Wednesday, February 01, 2012

BI Melawan Spekulan

Medan Bisnis, 9 Oktober 2011
Nilai tukar Rupiah dalam beberapa minggu terakhir melemah terhadap US Dolar. Pelemahan Rupiah seiring dengan memburuknya kondisi perekonomian global yang sangat berpotensi menjalar ke negara lain termasuk Indonesia. Pelemahan nilai tukar Rupiah akhir-akhir ini juga banyak dipengaruhi oleh transaksi NDF (Non Delivery Forward) yang banyak dilakukan oleh para spekulan.

Para spekulan yang menggunakan NDF bertaruh bahwa Rupiah akan terus terpuruk kedepan nantinya. Aksi taruhan tersebut tentunya akan membuat Rupiah terkulai lemas bila transaksinya cukup signifikan. Pelemahan Rupiah akan memicu sejumlah investor menjual surat berharga yang berdenominasi Rupiah. Keluarnya investor tersebut tentunya bisa berdampak serius bagi Rupiah bila tidak di antisipasi dengan segera.

Walaupun Indonesia menganut sistem devisa bebas. Namun, bukan berarti pergerakan nilai tukar rupiah akan bergerak dan sepenuhnya berdasarkan mekanisme pasar. Bank Indonesia (BI) menjadi kunci utama dalam menstabilkan nilai tukar Rupiah. Dengan cadangan devisa yang jumlahnya lebih baik - dari cadangan devisa saat krisis 2008 terjadi – memungkinkan BI lebih leluasa dalam mengintervensi nilai tukar rupiah.

Meski demikian banyaknya US$ yang digunakan untuk intervensi tentunya sangat terbatas pada jumlah cadangan US$ itu sendiri. Namun, dengan cadangan devisa kita yang sekitar $120 Milyar tentunya Rupiah masih dapat dikendalikan dari gempuran aksi spekulasi. Asal jangan spekulan tersebut memiliki uang yang lebih besar dari cadangan devisa kita tentunya.

Efektifkah intervensi yang dilakukan BI?, ya. Melihat indikator nilai tukar Rupiah yang relatif stabil di kisaran Rp. 9000/$ maka intervensi yang dilakukan BI cukup efektif. Akan tetapi dengan memburuknya kondisi perekonomian global tekanan terhadap mata uang Rupiah diperkirakan masih akan terus berlanjut .

Melemahnya nilai tukar Rupiah akhir-akhir ini tentunya akan berkorelasi positif terhadap kinerja ekspor. Namun, ditengah menciutnya perekonomian global maka tentunya pelemahan nilai tukar Rupiah tidak akan memberikan perubahan signifikan terhadap kinerja ekspor kita. Ekspor yang menurun di pasar internasional lebih disebabkan oleh penurunan permintaan terhadap barang ekspor.

Namun penguatan rupiah yang tajam juga akan membuka pasar kita terhadap gempuran barang impor. Baik penguatan dan pelemahan nilai tukar Rupiah tentunya memiliki dampak negatif. Namun, pelemahan nilai tukar Rupiah yang diiringi dengan krisis di negara lain tentunya akan menjadi permasalahan serius bila tidak di antisipasi segera.

Pemerintah dan BI tengah melakukan sejumlah langkah penyelamatan. Selain melakukan intervensi terhadap US$, pemerintah juga aktif membeli Surat Utang Negara (SUN), dan berkoordinasi dengan BUMN untuk membeli obligasi. Dan yang paling mendesak adalah disahkannya Undang Undang JPSK (Jaring Pengamanan Sistem Keuangan).

Selain itu, BI selaku otoritas moneter harus menindak bila ada perbankan yang memberikan fasilitas NDF bagi para spekulan. Aktifitas spekulasi di valuta asing juga harus diperketat. Aksi spekulan kerap membuat panik pelaku pasar lain. Ekspetasi yang berlebihan dan lebih mengejar keuntungan dan kurang mempertimbangkan kondisi fundamental secara keseluruhan tentunya berpeluang memperkeruh keadaan.

Dengan sejumlah langkah positif yang dilakukan di atas, Indonesia memiliki peluang untuk tetap bertahan dari gempuran krisis negara lain. Indonesia juga berpeluang mengulang suksesnya dalam menghindari krisis di tahun 2008. Dan BI masih memiliki manuver yang cukup dalam meredam gejolak nilai tukar akhir-akhir ini.

No comments: