Sunday, April 06, 2008

Menghindar Dari Stagflasi

Medan Bisnis, 07 April 2008
Stagflasi adalah suatu keadaan dimana perekonomian dihadapkan pada laju tekanan inflasi yang tinggi dan dibarengi dengan melambatnya laju pertumbuhan. Keadaan tersebut apabila tanpa ada solusi yang konkret akan membawa sebuah negara masuk kedalam jurang resesi. Pada saat ini, stagflasi lebih dikarenakan oleh memburuknya kinerja ekonomi dinegara besar seperti Eropa, AS dan Jepang, dimana telah terjadi penurunan terhadap daya beli masyarakat disana.

Sistem keuangan yang terintegrasi antara negara yang satu dengan lainnya (global) akan sangat dipengaruhi oleh faktor fundamental dari masing-masing negara. Negara yang lebih kuat fundamental perekonomiannya mempunyai posisi tawar (bargaining) yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara lainnya. Sehingga permintaan (demand) maupun penawaran/persediaan (supply) dari negara tersebut akan menjadi tolak ukur (benchmark) terhadap terciptanya proses keseimbangan pasar (equilibrium).

Negara adidaya seperti Amerika Serikat telah menjadi kekuatan ekonomi yang sangat berpengaruh pada saat ini. AS menguasai hampir seperempat produk domestik bruto (PDB) dunia. Sehingga sangatlah wajar apabila setiap perkembangan data perekonomian serta kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah AS selalu menjadi tolak ukur dalam pengambilan kebijakan negara lain. Tujuannya adalah menciptakan kesimbangan baru terhadap kebijakan yang telah diambil AS.

Seperti pada kebijakan Bank Sentral AS dalam mengendalikan suku bunga The FED (The FED Fund Rate). Kebijakan The FED sebelumnya selalu menjadi pertimbangan Bank Sentral Negara lain termasuk Indonesia dalam menentukan arah kebijakan suku bunga dalam negeri. Namun, keadaan sepertinya sudah berubah, memburuknya kinerja perekonomian AS seperti sekarang ini telah memudarkan kepercayaan negara lain untuk terus mengikuti langkahnya.

Berawal dari krisis kredit perumahan AS yang dibarengi dengan meningkatnya harga komoditas utama seperti minyak mentah dunia. Keadaan tersebut telah menyebabkan kontraksi di negara lain. Negara di Asia sangat terpukul dengan kondisi tersebut. Terlebih negara yang menjadikan Amerika sebagai mitra utama tujuan ekspor. Sehingga sangat sulit untuk negara berkembang (emerging market) dalam mengantisipasi kejutan-kejutan negatif yang disebabkan oleh downside trend (tren kebawah) sebuah negara dengan kekuatan ekonomi besar.

Banyak Bank Sentral di dunia yang kesulitan dalam menentukan arah kebijakannya kedepan. Stagflasi adalah dua buah mata pisau dimana satu sisi dapat dipergunakan (diselamatkan), sementara sisi yang lain akan membunuh si penggunanya. Pada saat ini banyak negara yang telah terjebak didalam stagflasi. Indonesia merupakan salah satunya.

Disaat harga kebutuhan pangan mengalami lonjakan yang signifikan, disaat itu pula sulit untuk menurunkan suku bunga yang sudah terlanjur tinggi, sehingga sulit untuk memulihkan daya beli masyarakat. Kelangkaan minyak, melambungnya harga pangan sudah menjadi berita yang sering terdengar. Pemerintah sepertinya masih sulit untuk menentukan formula yang tepat guna terhindar dari stagflasi.

Memang layak apabila pemerintah menjadikan faktor eksternal (luar negeri) menjadi kambing hitam atas keadaan ini. Namun, harus disadari bahwa akan ada efek dari keadaan tersebut, yang harus dikompensasi dengan harga yang cukup mahal nantinya. Dari sisi finansial, stagflasi akan menambah beban APBN karena berpotensi menambah portsi utang pemerintah. Selain itu, ada hal lain yang perlu menjadi perhatian khusus, yakni keadaan dimana perekonomian yang runyam harus dibayar dengan gejolak sosial seperti kerusuhan di tahun 1997.

Pemerintah dan kebanyakan negara lainnya lebih memilih untuk mengendalikan inflasi, dibandingkan dengan menggenjot daya beli masyarakat atau pertumbuhan. Kebijakan yang diambil pun berputar dan berkosentrasi pada pengendalian moneter. Seperti kebijakan uang ketat (tigh money policy), yang akan berimbas pada penguatan nilai tukar rupiah.

Kenaikan harga beberapa komoditas dunia seperti minyak, gandum, kedelai, CPO (crude palm oil) sepertinya sulit untuk dielakkan. Sehingga Up trend (tren naik) harga komoditas dapat diminimalisir dengan pengendalian moneter seperti penguatan mata uang Rupiah. Belum ada kepastian apakah kita dapat menghindar sepenuhnya dari stagflasi. Kejutan-kejutan negatif bisa saja terjadi. Fokus penyelesaian ekonomi juga akan terpecah seiring dengan meningkatnya gejolak ekonomi. Namun tetaplah fokus pada akibat dari stagflasi yang berpotensi menimbulkan resesi maupun gejolak sosial.

Dimana Letak Keseimbangan Rupiah?

Medan Bisnis, 31 Maret 2008
Sejumlah mata uang dunia diperdagangkan relatif menguat terhadap US Dolar. Penguatan mata uang tersebut terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan laju ekonomi di Amerika. Berawal dari memburuknya krisis kredit perumahan AS yang merambat hingga penurunan suku bunga The FED secara drastis, meningkatnya jumlah pengangguran, melambungnya harga komoditas yang diakumulasikan sebagai pertanda resesi di negeri paman sam.

Posisi Amerika yang tidak menguntungkan tersebut secara sistematis akan memberikan keuntungan bagi mata uang negara lain yang menguat terhadap US Dolar. Sudah bisa dipastikan ekspor di negara yang mata uangnya menguat terhadap US Dolar akan terus menunjukan peningkatan dan akan memberikan efek bagi peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB).
Hanya saja, asumsi kenaikan ekspor tersebut harus diikuti oleh melemahnya laju pertumbuhan ekonomi AS yang berdampak pada penurunan daya beli masyarakat disana. Sehingga akan tetap menjadi faktor pengurang bagi kinerja ekspor negara mitra Amerika.

Indonesia juga mengalami hal yang sama. Melemahnya US Dolar juga membuat mata uang Rupiah menguat dikisaran 9200/US Dolar dari sebelumnya dikisaran 9400/US Dolar. Penguatan tersebut tidak lebih di karenakan dana jangka pendek yang masuk yang memanfaatkan selisih suku bunga antara BI rate dan The Fed yang kian melebar.

Padahal, kalau saja penurunan suku bunga Bank Sentral AS (The FED) diikuti oleh penurunan suku bunga Rupiah maka bisa dipastikan Rupiah akan bergerak stabil (dengan tetap ada kecenderungan melemah) tanpa dibarengi dengan penguatan nilai tukar yang cukup signifikan. Pada dasarnya perbedaan suku bunga yang melebar tersebut juga harus dibayar dengan pembayaran bunga yang tinggi pada instrumen keuangan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Pembayaran bunga tersebut akan terus membebani APBN yang pada saat ini harus berjuang untuk mensiasati pembengkakan defisit yang kian membesar, akibat kenaikan harga minyak dunia. Alasan dari pemerintah adalah guna menjaga stabilitas harga pangan yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia atau biasa diistilahkan dengan imported inflation.

Kontroversipun bermunculan, mana yang lebih didahulukan, apakah membiarkan mata uang rupiah melemah dengan mengurangi beban APBN atau sebaliknya, membiarkan mata uang menguat dengan membebankan biaya bunga serta menerima resiko akan kemungkinan adanya pembalikan modal secara tiba-tiba atau suddent reversal.

Jawaban yang terbaik menurut pemerintah adalah kebijakan yang diambil pemerintah pada saat ini. Dengan kasat mata kita melihat bahwa rupiah terus menguat terhadap US Dolar. Penguatannya bahkan diprediksi mampu menembus level psikologis 9000/US Dolar.
Namun, prediksi tersebut tidak selamanya benar. Kondisi mata uang US Dolar yang kian terjun bebas ternyata tidak secara langsung membuat Rupiah menguat tanpa halangan. Bisa saja dikarenakan faktor teknikal dimana sangat tergantung oleh kondisi psikologis pelaku pasar. Atau bisa saja penguatan Rupiah yang seharusnya, justru ditahan oleh intervensi pemerintah agar Rupiah tidak menguat secara drastis.

Dalam melakukan intervensi pemerintah bisa melakukan 2 hal paling mendasar yakni melakukan aksi beli valas atau jual valas. Untuk kondisi seperti sekarang ini, pemerintah biasanya akan melakukan aksi beli valas. Aksi beli valas tersebut (US Dolar) akan meningkatkan cadangan devisa yang sewaktu-waktu dapat digunakan apabila terjadi pembalikan modal (Suddent Reversal).

Pemerintah pernah mengungkapkan bahwa Rupiah yang stabil adalah berada dalam kisaran 9000 hingga 9500 per US Dolar, walaupun ada juga yang menyatakan bahwa range yang ideal untuk rupiah adalah dikisaran 8500 hingga 9500 per US Dolar. Dalam menciptakan kestabilannya Rupiah biasanya bergerak sesuai dengan mekanisme pasar. Namun, Indonesia tidak sepenuhnya membiarkan Rupiah bergerak sesuai mekanisme yang berlaku, karena kerap melakukan intervensi.

Kembali ke data statistik, dalam 3 tahun terakhir Rupiah sempat bergerak dikisaran level 8700/US Dolar (paling kecil) hingga sempat mendekati level 12.000/US Dolar. Dan pemerintah diperkirakan melakukan intervensi apabila Rupiah berada dikisaran level tersebut. Namun, menurut pengamatan belakangan ini, Rupiah relatif jalan ditempat di antara 9000 hingga 9500/US Dolar.

Fluktuasi Rupiah masih cenderung terkendali meskipun terjadi gejolak pasar keuangan global yang buruk. Pemerintah sepertinya lebih confident apabila rupiah tetap berada di kisaran tersebut. Tapi ini bukanlah sepenuhnya merupakan kestabilan nilai tukar Rupiah, karena kestabilan rupiah pada saat ini bukanlah merupakan bentuk dari keseimbangan pasar, tetapi bisa jadi merupakan hasil dari campur tangan pemerintah juga.

Panik Harga Minyak

Medan Bisnis, 24 Maret 2008

Dalam perdagangan 2 minggu terakhir, harga minyak dunia sempat diperdagangkan naik di kisaran level $110/barel. Kenaikan tersebut merupakan kenaikan tertinggi dan telah memberikan kekhawatiran baru bagi pasar finansial global. Harga minyak yang tinggi telah menimbulkan kepanikan karena akan membuat laju inflasi tak terkendali. Keterpurukan US Dolar di pasar disinyalir menjadi pemicu melambungnya harga minyak dunia.

Walaupun pada saat ini harga minyak dunia kembali diperdagangkan turun diatas $93/barel, namun penurunan tersebut merupakan imbas dari faktor teknikal belaka. Melemahnya laju pertumbuhan ekonomi AS telah menjadi isu di pasar, dan telah menyebarkan wacana bahwa konsumsi minyak di negara adidaya tersebut akan berkurang. Akan tetapi tetap saja harga minyak dunia diperkirakan akan terus bergerak naik dan akan mencoba menembus level psikologis yang baru.

Pada dasarnya harga minyak dunia mempunyai nilai intrinsik, yang juga dimiliki oleh beberapa komoditas lainnya. Di saat US Dolar melemah tajam maka harga minyak akan relatif lebih murah terhadap mata uang kuat selain US Dolar seperti Euro dan Yen Jepang. Oleh karena itu, walaupun harga minyak dunia mengalami kenaikan hal tersebut tidak akan secara langsung membuat ketertarikan akan minyak berkurang.

Terlebih China dan beberapa negara berkembang lainnya diperkirakan masih akan menunjukan kenaikan terhadap konsumsi minyak dalam negerinya, khususnya guna mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Sehingga bisa diprediksikan bagaimana harga minyak dunia kedepan akan terus mengalami kenaikan secara konsisten.

Kenaikan harga minyak juga telah membuat sejumlah komoditas pangan naik secara signifikan, yang menimbulkan dampak pada tingginya laju inflasi dan menggiring banyak bank sentral di dunia mempertahankan suku bunganya. Bank sentral Australia (RBA) menyatakan pentingnya kebijakan suku bunga tinggi guna meredam tingginya laju inflasi yang dibarengi dengan pertumbuhan perekonomian global yang masih dibawah trend.

Bank sentral Inggris atau biasa disebut dengan BOE, juga masih terus berjuang guna menaklukan tingginya laju inflasi. Harga minyak, makanan dan komoditas telah menjadi faktor utama kenaikan inflasi di negara tersebut. Sejauh ini, Bank of England akan lebih memprioritaskan pada pertumbuhan ekonomi guna memenuhi permintaan konsumen. Namun, keputusan tersebut juga akan tetap menyisakan masalah karena akan berdampak pada meningkatnya laju tekanan inflasi.

Dikepung dengan 2 hal yang saling tidak menguntungkan, pemerintah Indonesia juga mengalami hal yang sama. Sejauh ini kenaikan harga minyak telah membuat panitia anggaran DPR mencari cara guna menyelamatkan negara dari defisit yang kian besar. Asumsi harga minyak dalam APBN sebesar $83/barel sepertinya tidak menyelamatkan pemerintah dari defisit yang kian menganga.

Sejauh ini, pemerintah hanya berkutat pada solusi bagaimana mensiasati subsidi BBM yang kian membesar, tanpa ada keberanian untuk memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan besaran suku bunga acuan atau BI rate, meskipun kesempatan tersebut masih terbuka lebar. Keputusan pemerintah yang terkesan lebih menekankan pada aspek moneter mencerminkan pemerintah kurang berani dalam menerima resiko. Proses penyelesaian defisit pada saat ini lebih tertuju pada pemenuhan hasil jangka pendek.

Menaikan harga minyak merupakan salah satu opsi pemerintah dalam mensiasati tingginya harga minyak dunia belakangan ini. Beberapa opsi yang lain seperti menaikan cukai premium serta membatasi penjualan minyak bersubsidi juga akan diajukan pemerintah ke parlemen. Namun, opsi tersebut nantinya tetap berujung pada melemahnya daya beli masyarakat atau bisa jadi gagal pada tahap impelementasi dilapangan.

Kebijakan dengan menurunkan suku bunga secara signifikan sepertinya belum menjadi alternatif terhadap gejolak harga minyak dunia di tengah ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global. Padahal laju pertumbuhan ekonomi dapat didorong dengan mengambil langkah tersebut. Pada saat ini, langkah yang diambil pemerintah Indonesia dinilai belum menyentuh dan berpihak pada penyelesaian masalah kesejahteraan bangsa ini seperti penanggulangan pengangguran dan kemiskinan.

Sunday, March 23, 2008

Inflasi Yang Tak Terkendali

Medan Bisnis, 10 Maret 2008
Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi global, yang turut dibarengi dengan kenaikan harga komoditas pemicu inflasi, memberikan efek negatif bagi kenaikan harga kebutuhan pangan dalam negeri. Harga minyak goreng kembali bergerak naik tanpa ada rambu-rambu yang jelas seiring dengan melonjaknya harga komoditas CPO (Crude Palm Oil) di pasar dunia.

Beberapa negara besar seperti Amerika dan Eropa masih terjebak dalam inflasi yang tinggi serta pertumbuhan yang stagnan. Sementara China dan India yang menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi global juga mengalami penurunan dalam laju pertumbuhan. Hal tersebut sangat berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam pengendalian laju inflasi belakangan ini, Bank Indonesia memilih untuk tetap mempertahankan BI rate di level 8% guna memicu masuknya modal asing ke dalam negeri. Dan oleh karena itu, telah terjadi penguatan mata uang Rupiah terhadap US Dolar. Rupiah diperdagangkan di bawah kisaran 9100/US Dolar, walaupun menyisakan ancaman sudden reversal (pembalikan modal secara tiba-tiba).

Bank Sentral AS (The FED) serta pemerintah Amerika Serikat lebih memilih memicu laju pertumbuhan ekonomi serta mengabaikan pergerakan nilai tukar US Dolar yang kian merosot. Keputusan tersebut tercermin dengan langkah Bank Sentral Amerika yang terus menurunkan suku bunga secara agresif dari level 5.25% menjadi 3% pada saat ini, serta tetap memberikan ruang penurunan suku bunga lebih jauh lagi.

Guna memacu pertumbuhan, itulah alasan utama keputusan Bank Sentral Amerika tersebut. Sangat jauh berbeda dengan langkah pemerintah Indonesia dalam mengambil keputusan. BI lebih menekankan pada penguatan nilai tukar rupiah guna meredam inflasi, khususnya imported inflation (inflasi yang disebabkan oleh pengaruh dari luar).

Krisis pangan yang disebabkan oleh melonjaknya harga pangan dunia telah menyisakan kesengsaraan pada masyarakat di level bawah. Langkah-langkah yang diambil pemerintah guna mengatasi permasalahan ekonomi yang rumit kian tidak menentu, karena tidak dapat membuat kebijakan tanpa melibatkan faktor-faktor (harga) dari luar.

Menekan laju tekanan inflasi ditengah ancaman tingginya inflasi dunia sepertinya tidak akan berjalan dengan baik seperti skema. Lebih menekankan laju pertumbuhan ekonomi dengan suku bunga rendah juga bukan merupakan pilihan yang baik karena hanya akan memicu inflasi dan berpotensi memberikan benturan sosial yang menakutkan.

Apabila pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan nyata yang pro-rakyat miskin, maka pesan dari kebijakan tersebut tidak akan terdengar karena subsidi juga belum mampu mengembalikan daya beli masyarakat yang kian melemah. Sehingga, pesan yang akan diterima pemerintah dari rakyatnya adalah bahwa pemerintah dinilai gagal dan tidak pro-rakyat.

Proses komunikasi yang tidak tersampaikan ditengah fluktuasi harga yang tidak menentu menyebabkan kesinambungan perputaran roda ekonomi terancam terhenti. Walaupun bukan sepenuhnya dikarenakan oleh ketidakmampuan pemerintah dalam pengendalian ekonomi, namun rakyat tidak akan pernah tahu, yang mereka tahu adalah harga kian tinggi dan sudah kewajiban pemerintah dalam memberikan solusi.

Posisi dilematis tersebut berpotensi menjadi boomerang bagi pemerintah. Karena setiap kebijakan yang akan diambil tetap akan menyisakan masalah yang sangat terkait langsung dengan masalah perut masyarakat Indonesia. Tidak ada satu pilihan pun yang membebaskan pemerintah dari resiko. Yang ada hanyalah resiko mana yang lebih bisa diminimalisirkan.

Inflasi diluar kendali, mungkin itu tema yang tepat bagi kenaikan harga pangan belakangan ini. Keyakinan pemerintah dalam pengendalian laju inflasi yang tertuang dalam APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) juga sangat diragukan kredibilitasnya belakangan ini, karena telah direvisi lebih tinggi lagi.

Pemerintah juga mengeluarkan kebimbangan mengenai kebijakan yang akan di ambil. Apakah harus menghilangkan subsidi dengan membiarkan harga pangan naik, atau tetap mempertahankan subsidi dengan konsekuensi memikirkan pembiayaannya. Padahal tanpa harus bertanya pada rakyat maka dengan mudah pikiran rakyat dapat ditebak bahwa harga turun adalah menjadi jawaban yang tidak mungkin diragukan lagi.

Kalau pemerintah tidak menurunkan harga terlebih melepas subsidi, maka dengan mudah akan terjadi revolusi. Rakyat akan menilai pemerintah gagal dalam menjalankan amanah yang telah diberikan, maka “pemerintah turun” akan menjadi statement biasa yang akan terdengar.

Sunday, March 09, 2008

Akankah Suku Bunga Turun Drastis?

Medan Bisnis, 04 Maret 2008
Mata uang US Dolar kembali terpuruk dalam 2 minggu terakhir. Melemahnya kinerja US Dolar dipicu oleh data perekonomian Amerika yang belum menunjukan adanya perubahan positif. Hal tersebut membuat masyarakat AS berpendapat bahwa Amerika benar-benar dalam masa resesi pada saat sekarang ini.

Amerika dihadapkan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang rendah serta tingkat inflasi yang cukup tinggi, atau biasa dikenal dengan stagflasi. Guna mengantisipasi hal tersebut pemerintah Amerika mengeluarkan kebijakan stimulus ekonomi dengan mengembalikan pajak mulai dari $600 hingga $1200. Namun, bagi-bagi uang tersebut sepertinya tidak akan efektif dalam jangka panjang. Daya beli masyarakat AS akan tertolong selama uang tersebut digunakan, seiring dengan itu inflasi akan terus menjadi ancaman ditengah tingginya harga komoditas dunia.

Sementara itu, Bank Sentral Amerika diperkirakan akan kembali menurunkan suku bunganya dalam Federal Open Market Committee (FOMC) bulan maret ini. Menurunkan suku bunga secara drastis sepertinya akan ditempuh guna menghindari Amerika dari keterpurukan yang lebih dalam lagi. Pasar sepertinya telah menangkap sinyal dari pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke yang akan kembali memangkas suku bunganya dalam beberapa pertemuan mendatang.

Sinyal tersebut sepertinya sudah dapat ditangkap oleh pelaku pasar, yang terbukti dengan memburuknya mata uang US Dolar dalam 2 pekan terkahir. Tak ada lagi yang dapat dihindari, melemahnya nilai tukar akan mendorong harga komoditas naik dan akan memberikan kontribusi bagi tingginya inflasi dalam beberapa waktu kedepan.

Di Indonesia, tingginya inflasi telah membuat Bank Indonesia tetap menahan besaran suku bunga sebesar 8%. Penurunan suku bunga Bank Sentral AS (The FED Fund Rate) sepertinya bukan menjadi acuan mutlak dalam menurunkan suku bunga Rupiah. Ada banyak hal yang melandasi keputusan BI tersebut, mulai dari penstabilan harga pangan, penyelamatan APBN dari subsidi yang berlebihan ataupun hal lain seperti dengan membiarkan mata uang Rupiah terus menguat.

Walaupun akan berkontribusi negatif atas kinerja ekspor. Namun pemerintah sepertinya lebih percaya diri guna mendukung kebijakan yang lebih menekankan pada aspek moneter. Karena pendekatan tersebut lebih cepat dan dapat dirasakan efeknya dibandingkan dengan memberikan stimulus kebijakan yang pro sektor riil.

Sebenarnya Bank Indonesia mempunyai peluang yang cukup besar atas pengendalian moneter pada saat ini, walau selalu dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi global. Penurunan suku suku bunga The FED secara drastis telah membuat spread (selisih) antara BI rate dan The FED Fund Rate semakin lebar. Sehingga dengan spread yang besar tersebut Indonesia telah dibanjiri dana-dana panas atau Hot Money yang cukup signifikan dan membuat Rupiah menguat terhadap US Dolar.

Meski demikian, dalam RAPBN-P 2008, BI rate ditetapkan di level 7.5%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa masih ada kemungkinan BI rate untuk turun kembali selama tahun 2008 ini. Walaupun dalam kisaran angka yang cukup kecil. Yang jelas kebijakan Bank Indonesia akan mengacu pada laju inflasi nasional ketimbang tren penurunan suku bunga global.
Dalam jangka pendek efek dari kebijakan tersebut cukup jelas di pasar keuangan dan saham. Penguatan pasar finansial yang ditopang dari dana-dana jangka pendek telah membuat harga saham dan nilai tukar Rupiah berfluktuasi dengan kecenderungan menguat. Walaupun sebenarnya penguatan tersebut akan menyisakan kekhawatiran pada masa yang akan datang, karena dana tersebut dapat berpindah dengan mudah ketika ada lahan lain yang lebih menguntungkan.

Tak perlu dikhawatirkan, selama Amerika Serikat masih memperjuangkan laju pertumbuhan ekonomi ketimbang pengendalian inflasi. Selama itu pula tersirat optimisme bahwa pasar finansial kita akan tetap berkinerja baik. Dan suku bunga akan turun walaupun dalam rentang waktu yang cukup lama. Pengendalian moneter sepertinya masih akan menjadi pilihan bagi pemerintahan kita dalam beberapa waktu kedepan.

Namun, ada hal penting yang harus kita sadari. Jangan pernah terlalu berharap suku bunga akan turun cepat, pelayanan pendidikan dan kesehatan akan menjadi lebih baik, sektor riil akan berputar dan menopang ekonomi, angka kemiskinan dan pengangguran akan berkurang drastis, karena pemerintah telah menurunkan anggaran di setiap departemen yang terkait, guna berhemat. Melonjaknya harga komoditas seperti minyak dan bahan pangan lainnya telah merobek kantong pemerintah sehingga kita harus memilih seperti pilihan pemerintah itu sendiri.

Sunday, March 02, 2008

Krisis Pangan Kembali Mengancam

Medan Bisnis, 24 Februari 2008
Harga sejumlah komoditas seperti minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan yang cukup signifikan seiring dengan melemahnya mata uang US Dolar. Selain itu, laju inflasi yang cukup tinggi di beberapa negara seperti China, India, Indonesia maupun Filiphina juga akan berdampak sangat buruk bagi pemenuhan kebutuhan pangan.

Harga minyak mentah dunia pada perdagangan hari rabu sempat melebihi harga $100 per barel atau tepatnya di level $100,700 per barel. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi harga sejumlah komoditas lainnya seperti emas, perak dan gandum. Selain itu, memburuknya kinerja perekonomian Amerika turut memberikan andil besar terhadap kenaikan harga sejumlah komoditas.

Di China laju inflasi berlari lebih dari 7%. Kenaikan tersebut tentunya akan membuat biaya hidup masyarakat disana akan meningkat, dan akan berimbas pada kenaikan gaji buruh. Kalau gaji buruh mulai menunjukan peningkatan tentunya akan dikompensasi dengan kenaikan harga produksi, yang akan berujung pada kenaikan harga dimana barang tersebut dipasarkan.
Inflasi sepertinya akan menjadi ancaman serius bagi perekonomian global kedepan. Selain dikarenakan stagnasi perekonomian AS, inflasi tinggi juga disebabkan oleh tren penurunan suku bunga. Indonesia juga akan sulit menghindari ancaman inflasi dunia yang diperkirakan akan berimbas pada kenaikan harga bahan pangan di dalam negeri.

Sejauh ini pemerintah lebih memilih untuk mengambil opsi subsidi untuk bahan pangan maupun minyak. Kebijakan pemerintah tersebut akan memberikan dampak pada membengkaknya defisit APBN dan akan menguras cadangan devisa. Selain itu, pola stabilisasi harga dengan subsidi juga berpotensi menambah utang luar negeri pemerintah.

Disaat sulit untuk menaikan laju pertumbuhan perekonomian seperti sekarang ini, pemerintah Indonesia sepertinya sudah terjepit ditengah memburuknya perekonomian global. Harga minyak diperkirakan akan terus menghantui karena masih berpotensi untuk naik lebih tinggi lagi. Asumsi APBN yang mematok harga minyak dilevel $83 per barel sepertinya juga akan meleset.

Walaupun ada penguatan pada nilai tukar Rupiah, namun belum bisa dipastikan apakah penguatan Rupiah dapat meng-cover kenaikan harga minyak dunia seperti yang terjadi pada saat ini. Selain itu, kenaikan harga minyak juga telah merubah pola produksi minyak Pertamina yang sebelumnya membeli minyak mentah untuk dilakukan penyulingan sebelum menjadi bahan bakar, menjadi membeli barang jadi minyak untuk dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar.

Berita menggembirakan sempat menyelimuti perdagangan komoditas ini di New York Merchantile Exchange (NYMEX). Yakni berita dari departemen energi AS mengenai melemahnya permintaan minyak oleh Amerika, yang dikarenakan meningkatnya pasokan minyak di negara tersebut. Harga minyak pun langsung turun dikisaran level $97 per barel.

Namun, belum diketahui sampai kapan harga minyak akan bertahan dibawah level $100 per barel, karena banyak pengamat dan lembaga yang memperkirakan bahwa harga minyak diatas $100 per barel hanyalah masalah waktu. Hal tersebut dilandasi oleh kebutuhan minyak beberapa negara seperti China dan India yang diperkirakan akan “minum” minyak lebih banyak lagi dalam beberapa tahun kedepan. Di beberapa negara di Eropa juga mengalami tekanan inflasi tertinggi sejak diberlakukannya mata uang Euro pada tahun 1999, Inflasi sebesar 2,6% pada saat ini.

Sejumlah komoditas seperti kacang kedelai diperkirakan akan terus mengalami tekanan di pasar domestik. Kebijakan pemerintah yang melakukan subsidi diperkirakan akan terbebani apabila harga kacang kedelai kembali naik di pasar global.

Mendekati Pemilu di tahun 2009 mendatang, kenaikan sejumlah harga barang akan menjadi isu penting dalam kampanye politik. Pemerintahan SBY akan mengalami guncangan hebat semasa beliau menjabat sebagai Presiden RI. Alasan ketidakmampuan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan akan menjadi isu yang nyata dan mempunyai realita seperti yang terjadi pada saat ini.

Harga komoditas yang melambung akan menjadi menu utama yang cukup efektif dalam kampanye nantinya. Walaupun pemerintah SBY masih melakukan subsidi guna meredam harga, namun pasti ada celah lain seperti Hutang yang membengkak atau defisit APBN yang kian membesar yang dapat dijadikan bumerang untuk menjatuhkannya.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pernyataan SBY yang menyatakan kelangkaan pangan merupakan masalah global benar adanya. Namun, kenaikan harga pangan sangat erat kaitannya dengan masalah perut. Ancaman serius dari harga pangan sepertinya tidak akan mampu tertutupi oleh retorika seorang pejabat kuat seperti SBY sekalipun.

Sunday, February 24, 2008

Buah Simalakama Ala Amerika

Medan Bisnis, 18 Februari 2008
Bank Sentral Amerika atau biasa disebut denga The FED kembali dihadapkan dengan data-data perekonomian Amerika, yang lagi-lagi menunjukan performa yang buruk. Kebijakan menurunkan suku bunga acuan The FED secara drastis belakangan ini, menimbulkan masalah lain walaupun diperkirakan cukup mampu mengurangi defisit neraca perdagangan Amerika.

Departemen tenaga kerja AS melaporkan telah terjadi kenaikan sejumlah harga barang seperti makanan dan energi yang disebabkan oleh meningkatnya laju tekanan inflasi akibat meningkatnya harga barang impor. Memburuknya kinerja mata uang US Dolar telah membuat negara tersebut membayar lebih mahal terhadap semua barang impor yang masuk ke Amerika.

Harga barang impor di Amerika telah mengalami kenaikan sebesar 1.7% selama bulan Januari 2008. Kenaikan tersebut nantinya juga akan memaksa sejumlah perusahaan di Amerika menaikan harga barang sehingga mendongkrak laju inflasi negara tersebut. Untuk meredam laju inflasi itu, maka langkah yang harus diambil oleh Bank Sentral Amerika adalah dengan menaikkan suku bunga acuan atau The FED Fund Rate.

Tidak mungkin, kredit sektor perumahan Amerika masih dalam masa keterpurukan. Daya beli masyarakat Amerika kembali menurun. Menaikan suku bunga akan menambah beban masyarakat di negara tersebut dan dapat memperburuk kinerja perekonomian Amerika yang masih berkutat pada kredit bermasalah dan berpotensi membawa AS menuju resesi.

Keputusan menaikan suku bunga juga sangat bertolak belakang dengan kebijakan stimulus perekonomian Amerika yang telah disetujui oleh congress amerika. Kebijakan suku bunga tinggi atau tight money policy juga akan berdampak pada memburuknya kinerja perekonomian global, karena Amerika masih menjadi negara tujuan utama ekspor di hampir semua negara di belahan dunia.

Sangat dilematis, dan bagaikan makan buah simalakama. Namun, solusi untuk masalah tersebut adalah dengan menetapkan prioritas. Pemerintah AS harus dipaksa menentukan 1 pilihan yang sama-sama punya sisi negatif dan memiliki keterikatan antara satu dengan yang lainnya. Namun pilihan tersebut sepertinya telah terungkap dengan jelas seiring dengan pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke dalam rapat FOMC (Federal Open Market Committee).

Dalam Pidatonya Bank Sentral AS siap untuk menurunkan suku bunga lagi dalam mendorong pertumbuhan, serta memberikan jaminan akan munculnya ancaman dari kebijakan yang akan dibuat tersebut. Langkah tersebut jelas tidak populis, namun apamau dikata, biarkan saja inflasi naik, harga barang naik, banyak uang beredar asalkan mampu mendongkrak daya beli masyarakat.

Tapi bagaimana mungkin?, bukankah laju inflasi yang tinggi juga sebagai indikasi awal bahwa daya beli masyarakat akan kembali melemah nantinya. Bagi-bagi uang (paket stimulus ekonomi AS) juga akan kurang bermanfaat apabila masyarakat Amerika menerima uang, namun harus membayar harga yang lebih mahal terhadap produk yang akan di belinya.

Mirip lomba lari seperti perayaan acara 17-an. Kita hanya tinggal melihat manakah diantara Inflasi dan Pertumbuhan yang akan mencapai garis finish duluan. Kalau pertumbuhan ekonomi Amerika akan dipacu dengan suku bunga rendah dan dilengkapi dengan paket stimulus ekonomi, nah Inflasi akan di pacu dengan US Dolar yang melemah serta tingginya harga komoditas dunia.

Kalau paket stimulus AS berhasil membawa masyarakat Amerika jauh dari potensi resesi, maka hal tersebut tentunya akan dikompensasi dengan membaiknya perekonomian global yang ditandai dengan membaiknya daya beli masyarakat Amerika. Dan hal tersebut tentunya akan berdampak positif bagi kinerja ekspor negara-negara yang menjadikan Amerika sebagai tujuan utama.

Nah kalau ancaman inflasi yang lebih menonjol, maka hal tersebut akan memberikan dampak negatif terhadap perekonomian AS, sehingga perekonomian global akan mengalami kontraksi juga. Kita (Indonesia) tentunya tidak hanya menonton, kita harus mengantisipasi dampak dari kebijakan Amerika tersebut.

Kalau kita saat ini mengantisipasi dengan cara meningkatkan konsumsi dalam negeri. Maka kita akan melihat bahwa gejolak perekonomian Global tidak akan berpengaruh banyak bagi kegiatan ekonomi domestik. Posisi kita akan sangat lebih diuntungkan dari ancaman resesi negara lain.

Namun, tidak mudah untuk menaikan belanja masyarakat kita seperti sekarang ini. Selain karena APBN yang harus tambal sulam, tingginya harga komoditas seperti minyak, kedelai maupun gandum. Kita juga masih harus meminjam uang dengan suku bunga cukup tinggi, karena BI rate belum pasti akan turun dari tempat duduknya yang masih seharga 8%.

Wednesday, February 13, 2008

Ditengah Ketidakpastian Pertumbuhan

Medan Bisnis, 11 Februari 2008
Bank Sentral Inggris atau BOE kembali memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin menjadi 5,25% pada saat ini. keputusan tersebut diambil menyusul membaiknya laju pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Keputusan itu juga sepertinya untuk mengimbangi besaran suku bunga The FED yang juga turun akhir-akhir ini.

Selain itu, kepercayaan akan pertumbuhan ekonomi di zona euro seperti yang diungkapkan baru-baru ini sepertinya sangat bertolak belakang dengan prediksi IMF (International Monetery Fund) yang justru merevisi prediksi laju pertumbuhan untuk zona euro sebesar 1.6% pada tahun 2008 ini.

Krisis sektor perumahan AS telah membawa perubahan yang cukup signifikan bagi laju pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang Amerika seperti negara di kawasan Eropa. Gubernur bank sentral eropa (ECB) Jean C. Trichet mengeluarkan statement bahwa tanda-tanda pertumbuhan ekonomi di Eropa masih cukup solid sehingga kemungkinan suku bunga akan turun tetap terbuka. Namun, hal tersebut ditanggapi dengan melemahnya mata uang Euro di pasar keuangan.

Dalam pertemuan negara anggota G-7 baru-baru ini, kelompok G-7 menyatakan bahwa laju pertumbuhan di Amerika serikat sepertinya masih akan memburuk dalam waktu yang cukup lama. Hal ini mengindikasikan bahwa ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi global akan tetap terjadi dalam kurun waktu yang belum bisa dipastikan.

Dalam statementnya negara anggota G-7 bertekad untuk menekan dampak buruk dari krisis yang berlangsung pada saat ini. Namun, lebih jauh tidak dijelaskan dengan jelas instrumen apa yang akan digunakan untuk meredam gejolak ketidakpastian ekonomi yang terjadi pada saat ini. Yang tentunya akan memunculkan kekhawatiran baru atas kredibilitas negara ekonomi besar dunia yang dinilai tidak kompeten.

Memburuknya perekonomian AS sepertinya sudah menjadi ancaman di pasar keuangan global, sehingga tidak banyak yang dapat dilakukan pemerintah Amerika untuk meredam dampak negatifnya pada saat ini. Pemangkasan suku bunga seperti yang dilakukan Bank Sentral Amerika atau The FED akhir-akhir ini sepertinya tidak berpengaruh signifikan dan hanya mengangkat harga komoditas ke level yang lebih tinggi lagi.

Kongres Amerika akhirnya membuat sebuah kebijakan (solusi) guna mempercepat perbaikan dalam ekonomi AS. Kebijakan tersebut diantaranya menyetujui paket stimulus ekonomi yang intinya memberikan dana bagi setiap warga AS guna meningkatkan konsumsi yang diharapkan mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) AS. 130 juta warga Amerika diperkirakan akan mendapatkan dana tersebut.

Dana tersebut dibagikan bagi warga yang mempunyai penghasilan dibawah $3.000/tahun. Dengan ketentuan $600 untuk setiap orang, atau $1.200 bagi pasangan dan $300 untuk masing-masing anak. Termasuk para pensiunan yang mendapat jaminan sosial juga mendapatkan dana tersebut. Presiden AS George W. Bush menyatakan bahwa langkah tersebut cukup efektif guna menghindari Amerika dari resesi.

Sementara itu, seiring dengan tren penurunan suku bunga di Amerika, pasar keuangan Indonesia kembali dibanjiri oleh dana -dana asing atau lebih dikenal dengan Hot Money. Dana tersebut masuk melalui pasar keuangan maupun saham. Sejauh ini, BI selaku pemegang otoritas keuangan tertinggi tidak merisaukan arus dana masuk tersebut, yang tercermin dengan menguatnya nilai tukar rupiah belakangan ini.

BI bisa saja menurunkan besaran bunga acuan atau BI rate yang saat ini masih bertahan di level 8%. Penguatan rupiah sepertinya akan tetap bermanfaat bagi stabilitas harga pangan di dalam negeri khususnya kedelai dan gandum. Harga kedelai yang melambung telah membuat pemerintah membayar mahal untuk mengimpor kedelai dengan harga sekitar Rp. 6.000,- dan dijual dengan harga Rp. 3.000. Entah apa lagi yang akan dilakukan pemerintah guna menambal defisit APBN kedepan.

Dengan penguatan nilai tukar Rupiah setidaknya mengurangi beban pemerintah dalam menghimpun dana untuk mengimpor kedelai. Walaupun sebenarnya keadaan tersebut sangat mengkhawatirkan bagi pergerakan rupiah dalam jangka panjang. Apabila dana dana yang masuk saat ini (Hot Money) keluar secara tiba-tiba akibat volatilitas yang cukup tinggi di pasar global maka nilai tukar rupiah akan terjun bebas dan menggerus cadangan devisa. Kalau hal tersebut terjadi maka rakyat yang saat ini disubsidi dengan harga kedelai murah tentunya tetap akan membayar apabila Rupiah kembali begerak liar.

Gambaran Perekonomian AS Kian Buram

Medan Bisnis, 4 Februari 2008
Federal Reserve atau lebih dikenal dengan The FED sebagai sebutan untuk Bank Sentral Amerika Serikat, baru-baru ini kembali menurunkan suku bunga menjadi 3% pada saat ini. Keputusan tersebut dilatar belakangi dengan masih memburuknya kredit macet sektor perumahan Amerika serta anjloknya data tenaga kerja diluar sektor pertanian atau biasa disebut dengan Non-Farm Payroll.

Non-Farm Payroll AS turun menjadi sebesar 17.000 jiwa pada bulan januari 2008 setelah sempat naik sebanyak 82.000 jiwa pada bulan desember 2007. Hal tersebut sangat jauh berbeda dengan analisa banyak pengamat keuangan yang justru memperkirakan adanya pertumbuhan pada jumlah tenaga kerja baru yang terserap pada bulan Januari kemarin.

Kebijakan uang ketat atau Tight Money Policy The FED pada masa Alan Greenspan sepertinya sudah mulai pudar eksistensinya dan lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu, disinyalir memburuknya kinerja perekonomian AS tidak terlepas dari besarnya utang negara Amerika, dimana lebih fokus untuk mengkampanyekan program melawan teroris di belahan dunia selama pemerintahan presiden George W. Bush.

Memburuknya perekonomian AS juga diperparah dengan semakin tingginya harga minyak mentah dunia. Apabila harga minyak dunia kembali naik signifikan bisa dipastikan bahwa Amerika lagi-lagi akan menghadapi masalah sulit karena harus membeli dengan nominal yang cukup besar dalam memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Dalam setiap kebijakan mengenai suku bunganya The FED selalu memberikan komentar yang biasanya digunakan untuk memprediksi arah pergerakan suku bunga ke depan. Sejauh ini, pasar lebih optimis bahwa The FED masih akan memotong besaran suku bunganya dalam pertemuan FOMC (federal open market committee) bulan mendatang.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa The FED masih mengkhawatirkan sektor perumahan yang mengalami kredit macet serta lebih menekankan pada laju pertumbuhan untuk mendorong konsumsi masyarakat disana. Dan oleh karena itu, mata uang US Dolar kembali terpuruk cukup dalam terhadap semua mata uang dunia.

Untuk mengatasi dampak negatif dari memburuknya perekonomian Amerika, negara Eropa seperti Inggris kembali mengeluarkan regulasi perbankan yang lebih melindungi deposan serta menjaga pasar finansial dari volatilitas yang cukup tinggi. Dampak negatif dari memburuknya perekonomian AS juga dapat dirasakan diseluruh belahan dunia dengan mengeluarkan sebuah kebijakan untuk menghadapi skenario stres (stress scenario).

Stress scenario yang paling mungkin terjadi adalah terpuruknya nilai tukar US Dolar (sharp decoupling), stagnasi akibat inflasi tinggi (stagflation) dan stagnasi akibat kelesuan ekonomi (stagnation). Sehingga bisa diperkirakan bahwa ekonomi global akan terus mencoba untuk mencapai titik keseimbangan (equilibrium) selama tahun 2008 – 2009. Walaupun beberapa kekuatan ekonomi dunia yang baru (China dan India) diperkirakan mampu untuk mengimbangi kelesuan ekonomi global saat ini, namun kekuatan ekonomi AS sepertinya masih akan tetap mendominasi serta akan mempengaruhi ekonomi global dari segala aspeknya.

Dalam negeri
Indonesia merupakan negara yang juga terintegrasi dalam sistem keuangan global. Keterpurukan ekonomi AS juga membuat Indonesia terkena dampaknya seperti kenaikan harga bahan pangan baru-baru ini. Sulit untuk mengatakan apakah kita secara mandiri dapat menghindari dari gejala resesi yang diawali dengan memburuknya perekonomian AS.

Amerika bukan negara tujuan ekspor utama Indonesia, namun karena Amerika menguasai hampir seperempat (¼) produk domestik bruto (PDB) dunia, jadi sangatlah sulit untuk terhindar dari efek awal resesi perekonomian dunia pada saat ini. Bukan mustahil apabila Amerika mengalami krisis ekonomi maka akan diikuti oleh Indonesia.

Suku bunga atau BI rate juga dipertahankan sama di level 8% pada saat ini. Hal tersebut dikarenakan masih tingginya inflasi pada bulan januari yang dirilis BPS (badan pusat statistik) sebesar 1.7%. Hal tersebut akan membuat pemerintah dan otoritas moneter negara kita bekerja ekstra keras karena target inflasi tahun 2008 ini adalah sebesar 5% plus minus 1%.

Ruang penurunan BI rate semakin kecil, sehingga perbankan diperkirakan masih akan tetap memberlakukan suku bunga tinggi sehingga berdampak pada stagnasi penyaluran kredit. Dunia bisnis pun akan mengalami hal yang sama yaitu stagnasi. Siapapun pemerintahan sekarang ini pastilah akan sulit untuk mengatasi perekonomian Indonesia yang tidak mengalami gejala perubahan yang lebih baik secara signifikan.

Sejumlah faktor baik Internal maupun Eksternal bukan perkara mudah untuk dikendalikan. Faktor eksternal (global) sangat rentan dengan permasalahan global dan sifatnya juga sangat sulit untuk diprediksi (unpredictable). Namun, tidak jauh berbeda dengan permasalahan internal, melambungnya harga bahan makanan pokok merupakan hasil dari reaksi perubahan perekonomian global. Sehingga siklus perputaran ekonomi tak ubahnya seperti lingkaran. Dimana akan lebih nyaman berada diatas dari pada tergilas pada saat di bawah.

Antara Paket Stimulus Ekonomi AS, Tempe dan Minyak Goreng

Medan Bisnis, 29 Januari 2008
Perekonomian Amerika Serikat kembali menghadapi resesi yang mungkin akan berkepanjangan. Hal tersebut terbukti dengan bangkrutnya sejumlah perusahaan jasa keuangan AS yang sekaligus memicu anjloknya indeks bursa saham wall street, serta menyeret sejumlah indeks bursa global. Mata uang US Dolar juga tidak luput dari keterpurukan sehingga membutuhkan insetif baru guna menyelamatkannya.

Tidak tanggung-tanggung, melemahnya US Dolar turut memicu melambungnya harga komoditas seperti minyak mentah dunia, yang turut membawa komoditas lainnya seperti gandum, kedelai kembali meroket tajam. Imbasnya jelas, para produsen tempe sempat menghentikan produksinya karena kenaikan harga bahan baku kacang kedelai.

Ungkapan yang muncul seperti “Amerika Bersin, Maka Negara Lain akan Demam”, sepertinya cukup menggambarkan bagaimana dampak dari kredit macet perumahan AS berimbas pada kebutuhan bahan makanan pokok di dalam negeri. Bahkan, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa permasalahan pangan belakangan ini merupakan masalah global, jadi bukan Indonesia saja yang kesulitan dalam menghadapi kelangkaan pangan, namun negara lain juga merasakan hal yang sama.

Namun yang pasti akan lebih bermartabat kalau pemerintah mampu mengatasi kelangkaan pangan dalam negeri walaupun negara lain justru kesulitan dalam mengatasinya. Bukan hanya beretorika serta mencari alasan lain sebagai kambing hitam dan dijadikan alasan untuk tidak melakukan sesuatu.

Indonesia lagi-lagi berada dalam posisi yang dirugikan pada saat ini. Belum lagi tuntas masalah pencapaian pertumbuhan yang tidak memenuhi harapan, Indonesia kembali dihadapkan pada laju tekanan inflasi akibat melambungnya harga sejumlah kebutuhan makanan pokok. Sehingga, banyak yang optimis bahwa pada tahun 2008 ini pemerintah tidak akan mencapai pertumbuhan ekonomi seperti yang telah ditargetkan.

Banyak yang bertanya-tanya, kenapa harga minyak goreng tetap mahal dipasaran, padahal Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Dunia. Jawabannya jelas, para pengusaha kelapa sawit akan lebih senang kalau sawitnya dijual di pasar global karena jauh lebih menguntungkan ketimbang harus dijual didalam negeri, yang notabene lebih murah karena untuk menstabilkan harga minyak goreng di pasar domestik.

Moral hazard dari para pengekspor CPO (Crude Palm Oil) / minyak kelapa sawit sempat diketuk ketika harga minyak goreng malambung tinggi. Namun, apakah kita sadar bahwa kenaikan harga CPO di pasar global juga akan mengangkat pendapatan petani sawit dalam negeri pada umumnya. Ngalor-ngidul dan tetap berkutat ke permasalahan itu, akhirnya pemerintah mengambil kebijakan untuk menaikan pajak ekspor dari penjualan CPO.
Efektifkah?, jawabannya tentu relatif tergantung kemampuan daya beli kita terhadap minyak goreng itu sendiri. Mahal atau tidaknya suatu barang tentu akan bergantung pada isi kantong kita masing-masing. Belum ada yang tahu kapan kesengsaraan ini akan berakhir.

Mungkinkah lagu dari Alm.Chrisye yang berjudul Badai Pasti Berlalu benar-benar akan menjadi doa yang akan terwujud, atau sebagai hiburan atas kesabaran mengahadapi cobaan seperti sekarang ini.

Namun, kita semua pasti dapat memperhitungkan semuanya. Mari kita sama-sama menganalisa. Kredit macet yang terjadi di Amerika telah membuat daya beli masyarakat disana menurun, sehingga mengurangi kinerja ekspor negara kita ke AS.

Hal tersebut tentunya akan berdampak pada menurunnya produktifitas perusahaan yang penjualannya bergantung pada Amerika Serikat. Dan memungkinkan perusahaan tersebut akan merugi, terlebih perusahaan tersebut tidak mempunyai negara tujuan ekspor lainnya. Dan kita tentunya sudah tahu apa yang akan dilakukan jika sebuah perusahaan itu merugi.

Nah, ada beberapa negara lain seperti China dan India yang tetap menunjukan laju pertumbuhan ekonomi yang dahsyat. Sehingga membuat negara tersebut kehausan akan minyak dan membuat harga minyak dunia melambung jauh diatas harga yang ditetapkan dalam APBN. Apabila harga minyak dunia naik tajam sudah tetntunya hal tersebut akan berimbas pada melambungnya harga barang yang berbasis impor. Karena harga barang tersebut akan ditambah dengan harga pengiriman yang juga membutuhkan bahan bakar.

Inilah yang menjadi pemicu kenapa harga kebutuhan pokok turut melambung tinggi belakangan ini. Kalaupun pemerintah mampu menstabilkan harga dengan cara subsidi, namun kita tidak akan pernah tahu sampai kapan negara ini akan mampu dibebani dengan biaya subsidi yang semakin besar.

Pada saat ini, Amerika Serikat direncanakan akan mendapat dana bantuan untuk menghindari negara tersebut dari krisis ekonomi, yang disebut juga dengan rencana stimulus kebijakan ekonomi. Ada harapan akan membaiknya daya beli masyarakat di AS yang sejalan dengan pemangkasan suku bunga The FED belakangan ini. Dan tentunya ada harapan pula dengan peningkatan kinerja ekspor negara kita.

Namun, turut diwaspadai pula bahwa peningkatan laju pertumbuhan ekonomi Amerika akan membuat negara tersebut semakin rakus akan minyak mentah, yang berpotensi mengangkat harga minyak mentah ke level yang lebih tinggi lagi. Sehingga sulit untuk menciptakan harga barang yang peduli pada masyarakat kita pada umumnya. Sehingga Teori yang benar untuk mengungkapkan ini semua adalah teori keseimbangan (equilibrium). Dimana pada dasarnya kita tetap berada pada sebuah titik keseimbangan, tidak kurang dan tidak lebih. Kalaupun anda merasa lebih tentunya ada sisi lain yang kekurangan.

Kesengsaraan (Hutang) Tiada Akhir

Medan Bisnis, 14 Januari 2008
Banyak pihak yang merasa kecewa ketika banyak media mengabarkan bahwa perbankan masih saja menyimpan dananya ke Bank Indonesia melalui instrumen keuangan Sertifikat Bank Indonesia atau biasa disebut dengan SBI. Dana nganggur di Perbankan tersebut seharusnya dapat dijadikan instrumen keuangan bagi dunia usaha atau biasa disebut dengan kredit.

Penyaluran kredit akan meningkatkan belanja masyarakat dan akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, dan sekaligus sebagai wadah mediasi perbankan itu sendiri. Namun, perbankan juga masih mengeluhkan penyerapan yang kurang maksimal dari para pelaku dunia usaha, baik itu karena suku bunga dinilai masih relatif tinggi, tingginya harga bahan bakar minyak, mahalnya bahan baku, penurunan daya beli hingga ke permasalahan struktural yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi.

Permasalahan tersebut disinyalir sebagai akar dari lemahnya penyerapan APBD di sejumlah daerah di Indonesia. Namun, alasan lain seperti ketakutan akan kekuatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang gencar dalam memberantas penyalahgunaan uang Negara (korupsi) kerap dijadikan masalah juga. Padahal penggunaan anggaran yang dapat dipertanggung jawabkan tentunya dapat dijadikan garansi.

Kondisi yang seperti demikian akan memicu sejumlah daerah menempatkan dananya di perbankan dengan fasilitas yang sama yaitu SBI. Karena SBI memberikan imbal hasil yang lebih baik dibandingkan dengan produk keuangan lain seperti Deposito. Sehingga pantas kiranya kalau pemerintah juga memberikan kontribusi bagi lambatnya pertumbuhan ekonomi, lemahnya penyerapan tenaga kerja hingga ketidak berdayaan dalam mengentaskan kemiskinan.

Rakyat yang jelas-jelas tidak terlibat sedikitpun dalam setiap pengambilan keputusan tersebut sangat dirugikan, karena beban dari bunga yang harus dibayarkan juga harus dibayar dengan keringat mereka. Sehingga subsidi (dalam bentuk apapun) yang diterima rakyat seperti sekarang ini tidak sebanding dengan kesempatan lain yang bisa diraih seperti pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan yang lebih layak.

Kalau saja penulis diberikan pilihan, maka penulis akan memilih untuk tidak menerima subsidi sama sekali asalkan dapat mendapatkan pekerjaan yang layak. Lagipula, subsidi yang diberikan pemerintah pada saat ini juga tidak sepenuhnya memihak kepada rakyat miskin karena mereka yang berpendapatan lebih baik juga dapat menggunakan subsidi tersebut.

Sejak menjelang akhir tahun 2007 hingga awal tahun 2008 ini, posisi pemerintah semakin sulit untuk menyesuaikan kenaikan harga minyak yang sebelumnya dalam APBN dipatok $60/barel, padahal harga minyak dunia pada saat ini mendekati level $100/barel. Defisit APBN pun tidak bisa dihindari.

Hingga pemerintah melalui menteri keuangan kembali menerbitkan surat utang dalam denominasi mata uang US Dolar sebesar US$ 2 Milyar yang biasa disebut dengan global bond, dan diberi nama indo 38 dan indo 18. Dengan masing-masing jatuh tempo 30 tahun untuk indo 38 serta 10 tahun untuk indo 18.

Ada hal yang menarik dari penerbitan dua obligasi tersebut, yakni bunga yang ditawarkan sebesar 7.74% (indo 38) serta 6.90% (indo 18). Menarik disini bukanlah karena bunga yang dibayar terlalu murah, akan tetapi lebih tinggi dari penerbitan obligasi di Amerika sendiri yang berada di range 4% hingga 6%.

Walaupun rating utang Indonesia yang diberikan lembaga pemeringkat utang sudah membaik akhir-akhir ini, namun sepertinya kebanyakan investor di negeri paman sam tidak mau ambil resiko, mereka tetap meminta bunga yang lebih tinggi lagi. Nah, siapakah yang akan membayar bunga segede itu?, kita (rakyat) tentunya dong, melalui pemerintah pastinya.

Walaupun tidak akan ada tagihan secara langsung yang ditujukan kepada kita, tapi yakinlah bunga segede itu akan berdampak pada berkurangnya kualitas subsidi yang kita terima selama ini, maupun hilangnya kesempatan lain untuk mendapatkan subsidi yang baru. Subsidi tersebut juga belum terbebas dengan aksi penggelapan oleh oknum pemerintah, yang tentunya akan menambah lengkap penderitaan kita (rakyat).

Dengan porsi utang pemerintah melalui SBI yang mendekati Rp.300 Trilyun, serta utang lain seperti penerbitan global bond, mengindikasikan bahwa kita (rakyat) masih akan terus berjuang untuk lepas dari kesengsaraan. Kalau perjuangan tersebut sudah mengalami titik jenuh, maka tidak ada pilihan lain selain pasrah kepada Tuhan.

Perputaran Uang Panas (Hot Money)

Medan Bisnis, 7 Januari 2008
Salah satu mata uang kuat dunia US Dolar kembali terpuruk akibat meningkatnya jumlah angka pengangguran di negeri paman sam. Alhasil, pelemahan tersebut membuat sejumlah mata uang rivalnya seperti Yuan China kembali menguat signifikan.

Penguatan mata uang Yuan tidak terlepas dari pengaruh memburuknya kondisi perekonomian Amerika, dimana selama bulan desember 2007 di Amerika Serikat terjadi penyerapan tenaga kerja baru sebanyak 18.000 jiwa, jauh lebih kecil dari ekspektasi pasar sebelumnya sebanyak 70.000 jiwa. Data tersebut merupakan data terkecil sejak 4 tahun terakhir.

Indeks jumlah pengangguran juga naik menjadi 5% pada saat ini, atau lebih tinggi dari ekspektasi analis sebesar 4.8%. Peningkatan jumlah pengangguran tidak dapat dihindari sejak krisis sektor perumahan atau subprime mortgage melanda pasar finansial Amerika di tahun 2007 lalu. Dampak dari krisis perumahan tersebut sepertinya masih akan menjadi stimulus negatif bagi perekonomian Amerika di tahun 2008 ini.

Akibat data tersebut, Indeks Bursa Dow Jones juga kembali terpuruk (turun 2%) seiring dengan melemahnya nilai tukar US Dolar. Penurunan indeks Bursa Dow Jones juga berimbas pada melemahnya indeks bursa di Eropa dan Jepang. Namun, tidak selamanya dampak negatif dari memburuknya perekonomian Amerika juga akan dirasakan di Negara lainnya.

Memburuknya kinerja perekonomian Amerika akhir-akhir ini berpotensi menjadi pemicu larinya sejumlah aliran dana keluar dari Amerika. Kemana?, ke Negara yang memberikan imbal hasil yang lebih baik tentunya. Negara berkembang atau biasa disebut emerging market berpotensi mendapatkan keuntungan dari memburuknya perekonomian Amerika.

Kalau kita cermati, mata uang Yuan China, menunjukan peforma yang cukup baik, dan bergerak sebaliknya dibandingkan pergerakan mata uang US Dolar. Diperkirakan penguatan Yuan terkait dengan masuknya aliran dana dari luar, khususnya Amerika sehingga membuat pasar finansial dibanjiri oleh dana dari mana saja. Uang yang masuk yang memanfaatkan gain suku bunga dan tidak termasuk sebagai dana yang digunakan untuk investasi (Foreign Direct Investment – FDI) biasa disebut dengan uang panas atau hot money.

Dalam jangka pendek dana tersebut akan menyebabkan permintaan pada produk keuangan yang diterbitkan di Negara asal sehingga terjadi permintaan akan obligasi, saham maupun produk keuangan lainnya. Efek yang ditimbulkan adalah permintaan akan mata uang Negara asal yang terus meningkat dan menguat terhadap mata uang Negara lainnya.

China merupakan salah satu peta kekuatan ekonomi dunia yang diperhitungkan pada saat ini. Dengan laju pertumbuhan diatas 10%, tingkat inflasi yang cukup tinggi serta jumlah penduduk yang terbanyak di dunia memberikan imbal hasil (suku bunga) yang cukup baik dibandingkan dengan Negara lainnya. Kondisi tersebut tentunya akan menjadi penilaian positif bagi investor untuk mengembang biakan dananya ke Negara tersebut.

Laju pertumbuhan yang tinggi umumnya akan dibarengi dengan inflasi yang tinggi pula. Hal tersebut berdampak pada pengetatan kebijakan moneter di China yang secara meyakinkan terus menaikan suku bunganya. Sehingga dapat menimbulkan dampak pada mengalirnya sejumlah dana -hot money- ke Negara tersebut.

Bahkan, Amerika menuding China melakukan kecurangan dengan tidak membiarkan mata uang Yuan menguat sesuai dengan mekanisme pasar. Monopoli terhadap produk buatan China di pasar China dituding menjadi akar permasalahan bagi defisit neraca perdagangan Amerika. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Yuan masih akan terus menguat lebih jauh lagi, walaupun tanpa kebijakan untuk meliberalkan mata uang Yuan.

Bukan berarti keadaan tersebut akan terus menguntungkan China. Perputaran uang (hot money) sangat rentan terhadap isu global yang berpotensi akan menjadi boomerang bagi Negara yang saat ini sangat diuntungkan oleh hot money tersebut. Indonesia juga pernah mengalami hal serupa, bahkan sebelum kirisis melanda Indonesia pada tahun 1997.

Dana panas biasanya akan membanjiri produk keuangan jangka pendek yang dapat dicairkan seketika. Apabila terjadi gejolak yang menimbulkan dampak negatif pada perekonomian, dengan cepat dana panas tersebut akan segera keluar dan menyebabkan fluktuasi pada pasar finansial.

Apabila Negara yang mengalami fluktuasi tersebut tidak sigap ataupun salah dalam mengambil tindakan, dikhawatirkan akan berdampak pada krisis berkepanjangan seperti yang dialami Indonesia sejak tahun 1997.

Uang tidak pernah mengenal nasionalisme, dan juga tidak mengenal humanisme. Uang akan terus berkembang biak sesuai dengan kemauan sang pemiliknya. Peredarannya lebih dikarenakan sebagai alat pemuas semata bagi tuannya. Tanpa mengenal lelah uang akan terus beputar dan berpihak pada siapa (Negara) dia akan lebih menguntungkan. Uang memang berguna bagi kebanyakan manusia, tapi pahamilah bahwa uang panas, dana panas atau hot money itu ga ada gunanya.

Sunday, January 06, 2008

Ramalan di Tahun 2008

Medan Bisnis, 31 Desember 2007
Jujur saja, Indonesia bergerak maju. Itulah pernyataan Presiden SBY beberapa hari yang lalu menjelang akhir tahun 2007. Pernyataan tersebut seakan menepis pernyataan para lawan partai politik SBY yang saat ini secara terus menerus melontarkan kritik terhadap pemerintahan SBY, yang notabene dinilai gagal dalam mengentaskan kemiskinan.

Presiden mengatakan bahwa dalam metodologi penghitungan mengenai angka kemiskinan pemerintah menggunakan BPS sebagai tolak ukur, sementara pihak yang menyatakan angka kemiskinan masih reklatif tinggi menggunakan institusi lain seperti Bank Dunia. Sehingga tidak ditemukan korelasi diantara sekian banyak pernyataan tersebut.

Sebagai rakyat biasa tentunya kita harus bijak dalam menilai manakah pernyataan yang dapat menggambarkan secara lebih realistis tentang negeri ini. Jangan pernah terjebak dalam pernyataan yang bersifat provokatif, dan jangan pernah juga untuk menomorduakan segala kekurangan terhadap pemerintahan yang berkuasa.

Kita harus lebih sensitif terhadap semua pernyataan yang keluar baik dari penguasa maupun dari elit politik yang sengaja mengusung sebuah permasalahan sebagai retorika untuk merebut kekuasaan. Kalau saat ini ada elit politik yang menyatakan bahwa kepedulian terhadap wong cilik termarjinalkan, maka lakukan analisa sebaliknya apakah selama elit politik tersebut berkuasa juga mempunyai kepedulian terhadap hal yang sama.

Secara ringkas, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2007 memang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Pergerakan nilai tukar Rupiah yang relatif stabil, meningkatnya cadangan devisa (diatas 52 Milyar US Dolar), surplus neraca pembayaran serta terkendalinya laju inflasi.

Kalau laju pertumbuhan ekonomi merealisasikan kenaikan sudah sepantasnya hal tersebut akan dikompensasi dengan penyerapan jumlah tenaga kerja baru yang berdampak pada penurunan angka kemiskinan. Namun, kalaupun masih ada keluhan tentang tingginya angka pengangguran dan kemiskinan maka penyebaran dari laju pertumbuhan ekonomi itu sendiri yang dipertanyakan.

Namun tantangan di tahun 2008 sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, baik dari dalam negeri maupun sejumlah faktor eksternal. Menjelang Pemilu tahun 2009 pemerintah diperkirakan akan kembali menggunakan dana APBN yang cukup besar dalam menyelenggarakan Pemilu.

Dampak rencana kenaikan harga minyak domestik seiring dengan kenaikan harga minyak dunia juga perlu dipertimbangkan di tahun 2008 nanti. Kenaikan harga minyak akan menimbulkan resistant dari masyarakat dan akan menjadi permasalahan yang sangat sensitif karena dibarengi dengan kampanye politik. Dimana, kondisi yang tidak kondusif selama kampanye akan menjadi senjata yang ampuh bagi terciptanya ketidakstabilan ekonomi.

Sejumlah faktor eksternal seperti ketidakstabilan politik maupun laju pertumbuhan ekonomi global, fluktuasi harga minyak dunia, maupun pergerakan suku bunga global masih akan menjadi permasalahan yang secara langsung akan menyebabkan kontraksi di pasar domestik.

Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi di Amerika akan berdampak pada berkuranganya ekspor negara kita ke negara tersebut. Walaupun di Asia masih terjadi kenaikan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan, namun kemampuan negara kita masih akan diuji dalam melakukan diversifikasi ekspor yang akan lebih tertuju pada negara-negara di kawasan Asia.

Fluktuasi harga minyak dunia memegang peranan penting dalam dinamika ekonomi. Gejolak harga minyak dunia yang hampir menyentuh level $100/barel pada triwulan IV 2007 diperkirakan masih akan terjadi di tahun 2008 nanti. Ketidakstabilan politik, tingginya permintaan hingga aksi spekulasi membuat harga komoditas ini menjadi sangat rentan terhadap isu yang mempengaruhinya.

Tren pergerakan suku bunga juga turut diwaspadai pada tahun 2008 nanti. Sejauh ini, pergerakan suku bunga The FED selalu menjadi acuan dalam pengambilan keputusan suku bunga Rupiah. Padahal ada kekuatan ekonomi dunia baru seperti China yang harus diperhitungkan juga dalam setiap pengambilan keputusannya.

Sejauh ini, keputusan The Fed yang menurunkan suku bunga tidak serta merta diikuti oleh Bank Sentral China (PBOC) yang justru melakukan tindakan sebaliknya. Hal tersebut tentunya sangat beresiko bagi Indonesia apabila turut melakukan hal yang serupa dengan Bank Sentral Amerika. Karena, Indonesia kehilangan kesempatan untuk menyerap likuiditas yang keluar dari Amerika, karena investor akan melirik negara lain yang lebih menarik dan menguntungkan untuk menanamkan modalnya.

Di tahun 2008 nanti, nilai tukar Rupiah masih berpotensi mengalami tekanan walaupun nilai tukar US Dolar melemah terhadap mata uang global. Inflasi diperkirakan masih akan bergerak stabil kendati berpeluang naik apabila terjadi kenaikan harga minyak dunia, bencana alam, maupun tidak terkendalinya harga kebutuhan pokok.

Untuk menghindari dampak negatif dari dinamika ekonomi, pemerintah harus mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang berbasis konsumsi dalam negeri daripada hanya bergantung pada kemampuan ekspor yang jelas-jelas sangat dipengaruhi oleh penyerapan negara-negara tujuan ekspor yang beberapa diantaranya saat ini sedang “sakit”.

Thursday, December 27, 2007

Kembali Menguatnya US Dolar

Medan Bisnis, 17 Desember 2007
Setelah terpuruk dalam waktu yang cukup lama diakibatkan oleh krisis subprime mortgage AS, US Dolar kembali menguat terhadap hamper semua mata uang dunia dalam perdagangan minggu kemarin. Pemicunya adalah tingginya inflasi serta dirilisnya beberapa data ekonomi yang menunjukan tingginya consumer spending sehingga membantah ekspektasi akan pemotongan suku bunga Bank Sentral Amerika kedepan.

Pada hari selasa minggu kemarin, Bank Sentral AS kembali menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4.25% pada saat ini. Keputusan tersebut membuat sejumlah pelaku pasar kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi pasar sebelumnya.

Inflasi tetap menjadi fokus pasar selanjutnya, dimana ada kekhawatiran bahwa inflasi di Amerika akan kembali naik dan berpotensi menggiring harga minyak dunia ke level harga yang lebih tinggi lagi. Kekhawatiran tersebut juga telah membawa indeks Wall Street terpuruk setelah sebelumnya menunjukan kinerja yang cukup baik seiring dengan euphoria penurunan suku bunga The FED.

Namun, penguatan US Dolar tersebut akan ditentukan kelanjutannya oleh beberapa data penting yang akan dirilis minggu ini, menjelang perayaan natal. Beberapa data diantaranya yaitu, GDP (Gross Domestic Product), Personal Spending dan Core PCE. Data tersebut akan menjadi acuan apakah inflasi dapat dipertahankan dan akan tetap menjadi penopang bagi penguatan US Dolar nantinya.

Dan apabila inflasi terus bergerak naik maka sudah dapat diperkirakan bahwa kebijakan uang ketat atau biasa disebut dengan tight monetery policy akan tetap dipertahankan. Sehingga, akan memperkecil ruang pertumbuhan ekonomi AS serta akan berdampak pada meningkatnya kredit macet.

Sejauh ini, IMF (international monetery fund) memperkirakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2008 akan melambat yang diakibatkan oleh krisis kredit di pasar keuangan. Memburuknya kinerja ekonomi Amerika paska kenaikan harga minyak dunia oktober silam diperkirakan akan memberikan kontraksi pada melemahnya perekonomian Negara mitra dagang Amerika.

China dan India akan menjadi Negara yang menyumbangkan pertumbuhan ekonomi global yang paling besar. Namun, langkah China yang akan menaikan suku bunganya berpotensi memperkecil laju pertumbuhan global. China yang merealisasikan angka pertumbuhan diatas 11% membuat Negara tersebut perlu melakukan kebijakan uang ketat guna meredam inflasi.

Kembali ke euforia penguatan US Dolar, Rupiah diperkirakan akan tertekan dalam sesi perdagangan menjelang tahun baru 2008. Hal tersebut dikarenakan tingginya permintaan US Dolar oleh korporasi guna memenuhi kewajiban di akhir tahun.

Selain itu melemahnya US Dolar pada sesi perdagangan sebelumnya juga tidak membuat mata uang Rupiah menguat. Faktor eksternal seperti momentum naiknya harga minyak dunia serta ekspektasi penurunan suku bunga The FED juga tidak berpengaruh besar bagi pergerakan Rupiah.

Hal tersebut dikarenakan aksi beli US Dolar yang cukup signifikan baik untuk memenuhi kebutuhan impor minyak maupun kebutuhan rutin menjelang tahun baru. Sehingga dalam beberapa minggu kedepan Rupiah tidak akan beranjak jauh dari level pada saat ini dengan tetap memiliki peluang untuk terus melemah terhadap US Dolar.

Sunday, December 02, 2007

PENTINGNYA PERTUMBUHAN EKONOMI YANG SELARAS DENGAN ALAM

Medan Bisnis, 3 Desember 2007
Dunia kembali dirisaukan oleh isu pemanasan global yang ditandai dengan perubahan iklim bumi yang semakin panas, serta mengancam kelangsungan hidup semua mahkluk yang berada di Bumi. Kalau saja suhu bumi merangkak naik secara konsisten, maka sudah tidak ada gunanya lagi bagi kita untuk terus berkonsentrasi pada pemenuhan kebutuhan duniawi. Karena, pada dasarnya kita tengah menuju pada pemusnahan alam yang disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Selama ini, sebuah negara akan dinilai sukses apabila negara tersebut mampu menyediakan lapangan kerja, menurunkan kemiskinan serta meningkatkan taraf hidup manusia seperti di negara belahan Eropa dan Amerika Serikat. Namun, untuk menciptakan itu semua sebuah negara harus menciptakan iklim investasi yang baik, dan mampu mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.

Kalau laju pertumbuhan ekonomi sebuah negara sudah mampu memberikan gambaran hidup ideal seperti yang diharapkan, maka kemakmuran yang diharapkan akan terwujud disamping akan menjadi barometer terhadap negara lain untuk melakukan hal yang sama.
Indonesia juga menganut hal yang sama dalam proses pembangunan selama ini. Jadi, kita semua yang berdomisili di Indonesia juga turut bertanggung jawab terhadap perubahan iklim global yang semakin panas (global warming).

Menurut salah satu karya tulis dari Fakultas Geografi – UGM Yogyakarta menyatakan bahwa, Global warming merupakan fenomena terhadap peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi.

Salah satu penyebab terjadinya global warming yang paling mudah kita temui adalah asap knalpot dari kendaraan bermotor serta asap yang dihasilkan dari industri, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semakin tinggi kemampuan daya beli (purchasing power) sebuah masyarakat, maka semakin besar potensi masyarakat tersebut dalam memberikan sumbangsih terhadap perubahan iklim global.

Oleh karena itu, negara-negara industri maju seperti Eropa, AS, Jepang, maupun Australia dituding banyak kalangan sebagai negara yang paling bertanggung jawab terhadap perubahan iklim (global warming) yang terjadi pada saat ini. Namun, masih ada negara baru seperti China dan India yang menjadi fokus dunia pada saat ini.

Kedua negara tersebut pada saat ini telah menjadi negara yang berkembang cukup pesat. China rata-rata merealisasikan pertumbuhan ekonomi diatas 10%, sementara India merealisasikan pertumbuhan rata-rata sebesar 9% setiap tahunnya. Pergerakan mata uang kedua negara tersebut juga terus merayap naik terhadap banyak mata uang dunia.

China, India dan Amerika merupakan negara yang menghasilkan polusi terbesar di dunia pada saat ini. Oleh sebab itu cukup beralasan kiranya ketiga negara tersebut menentang kebijakan pengurangan wajib gas rumah kaca yang diinginkan banyak negara Eropa dan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Karena pengurangan wajib gas rumah kaca akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi di negara masing-masing akan melambat. Sementara, percepatan pembangunan serta pengurangan kemiskinan menjadi sangat penting bagi semua negara di belahan dunia ini.
Sejauh ini, belum ada kesepakatan maupun solusi yang dapat mengurangi efek gas rumah kaca. Setiap negara masih mengedepankan pentingnya pertumbuhan bagi kelangsungan masyarakatnya. Pemanasan global bukanlah sebab namun merupakan akibat pemakaian model pembangunan ekonomi yang dianut banyak negera selama ini.

Sehingga sangat penting dibutuhkan sebuah model pembangunan yang berperspektif lingkungan, atau kita justru punah dengan keteledoran kita sendiri dalam menilai sebuah kesejahteraan tanpa memperdulikan lingkungan yang kian tidak bersahabat. Untuk itu, janganlah terlalu risau dengan kenaikan harga minyak belakangan ini, karena kenaikan tersebut juga membawa berkah pelajaran akan pentingnya menggunakan sumber daya alam secara lebih efisien.

Pengalihan Resiko Mata Uang

Medan Bisnis, 26 November 2007
elemahya mata uang US Dolar belakangan ini telah membawa sejumlah pelaku pasar khawatir akan terus berlanjuntnya pelemahan US Dolar dalam jangka panjang. Hal tersebut membuat sejumlah negara arab akan mengganti cadangan devisanya yang semula dalam US Dolar ke dalam sejumlah mata uang termasuk Euro.

Dalam catatan terakhir US Dolar telah melemah terhadap Euro sebanyak 6% seiring dengan pemotongan suku bunga The FED, dan kembali mencatatkan rekor terendah selama 2 tahun terakhir terhadap mata uang Yen Jepang. Aksi carry trade diperkirakan menjadi alasan utama melemahnya mata uang US Dolar terhadap sejumlah mata uang dengan suku bunga yang lebih tinggi.

Pelaku pasar kembali melakukan likuidasi terhadap aset-aset carry trade, hal tersebut membuat permintaan terhadap mata uang Yen Jepang meningkat cukup signifikan. Fundamental ekonomi Amerika yang dinilai rapuh menciptakan ekspektasi akan kembali memburuknya kinerja perekonomian AS dalam waktu yang cukup lama.

Pengalihan resiko (risk aversion) yang terjadi di pasar saat ini diciptakan oleh gejolak fluktuasi harga minyak dunia yang dibarengi dengan memburuknya kinerja perekonomian raksasa dunia Amerika yang terus dihadapkan kepada ketidak pastian.

Banyak Bank Sentral di beberapa negara di belahan dunia yang mengkhawatirkan pergerakan mata uang US Dolar. Hal tersebut sangat berpengaruh karena hampir semua negara di dunia masih menggunakan US Dolar sebagai mata uang utama dalam cadangan terbesar devisa mereka. Hal tersebut juga turut memicu kebijakan sejumlah Bank Sentral yang akan beralih ke mata uang dunia lainnya (diversifikasi). Isu tersebut telah mencuat dan akan memberikan tekanan signifikan bagi pergerakan US$.

Diantara banyak pilihan mata uang, Euro merupakan mata uang yang paling banyak diminati oleh pelaku pasar. Hal tersebut membuat Euro menguat terhadap US$ dan masih akan bergerak naik mendekati 1.5 Euro/US$. Pejabat Bank Sentral Eropa Jean C. Treachet menyatakan bahwa penguatan Euro merupakan pilihan pasar yang percaya terhadap mata uang tersebut.

Nah, bagaimana dengan Rupiah?. Dalam beberapa hari perdagangan terakhir rupiah menunjukan tren penguatan walaupun masih cukup lamban. Pelemahan US Dolar sepertinya tidak serta merta akan diikuti oleh penguatan mata uang Rupiah.

Permintaan US Dolar yang cukup tinggi oleh pemerintah menjelang akhir bulan selalu berimbas negatif terhadap pergerakan Rupiah. Banyak kebutuhan strategis pemerintah di setiap akhir bulan dalam mata uang US Dolar yang selalu memberikan tekanan terhadap Rupiah.
Indonesia yang merupakan negara bukan sepenuhnya pengekspor minyak lagi tentunya membutuhkan banyak dana dalam US$ untuk memenuhi kebutuhan impor minyak dalam negeri. Apabila US Dolar terus menguat dan harga minyak kian tinggi seperti yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir, sudah pasti akan menambah beban pemerintah dan akan memperburuk APBN.

Perlukah risk aversion dalam pengelolaan cadangan devisa negara kita?, atau mungkinkah kita menggunakan mata uang dalam transaksi minyak dunia kita?. Pemerintah sejatinya harus bisa mempertimbangkan semua aspek terkait gejolak keuangan global akhir-akhir ini.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa jangan tempatkan semua telur dalam satu keranjang. Maka hendaknya pemerintah juga bisa bertindak arif dengan tidak menyimpan cadangan devisanya dalam satu mata uang saja. Karena, fundamental negara dimana mata uang tersebut diterbitkan akan sangat berpengaruh terhadap mata uangnya.

Sunday, November 18, 2007

Ancaman Inflasi Dunia

Medan Bisnis, 19 November 2007
Kenaikan harga minyak dunia telah membawa harga sejumlah kebutuhan pokok manusia kembali terancam naik. Ancaman tersebut terjadi dihampir seluruh belahan dunia dimana akan berdampak pada melambatnya laju pertumbuhan ekonomi dunia serta memperburuk jumlah angka kemiskinan dan pengangguran.

Negara yang tergabung dalam kelompok G-20 diperkirakan akan membahas permasalahan harga minyak dunia yang telah menjadi ancaman serius bagi terus meningkatnya tekanan inflasi. Kenaikan harga minyak telah memaksa sejumlah Bank Sentral di dunia akan menahan suku bunganya untuk menghindari meningkatnya laju tekanan inflasi, termasuk Indonesia.

Kebijakan tersebut tentunya akan membawa dampak negatif yang lebih luas bagi Indonesia sebagai negara berkembang yang justru membutuhkan akselerasi dalam pertumbuhan ekonomi guna mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. Sementara itu, China masih menjadi negara dengan tingkat inflasi tertinggi di dunia.

Ancaman inflasi yang semakin serius juga akan kian meningkat intensitasnya tatkala Amerika benar-benar menyerang Iran terkait dengan dugaan AS terhadap pembangkit reaktor nuklir Iran. Bahkan, banyak analis yang memperkirakan harga minyak dunia akan menyentuh level $200/barel apabila hal tersebut benar-benar terealisasi.

Kenaikan harga minyak dunia telah membawa biaya transportasi melambung tinggi dan membuat harga sejumlah komoditas seperti Gandum dan CPO (crude palm oil) naik secara sigfnifikan. Bahkan, produsen mie instant terbesar dunia PT. Indofood Sukses Makmur akan kembali menaikan harga mie untuk ketiga kalinya dalam enam bulan guna menutupi pembengkakan biaya yang disebabkan oleh kenaikan harga gandum.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia telah membawa sejumlah indeks bursa kembali turun. Hal tersebut juga berdampak bagi melemahnya nilai tukar rupiah yang kembali diperdagangkan melemah di level 9300-an. Melemahnya nilai tukar akan menambah beban pemerintah serta berpotensi membawa inflasi naik ke level yang lebih tinggi lagi, karena akan menambah biaya produk yang berbasis impor.

Beberapa masalah yang sangat mendasar dan mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia saat ini adalah ketegangan politik, perubahan iklim, krisis ekonomi di negara besar, kebutuhan minyak yang tinggi maupun tren pelemahan nilai tukar US Dolar. Dari sekian banyak alasan tersebut ketegangan politik serta resesi ekonomi (suprime mortgage AS) memberikan kontribusi paling besar bagi kenaikan harga minyak.

Selain itu, produksi minyak di sejumlah negara penghasil minyak juga belum mampu menjadi penahan terhadap volatilitas harga minyak dunia yang bergerak sangat liar belakangan ini. Hal tersebut dikarenakan produksi minyak belum mampu memenuhi kebutuhan minyak dunia yang terus meningkat secara signifikan.

Indonesia yang merupakan negara yang juga mengimpor minyak guna memenuhi kebutuhan minyak dalam negerinya tidak dapat mengelak bahkan terancam terpuruk. Hal tersebut dikarenakan asumsi harga minyak di APBN yang jauh lebih rendah dari harga di pasar global saat ini. Defisit APBN pun kian bertambah seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia. Namun, rasa nyaman di masyarakat muncul setelah pemerintah menekankan bahwa tidak akan terjadi kenaikan harga minyak dunia hingga tahun 2009 mendatang.

Akankah kita nyaman dengan pernyataan tersebut? Bisa Ya maupun Tidak. Karena pemerintah tentunya mempunyai alasan yang melandasi pernyataan tersebut. Bisa saja karena alasan finansial sampai ke alasan politis yang terkadang sulit diterima akal sehat.

Kalau Inflasi telah menjadi virus disejumlah negara di belahan dunia dan sulit untuk disembuhkan, maka keadaan tersebut sejatinya akan mempengaruhi kinerja ekonomi dalam negeri. Apabila negara tujuan ekspor Indonesia menjadi lamban pertumbuhan ekonominya karena kenaikan harga minyak, maka demikian pula akan terjadi perlambatan ekonomi Indonesia khususnya di bidang ekspor.

Demikian pula dengan impor, kenaikan harga minyak dunia juga akan turut mengurangi Impor Indonesia karena akan menambah laju tekanan Inflasi. Kalau sudah begini maka kenaikan harga minyak akan membuat sejumlah industri akan menurun kinerjanya atau bahkan bangkrut. Hal tersebut tentunya akan berkorelasi terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) yang akan menambah jumlah pengangguran dan angka kemiskinan.

Peluang US Dolar Melemah Terbuka Lebar

Medan Bisnis, 12 November 2007
Setelah sempat tertekan menyusul keputusan Bank Sentral Amerika yang memotong besaran suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4.5% pada saat ini, US Dolar diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada perdagangan ke depan seiring dengan tingginya harga minyak dunia yang turut diiringi dengan meningkatnya konsumsi minyak menjelang musim dingin tahun ini, serta pernyataan negara-negara eropa yang lebih confidence terhadap penguatan mata uang Euro seiring dengan tingginya harga minyak dunia saat ini.

Selain memutuskan pemotongan suku bunga 25 basis poin pada perdagangan kamis minggu kemarin, Bank Sentral Amerika juga memberikan sinyal pemotongan suku bunga lagi pada pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) awal Desember mendatang. Bahkan pasar berspekulasi bahwa akan terjadi pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin. Apabila pasar terus berkosentrasi pada hal tersebut, sudah tentunya US Dolar tidak akan menarik dan akan terus mengalami tekanan jual US$.

Dari sisi politis, pernyataan pemerintah Amerika yang akan terus menekankan akan tetap memberikan sanksi terhadap Iran. Pernyataan tersebut tentunya tidak akan memberikan kontribusi positif terhadap pasar finansial Amerika, dan mengabaikan buruknya kondisi perekonomian AS yang belum mampu menuntaskan krisis subprime-mortgage Amerika.

Beralih ke data Non Farm Payrolls (NFP) Amerika yang dirilis menguat pada jum'at minggu kemarin, data tersebut dirilis membaik - terjadi kenaikan jumlah tenaga kerja baru sebanyak 160.000 jiwa - dari bulan sebelumnya sebesar 110.000 jiwa. Namun, hal tersebut tidak menolong US Dolar dan belum akan merubah ekspektasi pasar yang secara keseluruhan masih meragukan perekonomian Amerika.

Sementara itu, Bank Sentral Inggris (BoE) dan Eropa (ECB) kembali mempertahankan besaran suku bunganya masing-masing di level 5.75% (BoE) dan 4% (ECB). Keputusan tersebut tentunya berdampak pada melemahnya mata uang US Dolar terhadap mata uang Euro dan GBP.

Namun, data terbaru yang dirilis pemerintah AS kamis malam kemarin menyebutkan bahwa defisit neraca perdagangan Amerika (trade balance) kembali turun hingga ke level terendah dalam 2 tahun terakhir. Defisit neraca perdagangan AS selama bulan September sebesar $56.5 Milyar dari bulan Agustus sebesar $56.8 Milyar atau turun sebesar 0.6%.

Membaiknya defisit tersebut dikarenakan terjadi penurunan suku bunga US Dolar yang diiringi dengan melemahnya mata uang US Dolar sebesar 8% terhadap sejumlah mata uang utama dunia lainnya. Melemahnya US Dolar akan membuat kinerja ekspor Amerika meningkat sehingga mampu mengurangi ketergantungan impor dari negara mitra dagang AS khususnya China.

Akan tetapi, data tersebut bukan jaminan bahwa US Dolar akan kembali menguat dalam beberapa waktu ke depan. Tren kenaikan harga minyak dunia yang turut diiringi dengan meningkatnya konsumsi serta tren pergerakan suku bunga negara eropa yang cenderung stabil akan memberi tekanan terhadap mata uang US Dolar.

Terlebih lagi apabila tren penurunan suku bunga The FED berlanjut. Maka hal tersebut akan memicu pertumbuhan ekonomi Amerika serta akan membuat kebutuhan akan minyak AS yang lebih besar lagi.

Dalam Negeri
Kembali ke dalam negeri, Badan Pusat Statistik kembali mengumumkan besaran inflasi selama bulan Oktober sebesar 0.79% minggu kemarin. Tingginya inflasi pada saat ini seiring dengan perayaan keagamaan membuat pasar ragu apakah akan terjadi penurunan suku bunga lagi dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI pada minggu ini.

Di tengah ketidak pastian ekonomi global saat ini, sangatlah tepat kiranya apabila BI menunda menurunkan suku bunga hingga akhir tahun. Hal tersebut cukup beralasan seiring dengan masih adanya perayaan keagamaan serta ketidakpastian mengenai gejolak harga minyak dunia yang diperkirakan masih akan terus mengalami kenaikan.

Kenaikan harga minyak dunia tentunya akan menambah defisit APBN karena hingga saat ini masih dipatok lebih rendah dari harga minyak sebenarnya. Bahkan kebijakan yang tidak populis (menaikan harga minyak domestik) kerap muncul ditengah menghangatnya suhu politik menjelang Pemilu tahun 2009.

Meskipun BI kerap menyatakan akan melihat tren pergerakan bunga The FED, namun hal tersebut tentunya tidak akan menjadi acuan mutlak untuk menentukan pergerakan BI rate. Interest rate differential antara BI rate dan The FED sudah melebar. Namun, beberapa faktor fundamental seperti tingginya inflasi dan harga minyak berpotensi memudarkan harapan akan terjadi penurunan suku bunga lagi.

Apabila dikaitkan dengan tujuan politis, pemerintah saat ini sepertinya akan memilih untuk tetap tidak menaikan harga minyak dalam negeri, karena akan memperburuk kinerja pemerintah di mata rakyat dan akan mempengaruhi proses pencalonannya pada pemilu yang akan datang.

Sunday, November 04, 2007

NFP membaik, FED Menunjukan Sikap

Medan Bisnis, 8 Oktober 2007
Pasar menyambut baik dirilisnya data NFP (Non Farm Payrolls) yang dirilis pemerintah AS hari Jumat kemarin dengan kembali memburu asset dalam US Dolar. Maklum data ketenagakerjaan tersebut direvisi lebih baik 10% (pertumbuhan 110.000 tenaga kerja baru) dari ekspektasi pasar sebelumnya sebesar 100.000 tenaga kerja baru. Sinyalemen pemotongan suku bunga oleh Bank Sentral AS pun berguguran.

Meski demikian tren pertumbuhan tenaga kerja di Amerika tidaklah menunjukan tren kenaikan. Selama tiga bulan terakhir rata-rata pertumbuhan tenaga kerja merealisasikan angka sebesar 96.000 jiwa, atau turun sebesar 25% dari rata-rata pertumbuhan tenaga kerja 3 bulan sebelumnya sebesar 126.000 jiwa.

US Dolar pun kembali menguat terhadap sejumlah rivalnya. Terutama terhadap mata uang Euro dan Yen Jepang. Data bloomberg menyebutkan bahwa US Dolar menguat sebesar 1.8% terhadap Yen Jepang diposisi 116.97, dan menguat sebesar 0.9% terhadap mata uang Euro di level 1.4136/US Dolar setelah sempat terpuruk di level 1.4283/US Dolar.

Selain itu, US Dolar juga menguat terhadap mata uang Poundsterling Inggris dalam sepekan ini. Keputusan Bank of Englad yang tetap mempertahankan besaran suku bunganya dikisaran level 5.75%. Keputusan BoE tersebut tidak berpengaruh banyak terhadap mata uang GBP, dimana pasar diperkirakan sudah mengantisipasi sebelumnya. Memburuknya kinerja ekonomi di sektor perumahan masih menjadi kekhawatiran pelaku pasar untuk terus mengkoleksi asset dalam mata uang GBP.

Namun, US Dolar kembali melemah terhadap mata uang Aussie (Australian Dolar). Namun, menguatanya AUD lebih dikarenakan sejumlah faktor teknikal, dan hanya sedikit terdorong oleh keputusan Bank Sentral Australia (RBA) yang masih tetap mempertahankan besaran suku bunganya dikisaran level 6.5%.

Meski demikian, penguatan US Dolar diperkirakan tidak akan bertahan lama, karena secara keseluruhan data perekonomian AS masih menunjukan tren negatif. Data Non Farm Payrolls AS menyisakan bahwa unemployment rate masih menunjukan tren kenaikan dan saat ini berada dikisaran level 4.7%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa "krisis" yang dikhawatirkan seperti sekarang ini hanyalah masalah waktu. Walalupun tetap tercipta pertumbuhan peluang kerja di Amerika, namun pertumbuhan tersebut belum dapat mengimbangi laju pertumbuhan para pencari kerja baru.

Harga Minyak Dunia
Sementara itu, harga minyak dunia kembali turun seiring dengan pengumuman pemeritah Amerika mengenai data ketenaga kerjaan yang direvisi membaik. Hal tersebut berdampak pada pudarnya ekspektasi bahwa The FED akan kembali memotong suku bunganya sekali lagi dalam tahun ini. Sebelumnya harga minyak dunia mengalami lonjakan hingga di atas $80/barel setelah Bank Sentral Amerika memotong besaran suku bunganya sebesar 50 basis poin.

Hal tersebut mendukung asumsi yang menyebutkan bahwa roda perekononomian Amerika akan kembali tumbuh dan berimbas pada meningkatnya konsumsi bahan bakar guna menggerakan perekonomian Amerika, sehingga mempengaruhi peningkatan permintaan terhadap minyak dunia. Selain itu, harga komoditas dunia diperdagangkan dalam mata uang US Dolar, sehingga pelemahan pada mata uang akan berdampak sebaliknya terhadap harga komoditas.

Walaupun sejauh ini harga minyak dunia masih mengalami tren kenaikan, namun laju penguatan harga minyak tersebut diperkirakan tidak akan mengalami laju kenaikan yang ekstreem seiring dengan keputusan OPEC (Organization of Petrolium Exporting Countries) yang akan menambah jumlah output sebanyak 500.000 barel perhari guna mengantisipasi meningkantnya laju permintaan minyak dunia. OPEC saat ini men-supply 40% terhadap kebutuhan minyak Global.

Wednesday, October 03, 2007

Event Penting Penggerak Pasar

Medan Bisnis, 01 Oktober 2007
Dalam minggu ini, banyak sekali event (data ekonomi) penting yang mampu menjadi motor utama penggerak pasar. Sejumlah Bank Sentral seperti RBA (Reserve Bank of Australia), BoE (Bank Of England) dan ECB (Europe Central Bank) dijadwalkan akan mengumumkan besaran suku bunganya. Selain itu ada data Non-Farm Payrolls Amerika yang akan dirilis pemerintah AS pada akhir minggu ini.

Dari sekian banyak even penting tersebut, belum bisa dipastikan manakah even yang akan menjadi penolong bagi US Dolar untuk kembali menguat terhadap semua rivalnya. Tren pelemahan US Dolar diperkirakan masih akan menjadi tema dalam perdagangan beberapa hari ke depan dalam minggu ini.

Bank Sentral Amerika yang telah menurunkan suku bunganya diperkirakan tidak akan mempengaruhi Bank Sentral Inggris dan Eropa yang justru masih berkonsentrasi pada masalah tingginya inflasi. Dari dua Bank Sentral tersebut tentunya bisa diperkirakan tidak akan terjadi penurunan suku bunga. Meski demikian sempat beredar rumor dikalangan pelaku pasar bahwa akan terjadi pemotongan suku bunga oleh Bank Sentral Inggris.

Nah, US Dolar tentunya akan sangat bergantung pada data Non-Farm Payrolls (NFP) yang akan memberikan andil besar bagi pergerakan US Dollar nantinya. Walaupun sempat di revisi turun, namun, belum bisa ada yang memastikan apakah data tersebut nantinya akan direvisi lebih baik.

Selain NFP, pada tanggal 01 Oktober mendatang, pemerintah Amerika juga akan merilis ISM (Institute for Supply Management) Manufacturing. Data tersebut merupakan indeks sektor manufaktur, dimana angka 50 akan menjadi indikator bahwa secara keseluruhan ekonomi di sektor manufaktur Amerika mengalami kenaikan (expanding). Sementara, angka di bawah 50 akan memberikan gambaran sebaliknya. Data tersebut masih menunjukan performa yang baik (diatas 50 sejak bulan Februari lalu).

Sementara itu, RBA atau Bank Sentral Australia diragukan apakah akan memotong besaran suku bunganya yang saat ini masih bertengger di level 6.5%. Meski demikian banyak pelaku pasar yang berasumsi bahwa RBA akan mengikuti langkah The FED. Mata uang AUD (Australian Dolar) diperkirakan akan bergerak dalam range yang sempit menjelang pemutusan suku bunga oleh RBA pada hari selasa besok.

Kembali ke Indonesia, BI diperkirakan akan kembali menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 8% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI minggu depan. Hal tersebut sangat dimungkinkan karena sangat diuntungkan oleh penguatan Rupiah dan IHSG yang cukup tajam akhir-akhir ini.

Pelemahan US Dolar yang turut diiringi sinyal akan tetap diturunkannya The FED Fund Rate (suku bunga $) di tahun ini memberikan peluang yang cukup besar bagi Bank Indonesia untuk kembali menurunkan BI rate. Akan tetapi, keputusan BI tersebut nantinya akan melihat besaran inflasi selama bulan September yang akan dirilis oleh Biro Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 01 Oktober mendatang.

Meski demikian ada beberapa faktor yang dapat dapat menopang keputusan BI dalam menurunkan suku bunga. Diantara yakni : tingginya cadangan devisa (51,4 Milyar US Dolar / 31 Agustus 2007), tren penurnan suku bunga global, penguatan nila tukar rupiah dan IHSG serta relatif terkendalinya Inflasi walaupun sempat terjadi kenaikan terhadap harga sejumlah bahan makanan.

Sehingga, dengan membaiknya indikator ekonomi tersebut dapat mereduksi kemungkinan-kemungkinan negatif yang dapat ditimbulkan oleh penurunan BI rate nantinya, termasuk depresiasi terhadap nilai tukar rupiah, maupun terhadap permintaan akan surat utang Negara.