Tuesday, December 04, 2012

Bukan Hanya Rancangan(RAPBN), Yang Lebih Penting Implementasinya


Medan Bisnis, 27 Agustus 2012
Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2013 telah disampaikan oleh presiden SBY hanya beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri. Yang bila ditarik kesimpulan adalah pemerintah masih mengedepankan belanja dalam negeri (domestik) seiring dengan belum pulihnya kinerja perekonomian di luar.
Defisit anggaran yang ditetapkan pemerintah masih relatif kecil yakni 1,6% dari PDB.
Di tahun 2012 defisit anggaran ditetapkan sebesar 2.23%. Dalam penentuan defisit sering terjadi permasalahan di penyerapan anggaran yang sangat lemah. Hal tersebut tentunya menjadi pertanyaan besar, dimana posisi pemerintah sebenarnya?. Anggaran yang telah ditetapkan ternyata tidak mampu dikelola dengan baik sehingga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi tidak berjalan dengan optimal.
Besaran defisit memiliki beban bunga yang harus di bayar. Jika hutang yang digunakan untuk membangun negeri ini telah diterima namun penyerapannya tidak optimal, maka sudah pasti yang ada hanya beban pembayaran bunga maupun pokok, namun kita sama sekali tidak menikmati hasil dari anggaran tersebut. Sehingga cukup realistis bahwa defisit memang seharusnya diturunkan.
Hanya saja, defisit tersebut bisa saja membengkak di tengah jalan bila nantinya terjadi permasalahan geo politik di timur tengah yang hingga saat ini masih hangat-hangatnya. Bila pemerintah tidak segera menaikkan harga BBM (mengurangi subsidi), maka besar peluang APBN kita di masa yang akan datang akan mengalami kebocoran.
Walaupun sejauh ini harga minyak relatif stabil dan memiliki kecenderungan turun. Namun kita tidak boleh terlena karena ada sejumlah faktor lain yang bisa saja dengan tiba-tiba mengejutkan harga minyak. Walaupun di tahun 2013 mendatang sejumlah negara besar masih akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan, bukan berarti harga minyak yang memiliki porsi besar dalam anggaran negara kita tidak akan mengalami kenaikan. Sejumlah kejutan bisa saja terjadi dan itu mutlak untuk di waspadai.
Bila melihat asumsi pertumbuhan ekonomi di tahun 2013 yang sebesar 6.8% hingga 7.2%, besar kemungkinan asumsi tersebut dapat direalisasikan. Dengan anggaran belanja infrastruktur yang besar yang ditujukan dengan proyek MP3EI, maka sangat mungkin kita dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di tahun 2013 mendatang. Walaupun sejumlah negara negara didunia tengah menghadapi resesi yang berkelanjutan.
Besaran laju inflasi dan nilai tukar Rupiah yang masing-masing di asumsikan sebesar 4.9% dan Rp.9300/US$ juga realistis. Meskipun nilai tukar Rupiah memiliki tren penguatan nantinya terhadap US Dolar, namun penguatan Rupiah seharusnya tidak begitu signifikan terhadap mata uang asing guna menciptakan kestabilan moneter.
Sementara itu laju inflasi yang sebesar 4.9% seharusnya mampu untuk terus di tekan. Inflasi harus didorong lebih dalam lagi dengan perbaikan infrastruktur maupun infrastruktur pendukung lainnya yang memudahkan kelancaran barang maupun meningkatkan iklim investasi. Angka 4.9% yang ditetapkan oleh pemerintah sepertinya merupakan asumsi yang telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan tarif dasar listrik maupun harga BBM di tahun 2013 mendatang.
Dalam RAPBN 2013 pemerintah telah menetapkan sejumlah prioritas. Priotitas tersebut adalah reformasi birokrasi dan tata kelola, pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan, infrastruktur, iklim investasi dan usaha, energi, lingkungan hidup dan pengelolaan bencana, daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pasca konflik serta kebudayaan, kreativitas dan inovasi teknologi.
Dari sekian banyak rencana pemerintah tersebut, yang paling penting adalah tahapan implementasinya. Implementasi disini berarti APBN benar-benar difungsikan secara optimal. Masalah penyerapan anggaran yang rendah ataupun penggunaan anggaran yang tidak semestinya seharusnya mampu dikontrol dan diminimalisir.
RAPBN 2013 secara keseluruhan memang realistis. Namun, bukan jaminan bahwa kelanjutan pembangunan di negeri ini akan sesuai dengan sejumlah asumsi yang ditetapkan. Ada banyak faktor baik eksternal dan internal. Sebagus apapun RAPBN tidak akan berarti apa-apa bila impelementasi di lapangan tidak optimal.

Pertumbuhan Ekonomi SUMUT Tertekan Hingga Akhir Tahun 2012

Medan Bisnis, 13 Agustus 2012

PDRB (Produk Somestik Regional Bruto) Sumatera Utara semester I tahun 2012 atas dasar harga konstan 2000, meningkat sebesar 6,30 persen. Kenaikan tersebut jelas lebih kecil dari PDRB untuk semester yang sama tahun 2011 silam. Bila dibandingkan dengan semester I tahun 2011, maka pertumbuhan ekonomi Sumut pada tahun ini lebih kecil karena pada semester I tahun 2011, pertumbuhan ekonomi Sumut mampu mencapai 6,54 persen. Sektor konsumsi masih menjadi basis utama pertumbuhan ekonomi SUMUT.

Kondisi serupa juga terjadi untuk perekonomian nasional yang juga ditopang oleh konsumsi domestik. Sementara laju ekspor SUMUT terus mengalami tekanan dari sisi permintaan. Hal itu terjadi karena SUMUT merupakan wilayah yang unggul dengan sektor pertaniannya. Dan sejumlah komoditas seperti sawit, karet dan kopi menjadi komoditas ekspor yang sangat bergantung dari sisi permintaan Negara luar. 

Untuk sawit, permintaan akan sawit dunia (CPO) masih didominasi oleh dua Negara besar seperti China dan India. Negara yang menjadi pembeli CPO kita adalah Uni Eropa, Amerika serikat dan sejumlah Negara di kawasan amerika latin lainnya. Sejauh ini China dan India terus mengalami pertumbuhan ekonomi yang menurun. Menurunnya pertumbuhan ekonomi tersebut membuat permintaan akan CPO juga akan mengalami penurunan pula.

Harga CPO di pasaran internasional telah mengalami penurunan harga sebesar 4,9% dalam kurun waktu setahun terakhir. Dan dalam kurun waktu 4 bulan terakhir harga CPO telah mengalami penurunan sebesar 5,1%. Harga CPO saat ini berada dikisaran Rp. 7.800/Kg nya. Sehingga wajar bila PDRB SUMUT juga mengalami penurunan yang serupa di semester 1 tahun 2012 ini.

Selain sawit, harga karet yang mengalami penurunan paling tajam. Pelemahan ekonomi dunia yang cukup signifikan membuat permintaan akan karet mengalami penurunan yang cukup signifikan pula. Saat ini harga karet di pasaran internasional di perdagangkan di harga Rp.33.500/Kg. Atau dalam setahun terakhir harga karet telah mengalami penurunan sebesar 22.6%, dan dalam kurun waktu 4 bulan terakhir telah turun sebesar 6.2%.

Karet mengalami penurunan yang sangat tajam, karena karet bukan menjadi bahan kebutuhan penting bagi masyarakat luar. Sehingga harga karet mengalami kejatuhan yang dalam bila dibandingkan dengan penurunan harga sawit. Kondisi ini akan berlangsung setidaknya hingga akhir tahun 2012 nanti. Sawit akan mengalami penurunan harga mengingat musim panen masih akan terus berlangsung hingga bulan oktober mendatang.

Sementara baik karet dan sawit juga harus menunggu proses penyelesaian krisis di sejumlah Negara maju yang sejauh ini masih mengalami krisis yang belum berkesudahan. Akan tetapi, sekalipun nantinya harga sawit mengalami kenaikan, namun produksi jelas akan menyusut setelah panen raya. Sehingga PDRB SUMUT tidak akan jauh beranjak dari levelnya saat ini dan bahkan berpeluang kembali tertekan hingga akhir tahun ini.

Satu hal yang bisa mengurangi bebannya adalah terjadinya pelemahan mata uang Rupiah terhadap Dolar. Pelemahan Rupiah akan membuat nilai ekspor membengkak dan akan berpotensi membuat PDRB SUMUT membaik. Namun, kemana Rupiah nantinya bergerak?. Berbagai langkah telah diambil Bank Indonesia maupun pemerintah untuk menahan pelemahan rupiah.

Namun, rupiah tak kunjung menguat. Sejauh ini Rupiah masih bertahan di kisaran 9400 – 9500. Sejauh ini langkah yang diambil pemerintah lebih menekankan agar Rupiah tidak melemah terlalu dalam. Sehingga peluang Rupiah melemah dari kisaran 9500 akan sulit tercapai. Inilah yang membuat nilai ekspor SUMUT nantinya tidak akan banyak berubah dari realisasi sebelumnya. Kecuali faktor konsumsi yang terus di pacu.

Namun, setelah Idul Fitri tentunya konsumsi setelah perayaan keagamaan akan kembali bergerak netral. Tanpa ada perayaan keagamaan lain maka besar kemungkinan sumbangan konsumsi dalam pembentukan PDRB akan berkurang. Sehingga SUMUT masih harus bekerja lebih keras lagi untuk meningkatkan PDRB nya hingga akhir tahun nanti.

Pempropsu Tidak Perlu Menjual Saham Bank SUMUT

Medan Bisnis, 6 Agustus 2012 Terkait dengan peraturan Bank Indonesia NOMOR 14/8/PBI/2012 Tentang Kepemilikan Saham Bank Umum, muncul sejumlah argumen yang menyatakan bahwa Pemerintah Propinsi Sumatera Utara harus melepas kepemilikannya. Dari semula yang sebesar 58%, harus dilepas sebagian hingga menjadi 40% terkait dengan aturan kepemilikan Saham Bank Umum yang belum lama ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Menurut penulis itu merupakan pemahaman yang keliru. Memang aturan dari Bank Indonesia mensyaratkan batas kepemilikan maksimal sebesar 40% bagi badan hukum lembaga keuangan (Bank dan Bukan Bank). Sehingga banyak yang beranggapan bahwa Pemerintah Propinsi Sumatera Utara harus melepas 18% dari saham yang dimilikinya saat ini yang sebesar 57% di Bank SUMUT. Pempropsu tidak harus mengikuti argumen tersebut. Kenapa?. Karena jelas dalam pasal 17 peraturan Bank Indonesia NOMOR 14/8/PBI/2012 disebutkan bahwa : Bagi Pemerintah Daerah yang telah memiliki saham Bank Pembangunan Daerah tidak wajib menyesuaikan dengan batas maksimum kepemilikan saham. Jadi jelas Pemerintah Propinsi Sumatera Utara tidak perlu repot-repot menjual 18% saham yang dimilikinya di Bank SUMUT. Aturan batas kepemilikan saham Bank tersebut juga masih bisa ditingkatkan hingga 99% bila Bank yang dikelola oleh pemegang saham tersebut masuk dalam kategori kesehatan Bank yang di tetapkan oleh Bank Indonesia. BI mensyaratkan kondisi kesehatan Bank minimal berada di level 2 atau yang setara dengannya. Sehingga bila Bank tersebut kondisi kesehatannya masuk dalam kategori lebih rendah, maka pemegang saham mayoritas harus mengurangi saham yang dimilikinya tersebut. Kalaupun seandainya itu terjadi pada Bank SUMUT, maka pasal 18 Peraturan Bank Indonesia NOMOR 14/8/PBI/2012 menjelaskan bahwa : Dalam hal Bank Pembangunan Daerah memperoleh penilaian Tingkat Kesehatan Bank dan/atau penilaian GCG dengan peringkat 3 (tiga), 4 (empat), atau 5 (lima) dan memerlukan tambahan modal maka: a. penambahan modal diutamakan berasal dari investor yang tidak terkait dengan Pemerintah Daerah; dan b. Pemerintah Daerah dapat tetap mempertahankan kepemilikan Pemerintah Daerah sebagai pemegang saham mayoritas. Jelas bahwa sekalipun tingkat kesehatan Bank SUMUT turun, bukan berarti bahwa pemerintah propinsi sumatera utara harus kehilangan kendali atas Bank yang telah dimilikinya tersebut. Sekali lagi, Pak Gatot Pujonugroho selaku Plt GUBSU tidak perlu mengkhawatirkan aturan kepemilikan Bank yang dibuat oleh Bank Indonesia yang efektif tgl 13 Juli kemarin. Sehingga anggapan maupun asumsi yang pernah beredar dimasyarakat perlu untuk diluruskan. PBI yang baru untngkan Bankir Asing Atran kepemilikan Bank yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia baru-baru ini memang secara jelas lebih menguntungkan Bankir Asing. Di singapura, bank-bank lokal kesulitan untuk membangun cabang maupun kantor perwakilan. Padahal di Indonesia Bank-Bank singapura dapat dengan mudah untuk melebarkan bisnis dan mencari keuntungan di Indonesia. Asas resiprokal yang sebelumnya diharapkan dapat diterapkan ternyata tidak membuat Bank Indonesia lebih memihak kepada Bankir lokal. Asumsi yang berkembang adalah kemungkinan Bank lokal “dipaksa” agar levbih mampu bersaing guna menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah tidak lama lagi akan di berlakukan. Dalam kategori tertentu, Bank-bank yang memiliki tingkat kesehatan tertentu akan dapat melebarkan sayapnya (beroperasi) ke sesama Negara anggota ASEAN. Sehingga sangat penting untuk tetap memacu Perbankan lokal agar bersaing di kancah ASEAN. Mengingat sejauh ini, Perbankan kita memiliki tingkat persaingan yang buruk bila dibandingkan dengan Bank Asing. Selain itu, ada kecenderungan Bank-Bank besar nasional membuat semacam “kartel” bunga sehingga belum tercipta persaingan yang baik antar sesama Bank di Indonesia. Perbankan kita membutuhkan terapi kejut agar tidak terlena dengan hanya mengedepankan laba Bank tanpa memperdulikan proses intermediasi yang lebih baik.

Mahalnya Kedelai Bukti Kita Semakin Sejahtera

Medan Bisnis, 30 juli 2012 Di minggu awal bulan Ramadhan ini, selain kenaikan harga bahan pokok yang telah membuat laju inflasi meningkat. Saat ini kita tengah dihadapkan oleh kenaikan harga kedelai yang berujung pada mogoknya sejumlah industri pengolahan tahu dan tempe. Kalaupun ada porduk olahan kedelai dipasaran, maka bisa dipastikan harganya meningkat atau bilapun harganya sama besar kemungkinan kuantitasnya lebih kecil dari biasanya. Sebuah ironi, disaat semua orang setuju bahwa Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alam, masalah permintaan kedelai yang ternyata tidak mampu memenuhi permintaan masyarakatnya menjadi pertanyaan besar. Kemana kedelai yang dihasilkan oleh petani. Dan mengapa justru kita mengimpor kedelai untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri. Disini membuktikan bahwa kita belum mampu menjadi Negara swasembada kedelai yang mampu memenuhi kebutuhan kedelai sekitar 2 juta ton setiap tahunnya. Banyak komentar yang terus bermunculan, banyak yang sependapat bahwa Negara kita kurang peduli dengan para petani kedelai, infrastruktur maupun masalah lain seperti tata niaga kedelai yang dinilai hanya menguntungkan para tengkulak atau makelar. Terlepas dari itu semua, permasalahan harga kedelai yang naik dari harga Rp.5.500,- per Kg menjadi sekitar Rp.8.000 per Kg merupakan bukti akan membaiknya kondisi perekonomian masyarakat kita. Kita tentunya sangat gembira mendengar bahwa ekonomi Indonesia tetap tumbuh meskipun Negara maju tengah dilanda krisis yang belum berkesudahan. Bila kita belajar ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi itu identik dengan membaiknya daya beli masyarakat. Kesehatan, konsumsi maupun pendidikan turut menjadi tolak ukur suatu Negara apakah dinilai dalam tahapan kemajuan atau justru sebaliknya. Indonesia yang PDB nya masih membukukan angkan pertumbuhan 6% lebih membuktikan bahwa ada perbaikan dalam pola maupun gaya hidup masyarakat kita. Yang pasti perubahan tersebut tentunya ke arah yang lebih baik dimana masyarakat kita memiliki perubahan daya beli yang lebih mumpuni. Konsekuensinya adalah pola konsumsi pun meningkat termasuk konsumsi produk olahan kacang kedelai. Tempe, Tahu merupakan produk olahan yang sering kita temui di masyarakat kita. Produk olahan kedelai tersebut rasanya enak, terjangkau, merakyat dan begitu banyak manfaatnya. Sehingga kenaikan kacang kedelai jelas membuat banyak pihak yang terlibat didalamnya merasa dirugikan. Padahal bila dilihat lebih dalam lagi kenaikan harga kedelai seharusnya menjadi suatu hal yang wajar. Mengapa?, pertama daya beli masyarakat kita yang terus membaik. Membaiknya daya beli masyarakat selalu berbanding lurus dengan pola konsumsinya yang juga meningkat. Yang bisa dipastikan bahwa terjadi kenaikan pola konsumsi terhadap sejumlah makanan olahan kacang kedelai tentunya. Bila permintaan naik namun persediaannya tetap atau stabil maka bisa dipastikan harganya naik. Bukankah dengan membaiknya daya beli masyarakat kita yang tinggi maka sudah sepantasnya kacang kedelai mengalami kenaikan harga. Seperti kenaikan harga kebutuhan lainnya yang saban tahun mengalami kenaikan namun tidak seheboh yang dibicarakan. Pertumbuhan ekonomi selalu diikuti oleh laju inflasi yang tinggi. China, India maupun Indonesia merupakan contoh nyata dimana pertumbuhan ekonminya yang fantastis tetap dibarengi dengan tingginya laju inflasi. Sehingga tingkat keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi itu sendiri akan mencapai titik keseimbangan dengan tingginya laju inflasi. Kalau inflasi tidak mengurangi laju pertumbuhan ekonomi, bisa dipastikan Negara tersebut menuju kemakmuran yang pesat. Untuk permasalahan kedelai kita mengilustrasikannya dengan harga kedelai tetap stabil meskipun terjadi permintaan kenaikan kedelai. Bisa saja terjadi bila hanya persediaan kedelai selalu mampu mengimbangi kebutuhan kedelai itu sendiri. Mungkinkah?, sangat jauh dari kemungkinan, karena jumlah petani, jumlah lahan harus bertumbuh sesuai dengan pertumbuhan ekonomi dan harus menyesuaikan dengan pertumbuhan penduduk. Yang terjadi adalah lahan pertanian semakin menyempit, dan ekonomi suatu Negara pun lebih cenderung ke arah industrialisasi. Konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan harga barang itu sendiri. Bila kita tidak mengharapkan adanya kenaikan harga barang, maka tidak sepantasnya kita mengharapkan sebuah kemakmuran. Namun, semestinya kita mampu menciptakan sebuah kenaikan harga barang yang wajar dengan memperbaiki sejumlah permasalahan yang menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi di negeri ini

Mengendalikan Inflasi Yang Liar

Medan Bisnis, 23 Juli 2012 Sudah tak terelakan lagi, dihampir setiap perayaan keagamaan harga barang-barang kebutuhan pokok selalu merangkak naik. Kenaikan Sembako saat ini bagaikan sebuah ironi masyarakat yang seharusnya justru tidak terjadi khususnya di saat menjelang bulan Ramadhan. Di saat seharusnya kita mengendalikan hawa nafsu, semestinya konsumsi lebih dapat dikendalikan. Namun apa daya konsumsi yang tinggi selama bulan Ramadhan bagaikan sebuah Ideologi yang sulit untuk dihilangkan dari pola pemikiran masyarakat kita. Pemerintah dan masyarakatpun saling menyalahkan. Pedagang besar dijadikan kambing hitam akan mahalnya harga kebutuhan pokok saat ini. Padahal sederhananya adalah bila jumlah pasokan tetap atau turun namun permintaan barang naik, maka harga barang akan bergerak naik, dan sebaliknya. Paradigma itu sebenarnya merupakan teori yang umum yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, yang menjadi esensi masalah dari melambungnya harga barang saat ini adalah masalah kebutuhan yang tinggi disaat ramdhan datang. Pola konsumsi yang berubah tersebut dari hari biasanya dengan mudah dimanfaatkan oleh sejumlah pedagang untuk menaikan harga. Inilah anomali yang seharusnya kita pahami dan sudah tidak semestinya terjadi secara terus-menerus dan berlangsung sudah sekian lama. Bila di Amerika Serikat, permasalahan Inflasi selalu bisa dikendalikan dengan pengendalian moneter. Di Indonesia pengendalian Inflasi tidak terlepas dari semua elemen yang membentuk kenaikan harga itu sendiri. Dan penanganannya menjadi kepentingan banyak pihak yang ikut dilibatkan. Untuk mengatasi Inflasi yang terjadi karena permintaan tinggi di saat hari-hari khusus bila dilakukan dengan beberapa cara yaitu : Berkoordinasi dengan sejumlah pedagang besar yang menjadi pemasok barang di dalam suatu wilayah. Pemerintah seharusnya mampu mengidentifikasi jumlah pasokan serta kebutuhan masyarakat kita dalam suatu periode tertentu. Dan bila ternyata kebutuhan jauh lebih besar dari persediaan, pemerintah dapat melakukan antisipasi segera dengan membeli barang kebutuhan tersebut baik membeli ke daerah lain atau membuka kran Impor. Selanjutnya barang tersebut digunakan untuk operasi pasar. Namum bila kebutuhan tersebut sangat berkaitan dengan komoditas ekspor yang harganya lebih mahal dari harga di dalam negeri. Maka kebijakan fiskal berupa pengendalian pajak atau bea keluar menjadi pilihannya. Memberikan pengawasan serta aturan yang ketat terhadap peredaran barang tersebut serta memberikan perhatian serius terhadap sejumlah pedagang besar. Bentuk teguran atau sanksi terhadap pedagang nakal yang terbukti menimbun menjadi pilihan guna menstabilkan harga dalam jangka pendek. Berkoordinasi dengan sejumlah korporasi seperti BUMN untuk melakukan kegiatan oprasi pasar guna membantu masyarakat yang kesulitan seiring dengan tingginya harga barang. Sejumlah korporasi tersebut dapat melakukan kegiatan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) di saat harga barang merangkak naik. Peningkatan peran korporasi dalam CSR merupakan salah satu bentuk kepedulian korporasi terhadap masyarakat. Edukasi ke masyarakat akan pentingnya esensi nilai dari hari-hari penting tersebut bila dibandingkan dengan sekedar perayaannya. Himbauan bahwa pentingnya ibadah itu terletak dari niat dan sesuai dengan kaidah yang berlaku. Ibadah seharusnya terlepas dari bentuk selebrasi atau perayaan yang semestinya tidak perlu dilakukan. Karena selebrasi tersebut sangat identik dengan konsumsi yang memicu kenaikan harga yang nantinya akan menyulitkan kita sendiri. Untuk mengantisipasi laju inflasi dalam jangka panjang adalah dengan memperbaiki infrastruktur. Infrastruktur yang buruk selalu menjadi biang keladi terhadap tingginya biaya yang harus dikeluarkan dalam lalu lintas barang. Sealin infrastruktur, pemerintah daerah harus mampu membentuk kelompok masyarakat petani yang akan memasok kebutuhan sembako di daerahnya masing-masing. Dengan pendekatan jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk itu sendiri maka seharusnya kebutuhan sembako dapat dipenuhi dengan menyesuaikan jumlah petani yang ada di dalam suatu wilayah. Dalam hal ini suatu daerah seharusnya menjadi daerah yang mandiri dalam kedaulatan pangan. Bila daerah tersebut merupakan perkotaan maka infrastruktur yang baik menjadi sangat vital. Karena daerah tersebut umumnya bergantung dari daerah lain yang surplus kebutuhan pokok. Dan yang tak kalah penting adalah edukasi dini kemasyarakat tentang pentingnya berperilaku konsumtif yang rasional. Pendekatan seperti ini seharusnya dilakukan sejak kita duduk dibangsuk sekolah dasar.

Tidak Selamanya Kita Kalah Dari Negara Tetangga

Medan Bisnis, 16 juli 2012 Tak lama lagi, tahun 2015 sistem ekonomi negara ASEAN akan tergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dan sejauh ini kita memiliki prestasi yang amat buruk dalam hal investasi bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Singapura dan sejumlah negara ASEAN lainnya. Industri di negara kita tidak sepenuhnya mampu bersaing bila dibandingkan dengan industri negara-negara tetangga kita. Terbukti, meskipun Blackberry memiliki pangsa besar di Indonesia. Namun, pada faktanya Indonesia tidak mampu memikat produsen Blackberry tersebut yang justru lebih memilih membangun pabriknya di Malaysia. Dari masalah Balckberry tersebut terlihat kita kalah menarik bila dibandingkan dengan Malaysia. Ada yang salah tentunya dengan negara kita ini bila dibandingkan dengan Malaysia. Yang pasti permasalahan terkait dengan investasi di dalam negeri jauh lebih buruk bila dibandingkan dengan investasi dari negara jiran tetangga. Kepastian hukum, infrastruktur dan sumber daya manusia masih menjadi masalah klasik di negeri ini yang tak kunjung mampu diselesaikan oleh pemerintahan kita. Bila melihat indikator tersebut jelas kita jauh berbeda dibandingkan Negara tetangga, dan kita memiliki prestasi yang jauh lebih jelek dibandingkan dengan Negara tetangga. Bila demikian faktanya, maka di tahun 2015 mendatang, bila ada seorang pengusaha asal Indonesia berniat untuk membangun sebuah industri. Maka bisa saja pengusaha tersebut justru memilih untuk membangun industrinya di Negara tetangga dibandingkan dengan membangun industrinya di negeri sendiri. Karena di Negara sebelah kita di fasilitasi dengan segala bentuk kemudahan yang ditawarkan. Konsekuensinya adalah bahwa potensi penciptaan lapangan kerja baru justru tercipta di negeri tetangga walaupun pencipta lapangan usaha tersebut justru datang dari Indonesia. Bila berbicara dalam konteks pembangunan ekonomi kita tentunya kalah bila dibandingkan dengan Negara tetangga. Namun apa yang menjadi kelebihan kita bila dibandingkan dengan Negara tetangga kita sendiri? Walaupun sejauh ini Malaysia memiliki semua kebutuhan dasar yang dimiliki guna menopang perekonomiannya. Namun sejumlah Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand tetap memiliki kelemahan disisi lain bila dibandingkan dengan Indoenesia. Salah satu kelemahan yang mereka miliki adalah demokrasi. Kita jauh lebih baik bila dibandingkan dengan Negara tetangga untuk urusan yang satu ini. Setidaknya kita lebih unggul dari dua Negara yaitu Thailand dan Malaysia. Walaupun tidak berkorelasi secara langsung, namun demokrasi merupakan bentuk kedewasaan yang mampu menstabilkan kondisi politik dan keamanan yang tercipta di negeri ini. Di Malaysia dan Thailand, demokrasi masih belum berkembang secara baik dan Negara lebih dikendalikan dengan cara yang otoriter. Seperti di Era 90-an dimana saat itu kita disebut sebagai “Macan Asia” di era kepemimpinan presiden Suharto. Ada kecenderungan yang sama yaitu Negara lebih mudah dikendalikan dengan pola kepemimpinan Pak Suharto tersebut. Terlebih juga dengan masalah investasi di Indonesia. Walaupun ada sejumah masalah lain yang kita nilai sebagai sebuah pelanggaran yang terjadi. Malaysia dan Thailand tidak jauh berbeda dengan demokrasinya bila dibandingkan dengan era awal tahun 90-an di Indonesia. Walaupun sebenarnya Thailand lebih baik dibandingkan dengan Malaysia. Ada bom waktu yang bisa saja meledak bila Malaysia dan Thailand tidak segera menjadikan negaranya murni sebagai Negara Demokrasi. Di Bumi ini, tidak ada Negara yang kebal terhadap krisis ekonomi. Bila mengacu pada keyakinan tersebut maka baik Malaysia dan Thailand juga tetap berpeluang menjadi Negara yang masuk dalam kubangan krisis. Belajar dari pengalaman Indonesia yang masuk dalam kubangan krisis, dimana saat itu terjadi revolusi besar-besaran yang terjadi di negeri ini. Tingkat kamanan yang sangat kacau di tahun 97-an membuat masyarakat Indonesia kehilangan pekerjaan. Industri di Negara kita hancur dan itu dicatatkan sebagai sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Kita tentunya tidak mengharapkan itu terjadi di Malaysia, walaupun sebenarnya kita bisa saja diuntungkan dengan kondisi yang tidak beruntung dari negeri tetangga. Disaat terjadi pergeseran pemerintahan di Thailand dengan cara-cara kudeta, sejumlah Negara tetangga Thailand termasuk Indonesia di gadang-gadang mendapatkan keuntungan dengan beralihnya sejumlah investasi yang mengalir kenegara tetangga Thailand. Namun, kemungkinan krisis tersebut kecil kemungkinan terjadi bila berkaca pada peforma ekonomi kedua Negara saat ini. Namun, seharusnya kedua Negara yang menjadi pesaing berat Indonesia dalam hal ekonomi tersebut seharusnya belajar dari pengalaman yang di alami Indonesia. Kalau dibandingkan dengan Singapura, maka kita masih kalah dalam hal investasi. Namun, Singapura justru kesulitan untuk membangun perekonomiannya karena minimnya luas lahan yang tersedia di Singapura. Namun, kita tidak seharusnya mengharapkan kelemahan di setiap Negara tetangga terjadi, dan menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan. Sebaiknya kita tetap fokus terhadap permasalahan yang menjadi penghambat investasi bagi perkembangan industri di Negara kita. Mengingat waktu yang semakin pendek karena MEA diberlakukan tahun 2015 mendatang.

Monday, July 23, 2012

Kutukan Datang Di Bulan Suci


Medan Bisnis, 9 Juli 2012
Seperti suatu hal yang umumnya terjadi saat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, dimana akan ada selalu kenaikan harga barang. Rutinitas yang tak pernah lekang dari pola konsumsi masyarakat kita yang lebih menekankan pada konsumsi yang berlebihan dalam perayaan yang semestinya tidak perlu dilakukan dengan cara yang lebay. Perayaan tersebut jelas melahirkan sebuah penyakit yang dapat dilihat dengan kasat mata bernama Inflasi.

Namun, masyarakat kita masih menilai wajar akan aktifitas seperti ini. Bagaikan sebuah Ideologi, konsumsi menjelang peryaaan keagamaan bagaikan sebuah budaya yang tak akan pernah hilang dari pola konsumsi masyarakat kita. Untuk memecahkan masalah tersebut sepertinya pemerintah tidak punya jalan lain kecuali mengendalikan harga agar dapat terus dikendalikan.

Sementara itu, pola konsumsi masyarakat yang jelas-jelas menjadi masalah yang pokok (fundamental) membuat pemerintah tidak berdaya menghadapinya. Pola konsumsi musiman seperti saat ini jelas sekali akan memberikan kesempatan kepada spekulan untuk mempermainkan harga. Masyarakat akan dengan sangat mudah diprovokasi dengan alasan apapun oleh pedagang nakal sehingga harga barang bergerak naik.

Inflasi juga akan menjadi masalah bagi Perbankan nasional, karena inflasi yang tinggi identik dengan suku bunga yang tinggi. Bila Pak Amir (nama samaran) adalah seorang kepala keluarga yang menghabiskan uang belanja sebesar Rp. 2 Juta rupiah perbulan di hari-hari biasa. Sedangkan Pak Amir harus mengumpulkan uang yang lebih banyak lagi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

Uang yang banyak tersbut akan digunakan oleh Pak Amir untuk berbelanja kebutuhan makanan, pakaian dan banyak lagi. Asumsikan di bulan Ramadhan dan Idul Fitri Pak Amir membutuhkan uang sebesar Rp.3 Juta s.d. Rp.4 Juta. Bayangkan saja bila ada 50 Juta kepala keluarga yang juga membutuhkan uang yang sama banyaknya. Maka uang yang beredar di masyarakat akan bertambah banyak dan Inflasi juga akan merangkak naik.

Sejauh ini, di Indonesia terjadi kenaikan inflasi 5% s.d. 7% setiap tahunnya. Artinya dalam satu tahun harga barang itu naik 5% s.d. 7%. Misalkan sepanjang tahun 2011 terjadi kenaikan inflasi sebesar 5%. Maka bila harga Beras di januari tahun 2011 adalah Rp.100.000/karung, maka bisa diasumsikan bahwa harga beras di bulan desember tahun 2011 adalah Rp.105.000/karung.

Ibu Ita (fiktif) adalah seorang penabung di Bank BUMN. Di tahun 2011 Ibu Ita menabung dan mendapatkan bunga sebesar 5%. Namun karena inflasi di tahun 2012 menjadi 7%. Maka jelas bunga yang didapat sebesar 5% sudah tidak layak lagi dia dapat, Karena harga barang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bunga simpanan yang didapat oleh Ibu Ita.Agar Ibu Ita tetap mau menabung, maka Bank BUMN tersebut akan menaikkan bunga simpanannya menjadi 7% (hanya contoh).

Disini jelas sekali bahwa Bunga Bank akan naik bila Inflasi juga naik. Dengan demikian Bunga Kredit juga akan mengalami kenaikan yang serupa. Kita misalkan saja bunga kredit menjadi 13% disaat Bunga Simpanan Bank dinaikan menjadi 7%. Bandingkan dengan Jepang yang memiliki laju Inflasi yang relatif rendah bahkan negatif. Dalam setahun Inflasi di Jepang kita asumsikan saja berkisar 1% per tahun.

Kita asumsikan saja bunga tabungan juga berkisar di angka yang sama yaitu 1% per tahun. Dan bunga kredit kita misalkan saja di angka 2% per tahun. Jauh berbeda dengan bunga kredit di Indonesia yang sebesar 13% per tahun. Bila ada seorang warna negara Jepang yang meminjam uang di Bank yang ada di Jepang, dia dikenakan bunga kredit sebesar 2% per tahun.


Maka masuk akal bila dia (warga Jepang) bisa saja menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan di Indonesia dengan bunga 7%. Kita dibuat bagai “sapi perah”. Begitulah ilustrasi yang mungkin terjadi. Bersifat boros memberikan ‘kutukan” bagi kita semua. Dan masih banyak lagi dampak negatif yang bahkan dapat kita rasakan saat ini. Agama secara jelas menyatakan bahwa boros itu merupakan tindakan setan. Namun apa daya, kemurnian ajaran agama pun seolah tidak mampu membendung hawa nafsu manusia saat ini.

Tidak Selamanya Kita Kalah Dari Negara Tetangga


Medan Bisnis, 16 Juli 2012
Tak lama lagi, tahun 2015 sistem ekonomi negara ASEAN akan tergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dan sejauh ini kita memiliki prestasi yang amat buruk dalam hal investasi bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Singapura dan sejumlah negara ASEAN lainnya. Industri di negara kita tidak sepenuhnya mampu bersaing bila dibandingkan dengan industri negara-negara tetangga kita.

Terbukti, meskipun Blackberry memiliki pangsa besar di Indonesia. Namun, pada faktanya Indonesia tidak mampu memikat produsen Blackberry tersebut yang justru lebih memilih membangun pabriknya di Malaysia. Dari masalah Balckberry tersebut terlihat kita kalah menarik bila dibandingkan dengan Malaysia. Ada yang salah tentunya dengan negara kita ini bila dibandingkan dengan Malaysia.

Yang pasti permasalahan terkait dengan investasi di dalam negeri jauh lebih buruk bila dibandingkan dengan investasi dari negara jiran tetangga. Kepastian hukum, infrastruktur dan sumber daya manusia masih menjadi masalah klasik di negeri ini yang tak kunjung mampu diselesaikan oleh pemerintahan kita. Bila melihat indikator tersebut jelas kita jauh berbeda dibandingkan Negara tetangga, dan kita memiliki prestasi yang jauh lebih jelek dibandingkan dengan Negara tetangga.

Bila demikian faktanya, maka di tahun 2015 mendatang, bila ada seorang pengusaha asal Indonesia berniat untuk membangun sebuah industri. Maka bisa saja pengusaha tersebut justru memilih untuk membangun industrinya di Negara tetangga dibandingkan dengan membangun industrinya di negeri sendiri. Karena di Negara sebelah kita di fasilitasi dengan segala bentuk kemudahan yang ditawarkan.

Konsekuensinya adalah bahwa potensi penciptaan lapangan kerja baru justru tercipta di negeri tetangga walaupun pencipta lapangan usaha tersebut justru datang dari Indonesia. Bila berbicara dalam konteks pembangunan ekonomi kita tentunya kalah bila dibandingkan dengan Negara tetangga. Namun apa yang menjadi kelebihan kita bila dibandingkan dengan Negara tetangga kita sendiri?

Walaupun sejauh ini Malaysia memiliki semua kebutuhan dasar yang dimiliki guna menopang perekonomiannya. Namun sejumlah Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand tetap memiliki kelemahan disisi lain bila dibandingkan dengan Indoenesia. Salah satu kelemahan yang mereka miliki adalah demokrasi. Kita jauh lebih baik bila dibandingkan dengan Negara tetangga untuk urusan yang satu ini. Setidaknya kita lebih unggul dari dua Negara yaitu Thailand dan Malaysia.

Walaupun tidak berkorelasi secara langsung, namun demokrasi merupakan bentuk kedewasaan yang mampu menstabilkan kondisi politik dan keamanan yang tercipta di negeri ini. Di Malaysia dan Thailand, demokrasi masih belum berkembang secara baik dan Negara lebih dikendalikan dengan cara yang otoriter.

Seperti di Era 90-an dimana saat itu kita disebut sebagai “Macan Asia” di era kepemimpinan presiden Suharto. Ada kecenderungan yang sama yaitu Negara lebih mudah dikendalikan dengan pola kepemimpinan Pak Suharto tersebut. Terlebih juga dengan masalah investasi di Indonesia. Walaupun ada sejumah masalah lain yang kita nilai sebagai sebuah pelanggaran yang terjadi.

Malaysia dan Thailand tidak jauh berbeda dengan demokrasinya bila dibandingkan dengan era awal tahun 90-an di Indonesia. Walaupun sebenarnya Thailand lebih baik dibandingkan dengan Malaysia. Ada bom waktu yang bisa saja meledak bila Malaysia dan Thailand tidak segera menjadikan negaranya murni sebagai Negara Demokrasi.

Di Bumi ini, tidak ada Negara yang kebal terhadap krisis ekonomi. Bila mengacu pada keyakinan tersebut maka baik Malaysia dan Thailand juga tetap berpeluang menjadi Negara yang masuk dalam kubangan krisis. Belajar dari pengalaman Indonesia yang masuk dalam kubangan krisis, dimana saat itu terjadi revolusi besar-besaran yang terjadi di negeri ini.

Tingkat kamanan yang sangat kacau di tahun 97-an membuat masyarakat Indonesia kehilangan pekerjaan. Industri di Negara kita hancur dan itu dicatatkan sebagai sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Kita tentunya tidak mengharapkan itu terjadi di Malaysia, walaupun sebenarnya kita bisa saja diuntungkan dengan kondisi yang tidak beruntung dari negeri tetangga.

Disaat terjadi pergeseran pemerintahan di Thailand dengan cara-cara kudeta, sejumlah Negara tetangga Thailand termasuk Indonesia di gadang-gadang mendapatkan keuntungan dengan beralihnya sejumlah investasi yang mengalir kenegara tetangga Thailand. Namun, kemungkinan krisis tersebut kecil kemungkinan terjadi bila berkaca pada peforma ekonomi kedua Negara saat ini.

Namun, seharusnya kedua Negara yang menjadi pesaing berat Indonesia dalam hal ekonomi tersebut seharusnya belajar dari pengalaman yang di alami Indonesia. Kalau dibandingkan dengan Singapura, maka kita masih kalah dalam hal investasi. Namun, Singapura justru kesulitan untuk membangun perekonomiannya karena minimnya luas lahan yang tersedia di Singapura.


Namun, kita tidak seharusnya mengharapkan kelemahan di setiap Negara tetangga terjadi, dan menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan. Sebaiknya kita tetap fokus terhadap permasalahan yang menjadi penghambat investasi bagi perkembangan industri di Negara kita. Mengingat waktu yang semakin pendek karena MEA diberlakukan tahun 2015 mendatang. 

Efek Titik Balik Krisis Di Eropa Terhadap Indonesia


Medan Bisnis, 2 Juli 2012
Seperti yang terus diberitakan dan terjadi sebelumnya, penyelesaian krisis di Eropa sulit untuk mencapai kesepakatan karena perbedaan pendapat setiap masing-masing negara yang dipicu oleh beragam kepentingan baik finansial maupun politik. Kondisi tersebut membuat penyelesaian di eropa terus berlarut-larut dan diperburuk karena krisis tersebut justru menyebar ke hampir semua negara kecil yang berpotensi mengguncang perekonomian negara yang lebih besar.

Ketidakharmonisan dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi tersebut memunculkan spekulasi akan nasib dari negara-negara di Eropa itu sendiri. Bursa saham dan nilai tukar mata uang Euro menjadi “wajah” negara-negara eropa yang setiap saat berfluktuasi sangat liar mengikuti perkembangan yang terjadi seiring meningkatnya spekulasi dari segala macam bentuk penyelesaian krisis tanpa kepastian.

Namun dalam pertemuan petinggi eropa yang berakhir pada sabtu minggu kemarin. Para petinggi Eropa menghasilkan sejumlah langkah baru dalam penyelesaian krisis. Beberapa diantaranya adalah penyelesaian masalah krisis yang menjangkiti sejumlah perbankan di spanyol, memungkinkan bailout terhadap Italia serta menganggarkan dana untuk memacu pertumbuhan ekonomi di eropa.

Sejumlah langkah tersebut jelas menjadi sebuah kepercayaan baru terhadap penyelesaian krisis di eropa. Walaupun masih dalam tahapan konsep dan belum merupakan hasil dari implementasinya, namun pasar justru merespon semua langkah tersebut dengan apresiasi yang diwujudkan dengan penguatan mata uang euro serta meroketnya kinerja indeks bursa di Eropa hingga 4% dalam satu hari perdagangan.

Itu merupakan bukti nyata bahwa pasar mengharapkan sebuah kepastian kesepakatan bersama dibandingkan harus menunggu bagaimana hasil akhir dari krisis di eropa itu sendiri. Padahal yang dilakukan oleh sejumlah petinggi eropa masih berupa konsep yang selanjutnya untuk diterapkan. Bukan jaminan bahwa konsep tersebut akan efektif dalam menyelesaikan krisis di eropa nantinya.

Tapi sekali lagi itulah pasar. Tidak perlu bagaimana hasil akhir dari penyelesaian krisis. Namun langkah-langkah strategis yang dikeluarkan sudah lebih dari cukup untuk membuat pelaku di pasar keuangan merasa yakin akan masa depan Eropa nantinya. Tanpa adanya konsep jelas memicu ketidakpastian yang bisa saja berujung pada keniscayaan akan penyelesaian krisis di Eropa itu sendiri.

Dampak dari penyelesian krisis di eropa tentunya akan berimbas positif terhadap pergerakan indeks bursa di dunia maupun pergerakan mata uang di dunia. Tanpa terkecuali mata uang Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan. Euphoria terhadap proses penyelesaian krisis di eropa jelas akan kita rasakan hingga di pasar keuangan dalam negeri.

Namun, untuk diketahui bahwa proses penyelesaian krisis yang secara pasti di Eropa nantinya juga akan berimbas negatif bagi pasar keuangan domestik. Hal ini dapat terjadi khususnya di pasar keuangan kita. Di saat Eropa tengah terjangkiti krisis maka banyak pemodal yang memindahkan asetnya kesejumlah negara yang lebih menjanjikan pertumbuhan ekonominya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang menjanjikan khususnya dalam hal investasi di dalam bentuk portfolio. Bila saat ini kita tengah dibanjiri oleh derasnya aliran dana asing maka sebenarnya di saat ada negara yang lebih menjanjikan maka sebenarnya aliran uang tersebut bisa saja keluar dan pindah kenegara baru tersebut.

Dan bila Eropa kembali mengalami pertumbuhan yang signifikan jelas berpotensi akan membuat pasar keuangan di Indonesia kembali tertekan. Walaupun untuk saat ini Eropa masih harus berjibaku keluar dari krisis tersebut, dan belum menunjukan adanya tanda-tanda proses kenaikan pertumbuhan maka selama itu pula kita masih akan tetap aman dari tekanan capital outflow.


Akan tetapi kita bisa membuat negara kita tetap menarik dengan mengendalikan laju tekanan inflasi maupun masalah lain yang kerap menganggu aktifitas investasi di Indonesia. Tanpa adanya perubahan yang mendasar terhadap perbaikan investasi kita. Maka investasi yang masuk hanya merupakan bentuk invetasi yang sementara menetap dan bukan investasi yang bisa di konversi ke dalam bentuk investasi langsung. Titik balik pemulihan Eropa seharusnya menyadarkan kita akan hal tersebut.

Banyak Orang “Gila” Di Pasar Modal


Medan Bisnis, 25 Juni 2012
Para pelaku pasar keuangan pada umumnya mengikuti  perkembangan informasi seputar pasar keuangan dan merespon sesuai dengan baik atau buruknya informasi tersebut. Proses pengolahan data maupun informasi menggunakan sejumlah alat analisa yang paling familiar yang kita kenal yaitu analisa fundamental dan teknikal.
Bila mengacu pada kedua analisa tersebut tentunya tidak ada yang salah bila mengacu pada hasil analisa. Perbedaan hasil analisa yang terjadi dikarenakan oleh persepsi maupun asumsi yang menjadi modal utama bagi seorang analis. Pemahaman, pengalaman maupun pendidikan menjadi kunci utama kesuksesan analis dalam melakukan prediksi terhdap pembelian maupun penjualan suatu aset keuangan.

Sayangnya, seorang analis tidak akan berarti apa-apa bila hasil analisanya tidak diterapkan dalam pembuatan keputusan oleh para investor. Sehingga peran pelaku investor justru lebih besar dibandingkan dengan peran seorang analis, karena investor adalah seorang eksekutor. Meskipun pada umumnya keputusan investor mengacu pada hasil analisa seorang analis.

Sehingga seorang analis yang dikatakan jitu adalah analis yang memang memiliki konstituen atau pengikut (investor) yang memadai. Bila seorang analis tersebut melakukan analisa terhadap suatu surat berharga (saham maupun obligasi), maka analis tersebut didukung oleh sejumlah investor yang siap melakukan eksekusi terhadap apapun rekomendasi dari seorang analis.

Sehingga disini, yang dijual oleh seorang analis adalah informasi. Penguasaan informasi seorang analis terhadap pasarnya menjadi kunci utama keberhasilan dari analis tersebut dalam menjual informasinya. Semakin besar pangsa pasar informasi yang dikuasainya maka semakin mudah seorang analis tersebut melakukan penetrasi terhadap sejumlah hasil analisa dari sang analis tersebut.

Hanya saja, informasi tidak hanya didapatkan dari seorang analis. Media lain yang memberikan berita seputar dunia keuangan juga dapat dijadikan sebagai bahan rujukan investor dalam membuat keputusan. Informasi dari media tersebut akan ditelaah oleh investor dengan kemampuan maupun persepsinya masing-masing sehingga membuat beragam aasumsi yang nantinya akan bermuara pada permintaan maupun penawaran dari suatu surat berharga itu sendiri seperti saham, obligasi, reksadana maupun sejumlah produk keuangan lainnya.

Beragam persepsi tersebut lah yang menjadikan harga suatu surat berharga mengalami kenaikan dan penurunan harga. Bila semua investor memiliki informasi dan pengetahun yang sama maka harga suatu sekuritas dipastikan tidak akan mengalami perubahan. Nah, persepsi yang berkembang dibagi adalam dua jenis yaitu rasional dan tidak rasional. Dan sayangnya baik kedua alasan tersebut sama-sama mampu mempengaruhi pergerakan suatu surat berharga.

Tidak rasional bukan berarti dipandang sebagai suatu yang harus tidak diikuti oleh investor. Tidak rasional justru mampu memberikan keuntungan bagi si investor bila sang investor tersebut mampu memanfaatkan momentum yang terjadi di pasar. Seperti saat salah satu Bank yang ada di Eropa yang diturunkan peringkatnya akhir-akhir ini. Spontan harga saham Bank tersebut turun dan memicu sejumlah investor di eropa melakukan aksi jual sekuritas.

Aksi jual tersebut berujung pada melemahnya indeks bursa di eropa. Wajarkah yang merka lakukan itu? Sekali lagi tatanan wajar atau tidak merupakan persepsi dari kita masing-masing dalam memberikan sudut pandang. Nah, selanjutnya investor di Indonesia juga mengalami kekhawatiran yang sama. Banyak investor disini melakukan aksi jual karena sejumlah saham Perbankan di luar sana tengah mengalami penurunan.

Padahal kondisi Bank di Indonesia masih bisa dikatakan baik-baik saja. Sehingga tidak rasional bila kita melakukan aksi serupa sementara jelas ada perbedaan kondisi fundamental yang terjadi di luar dan di Indonesia. Tapi itulah pasar, tidak ada yang mampu mengendalikannya 100%. Persepsi yang beredar tersebut tidak bisa diseragamkan. Dan sayangnya persepsi pelaku pasar hampir semuanya sama.

Pelaku pasar bergerak bagaikan air yang mengalir mengikuti perilaku kebanyakan investor lainnya. Walaupun tidak mengetahui secara benar entah mau dibawa kemana nantinya. Sehingga pelaku investor kebanyakan bagai gambar piramida seperti pada umumnya. Tidak-rasionalitas menjadi bagian hidup investor dalam melakukan sejumlah keputusan strategis.


“Monkeys Did, Monkeys Do”, begitulah ilustrasi yang dapat digambarkan bagi pelaku pasar di pasar keuangan di belahan dunia manapun. Sehingga hanya sebagai kecil saja yang dapat dikatakan sebagai The Real Investor. Sehingga tidak berlebihan bila kita menyebut bahwa sebenarnya banyak orang”gila” di pasar keuangan khususnya pasar modal. Di bagian manakah kita?. Kita sendiri pasti bingung membedakannya.

Apapun Hasilnya Tidak Akan Merubah Nasib dalam Sekejap


Medan Bisnis, 18 Juni 2012
Hari-hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Yunani kembali menggelar menggelar pemilihan umum yang menentukan nasib dari Yunani, apakah tetap tinggal dengan mata uang Euro atau kembali ke mata uang asal Yunani bernama Drachma. Keputusan tersebut akan ditentukan pada tanggal 17 Juni kemarin. Sejauh tulisan ini dibuat, belum ada hasil terkait dengan pemilihan yang dilakukan Yunani.

Pelaku pasar keuangan tentunya berharap Yunani akan tetap bersama dengan Euro. Bila nantinya hasil keputusan dari Yunani tersebut justru diluar dari ekspektasi pasar maka kemungkinan besar bursa akan merespon negatif. Selain itu, mata uang Euro akan diperdagangkan melemah terhadap mata uang lain seperti US Dolar dan Yen. Padahal bila dikaji lebih dalam keputusan yunani yang keluar dari Euro akan memberikan dampak positif bagi kinerja bursa global termasuk IHSG.

Krisis ekonomi yang telah terjadi selama dua tahun lebih di Eropa sejauh ini memang kondisinya kian memburuk saja. Dahulu, penggabungan eropa dalam satu mata uang tunggal sempat membuat kekaguman akan superioritas eropa sebagai salah satu perekonomian yang besar dan kuat serta solidaritas antara sesama negara yang sangat baik dibandingkan sejumlah negara lain yang ada di dunia ini.

Namun, saat ini solidaritas tersebut sepertinya telah sirna. Kesepakatan bersama dalam kebijakan fiskal tidak menemui titik temu dan membuat proses penyelesaian krisis menjadi berlarut-larut. Jerman menjadi satu-satunya negara di Eropa yang memiliki fundamental ekonomi sangat kuat saat ini di Eropa. Dan jerman memegang sejumlah obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah yang tengah krisis.

Italia dan Spanyol menjadi negara yang terkena imbas selanjutnya dari krisis yang berlangsung saat ini. Bank Sentral Eropa dan IMF yang digadang-gadangkan menjadi bumper terhadap stimulus perbaikan sistem ekonomi juga tidak begitu berfungsi dengan baik manakala krisis telah menghiggapi bagaikan kanker yang terus menyebar.

Apapun hasil yang didapat dari pemilihan umum di Yunani tidak akan berdampak signifikan terhadap proses pemulihan ekonomi eropa. Apapun bentuk penyelesaiannya tidak akan mungkin menyelesaikan permasalahan krisis yang melanda eropa dengan waktu yang relatif singkat.  Proses penyelesaian krisis di Eropa membutuhkan waktu yang tidak sebentar serta komitmen sejumlah pemerintahan kawasan yang seragam.

Selain itu, kepentingan jerman yang ingin menyelematkan Eropa dari krisis keuangan bukan merupakan salah satu alasan murni Jerman ingin membantu Yunani. Namun, karena Jerman menjadi pembeli obligasi yang paling besar diantara negara lain, sehingga terlihat jerman yang begitu bersikeras agar Yunani di bailout.

Keinginan jerman tersebut mengindikasikan bukan berarti Jerman mampu menyelesaikan masalah, namun hanya merupakan bentuk kepentingan jerman terhadap asset yang dimilikinya sendiri. Ketidak harmonisan bukan hanya terjadi di sejumlah negara anggota Euro itu sendiri. Namun ketidakharmonisan juga terjadi di parlemen Yunani sejak dimenangkan oleh presiden yang tidak suka dengan bailout dan memiliki pandangan sosialis. Itulah kenapa masyarakat Yunani diminta untuk menentukan nasibnya sendiri daripada mengandalkan pemerintahnya.
Dalam siklus ekonomi yang kita ketahui, bahwa tidak ada yang mampu mencegah negara yang terperosok dalam krisis dan berbalik naik dalam waktu yang singkat setelah krisis itu terjadi. Proses penyelesaian krisis yang cepat hanya akan terjadi bila baik masyarakat dan pemerintahnya sama-sama memberikan andil positif terhadap penyelesaian krisis secara keseluruhan.

Baik atau buruk hasil pemilihan Yunani sangat bergantung dari bagaimana kita melihatnya. Seorang investor saham akan senang menilai baik bila Yunani tetap bergabung dengan Euro. Importir di negara kita juga sama lebih memilih agar Yunani tetap di Eropa. Namun eksportir di negara kita justru bisa diuntungkan dengan keluarnya Yunani dari zona Eropa. Namun, bagi Yunani tetap atau keluar dari Euro hanya merupakan pilihan yang belum menjanjikan sesuatau apapun.

Friday, June 15, 2012

Meramal Ekonomi Tahun 2012

Medan Bisnis, 27 Desember 2011
Tanpa terasa kita telah berda di penghujung tahun 2011. Merupakan tahun yang menjadi pertanda kemungkinan memburuknya kondisi perekonomian tahun 2012 mendatang. Di tahun 2011 kita dihadapkan pada memburuknya ekonomi di kawasan Eropa dan Amerika. Parahnya kondisi tersebut kian hari kian memburuk dan akan “diwariskan” ke tahun 2012 mendatang.

Pasar keuangan kita juga ikut mengalami hal yang sama walaupun sektor riil masih menjanjikan dan mampu tetap tumbuh hingga hari ini. Kita memang benar-benar harus mandiri menghadapi perekonomian dunia yang tengah tidak bersahabat. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut dalam 3 sampai 5 tahun mendatang.

Tugas berat tahun 2012 sudah pasti tidak bisa terelakan. Walaupun sejauh ini kita dinilai masih mampu menghadapi krisis, namun bila salah kebijakan maka bisa saja tahun 2012 menjadi petaka awal bagi perekonomian kita di masa yang akan datang. Sejumlah strategi terus dipersiapkan, mulai dari Jaringan Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) hingga anggaran yang super gede untuk membangun infrastruktur di negeri ini. Selain itu, pemerintah juga terus memperbaiki semua sektor yang dinilai bisa menghambat investasi di negeri ini.

Dengan kondisi seperti yang terjadi saat ini, menarik untuk memprediksi semua kemungkinan ekonomi yang terjadi di tahun 2012 mendatang. Kebiasaan unik ini selalu dilakukan oleh kebanyakan analis yang ditujukan agar membantu kita dalam mengambil keputusan di masa yang akan datang.

Diawali dengan keadaan internal yang menghambat aliran investasi yaitu korupsi. Korupsi itu sama dengan biaya tinggi, investor sejauh ini mengapresiasi proses penyelesaian korupsi yang terjadi di Indonesia. Dengan konsistensi untuk terus mengurangi korupsi, maka kita optimis tahun 2012 mendatang pembasmian korupsi akan terus berjalan dan akan terus meningkatkan kepercayaan investor dan memberikan kenyamanan untuk berinvestasi di Indonesia.

Untuk sejumlah indikator ekonomi makro, di tahun 2012 mendatang ekonomi kita masih sangat atraktif meskipun indikator pertumbuhan Produk Domestik Bruto proyeksinya di turunkan. PDB diperkirkan akan melambat menjadi 6.3% s.d. 6.7% di tahun 2012 mendatang. Yang menarik adalah inflasi yang diperkirakan akan melemah sehingga nilai pertumbuhan PDB akan jauh lebih baik dibandingkan tahun 2011.

Untuk nilai tukar Rupiah sepertinya tidak akan mengalami fluktuasi yang tajam. Rupiah diperkirakan akan tetap stabil seperti tahun 2011 karena di topang oleh membaiknya peringkat utang Indonesia sehingga akan berdampak pada banjirnya likuiditas dan nantinya akan membuat Rupiah bergerak menguat.

Dari sisi eksternal, Ekspor menjadi ancaman serius karena pertumbuhan ekonomi dunia yang terus melambat. Ekspor sangat bergantung pada kebutuhan impor Negara mitra dagang kita. Sejauh ini pasar di Eropa dan Amerika mengalami kontraksi dan menurunkan ekspor kita. Namun, dikarenakan ekspor kita masih berbasis pada ekspor hasil bumi yang memiliki elastisitas yang kecil, besar kemungkinan nilai ekspor kita tidak akan terkoreksi tajam.

Sehingga ekonomi kita diyakini masih akan terus tumbuh kendati ekspor akan mengalami penurunan. Tipikal masyarakat kita yang lebih gemar berbelanja daripada menabung juga akan memberikan nilai tersendiri. Ekonomi kita yang ditopang oleh konsumsi domestik yang tinggi akan menjadi penyelamat bagi ekonomi kita untuk tetap bertahan dari krisis.

Optimis adalah jawaban terhadap ramalan/prediksi ekonomi kita kedepan. Bayangkan bila kita tidak optimis, maka kita tidak akan memiliki alasan yang kuat untuk terus bergerak maju ditengah pesimisme seperti saat ini. Karena masa depan kita akan lebih baik bila berada di tangan orang-orang yang optimis.

Seandainya Piala Eropa di Yunani dan Spanyol

Medan Bisnis, 11 Juni 2012

Perhelatan akbar sepakbola eropa telah menyita dan menjadi fokus perhatian dunia saat ini. Selain karena kita disuguhkan terus pertandingan sepak bola setiap hari, kita diberikan pula pemandangan kontradiktif terhadap kondisi ekonomi Eropa yang tengah dilanda krisis. Perhelatan tersebut seharusnya mampu menjadi pendorong konsumsi masyarakat eropa dan sedikit banyak akan membantu proses pemulihan di Eropa.

Penyelenggara perhelatan akbar tersebut tentunya mendapatkan banyak pemasukan uang dengan menjual tiket, pernak-pernik, hak siar, tingkat hunian hotel dan masih banyak lagi yang bisa diraup dari piala eropa tersebut. Bayangkan tingkat hunian hotel di Ukraina dan Polandia mencapai 100%, dan harga tarif hotel juga meningkat tajam.

Banyak wisatawan yang datang ke Polandia dan Ukraina tentunya. Dan pastinya mereka akan menghabiskan banyak uang di kedua negara tersebut. Pemerintah Ukraina dan Polandia akan mendapatkan keuntungan yang besar dalam perhelatan ini, meskipun Yunani tengah berjibaku untuk mendapatkan dana segar guna menyelamatkan perekonomiannya dari keterpurukan.

Spanyol juga demikian, perbankan spanyol menghadapi turbulensi ekonomi yang luar biasa. Spanyol membutuhkan dana sebesar 37 milyar euro untuk menyelamatkan krisis di perbankan spanyol tersebut. Meski demikian perhelatan akbar tersebut seharusnya mampu mengurangi dampak negatif penyebaran krisis yang bersumber dari Yunani dan Spanyol saat ini.

Polandia dan Ukraina sangat beruntung, disaat sejumlah negara tetangganya tengah menghadapi krisis keuangan. Kedua negara tersebut justru mendapatkan berkah dari pemasukan uang yang berlimpah. Selain itu, fokus masalah utama krisis ada di Yunani dan Spanyol saat ini, sehingga piala eropa tersebut diyakini tidak akan begitu berdampak signifikan pada kinerja pasar keuangan dunia.

Bila Spanyol dan Yunani menjadi penyelenggara, maka data-data ekonomi kedua negara tersebut akan membaik. Terjadi penurunan angka pengangguran meskipun bersifat sementara. Penjualan perusahaan ritel pastinya akan mengalami kenaikan. Dan untuk perhelatan selama 1 bulan tersebut tentunya devisa yang di terima Yunani dan Spanyol akan membantu meringankan beban mereka.

Selain itu dampak yang besar akan terjadi pada kinerja indeks bursa dunia karena sentimen piala eropa tersebut. Bisa dipastikan bila piala eropa di selenggarakan di Yunani dan Spanyol maka kinerja Indeks Harga Saham Gabungan juga akan ikut menguat. Karena selama ini, proses penyelesaian masalah krisis yang berlarut-larut kerap membuat IHSG turun tajam dan diperdagangkan dalam volatilitas yang cukup lebar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pergerakan harga saham sangat dipengaruhi oleh realisasi data yang dianggap mencerminkan kondisi perekonomian suatu negara dalam jangka panjang. Meskipun fluktuasinya sangat beragam, namun hasil akhirnya adalah dengan data tersebut maka kita dapat melakukan transaksi jual atau beli suatu sekuritas.

Sayang seribu sayang, perhelatan akbar tersebut tidak bisa kita nikmati sebagai investor pasar modal khususnya saham. Kita hanya bisa menyaksikan pertandingan-pertandingan spektakuler dari negara-negara yang bertanding saat ini. Namun, kita tetap dibuat lemah tak berdaya manakala ada laporan kinerja keuangan yang buruk yang bakal muncul terkait dengan krisis di eropa itu sendiri.
Negara-negara eropa tersbut boleh berbangga bila memenangkan permainan ini-piala eropa. Namun, kebanggaan tersebut tidak akan lama karena mereka tengah dilanda krisis yang diperkirakan akan memasuki badai yang sempurna di tahun 2012 ini. Akan tetapi kita tetap mengucap rasa syukur, karena di tengah ketidakpastian penyelesaian krisis yang memperburuk kinerja indeks bursa khususnya saham, namun kita tetap bisa menikmati serunya pertandingan bola yang menghibur kita walaupun hanya sebulan.

Tetap Optimis Walau Rupiah Kritis

Medan Bisnis, 4 Juni 2012

Nilai tukar Rupiah kompak melemah dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama perdagangan minggu kemarin. Melemahnya Rupiah seiring dengan investor yang lebih memilih memegang Dolar setelah terjadinya krisis di Eropa membuat pasar panik dan US Dolar banyak diburu karena Dolar sebagai mata uang yang dinilai paling aman (safe heaven).

Langkah Bank Indonesia seperti memberlakukan kebijakan agar eksportir memarkir dananya di dalam negeri ternyata belum membuahkan hasil maksimal karena pada saat ini Rupiah masih saja melemah terhadap US Dolar. BI dituntut untuk segera menerbitkan instrumen keuangan guna menampung valas di dalam negeri.

Minimnya instrumen tersebut disinyalir sebagai biang keladi memburuknya kinerja nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar. Padahal, yang paling utama penyebab nilai tukar rupiah melemah akhir-akhir ini adalah kontrak derivative yang ada di Singapura. Dimana kontrak tersebut menggambarkan bagaimana buramnya kinerja Rupiah yang mendekati Rp.10.000/$. Al Hasil, Rupiah dipasar domestik ikut terkulai lemas seiring dengan memburuknya kinerja kontrak Rupiah – Dolar Amerika di pasar derivative singapura.

Bila dikaitkan dengan penghematan energi ada benarnya juga sih. Namun akhir-akhir ini, tren penurunan harga minyak dari sebelumnya $120/barel, yang hanya dikisaran $90/Barel saat ini, seharusnya mampu membuat APBN kita relatif aman dari pembengkakan defisit akibat kebutuhan impor minyak dunia.

Walaupun bila harga Dolar terus naik tentunya juga akan menjadi ancaman lain dan berpeluang membuat defisit yang lebih besar. Untuk saat ini, Rupiah yang melemah masih mampu diimbangi dengan penurunan harga minyak dunia. Walau demikian, suplai valas yang terus berkurang akan mengancam impor kita untuk beberapa bulan kedepan. Dan berpeluang untuk menambah laju tekanan inflasi.

Akan tetapi, penulis berkeyakinan gejolak yang terjadi di pasar keuangan saat ini hanya akan bersifat sementara saja. Minimnya pasokan Dolar dikarenakan faktor psikologis memburuknya kondisi Eropa saat ini. Pasar memburu Dolar karena tidak mau memegang mata uang lain termasuk uang dari negara berkembang (emerging market).

Namun, adakah negara lain yang mampu memberikan daya tarik seperti Indonesia?. Tentunya masih ada. Kita masih mampu menikmati pertumbuhan ekonomi meskipun negara lain sedang dilanda krisis yang belum berkesudahan. Pertumbuhan ekonomi tersebut tentunya memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan investasi di negeri ini.

Sehingga, tidak ada yang perlu dikuatirkan sangat seirus mengingat kita masih bisa tumbuh ditengah buramnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Pelemahan rupiah saat ini memang perlu penanganan khusus, saya yakin BI akan mampu mengatasinya. Selain itu, bukankah Rupiah juga seharusnya melemah terhadap US Dolar guna membentuk keseimbangan dengan mata uang negara lainnya?. Tentunya Ya, namun besarannya yang harus disesuaikan. Dan kestabilan Rupiah harus menjadi prioritas utama. Pelaku pasar nantinya juga akan bersikap realistis dan tetap akan menjadikan Indonesia sebagai tempat tujuan investasi.

Keseimbangan di pasar keuangan akan terbentuk nantinya, gunjang-ganjing yang terjadi saat ini diyakini hanya akan berlaku sementara. Bahkan sekalipun nantinya akan terjadi guncangan manakala Yunani keluar dari Eropa, guncangan tersebut diyakini hanya akan berlangsung beberapa saat saja terhadap pasar keuangan domestik.
Mengingat baiknya perekonomian nasional yang didukung oleh tingginya konsumsi domestik. Maka kita tetap optimis, Rupiah akan kembali stabil, IHSG akan berbalik menguat setidaknya di mulai pada paruh kedua tahun 2012 ini.

Rupiah Turun, Fundamental Atau Spekulasi?

Medan Bisnis, 28 Mei 2012

Nilai tukar rupiah kembali terkulai lemas dalam sesi perdagangan minggu kemarin terhadap US Dolar. Pelemahan Rupiah juga sebenarnya dibarengi dengan pelemahan sejumlah mata uang di Asia. Setali tiga uang, dampak dari pelemahan nilai tukar Rupiah berimbas pada melemahnya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kekhawatiran akan melemahnya kekuatan ekonomi di negara-negara Asia seiring dengan meningkatnya gejolak politik di Yunani menjadi pemicu utama melemahnya nilai tukar Rupiah. Sejumlah masalah mengemuka dan ada beberapa masalah yang menjadi perhatian yang bermuasal dari Eropa.

Pertama terpilihnya pemimpin eropa yang berasal dari komunitas yang tidak menyukai penghematan anggaran dalam menyelesaikan krisis. Kedua langkah Yunani yang sebelumnya sempat dispekulasikan akan keluar dari zona euro. setelah pemilihan presiden Yunani yang berasal dari partai oposisi berhaluan sosialis. Ketiga adalah krisis eropa itu sendiri yang diperkirakan akan berada di titik paling kritis dan berpeluang mempengaruhi krisis di negara lain termasuk di Asia.

Bila dikaitkan dengan nilai tukar rupiah, sejatinya para pemegang devisa tidak perlu menarik devisanya dari Indonesia mengingat Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup. Terlebih perekonomian lebih didorong oleh konsumsi sektor domestik yang besar dan tidak begitu dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti krisis di Eropa.

Bila China mengalami penurunan pada laju pertumbuhan ekonomi, itu merupakan hal yang wajar mengingat Eropa masih menjadi target ekspor China. Demikian halnya dengan beberapa negara di Asia lainnya seperti Singapura. Indonesia juga berpotensi mengalami penurunan nilai ekspor, namun ekspor Indonesia lebih merupakan barang-barang yang menjadi barang konsumsi utama masyarakat luar.

Sehingga, ekspor tersebut seharusnya tidak begitu terganggu meskipun terjadi penurunan permintaan di pasar Internasional. Indonesia masih bisa selamat dari terpaan krisis dari Eropa. Setidaknya selama pemerintah masih mampu menjadikan konsumsi dalam negeri menjadi penopang perekonomian nasional untuk sementara waktu.

Nah mengapa nilai tukar Rupiah terkulai lemas?. Bukannya investor juga mengetahui bahwa Indonesia masih relatif kuat sehingga belum harus dikhawatirkan. Jawaban yang mungkin sangat tepat adalah karena banyaknya spekulan yang bermain di pasar keuangan. Spekulan lebih bersikap pragmatis dengan memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan tertentu.

Bila investor lebih memilih untuk memegang US Dolar daripada mata uang asing, dan tidak mau memegang resiko dengan membeli asset di negara berkembang. Indonesia memang termasuk kedalam negara berkembang namun saat ini berdiri sendiri dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi nasional. Yang sejatinya tidak akan terpengaruh dengan gejolak ekonomi yang terjadi di belahan negara lainnya.

Nilai fundamental Rupiah juga tidak jauh dari fundamental ekonominya. Pelemahan Rupiah yang turun signifikan menjadi suatu hal yang dipertanyakan kelazimannya. Kita harus belajar bagaimana spekulan yang ada disingapura sebelumnya sempat membuat Rupiah terkulai beberapa bulan lalu.
Walaupun ada penilaian fundamental, namun penilaian tersebut sepertinya hanya dijadikan alat untuk melakukan tindakan spekulatif dan kurang mendasar bila melihat kinerja ekonomi kita yang tetap bagus. Analisa fundamental yang di beritakan merupakan alat untuk mengajak semua orang menyetujui sesuatu dan berperilaku sama.

Daya Saing Yang Tak Bersaing

Medan Bisnis, 21 Mei 2012

Daya saing negara kita benar-benar masih belum mampu menandingi produk yang dihasilkan dari negara asia lainnya seperti China. Indonesia mengklaim bahwa pemberlakuan FTA (free trade area) membuat sejumlah produk Indonesia kalah bersaing dan Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan negara lain khususnya dengan China.

FTA adalah bentuk globalisasi dimana baik negara kita dengan negara lain melakukan perdagangan secara adil dan mengandalkan produk-produk unggulan yang siap dijual kesejumlah negara yang masuk dalam perjanjian tersebut. Bila Indonesia menilai bahwa China merupakan pangsa pasar potensial untuk menjual barang-barang yang diproduksi Indonesia, maka Indonesia dan China dapat melakukan kerjasama dalam hal lalu lintas barang.

Dengan kata lain kita membuka diri kita akan barang-barang yang dijual oleh China dan sebaliknya. Faktanya pemerintah berencana merevisi kesepakatan FTA dengan sejumlah negara lain. Revisi berarti melakukan perubahan kerjasama. Kerjasama yang sebelumnya telah disepakati tersebut akan direvisi oleh pemerintah dengan alasan Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan.

Maksudnya adalah Indonesia justru dibanjiri oleh produk-produk asing, dibandingkan dengan kemampuan Kita dalam menjual produk-produk kita ke negara lain. Pada saat kita mencoba untuk membuka diri, justru asing yang mendapatkan keuntungan. Inilah yang sering kita kenal dengan istilah perang dagang. Perjanjian FTA sama saja dengan menjadi sebuah negara yang bersiap untuk menginvasi negara lain di bidang ekonomi. Dan sejauh ini, kita belum menjadi pemenang.

Ada sejumlah masalah yang belum kita benahi hingga saat ini. Mulai dari Birokrasi, Infrastruktur, Sumber Daya Manusia hingga kepastian hukum yang belum sepenuhnya menjadi pilar yang mendukung negara kita dalam bersaing di kancah global. Inflasi yang tinggi menjadi salah satu tolak ukurnya. Inflasi yang tinggi membuat biaya produksi perusahaan semakin meningkat dan mengurangi daya beli masyarakat.

Misalkan seorang pengusaha Indonesia yang menghasilkan 1 buah Ballpoin dengan biaya Rp.1.200,-/buah. Sementara seorang pengusaha China mampu menghasilkan barang yang sama dengan harga Rp.800,- .

Dengan analogi tersebut tentunya Ballpoin yang dihasilkan Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan produk sejenis dari China. Sehingga bila kita membuka diri melalui perjanjian FTA dengan China dan memasukan Ballpoin sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan, maka pengusaha China tersebut tentunya dengan leluasa dapat menjual Ballpoin di Indonesia dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan Ballpoin sejenis yang diproduksi Indonesia.

Konsekuensinya kemana Pengusaha Indonesia akan menjual Ballpoinnya? Sementara pasar dalam negeri sudah dikuasai barang sejenis dari Asing. Jawaban yang paling mungkin adalah menutup perusahaannya. Maka konsekuensinya adalah semakin bertambahnya pengangguran dan negara kita kembali masuk dalam perangkap “penjajahan” model baru.

Tahun 2015 mendatang Indonesia akan menjadi negara yang masuk dalam Kawasan Ekonomi ASEAN. Dimana negara anggota ASEAN masing masing akan membuka dirinya dalam hal lalu lintas barang, jasa maupun uang. Seorang pengusaha dari Indonesia akan dengan mudah menjual barangnya ke negara lain di kawasan ASEAN demikian yang lainnya. Namun, ada sejumlah negara yang siap menjadi pesaing dan jauh lebih unggul dari Indonesia. Mereka yaitu Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Walaupun mereka jauh lebih kuat dari kita, namun tetap memiliki kelemahan. Seperti Singapura, negara yang memiliki luas lahan yang sedikit tersebut sangat kesulitan untuk membangun sebuah pabrik skala besar. Bayangkan bila ada perusahaan manufaktur yang mau membangun pabrik di singapura. Maka singapura harus mampu menciptakan lahan baru dan bila perlu menimbun lautnya untuk dijadikan daratan.

Akan tetapi, kita masih terjerembab dalam ekonomi biaya tinggi. Kita bandingkan saja suku bunga yang berlaku di Indonesia. Bila mengacu kepada BI Rate maka bunga deposito Bank yang ada di Indonesia akan berkisar di angka 5.75%. Bandingkan dengan bunga yang ada di Thailan, Singapura dan Malaysia. Karena inflasi di negara tersebut cukup terkendali besaran bunga di negara mereka rata-rata dibawah 4%. Ya gampang dong, mereka ga perlu bangun pabrik, simpan aja uang di Bank yang ada di Indonesia. Lumayan, hanya menunggu beberapa waktu uang itu akan beranak dengan sendirinya.
Bila kita tidak memperbaiki masalah klasik tersebut, maka daya saing kita akan membuat kita hanya menjadi pasar bagi negara lain. Jangan sampai nanti pemerintah menegosiasi ulang kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN.