Medan Bisnis, 17 September 2007
Lengkap sudah alasan yang mengharuskan The FED untuk kembali memangkas suku bunganya. Pasar merespon kondisi perekonomian Amerika belakangan ini dengan kepanikan yang akhirnya berbuntut pada lukuidasi asset-asset dalam US$ secara besar-besaran. Dan kepanikan diperkirakan akan bertambah besar apabila The FED bersikeras untuk tetap mempertahankan suku bunganya.
Pernyataan-pernyataan optimis dari pejabat Bank Sentral AS sebelumnya mungkin sudah tidak begitu dihiraukan lagi oleh pasar pada saat ini, karena pernyataan optimis pejabat Bank Sentral AS tidak didukung oleh data-data perekonomian yang justru tidak berkorelasi dengan statement sebelumnya.
Data ketenagakerjaan yang merealisasikan penurunan menjadi pukulan keras bagi kinerja mata uang US$ yang terpuruk dalam level terendah selama 15 tahun terakhir terhadap mata uang utama dunia. Penurunan tersebut menjadi kekhawatiran pasar akan terjadinya resesi serta tekanan bagi Bank Sentral AS untuk menurunkan suku bunganya.
Lebih parahnya lagi, data penyusutan tenaga kerja sebanyak 4.000 jiwa selama bulan Agustus juga diikuti oleh revisi penyusutan selama bulan Juni dan Juli dari angka aktual sebelumnya. Pada saat ini, The FED benar-benar tidak diuntungkan dari sisi manapun untuk setiap kebijakan yang akan diambil.
Daya tarik Dollar sebagai Safe Heaven terkikis setelah kembali mencatatkan pelemahan terhadap sejumlah mata uang utama dunia seperti Euro. Hal tersebut dikarenakan bertolak belakangnya pernyataan serta kebijakan yang akan diambil oleh Gubernur Bank Sentral AS (Ben Bernanke) dengan Gubernur Bank Sentral Eropa (Jean C. Trichet).
Kalau sebelumnya Bernanke menyatakan akan kemungkinan akan dipangkasnya suku bunga The FED. Trichet justru berkosentrasi pada permasalahan tingginya laju inflasi yang notabene akan memberikan ekspektasi kenaikan suku bunga Euro. Dan Euro diperkirakan akan terus menguat apabila kedua Gubernur Bank Sentral tersebut tetap bersikukuh pada pernyataannya.
Sejauh ini, ekspektasi yang berkembang menyebutkan bahwa kemungkinan Bank Sentral AS hanya akan memotong suku bunganya sebesar 25 basis poin pada tanggal 18 September mendatang. Hal tersebut sangat dimungkinkan karena The FED diperkirakan akan bermain aman atau “hanya sekedar menutup luka”.
Namun, berapa pun besarnya suku bunga yang akan dipotong, hal tersebut tetap berdampak negatif bagi US Dolar karena tetap berimplikasi pada mengecilnya selisih bunga US$ terhadap mata uang lainnya.
Sementara itu, Rupiah yang belakangan ini tidak beranjak dari level 9.400-an diperkirakan akan terus tertahan dibawah level 9.500 hingga ada sentimen baru di pasar. Ekspektasi pasar masih seputar BI rate yang diperkirakan akan kembali diturunkan seiring dengan rencana penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika.
Pernyataan Gubernur Bank Sentral Indonesia sebelumnya yang akan lebih fokus terhadap perkembangan bunga Bank Sentral Amerika, membuat pasar menilai bahwa penurunan suku bunga The FED nantinya tidak akan begitu menguntungkan bagi Rupiah karena juga akan diikuti oleh penurunan BI rate.
Semua yang disajikan didalam Blog ini merupakan artikel yang dimuat dibeberapa Media Cetak dalam negeri. Merupakan opini pribadi dan tidak merefleksikan pandangan dari institusi dimana penulis bekerja saat ini. Semoga Bermanfaat.
Thursday, September 20, 2007
Ekonomi AS Rapuh, Peluang BI Rate Turun Semakin Besar
Medan Bisnis, 10 September 2007
Hari jum’at kemarin merupakan hari jum’at pertama dalam bulan ini, dimana banyak pengamat yang menanti laporan data NFP (Non-Farm Payroll) Amerika, yang akan menjadi penentu arah kemanakah Bank Sentral Amerika (The FED) akan membawa negaranya dari krisis gagal bayar serta mortgage sector crisis.
Data Non-Farm Payrolls adalah data yang menunjukan jumlah tenaga kerja baru dari sektor non pertanian, baik yang bekerja full time maupun part time serta mendapat upah resmi. Data tersebut sangat berguna sebagai indikator laju pertumbuhan ekonomi AS, yang nantinya akan menentukan tingkat konsumsi warga Negara AS yang berkorelasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika. Data tersebut juga digunakan para trader dalam mengambil keputusan transaksi di pasar keuangan.
Sebelumnya dalam laporan Fed’s Beige Book sejumlah 12 pejabat bank sentral di 12 distrik Negara Amerika Serikat menyatakan bahwa terjadi perlambatan di sektor perumahan, namun tetap meng-klaim bahwa secara keseluruhan sektor keuangan belum berada dalam taraf yang mengkhawatirkan.
Namun data NFP yang dirilis pemerintah Amerika jum’at kemarin menunjukan bahwa telah terjadi permasalahan serius, dimana terjadi penurunan jumlah tenaga kerja sebanyak 4.000 jiwa (selama bulan agustus), jauh dari ekspektasi sebelumnya terjadi kenaikan sebesar 110.000 jiwa. Data tersebut membuat US Dolar terpuruk terhadap sejumlah hard currency lainnya. Data tersebut sekaligus menunjukan penurunan pertama sejak 4 tahun terakhir.
Implikasinya jelas, The Fed diperkirakan akan menurunkan suku bunganya (The Fed Fund Rate) dikisaran level 5%. Hal tersebut juga pernah diungkapkan oleh Gubernur Bank Sentral AS serta Presiden George W. Bush. Namun, langkah yang tidak populer tersebut justru diambil pada saat mata uang US Dolar mendapat tekanan serius di pasar global seperti yang terjadi pada saat ini.
Bagaikan 2 sisi mata pisau, The Fed dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mempunyai dampak negatif terhadap perekonomian AS. Namun, melambatnya sektor perumahan Amerika sepertinya menjadi perhatian serius, sehingga pemerintah Amerika lebih memilih untuk memangkas suku bunganya.
Demi meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi Amerika, mungkin hal tersebut yang menjadi alasan utama negeri paman sam mengambil keputusannya. Akan tetapi, dengan diturunkannya The Fed Fund Rate maka akan membuat perbedaan suku bunga Amerika dengan Negara lain akan mengecil. Hal tersebut tentunya akan memicu likuidasi asset dalam US Dolar secara besar-besaran, yang nantinya akan berimbas pada melemahnya mata uang US$.
Kalau sudah melemah, maka laju tekanan inflasi yang disebabkan oleh arus masuk barang dari luar akan semakin meningkat. Terlebih Amerika selalu mengeluhkan arus impor barang yang melimpah dari luar terutama dari China. Kalau inflasi sudah meningkat maka apa daya, suku bunga yang lebih tinggi sangat dibutuhkan. Bisa saja terjadi deflasi, namun dengan pertimbangan terjadi penurunan daya beli masyarakat Amerika.
Bagi Indonesia, khususnya BI hal tersebut merupakan momen penting bagi Bank Sentral untuk kembali menurunkan BI Rate. Seperti yang pernah diekspektasikan sebelumnya, bahwa BI masih menunggu The Fed dalam mengambil keputusan. Kalau nantinya The Fed benar-benar menurunkan suku bunganya pada tanggal 18 September mendatang, bukan tidak mungkin BI akan menurunkan BI Rate di awal bulan Oktober mendatang. Dan bukan hal yang mustahil kalau besaran penurunan BI Rate akan sama dengan penurunan The Fed Fund Rate.
Namun, BI diharapakan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Selain dikarenakan terjadi pelemahan pada mata uang Rupiah, Penurunan suku bunga harus juga melihat pergerakan suku bunga dinegara lainnya, serta laju tekanan inflasi selama bulan ramadhan ini. Sejauh ini, telah terjadi kenaikan disejumlah bahan makanan pokok akibat meningkatnya permintaan menjelang perayaan keagamaan. Selamat menunaikan Ibadah Puasa.
Hari jum’at kemarin merupakan hari jum’at pertama dalam bulan ini, dimana banyak pengamat yang menanti laporan data NFP (Non-Farm Payroll) Amerika, yang akan menjadi penentu arah kemanakah Bank Sentral Amerika (The FED) akan membawa negaranya dari krisis gagal bayar serta mortgage sector crisis.
Data Non-Farm Payrolls adalah data yang menunjukan jumlah tenaga kerja baru dari sektor non pertanian, baik yang bekerja full time maupun part time serta mendapat upah resmi. Data tersebut sangat berguna sebagai indikator laju pertumbuhan ekonomi AS, yang nantinya akan menentukan tingkat konsumsi warga Negara AS yang berkorelasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika. Data tersebut juga digunakan para trader dalam mengambil keputusan transaksi di pasar keuangan.
Sebelumnya dalam laporan Fed’s Beige Book sejumlah 12 pejabat bank sentral di 12 distrik Negara Amerika Serikat menyatakan bahwa terjadi perlambatan di sektor perumahan, namun tetap meng-klaim bahwa secara keseluruhan sektor keuangan belum berada dalam taraf yang mengkhawatirkan.
Namun data NFP yang dirilis pemerintah Amerika jum’at kemarin menunjukan bahwa telah terjadi permasalahan serius, dimana terjadi penurunan jumlah tenaga kerja sebanyak 4.000 jiwa (selama bulan agustus), jauh dari ekspektasi sebelumnya terjadi kenaikan sebesar 110.000 jiwa. Data tersebut membuat US Dolar terpuruk terhadap sejumlah hard currency lainnya. Data tersebut sekaligus menunjukan penurunan pertama sejak 4 tahun terakhir.
Implikasinya jelas, The Fed diperkirakan akan menurunkan suku bunganya (The Fed Fund Rate) dikisaran level 5%. Hal tersebut juga pernah diungkapkan oleh Gubernur Bank Sentral AS serta Presiden George W. Bush. Namun, langkah yang tidak populer tersebut justru diambil pada saat mata uang US Dolar mendapat tekanan serius di pasar global seperti yang terjadi pada saat ini.
Bagaikan 2 sisi mata pisau, The Fed dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mempunyai dampak negatif terhadap perekonomian AS. Namun, melambatnya sektor perumahan Amerika sepertinya menjadi perhatian serius, sehingga pemerintah Amerika lebih memilih untuk memangkas suku bunganya.
Demi meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi Amerika, mungkin hal tersebut yang menjadi alasan utama negeri paman sam mengambil keputusannya. Akan tetapi, dengan diturunkannya The Fed Fund Rate maka akan membuat perbedaan suku bunga Amerika dengan Negara lain akan mengecil. Hal tersebut tentunya akan memicu likuidasi asset dalam US Dolar secara besar-besaran, yang nantinya akan berimbas pada melemahnya mata uang US$.
Kalau sudah melemah, maka laju tekanan inflasi yang disebabkan oleh arus masuk barang dari luar akan semakin meningkat. Terlebih Amerika selalu mengeluhkan arus impor barang yang melimpah dari luar terutama dari China. Kalau inflasi sudah meningkat maka apa daya, suku bunga yang lebih tinggi sangat dibutuhkan. Bisa saja terjadi deflasi, namun dengan pertimbangan terjadi penurunan daya beli masyarakat Amerika.
Bagi Indonesia, khususnya BI hal tersebut merupakan momen penting bagi Bank Sentral untuk kembali menurunkan BI Rate. Seperti yang pernah diekspektasikan sebelumnya, bahwa BI masih menunggu The Fed dalam mengambil keputusan. Kalau nantinya The Fed benar-benar menurunkan suku bunganya pada tanggal 18 September mendatang, bukan tidak mungkin BI akan menurunkan BI Rate di awal bulan Oktober mendatang. Dan bukan hal yang mustahil kalau besaran penurunan BI Rate akan sama dengan penurunan The Fed Fund Rate.
Namun, BI diharapakan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Selain dikarenakan terjadi pelemahan pada mata uang Rupiah, Penurunan suku bunga harus juga melihat pergerakan suku bunga dinegara lainnya, serta laju tekanan inflasi selama bulan ramadhan ini. Sejauh ini, telah terjadi kenaikan disejumlah bahan makanan pokok akibat meningkatnya permintaan menjelang perayaan keagamaan. Selamat menunaikan Ibadah Puasa.
The FED dan Ramadhan akan Menjadi Acuan BI
Medan Bisnis, 3 September 2007
Pada awal bulan September ini pemerintah dijadwalkan akan kembali merilis data inflasi selama bulan Agustus. Pemerintah berkeyakinan bahwa inflasi masih akan bergerak sesuai koridor yang ditetapkan pemerintah sebelumnya, yakni 6-6.5% selama tahun 2007 ini.
Keyakinan stabilnya laju inflasi selama bulan Agustus tersebut mencuat walaupun sempat terjadi kenaikan harga minyak goreng maupun tarif jalan tol yang turut diiringi oleh kelangkaan minyak tanah di beberapa daerah di Indonesia. Terlebih BPS memperkirakan bahwa laju inflasi selama bulan Agustus akan lebih rendah dari laju inflasi bulan July sebesar 0.72%.
Berita baik, memang demikian. Dengan melambatnya laju inflasi maka akan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) yang saat ini masih berada di level 8.25%. Dengan diturunkannya BI Rate diharapkan akan meningkatkan konsumsi yang berbuntut pada meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB), dan tentunya masih banyak dampak positif lainnya.
Namun, Benarkah BI akan menurunkan BI rate?. Beberapa data yang perlu dicermati adalah perkembangan dari nilai tukar mata uang maupun faktor global lainnya seperti keputusan Bank Sentral Amerika, yang diperkirakan akan turut menjadi acuan BI dalam menentukan BI rate.
Nilai tukar Rupiah yang kembali diperdagangkan melemah dikisaran level 9400 saat ini, diperkirakan akan menahan BI untuk menurunkan BI rate. Padahal Rupiah sempat stabil dikisaran harga 9100. Pelemahan tersebut dipicu oleh memburuknya kinerja indeks bursa global yang turut menyeret sejumlah mata uang dunia.
Rupiah pun sempat mendekati ambang batas nilai tukar yang ditetapkan pemerintah yakni 9500. Anjuran untuk melakukan intervensi pun bermunculan apabila Rupiah menyentuh level psikologis 9500. Hasilnya cukup efektif himbauan tersebut secara psikologis mampu menahan laju penguatan Rupiah lebih jauh.
Sehingga BI tidak mempunyai alasan yang kuat untuk kembali menurunkan BI Rate disaat nilai tukar Rupiah masih terpuruk terhadap US Dolar seperti saat ini. Karena penurunan BI Rate hanya akan membuat para pemodal memindahkan modalnya ke Negara lain yang memberikan imbal hasil yang lebih baik.
Terkait faktor Global, keputusan Bank Sentral Amerka atau The FED Fund Rate dalam menentukan suku bunganya akan berdampak signifikan terhadap kebijakan moneter negeri ini. Maklumlah, The FED masih menjadi acuan arah suku bunga global.
Pada saat ini, perekonomian Amerika masih dihadapkan pada krisis di sektor kredit. Meski demikian Gubernur Bank Sentral Amerika Ben Bernanke maupun Presiden Amerika George W. Bush memberikan sinyal akan kemungkinan penurunan suku bunga US Dolar, yang saat ini berada di level 5.25%.
Dalam pernyataannya Bernanke mengatakan akan melakukan tindakan untuk menyelematkan perekonomian Amerika walaupun dengan menurunkan suku bunga sekalipun dalam bulan September ini. Keputusan tersebut tentunya akan berdampak pada melemahnya mata uang US Dolar serta meningkatnya laju tekanan inflasi akibat terdepresiasinya mata uang US Dolar.
Meski demikian, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI minggu ini, BI diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunganya dalam level (interest rate differential) yang paling aman. Karena keputusan Bank Sentral Amerika (The FED) pada tanggal 18 september mendatang masih akan menjadi pertimbangan BI dalam menentukan suku bunga pada awal bulan Oktober.
Namun bukan tidak mungkin BI akan tetap mempertahankan BI rate. Laju tekanan inflasi diperkirakan akan mengalami puncaknya pada saat perayaan keagamaan (Ramadhan dan Idul Fitri). Meningkatnya konsumsi masyarakat akan memberikan penekanan pada harga sejumlah barang dan bahan makanan dan turut berpotensi membuat Rupiah melemah.
Tanpa adanya kebijakan di sektor pangan, dimana harga bahan makanan pokok bergerak dalam volatilitas yang tajam serta memburuknya kinerja Rupiah seperti yang terjadi pada saat ini, bukan tidak mungkin penurunan suku bunga hanyalah sebuah impian, layaknya seseorang yang mengharapkan berkah di bulan Ramadahan, namun tidak melakukan secuil amal ibadah.
Pada awal bulan September ini pemerintah dijadwalkan akan kembali merilis data inflasi selama bulan Agustus. Pemerintah berkeyakinan bahwa inflasi masih akan bergerak sesuai koridor yang ditetapkan pemerintah sebelumnya, yakni 6-6.5% selama tahun 2007 ini.
Keyakinan stabilnya laju inflasi selama bulan Agustus tersebut mencuat walaupun sempat terjadi kenaikan harga minyak goreng maupun tarif jalan tol yang turut diiringi oleh kelangkaan minyak tanah di beberapa daerah di Indonesia. Terlebih BPS memperkirakan bahwa laju inflasi selama bulan Agustus akan lebih rendah dari laju inflasi bulan July sebesar 0.72%.
Berita baik, memang demikian. Dengan melambatnya laju inflasi maka akan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) yang saat ini masih berada di level 8.25%. Dengan diturunkannya BI Rate diharapkan akan meningkatkan konsumsi yang berbuntut pada meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB), dan tentunya masih banyak dampak positif lainnya.
Namun, Benarkah BI akan menurunkan BI rate?. Beberapa data yang perlu dicermati adalah perkembangan dari nilai tukar mata uang maupun faktor global lainnya seperti keputusan Bank Sentral Amerika, yang diperkirakan akan turut menjadi acuan BI dalam menentukan BI rate.
Nilai tukar Rupiah yang kembali diperdagangkan melemah dikisaran level 9400 saat ini, diperkirakan akan menahan BI untuk menurunkan BI rate. Padahal Rupiah sempat stabil dikisaran harga 9100. Pelemahan tersebut dipicu oleh memburuknya kinerja indeks bursa global yang turut menyeret sejumlah mata uang dunia.
Rupiah pun sempat mendekati ambang batas nilai tukar yang ditetapkan pemerintah yakni 9500. Anjuran untuk melakukan intervensi pun bermunculan apabila Rupiah menyentuh level psikologis 9500. Hasilnya cukup efektif himbauan tersebut secara psikologis mampu menahan laju penguatan Rupiah lebih jauh.
Sehingga BI tidak mempunyai alasan yang kuat untuk kembali menurunkan BI Rate disaat nilai tukar Rupiah masih terpuruk terhadap US Dolar seperti saat ini. Karena penurunan BI Rate hanya akan membuat para pemodal memindahkan modalnya ke Negara lain yang memberikan imbal hasil yang lebih baik.
Terkait faktor Global, keputusan Bank Sentral Amerka atau The FED Fund Rate dalam menentukan suku bunganya akan berdampak signifikan terhadap kebijakan moneter negeri ini. Maklumlah, The FED masih menjadi acuan arah suku bunga global.
Pada saat ini, perekonomian Amerika masih dihadapkan pada krisis di sektor kredit. Meski demikian Gubernur Bank Sentral Amerika Ben Bernanke maupun Presiden Amerika George W. Bush memberikan sinyal akan kemungkinan penurunan suku bunga US Dolar, yang saat ini berada di level 5.25%.
Dalam pernyataannya Bernanke mengatakan akan melakukan tindakan untuk menyelematkan perekonomian Amerika walaupun dengan menurunkan suku bunga sekalipun dalam bulan September ini. Keputusan tersebut tentunya akan berdampak pada melemahnya mata uang US Dolar serta meningkatnya laju tekanan inflasi akibat terdepresiasinya mata uang US Dolar.
Meski demikian, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI minggu ini, BI diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunganya dalam level (interest rate differential) yang paling aman. Karena keputusan Bank Sentral Amerika (The FED) pada tanggal 18 september mendatang masih akan menjadi pertimbangan BI dalam menentukan suku bunga pada awal bulan Oktober.
Namun bukan tidak mungkin BI akan tetap mempertahankan BI rate. Laju tekanan inflasi diperkirakan akan mengalami puncaknya pada saat perayaan keagamaan (Ramadhan dan Idul Fitri). Meningkatnya konsumsi masyarakat akan memberikan penekanan pada harga sejumlah barang dan bahan makanan dan turut berpotensi membuat Rupiah melemah.
Tanpa adanya kebijakan di sektor pangan, dimana harga bahan makanan pokok bergerak dalam volatilitas yang tajam serta memburuknya kinerja Rupiah seperti yang terjadi pada saat ini, bukan tidak mungkin penurunan suku bunga hanyalah sebuah impian, layaknya seseorang yang mengharapkan berkah di bulan Ramadahan, namun tidak melakukan secuil amal ibadah.
Tuesday, June 19, 2007
Rupiah Under Pressure
Medan Bisnis, 18 Juni 2007
Selama sesi perdagangan minggu kemarin, Rupiah diperdagangkan dalam fluktuasi yang sangat lebar dan sempat menyentuh level terendah dikisaran harga 9110. Namun laju pelemahan Rupiah sepertinya terhenti dan selanjutnya bergerak terbatas dalam range 8900 hingga 9100. Diturunkannya BI rate sebesar 25 basis poin dinilai menjadi salah satu pemicu utama melemahnya Rupiah terhadap US Dolar.
Padahal di Amerika, The FED masih menyatakan bahwa tingginya laju tekanan inflasi masih menjadi isu penting, sehingga menimbulkan ekspektasi bahwa bunga The FED masih akan bertahan dan dimungkinkan akan kembali dinaikan. Pernyataan hawkish yang dilontarkan beberapa pejabat federal reserve tersebut sempat membuat US Dolar menguat terhadap hampir semua mata uang hard currency lainnya. Meski demikian, aktifitas perdagangan terpantau minim dengan sebagian besar mata uang bergerak dalam kisaran yang sempit.
Sementara itu, BI masih memberikan sinyal bahwa suku bunga masih akan diturunkan lagi hingga ke level 8% sampai akhir tahun ini. Pernyataan tersebut tentunya sangat bertolak belakang dengan langkah sejumlah Bank Sentral termasuk Amerika yang justru diekspektasikan akan menaikan suku bunga acuannya.
Sejauh ini, transaksi model carry trade masih menjadi faktor penggerak utama pasar. Namun minat investor terhadap Rupiah tentunya akan berkurang seiring dengan tren penurunan suku bunga Rupiah. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat BI merasa khawatir dengan melemahnya Rupiah belakangan ini, karena masih somewhere around 9000 dan menurut BI melemahnya Rupiah juga dikarenakan faktor Global. Over confidence mungkin itu yang dirasakan BI saat ini.
Sangat berbeda dengan Selandia Baru, Bank sentral selandia baru atau RBNZ melakukan intervensi dengan membuat mata uang Dolar selandia melemah terhadap mata uang yang memberikan yield lebih rendah, terutama terhadap Yen Jepang dan Franc Swiss. Kebijakan tersebut diambil 4 hari setelah RBNZ menaikan suku bunga menjadi 8% (merupakan suku bunga tertinggi diantara Negara maju lainnya). RBNZ meyakini bahwa penguatan mata uang Dolar Selandia Baru tidak terlepas dari aksi carry trade pelaku pasar.
Kebijakan tersebut menegaskan bahwa RBNZ sangat keberatan dengan terlalu menguatnya mata uang Dolar Selandia Baru. Bukan tidak mungkin langkah serupa juga akan diikuti oleh Negara lainnya yang mengkhawatirkan dampak negatif dari transaksi carry trade.
Tekanan terhadap mata uang Asia, khususnya Rupiah diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring dengan dirilisnya beberapa data perekonomian AS, yang akhir-akhir ini menunjukkan perkembangan-perkembangan yang melebihi ekspektasi. Data-data tersebut membuat pasar berkesimpulan bahwa inflasi masih menjadi masalah utama dan mungkin akan memaksa The Fed mengambil sikap yang bertendensi terhadap kenaikan suku bunga atau hawkish.
Kalau ekspektasi pasar menyebutkan hal seperti itu, maka bisa diperkirakan bahwa ruang penguatan Rupiah akan semakin kecil tentunya, seiring dengan adanya tren kenaikan suku bunga global serta adanya tren penurunan suku bunga di dalam negeri.
Selama sesi perdagangan minggu kemarin, Rupiah diperdagangkan dalam fluktuasi yang sangat lebar dan sempat menyentuh level terendah dikisaran harga 9110. Namun laju pelemahan Rupiah sepertinya terhenti dan selanjutnya bergerak terbatas dalam range 8900 hingga 9100. Diturunkannya BI rate sebesar 25 basis poin dinilai menjadi salah satu pemicu utama melemahnya Rupiah terhadap US Dolar.
Padahal di Amerika, The FED masih menyatakan bahwa tingginya laju tekanan inflasi masih menjadi isu penting, sehingga menimbulkan ekspektasi bahwa bunga The FED masih akan bertahan dan dimungkinkan akan kembali dinaikan. Pernyataan hawkish yang dilontarkan beberapa pejabat federal reserve tersebut sempat membuat US Dolar menguat terhadap hampir semua mata uang hard currency lainnya. Meski demikian, aktifitas perdagangan terpantau minim dengan sebagian besar mata uang bergerak dalam kisaran yang sempit.
Sementara itu, BI masih memberikan sinyal bahwa suku bunga masih akan diturunkan lagi hingga ke level 8% sampai akhir tahun ini. Pernyataan tersebut tentunya sangat bertolak belakang dengan langkah sejumlah Bank Sentral termasuk Amerika yang justru diekspektasikan akan menaikan suku bunga acuannya.
Sejauh ini, transaksi model carry trade masih menjadi faktor penggerak utama pasar. Namun minat investor terhadap Rupiah tentunya akan berkurang seiring dengan tren penurunan suku bunga Rupiah. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat BI merasa khawatir dengan melemahnya Rupiah belakangan ini, karena masih somewhere around 9000 dan menurut BI melemahnya Rupiah juga dikarenakan faktor Global. Over confidence mungkin itu yang dirasakan BI saat ini.
Sangat berbeda dengan Selandia Baru, Bank sentral selandia baru atau RBNZ melakukan intervensi dengan membuat mata uang Dolar selandia melemah terhadap mata uang yang memberikan yield lebih rendah, terutama terhadap Yen Jepang dan Franc Swiss. Kebijakan tersebut diambil 4 hari setelah RBNZ menaikan suku bunga menjadi 8% (merupakan suku bunga tertinggi diantara Negara maju lainnya). RBNZ meyakini bahwa penguatan mata uang Dolar Selandia Baru tidak terlepas dari aksi carry trade pelaku pasar.
Kebijakan tersebut menegaskan bahwa RBNZ sangat keberatan dengan terlalu menguatnya mata uang Dolar Selandia Baru. Bukan tidak mungkin langkah serupa juga akan diikuti oleh Negara lainnya yang mengkhawatirkan dampak negatif dari transaksi carry trade.
Tekanan terhadap mata uang Asia, khususnya Rupiah diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring dengan dirilisnya beberapa data perekonomian AS, yang akhir-akhir ini menunjukkan perkembangan-perkembangan yang melebihi ekspektasi. Data-data tersebut membuat pasar berkesimpulan bahwa inflasi masih menjadi masalah utama dan mungkin akan memaksa The Fed mengambil sikap yang bertendensi terhadap kenaikan suku bunga atau hawkish.
Kalau ekspektasi pasar menyebutkan hal seperti itu, maka bisa diperkirakan bahwa ruang penguatan Rupiah akan semakin kecil tentunya, seiring dengan adanya tren kenaikan suku bunga global serta adanya tren penurunan suku bunga di dalam negeri.
Monday, June 11, 2007
Faktor Global atau Penurunan BI Rate
Medan Bisnis, 11 Juni 2007
Rupiah kembali melemah hingga menembus level 8900, setelah dalam beberapa perdagangan minggu lalu sempat menguat kekisaran level 8700-an. Menurut versi Bank Indonesia, melemahnya nilai tukar rupiah dikarenakan oleh faktor global seperti melemahnya sejumlah mata uang Asia serta technical correction terhadap indeks bursa global.
Pemerintah juga meyakinkan pasar bahwa keadaan tersebut hanya akan bersifat sementara. Namun, sayangnya kita tidak pernah tahu ukuran yang tepat untuk menjelaskan kata sementara tersebut, setiap orang pasti akan mempunyai sudut pandang yang berbeda, sementara bisa diartikan beberapa hari, minggu, bulan atau bahkan selama tahun 2007 ini.
Berbeda dari beberapa fakta yang terjadi, penurunan BI rate sebesar 25 basis poin dari sebelumnya sebesar 8.75% menjadi 8.5% diyakini sebagai salah satu pemicu melemahnya nilai tukar Rupiah ke level 8900-an. Sejauh ini, asumsi pemerintah bahwa suku bunga riil (selisih antara BI rate dan Inflasi) sebesar 1.5% hingga 2% cukup memberikan kenyamanan akan tidak terjadinya pembalikan modal atau reversal.
Selain itu, cadangan devisa yang cukup tinggi serta membaiknya fundamental eknomi Indonesia seperti yang diberitakan media seolah-olah meyakinkan kita bahwa ekonomi sudah berjalan pada jalur yang benar atau on the right track.
Meski demikian, belum ada yang mampu memperkirakan kapan dana-dana panas yang selama ini menjadi kambing hitam penguatan rupiah dan IHSG tidak akan keluar dari negeri ini. Dana-dana jangka pendek tersebut tentunya tidak akan melihat secara jauh keadaan ekonomi bangsa ini. Yang dia (hot money) tahu adalah bagaimana untuk berkembang biak dengan memanfaatkan produk-produk investasi yang menawarkan imbal hasil yang tinggi dan aman.
Sehingga cukup beralasan, Rupiah kembali melemah ketika BI rate kembali diturunkan, sementara beberapa Negara (misal Eropa) justru kembali menaikan suku bunga. Antisipasi yang sangat relevan untuk dilakukan adalah menanti kebijakan dari Bank Indonesia. Selaku penguasa moneter negeri ini, BI memiliki kewenangan untuk menstabilkan Rupiah dengan salah satu caranya adalah melakukan intervensi pasar.
Namun, apakah pembalikan modal yang terjadi akan menyeret bangsa ini ke dalam jurang krisis?, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Pemerintah maupun pihak terkait tentunya diharapkan mampu mengkonversi dana-dana jangka pendek tersebut menjadi FDI (foreign direct investment), dengan memformulasikan kerangka pertumbuhan yang berkorelasi dengan pertumbuhan di sektor riil.
Tentunya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Namun, instabilitas yang selalu terjadi di pasar finansial seharusnya mampu diekspektasikan guna menghindari negeri ini masuk ke jurang krisis yang berkepanjangan.
Kalau saat ini Rupiah melemah, IHSG terkoreksi, maka yang dibutuhkan adalah stabilisasi pasar jangka pendek. Namun kalau itu terjadi berulang-ulang maka kita harus me-review fundamental ekonomi bangsa ini, apakah benar-benar berjalan pada jalur yang benar. Seharusnya tidak menjadi kekhawatiran seandainya fundamental ekonomi negeri ini kuat menopang segala macam bentuk volatilitas pasar finansial.
Rupiah kembali melemah hingga menembus level 8900, setelah dalam beberapa perdagangan minggu lalu sempat menguat kekisaran level 8700-an. Menurut versi Bank Indonesia, melemahnya nilai tukar rupiah dikarenakan oleh faktor global seperti melemahnya sejumlah mata uang Asia serta technical correction terhadap indeks bursa global.
Pemerintah juga meyakinkan pasar bahwa keadaan tersebut hanya akan bersifat sementara. Namun, sayangnya kita tidak pernah tahu ukuran yang tepat untuk menjelaskan kata sementara tersebut, setiap orang pasti akan mempunyai sudut pandang yang berbeda, sementara bisa diartikan beberapa hari, minggu, bulan atau bahkan selama tahun 2007 ini.
Berbeda dari beberapa fakta yang terjadi, penurunan BI rate sebesar 25 basis poin dari sebelumnya sebesar 8.75% menjadi 8.5% diyakini sebagai salah satu pemicu melemahnya nilai tukar Rupiah ke level 8900-an. Sejauh ini, asumsi pemerintah bahwa suku bunga riil (selisih antara BI rate dan Inflasi) sebesar 1.5% hingga 2% cukup memberikan kenyamanan akan tidak terjadinya pembalikan modal atau reversal.
Selain itu, cadangan devisa yang cukup tinggi serta membaiknya fundamental eknomi Indonesia seperti yang diberitakan media seolah-olah meyakinkan kita bahwa ekonomi sudah berjalan pada jalur yang benar atau on the right track.
Meski demikian, belum ada yang mampu memperkirakan kapan dana-dana panas yang selama ini menjadi kambing hitam penguatan rupiah dan IHSG tidak akan keluar dari negeri ini. Dana-dana jangka pendek tersebut tentunya tidak akan melihat secara jauh keadaan ekonomi bangsa ini. Yang dia (hot money) tahu adalah bagaimana untuk berkembang biak dengan memanfaatkan produk-produk investasi yang menawarkan imbal hasil yang tinggi dan aman.
Sehingga cukup beralasan, Rupiah kembali melemah ketika BI rate kembali diturunkan, sementara beberapa Negara (misal Eropa) justru kembali menaikan suku bunga. Antisipasi yang sangat relevan untuk dilakukan adalah menanti kebijakan dari Bank Indonesia. Selaku penguasa moneter negeri ini, BI memiliki kewenangan untuk menstabilkan Rupiah dengan salah satu caranya adalah melakukan intervensi pasar.
Namun, apakah pembalikan modal yang terjadi akan menyeret bangsa ini ke dalam jurang krisis?, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Pemerintah maupun pihak terkait tentunya diharapkan mampu mengkonversi dana-dana jangka pendek tersebut menjadi FDI (foreign direct investment), dengan memformulasikan kerangka pertumbuhan yang berkorelasi dengan pertumbuhan di sektor riil.
Tentunya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Namun, instabilitas yang selalu terjadi di pasar finansial seharusnya mampu diekspektasikan guna menghindari negeri ini masuk ke jurang krisis yang berkepanjangan.
Kalau saat ini Rupiah melemah, IHSG terkoreksi, maka yang dibutuhkan adalah stabilisasi pasar jangka pendek. Namun kalau itu terjadi berulang-ulang maka kita harus me-review fundamental ekonomi bangsa ini, apakah benar-benar berjalan pada jalur yang benar. Seharusnya tidak menjadi kekhawatiran seandainya fundamental ekonomi negeri ini kuat menopang segala macam bentuk volatilitas pasar finansial.
Tuesday, June 05, 2007
Kekhawatiran yang Mendorong Penguatan Valuta
Medan Bisnis, 03 Juni 2007
Pemerintah China kembali mengeluarkan kebijakan di sektor keuangan dengan menaikan pajak atas perdagangan saham menjadi 0.3% dari sebelumnya sebesar 0.1%. Kebijakan tersebut memicu melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia bahkan di dunia. Kebijakan pemerintah China tersebut dilandaskan atas kekhawatiran akan adanya pembalikan modal seiring dengan penguatan pasar ekuitas di China belakangan ini.
Namun, kebijakan pemerintah China tersebut membuat mata uang Yen Jepang kembali menguat. Bahkan mata uang Euro harus mengalami koreksi yang paling dalam setelah mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah terhadap mata uang Yen Jepang. Pengumuman aturan baru oleh pemerintah China tersebut telah memicu kekhawatiran akan resiko yang ditimbulkan dari transaksi carry trade dengan cara meminjam mata uang Yen Jepang.
Tidak hanya itu, imbas dari kebijakan tersebut juga dirasakan pada fokus pasar yang mulai tertuju pada performa pasar saham dunia. Korelasi positif pun terlihat dalam beberapa minggu perdagangan terakhir, dimana ketika pasar saham mengalami koreksi, maka hal serupa juga terjadi pada pergerakan sejumlah mata uang.
Perubahan trenpun diperkirakan akan terjadi. Dimana pada saat sebelumnya Yen Jepang akan melemah apabila terjadi penguatan di pasar saham, maka pada saat ini perubahan porsi dalam transaksi carry trade akan sangat menguntungkan mata uang Yen Jepang, karena ada tren pelemahan pasar saham dunia.
Namun, beberapa data penting dari Amerika seperti Gross Domestic Product (GDP) dan data Non-Farm Payrolls akan berpeluang besar menahan laju penguatan mata uang secara signifikan. Beberapa angka aktual positif serta FOMC (Federal Open Market Committee) minutes juga berpotensi membuat mata uang US Dolar menguat.
Sejauh ini pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve memberikan gambaran bahwa kemungkinan akan diturunkannya bunga The FED semakin kecil. Bahkan ekspektasi akan kembali dinaikkannya bunga The FED masih bermunculan. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan dimana Bank Sentral Amerika tetap mengkhawatirkan akan tingginya laju inflasi di Amerika.
Kemungkinan tersebut diperkuat dengan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga di beberapa Bank Sentral seperti ECB (Zona Euro), BoE (Inggris), dan BoC (kanada) yang diperkirakan masih akan menaikan suku bunga sekali lagi dalam tahun ini.
Sementara itu, mata uang Rupiah juga mengikuti langkah yang sama terhadap pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Melemahnya bursa saham di China juga menjadi alasan utama melemahnya IHSG serta mata uang Rupiah. Namun, hal tersebut dinilai sebagai gejolak keuangan Global, yang diperkirakan tidak akan berlangsung dalam waktu yang lama. Karena memang kebijakan menaikan pajak atas perdagangan saham akan memicu pelemahan indeks bursa dalam beberapa minggu kedepan.
Pemerintah China kembali mengeluarkan kebijakan di sektor keuangan dengan menaikan pajak atas perdagangan saham menjadi 0.3% dari sebelumnya sebesar 0.1%. Kebijakan tersebut memicu melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia bahkan di dunia. Kebijakan pemerintah China tersebut dilandaskan atas kekhawatiran akan adanya pembalikan modal seiring dengan penguatan pasar ekuitas di China belakangan ini.
Namun, kebijakan pemerintah China tersebut membuat mata uang Yen Jepang kembali menguat. Bahkan mata uang Euro harus mengalami koreksi yang paling dalam setelah mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah terhadap mata uang Yen Jepang. Pengumuman aturan baru oleh pemerintah China tersebut telah memicu kekhawatiran akan resiko yang ditimbulkan dari transaksi carry trade dengan cara meminjam mata uang Yen Jepang.
Tidak hanya itu, imbas dari kebijakan tersebut juga dirasakan pada fokus pasar yang mulai tertuju pada performa pasar saham dunia. Korelasi positif pun terlihat dalam beberapa minggu perdagangan terakhir, dimana ketika pasar saham mengalami koreksi, maka hal serupa juga terjadi pada pergerakan sejumlah mata uang.
Perubahan trenpun diperkirakan akan terjadi. Dimana pada saat sebelumnya Yen Jepang akan melemah apabila terjadi penguatan di pasar saham, maka pada saat ini perubahan porsi dalam transaksi carry trade akan sangat menguntungkan mata uang Yen Jepang, karena ada tren pelemahan pasar saham dunia.
Namun, beberapa data penting dari Amerika seperti Gross Domestic Product (GDP) dan data Non-Farm Payrolls akan berpeluang besar menahan laju penguatan mata uang secara signifikan. Beberapa angka aktual positif serta FOMC (Federal Open Market Committee) minutes juga berpotensi membuat mata uang US Dolar menguat.
Sejauh ini pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve memberikan gambaran bahwa kemungkinan akan diturunkannya bunga The FED semakin kecil. Bahkan ekspektasi akan kembali dinaikkannya bunga The FED masih bermunculan. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan dimana Bank Sentral Amerika tetap mengkhawatirkan akan tingginya laju inflasi di Amerika.
Kemungkinan tersebut diperkuat dengan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga di beberapa Bank Sentral seperti ECB (Zona Euro), BoE (Inggris), dan BoC (kanada) yang diperkirakan masih akan menaikan suku bunga sekali lagi dalam tahun ini.
Sementara itu, mata uang Rupiah juga mengikuti langkah yang sama terhadap pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Melemahnya bursa saham di China juga menjadi alasan utama melemahnya IHSG serta mata uang Rupiah. Namun, hal tersebut dinilai sebagai gejolak keuangan Global, yang diperkirakan tidak akan berlangsung dalam waktu yang lama. Karena memang kebijakan menaikan pajak atas perdagangan saham akan memicu pelemahan indeks bursa dalam beberapa minggu kedepan.
Volatilitas Pasar Finansial
Medan Bisnis, 28 Mei 2007
Kekhawatiran akan kembali melemahnya mata uang Rupiah, setelah menguat secara konsisten kembali terbukti. Rupiah yang sempat menguat hingga ke level 8650 kembali terkoreksi hingga di atas level 8800 dalam kurun waktu tak lebih dari 2 hari perdagangan. Namun, pelemahan tersebut dinilai masih berada dalam batas yang belum mengkhawatirkan, karena masih “somewhere around 9000”, begitu Gubernur Bank Indonesia menyatakan sikapnya.
Hal yang dapat menjadi alasan melemahnya Rupiah disinyalir terkait dengan melemahnya Indeks Bursa Jakarta (IHSG). Melemahnya IHSG tersebut diperkirakan juga dipengaruhi oleh memburuknya kinerja indeks bursa Dow Jones (Amerika). Bahkan indeks Dow Jones sempat diperdagangkan dalam volatilitas yang tinggi, yakni ditutup melemah 14 poin meskipun selama sesi perdagangan sempat menguat hingga 70 poin.
Pelaku pasar pun sangat berhati-hati untuk melakukan transaksi carry trade, karena pergerakan indeks bursa Dow Jones sangat berpengaruh besar bagi perdagangan carry trade. Hal ini membuat data Durable Goods Orders/DGO (pemesanan barang tahan lama) serta data New Home Sales (data penjualan rumah baru) Amerika menjadi fokus utama pelaku pasar.
Meski demikian, tren keterpurukan US Dolar sepertinya belum saja berakhir. Sentimen di sektor properti Amerika yang tidak merealisasikan angka aktual yang positif membuat data-data lainnya seperti perumahan juga akan mengikuti hal yang sama. Namun, melemahnya US Dolar akan berkorelasi positif terhadap permintaan barang-barang di sektor transportasi seperti komponen pesawat, walaupun terjadi tekanan terhadap permintaan barang lainnya seperti furniture maupun elektronik.
Seiring dengan memburuknya sejumlah data perekonomian Amerika tersebut, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap keputusan Bank Sentral Amerika atau The FED yang diperkirakan masih tetap mempertahankan suku bunganya. Hal tersebut menjadi salah satu penopang dari terpuruknya mata uang US Dolar lebih jauh.
Selain itu, pertemuan antara pemerintah Amerika dan China di Washington, yang membahas mengenai defisit neraca perdagangan Amerika, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pergerakan US Dolar. Sejauh ini, pemerintah AS tetap menuding bahwa pemerintah China melakukan kecurangan dengan membiarkan mata uang Yuan melemah terhadap US Dolar, yang membuat pasar Amerika kebanjiran produk dari China.
Hal lain yang layak dicermati adalah tren kenaikan indeks bursa dunia yang masih menunjukan potensi akan tetap menguat. Selama indeks bursa dunia menunjukan penguatan maka potensi penguatan US Dolar juga semakin terbuka. Namun, ketika pasar menilai bahwa indeks bursa sudah mulai menunjukan adanya sinyal berbalik arah, maka US Dolar dapat kembali terpukul oleh transaksi carry trade.
Terhadap mata uang lainnya, US Dolar justru relatif stabil terhadap mata uang Yen Jepang. Meskipun mata uang Yen sering digunakan sebagai mata uang yang paling aktif dalam transaksi carry trade, namun ekspektasi kemungkinan Bank Sentral Jepang (BoJ) akan kembali menaikan suku bunganya membuat mata uang Yen tertahan dari keterpurukan yang lebih dalam.
Demikian halnya terhadap Euro, mata uang US Dolar juga tidak bergerak dalam fluktuasi yang lebar. Walau demikian data-data perekonomian zona Euro diperkirakan akan kembali mengalami rebound, sehingga berpotensi membawa Euro kembali menguat terhadap US Dolar. Nah, terhadap mata uang Poundsterling (GBP), US Dolar diperkirakan akan bergerak dalam range perdagangan yang cukup lebar, Hal tersebut dikarenakan sentimen dari pernyataan hawkish para pejabat Bank Sentral Inggris (BoE).
Untuk mata uang Rupiah, walaupun masih menunjukan tren penguatan, namun potensi berbalik arah mata uang Rupiah masih terbuka lebar. Rupiah masih sangat rentan terhadap sentimen-sentimen dari luar. Selain itu, gejala anomali terhadap mata uang Rupiah diperkirakan akan sering terjadi, yang nantinya akan membuat bingung pelaku pasar.
Kekhawatiran akan kembali melemahnya mata uang Rupiah, setelah menguat secara konsisten kembali terbukti. Rupiah yang sempat menguat hingga ke level 8650 kembali terkoreksi hingga di atas level 8800 dalam kurun waktu tak lebih dari 2 hari perdagangan. Namun, pelemahan tersebut dinilai masih berada dalam batas yang belum mengkhawatirkan, karena masih “somewhere around 9000”, begitu Gubernur Bank Indonesia menyatakan sikapnya.
Hal yang dapat menjadi alasan melemahnya Rupiah disinyalir terkait dengan melemahnya Indeks Bursa Jakarta (IHSG). Melemahnya IHSG tersebut diperkirakan juga dipengaruhi oleh memburuknya kinerja indeks bursa Dow Jones (Amerika). Bahkan indeks Dow Jones sempat diperdagangkan dalam volatilitas yang tinggi, yakni ditutup melemah 14 poin meskipun selama sesi perdagangan sempat menguat hingga 70 poin.
Pelaku pasar pun sangat berhati-hati untuk melakukan transaksi carry trade, karena pergerakan indeks bursa Dow Jones sangat berpengaruh besar bagi perdagangan carry trade. Hal ini membuat data Durable Goods Orders/DGO (pemesanan barang tahan lama) serta data New Home Sales (data penjualan rumah baru) Amerika menjadi fokus utama pelaku pasar.
Meski demikian, tren keterpurukan US Dolar sepertinya belum saja berakhir. Sentimen di sektor properti Amerika yang tidak merealisasikan angka aktual yang positif membuat data-data lainnya seperti perumahan juga akan mengikuti hal yang sama. Namun, melemahnya US Dolar akan berkorelasi positif terhadap permintaan barang-barang di sektor transportasi seperti komponen pesawat, walaupun terjadi tekanan terhadap permintaan barang lainnya seperti furniture maupun elektronik.
Seiring dengan memburuknya sejumlah data perekonomian Amerika tersebut, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap keputusan Bank Sentral Amerika atau The FED yang diperkirakan masih tetap mempertahankan suku bunganya. Hal tersebut menjadi salah satu penopang dari terpuruknya mata uang US Dolar lebih jauh.
Selain itu, pertemuan antara pemerintah Amerika dan China di Washington, yang membahas mengenai defisit neraca perdagangan Amerika, diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pergerakan US Dolar. Sejauh ini, pemerintah AS tetap menuding bahwa pemerintah China melakukan kecurangan dengan membiarkan mata uang Yuan melemah terhadap US Dolar, yang membuat pasar Amerika kebanjiran produk dari China.
Hal lain yang layak dicermati adalah tren kenaikan indeks bursa dunia yang masih menunjukan potensi akan tetap menguat. Selama indeks bursa dunia menunjukan penguatan maka potensi penguatan US Dolar juga semakin terbuka. Namun, ketika pasar menilai bahwa indeks bursa sudah mulai menunjukan adanya sinyal berbalik arah, maka US Dolar dapat kembali terpukul oleh transaksi carry trade.
Terhadap mata uang lainnya, US Dolar justru relatif stabil terhadap mata uang Yen Jepang. Meskipun mata uang Yen sering digunakan sebagai mata uang yang paling aktif dalam transaksi carry trade, namun ekspektasi kemungkinan Bank Sentral Jepang (BoJ) akan kembali menaikan suku bunganya membuat mata uang Yen tertahan dari keterpurukan yang lebih dalam.
Demikian halnya terhadap Euro, mata uang US Dolar juga tidak bergerak dalam fluktuasi yang lebar. Walau demikian data-data perekonomian zona Euro diperkirakan akan kembali mengalami rebound, sehingga berpotensi membawa Euro kembali menguat terhadap US Dolar. Nah, terhadap mata uang Poundsterling (GBP), US Dolar diperkirakan akan bergerak dalam range perdagangan yang cukup lebar, Hal tersebut dikarenakan sentimen dari pernyataan hawkish para pejabat Bank Sentral Inggris (BoE).
Untuk mata uang Rupiah, walaupun masih menunjukan tren penguatan, namun potensi berbalik arah mata uang Rupiah masih terbuka lebar. Rupiah masih sangat rentan terhadap sentimen-sentimen dari luar. Selain itu, gejala anomali terhadap mata uang Rupiah diperkirakan akan sering terjadi, yang nantinya akan membuat bingung pelaku pasar.
Saturday, May 19, 2007
Refleksi Fundamental Ekonomi
Medan Bisnis, 21 Mei 2007
Kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi yang diperkirakan dapat terulang di tahun 2008 nanti, membuat presiden SBY meminta agar dana-dana yang mengalir ke Indonesia dapat dikontrol dengan baik. Tujuannya adalah agar dana-dana tersebut dapat mengendap di negeri ini tanpa mengalami pembalikan modal (reversal) yang signifikan, yang berpotensi membawa negeri ini mengalami krisis keuangan seperti yang terjadi di tahun 1997.
Namun pernyataan pesimis akan terjadinya krisis moneter dapat di tepis dengan fakta-fakta yang telah terealisasi belakangan ini, misalnya laju inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang meningkat, membaiknya kinerja ekspor, laju pertumbuhan ekonomi yang membaik, nilai tukar Rupiah yang stabil, maupun beberapa alasan lainnya.
Namun, benarkah kita patut bersandar dari fakta-fakta tersebut? Tidak tentunya. Yang pasti kita harus belajar dari pengalaman pahit tahun 1997. Penguatan nilai tukar Rupiah pada saat ini misalnya, yang hampir mirip dengan yang terjadi sebelum krisis, banyak ditopang oleh dana-dana jangka pendek yang umumnya direfleksikan dengan terjadinya penguatan yang signifikan pada mata uang dan indeks bursa.
Semua data ekonomi yang disajikan pada saat ini, lebih merefleksikan adanya ketahanan disisi ekonomi makro, yang notabene memberikan argumen kepastian akan terhindarnya Indonesia ke dalam krisis keuangan. Padahal membaiknya kinerja disisi ekonomi makro tidak dapat menunjukan pola hubungan yang searah terhadap pertumbuhan ekonomi di sektor riil.
Rupiah yang stabil bahkan memiliki kecenderungan menguat pada saat ini, yang turut serta diiringi dengan menguatnya indeks bursa Jakarta, namun tetap saja memberikan kekhawatiran besar akan kembali terjungkalnya pasar finansial di Indonesia. Bahkan, beberapa manajer investasi seolah-olah tak henti-hentinya mengeluhkan semakin mahalnya harga saham saat ini.
Bahkan, saham lapis kedua (bukan saham unggulan) turut melambung tinggi, sehingga semakin kecil saja ruang bagi penguatan harga saham selanjutnya. Secara psikologis komentar dari manajer investasi tersebut memberikan atau bahkan memicu pasar untuk kembali mempertimbangkan atas kepemilikian sahamnya, sehingga mengkondisikan investor untuk melepas saham-sahamnya.
Monkey did, monkey do, ungkapan tersebut selalu muncul ketika seorang pelaku pasar mengikuti jejak pelaku pasar lain yang notabene memiliki dana yang lebih besar. Apabila hal tersebut terjadi, bukan tidak mungkin, mereka yang mempunyai dana besar akan melarikan dananya ke luar dan akan memicu pelaku pasar lain untuk mengikutinya.
Kalau itu terjadi, maka perekonomian yang secara teoritis sudah berada dalam kerangka pertumbuhan yang baik sekalipun, tidak akan ada gunanya lagi. Karena, tindakan spekulasi dalam porsi dana yang cukup signifikan untuk ukuran sebuah Negara, akan mampu memporak-porandakan institusi keuangan besar, bahkan sebuah Negara sekalipun.
Kembali ke permasalahan fundamental ekonomi bangsa kita. Walaupun sejauh ini pemerintahan SBY telah berkoordinasi untuk membentuk ketahanan ekonomi yang lebih stabil, seperti melakukan perjanjian BSA (Bilateral Swap Arrangement) dan berkoordinasi dengan Negara Asia untuk menciptakan sebuah cadangan devisa bersama. Itu semua bukanlah jaminan 100%.
Pengalaman pahit di tahun 1997 harusnya menjadi tolak ukur bagaimana kebijakan di bidang perekonomian seharusnya di buat. Kebijakan sejatinya dibuat dengan mempertimbangkan bentuk kesalahan yang sekecil apapun, karena dampak dari kesalahan tersebut akan ditanggung bangsa ini mungkin dalam waktu yang cukup lama, dengan penderitaan yang seharusnya tidak dapat ditoleransi.
Wacana krisis yang menimbulkan pesimisme di masyarakat seharusnya juga tidak di publikasikan secara vulgar. Tidaklah berlebihan kalau kita menyimpulkan kutipan pernyataan penulis buku terkenal Stephen Covey, dimana kalau kita memikirkan sesuatu hal maka secara tidak langsung tubuh kita akan bergerak ke hal tersebut. Jadi walaupun kita hanya berekspektasi atau berwacana akan tidak terjadinya krisis moneter, maka secara tidak langsung kita justru digiring ke arah tersebut
Kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi yang diperkirakan dapat terulang di tahun 2008 nanti, membuat presiden SBY meminta agar dana-dana yang mengalir ke Indonesia dapat dikontrol dengan baik. Tujuannya adalah agar dana-dana tersebut dapat mengendap di negeri ini tanpa mengalami pembalikan modal (reversal) yang signifikan, yang berpotensi membawa negeri ini mengalami krisis keuangan seperti yang terjadi di tahun 1997.
Namun pernyataan pesimis akan terjadinya krisis moneter dapat di tepis dengan fakta-fakta yang telah terealisasi belakangan ini, misalnya laju inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang meningkat, membaiknya kinerja ekspor, laju pertumbuhan ekonomi yang membaik, nilai tukar Rupiah yang stabil, maupun beberapa alasan lainnya.
Namun, benarkah kita patut bersandar dari fakta-fakta tersebut? Tidak tentunya. Yang pasti kita harus belajar dari pengalaman pahit tahun 1997. Penguatan nilai tukar Rupiah pada saat ini misalnya, yang hampir mirip dengan yang terjadi sebelum krisis, banyak ditopang oleh dana-dana jangka pendek yang umumnya direfleksikan dengan terjadinya penguatan yang signifikan pada mata uang dan indeks bursa.
Semua data ekonomi yang disajikan pada saat ini, lebih merefleksikan adanya ketahanan disisi ekonomi makro, yang notabene memberikan argumen kepastian akan terhindarnya Indonesia ke dalam krisis keuangan. Padahal membaiknya kinerja disisi ekonomi makro tidak dapat menunjukan pola hubungan yang searah terhadap pertumbuhan ekonomi di sektor riil.
Rupiah yang stabil bahkan memiliki kecenderungan menguat pada saat ini, yang turut serta diiringi dengan menguatnya indeks bursa Jakarta, namun tetap saja memberikan kekhawatiran besar akan kembali terjungkalnya pasar finansial di Indonesia. Bahkan, beberapa manajer investasi seolah-olah tak henti-hentinya mengeluhkan semakin mahalnya harga saham saat ini.
Bahkan, saham lapis kedua (bukan saham unggulan) turut melambung tinggi, sehingga semakin kecil saja ruang bagi penguatan harga saham selanjutnya. Secara psikologis komentar dari manajer investasi tersebut memberikan atau bahkan memicu pasar untuk kembali mempertimbangkan atas kepemilikian sahamnya, sehingga mengkondisikan investor untuk melepas saham-sahamnya.
Monkey did, monkey do, ungkapan tersebut selalu muncul ketika seorang pelaku pasar mengikuti jejak pelaku pasar lain yang notabene memiliki dana yang lebih besar. Apabila hal tersebut terjadi, bukan tidak mungkin, mereka yang mempunyai dana besar akan melarikan dananya ke luar dan akan memicu pelaku pasar lain untuk mengikutinya.
Kalau itu terjadi, maka perekonomian yang secara teoritis sudah berada dalam kerangka pertumbuhan yang baik sekalipun, tidak akan ada gunanya lagi. Karena, tindakan spekulasi dalam porsi dana yang cukup signifikan untuk ukuran sebuah Negara, akan mampu memporak-porandakan institusi keuangan besar, bahkan sebuah Negara sekalipun.
Kembali ke permasalahan fundamental ekonomi bangsa kita. Walaupun sejauh ini pemerintahan SBY telah berkoordinasi untuk membentuk ketahanan ekonomi yang lebih stabil, seperti melakukan perjanjian BSA (Bilateral Swap Arrangement) dan berkoordinasi dengan Negara Asia untuk menciptakan sebuah cadangan devisa bersama. Itu semua bukanlah jaminan 100%.
Pengalaman pahit di tahun 1997 harusnya menjadi tolak ukur bagaimana kebijakan di bidang perekonomian seharusnya di buat. Kebijakan sejatinya dibuat dengan mempertimbangkan bentuk kesalahan yang sekecil apapun, karena dampak dari kesalahan tersebut akan ditanggung bangsa ini mungkin dalam waktu yang cukup lama, dengan penderitaan yang seharusnya tidak dapat ditoleransi.
Wacana krisis yang menimbulkan pesimisme di masyarakat seharusnya juga tidak di publikasikan secara vulgar. Tidaklah berlebihan kalau kita menyimpulkan kutipan pernyataan penulis buku terkenal Stephen Covey, dimana kalau kita memikirkan sesuatu hal maka secara tidak langsung tubuh kita akan bergerak ke hal tersebut. Jadi walaupun kita hanya berekspektasi atau berwacana akan tidak terjadinya krisis moneter, maka secara tidak langsung kita justru digiring ke arah tersebut
Kemana Arah Rupiah?
Medan Bisnis, 14 Mei 2007
Rupiah kembali menguat tajam hingga mendekati level 8700. Tren penguatan Rupiah sendiri dimulai sejak akhir tahun 2005, dimana pada saat itu terjadi reshuffle kabinet pertama yang dilakukan oleh pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah spekulasi yang berkembang saat itu menyebutkan bahwa penguatan Rupiah tidak terlepas dari digantinya Menteri Perekonomian Abu Rizal Bakrie menjadi Boediono.
Terlepas dari semua itu, faktor pendukung penguatan Rupiah paling rasional pada saat itu adalah kebijakan disisi moneter yang menaikan BI rate ke level 12.75%. Capital inflows dari luar negeri pun berdatangan hingga membawa Rupiah menguat ke level 8800 sebelum akhirnya terkoreksi hingga ke level 9400.
Kalau kita bandingkan dengan kondisi Rupiah pada saat ini, yang tidak jauh berbeda dengan kondisi setahun sebelumnya. Penguatan Rupiah sendiri turut diiringi dengan reshuffle yang dilakukan pemerintah SBY. Tapi itu hanyalah kebetulan saja, karena penguatan Rupiah sendiri merupakan bentuk antisipasi membaiknya laju inflasi selama bulan april yang justru merealisasikan deflasi sebesar 0.16%.
Secara psikologis, hal tersebut menunjukan bahwa fundamental ekonomi indonesia sudah berjalan sesuai dengan track yang benar, sehingga memicu penurunan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 8.75% saat ini.
Akan tetapi, dengan status Indonesia sebagai nagara yang masih di katakan sebagai emerging market tentunya hal tersebut belum cukup untuk memberikan rasa aman. Kenapa? Karena penguatan Rupiah lebih didominasi oleh dana-dana jangka pendek yang masuk melalui pasar finansial, dan belum merefleksikan dari pertumbuhan ekonomi sesungguhnya yakni sektor riil.
Terlebih, penguatan Rupiah juga ditopang oleh komentar yang secara psikologis memberikan arah kemana Rupiah nantinya. Pernyataan Pejabat BI Miranda S. Goeltom yang menyatakan confidence apabila Rupiah nantinya menguat ke level 8500 menjadi pemicu penguatan Rupiah belakangan ini.
Nah, Kemana Rupiah nantinya?. Mungkinkah ke level 8500. Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, belajar dari pengalaman, bahwa penguatan Rupiah yang terlalu tajam juga akan membawa Rupiah kembali terdepresiasi.
Walaupun saat ini Rupiah diekspektasikan akan terus mengalami penguatan, namun perlu diwaspadai bahwa momen pelemahan Rupiah akan semakin besar tentunya. Apalagi penguatan Rupiah lebih didominasi oleh dana jangka pendek, sehingga sangat rentan terhadap gejolak pasar seperti penurunan suku bunga.
Biasanya yang dilakukan BI apabila Rupiah melemah adalah melakukan intervensi pasar dengan menjual US Dolar. Tapi apakah hal tersebut akan selalu efektif meredam gejolak pasar?. Nah, bagaimana jadinya kalau BI justru kehabisan US Dolar sehingga tidak ada lagi yang banyak diperbuat. Mungkinkah pemerintah mengabaikan sektor riil dengan menaikan kembali BI Rate?.
Tentunya masih banyak pertanyaan lain yang bermunculan. Namun, sejauh ini pemerintah telah melakukan trobosan seperti berkoordinasi dengan negara dikawasan regional Asia, untuk menciptakan ketahan ekonomi seperti dengan melakukan perjanjian Bilateral Swap Arrangement atau BSA. Tujuan dari dibentuknya perjanjian tersebut tidak lain untuk menghindari negara kawasan regional mengalami krisis moneter seperti yang terjadi di era tahun 1997-an.
Efektifkah perjanjian tersebut?, belum terbukti tentunya. Walaupun kondisinya saat ini negara di Asia hampir mirip dengan kondisi 10 tahun silam (mengutip pernyataan Menkeu), namun kehadiran BSA setidaknya memberikan sedikit rasa aman bagi pasar finansial Indonesia.
Kembali ke tema awal, kemanakah Rupiah nantinya?. Tren penguatan akan tetap mendominasi penguatan Rupiah tentunya. Kalau BI mengatakan bahwa Rupiah masih dalam batas aman apabila bergerak menguat ke level 8500, maka kita bisa mengatakan hal yang sama, karena yang melontarkan pernyataan tersebut adalah mereka yang berkompeten dalam menjaga stabilitas keuangan negeri ini.
Namun, bukan berarti Rupiah akan bergerak mulus menguat ke level tersebut. Rupiah masih akan berfluktuasi sebelum mencapai level tersebut atau malah bergerak sebaliknya. Menurut pengamatan yang telah dilakukan, Rupiah masih akan berfluktuasi lebar dikisaran level 8700 hingga 8950 dalam minggu ini.
Rupiah kembali menguat tajam hingga mendekati level 8700. Tren penguatan Rupiah sendiri dimulai sejak akhir tahun 2005, dimana pada saat itu terjadi reshuffle kabinet pertama yang dilakukan oleh pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah spekulasi yang berkembang saat itu menyebutkan bahwa penguatan Rupiah tidak terlepas dari digantinya Menteri Perekonomian Abu Rizal Bakrie menjadi Boediono.
Terlepas dari semua itu, faktor pendukung penguatan Rupiah paling rasional pada saat itu adalah kebijakan disisi moneter yang menaikan BI rate ke level 12.75%. Capital inflows dari luar negeri pun berdatangan hingga membawa Rupiah menguat ke level 8800 sebelum akhirnya terkoreksi hingga ke level 9400.
Kalau kita bandingkan dengan kondisi Rupiah pada saat ini, yang tidak jauh berbeda dengan kondisi setahun sebelumnya. Penguatan Rupiah sendiri turut diiringi dengan reshuffle yang dilakukan pemerintah SBY. Tapi itu hanyalah kebetulan saja, karena penguatan Rupiah sendiri merupakan bentuk antisipasi membaiknya laju inflasi selama bulan april yang justru merealisasikan deflasi sebesar 0.16%.
Secara psikologis, hal tersebut menunjukan bahwa fundamental ekonomi indonesia sudah berjalan sesuai dengan track yang benar, sehingga memicu penurunan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 8.75% saat ini.
Akan tetapi, dengan status Indonesia sebagai nagara yang masih di katakan sebagai emerging market tentunya hal tersebut belum cukup untuk memberikan rasa aman. Kenapa? Karena penguatan Rupiah lebih didominasi oleh dana-dana jangka pendek yang masuk melalui pasar finansial, dan belum merefleksikan dari pertumbuhan ekonomi sesungguhnya yakni sektor riil.
Terlebih, penguatan Rupiah juga ditopang oleh komentar yang secara psikologis memberikan arah kemana Rupiah nantinya. Pernyataan Pejabat BI Miranda S. Goeltom yang menyatakan confidence apabila Rupiah nantinya menguat ke level 8500 menjadi pemicu penguatan Rupiah belakangan ini.
Nah, Kemana Rupiah nantinya?. Mungkinkah ke level 8500. Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, belajar dari pengalaman, bahwa penguatan Rupiah yang terlalu tajam juga akan membawa Rupiah kembali terdepresiasi.
Walaupun saat ini Rupiah diekspektasikan akan terus mengalami penguatan, namun perlu diwaspadai bahwa momen pelemahan Rupiah akan semakin besar tentunya. Apalagi penguatan Rupiah lebih didominasi oleh dana jangka pendek, sehingga sangat rentan terhadap gejolak pasar seperti penurunan suku bunga.
Biasanya yang dilakukan BI apabila Rupiah melemah adalah melakukan intervensi pasar dengan menjual US Dolar. Tapi apakah hal tersebut akan selalu efektif meredam gejolak pasar?. Nah, bagaimana jadinya kalau BI justru kehabisan US Dolar sehingga tidak ada lagi yang banyak diperbuat. Mungkinkah pemerintah mengabaikan sektor riil dengan menaikan kembali BI Rate?.
Tentunya masih banyak pertanyaan lain yang bermunculan. Namun, sejauh ini pemerintah telah melakukan trobosan seperti berkoordinasi dengan negara dikawasan regional Asia, untuk menciptakan ketahan ekonomi seperti dengan melakukan perjanjian Bilateral Swap Arrangement atau BSA. Tujuan dari dibentuknya perjanjian tersebut tidak lain untuk menghindari negara kawasan regional mengalami krisis moneter seperti yang terjadi di era tahun 1997-an.
Efektifkah perjanjian tersebut?, belum terbukti tentunya. Walaupun kondisinya saat ini negara di Asia hampir mirip dengan kondisi 10 tahun silam (mengutip pernyataan Menkeu), namun kehadiran BSA setidaknya memberikan sedikit rasa aman bagi pasar finansial Indonesia.
Kembali ke tema awal, kemanakah Rupiah nantinya?. Tren penguatan akan tetap mendominasi penguatan Rupiah tentunya. Kalau BI mengatakan bahwa Rupiah masih dalam batas aman apabila bergerak menguat ke level 8500, maka kita bisa mengatakan hal yang sama, karena yang melontarkan pernyataan tersebut adalah mereka yang berkompeten dalam menjaga stabilitas keuangan negeri ini.
Namun, bukan berarti Rupiah akan bergerak mulus menguat ke level tersebut. Rupiah masih akan berfluktuasi sebelum mencapai level tersebut atau malah bergerak sebaliknya. Menurut pengamatan yang telah dilakukan, Rupiah masih akan berfluktuasi lebar dikisaran level 8700 hingga 8950 dalam minggu ini.
Tuesday, May 08, 2007
Menanti BI Rate Turun
Medan Bisnis, 7 Mei 2007
Setelah sempat stabil dikisaran level 9100 dalam waktu yang cukup lama, momentum terjadinya deflasi membuat Rupiah saat ini semakin mahal terhadap US Dolar. Tidak lebih dari 4 hari setelah diumumkannya deflasi selama bulan April, Rupiah langsung bergerak menguat dan menembus level psikologis 9000.
Rupiah saat ini berada dalam kisaran level 8970, dan diperkirakan masih berpotensi akan terus menguat. Selain dikarenakan deflasi, penguatan Rupiah juga dipicu oleh penyerapan likuiditas Rupiah yang cukup signifikan melalui instrumen Sertifikat Bank Indonesia atau SBI. Konsekuensinya pemerintah mempunyai kewajiban untuk pembayaran hutang yang semakin besar tentunya.
Dengan terjadinya deflasi, BI diharapkan akan menurunkan BI rate dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI minggu ini. Hal tersebut menjadi sangat diperlukan mengingat pertumbuhan sektor riil yang dinilai masih lamban sementara dana yang tersimpan di Bank Indonesia cukup signifikan.
Apabila dana yang tersimpan di BI (Bank Indonesia) tersebut hanya disimpan tanpa diikuti dengan penyalurannya ke sektor-sektor strategis, maka beban pembayaran hutang pemerintah akan menjadi senjata bagi terjadinya krisis ekonomi, seperti yang dilontarkan beberapa pengamat belakangan ini.
Salah satu cara untuk mempercepat pertumbuhan sektor riil adalah dengan menurunkan suku bunga acuan (BI rate) yang selalu digunakan sebagai acuan oleh perbankan dalam menetapkan suku bunganya. Kalau saat ini, BI rate berada di level 9%, maka suku bunga pinjaman perbankan masih berada dikisaran 13 sampai 15%.
Pasar menilai, suku bunga 13 sampai 15% masih terlalu tinggi. Sejauh ini, walaupun terjadi permintaan kredit yang meningkat, namun peningkatan tersebut didominasi oleh pertumbuhan kredit yang sifatnya konsumsi. Sementara kredit yang tersalurkan di sektor manufaktur masih relatif kecil. Padahal sektor tersebut memberikan andil yang cukup besar bagi penyerapan tenaga kerja.
Disini terlihat bahwa dengan diturunkannya BI rate akan memicu dunia perbankan memacu penyaluran kredit. Dengan begitu, porsi perbankan yang menempatkan dananya di Sertifikat Bank Indonesia akan semakin berkurang. Mengingat perbankan merupakan korporasi yang memberikan kontribusi paling besar atas meningkatnya beban utang pemerintah.
Terlepas dari penyaluran kredit, penurunan BI rate juga mempunyai dampak negatif yang cukup signifikan terhadap Rupiah. Penurunan BI rate dapat menjadi mimpi buruk bagi Rupiah, karena berpotensi terdepresiasi (melemah).
Namun, apabila pemerintah berpendapat bahwa fundamental ekonomi Indonesia sudah berjalan pada jalan yang benar (on the right track), maka semestinya hal-hal negatif yang akan terjadi seiring dengan penurunan BI rate dapat diminimalisir.
Mungkin pemerintah saat ini masih menunggu keputusan negeri paman sam (Amerika) untuk menurunkan The Fed Fund Rate atau suku bunga The FED yang masih berada di level 5.25%. Dengan diturunkannya suku bunga US Dolar tersebut, maka tercipta ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan BI rate.
Menunggu, bukanlah sesuatu hal yang dinanti masyarakat, yang kian terjepit ditengah mahalnya biaya hidup serta diiringi dengan menciutnya mata pencaharian. Bukankah mempercepat penurunan BI rate akan mempersempit peluang meningkatnya jumlah angka kemiskinan, pengangguran bahkan kriminalitas.
Kalau saat ini Rupiah sudah menguat jauh, cadangan devisa meningkat tajam, terjadi peningkatan pertumbuhan ekspor yang signifikan, inflasi cukup terkendali, pergerakan US Dolar yang tidak menjadi ancaman serius, maka apalagi yang harus ditunggu.
Setelah sempat stabil dikisaran level 9100 dalam waktu yang cukup lama, momentum terjadinya deflasi membuat Rupiah saat ini semakin mahal terhadap US Dolar. Tidak lebih dari 4 hari setelah diumumkannya deflasi selama bulan April, Rupiah langsung bergerak menguat dan menembus level psikologis 9000.
Rupiah saat ini berada dalam kisaran level 8970, dan diperkirakan masih berpotensi akan terus menguat. Selain dikarenakan deflasi, penguatan Rupiah juga dipicu oleh penyerapan likuiditas Rupiah yang cukup signifikan melalui instrumen Sertifikat Bank Indonesia atau SBI. Konsekuensinya pemerintah mempunyai kewajiban untuk pembayaran hutang yang semakin besar tentunya.
Dengan terjadinya deflasi, BI diharapkan akan menurunkan BI rate dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI minggu ini. Hal tersebut menjadi sangat diperlukan mengingat pertumbuhan sektor riil yang dinilai masih lamban sementara dana yang tersimpan di Bank Indonesia cukup signifikan.
Apabila dana yang tersimpan di BI (Bank Indonesia) tersebut hanya disimpan tanpa diikuti dengan penyalurannya ke sektor-sektor strategis, maka beban pembayaran hutang pemerintah akan menjadi senjata bagi terjadinya krisis ekonomi, seperti yang dilontarkan beberapa pengamat belakangan ini.
Salah satu cara untuk mempercepat pertumbuhan sektor riil adalah dengan menurunkan suku bunga acuan (BI rate) yang selalu digunakan sebagai acuan oleh perbankan dalam menetapkan suku bunganya. Kalau saat ini, BI rate berada di level 9%, maka suku bunga pinjaman perbankan masih berada dikisaran 13 sampai 15%.
Pasar menilai, suku bunga 13 sampai 15% masih terlalu tinggi. Sejauh ini, walaupun terjadi permintaan kredit yang meningkat, namun peningkatan tersebut didominasi oleh pertumbuhan kredit yang sifatnya konsumsi. Sementara kredit yang tersalurkan di sektor manufaktur masih relatif kecil. Padahal sektor tersebut memberikan andil yang cukup besar bagi penyerapan tenaga kerja.
Disini terlihat bahwa dengan diturunkannya BI rate akan memicu dunia perbankan memacu penyaluran kredit. Dengan begitu, porsi perbankan yang menempatkan dananya di Sertifikat Bank Indonesia akan semakin berkurang. Mengingat perbankan merupakan korporasi yang memberikan kontribusi paling besar atas meningkatnya beban utang pemerintah.
Terlepas dari penyaluran kredit, penurunan BI rate juga mempunyai dampak negatif yang cukup signifikan terhadap Rupiah. Penurunan BI rate dapat menjadi mimpi buruk bagi Rupiah, karena berpotensi terdepresiasi (melemah).
Namun, apabila pemerintah berpendapat bahwa fundamental ekonomi Indonesia sudah berjalan pada jalan yang benar (on the right track), maka semestinya hal-hal negatif yang akan terjadi seiring dengan penurunan BI rate dapat diminimalisir.
Mungkin pemerintah saat ini masih menunggu keputusan negeri paman sam (Amerika) untuk menurunkan The Fed Fund Rate atau suku bunga The FED yang masih berada di level 5.25%. Dengan diturunkannya suku bunga US Dolar tersebut, maka tercipta ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan BI rate.
Menunggu, bukanlah sesuatu hal yang dinanti masyarakat, yang kian terjepit ditengah mahalnya biaya hidup serta diiringi dengan menciutnya mata pencaharian. Bukankah mempercepat penurunan BI rate akan mempersempit peluang meningkatnya jumlah angka kemiskinan, pengangguran bahkan kriminalitas.
Kalau saat ini Rupiah sudah menguat jauh, cadangan devisa meningkat tajam, terjadi peningkatan pertumbuhan ekspor yang signifikan, inflasi cukup terkendali, pergerakan US Dolar yang tidak menjadi ancaman serius, maka apalagi yang harus ditunggu.
Deflasi dan Reshufle Bayangi Rupiah dan IHSG
Medan Bisnis, 30 April 2007
Pada bulan Februari silam kita dikejutkan dengan melambungnya harga beras yang membuat beberapa pengamat memperkirakan akan terjadi lonjakan inflasi yang cukup signifikan. Namun, melonjaknya harga beras yang diiringi dengan banjir besar di Jakarta tidak menjadikan inflasi selama bulan tersebut naik tajam. Bahkan, inflasi yang diperkirakan akan berada diatas 1% tidak terbukti.
Berbeda dengan saat ini, Biro Pusat Statistik (BPS) memperkirakan tidak akan terjadi laju inflasi selama bulan April. Bahkan diperkirakan akan terjadi sebaliknya, yakni deflasi. Deflasi bisa terjadi karena memang ada tren penurunan harga barang, namun dapat juga diakibatkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.
Terkait dengan deflasi, tentunya ekspektasi tersebut akan berdampak positif bagi IHSG dan kadang mempunyai sisi negatif bagi pergerakan nilai tukar Rupiah, yang pada bulan kemarin Rupiah mendapat support dengan tidak diturunkannya BI rate.
Ekspektasi deflasi saat ini akan memberikan dampak psikologis bagi pelaku pasar. Tentunya bakal ada penurunan BI rate pada awal bulan Mei mendatang. Penurunan BI rate akan memberikan dampak positif bagi sektor riil, dan berpotensi mengangkat IHSG.
Namun, penurunan BI rate juga berpotensi membuat Rupiah akan melemah, karena penurunan BI rate akan membuat investor memilih negara yang lebih aman serta memberikan imbal hasil yang mumpuni seperti Amerika. Lagi-lagi itu hanya ekspektasi, kenyataannya kadang terbalik, penurunan BI rate justru diikuti dengan menguatnya IHSG dan Rupiah secara bersama-sama.
Kalaupun Rupiah menguat, namun harus diperhatikan sampai dimana penguatan Rupiah nantinya. Kalau BI berkehendak untuk menahan laju penguatan Rupiah maka bisa diperkirakan Rupiah akan stagnan dikisaran level 9030 hingga 9120. Kalau tidak ditahan, bisa saja Rupiah akan menguat secara signifikan menembus level 9000. Terlebih nilai tukar Dolar Amerika saat ini kian melemah terhadap mata uang dunia.
Nah, kalau IHSG tentunya tetap akan mendapat support dari tren penurunan BI rate. IHSG bahkan telah menembus level psikologis 2000, dan diperkirakan akan terus naik hingga akhir tahun ini. Akan tetapi, tetap diwaspadi aksi profit taking yang berpotensi membawa IHSG kembali ke bawah. Tapi dengan fundamental makro ekonomi Indonesia yang masih kuat saat ini tentunya tetap menumbuhkan keyakinan akan terus membaiknya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Reshufle
Kalau kita merujuk ke politik dalam negeri saat ini, bisa diperkirakan isu reshufle tidak akan berpengaruh signifikan terhadap Rupiah dan IHSG. Karena pada dasarnya investor akan lebih melihat pada kondisi riil ekonomi bangsa ini, daripada melihat profil terhadap seorang menteri.
Memang pada saat Boediono ditunjuk sebagai menteri ekonomi, Rupiah langsung menunjukan penguatan signifikan dari level 11.000-an/US Dolar hingga ke level 9000-an/USDolar. Namun pada saat itu terjadi kenaikan BI rate yang cukup signifikan hingga ke level 12.75%. Aliran dana yang masuk kenegeri ini pun cukup signifikan, dan hampir semua dana yang masuk merupakan aliran dana jangka pendek.
Jadi kalaupun nantinya Presiden SBY kembali mengganti sejumlah menteri yang dinilai kurang kompeten, maka yang perlu dicermati adalah kebijakan dari menteri tersebut. Namun, kalau seandainya nanti menteri yang diganti tidak terkait secara langsung dengan sektor finansial, maka kita bisa memprediksikan kemana arah pasar finansial negeri ini.
Pada bulan Februari silam kita dikejutkan dengan melambungnya harga beras yang membuat beberapa pengamat memperkirakan akan terjadi lonjakan inflasi yang cukup signifikan. Namun, melonjaknya harga beras yang diiringi dengan banjir besar di Jakarta tidak menjadikan inflasi selama bulan tersebut naik tajam. Bahkan, inflasi yang diperkirakan akan berada diatas 1% tidak terbukti.
Berbeda dengan saat ini, Biro Pusat Statistik (BPS) memperkirakan tidak akan terjadi laju inflasi selama bulan April. Bahkan diperkirakan akan terjadi sebaliknya, yakni deflasi. Deflasi bisa terjadi karena memang ada tren penurunan harga barang, namun dapat juga diakibatkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.
Terkait dengan deflasi, tentunya ekspektasi tersebut akan berdampak positif bagi IHSG dan kadang mempunyai sisi negatif bagi pergerakan nilai tukar Rupiah, yang pada bulan kemarin Rupiah mendapat support dengan tidak diturunkannya BI rate.
Ekspektasi deflasi saat ini akan memberikan dampak psikologis bagi pelaku pasar. Tentunya bakal ada penurunan BI rate pada awal bulan Mei mendatang. Penurunan BI rate akan memberikan dampak positif bagi sektor riil, dan berpotensi mengangkat IHSG.
Namun, penurunan BI rate juga berpotensi membuat Rupiah akan melemah, karena penurunan BI rate akan membuat investor memilih negara yang lebih aman serta memberikan imbal hasil yang mumpuni seperti Amerika. Lagi-lagi itu hanya ekspektasi, kenyataannya kadang terbalik, penurunan BI rate justru diikuti dengan menguatnya IHSG dan Rupiah secara bersama-sama.
Kalaupun Rupiah menguat, namun harus diperhatikan sampai dimana penguatan Rupiah nantinya. Kalau BI berkehendak untuk menahan laju penguatan Rupiah maka bisa diperkirakan Rupiah akan stagnan dikisaran level 9030 hingga 9120. Kalau tidak ditahan, bisa saja Rupiah akan menguat secara signifikan menembus level 9000. Terlebih nilai tukar Dolar Amerika saat ini kian melemah terhadap mata uang dunia.
Nah, kalau IHSG tentunya tetap akan mendapat support dari tren penurunan BI rate. IHSG bahkan telah menembus level psikologis 2000, dan diperkirakan akan terus naik hingga akhir tahun ini. Akan tetapi, tetap diwaspadi aksi profit taking yang berpotensi membawa IHSG kembali ke bawah. Tapi dengan fundamental makro ekonomi Indonesia yang masih kuat saat ini tentunya tetap menumbuhkan keyakinan akan terus membaiknya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Reshufle
Kalau kita merujuk ke politik dalam negeri saat ini, bisa diperkirakan isu reshufle tidak akan berpengaruh signifikan terhadap Rupiah dan IHSG. Karena pada dasarnya investor akan lebih melihat pada kondisi riil ekonomi bangsa ini, daripada melihat profil terhadap seorang menteri.
Memang pada saat Boediono ditunjuk sebagai menteri ekonomi, Rupiah langsung menunjukan penguatan signifikan dari level 11.000-an/US Dolar hingga ke level 9000-an/USDolar. Namun pada saat itu terjadi kenaikan BI rate yang cukup signifikan hingga ke level 12.75%. Aliran dana yang masuk kenegeri ini pun cukup signifikan, dan hampir semua dana yang masuk merupakan aliran dana jangka pendek.
Jadi kalaupun nantinya Presiden SBY kembali mengganti sejumlah menteri yang dinilai kurang kompeten, maka yang perlu dicermati adalah kebijakan dari menteri tersebut. Namun, kalau seandainya nanti menteri yang diganti tidak terkait secara langsung dengan sektor finansial, maka kita bisa memprediksikan kemana arah pasar finansial negeri ini.
Rupiah Bergerak Tanpa Sentimen
Medan Bisnis, 23 April 2007
Rupiah nyaris tidak beranjak jauh di kisaran level 9100, walaupun mempunyai kecenderungan menguat. Namun, sejauh ini penguatan Rupiah tidak signfikan dan diperkirakan akan bertahan diatas level 9050 dalam beberapa hari ke depan.
Belum adanya sentimen yang mampu menggerakan pasar seperti spekulasi mengenai arah suku bunga membuat Rupiah hanya bergerak dalam kisaran yang sangat sempit. Keadaan tersebut tentunya juga didukung oleh sejumlah faktor teknikal, dimana Rupiah sudah mendekati level support 9050.
Selain itu, IHSG yang sempat menguat secara signifikan juga diperkirakan akan bergerak sangat terbatas, dengan tetap memiliki kecenderungan menguat. Hal tersebut sangat didukung oleh kebijakan pemerintah yang diperkirakan masih akan menurunkan suku bunga walaupun tidak signifikan seperti tahun lalu.
Namun, tingginya laju inflasi di China akan berdampak buruk pada bursa di negara tersebut dan akan memberikan dampak negatif bagi lantai bursa Asia khususnya Jakarta. Permintah China diperkirakan akan terus melakukan kebijakan pengetatan moneter, guna meredam tingginya laju inflasi di negara tersebut, yang hingga saat ini masih merealisasikan inflasi 2 digit.
Sementara dari dalam negeri, walaupun diyakini BI masih akan menurunkan BI rate, namun masih simpang-siur tepatnya kapan BI akan menurunkan suku bunga. Walaupun laju inflasi masih terkendali, namun saat ini belum jaminan hal tersebut akan membuat BI menurunkan bunga Rupiah.
Sangat berbeda dari tahun lalu, dimana setiap diumumkan besarnya laju inflasi, maka dengan melakukan penilaian terhadap besarnya laju inflasi, BI pun mengambil langkah untuk menurunkan BI rate. Dan sejauh hal tersebut dilakukan, nilai tukar Rupiah juga tidak menunjukan adanya fluktuasi yang tajam.
Jadi walaupun nantinya laju inflasi selama bulan April merealisasikan angka aktual yang cukup kecil, namun BI masih akan sulit untuk menurunkan BI rate, dikarenakan masih relatif tingginya bunga US Dolar dan adanya tren kenaikan suku bunga di zona Euro.
Selama perdagangan minggu kemarin, sentimen pasar hanya tertuju pada seputar pernyataan yang dilontarkan pejabat Bank Sentral AS serta konferensi yang dilakukan menteri keuangan AS Henry Paulson di China. Seiring dengan minimnya data perekonomian yang dirilis membuat sejumlah mata uang dunia bergerak terbatas termasuk Rupiah.
Tema yang akan menjadi penggerak pasar nantinya masih akan terfokus pada melemahnya mata uang US Dolar. Meskipun ada beberapa data yang akan dirilis dari Amerika, namun data tersebut diperkirakan tidak akan berbuat banyak bagi US Dolar, dikarenakan pasar lebih tertuju pada faktor-faktor negatif US Dolar.
Ditengah minimnya sentimen seperti sekarang ini, pasar hanya mengandalkan faktor teknikal maupun carry trade. Tarik ulur dari kedua faktor tersebut berpotensi membuat pasar valuta akan sangat berfluktuasi.
Namun, bagi Rupiah hal tersebut tidaklah berpengaruh banyak. Walaupun sebenarnya faktor carry trade mampu membuat Rupiah bergerak sangat fluktuatif, akan tetapi hanya sedikit pelaku pasar yang memasukan mata uang Rupiah dalam daftar mata uang yang masuk dalam daftar transaksi carry trade.
Rupiah nyaris tidak beranjak jauh di kisaran level 9100, walaupun mempunyai kecenderungan menguat. Namun, sejauh ini penguatan Rupiah tidak signfikan dan diperkirakan akan bertahan diatas level 9050 dalam beberapa hari ke depan.
Belum adanya sentimen yang mampu menggerakan pasar seperti spekulasi mengenai arah suku bunga membuat Rupiah hanya bergerak dalam kisaran yang sangat sempit. Keadaan tersebut tentunya juga didukung oleh sejumlah faktor teknikal, dimana Rupiah sudah mendekati level support 9050.
Selain itu, IHSG yang sempat menguat secara signifikan juga diperkirakan akan bergerak sangat terbatas, dengan tetap memiliki kecenderungan menguat. Hal tersebut sangat didukung oleh kebijakan pemerintah yang diperkirakan masih akan menurunkan suku bunga walaupun tidak signifikan seperti tahun lalu.
Namun, tingginya laju inflasi di China akan berdampak buruk pada bursa di negara tersebut dan akan memberikan dampak negatif bagi lantai bursa Asia khususnya Jakarta. Permintah China diperkirakan akan terus melakukan kebijakan pengetatan moneter, guna meredam tingginya laju inflasi di negara tersebut, yang hingga saat ini masih merealisasikan inflasi 2 digit.
Sementara dari dalam negeri, walaupun diyakini BI masih akan menurunkan BI rate, namun masih simpang-siur tepatnya kapan BI akan menurunkan suku bunga. Walaupun laju inflasi masih terkendali, namun saat ini belum jaminan hal tersebut akan membuat BI menurunkan bunga Rupiah.
Sangat berbeda dari tahun lalu, dimana setiap diumumkan besarnya laju inflasi, maka dengan melakukan penilaian terhadap besarnya laju inflasi, BI pun mengambil langkah untuk menurunkan BI rate. Dan sejauh hal tersebut dilakukan, nilai tukar Rupiah juga tidak menunjukan adanya fluktuasi yang tajam.
Jadi walaupun nantinya laju inflasi selama bulan April merealisasikan angka aktual yang cukup kecil, namun BI masih akan sulit untuk menurunkan BI rate, dikarenakan masih relatif tingginya bunga US Dolar dan adanya tren kenaikan suku bunga di zona Euro.
Selama perdagangan minggu kemarin, sentimen pasar hanya tertuju pada seputar pernyataan yang dilontarkan pejabat Bank Sentral AS serta konferensi yang dilakukan menteri keuangan AS Henry Paulson di China. Seiring dengan minimnya data perekonomian yang dirilis membuat sejumlah mata uang dunia bergerak terbatas termasuk Rupiah.
Tema yang akan menjadi penggerak pasar nantinya masih akan terfokus pada melemahnya mata uang US Dolar. Meskipun ada beberapa data yang akan dirilis dari Amerika, namun data tersebut diperkirakan tidak akan berbuat banyak bagi US Dolar, dikarenakan pasar lebih tertuju pada faktor-faktor negatif US Dolar.
Ditengah minimnya sentimen seperti sekarang ini, pasar hanya mengandalkan faktor teknikal maupun carry trade. Tarik ulur dari kedua faktor tersebut berpotensi membuat pasar valuta akan sangat berfluktuasi.
Namun, bagi Rupiah hal tersebut tidaklah berpengaruh banyak. Walaupun sebenarnya faktor carry trade mampu membuat Rupiah bergerak sangat fluktuatif, akan tetapi hanya sedikit pelaku pasar yang memasukan mata uang Rupiah dalam daftar mata uang yang masuk dalam daftar transaksi carry trade.
Tuesday, April 17, 2007
Sektor Riil Jalan di Tempat
Medan Bisnis, 16 April 2007
Wacana seperti itu sepertinya bukan merupakan hal yang awam bagi semua orang. Sejak diberlakukannya pengetatan likuiditas oleh Bank Indonesia, sektor riil tidak mengalami perubahan signifikan ke jalur positif. Tujuan utama diberlakukannya kebijakan tersebut oleh Bank Indonesia adalah untuk mengamankan nilai tukar Rupiah, serta meredam laju inflasi yang diakibatkan oleh terdepresiasinya nilai tukar Rupiah.
Cukup beralasan memang, namun bagi beberapa analis ekonomi yang masih mengkhawatirkan adanya peningkatan jumlah kemiskinan, sangat menyayangkan kebijakan tersebut. Kebijakan tersebut dinilai tidak pro-pertumbuhan, dan hanya menguntungkan investor yang dinilai sebagai spekulan di pasar keuangan.
Saat ini, BI kembali mendapat kritikan dari banyak pengamat karena tidak menurunkan suku bunga acuan atau BI rate yang masih bertengger di level 9%. Padahal momentum penurunan BI rate sudah tepat, dikarenakan terjadi laju inflasi yang sangat rendah selama bulan Maret serta terkendalinya fluktuasi nilai tukar Rupiah.
Namun, kenapa BI tidak menurunkan BI rate?, ada beberapa alasan yang paling utama tentunya. Perbedaan suku bunga antara Rupiah (9%) dan US Dolar (5.25%) yang kian menyempit, adanya tren kenaikan suku bunga di sejumlah negara ekonomi besar, serta melambatnya laju pertumbuhan negara tujuan ekspor utama Indonesia seperti Jepang.
Perbedaan suku bunga memang kerap menjadi penentu arah kemana modal investor itu akan ditanamkan. Sejauh ini, Indonesia masih menjadi lahan subur bagi para investor karena masih memberikan imbal hasil yang cukup tinggi dibandingkan negara lain.
Sementara itu, ekspektasi bakal terjadinya tren kenaikan suku bunga di zona Euro juga menjadi pertimbangan BI tentunya. Hal tersebut dapat terlihat dari penguatan mata uang Euro terhadap US Dolar maupun Yen Jepang. Apalagi saat ini suku bunga Euro dinilai masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan bunga US Dolar (The FED Fund Rate).
Diantara sejumlah negara maju, Jepang merupakan negara dengan suku bunga paling rendah. Dan karena itulah, mata uang Yen kerap menjadi mata uang yang paling rawan terkena aksi spekulasi. Bahkan, saat ini Euro menguat keposisi tertinggi dalam sejarah terhadap Yen Jepang. Dan mungkin BI tidak mau hal tersebut terjadi pada Rupiah.
Selain itu, laju pertumbuhan ekonomi Jepang yang dinilai masih sangat lambat juga turut mempengaruhi ekspor Indonesia ke negara tersebut. Hingga saat ini, Jepang merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia, sehingga melambatnya pertumbuhan negara tersebut akan berpengaruh pada laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Dari kesemuanya itu pasti ada muaranya. Bukankah Indonesia seharusnya tidak perlu takut kalau BI rate kembali diturunkan atau bahkan lebih rendah dari bunga US Dolar. Masih banyak negara yang memberikan imbal hasil lebih rendah dari Amerika, namun tidak terjadi gejolak pasar finansial di negara tersebut.
Nah, Country Risk masih menjadi permasalahan utama negeri ini. Country Risk yang dimaksud disini adalah kemungkinan resiko yang terjadi apabila investor menanamkan modalnya di Indonesia. Baik dikarenakan karena terjadi gejolak politik, ekonomi biaya tinggi, maupun terkait dengan permasalahan fundamental negeri ini seperti masalah struktural birokrasi.
Jadi, sektor riil tidak hanya ditentukan dari keputusan BI dalam menentukan arah suku bunga. Terlebih dari itu, kestabilan politik serta kemauan politik (political will) para pengambil keputusan yang pro-pertumbuhan dan pro-penuntasan kemiskinan juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan.
Sehingga sinergi positif antara keduanyalah (BI dan Pemerintah) yang akan menentukan apakah sektor riil itu dikatakan sudah berada di jalur hijau, atau masih jalan ditempat seperti yang terjadi saat ini.
Wacana seperti itu sepertinya bukan merupakan hal yang awam bagi semua orang. Sejak diberlakukannya pengetatan likuiditas oleh Bank Indonesia, sektor riil tidak mengalami perubahan signifikan ke jalur positif. Tujuan utama diberlakukannya kebijakan tersebut oleh Bank Indonesia adalah untuk mengamankan nilai tukar Rupiah, serta meredam laju inflasi yang diakibatkan oleh terdepresiasinya nilai tukar Rupiah.
Cukup beralasan memang, namun bagi beberapa analis ekonomi yang masih mengkhawatirkan adanya peningkatan jumlah kemiskinan, sangat menyayangkan kebijakan tersebut. Kebijakan tersebut dinilai tidak pro-pertumbuhan, dan hanya menguntungkan investor yang dinilai sebagai spekulan di pasar keuangan.
Saat ini, BI kembali mendapat kritikan dari banyak pengamat karena tidak menurunkan suku bunga acuan atau BI rate yang masih bertengger di level 9%. Padahal momentum penurunan BI rate sudah tepat, dikarenakan terjadi laju inflasi yang sangat rendah selama bulan Maret serta terkendalinya fluktuasi nilai tukar Rupiah.
Namun, kenapa BI tidak menurunkan BI rate?, ada beberapa alasan yang paling utama tentunya. Perbedaan suku bunga antara Rupiah (9%) dan US Dolar (5.25%) yang kian menyempit, adanya tren kenaikan suku bunga di sejumlah negara ekonomi besar, serta melambatnya laju pertumbuhan negara tujuan ekspor utama Indonesia seperti Jepang.
Perbedaan suku bunga memang kerap menjadi penentu arah kemana modal investor itu akan ditanamkan. Sejauh ini, Indonesia masih menjadi lahan subur bagi para investor karena masih memberikan imbal hasil yang cukup tinggi dibandingkan negara lain.
Sementara itu, ekspektasi bakal terjadinya tren kenaikan suku bunga di zona Euro juga menjadi pertimbangan BI tentunya. Hal tersebut dapat terlihat dari penguatan mata uang Euro terhadap US Dolar maupun Yen Jepang. Apalagi saat ini suku bunga Euro dinilai masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan bunga US Dolar (The FED Fund Rate).
Diantara sejumlah negara maju, Jepang merupakan negara dengan suku bunga paling rendah. Dan karena itulah, mata uang Yen kerap menjadi mata uang yang paling rawan terkena aksi spekulasi. Bahkan, saat ini Euro menguat keposisi tertinggi dalam sejarah terhadap Yen Jepang. Dan mungkin BI tidak mau hal tersebut terjadi pada Rupiah.
Selain itu, laju pertumbuhan ekonomi Jepang yang dinilai masih sangat lambat juga turut mempengaruhi ekspor Indonesia ke negara tersebut. Hingga saat ini, Jepang merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia, sehingga melambatnya pertumbuhan negara tersebut akan berpengaruh pada laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Dari kesemuanya itu pasti ada muaranya. Bukankah Indonesia seharusnya tidak perlu takut kalau BI rate kembali diturunkan atau bahkan lebih rendah dari bunga US Dolar. Masih banyak negara yang memberikan imbal hasil lebih rendah dari Amerika, namun tidak terjadi gejolak pasar finansial di negara tersebut.
Nah, Country Risk masih menjadi permasalahan utama negeri ini. Country Risk yang dimaksud disini adalah kemungkinan resiko yang terjadi apabila investor menanamkan modalnya di Indonesia. Baik dikarenakan karena terjadi gejolak politik, ekonomi biaya tinggi, maupun terkait dengan permasalahan fundamental negeri ini seperti masalah struktural birokrasi.
Jadi, sektor riil tidak hanya ditentukan dari keputusan BI dalam menentukan arah suku bunga. Terlebih dari itu, kestabilan politik serta kemauan politik (political will) para pengambil keputusan yang pro-pertumbuhan dan pro-penuntasan kemiskinan juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan.
Sehingga sinergi positif antara keduanyalah (BI dan Pemerintah) yang akan menentukan apakah sektor riil itu dikatakan sudah berada di jalur hijau, atau masih jalan ditempat seperti yang terjadi saat ini.
Akankah Rupiah Terkoreksi?
Medan Bisnis, 09 April 2007
Dalam sesi perdagaangan beberapa bulan terakhir, Rupiah masih relatif stabil dikisaran level 9050 hingga 9250. Membaiknya indikator ekonomi makro menjadi penopang membaiknya kinerja Rupiah. Namun sampai kapan keadaan tersebut akan bertahan?.
Beberapa data seperti inflasi serta meningkatnya volume ekspor sepertinya akan menjadi data-data yang kerap mewarnai pergerakan Rupiah. Sementara disisi lain, seperti memburuknya kinerja mata uang US Dolar juga akan memberikan dampak positif bagi pergerakan mata uang Rupiah.
Sejauh ini, sejumlah mata uang utama dunia menguat terhadap US Dolar. Namun, keadaan tersebut tidak berpengaruh pada pergerakan Rupiah yang masih stabil dikisaran level 9100. Akan tetapi, secara keseluruhan Rupiah masih menunjukan tren penguatan. Hanya saja penguatan Rupiah dinilai sangat lambat dibandingkan dengan penguatan sejumlah mata uang Asia lainnya.
Padahal banyak analis yang mengatakan bahwa Rupiah seharusnya sudah menguat di bawah level 9000, mengingat banyaknya momentum yang mendukung penguatan Rupiah.
Di tahun 2006 yang lalu, pemerintah khususnya Bank Indonesia pernah memprediksikan pergerakan Rupiah akan berada dalam range 9000 hingga 9500. Level tersebut dinilai level yang tidak akan merugikan eksportir maupun importir. Dan pada saat realisasinya, Rupiah bergerak diatas level 9000 dan dibawah level 9500.
Dan beberapa minggu yang lalu, pemerintah memperkirakan bahwa range pergerakan Rupiah nantinya akan berada di dalam kisaran harga 9000 hingga 9300. hal tersebut tentunya dapat menjadi gambaran bagaimana Rupiah nantinya akan berfluktuasi, kalau kita bersandarkan pada asumsi pemerintah tersebut.
Namun, perlu diwaspadai, bahwa saat ini masih terjadi tren penurunan BI rate. Belum ada yang tahu sampai diberapa nantinya bunga Rupiah akan turun. Apabila keadaan ini terus berlangsung hingga mendekati bunga bank sentral Amerika atau The FED, maka ada kemungkinan pembalikan modal ke luar negeri. Namun, hal tersebut tentunya tidak berkorelasi seratus persen (100%).
Satu hal yang mungkin bisa menjadi acuan, bahwa pemerintah masih akan tetap menjaga adanya interest rate diferential (perbedaan suku bunga) antara BI rate dengan The FED, dan tentunya membuat Rupiah lebih menarik dibandingkan dengan US Dolar dimata para investor.
Selain itu, seperti yang kita ketahui sekarang, cadangan devisa kembali mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah. Hal tersebut memberikan gambaran cukup jelas bahwa pemerintah mempunyai kekuatan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Untuk saat ini, belum ada alasan yang kuat bahwa Rupiah akan melemah dan menembus batas atas (level 9300) seperti yang telah di asumsikan pemerintah saat ini. Membaiknya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga sempat mencatat rekor tertinggi dalam sejarah, akan membuat pasar finansial dalam negeri berada di jalur hijau.
Dalam sesi perdagaangan beberapa bulan terakhir, Rupiah masih relatif stabil dikisaran level 9050 hingga 9250. Membaiknya indikator ekonomi makro menjadi penopang membaiknya kinerja Rupiah. Namun sampai kapan keadaan tersebut akan bertahan?.
Beberapa data seperti inflasi serta meningkatnya volume ekspor sepertinya akan menjadi data-data yang kerap mewarnai pergerakan Rupiah. Sementara disisi lain, seperti memburuknya kinerja mata uang US Dolar juga akan memberikan dampak positif bagi pergerakan mata uang Rupiah.
Sejauh ini, sejumlah mata uang utama dunia menguat terhadap US Dolar. Namun, keadaan tersebut tidak berpengaruh pada pergerakan Rupiah yang masih stabil dikisaran level 9100. Akan tetapi, secara keseluruhan Rupiah masih menunjukan tren penguatan. Hanya saja penguatan Rupiah dinilai sangat lambat dibandingkan dengan penguatan sejumlah mata uang Asia lainnya.
Padahal banyak analis yang mengatakan bahwa Rupiah seharusnya sudah menguat di bawah level 9000, mengingat banyaknya momentum yang mendukung penguatan Rupiah.
Di tahun 2006 yang lalu, pemerintah khususnya Bank Indonesia pernah memprediksikan pergerakan Rupiah akan berada dalam range 9000 hingga 9500. Level tersebut dinilai level yang tidak akan merugikan eksportir maupun importir. Dan pada saat realisasinya, Rupiah bergerak diatas level 9000 dan dibawah level 9500.
Dan beberapa minggu yang lalu, pemerintah memperkirakan bahwa range pergerakan Rupiah nantinya akan berada di dalam kisaran harga 9000 hingga 9300. hal tersebut tentunya dapat menjadi gambaran bagaimana Rupiah nantinya akan berfluktuasi, kalau kita bersandarkan pada asumsi pemerintah tersebut.
Namun, perlu diwaspadai, bahwa saat ini masih terjadi tren penurunan BI rate. Belum ada yang tahu sampai diberapa nantinya bunga Rupiah akan turun. Apabila keadaan ini terus berlangsung hingga mendekati bunga bank sentral Amerika atau The FED, maka ada kemungkinan pembalikan modal ke luar negeri. Namun, hal tersebut tentunya tidak berkorelasi seratus persen (100%).
Satu hal yang mungkin bisa menjadi acuan, bahwa pemerintah masih akan tetap menjaga adanya interest rate diferential (perbedaan suku bunga) antara BI rate dengan The FED, dan tentunya membuat Rupiah lebih menarik dibandingkan dengan US Dolar dimata para investor.
Selain itu, seperti yang kita ketahui sekarang, cadangan devisa kembali mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah. Hal tersebut memberikan gambaran cukup jelas bahwa pemerintah mempunyai kekuatan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Untuk saat ini, belum ada alasan yang kuat bahwa Rupiah akan melemah dan menembus batas atas (level 9300) seperti yang telah di asumsikan pemerintah saat ini. Membaiknya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga sempat mencatat rekor tertinggi dalam sejarah, akan membuat pasar finansial dalam negeri berada di jalur hijau.
Tuesday, March 27, 2007
Hitung-Hitung Investasi ORI
Medan Bisnis, 26 Maret 2007
Pemerintah menjadwalkan akan menerbitkan Obligasi Negara Ritel (ORI) untuk yang kedua kalinya. Karena itu ORI yang akan diterbitkan saat ini bernama ORI-2. tidak jauh berbeda dengan ORI yang diterbitkan sebelumnya. Hanya saja, kupon atau bunga lebih kecil dibandingkan dengan ORI-1. Hal tersebut dikarenakan adanya tren penurunan suku bunga Rupiah.
Selain untuk diversifikasi sumber pembiayaan pemerintah, penerbitan ORI juga bertujuan untuk memperluas basis investor. Khususnya investor dari kalangan ritel. Jadi masyarakat yang mempunyai modal diatas 5 juta mempunyai kesempatan mendapatkan bunga sebesar 9.28% (belum dipotong pajak). Bunga tersebut lebih besar apabila dibandingkan dengan bunga deposito saat ini yang berkisar diantara 6 hingga 8% pertahun.
Jika dibandingkan dengan SBI, ORI-2 juga lebih menarik. Karena SBI saat ini mengacu pada BI Rate sebesar 9%. Selain itu, kalau mau berinvestasi di SBI juga harus mempunyai modal minimal Rp.100 juta, dan harus melalui proses lelang. Jadi ORI tetap lebih menguntungkan dari sisi teknisnya.
Persyaratan lainnya juga tidak begitu rumit, selain membuka rekening kustodi dan tabungan, calon investor juga mampu menunjukan bahwa dia adalah benar merupakan asli penduduk Indonesia dengan melampirkan KTP atau SIM. Bagi calon investor yang belum memiliki rekening kustodian, beberapa Bank telah menyiapkan kemudahan untuk membuka rekening tersebut.
Berinvestasi di ORI hampir tidak memiliki resiko, karena pembayarannya dijamin pemerintah. Namun, di pasar skunder harga Obligasi bisa saja turun sehingga menimbulkan capital loss. Resiko tersebut sering juga disebut dengan market risk (resiko pasar).
Akan tetapi, dengan kecenderungan penurunan suku bunga saat ini, bisa diperkirakan kemungkinan terjadinya capital loss semakin kecil. Karena, pemicu utama turunnya harga Obligasi biasanya karena ada tren kenaikan suku bunga. Bagi mereka yang menginginkan produk investasi tanpa resiko tinggi, maka ORI merupakan pilihan yang tepat.
Selain menawarkan bunga yang lebih tinggi dari deposito. ORI juga menawarkan keuntungan harga Obligasi di pasar skunder. Jadi, seorang investor yang telah membeli ORI di pasar perdana, berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga obligasi di pasar skunder atau capital gain.
Bagaimana itu terjadi?. Data menteri keuangan saat ini menyebutkan bahwa terjadi kenaikan permintaan terhadap ORI yang mencapai lebih dari Rp. 6 Trilyun. Apabila keadaan ini berlangsung hingga ke pasar skunder, maka akan terjadi kenaikan permintaan ORI (oversubscribe), dan sudah dapat dipastikan harga ORI mengalami kenaikan per-unitnya. Nah, selisih yang lebih besar antara harga di pasar skunder dengan harga di pasar perdana itu yang disebut dengan capital gain.
Namun, investor harus tetap jeli dalam memilih agen penjual. Karena setiap agen penjual (perbankan atau perusahaan sekuritas) memberikan biaya administrasi yang berbeda. Pilih agen penjual yang menawarkan biaya administrasi yang rendah.
Hitung seluruh pengeluaran yang diakibatkan dari transaksi ORI, mulai dari pajak hingga biaya administrasi. Pastikan keuntungan bersih yang anda dapatkan lebih besar dari produk investasi lain seperti deposito. Dan lebih baik lagi kalau investasi di ORI bunganya (netto) lebih besar dari laju inflasi, karena investasi yang menguntungkan adalah investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dari laju inflasi.
Pemerintah menjadwalkan akan menerbitkan Obligasi Negara Ritel (ORI) untuk yang kedua kalinya. Karena itu ORI yang akan diterbitkan saat ini bernama ORI-2. tidak jauh berbeda dengan ORI yang diterbitkan sebelumnya. Hanya saja, kupon atau bunga lebih kecil dibandingkan dengan ORI-1. Hal tersebut dikarenakan adanya tren penurunan suku bunga Rupiah.
Selain untuk diversifikasi sumber pembiayaan pemerintah, penerbitan ORI juga bertujuan untuk memperluas basis investor. Khususnya investor dari kalangan ritel. Jadi masyarakat yang mempunyai modal diatas 5 juta mempunyai kesempatan mendapatkan bunga sebesar 9.28% (belum dipotong pajak). Bunga tersebut lebih besar apabila dibandingkan dengan bunga deposito saat ini yang berkisar diantara 6 hingga 8% pertahun.
Jika dibandingkan dengan SBI, ORI-2 juga lebih menarik. Karena SBI saat ini mengacu pada BI Rate sebesar 9%. Selain itu, kalau mau berinvestasi di SBI juga harus mempunyai modal minimal Rp.100 juta, dan harus melalui proses lelang. Jadi ORI tetap lebih menguntungkan dari sisi teknisnya.
Persyaratan lainnya juga tidak begitu rumit, selain membuka rekening kustodi dan tabungan, calon investor juga mampu menunjukan bahwa dia adalah benar merupakan asli penduduk Indonesia dengan melampirkan KTP atau SIM. Bagi calon investor yang belum memiliki rekening kustodian, beberapa Bank telah menyiapkan kemudahan untuk membuka rekening tersebut.
Berinvestasi di ORI hampir tidak memiliki resiko, karena pembayarannya dijamin pemerintah. Namun, di pasar skunder harga Obligasi bisa saja turun sehingga menimbulkan capital loss. Resiko tersebut sering juga disebut dengan market risk (resiko pasar).
Akan tetapi, dengan kecenderungan penurunan suku bunga saat ini, bisa diperkirakan kemungkinan terjadinya capital loss semakin kecil. Karena, pemicu utama turunnya harga Obligasi biasanya karena ada tren kenaikan suku bunga. Bagi mereka yang menginginkan produk investasi tanpa resiko tinggi, maka ORI merupakan pilihan yang tepat.
Selain menawarkan bunga yang lebih tinggi dari deposito. ORI juga menawarkan keuntungan harga Obligasi di pasar skunder. Jadi, seorang investor yang telah membeli ORI di pasar perdana, berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga obligasi di pasar skunder atau capital gain.
Bagaimana itu terjadi?. Data menteri keuangan saat ini menyebutkan bahwa terjadi kenaikan permintaan terhadap ORI yang mencapai lebih dari Rp. 6 Trilyun. Apabila keadaan ini berlangsung hingga ke pasar skunder, maka akan terjadi kenaikan permintaan ORI (oversubscribe), dan sudah dapat dipastikan harga ORI mengalami kenaikan per-unitnya. Nah, selisih yang lebih besar antara harga di pasar skunder dengan harga di pasar perdana itu yang disebut dengan capital gain.
Namun, investor harus tetap jeli dalam memilih agen penjual. Karena setiap agen penjual (perbankan atau perusahaan sekuritas) memberikan biaya administrasi yang berbeda. Pilih agen penjual yang menawarkan biaya administrasi yang rendah.
Hitung seluruh pengeluaran yang diakibatkan dari transaksi ORI, mulai dari pajak hingga biaya administrasi. Pastikan keuntungan bersih yang anda dapatkan lebih besar dari produk investasi lain seperti deposito. Dan lebih baik lagi kalau investasi di ORI bunganya (netto) lebih besar dari laju inflasi, karena investasi yang menguntungkan adalah investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dari laju inflasi.
Menarikkah Bunga Deposito?
Medan Bisnis, 26 Maret 2007
Hingga saat ini, Bank memiliki kecenderungan untuk menyimpan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di Bank Indonesia, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat baik perorangan maupun perusahaan untuk memiliki SBI. Umumnya, hal tersebut dilakukan karena suku bunga SBI memberikan imbal hasil atau yield tinggi dan tanpa resiko gagal bayar.
SBI merupakan instrumen surat berharga yang paling besar pasarnya, karena besarnya tidak dibatasi oleh permintaan maupun kelebihan likuiditas dari perbankan. Akan tetapi, SBI lebih dikaitkan dengan target moneter pemerintah.
Nah, apa jadinya kalau BI rate yang menjadi suku bunga acuan mulai merangkak turun. Tentunya perbankan juga akan mengikuti hal yang sama dan berpotensi memberikan bunga yang lebih rendah dari bunga SBI.
Pada waktu pemerintah menaikan harga BBM yang rata-rata sebesar 126% akhir 2005 lalu, suku bunga SBI sempat bertengger di level 12.75%. Sementara suku bunga deposito perbankan rata-rata berkisar antara 9% hingga 11% pertahun.
Sementara itu, laju inflasi pada saat harga BBM dinaikan diatas angka 17% year on year (2005). Kalau kita hitung angka inflasi sebesar itu tentunya lebih tinggi dari bunga deposito yang hanya berkisar 9% hingga 11% pertahun tersebut.
Kenaikan harga barang yang rata-rata naik sebesar 17% ternyata tidak diikuti oleh kenaikan bunga deposito yang signifikan. Apalagi buat anda yang mengandalkan gaji, apakah kenaikan gaji tersebut sudah naik sebesar laju inflasi?, kalau belum, berarti ada kemrosotan baik daya beli maupun pendapatan real anda pribadi. Hal tersebut selalu menjadi barometer kemana arah angka kemiskinan negeri ini nantinya.
Pada saat ini, BI rate berada di level 9.25%. suku bunga deposito berada dalam kisaran 5 hingga 7%. Ada penurunan, karena BI (Bank Indonesia) melakukan pemotongan BI rate secara gradual dalam setiap rapat dewan gubernur BI di awal bulan.
Memang terjadi penurunan inflasi yang signifikan dari awal tahun (januari) 2006 hingga ke awal tahun 2007, yakni hanya sebesar 6.6% (skala nasional). Tapi perlu diingat, ada kenaikan harga beras yang mencapai 20% selama bulan februari kemarin, yang mengancam meningkatnya laju inflasi pada tahun ini.
Setiap daerah pasti memiliki kontribusi inflasi yang berbeda terhadap laju inflasi secara nasional (skala nasional). Misalkan ada daerah yang tidak mengalami kenaikan bahan makanan (misal:beras) yang tinggi, karena di daerahnya surplus beras. Sehingga kenaikan harga beras yang signifikan tidak begitu berpengaruh terhadap laju inflasi didaerah tersebut.
Beruntung kalau anda tinggal didaerah tersebut. Tapi apa jadinya kalau anda tinggal ditempat dimana semua bahan makanan dikirmkan dari luar daerah tempat anda tinggal. Harga bahan makanan tersebut tentunya berpotensi mengalami fluktuasi harga yang signifikan.
Kaitannya dengan bunga deposito, bagi anda yang suka menyimpan uang dalam deposito, pertimbangkan untuk tetap mengawasi perubahan harga disekitar anda. Jangan-jangan anda yang saat ini terbuai dengan bunga yang tinggi dari deposito, justru mengalami kerugian.
Akan tetapi, kalau anda tertarik untuk investasi di SBI bisa juga. Karena BI juga memberikan kesempatan bagi perorangan untuk ikut dalam lelang SBI. Minimal uang yang harus anda miliki sebesar Rp.100 Juta dan selebihnya kelipatan Rp.50 Juta.
Nah, dalam lelang SBI tersebut siapa saja yang akan menang?, Bagi mereka yang menawarkan suku bunga paling rendah (acuan BI rate) serta nominal yang tinggi maka dialah yang berpotensi menang dalam lelang SBI. Kalau anda menang?, maka anda akan menikmati imbal hasil yang lebih tinggi dari bunga deposito.
Hingga saat ini, Bank memiliki kecenderungan untuk menyimpan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di Bank Indonesia, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat baik perorangan maupun perusahaan untuk memiliki SBI. Umumnya, hal tersebut dilakukan karena suku bunga SBI memberikan imbal hasil atau yield tinggi dan tanpa resiko gagal bayar.
SBI merupakan instrumen surat berharga yang paling besar pasarnya, karena besarnya tidak dibatasi oleh permintaan maupun kelebihan likuiditas dari perbankan. Akan tetapi, SBI lebih dikaitkan dengan target moneter pemerintah.
Nah, apa jadinya kalau BI rate yang menjadi suku bunga acuan mulai merangkak turun. Tentunya perbankan juga akan mengikuti hal yang sama dan berpotensi memberikan bunga yang lebih rendah dari bunga SBI.
Pada waktu pemerintah menaikan harga BBM yang rata-rata sebesar 126% akhir 2005 lalu, suku bunga SBI sempat bertengger di level 12.75%. Sementara suku bunga deposito perbankan rata-rata berkisar antara 9% hingga 11% pertahun.
Sementara itu, laju inflasi pada saat harga BBM dinaikan diatas angka 17% year on year (2005). Kalau kita hitung angka inflasi sebesar itu tentunya lebih tinggi dari bunga deposito yang hanya berkisar 9% hingga 11% pertahun tersebut.
Kenaikan harga barang yang rata-rata naik sebesar 17% ternyata tidak diikuti oleh kenaikan bunga deposito yang signifikan. Apalagi buat anda yang mengandalkan gaji, apakah kenaikan gaji tersebut sudah naik sebesar laju inflasi?, kalau belum, berarti ada kemrosotan baik daya beli maupun pendapatan real anda pribadi. Hal tersebut selalu menjadi barometer kemana arah angka kemiskinan negeri ini nantinya.
Pada saat ini, BI rate berada di level 9.25%. suku bunga deposito berada dalam kisaran 5 hingga 7%. Ada penurunan, karena BI (Bank Indonesia) melakukan pemotongan BI rate secara gradual dalam setiap rapat dewan gubernur BI di awal bulan.
Memang terjadi penurunan inflasi yang signifikan dari awal tahun (januari) 2006 hingga ke awal tahun 2007, yakni hanya sebesar 6.6% (skala nasional). Tapi perlu diingat, ada kenaikan harga beras yang mencapai 20% selama bulan februari kemarin, yang mengancam meningkatnya laju inflasi pada tahun ini.
Setiap daerah pasti memiliki kontribusi inflasi yang berbeda terhadap laju inflasi secara nasional (skala nasional). Misalkan ada daerah yang tidak mengalami kenaikan bahan makanan (misal:beras) yang tinggi, karena di daerahnya surplus beras. Sehingga kenaikan harga beras yang signifikan tidak begitu berpengaruh terhadap laju inflasi didaerah tersebut.
Beruntung kalau anda tinggal didaerah tersebut. Tapi apa jadinya kalau anda tinggal ditempat dimana semua bahan makanan dikirmkan dari luar daerah tempat anda tinggal. Harga bahan makanan tersebut tentunya berpotensi mengalami fluktuasi harga yang signifikan.
Kaitannya dengan bunga deposito, bagi anda yang suka menyimpan uang dalam deposito, pertimbangkan untuk tetap mengawasi perubahan harga disekitar anda. Jangan-jangan anda yang saat ini terbuai dengan bunga yang tinggi dari deposito, justru mengalami kerugian.
Akan tetapi, kalau anda tertarik untuk investasi di SBI bisa juga. Karena BI juga memberikan kesempatan bagi perorangan untuk ikut dalam lelang SBI. Minimal uang yang harus anda miliki sebesar Rp.100 Juta dan selebihnya kelipatan Rp.50 Juta.
Nah, dalam lelang SBI tersebut siapa saja yang akan menang?, Bagi mereka yang menawarkan suku bunga paling rendah (acuan BI rate) serta nominal yang tinggi maka dialah yang berpotensi menang dalam lelang SBI. Kalau anda menang?, maka anda akan menikmati imbal hasil yang lebih tinggi dari bunga deposito.
Tuesday, March 13, 2007
Penurunan BI Rate Belum Signfikan
Medan Bisnis, 12 Maret 2007
Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9% pada saat ini. Penurunan tersebut diambil seiring dengan membaiknya laju tekanan inflasi pada bulan Februari yang hanya sebesar 0.6%.
Laju inflasi tersebut lebih kecil dari ekspektasi analis kebanyakan yang memperkirakan akan terjadi lonjakan inflasi diatas 1% selama bulan Februari. Namun, diperkirakan penurunan tersebut tidak akan berdampak signifikan bagi bergeraknya sektor riil, karena masih terdapat masalah struktural penghambat tumbuhnya sektor riil.
Dengan penurunan BI rate maka akan terjadi penurunan pada bunga SBI, yang juga akan berimbas pada penurunan bunga deposito perbankan. Hal tersebut diperkirakan akan memberikan dampak negatif bagi pengumpulan dana pihak ke-3 perbankan.
Banyak investor akan mencari bentuk investasi lain selain menanamkannya dalam bentuk deposito. Beberapa alternatif memang ditawarkan oleh pemerintah seperti Obligasi Negara Ritel atau ORI. Atau bagi mereka yang mempunyai dana lebih bisa berinvestasi dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang nota bene mempunyai imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito.
Penurunan suku bunga biasanya diikuti dengan berbaliknya sejumlah dana ke bentuk investasi lain yang lebih menguntungkan. Kalau imbal hasil dari investasi yang ditawarkan oleh negara lain lebih mumpuni, maka berpotensi membuat mata uang negeri asal dana tersebut melemah.
Jadi perlu dilakukan sebuah terobosan agar dana tersebut tetap berada di dalam negeri dan tidak parkir di negara lain. Penerbitan ORI merupakan salah satu upaya tersebut. Tapi belum ada jaminan pasar finansial kita akan tetap bergerak di jalur hijau.
Negara lain yang saat ini memberikan suku bunga yang lebih kecil dari BI Rate, memang kalah menarik dibandingkan dengan Indonesia untuk berinvestasi. Namun, investasi yang hanya mengandalkan suku bunga semata, hanya akan membuat investor menyimpan dananya dalam jangka pendek.
Begitu ada penurunan suku bunga, maka kekhawatiran ada arus balik modal bermunculan. Kalau memacu sektor riil, maka pemerintah dituntut untuk memperbaiki masalah struktural hingga memberikan insentif-insentif lainnya seperti keringanan pajak.
Selain itu, negeri ini belum lepas dari sejumlah faktor resiko yang sangat diperhitungkan dalam menentukan investasi. Walaupun saat ini pemerintahan dapat diasumsikan dalam keadaan stabil, namun belum ada jaminan menjelang pemilu nanti kondisi akan tetap sama, namun kita semua pasti tidak mengharapkan ada hal negatif yang terjadi.
Kalaupun sejauh ini sejumlah indikator ekonomi di pasar finansial menunjukan perubahan yang positif, namun belum ada jaminan akan berdampak positif bagi perbaikan sektor riil.
Butuh waktu memang, karena permasalahan pengangguran, kemiskinan, perburuhan dan masalah fundamental ekonomi bangsa ini bukan hanya ditentukan dalam rapat dewan gubernur BI yang menentukan arah suku bunga. Akumulasi kebijakan serta implementasi positif dari semua stake holder lah yang akan menentukan perbaikan ekonomi bangsa ini. Jadi bukan hanya masalah suku bunga.
Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9% pada saat ini. Penurunan tersebut diambil seiring dengan membaiknya laju tekanan inflasi pada bulan Februari yang hanya sebesar 0.6%.
Laju inflasi tersebut lebih kecil dari ekspektasi analis kebanyakan yang memperkirakan akan terjadi lonjakan inflasi diatas 1% selama bulan Februari. Namun, diperkirakan penurunan tersebut tidak akan berdampak signifikan bagi bergeraknya sektor riil, karena masih terdapat masalah struktural penghambat tumbuhnya sektor riil.
Dengan penurunan BI rate maka akan terjadi penurunan pada bunga SBI, yang juga akan berimbas pada penurunan bunga deposito perbankan. Hal tersebut diperkirakan akan memberikan dampak negatif bagi pengumpulan dana pihak ke-3 perbankan.
Banyak investor akan mencari bentuk investasi lain selain menanamkannya dalam bentuk deposito. Beberapa alternatif memang ditawarkan oleh pemerintah seperti Obligasi Negara Ritel atau ORI. Atau bagi mereka yang mempunyai dana lebih bisa berinvestasi dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang nota bene mempunyai imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito.
Penurunan suku bunga biasanya diikuti dengan berbaliknya sejumlah dana ke bentuk investasi lain yang lebih menguntungkan. Kalau imbal hasil dari investasi yang ditawarkan oleh negara lain lebih mumpuni, maka berpotensi membuat mata uang negeri asal dana tersebut melemah.
Jadi perlu dilakukan sebuah terobosan agar dana tersebut tetap berada di dalam negeri dan tidak parkir di negara lain. Penerbitan ORI merupakan salah satu upaya tersebut. Tapi belum ada jaminan pasar finansial kita akan tetap bergerak di jalur hijau.
Negara lain yang saat ini memberikan suku bunga yang lebih kecil dari BI Rate, memang kalah menarik dibandingkan dengan Indonesia untuk berinvestasi. Namun, investasi yang hanya mengandalkan suku bunga semata, hanya akan membuat investor menyimpan dananya dalam jangka pendek.
Begitu ada penurunan suku bunga, maka kekhawatiran ada arus balik modal bermunculan. Kalau memacu sektor riil, maka pemerintah dituntut untuk memperbaiki masalah struktural hingga memberikan insentif-insentif lainnya seperti keringanan pajak.
Selain itu, negeri ini belum lepas dari sejumlah faktor resiko yang sangat diperhitungkan dalam menentukan investasi. Walaupun saat ini pemerintahan dapat diasumsikan dalam keadaan stabil, namun belum ada jaminan menjelang pemilu nanti kondisi akan tetap sama, namun kita semua pasti tidak mengharapkan ada hal negatif yang terjadi.
Kalaupun sejauh ini sejumlah indikator ekonomi di pasar finansial menunjukan perubahan yang positif, namun belum ada jaminan akan berdampak positif bagi perbaikan sektor riil.
Butuh waktu memang, karena permasalahan pengangguran, kemiskinan, perburuhan dan masalah fundamental ekonomi bangsa ini bukan hanya ditentukan dalam rapat dewan gubernur BI yang menentukan arah suku bunga. Akumulasi kebijakan serta implementasi positif dari semua stake holder lah yang akan menentukan perbaikan ekonomi bangsa ini. Jadi bukan hanya masalah suku bunga.
Monday, March 05, 2007
Rupiah Kembali Bergejolak
Medan Bisnis, 05 Maret 2007
Pada pertengahan perdagangan minggu kemarin, Rupiah kembali melemah hingga mendekati level 9200. Melemahnya Rupiah lebih dikarenakan sentimen negatif eksternal, dimana terjadi aksi jual besar-besaran di lantai bursa global.
Melemahnya indeks bursa Dow Jones yang sempat melemah hingga 400 poin menjadi akar masalah dari melemahnya Rupiah. Pernyataan gubernur bank sentral Amerika yang menyatakan bahwa akan terjadi pelemahan pada laju perekonomian Amerika menjadi pemicu memburuknya kinerja pasar finansial di Asia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat melemah hingga 91 poin pada sesi pembukaan perdagangan hari rabu (28/02) minggu kemarin. Melemahnya IHSG turut dibarengi dengan melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia.
Akan tetapi, kinerja mata uang Yen Jepang tetap menunjukan tren penguatan yang signifikan terhadap US Dolar. Sayangnya, penguatan Yen Jepang tersebut tidak memberikan kontribusi positif bagi pergerakan mata uang Asia lainnya termasuk Rupiah.
Selain dikarenakan likuidasi dari transaksi carry trade, menguatnya mata uang Yen Jepang juga didorong oleh langkah repatriasi, dimana perusahaan-perusahaan Jepang menarik dananya dari luar negeri menjelang berakhirnya tahun fiskal.
Sejauh ini, tren penguatan Yen Jepang masih terus berlanjut. Belum ada yang bisa memastikan kapan likuidasi carry trade akan berakhir. Namun, ditengah memburuknya data perekonomian Amerika saat ini, tidak menutup kemungkinan bagi mata uang Yen Jepang untuk terus melanjutkan tren penguatan terhadap US Dolar.
Sementara itu, Rupiah juga tidak menunjukan performa yang baik seiring dengan membaiknya kinerja mata uang Yen Jepang. Padahal, Rupiah mempunyai sentimen positif yang seharusnya mampu mengangkat nilai tukar Rupiah ke level yang lebih baik lagi.
Tidak lain, sentimen positif tersebut adalah dirilisnya data inflasi bulan Februari yang hanya sebesar 0.62%. Angka tersebut lebih kecil dari ekspektasi pasar sebelumnya, yang memperkirakan akan terjadi kenaikan inflasi diatas 1% pada bulan Februari.
Namun, tidak sepenuhnya data inflasi tersebut akan menjadi support bagi penguatan Rupiah. Rendahnya laju tekanan inflasi akan memunculkan spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali memotong besaran suku bunga dalam rapat dewan gubernur (RDG) BI pada tanggal 6 Maret mendatang.
Tentunya, penurunan suku bunga tersebut akan membuat perbedaan suku bunga atau interest rate differential antara Rupiah dan Dolar Amerika semakin mengecil. Namun, terkadang kekhawatiran tersebut tidak terbukti, seperti yang terjadi pada pemotongan BI rate pada bulan-bulan sebelumnya.
Dalam keadaan seperti ini, pelaku pasar sebaiknya melakukan evaluasi jangka menengah ke jangka panjang guna menghindari gejolak fluktuasi mata uang yang signifikan. Karena, dalam jangka pendek fokus pasar akan terpecah pada beberapa isu yang memang sulit untuk diketahui kemana muaranya.
Diantaranya adalah isu invasi terhadap Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Isu tersebut sempat membuat US Dolar melemah, namun melemahnya US Dolar tersebut hanya bersifat sementara.
Guna menghindari efek negatif dari isu yang berkembang, sebaiknya pelaku pasar lebih mengamati faktor fundamental ekonomi dari setiap negara. Untuk nilai tukar Rupiah, walaupun sempat terpuruk hingga mendekati level 9200, namun, keadaan tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Kenapa?, setidak-tidaknya pemerintah saat ini mempunyai cadangan devisa yang cukup signifikan, yang suatu saat dapat digunakan untuk meredam gejolak niali tukar Rupiah yang bergerak liar.
Pada pertengahan perdagangan minggu kemarin, Rupiah kembali melemah hingga mendekati level 9200. Melemahnya Rupiah lebih dikarenakan sentimen negatif eksternal, dimana terjadi aksi jual besar-besaran di lantai bursa global.
Melemahnya indeks bursa Dow Jones yang sempat melemah hingga 400 poin menjadi akar masalah dari melemahnya Rupiah. Pernyataan gubernur bank sentral Amerika yang menyatakan bahwa akan terjadi pelemahan pada laju perekonomian Amerika menjadi pemicu memburuknya kinerja pasar finansial di Asia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat melemah hingga 91 poin pada sesi pembukaan perdagangan hari rabu (28/02) minggu kemarin. Melemahnya IHSG turut dibarengi dengan melemahnya sejumlah indeks bursa di Asia.
Akan tetapi, kinerja mata uang Yen Jepang tetap menunjukan tren penguatan yang signifikan terhadap US Dolar. Sayangnya, penguatan Yen Jepang tersebut tidak memberikan kontribusi positif bagi pergerakan mata uang Asia lainnya termasuk Rupiah.
Selain dikarenakan likuidasi dari transaksi carry trade, menguatnya mata uang Yen Jepang juga didorong oleh langkah repatriasi, dimana perusahaan-perusahaan Jepang menarik dananya dari luar negeri menjelang berakhirnya tahun fiskal.
Sejauh ini, tren penguatan Yen Jepang masih terus berlanjut. Belum ada yang bisa memastikan kapan likuidasi carry trade akan berakhir. Namun, ditengah memburuknya data perekonomian Amerika saat ini, tidak menutup kemungkinan bagi mata uang Yen Jepang untuk terus melanjutkan tren penguatan terhadap US Dolar.
Sementara itu, Rupiah juga tidak menunjukan performa yang baik seiring dengan membaiknya kinerja mata uang Yen Jepang. Padahal, Rupiah mempunyai sentimen positif yang seharusnya mampu mengangkat nilai tukar Rupiah ke level yang lebih baik lagi.
Tidak lain, sentimen positif tersebut adalah dirilisnya data inflasi bulan Februari yang hanya sebesar 0.62%. Angka tersebut lebih kecil dari ekspektasi pasar sebelumnya, yang memperkirakan akan terjadi kenaikan inflasi diatas 1% pada bulan Februari.
Namun, tidak sepenuhnya data inflasi tersebut akan menjadi support bagi penguatan Rupiah. Rendahnya laju tekanan inflasi akan memunculkan spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali memotong besaran suku bunga dalam rapat dewan gubernur (RDG) BI pada tanggal 6 Maret mendatang.
Tentunya, penurunan suku bunga tersebut akan membuat perbedaan suku bunga atau interest rate differential antara Rupiah dan Dolar Amerika semakin mengecil. Namun, terkadang kekhawatiran tersebut tidak terbukti, seperti yang terjadi pada pemotongan BI rate pada bulan-bulan sebelumnya.
Dalam keadaan seperti ini, pelaku pasar sebaiknya melakukan evaluasi jangka menengah ke jangka panjang guna menghindari gejolak fluktuasi mata uang yang signifikan. Karena, dalam jangka pendek fokus pasar akan terpecah pada beberapa isu yang memang sulit untuk diketahui kemana muaranya.
Diantaranya adalah isu invasi terhadap Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Isu tersebut sempat membuat US Dolar melemah, namun melemahnya US Dolar tersebut hanya bersifat sementara.
Guna menghindari efek negatif dari isu yang berkembang, sebaiknya pelaku pasar lebih mengamati faktor fundamental ekonomi dari setiap negara. Untuk nilai tukar Rupiah, walaupun sempat terpuruk hingga mendekati level 9200, namun, keadaan tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Kenapa?, setidak-tidaknya pemerintah saat ini mempunyai cadangan devisa yang cukup signifikan, yang suatu saat dapat digunakan untuk meredam gejolak niali tukar Rupiah yang bergerak liar.
Tuesday, February 27, 2007
Kenaikan Suku Bunga BOJ Tidak Direspon Pasar
Medan Bisnis, 26 Februari 2007
Walaupun pasar sudah menduga bahwa tidak akan terjadi penurunan suku bunga dalam rapat dewan gubernur Bank of Japan (BOJ) yang berakhir rabu kemarin. Namun, mata uang Yen Jepang tetap berada dibawah tekanan walaupun mendapat support dari kenaikan suku bunga BOJ.
Mata uang Yen belum lepas dari statusnya sebagai mata uang yang banyak digunakan untuk transaksi carry trade. Jadi, walaupun suku bunga BOJ dinaikan sebesar 25 basis poin menjadi 0.5%, pasar menilai mata uang Yen Jepang tetap potensial menjadi mata uang yang layak dipinjam lalu dikonversi dan disimpan dalam bentuk mata uang lain, yang memberikan suku bunga lebih tinggi.
Padahal sebelumnya, Yen Jepang sempat menguat terhadap US Dolar sebelum digelarnya rapat dewan gubernur BOJ tersebut. Namun, penguatan tersebut hanya sementara, selain dikarenakan aksi profit taking, melemahnya Yen Jepang juga dikarenakan membaiknya ekspektasi data perekonomian di Amerika.
Lihat saja data consumer price index (CPI) Amerika yang merealisasikan angka lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Ini menunjukan bahwa kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika atau The FED akan menurunkan suku bunga selama tahun 2007 ini tidak akan terjadi. Meski demikian itu hanyalah perkiraan yang spekulatif.
Alasan dinaikkannya suku bunga BOJ sendiri telah diperkirakan pasar sebelumnya. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi di Jepang selama kuartal ke empat tahun 2006 menjadi pendorong utama keputusan BOJ menaikan suku bunganya.
Berbeda terhadap mata uang Poundsterling dan Euro. US Dolar justru bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terhadap kedua mata uang tersebut. Terhadap Poundsterling US Dolar melemah terdorong oleh pasar yang lebih bersikap hawkish (arah suku bunga yang cenderung naik).
Namun, mata uang Poundsterling diperkirakan akan bergerak dengan fluktuasi yang tajam seiring dengan sejumlah data perekonomian Inggris yang kerap merealisasikan angka yang beragam. Terkadang sejumlah data perekonomian Inggris merealisasikan angka positif, namun, turut dibarengi dengan realisasi negatif di sejumlah data perekonomian lainnya.
Demikian halnya terhadap Euro. Sikap hawkish sejumlah pejabat bank sentral eropa atau ECB sempat membuat Euro menguat terhadap US Dolar. Namun, sikap tersebut memudar setelah sejumlah data perekonomian di zona Euro merealisasikan angka yang tidak lebih baik dari data perekonomian Amerika.
Hal tersebut berujung pada melemahnya mata uang Euro. Namun terhadap Yen Jepang Euro masih membukukan penguatan, yang diperkirakan masih di topang oleh transaksi yang lebih mengedepankan faktor selisih suku bunga (carry trade).
Kedepan, pelemahan US Dolar masih berpotensi sangat lebar. Terlebih kebijakan politik luar negeri Amerika yang hingga saat ini diperkirakan masih akan lebih ofensif dalam menyelesaikan masalah nuklir Iran.
Kebijakan tersebut sempat membuat mata uang US Dolar melemah, sesaat setelah beredar isu bahwa Amerika akan menyerang Iran lewat serangan udara. Kebijakan politik luar negeri Amerika tentunya akan berimplikasi pada sektor keuangan Amerika sendiri.
Walaupun terjadi pergerakan suku bunga di Asia yang stagnan, atau bahkan menurun. Namun, laju pertumbuhan di Asia yang diperkirakan masih akan tetap tumbuh secara signifikan, akan menjadi fundamental bagi pergerakan mata uang di Asia yang masih berpeluang besar untuk tetap menguat.
Walaupun pasar sudah menduga bahwa tidak akan terjadi penurunan suku bunga dalam rapat dewan gubernur Bank of Japan (BOJ) yang berakhir rabu kemarin. Namun, mata uang Yen Jepang tetap berada dibawah tekanan walaupun mendapat support dari kenaikan suku bunga BOJ.
Mata uang Yen belum lepas dari statusnya sebagai mata uang yang banyak digunakan untuk transaksi carry trade. Jadi, walaupun suku bunga BOJ dinaikan sebesar 25 basis poin menjadi 0.5%, pasar menilai mata uang Yen Jepang tetap potensial menjadi mata uang yang layak dipinjam lalu dikonversi dan disimpan dalam bentuk mata uang lain, yang memberikan suku bunga lebih tinggi.
Padahal sebelumnya, Yen Jepang sempat menguat terhadap US Dolar sebelum digelarnya rapat dewan gubernur BOJ tersebut. Namun, penguatan tersebut hanya sementara, selain dikarenakan aksi profit taking, melemahnya Yen Jepang juga dikarenakan membaiknya ekspektasi data perekonomian di Amerika.
Lihat saja data consumer price index (CPI) Amerika yang merealisasikan angka lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Ini menunjukan bahwa kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika atau The FED akan menurunkan suku bunga selama tahun 2007 ini tidak akan terjadi. Meski demikian itu hanyalah perkiraan yang spekulatif.
Alasan dinaikkannya suku bunga BOJ sendiri telah diperkirakan pasar sebelumnya. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi di Jepang selama kuartal ke empat tahun 2006 menjadi pendorong utama keputusan BOJ menaikan suku bunganya.
Berbeda terhadap mata uang Poundsterling dan Euro. US Dolar justru bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terhadap kedua mata uang tersebut. Terhadap Poundsterling US Dolar melemah terdorong oleh pasar yang lebih bersikap hawkish (arah suku bunga yang cenderung naik).
Namun, mata uang Poundsterling diperkirakan akan bergerak dengan fluktuasi yang tajam seiring dengan sejumlah data perekonomian Inggris yang kerap merealisasikan angka yang beragam. Terkadang sejumlah data perekonomian Inggris merealisasikan angka positif, namun, turut dibarengi dengan realisasi negatif di sejumlah data perekonomian lainnya.
Demikian halnya terhadap Euro. Sikap hawkish sejumlah pejabat bank sentral eropa atau ECB sempat membuat Euro menguat terhadap US Dolar. Namun, sikap tersebut memudar setelah sejumlah data perekonomian di zona Euro merealisasikan angka yang tidak lebih baik dari data perekonomian Amerika.
Hal tersebut berujung pada melemahnya mata uang Euro. Namun terhadap Yen Jepang Euro masih membukukan penguatan, yang diperkirakan masih di topang oleh transaksi yang lebih mengedepankan faktor selisih suku bunga (carry trade).
Kedepan, pelemahan US Dolar masih berpotensi sangat lebar. Terlebih kebijakan politik luar negeri Amerika yang hingga saat ini diperkirakan masih akan lebih ofensif dalam menyelesaikan masalah nuklir Iran.
Kebijakan tersebut sempat membuat mata uang US Dolar melemah, sesaat setelah beredar isu bahwa Amerika akan menyerang Iran lewat serangan udara. Kebijakan politik luar negeri Amerika tentunya akan berimplikasi pada sektor keuangan Amerika sendiri.
Walaupun terjadi pergerakan suku bunga di Asia yang stagnan, atau bahkan menurun. Namun, laju pertumbuhan di Asia yang diperkirakan masih akan tetap tumbuh secara signifikan, akan menjadi fundamental bagi pergerakan mata uang di Asia yang masih berpeluang besar untuk tetap menguat.
Tuesday, February 20, 2007
Beras Petani dan Petani Beras
Medan Bisnis, 19 Februari 2007
Setelah banjir melanda Ibu Kota, kini Indonesia kembali dihebohkan dengan kenaikan harga beras yang cukup signifikan. Permasalahan beras sepertinya menjadi permasalahan klasik. Dari permasalahan agraria, produksi, distribusi maupun harga.
Kenaikan harga beras akhir-akhir ini memang menjadi perhatian serius pemerintah. Karena kenaikan beras berpotensi menjadi pemicu tingginya laju inflasi. Secara makro memang demikian, namun, bukankah seharusnya kenaikan harga beras juga memberikan rezeki tambahan bagi petani yang menanam padi. Namun, sejauh ini, kenaikan harga beras juga tidak membuat harga gabah dilevel petani turut naik, seiring dengan kenaikan beras itu sendiri.
Padahal secara ekonomis, pertanian merupakan salah satu fundamental ekonomi bangsa kita yang mampu bertahan ditengah krisis moneter tahun 1997. Kenaikan harga beras saat ini merupakan akumulasi dari kekhawatiran akan berkurangnya stok beras pemerintah yang diakibatkan bencana alam, sehingga menjadikan proses distribusi serta produksi kembali terhambat.
Selain itu, mata rantai distribusi beras yang terlalu panjang juga menjadi lahan tersendiri bagi spekulan untuk meraup keuntungan. Apalagi proses distribusi beras tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, sehingga potensi kenaikan beras jauh lebih tinggi bagi daerah yang sulit dijangkau.
Impor merupakan jalan satu-satunya yang mampu menahan laju kenaikan harga beras. Namun, siapa yang menjamin bahwa beras impor tersebut tidak bocor ke pasar. Sejatinya beras impor hanya digunakan untuk pengamanan stok yang diperuntukan untuk operasi pasar.
Sebenarnya pemerintah juga mempunyai jurus lain untuk menahan kenaikan harga beras. Yakni dengan melakukan pembelian beras dalam negeri. Namun, ketidaksesuaian harga masih menjadi kendala utama. Misalkan, pemerintah menetapkan bahwa harga pembelian di dalam negeri sebesar Rp.3.500/kg. Namun, harga dipasar terkadang diatas harga tersebut, sehingga memudarkan kemauan politik pemerintah untuk membeli beras dalam negeri.
Selain dapat mengurangi cadangan devisa, impor juga membuat beras dalam negeri tidak bersaing. Jadi sudah semestinya, impor beras hanya dilakukan apabila kondisi perberasan dalam negeri benar-benar dalam situasi kritis atau bahkan gawat darurat.
Solusi
Sejauh ini, kesejahteraan petani beras tidak kunjung meningkat walaupun terjadi kenaikan harga beras yang cukup signifikan. Kesejahteraan petani memang sangat dilematis. Kenaikan harga BBM yang naik rata-rata sebesar 126% di akhir tahun 2005, tidak dibarengi dengan kenaikan serupa terhadap harga pembelian gabah. Sehingga kesejahteraan petani tetap merosot.
Kalaupun harga gabah dinaikan, maka harga beras tentunya turut melambung. Inflasi yang merupakan salah satu indikator ekonomi makro juga akan kembali naik. Faktanya pertanian selalu menjadi data terkait dengan perubahan ekonomi makro. Sehingga, memberikan tekanan terhadap pergerakan harga beras menjadi semacam keharusan yang dilakukan guna tetap mempertahankan indikator ekonomi negara kita tetap mengkilap. Dalam hal ini, petani tetap menjadi korban.
Untuk itu, pemerintah dituntut untuk melakukan terobosan guna mengontrol pergerakan harga beras dan menigkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah harus menunjukan komitmen yang kuat terhadap kepentingan petani, seperti menjaga stabilitas harga pupuk, mengoptimalkan produksi pangan lokal, reorganisasi tani, menjamin harga yang berelasi langsung terhadap ongkos produksi maupun subsidi yang lebih besar bagi sektor pertanian.
Tentunya keinginan tersebut juga membutuhkan modal yang sangat besar serta porsi yang lebih besar lagi dalam APBN. Atau, pemerintah dapat melakukan alternatif penyelesaian masalah lain yakni diversifikasi pangan.
Bukankah tidak semua wilayah di Indonesia dapat menghasilkan beras. Masyarakat Indonesia yang beragam mempunyai ragam konsumsi makanan pokok yang berbeda pula. Pemerintah dapat membiarkan masyarakat mengkonsumsi bahan makanan pokok selain beras, sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing dalam menghasilkan produk makanan pokok pilihannya. Dengan begitu pemerintah tidak dipusingkan dengan kenaikan harga beras, yang hampir setiap tahun menjadi polemik.
Di Indonesia, banyak petani yang menggarap lahan kurang dari 0.3 Hektar. Dengan lahan yang sempit itu sulit untuk mencapai produktifitas tinggi serta memperoleh penghasilan yang layak. Apalagi, hampir semua petani di Indonesia merupakan net consumer, dan menghabiskan 50% penghasilannya untuk membeli bahan pangan.
Ini sebuah ironi, dan menunjukan bahwa petani beras sekalipun masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan beras petani itu sendiri. Kedaulatan pangan di negeri ini masih jauh dari harapan. Sampai kapan?, tentu seluruh masyarakat Indonesia berharap ini hanyalah badai yang pasti akan berlalu.
Setelah banjir melanda Ibu Kota, kini Indonesia kembali dihebohkan dengan kenaikan harga beras yang cukup signifikan. Permasalahan beras sepertinya menjadi permasalahan klasik. Dari permasalahan agraria, produksi, distribusi maupun harga.
Kenaikan harga beras akhir-akhir ini memang menjadi perhatian serius pemerintah. Karena kenaikan beras berpotensi menjadi pemicu tingginya laju inflasi. Secara makro memang demikian, namun, bukankah seharusnya kenaikan harga beras juga memberikan rezeki tambahan bagi petani yang menanam padi. Namun, sejauh ini, kenaikan harga beras juga tidak membuat harga gabah dilevel petani turut naik, seiring dengan kenaikan beras itu sendiri.
Padahal secara ekonomis, pertanian merupakan salah satu fundamental ekonomi bangsa kita yang mampu bertahan ditengah krisis moneter tahun 1997. Kenaikan harga beras saat ini merupakan akumulasi dari kekhawatiran akan berkurangnya stok beras pemerintah yang diakibatkan bencana alam, sehingga menjadikan proses distribusi serta produksi kembali terhambat.
Selain itu, mata rantai distribusi beras yang terlalu panjang juga menjadi lahan tersendiri bagi spekulan untuk meraup keuntungan. Apalagi proses distribusi beras tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, sehingga potensi kenaikan beras jauh lebih tinggi bagi daerah yang sulit dijangkau.
Impor merupakan jalan satu-satunya yang mampu menahan laju kenaikan harga beras. Namun, siapa yang menjamin bahwa beras impor tersebut tidak bocor ke pasar. Sejatinya beras impor hanya digunakan untuk pengamanan stok yang diperuntukan untuk operasi pasar.
Sebenarnya pemerintah juga mempunyai jurus lain untuk menahan kenaikan harga beras. Yakni dengan melakukan pembelian beras dalam negeri. Namun, ketidaksesuaian harga masih menjadi kendala utama. Misalkan, pemerintah menetapkan bahwa harga pembelian di dalam negeri sebesar Rp.3.500/kg. Namun, harga dipasar terkadang diatas harga tersebut, sehingga memudarkan kemauan politik pemerintah untuk membeli beras dalam negeri.
Selain dapat mengurangi cadangan devisa, impor juga membuat beras dalam negeri tidak bersaing. Jadi sudah semestinya, impor beras hanya dilakukan apabila kondisi perberasan dalam negeri benar-benar dalam situasi kritis atau bahkan gawat darurat.
Solusi
Sejauh ini, kesejahteraan petani beras tidak kunjung meningkat walaupun terjadi kenaikan harga beras yang cukup signifikan. Kesejahteraan petani memang sangat dilematis. Kenaikan harga BBM yang naik rata-rata sebesar 126% di akhir tahun 2005, tidak dibarengi dengan kenaikan serupa terhadap harga pembelian gabah. Sehingga kesejahteraan petani tetap merosot.
Kalaupun harga gabah dinaikan, maka harga beras tentunya turut melambung. Inflasi yang merupakan salah satu indikator ekonomi makro juga akan kembali naik. Faktanya pertanian selalu menjadi data terkait dengan perubahan ekonomi makro. Sehingga, memberikan tekanan terhadap pergerakan harga beras menjadi semacam keharusan yang dilakukan guna tetap mempertahankan indikator ekonomi negara kita tetap mengkilap. Dalam hal ini, petani tetap menjadi korban.
Untuk itu, pemerintah dituntut untuk melakukan terobosan guna mengontrol pergerakan harga beras dan menigkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah harus menunjukan komitmen yang kuat terhadap kepentingan petani, seperti menjaga stabilitas harga pupuk, mengoptimalkan produksi pangan lokal, reorganisasi tani, menjamin harga yang berelasi langsung terhadap ongkos produksi maupun subsidi yang lebih besar bagi sektor pertanian.
Tentunya keinginan tersebut juga membutuhkan modal yang sangat besar serta porsi yang lebih besar lagi dalam APBN. Atau, pemerintah dapat melakukan alternatif penyelesaian masalah lain yakni diversifikasi pangan.
Bukankah tidak semua wilayah di Indonesia dapat menghasilkan beras. Masyarakat Indonesia yang beragam mempunyai ragam konsumsi makanan pokok yang berbeda pula. Pemerintah dapat membiarkan masyarakat mengkonsumsi bahan makanan pokok selain beras, sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing dalam menghasilkan produk makanan pokok pilihannya. Dengan begitu pemerintah tidak dipusingkan dengan kenaikan harga beras, yang hampir setiap tahun menjadi polemik.
Di Indonesia, banyak petani yang menggarap lahan kurang dari 0.3 Hektar. Dengan lahan yang sempit itu sulit untuk mencapai produktifitas tinggi serta memperoleh penghasilan yang layak. Apalagi, hampir semua petani di Indonesia merupakan net consumer, dan menghabiskan 50% penghasilannya untuk membeli bahan pangan.
Ini sebuah ironi, dan menunjukan bahwa petani beras sekalipun masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan beras petani itu sendiri. Kedaulatan pangan di negeri ini masih jauh dari harapan. Sampai kapan?, tentu seluruh masyarakat Indonesia berharap ini hanyalah badai yang pasti akan berlalu.
Subscribe to:
Posts (Atom)