara uni eropa lainnya harus sigap dan mengambil langkah yang tepat guna mengatasi penyebaran krisis. UE harus mampu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap kemungkinan penyebaran krisis negara eropa lain. Mata uang Euro harus segera diselamatkan agar tidak menganggu perekonomian Eropa. Sejauh ini Bank sentral Eropa (ECB) membeli obligasi pemerintah dan swasta melalui pasar sekunder dalam rangka mengatasi krisis yang mengancam stabilitas euro.
Dalam pernyataannya, ECB mengatakan pihaknya ingin mengatasi gejolak di segmen pasar tertentu yang membahayakan mekanisme dan pelaksanaan kebijakan moneter. Oleh karena itu, ECB akan mengintervensi pasar yang sedang disfungsi tersebut. Namun, skala intervensi tersebut masih harus diputuskan dewan. Karena pada dasarnya ECB tidak boleh membeli obligasi langsung dari pemerintah.
Kondisi di Yunani tersebut tentunya tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Yang tidak memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pasar eropa. Namun, volatilitas yang terjadi di pasar keuangan global akan membuat pasar kita turut terganggu. Indikator yang bias terlihat adalah terjadinya fluktuasi nilai tukar Rupiah dan IHSG.
Pelemahan Euro selalu akan diikuti oleh penguatan nilai tukar US$ terhadap rupiah dan akan terus menekan nilai tukar Rupiah. Dan secara psikologis pelaku pasar di pasar modal juga akan keluar dari pasar modal apabila kekhawatiran yang mengguncang masih terus berlanjut. Meskipun kita memiliki fundamental yang lebih baik.
Sri Mulyani Mundur, IHSG dan Rupiah masuki Tren Turun
Medan Bisnis, 10 Mei 2010
Selama seminggu terakhir, IHSG kembali diwarnai aksi jual dari yang sebelumnya indeks sempat mencapai 3000-an sekarang harus berbalik dan berada di kisaran 2700-an. Demikian haknya dengan Rupiah yang kembali tertekan oleh mata uang US$ dari sebelumnya di level 9000-an kembali terkoreksi ke level 9200-an. Hal yang mendorog investor melakukan aksi ambil untung adalah memburuknya kondisis Yunani, harga minyak yang terkoreksi hingga mundurnya Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan.
Pasar kembali dibanjiri sentimen negative baik lokal dan eksternal. Padahal IHSG seharusnya lebih kuat dibandingkan dengan indeks global lainnya, karena Negara kita lebih baik sisi fundamentalnya dibandingkan Negara lain. Dan minggu ini kembali dibuktikan bahwa Negara kita masih sangat rentan dengan fluktuasi yang terjadi di pasar global.
Kisruh politik yang terjadi dalam penanganan kasus century gate sepertinya akan segera berakhir dengan mundurnya Sri Muyani dari jabatannya. Selama ini, permasalahan kasus century telah membuat koalisi pemerintah retak dan akan memasuki babak baru dalam penyelesaiannya. Bahkan beberapa partai yang telah meninggalkan koalisis sepertinya akan kembali rujuk dengan koalisi yang dibentuk pemerintah. Dimana sebelumnya kita melihat tekanan demi tekanan politik memang ditujukan kepada Sri Mulyani dan Boediono.
Akankah pengunduran Sri Mulyani berpengaruh positif terhadap persepsi pasar?. Mungkin Ya. Setidaknya permasalahan yang bisa dikatakan menghambat kinerja pemerintah saat ini bisa teratasi. Permasalahan century banyak menyita kegiatan elite penguasa negeri ini dan dinilai banyak kalangan tidak terfokus pada program-program pemerintah yang semestinya dilakukan.
Keputusan Sri Mulyani dinilai sebagai exit strategy yang jitu untuk keluar dari kemelut politik. Permasalahan yang akan dihadapi adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan investor yang sudah mulai meninggalkan Indonesia. Terlihat dari indikator kinerja IHSG dan nilai tukar Rupiah yang kian memburuk. Meskipun pengunduran Sri Mulyani berbarengan dengan permasalahan keuangan global (dari sisi eksternal). Di perkirakan pengaruh Sri Mulyani tidak akan begitu besar berdampak pada pasar keuangan secara keseluruhan.
Terlebih apabila SBY nanti mampu menggantikannya dengan sosok yang dinilai pro-pasar. Bukan tidak mungkin IHSG dan Rupiah akan kembali ujuk gigi serta mencetak rekor teringgi yang baru. Selain itu stabilitas politik akan lebih terjaga serta mengembalikan kepercayaan mitra koalisi partai untuk sama-sama bekerja dan fokus pada program-program yang dijalankan.
Yang penulis tanyakan adalah bagaimana dengan kelanjutan proses reformasi birokrasi di departemen keuangan khususnya perpajakan. Reformasi birokrasi yang dilakukan oleh Sri Mulyani sangat tepat dan cepat setelah terkuaknya kasus penggelapan pajak yang melibatkan Gayus H. Tambunan. Program reformasi birokrasi yang dilakukan Sri Mulyani sejatinya mendapatkan apresiasi dari kita semua. Karena apa? Karena Sri Mulyani tidak hanya berani mengungkap kasus terkait dengan aparat yang masih aktif saja, bahkan semua pejabat yang non aktif juga akan diperiksa.
Semoga akan ada menteri keuangan yang baru yang mampu mewakili semua aspirasi baik dari masyarakat umum, investor atau pelaku pasar, eksekutif hingga elite partai politik. Namun dengan tetap menjaga profesionalisme serta mengedepankan visi negeri ini untuk bebas korupsi. Penulis yakin masih banyak anak bangsa ini yang bisa bekerja seperti sosok Sri Mulyani atau bahkan lebih baik lagi.
Ditengah gunjangan pasar seperti sekarang ini dimana faktor eksternal lebih berperan dalam menggerakan harga saham maupun mata uang Rupiah. Dan telah membuat kedua indikator keuangan tersebut turun. Maka ada satu hal yang dapat menjadi pegangan kita semua yakni fundamental ekonomi kita masih bagus atau on the track. Percayalah tidak butuh waktu lama semuanya akan pulih, dan kita akan terlambat jika kita tidak masuk ke pasar saat ini juga.
Selama seminggu terakhir, IHSG kembali diwarnai aksi jual dari yang sebelumnya indeks sempat mencapai 3000-an sekarang harus berbalik dan berada di kisaran 2700-an. Demikian haknya dengan Rupiah yang kembali tertekan oleh mata uang US$ dari sebelumnya di level 9000-an kembali terkoreksi ke level 9200-an. Hal yang mendorog investor melakukan aksi ambil untung adalah memburuknya kondisis Yunani, harga minyak yang terkoreksi hingga mundurnya Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan.
Pasar kembali dibanjiri sentimen negative baik lokal dan eksternal. Padahal IHSG seharusnya lebih kuat dibandingkan dengan indeks global lainnya, karena Negara kita lebih baik sisi fundamentalnya dibandingkan Negara lain. Dan minggu ini kembali dibuktikan bahwa Negara kita masih sangat rentan dengan fluktuasi yang terjadi di pasar global.
Kisruh politik yang terjadi dalam penanganan kasus century gate sepertinya akan segera berakhir dengan mundurnya Sri Muyani dari jabatannya. Selama ini, permasalahan kasus century telah membuat koalisi pemerintah retak dan akan memasuki babak baru dalam penyelesaiannya. Bahkan beberapa partai yang telah meninggalkan koalisis sepertinya akan kembali rujuk dengan koalisi yang dibentuk pemerintah. Dimana sebelumnya kita melihat tekanan demi tekanan politik memang ditujukan kepada Sri Mulyani dan Boediono.
Akankah pengunduran Sri Mulyani berpengaruh positif terhadap persepsi pasar?. Mungkin Ya. Setidaknya permasalahan yang bisa dikatakan menghambat kinerja pemerintah saat ini bisa teratasi. Permasalahan century banyak menyita kegiatan elite penguasa negeri ini dan dinilai banyak kalangan tidak terfokus pada program-program pemerintah yang semestinya dilakukan.
Keputusan Sri Mulyani dinilai sebagai exit strategy yang jitu untuk keluar dari kemelut politik. Permasalahan yang akan dihadapi adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan investor yang sudah mulai meninggalkan Indonesia. Terlihat dari indikator kinerja IHSG dan nilai tukar Rupiah yang kian memburuk. Meskipun pengunduran Sri Mulyani berbarengan dengan permasalahan keuangan global (dari sisi eksternal). Di perkirakan pengaruh Sri Mulyani tidak akan begitu besar berdampak pada pasar keuangan secara keseluruhan.
Terlebih apabila SBY nanti mampu menggantikannya dengan sosok yang dinilai pro-pasar. Bukan tidak mungkin IHSG dan Rupiah akan kembali ujuk gigi serta mencetak rekor teringgi yang baru. Selain itu stabilitas politik akan lebih terjaga serta mengembalikan kepercayaan mitra koalisi partai untuk sama-sama bekerja dan fokus pada program-program yang dijalankan.
Yang penulis tanyakan adalah bagaimana dengan kelanjutan proses reformasi birokrasi di departemen keuangan khususnya perpajakan. Reformasi birokrasi yang dilakukan oleh Sri Mulyani sangat tepat dan cepat setelah terkuaknya kasus penggelapan pajak yang melibatkan Gayus H. Tambunan. Program reformasi birokrasi yang dilakukan Sri Mulyani sejatinya mendapatkan apresiasi dari kita semua. Karena apa? Karena Sri Mulyani tidak hanya berani mengungkap kasus terkait dengan aparat yang masih aktif saja, bahkan semua pejabat yang non aktif juga akan diperiksa.
Semoga akan ada menteri keuangan yang baru yang mampu mewakili semua aspirasi baik dari masyarakat umum, investor atau pelaku pasar, eksekutif hingga elite partai politik. Namun dengan tetap menjaga profesionalisme serta mengedepankan visi negeri ini untuk bebas korupsi. Penulis yakin masih banyak anak bangsa ini yang bisa bekerja seperti sosok Sri Mulyani atau bahkan lebih baik lagi.
Ditengah gunjangan pasar seperti sekarang ini dimana faktor eksternal lebih berperan dalam menggerakan harga saham maupun mata uang Rupiah. Dan telah membuat kedua indikator keuangan tersebut turun. Maka ada satu hal yang dapat menjadi pegangan kita semua yakni fundamental ekonomi kita masih bagus atau on the track. Percayalah tidak butuh waktu lama semuanya akan pulih, dan kita akan terlambat jika kita tidak masuk ke pasar saat ini juga.
Kerawanan Eksternal Yang Tinggi
Medan Bisnis, 3 Mei 2010
Indonesia memang berada dalam posisi yang sangat kuat terhadap guncangan krisis keuangan global tahun 2008 silam. Namun, bukan berarti Indonesia memang benar-benar kuat secara fundamental untuk menghadapi terpaan krisis. Hanya saja Indonesia masih diuntungkan dengan kondisi fundamental yang lebih baik jika dibandingkan dengan Negara lain sebagai tujuan investasi seperti terus mengalirnya dana jangka pendek atau biasa disebut dengan istilah Hot Money.
Meski demikian aliran dana yang masuk tersebut bukan berarti akan membuat Indonesia berada dalam zona nyaman. Aliran dana jangka pendek hanya akan bertahan selama Negara kita dinilai tetap lebih aman dan lebih menguntungkan sebagai tempat untuk berinvestasi. Begitu image nya memudar atau ada Negara lain yang lebih menjanjikan maka dana-dana tersebut siap untuk meninggalkan Indonesia.
Masalah ketimpangan yang dapat timbul adalah terjadinya gap atau ketimpangan yang diakibatkan oleh kinerja di sektor finansial yang terus menunjukan peforma baik namun tidak dibarengi dengan membaiknya kinerja sektor riil. Sehingga terciptalah gelembung – gelembung ekonomi (bubble) yang setiap saat bisa saja pecah.
Bahkan Asian Development Bank atau ADB selalu menempatkan Indonesia dalam posisi yang rawan terhadap guncangan eksternal. Indikator yang digunakan yakni utang jangka pendek, kepemilikan ekuitas serta kepemilikan nilai tukar oleh Asing dibagi dengan jumlah cadangan Devisa. Semakin besar presentasi tingkat kepemilikan asing terhadap asset-aset Indonesia maka semakin besar tingkat kerawanan Indonesia dalam menghadapi guncangan eksternal.
Di saat Indikator pasar keuangan seperti IHSG terkoreksi cukup dalam. Pemerintah selalu mengeluarkan statement yang memang dapat dinilai baik. Yakni agar mencegah kepanikan yang terjadi di masyarakat. Meski demikian pemerintah seharusnya lebih bersiap diri dalam menghadapi guncangan-guncangan yang bisa saja terjadi kedepannya.
Seperti permasalahan krisis yang terjadi di Yunani dan menyebar ke spanyol dan Portugal. Kondisi tersebut berpeluang menciptakan krisis yang baru meskipun banyak analis yang mamperkirakan krisis tersebut tidak akan berdampak buruk terhadap perekonomian nasional. Current Account yang masih surplus serta ketergantungan ekspor Negara kita yang relatif kecil terhadap Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat memang menguntungkan Indonesia saat ini.
Guncangan eksternal seperti krisis politik yang terjadi di Thailand, lagi-lagi menempatkan Indonesia pada posisi yang diuntungkan. Banyak Negara yang telah melakukan travel warning ke Negara gajah putih tersebut. Para investor tentunya akan beralih ke Negara yang lain dan Indonesia merupakan Negara yang dilirik untuk dijaikan tempat berinvestasi.
Indonesia dinilai sebagai Negara yang lebih dewasa dalam dunia politik. Sangat berbeda dengan Thailand dimana peralihan rezim kekuasaan sering beralih ke rezim yang baru dengan cara yang dipaksakan atau kudeta. Sehingga tetap saja menimbulkan kerawanan serta tetap menyisahkan persoalan dimasa yang akan datang.
Meskipun pemerintah sejauh ini meng-klaim bahwa perekonomian Indonesia berada pada jalur yang benar atau on the right track. Akan tetapi tidak menjamin 100% bahwa perekonomian kita benar-benar dapat menahan guncangan-guncangan eksternal yang berpotensi menjadi krisis. Indonesia hanya lebih diuntungkan saja apabila dibandingkan dengan kondisi di luar yang saat ini masih berjibaku menghadapi krisis keuangan yang tak kunjung usai.
Dan bagaimana kalau mereka bisa kembali pulih?. Tentunya ada pertimbangan lain dan persaingan baru dalam dunia keuangan global. Permasalahan struktural yang tidak berkontribusi positif terhadap pembangunan di sektor riil semestinya menjadi prioritas utama dalam pembangunan saat ini. Momen yang tepat sudah di depan mata, tinggal sejauh mana kita dapat menfaatkannya.
Indonesia memang berada dalam posisi yang sangat kuat terhadap guncangan krisis keuangan global tahun 2008 silam. Namun, bukan berarti Indonesia memang benar-benar kuat secara fundamental untuk menghadapi terpaan krisis. Hanya saja Indonesia masih diuntungkan dengan kondisi fundamental yang lebih baik jika dibandingkan dengan Negara lain sebagai tujuan investasi seperti terus mengalirnya dana jangka pendek atau biasa disebut dengan istilah Hot Money.
Meski demikian aliran dana yang masuk tersebut bukan berarti akan membuat Indonesia berada dalam zona nyaman. Aliran dana jangka pendek hanya akan bertahan selama Negara kita dinilai tetap lebih aman dan lebih menguntungkan sebagai tempat untuk berinvestasi. Begitu image nya memudar atau ada Negara lain yang lebih menjanjikan maka dana-dana tersebut siap untuk meninggalkan Indonesia.
Masalah ketimpangan yang dapat timbul adalah terjadinya gap atau ketimpangan yang diakibatkan oleh kinerja di sektor finansial yang terus menunjukan peforma baik namun tidak dibarengi dengan membaiknya kinerja sektor riil. Sehingga terciptalah gelembung – gelembung ekonomi (bubble) yang setiap saat bisa saja pecah.
Bahkan Asian Development Bank atau ADB selalu menempatkan Indonesia dalam posisi yang rawan terhadap guncangan eksternal. Indikator yang digunakan yakni utang jangka pendek, kepemilikan ekuitas serta kepemilikan nilai tukar oleh Asing dibagi dengan jumlah cadangan Devisa. Semakin besar presentasi tingkat kepemilikan asing terhadap asset-aset Indonesia maka semakin besar tingkat kerawanan Indonesia dalam menghadapi guncangan eksternal.
Di saat Indikator pasar keuangan seperti IHSG terkoreksi cukup dalam. Pemerintah selalu mengeluarkan statement yang memang dapat dinilai baik. Yakni agar mencegah kepanikan yang terjadi di masyarakat. Meski demikian pemerintah seharusnya lebih bersiap diri dalam menghadapi guncangan-guncangan yang bisa saja terjadi kedepannya.
Seperti permasalahan krisis yang terjadi di Yunani dan menyebar ke spanyol dan Portugal. Kondisi tersebut berpeluang menciptakan krisis yang baru meskipun banyak analis yang mamperkirakan krisis tersebut tidak akan berdampak buruk terhadap perekonomian nasional. Current Account yang masih surplus serta ketergantungan ekspor Negara kita yang relatif kecil terhadap Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat memang menguntungkan Indonesia saat ini.
Guncangan eksternal seperti krisis politik yang terjadi di Thailand, lagi-lagi menempatkan Indonesia pada posisi yang diuntungkan. Banyak Negara yang telah melakukan travel warning ke Negara gajah putih tersebut. Para investor tentunya akan beralih ke Negara yang lain dan Indonesia merupakan Negara yang dilirik untuk dijaikan tempat berinvestasi.
Indonesia dinilai sebagai Negara yang lebih dewasa dalam dunia politik. Sangat berbeda dengan Thailand dimana peralihan rezim kekuasaan sering beralih ke rezim yang baru dengan cara yang dipaksakan atau kudeta. Sehingga tetap saja menimbulkan kerawanan serta tetap menyisahkan persoalan dimasa yang akan datang.
Meskipun pemerintah sejauh ini meng-klaim bahwa perekonomian Indonesia berada pada jalur yang benar atau on the right track. Akan tetapi tidak menjamin 100% bahwa perekonomian kita benar-benar dapat menahan guncangan-guncangan eksternal yang berpotensi menjadi krisis. Indonesia hanya lebih diuntungkan saja apabila dibandingkan dengan kondisi di luar yang saat ini masih berjibaku menghadapi krisis keuangan yang tak kunjung usai.
Dan bagaimana kalau mereka bisa kembali pulih?. Tentunya ada pertimbangan lain dan persaingan baru dalam dunia keuangan global. Permasalahan struktural yang tidak berkontribusi positif terhadap pembangunan di sektor riil semestinya menjadi prioritas utama dalam pembangunan saat ini. Momen yang tepat sudah di depan mata, tinggal sejauh mana kita dapat menfaatkannya.
Skenario Kenaikan Harga BBM
medan bisnis 26 April 2011
Harga minyak dunia kembali menguat diatas $85/barel. Kenaikan minyak beberapa minggu terakhir tersebut membuat khawatir pemerintah. Kenaikan harga minyak tersebut di picu oleh membaiknya ekspektasi pemulihan ekonomi di Negara eropa seperti Yunani dan Spanyol. Selain itu, pasar tenaga kerja amerika serikat yang terus menunjukan perbaikan turut memicu naiknya harga minyak.
Pergerakan harga minyak memang tak terlepas dari aksi spekulasi pelaku pasar. Kenaikan harga minyak selalu lebih cepat dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia. Masih merupakan analisis serta indikasi membaiknya perekonomian dunia, minyak langsung merangsek naik lebih dulu dari realisasi pertumbuhan sebenarnya. Kondisi tersebut langsung membuat semua Negara siaga akan segala kemungkinan kebijakan yang di ambil terkait melonjaknya harga minyak.
Pemerintah kita terus berupaya untuk mengatasi kenaikan harga minyak tersebut. Mulai dari menaikkan produksi minyak (lifting) perhari hingga kemungkinan opsi kenaikan harga BBM. Sejauh ini sejumlah perusahaan yang memproduksi minyak lokal belum mampu menambah kapasitas produksi karena menghadapi banyak kendala.
Asumsi harga minyak di dalam APBN juga dinilai tidak relevan lagi jika dibandingkan dengan pergerakan harga minyak terakhir. Kenaikan harga minyak yang lebih tinggi sepertinya sudah di depan mata dan tak dapat dihindarkan lagi. Kenaikan harga minyak yang signifikan nantinya akan menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Indonesia yang memproyeksikan bahwa pertumbuhannya sebesar 5.7% dalam tahun-tahun mendatang dinilai sangat konservatif dalam melakukan proyeksinya. Laju pertumbuhan Indonesia diperkirakan akan melebihi angka 6% atau dikisaran 6.4%. lembaga yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu adalah IMF. Kenapa permerintah begitu konservatif?. Adakah kaitannya dengan kemungkinan kenaikan harga minyak di kemudian hari nanti.
Asumsi tersebut bisa saja benar. Dengan kenaikan harga minyak dunia serta kemungkinan dipilihnya opsi menaikan harga BBM untuk mengurangi beban defisit pemerintah maka pertumbuhan akan mengalami tekanan. Oleh karena itu pemerintah harus mencari cara lain agar kenaikan BBM tidak berdampak signifikan dan membebani defisit.
Salah satu caranya adalah pemerintah memberikan ruang penguatan nilai tukar Rupiah. Karena dengan nilai tukar yang meguat dapat mengurangi beban pemerintah apabila harga minyak mentah dunia terus bergerak naik. Namun, sejauh ini penguatan Rupiah masih relatif terbatas dan sulit untuk menembus level Rp. 9000/$.
Pemerintah diperkirakan tidak akan membiarkan Rupiah terus unjuk gigi terhadap US$. Kepentingan pemerintah untuk menahan laju inflasi serta mengurangi dampak buruk dari penguatan nilai tukar Rupiah seperti berkurangnya ekspor. Sehingga momen penguatan rupiah yang seharusnya terjadi lebih cepat pada saat ini tidak akan dimanfaatkan pemerintah sepenuhnya untuk menahan laju penguatan harga minyak nantinya.
Kenaikan harga minyak sudah pasti terjadi dalam mengantisipasi pemulihan kondisi ekonomi global. Pemerintah sepertinya akan terjebak pada pembuatan kebijakan yang tidak populis seiring dengan kenaikan harga minyak nantinya. Secara politis kenaikan harga BBM dapat berpotensi merusak citra penguasa yang saat ini banyak diwakilkan oleh partai demokrat. Dan dapat berdampak merusak tatanan sosial masyarakat kita.
Harga minyak dunia kembali menguat diatas $85/barel. Kenaikan minyak beberapa minggu terakhir tersebut membuat khawatir pemerintah. Kenaikan harga minyak tersebut di picu oleh membaiknya ekspektasi pemulihan ekonomi di Negara eropa seperti Yunani dan Spanyol. Selain itu, pasar tenaga kerja amerika serikat yang terus menunjukan perbaikan turut memicu naiknya harga minyak.
Pergerakan harga minyak memang tak terlepas dari aksi spekulasi pelaku pasar. Kenaikan harga minyak selalu lebih cepat dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia. Masih merupakan analisis serta indikasi membaiknya perekonomian dunia, minyak langsung merangsek naik lebih dulu dari realisasi pertumbuhan sebenarnya. Kondisi tersebut langsung membuat semua Negara siaga akan segala kemungkinan kebijakan yang di ambil terkait melonjaknya harga minyak.
Pemerintah kita terus berupaya untuk mengatasi kenaikan harga minyak tersebut. Mulai dari menaikkan produksi minyak (lifting) perhari hingga kemungkinan opsi kenaikan harga BBM. Sejauh ini sejumlah perusahaan yang memproduksi minyak lokal belum mampu menambah kapasitas produksi karena menghadapi banyak kendala.
Asumsi harga minyak di dalam APBN juga dinilai tidak relevan lagi jika dibandingkan dengan pergerakan harga minyak terakhir. Kenaikan harga minyak yang lebih tinggi sepertinya sudah di depan mata dan tak dapat dihindarkan lagi. Kenaikan harga minyak yang signifikan nantinya akan menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Indonesia yang memproyeksikan bahwa pertumbuhannya sebesar 5.7% dalam tahun-tahun mendatang dinilai sangat konservatif dalam melakukan proyeksinya. Laju pertumbuhan Indonesia diperkirakan akan melebihi angka 6% atau dikisaran 6.4%. lembaga yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu adalah IMF. Kenapa permerintah begitu konservatif?. Adakah kaitannya dengan kemungkinan kenaikan harga minyak di kemudian hari nanti.
Asumsi tersebut bisa saja benar. Dengan kenaikan harga minyak dunia serta kemungkinan dipilihnya opsi menaikan harga BBM untuk mengurangi beban defisit pemerintah maka pertumbuhan akan mengalami tekanan. Oleh karena itu pemerintah harus mencari cara lain agar kenaikan BBM tidak berdampak signifikan dan membebani defisit.
Salah satu caranya adalah pemerintah memberikan ruang penguatan nilai tukar Rupiah. Karena dengan nilai tukar yang meguat dapat mengurangi beban pemerintah apabila harga minyak mentah dunia terus bergerak naik. Namun, sejauh ini penguatan Rupiah masih relatif terbatas dan sulit untuk menembus level Rp. 9000/$.
Pemerintah diperkirakan tidak akan membiarkan Rupiah terus unjuk gigi terhadap US$. Kepentingan pemerintah untuk menahan laju inflasi serta mengurangi dampak buruk dari penguatan nilai tukar Rupiah seperti berkurangnya ekspor. Sehingga momen penguatan rupiah yang seharusnya terjadi lebih cepat pada saat ini tidak akan dimanfaatkan pemerintah sepenuhnya untuk menahan laju penguatan harga minyak nantinya.
Kenaikan harga minyak sudah pasti terjadi dalam mengantisipasi pemulihan kondisi ekonomi global. Pemerintah sepertinya akan terjebak pada pembuatan kebijakan yang tidak populis seiring dengan kenaikan harga minyak nantinya. Secara politis kenaikan harga BBM dapat berpotensi merusak citra penguasa yang saat ini banyak diwakilkan oleh partai demokrat. Dan dapat berdampak merusak tatanan sosial masyarakat kita.
Gelembung di Pasar Modal Pecah?
Medan Bisnis, 12 April 2010
Untuk kesekian kalinya, BI tetap mempertahankan besaran suku bunga atau biasa disebut dengan BI rate, seiring dengan meredanya tekanan inflasi. Laju inflasi yang relatif terkendali tersebut membuat ruang kenaikan BI Rate tertahan. Bahkan di bulan Maret kemarin justru yang terjadi adalah deflasi sebesar 0.14%.
Deflasi yang terjadi tersebut dirasakan dampaknya di pasar keuangan. Dimana nilai tukar Rupiah menguat di kisaran harga Rp 9.000/$, sementara IHSG kembali melonjak melewati batas tertinggi sebelum terjadinya krisis di tahun 2008. Meski demikian penguatan nilai tukar Rupiah serta IHSG membuat khawatir banyak orang.
Terlebih kenaikan indeks bursa. Harga-harga saham dinilai usdah terlalu mahal untuk di koleksi karena kenaikan indeks akhir-akhir ini. Euforia di lantai bursa di khawatirkan akan berakhir sehingga memicu aksi jual karena indeks telah mencapai titik tertinggi secara teknikal. Gelembung yang telah mengangkat indeks naik tinggi sepertinya akan pecah, benarkah demikian?
Kalau melihat dari sisi teknikal memang harga saham sepertinya sudah kelewat mahal. Namun, kalau melihat sisi fundamental sepertinya gelembung tersebut masih akan tetap terjaga. Kalaupun pecah tidak dalam waktu dekat ini. Ada beberapa alasan yang melandasi pendapat tersebut.
Dilihat dari sisi internal. fundamental ekonomi yang masih kuat. Laju inflasi yang terkendali serta pertumbuhan yang relatif terjaga menjadi salah satu alasannya. BI rate yang masih relatif terjaga menjadi salah satu indikator ekonomi makro yang utama.
Musim pembagian deviden di pertengahan tahun juga menjadi pemicu lainnya. Animo investor untuk memburu saham-saham di bursa sepertinya belum akan berakhir seiring dengan aksi korporasi dari para emiten yang melantai di bursa. Sejarah mencatat IHSG selalu mengalami kenaikan menjelang hajatan rutin tersebut.
Sisi internal lain yang mendukung adalah membaiknya iklim politik di negeri ini. Demokrasi yang merupakan pilar utama dunia perpolitikan sangat mendukung perekonomian kita. Meskipun belum terlepas dari belitan kasus century, namun sepertinya permasalahan century tidak memberikan dampak negatif yang luar biasa bagi perekonomian secara keseluruhan.
Dari sisi eksternal, kenaikan komoditas seiring dengan membaiknya perekonomian AS turut memberi warna lain bagi IHSG. Ingatkah kita, bahwa kenaikan indeks di tahun 2008 tidak terlepas dari booming harga komoditas yang melambung tinggi. Oleh karena itu kenaikan harga minyak mentah maupun komoditas liannya akan berpengaruh bagi kenaikan indeks bursa.
Nilai mata uang US Dolar yang melemah setelah Yunani diperkirakan mapu mengatasi kjrisis yang terjadi menjadi pendorong bagi menguatnya mata uang dunia lain termasuk nilai tukar Rupiah. Sisi eksternal yang lain adalah ketidakamanan yang terjadi di Thailand. Negeri Gajah Putih tersebut masih harus berusaha untuk lepas dari kemelut pergantian pemerintahan yang selalu berganti dengan sebuah tragedi.
Investor tentunya akan memilih Negara lain yang lebih aman untuk menginvestasikan dananya. Dan Indonesia tentunya memiliki kesempatan tersebut. Sejauh ini IHSG masih tetap kinclong dan menjadi indeks bursa terbaik di Asia. Gelembung yang terjadi sekarang ini memang berpotensi untuk pecah. Namun tidak dalam waktu dekat ini.
Untuk kesekian kalinya, BI tetap mempertahankan besaran suku bunga atau biasa disebut dengan BI rate, seiring dengan meredanya tekanan inflasi. Laju inflasi yang relatif terkendali tersebut membuat ruang kenaikan BI Rate tertahan. Bahkan di bulan Maret kemarin justru yang terjadi adalah deflasi sebesar 0.14%.
Deflasi yang terjadi tersebut dirasakan dampaknya di pasar keuangan. Dimana nilai tukar Rupiah menguat di kisaran harga Rp 9.000/$, sementara IHSG kembali melonjak melewati batas tertinggi sebelum terjadinya krisis di tahun 2008. Meski demikian penguatan nilai tukar Rupiah serta IHSG membuat khawatir banyak orang.
Terlebih kenaikan indeks bursa. Harga-harga saham dinilai usdah terlalu mahal untuk di koleksi karena kenaikan indeks akhir-akhir ini. Euforia di lantai bursa di khawatirkan akan berakhir sehingga memicu aksi jual karena indeks telah mencapai titik tertinggi secara teknikal. Gelembung yang telah mengangkat indeks naik tinggi sepertinya akan pecah, benarkah demikian?
Kalau melihat dari sisi teknikal memang harga saham sepertinya sudah kelewat mahal. Namun, kalau melihat sisi fundamental sepertinya gelembung tersebut masih akan tetap terjaga. Kalaupun pecah tidak dalam waktu dekat ini. Ada beberapa alasan yang melandasi pendapat tersebut.
Dilihat dari sisi internal. fundamental ekonomi yang masih kuat. Laju inflasi yang terkendali serta pertumbuhan yang relatif terjaga menjadi salah satu alasannya. BI rate yang masih relatif terjaga menjadi salah satu indikator ekonomi makro yang utama.
Musim pembagian deviden di pertengahan tahun juga menjadi pemicu lainnya. Animo investor untuk memburu saham-saham di bursa sepertinya belum akan berakhir seiring dengan aksi korporasi dari para emiten yang melantai di bursa. Sejarah mencatat IHSG selalu mengalami kenaikan menjelang hajatan rutin tersebut.
Sisi internal lain yang mendukung adalah membaiknya iklim politik di negeri ini. Demokrasi yang merupakan pilar utama dunia perpolitikan sangat mendukung perekonomian kita. Meskipun belum terlepas dari belitan kasus century, namun sepertinya permasalahan century tidak memberikan dampak negatif yang luar biasa bagi perekonomian secara keseluruhan.
Dari sisi eksternal, kenaikan komoditas seiring dengan membaiknya perekonomian AS turut memberi warna lain bagi IHSG. Ingatkah kita, bahwa kenaikan indeks di tahun 2008 tidak terlepas dari booming harga komoditas yang melambung tinggi. Oleh karena itu kenaikan harga minyak mentah maupun komoditas liannya akan berpengaruh bagi kenaikan indeks bursa.
Nilai mata uang US Dolar yang melemah setelah Yunani diperkirakan mapu mengatasi kjrisis yang terjadi menjadi pendorong bagi menguatnya mata uang dunia lain termasuk nilai tukar Rupiah. Sisi eksternal yang lain adalah ketidakamanan yang terjadi di Thailand. Negeri Gajah Putih tersebut masih harus berusaha untuk lepas dari kemelut pergantian pemerintahan yang selalu berganti dengan sebuah tragedi.
Investor tentunya akan memilih Negara lain yang lebih aman untuk menginvestasikan dananya. Dan Indonesia tentunya memiliki kesempatan tersebut. Sejauh ini IHSG masih tetap kinclong dan menjadi indeks bursa terbaik di Asia. Gelembung yang terjadi sekarang ini memang berpotensi untuk pecah. Namun tidak dalam waktu dekat ini.
Permasalahan Gayus, Contoh Ketidakadilan
Medan Bisnis, 5 April 2010
Dimasa krisis seperti sekarang ini (meskipun tak separah krisis 1997/98), hampir 70% ekonomi kita adalah sektor informal. Dimana banyak tenaga kerja di Indonesia bekerja seperti tukang sate, buruh tani, tukang becak/ojek dll. Pendapatan yang mereka dapat bahkan masih ada yang tidak dapat memenuhi kebutuhan yang paling mendasar sekalipun.
Kondisi krisis memang merupakan momen buruk terhadap perekonomian. Banyak orang yang dipaksa banting setir untuk mencari pekerjaan baru guna memenuhi kebutuhannya. Orang-orang tersebut umumnya adalah mereka yang memiliki SDM rendah serta tidak memiliki modal sehingga dengan daya upaya seadanya mereka mencoba peruntungan hanya sekedar untuk menyambung hidup.
Program-program pemberdayaan masyarakat seperti PNPM, kredit UKM maupun program pemerintah sejenisnya, sepertinya belum juga menjadi senjata paling ampuh untuk mengentaskan kemiskinan. Terlepas apakah program tersebut kurang efektif, tidak tepat sasaran sehingga ada kalangan yang menilai program tersebut masih belum dirasakan manfaatnya secara signifikan bagi masyarakat.
Apabila dibandingkan dengan negara lain, bukankah Indonesia mampu menjaga laju pertumbuhan ekonominya. Dengan laju pertumbuhan tersebut seyogyanya mereka yang bekerja di sektor informal mampu menaikkan taraf hidupnya sehingga dapat masuk dan digolongkan kedalam sektor formal. Seperti memiliki memiliki izin usaha yang resmi dan terdaftar, memiliki karyawan hingga membayar pajak.
Perekonomian yang terus tumbuh akan terus mengkikis para pekerja di sektor informal. Sehingga akan tercipta suatu perekonomian modern yang benar-benar mampu memperkecil jumlah pekerja di sektor informal. Dan Indonesia saat ini memiliki ruang yang cukup untuk menciptakan itu semua. Ada beberapa hal yang melandasinya antara lain ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi krisis global seperti sekarang ini.
Namun, wajah perekonomian Indonesia kembali tercoreng. Seperti yang terjadi saat ini, kasus makelar pajak yang menyeret beberapa petinggi negara ini. Potret kehidupan sosial seperti ini jelas mencoreng semangat pemerintah yang terus melawan korupsi serta reformasi birokrasi yang digalakkan. Pemerintah kembali kecolongan dimana semangat yang dikobarkan ternyata tidak didukung sepenuhnya oleh aparaturnya sendiri.
Bayangkan saja, apabila seorang pegawai pelaksana setingkat Gayus mampu mengumpulkan kekayaan hingga Rp. 28 Milyar. Bagaimana sebenarnya gambaran gunung es dari permasalahan tersebut. Ada berapa banyak serta seberapa besar uang yang diterima atasan Gayus. Belum lagi oknum aparat lain yang terkait dengan aksi Gayus tersebut seperti Kejaksaan maupun POLRI.
Dan yang tak kalah penting berapa banyak uang yang seharusnya masuk ke kantong pemerintah dari penerimaan pajak. Karena pada dasarnya seorang wajib pajak secara finansial tentunya lebih diuntungkan oleh sindikat makelar pajak dan membayar sindikat tersebut dibandingkan dengan harus membayar pajak yang sesuai dengan ketentuan dan keharusan. Bukankah di negeri ini pajak merupakan salah satu pendapatan negara dalam menopang perekonomiannya.
Apabila kita kaitkan dengan sektor informal seperti di awal tulisan ini. Jelas salah satu solusi yang dibutuhkan untuk mengurangi permasalahan itu adalah pendanaan. Pendanaan tersebut nantinya dapat berupa program2 strategis pemerintah seperti PNPM, Kredit UKM dan sejenisnya. Darimana pendanaan tersebut? Kalau tidak dari pajak salah satunya.
Peran pengawasan keuangan negara tentunya tidak terlepas dari pengawasan para pembayar pajak. Negara yang lebih maju memiliki peran pajak yang lebih besar. Kalau masih saja ada korporasi ataupun perorangan yang mengemplang membayar pajak, maka sulit untuk mengharapkan adanya pengentasan kemiskinan.
Dimasa krisis seperti sekarang ini (meskipun tak separah krisis 1997/98), hampir 70% ekonomi kita adalah sektor informal. Dimana banyak tenaga kerja di Indonesia bekerja seperti tukang sate, buruh tani, tukang becak/ojek dll. Pendapatan yang mereka dapat bahkan masih ada yang tidak dapat memenuhi kebutuhan yang paling mendasar sekalipun.
Kondisi krisis memang merupakan momen buruk terhadap perekonomian. Banyak orang yang dipaksa banting setir untuk mencari pekerjaan baru guna memenuhi kebutuhannya. Orang-orang tersebut umumnya adalah mereka yang memiliki SDM rendah serta tidak memiliki modal sehingga dengan daya upaya seadanya mereka mencoba peruntungan hanya sekedar untuk menyambung hidup.
Program-program pemberdayaan masyarakat seperti PNPM, kredit UKM maupun program pemerintah sejenisnya, sepertinya belum juga menjadi senjata paling ampuh untuk mengentaskan kemiskinan. Terlepas apakah program tersebut kurang efektif, tidak tepat sasaran sehingga ada kalangan yang menilai program tersebut masih belum dirasakan manfaatnya secara signifikan bagi masyarakat.
Apabila dibandingkan dengan negara lain, bukankah Indonesia mampu menjaga laju pertumbuhan ekonominya. Dengan laju pertumbuhan tersebut seyogyanya mereka yang bekerja di sektor informal mampu menaikkan taraf hidupnya sehingga dapat masuk dan digolongkan kedalam sektor formal. Seperti memiliki memiliki izin usaha yang resmi dan terdaftar, memiliki karyawan hingga membayar pajak.
Perekonomian yang terus tumbuh akan terus mengkikis para pekerja di sektor informal. Sehingga akan tercipta suatu perekonomian modern yang benar-benar mampu memperkecil jumlah pekerja di sektor informal. Dan Indonesia saat ini memiliki ruang yang cukup untuk menciptakan itu semua. Ada beberapa hal yang melandasinya antara lain ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi krisis global seperti sekarang ini.
Namun, wajah perekonomian Indonesia kembali tercoreng. Seperti yang terjadi saat ini, kasus makelar pajak yang menyeret beberapa petinggi negara ini. Potret kehidupan sosial seperti ini jelas mencoreng semangat pemerintah yang terus melawan korupsi serta reformasi birokrasi yang digalakkan. Pemerintah kembali kecolongan dimana semangat yang dikobarkan ternyata tidak didukung sepenuhnya oleh aparaturnya sendiri.
Bayangkan saja, apabila seorang pegawai pelaksana setingkat Gayus mampu mengumpulkan kekayaan hingga Rp. 28 Milyar. Bagaimana sebenarnya gambaran gunung es dari permasalahan tersebut. Ada berapa banyak serta seberapa besar uang yang diterima atasan Gayus. Belum lagi oknum aparat lain yang terkait dengan aksi Gayus tersebut seperti Kejaksaan maupun POLRI.
Dan yang tak kalah penting berapa banyak uang yang seharusnya masuk ke kantong pemerintah dari penerimaan pajak. Karena pada dasarnya seorang wajib pajak secara finansial tentunya lebih diuntungkan oleh sindikat makelar pajak dan membayar sindikat tersebut dibandingkan dengan harus membayar pajak yang sesuai dengan ketentuan dan keharusan. Bukankah di negeri ini pajak merupakan salah satu pendapatan negara dalam menopang perekonomiannya.
Apabila kita kaitkan dengan sektor informal seperti di awal tulisan ini. Jelas salah satu solusi yang dibutuhkan untuk mengurangi permasalahan itu adalah pendanaan. Pendanaan tersebut nantinya dapat berupa program2 strategis pemerintah seperti PNPM, Kredit UKM dan sejenisnya. Darimana pendanaan tersebut? Kalau tidak dari pajak salah satunya.
Peran pengawasan keuangan negara tentunya tidak terlepas dari pengawasan para pembayar pajak. Negara yang lebih maju memiliki peran pajak yang lebih besar. Kalau masih saja ada korporasi ataupun perorangan yang mengemplang membayar pajak, maka sulit untuk mengharapkan adanya pengentasan kemiskinan.
Subscribe to:
Posts (Atom)