Medan Bisnis, 28 Juni 2010
Dalam setiap pertemuan penting tingkat internasional, Amerika Serikat selalu mengkampanyekan bahwa penyelesaian krisis dapat dilakukan dengan cara merevaluasi mata uang Yuan China. Dampak revaluasi Yuan China akan memberikan peluang bagi terciptanya kestabilan ekonomi dunia serta mempercpat proses pemulihan ekonomi dari krisis global. Setidaknya begitulah bntuk kampanye yang di lakukan negri paman sam.
Akan tetapi, pemrintah China melalui presidennya Hu Jintao menolak tekanan dari presiden Barrack Obama dengan mengatakan bahwa "penguatan Yuan tidak akan membuat perdagangan AS-Cina menjadi seimbang ataupun menyelesaikan persoalan pengangguran di Amerika". Begitulah isi pembicaraan kedua negara di sela-sela konferensi nuklir april lalu.
Presiden Obama memang mendapatkan tekanan dari dalam negerinya sendiri untuk menekan China. Karena negara tirai bambu tersebut mematok mata uangnya, sehingga barang-barang yang dihasilkan Amerika selalu lebih mahal dibandingkan dengan barang-barang China. Hal tersebutlah yang membuat barang-barang China lebih kompetitif dibandinkan dengan produk AS. Dan disinyalir sebagai akar masalah defisit neraca perdagangan AS.
Bahkan beberapa bulan yang lalu, dua senator AS mengisyaratkan ke kongres AS agar memberikan predikat kepada china sebagai “Currency Manipulator”. Atau Negara yang dengan sengaja memanipulasi mata uangnya demi tujuan maupun kepentingan Negara itu sendiri.
Ada beberapa alasan mengapa China menolak tekanan Amerika, yakni : melindungi produk China agar tetap kompetitif di pasar, menjaga agar nilai ekspor china tetap terjaga, menguasai pangsa pasar dunia, menumpuk cadangan devisa ataupun mengganti posisi Amerika sebagai Negara dengan tingkat PDB yang terbesar.
Tentunya ada begitu banyak penjelasan lain mengapa China melakukan kebijakan tersebut. Namun, Amerika juga punya alasan mengapa tetap menekan China. Amerika mengatakan kebijakan mata uang Yuan menciptakan ketidakseimbangan perdagangan antara kedua negara karena produk-produk China yang lebih murah harganya lebih banyak diserap pasar Amerika dibandingkan dengan barang-barang Amerika yang mahal yang masuk ke pasaran Cina dan kurang kompetitif.
Dengan menekan China, AS berharap China mampu menjadi pengganti AS yang sedang dilanda krisis untuk menjadi motor penggerak ekonomi dunia. AS memang berada dalam posisi yang kurang menguntungkan apabila dihadapkan dengan China. Kalau mengharapkan China menggantikan AS maka proses peralihan tersebut tidaklah semudah dan secepat yang diharapkan.
Kesalahan AS sebagai Negara yang besar karena defisit melebar serta hutang yang banyak, dan sedang dilanda krisis hebat memang membutuhkan China agar turut mampu menjadi stimulus untuk mengurangi permasalahan AS sendiri seperti pengangguran serta menkan defisit. Karena, Amerika yang terkena resesi akan lebih diuntungkan jika nilai tukar yuan terhadap dolar menguat atau dengan kata lain kurs dolar melemah, sehingga kinerja ekspor AS dapat ditingkatkan.
Begitulah perseteruan itu bergulir sebelumnya. Namun tgl 22 juni kemarin Nilai tukar yuan mengalami kenaikan tajam. Yuan menguat ke posisi tertinggi sejak mata uang ini di-revaluasi pada tahun 2005 lalu. Selain itu, Bank sentral China berjanji akan membiarkan nilai tukar yuan makin mengambang dengan bebas serta membuktikan komitmen China untuk membiarkan nilai tukar mata uang yang fleksibel.
China memutuskan melonggarkan kontrol terhadap nilai tukar yuan menjelang pertemuan negara anggota G-20 yang akan berlangsung akhir minggu ini. Selama dua tahun belakangan bank sentral China menerapkan kebijakan nilai tukar fixed terhadap dolar AS yang telah memicu banyak kritik dan menimbulkan ketegangan perdagangan antara AS dan China. China melunak rupanya.
Namun, bukan berarti permasalahan krisis langsung terselesaikan. Butuh pembuktian nyata apakah revaluasi Yuan saat ini benar-benar berdampak langsung terhadap proses pemulihan ke arah yang positif. Bisa saja ya, namun bagaimana kalau permasalahan krisis itu terbukti benar karena kesalahan AS yang punya banyak hutang serta kebijakan yang ceroboh dengan membiarkan deficit yang besar. Kalauitu terbukti, maka China dapat berubah pikiran untuk tetap mematok mata uangnya.
Semua yang disajikan didalam Blog ini merupakan artikel yang dimuat dibeberapa Media Cetak dalam negeri. Merupakan opini pribadi dan tidak merefleksikan pandangan dari institusi dimana penulis bekerja saat ini. Semoga Bermanfaat.
Sunday, February 13, 2011
Jangan Lengah Saat Piala Dunia
Medan Bisnis, 21 Juni 2010
Transaksi di lantai bursa boleh saja menipis dari hari kejari seiring dengan perhelatan akbar piala dunia. Sebelum piala dunia di gelar, tepatnya satu pekan sebelum di mulai indeks mulai bergerak dengan tren yang turun. Namun, setelah perhelatan akbar tersebut dimulai indeks harga saham gabung terus merangkak naik.
Sebelum piala dunia dimulai, indeks bursa di amerika pernah diperdagangkan di bawah level 10.000. Namun, setelah itu indeks bursa dow jones perlahan tapi pasti merangkak naik dan membuat indeks bursa lain turut terangkat ke atas. Pada saat semua mata tertuju pada ajang sepak bola piala dunia, Yunani, Portugal dan Spanyol mulai berbenah terhadap perekonomian yang saat ini sedang di landa krisis.
Saya pikir kita harus tetap memantau perkembangan seputar dunia keuangan yang terakhir. Jangan sampai kita ketinggalan kereta dan baru menyadari bahwa indeks ternyata sudah menembus 3000 karena kita tanpa sadar terfokus pada ajang piala dunia. Lihat saja indeks harga saham gabungan yang saat ini sudah mendekati level 2900. sadar atau tidak, IHSG mencoba membuat rekor tertinggi yang baru.
Perlahan tapi pasti, itulah ungkapan yang pas untuk kinerja IHSG. Investor asing kembali membeli saham-saham yang dinilai masih murah. Selama perhelatan piala dunia IHSG terus membukukan kenaikan yang ternyata lebih besar dari kenaikan indeks bursa regional maupun global. Di saat Hang Seng maupun Nikkei bergerak naik dikisaran nol koma sekian persen, IHSG bergerak diatas itu yakni naik dikisaran 1 Persen.
Meskipun kenaikan IHSG tidak sepenuhnya didukung oleh volume transaksi yang besar. Hal ini menunjukan bahwa ada yang mencoba mencuri kesempatan di saat semua orang lengah. Kelengahan tersebut bisa saja datang dari para analis yang menyatakan bahwa indeks selama piala dunia bergerak dengan kecenderungan turun. Atau bisa saja karena pelaku dipasar modal lebih mengikuti turnamen dalam ajang piala dunia dari pada perkembangan di dunia keuangan.
Ataupun ada alasan lain yang lebih bisa menjelaskan mengapa pasar yang bisa dibilang memasuki tren bullish saat ini, meskipun tidak dibarengi dengan volume transaksi yang besar. Historis mungkin bisa saja membuat fakta sedemikian rupa sehingga kita mempercayai bahwa yang pernah terjadi di masa lalu akan kembali terulang di masa yang akan datang.
Namun, faktor fundamental selalu mengungkapkan fakta yang tidak pernah bohong. Fundamental selalu membawa kita pada kenyataan yang sulit untuk dipungkiri. Fundamental itu bisa datang dari ekspektasi terhadap perekonomian di masa yang akan datang ataupun kinerja perusahaan yang memang masih sangat prospektif nantinya.
Fundamental, itulah ungkapan yang pas untuk menjelaskan kenapa bursa kita tetap naik walaupun banyak yang bilang akan turun di saat piala dunia. Lebih dari itu, disaat pemerintah menaikan traif dasar listrik (TDL), namun IHSG masih saja tetap melaju meskipun ada ancaman inflasi. Ini bukti bahwa fundamental ekonomi kita masih tetap solid nantinya.
Inflasi yang tercipta setelah kenaikan TDL memang akan menciptakan lonjakan inflasi. Meski demikian kejutan inflasi tersebut hanya terjadi sesaat, tidak akan membuat tekanan inflasi dalam jangka yang panjang. Karena ada indikator ekonomi lain yang akan membaik nantinya seiring dengan pengurangan subsidi pemerintah, salah satunya adalah cadangan devisa.
Meskipun kita belum sepenuhnya terlepas dari krisis. Namun jangan dilupakan kalau semua negara yang terkena krisis tengah bersusah payah mengatasinya, dan progress nya kian membuat pasar optimis. Kalau anda optimis bahwa negara jagoan anda akan menang dalam piala dunia, saya optimis IHSG akan terus membentuk tren bullish meskipun negara jagoan saya kalah dalam piala dunia.
Transaksi di lantai bursa boleh saja menipis dari hari kejari seiring dengan perhelatan akbar piala dunia. Sebelum piala dunia di gelar, tepatnya satu pekan sebelum di mulai indeks mulai bergerak dengan tren yang turun. Namun, setelah perhelatan akbar tersebut dimulai indeks harga saham gabung terus merangkak naik.
Sebelum piala dunia dimulai, indeks bursa di amerika pernah diperdagangkan di bawah level 10.000. Namun, setelah itu indeks bursa dow jones perlahan tapi pasti merangkak naik dan membuat indeks bursa lain turut terangkat ke atas. Pada saat semua mata tertuju pada ajang sepak bola piala dunia, Yunani, Portugal dan Spanyol mulai berbenah terhadap perekonomian yang saat ini sedang di landa krisis.
Saya pikir kita harus tetap memantau perkembangan seputar dunia keuangan yang terakhir. Jangan sampai kita ketinggalan kereta dan baru menyadari bahwa indeks ternyata sudah menembus 3000 karena kita tanpa sadar terfokus pada ajang piala dunia. Lihat saja indeks harga saham gabungan yang saat ini sudah mendekati level 2900. sadar atau tidak, IHSG mencoba membuat rekor tertinggi yang baru.
Perlahan tapi pasti, itulah ungkapan yang pas untuk kinerja IHSG. Investor asing kembali membeli saham-saham yang dinilai masih murah. Selama perhelatan piala dunia IHSG terus membukukan kenaikan yang ternyata lebih besar dari kenaikan indeks bursa regional maupun global. Di saat Hang Seng maupun Nikkei bergerak naik dikisaran nol koma sekian persen, IHSG bergerak diatas itu yakni naik dikisaran 1 Persen.
Meskipun kenaikan IHSG tidak sepenuhnya didukung oleh volume transaksi yang besar. Hal ini menunjukan bahwa ada yang mencoba mencuri kesempatan di saat semua orang lengah. Kelengahan tersebut bisa saja datang dari para analis yang menyatakan bahwa indeks selama piala dunia bergerak dengan kecenderungan turun. Atau bisa saja karena pelaku dipasar modal lebih mengikuti turnamen dalam ajang piala dunia dari pada perkembangan di dunia keuangan.
Ataupun ada alasan lain yang lebih bisa menjelaskan mengapa pasar yang bisa dibilang memasuki tren bullish saat ini, meskipun tidak dibarengi dengan volume transaksi yang besar. Historis mungkin bisa saja membuat fakta sedemikian rupa sehingga kita mempercayai bahwa yang pernah terjadi di masa lalu akan kembali terulang di masa yang akan datang.
Namun, faktor fundamental selalu mengungkapkan fakta yang tidak pernah bohong. Fundamental selalu membawa kita pada kenyataan yang sulit untuk dipungkiri. Fundamental itu bisa datang dari ekspektasi terhadap perekonomian di masa yang akan datang ataupun kinerja perusahaan yang memang masih sangat prospektif nantinya.
Fundamental, itulah ungkapan yang pas untuk menjelaskan kenapa bursa kita tetap naik walaupun banyak yang bilang akan turun di saat piala dunia. Lebih dari itu, disaat pemerintah menaikan traif dasar listrik (TDL), namun IHSG masih saja tetap melaju meskipun ada ancaman inflasi. Ini bukti bahwa fundamental ekonomi kita masih tetap solid nantinya.
Inflasi yang tercipta setelah kenaikan TDL memang akan menciptakan lonjakan inflasi. Meski demikian kejutan inflasi tersebut hanya terjadi sesaat, tidak akan membuat tekanan inflasi dalam jangka yang panjang. Karena ada indikator ekonomi lain yang akan membaik nantinya seiring dengan pengurangan subsidi pemerintah, salah satunya adalah cadangan devisa.
Meskipun kita belum sepenuhnya terlepas dari krisis. Namun jangan dilupakan kalau semua negara yang terkena krisis tengah bersusah payah mengatasinya, dan progress nya kian membuat pasar optimis. Kalau anda optimis bahwa negara jagoan anda akan menang dalam piala dunia, saya optimis IHSG akan terus membentuk tren bullish meskipun negara jagoan saya kalah dalam piala dunia.
Fokus Pasar Yang beralih Ke Piala Dunia
Medan Bisnis, 14 Juni 2010
Pagelaran akbar empat tahun sekali Piala Dunia telah dimulai dengan menyuguhkan pertandingan perdana antara Mexico dan Afrika Selatan yang berakhir dengan 1-1. Perhelatan yang diikuti 32 negara tersebut diyakini akan menjadi magnet tersendiri yang mampu menggeser sentiment investor di pasar keuangan. Meskipun sepak bola tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar keuangan, namun habit dari orang yang gila bola mampu membuat kita dapat melupakan dunia keuangan walaupun dalam tempo sesaat.
Fokus khalayak ramai akan terpaku kepada kinerja tim sepak bola di lapangan. Dan yang pasti kita tidak akan menemukan Negara besar ekonomi seperti AS dan China serta merta merajai dunia persepakbolaan,apalagi memenangkan tropi piala dunia – kecuali AS yang masuk dalam kompetisi, sehingga memiliki peluang untuk menjadi juara.
Dunia sepak bola tentunya berbeda dengan dunia keuangan. Sehingga kita tidak dapat mengukur kemampuan sebuah Negara besar (PDB yang tinggi) turut menjadi besar pula dalam dunia sepak bola. Kecuali dalam olimpiade, Negara besar seperti AS dan China kerap identik dengan merebut gelar juara di olimpiade. Karena Brazil yang sudah merebut gelar juara 5 kali dalam piala dunia, bukan merupakan Negara dengan PDB tertinggi, karena PDB Brazil berada diurutan 9 Dunia.
Brazil memang fantastis di dunia sepak bola. Tapi ekonomi brazil tidak sehebat Negara lain yang juga di jagokan di piala dunia. Lihat saja Italia, Negara yang juga difavoritkan juara pada piala dunia kali ini, masih lebih unggul dari Brazil kalau dilihat dari PDB nya. Kalau PDB dibandingkan dengan sepak bola. Maka AS dan China lah yang lebih “memalukan”. Terlebih China dengan PDB yang besar serta berpeluang menggeser AS sebagai Negara adidaya ekonomi dunia. China tidak tampil sama sekali di piala dunia.
Oleh karena itu, sulit untuk menemukan tolak ukur maupun formula yang tepat untuk mengukur sejauh mana hubungan atau korelasi antara ekonomi dengan sepak bola. Namun, banyak yang berpendapat bahwa pagelaran piala dunia selalu membuat pasar saham sepi transaksi, dan IHSG lebih cenderung turun pada saat piala dunia. Hebat.
Berdasarkan pengalaman pada Piala Dunia 2006 (9 Juni-9 Juli), indeks cenderung menurun sejak pertengahan Mei 2006. Tren ini diprediksi berlanjut sampai pelaksanaan turnamen Piala Dunia 2010. Kalau berkiblat pada data sebelumnya, maka kita akan melihat IHSG bergerak sideways dengan kecenderungan melemah. Nah, apa jadinya kalau piala dunia di selenggarakan di Negara dengan ekonomi besar seperti AS, Eropa dan Asia (China).
Di Indonesia saja pelaku pasar modalnya mulai kehilangan fokus. Bagaimana kalau sempat pelaku pasar modal di Negara besar tersebut kehilangan fokus. Tentunya indeks bursa global akan mengalami hal yang serupa yakni semua bursa dunia berpeluang terkoreksi. Sehingga kesimpulan yang akan mengemuka adalah Piala Dunia pemicu turunnya indeks bursa global.
Yang menarik bagi penulis adalah Korea Utara. Negara yang tertutup ekonominya itu, juga menutup diri dalam ajang sepak bola dunia. Dalam rilis di sebuah berita elektronik, Korea Utara melarang pemainnya untuk berinteraksi dengan wartawan. Korea Utara kian membuat orang berpikir bahwa Korea Utara sangat misterius.
Berbicara mengenai Ekonomi, Korea Utara sempat membuat indeks bursa global rontok pada saat Korea Utara dituding sebagai penyebab tenggelamnya kapal Korea Selatan. Dan berpotensi memicu perang di semenanjung korea. Coba kita bayangkan, apa jadinya bila Korea Utara bertemu Korea Selatan di ajang piala dunia. Mungkin perang tersebut sekaligus menjadi perang idiologi antara kedua Negara tersebut. Semoga saja piala dunia berjalan lancar dan tidak menimbulkan dampak negative terhadap pasar keuangan dunia.
Pagelaran akbar empat tahun sekali Piala Dunia telah dimulai dengan menyuguhkan pertandingan perdana antara Mexico dan Afrika Selatan yang berakhir dengan 1-1. Perhelatan yang diikuti 32 negara tersebut diyakini akan menjadi magnet tersendiri yang mampu menggeser sentiment investor di pasar keuangan. Meskipun sepak bola tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar keuangan, namun habit dari orang yang gila bola mampu membuat kita dapat melupakan dunia keuangan walaupun dalam tempo sesaat.
Fokus khalayak ramai akan terpaku kepada kinerja tim sepak bola di lapangan. Dan yang pasti kita tidak akan menemukan Negara besar ekonomi seperti AS dan China serta merta merajai dunia persepakbolaan,apalagi memenangkan tropi piala dunia – kecuali AS yang masuk dalam kompetisi, sehingga memiliki peluang untuk menjadi juara.
Dunia sepak bola tentunya berbeda dengan dunia keuangan. Sehingga kita tidak dapat mengukur kemampuan sebuah Negara besar (PDB yang tinggi) turut menjadi besar pula dalam dunia sepak bola. Kecuali dalam olimpiade, Negara besar seperti AS dan China kerap identik dengan merebut gelar juara di olimpiade. Karena Brazil yang sudah merebut gelar juara 5 kali dalam piala dunia, bukan merupakan Negara dengan PDB tertinggi, karena PDB Brazil berada diurutan 9 Dunia.
Brazil memang fantastis di dunia sepak bola. Tapi ekonomi brazil tidak sehebat Negara lain yang juga di jagokan di piala dunia. Lihat saja Italia, Negara yang juga difavoritkan juara pada piala dunia kali ini, masih lebih unggul dari Brazil kalau dilihat dari PDB nya. Kalau PDB dibandingkan dengan sepak bola. Maka AS dan China lah yang lebih “memalukan”. Terlebih China dengan PDB yang besar serta berpeluang menggeser AS sebagai Negara adidaya ekonomi dunia. China tidak tampil sama sekali di piala dunia.
Oleh karena itu, sulit untuk menemukan tolak ukur maupun formula yang tepat untuk mengukur sejauh mana hubungan atau korelasi antara ekonomi dengan sepak bola. Namun, banyak yang berpendapat bahwa pagelaran piala dunia selalu membuat pasar saham sepi transaksi, dan IHSG lebih cenderung turun pada saat piala dunia. Hebat.
Berdasarkan pengalaman pada Piala Dunia 2006 (9 Juni-9 Juli), indeks cenderung menurun sejak pertengahan Mei 2006. Tren ini diprediksi berlanjut sampai pelaksanaan turnamen Piala Dunia 2010. Kalau berkiblat pada data sebelumnya, maka kita akan melihat IHSG bergerak sideways dengan kecenderungan melemah. Nah, apa jadinya kalau piala dunia di selenggarakan di Negara dengan ekonomi besar seperti AS, Eropa dan Asia (China).
Di Indonesia saja pelaku pasar modalnya mulai kehilangan fokus. Bagaimana kalau sempat pelaku pasar modal di Negara besar tersebut kehilangan fokus. Tentunya indeks bursa global akan mengalami hal yang serupa yakni semua bursa dunia berpeluang terkoreksi. Sehingga kesimpulan yang akan mengemuka adalah Piala Dunia pemicu turunnya indeks bursa global.
Yang menarik bagi penulis adalah Korea Utara. Negara yang tertutup ekonominya itu, juga menutup diri dalam ajang sepak bola dunia. Dalam rilis di sebuah berita elektronik, Korea Utara melarang pemainnya untuk berinteraksi dengan wartawan. Korea Utara kian membuat orang berpikir bahwa Korea Utara sangat misterius.
Berbicara mengenai Ekonomi, Korea Utara sempat membuat indeks bursa global rontok pada saat Korea Utara dituding sebagai penyebab tenggelamnya kapal Korea Selatan. Dan berpotensi memicu perang di semenanjung korea. Coba kita bayangkan, apa jadinya bila Korea Utara bertemu Korea Selatan di ajang piala dunia. Mungkin perang tersebut sekaligus menjadi perang idiologi antara kedua Negara tersebut. Semoga saja piala dunia berjalan lancar dan tidak menimbulkan dampak negative terhadap pasar keuangan dunia.
Kecemasan Baru Muncul di Semenanjung Korea
Medan Bisnis, 31 Mei 2010
Dalam perdagangan beberapa hari terakhir sebelumnya Bursa saham Korea Selatan ditutup turun, tertekan oleh ketidakpastian hubungan politik dengan korea utara. Tim investigasi mengatakan Korea Utara sengaja menenggelamkan kapal perang Korea. Bursa pun berguguruan ditambah sentimen negatif kekhawatiran yang terus berlanjut di kawasan Eropa.
Mata uang Dollar AS pun ikut naik tajam terhadap won Korea. Dan diyakini ketegangan korea yang berkelanjutan akan memberikan tekanan terhadap Kospi, ditengah kekhawatiran yang masih berlanjut pada perekonomian kawasan Eropa. Korea Selatan merupakan Negara yang banyak menghasilkan Chip serta memiliki industri besar di bidang otomotif harus menelan pil pahit karena saham di sektor tersebut berguguran.
Dampak yang paling menonjol dari ketegangan korea adalah rontoknya indeks bursa di kawasan asia, tanpa terkecuali Indonesia. Meski dalam kondisi tegang dan berpeluang menciptakan perang baru, namun perkembangan terhadap proses yang sedang terjadi sepertinya masih dapat meminimalisir kemungkinan rontoknya indeks bursa. Hingga perang yang dikhawatirkan itu benar-benar terjadi.
Korea Utara merupakan Negara yang unik sebagai negara sosialis, namun dikelilingi oleh negara dengan ekonomi liberal yang berpendapatan tinggi. Akan tetapi korut sendiri tidak terpengaruh dengan liberalisasi negara-negara tetangganya. Korea Utara memiliki ideologi yang mengatur dan menjadi kunci utama hubungan luar negeri korea utara. Korea Utara mengisolasi negerinya dari perdagangan luar negeri. Dan sulit buat Negara di kawasan Asia Timur yang mengharapkan adanya regionalisasi kawasan.
Meskipun mengisolasi negaranya dari perdagangan, namun bukan berarti korut tidak melakukan perdagangan sama sekali, hanya saja terbatas. Partai yang berkuasa di Korea Utara adalah Democratic People’s Republic of Korea (DPRK: Korea Utara) yang diciptakan oleh Kim Il Sung. Dengan ideologi juche sebagai panduan utamanya. Sehingga negeri ini tidak akan terpengaruh secara langsung terhadap berbagai macam krisis yang terjadi di luar negeri seperti AS dan Eropa saat ini.
Bahkan dalam kebijakan pertahanan Negara, Korut menggunakan cara-cara yang sangat di tentang oleh Negara luar karena dinilai sangat provokatif. Bentuk pertahanan tersebut tekah dibuktikan dengan ditenggelamkannya kapal milik Korea selatan yang membuat indeks KOSPI korsel terseret dalam teritori negatif.
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Asia, kehadiran Korut seharusnya bisa mengharmonisasikan perdagangan di kawasan Asia, dan Indonesia juga berpeluang dapat melakukan kerjasama dengan Korea Utara. Pertanyaan yang muncul adalah apakah juche yang mengendalikan perilaku Korut mau membuka dirinya dalam kancah perdagangan yang lebih luas dengan Negara lain atau liberalis.
Beberapa ancaman yang timbul seperti, Ancaman yang timbul dikarenakan oleh kompetisi kekuatan besar beberapa Negara (balance of power contest) untuk menguasai aspek-aspek tertentu, akhirnya akan mengabaikan bentuk kerja sama. Ancaman yang lain adalah grass fire conflicts dimana ancaman keamanan berasal dari permasalahan lokal antar negara dalam kawasan. Ancaman tersebut sepertinya lebih dapat menggambarkan kemelut yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara saat ini.
Dengan sistem keuangan yang terintegrasi seperti saat ini. Korut yang saat ini telah menyebarkan ancaman perang dengan korea selatan tentunya akan memberikan dampak besar terhadap pasar keuangan dunia termasuk Indonesia. Dan apabila ketegangan itu terus berlanjut dengan intensitas yang meningkat maka pasar keuangan regional juga akan membentuk pola yang serupa.
Dalam perdagangan beberapa hari terakhir sebelumnya Bursa saham Korea Selatan ditutup turun, tertekan oleh ketidakpastian hubungan politik dengan korea utara. Tim investigasi mengatakan Korea Utara sengaja menenggelamkan kapal perang Korea. Bursa pun berguguruan ditambah sentimen negatif kekhawatiran yang terus berlanjut di kawasan Eropa.
Mata uang Dollar AS pun ikut naik tajam terhadap won Korea. Dan diyakini ketegangan korea yang berkelanjutan akan memberikan tekanan terhadap Kospi, ditengah kekhawatiran yang masih berlanjut pada perekonomian kawasan Eropa. Korea Selatan merupakan Negara yang banyak menghasilkan Chip serta memiliki industri besar di bidang otomotif harus menelan pil pahit karena saham di sektor tersebut berguguran.
Dampak yang paling menonjol dari ketegangan korea adalah rontoknya indeks bursa di kawasan asia, tanpa terkecuali Indonesia. Meski dalam kondisi tegang dan berpeluang menciptakan perang baru, namun perkembangan terhadap proses yang sedang terjadi sepertinya masih dapat meminimalisir kemungkinan rontoknya indeks bursa. Hingga perang yang dikhawatirkan itu benar-benar terjadi.
Korea Utara merupakan Negara yang unik sebagai negara sosialis, namun dikelilingi oleh negara dengan ekonomi liberal yang berpendapatan tinggi. Akan tetapi korut sendiri tidak terpengaruh dengan liberalisasi negara-negara tetangganya. Korea Utara memiliki ideologi yang mengatur dan menjadi kunci utama hubungan luar negeri korea utara. Korea Utara mengisolasi negerinya dari perdagangan luar negeri. Dan sulit buat Negara di kawasan Asia Timur yang mengharapkan adanya regionalisasi kawasan.
Meskipun mengisolasi negaranya dari perdagangan, namun bukan berarti korut tidak melakukan perdagangan sama sekali, hanya saja terbatas. Partai yang berkuasa di Korea Utara adalah Democratic People’s Republic of Korea (DPRK: Korea Utara) yang diciptakan oleh Kim Il Sung. Dengan ideologi juche sebagai panduan utamanya. Sehingga negeri ini tidak akan terpengaruh secara langsung terhadap berbagai macam krisis yang terjadi di luar negeri seperti AS dan Eropa saat ini.
Bahkan dalam kebijakan pertahanan Negara, Korut menggunakan cara-cara yang sangat di tentang oleh Negara luar karena dinilai sangat provokatif. Bentuk pertahanan tersebut tekah dibuktikan dengan ditenggelamkannya kapal milik Korea selatan yang membuat indeks KOSPI korsel terseret dalam teritori negatif.
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Asia, kehadiran Korut seharusnya bisa mengharmonisasikan perdagangan di kawasan Asia, dan Indonesia juga berpeluang dapat melakukan kerjasama dengan Korea Utara. Pertanyaan yang muncul adalah apakah juche yang mengendalikan perilaku Korut mau membuka dirinya dalam kancah perdagangan yang lebih luas dengan Negara lain atau liberalis.
Beberapa ancaman yang timbul seperti, Ancaman yang timbul dikarenakan oleh kompetisi kekuatan besar beberapa Negara (balance of power contest) untuk menguasai aspek-aspek tertentu, akhirnya akan mengabaikan bentuk kerja sama. Ancaman yang lain adalah grass fire conflicts dimana ancaman keamanan berasal dari permasalahan lokal antar negara dalam kawasan. Ancaman tersebut sepertinya lebih dapat menggambarkan kemelut yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara saat ini.
Dengan sistem keuangan yang terintegrasi seperti saat ini. Korut yang saat ini telah menyebarkan ancaman perang dengan korea selatan tentunya akan memberikan dampak besar terhadap pasar keuangan dunia termasuk Indonesia. Dan apabila ketegangan itu terus berlanjut dengan intensitas yang meningkat maka pasar keuangan regional juga akan membentuk pola yang serupa.
Sudah Berakhirkah Krisis di Eropa?
Medan Bisnis, 24 Mei 2010
Indeks bursa saham di Amerika naik setelah sempat turun tajam dalam perdagangan beberapa minggu terkahir. Melemahnya mata uang Euro serta memburuknya kinerja harga komoditas memicu investor melepas kepemilikan portofolio di lantai bursa dan pasar keuangan.
Mata uang US$ pun kembali menjadi incaran di tengah kondisi yang serba tidak pasti seperti sekarang. Alhasil, US$ pun menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia termasuk Rupiah. Namun, keperkasaan US$ tidak serta merta diikuti oleh membaiknya kinerja indeks bursa Dow Jones yang dalam beberapa hari perdagangan terkahir berada di bawah tekanan.
Pada perdagangan jumat akhir minggu kemarinm, Dow Jones kembali unjuk gigi dengan menguat di atas 1 persen. Namun, penguatan tersebut lebih dikarenakan dengan membaiknya data-data perekonomias AS seperti data penjualan rumah baru, permintaan barang-barang yang meningkat serta daya beli masyarakat AS. Dimana untuk setiap data yang dikeluarkan tersebut mengalami kenaikan.
Berita positif untuk AS, dan akan mempengaruhi kinerja pasar saham dan pasar keuangan dalam negeri. Mungkinkah?, bukankah IHSG dan Rupiah dalam beberapa pekan terkahir juga luruh akibat dampak krisis dari Yunani dan Negara eropa lainnya. Bahkan Amerika juga kebagian dampak negatif dari memburuknya kinerja ekonomi dikawasan itu.
Kalau berbicara mengenai kemungkinan ya tentunya mungkin saja. Namun, mungkinkah kawasan eropa benar-benar telah pulih. Tentunya kita tidak dapat melihat dari kinerja indeks bursanya saja yang akhir minggu kemarin kebetulan ditutup di teritori positif. Karena Indonesia sebenarnya juga memiliki fundamental yang baik namun kinerja indeks bursanya masih saja jelek (diterpa guncangan eksternal).
Banyak ekonom yang memperkirakan bahwa Eropa masih sangat rentan dengan potensi krisis baru yang akan muncul. Bahkan ada yang menyimpulkan bahwa depresi hebat di tahun 1933 kemungkinan besar akan terjadi di Negara kawasan Eropa saat ini. Dikarenakan banyaknya hutang pemerintah di banyak Negara.
Dan rasio utang tersebut masih belum turun meskipun berada di kondisi yang stabil. Kalaupun pemerintah menggelontorkan sejumlah uang untuk menyelamatkan perekonomiannya baik dengan cara meminjam atau lewat subsidi. Maka kemungkinan selanjutnya adalah tingginya inflasi dan bangkrut.
Sementara itu, dilain sisi defisit neraca yang terjadi sudah cukup besar sehingga akan menambah beban dan berpotensi menciptakan krisis yang baru. Masalah yang paling mendasar adalah bagaimana meningkatkan pertumbuhan sementara defisit dapat dikatakan anggaran sulit untuk dikendalikan. Maka resesi yang lebih dalam berpeluang untuk terjadi.
Bukan hanya Yunani. Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan Spanyol (PIIGS) disinyalir memiliki permasalahan yang jauh lebih besar dibandingkan utang yang tinggi. Ekonom juga mempermasalahkan penguatan mata uang Euro selama periode 2006-2008. Sehingga berdampak pada mahalnya mata uang Euro yang saat ini tengah terpuruk terhadap mata uang dunia.
Hadirnya China sebagai motor penggerak ekonomi baru serta Negara di kawasan Asia lainnya turut memberikan kontribusi terhadap menurunnya daya saing di eropa. Bumi terus berputar dan terus merubah posisi setiap yang ada di dunia ini untuk terus mengikuti siklus hidup yang ditentukan dari alam. Guna meminimalisir kemungkinan resiko yang timbul akibat krisis, tetaplah berhati-hati apabila masuk ke bursa saham. Terlihat harga saham memang sudah murah, namun tidak ada garansi akan turun dan lebih murah lagi.
Indeks bursa saham di Amerika naik setelah sempat turun tajam dalam perdagangan beberapa minggu terkahir. Melemahnya mata uang Euro serta memburuknya kinerja harga komoditas memicu investor melepas kepemilikan portofolio di lantai bursa dan pasar keuangan.
Mata uang US$ pun kembali menjadi incaran di tengah kondisi yang serba tidak pasti seperti sekarang. Alhasil, US$ pun menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia termasuk Rupiah. Namun, keperkasaan US$ tidak serta merta diikuti oleh membaiknya kinerja indeks bursa Dow Jones yang dalam beberapa hari perdagangan terkahir berada di bawah tekanan.
Pada perdagangan jumat akhir minggu kemarinm, Dow Jones kembali unjuk gigi dengan menguat di atas 1 persen. Namun, penguatan tersebut lebih dikarenakan dengan membaiknya data-data perekonomias AS seperti data penjualan rumah baru, permintaan barang-barang yang meningkat serta daya beli masyarakat AS. Dimana untuk setiap data yang dikeluarkan tersebut mengalami kenaikan.
Berita positif untuk AS, dan akan mempengaruhi kinerja pasar saham dan pasar keuangan dalam negeri. Mungkinkah?, bukankah IHSG dan Rupiah dalam beberapa pekan terkahir juga luruh akibat dampak krisis dari Yunani dan Negara eropa lainnya. Bahkan Amerika juga kebagian dampak negatif dari memburuknya kinerja ekonomi dikawasan itu.
Kalau berbicara mengenai kemungkinan ya tentunya mungkin saja. Namun, mungkinkah kawasan eropa benar-benar telah pulih. Tentunya kita tidak dapat melihat dari kinerja indeks bursanya saja yang akhir minggu kemarin kebetulan ditutup di teritori positif. Karena Indonesia sebenarnya juga memiliki fundamental yang baik namun kinerja indeks bursanya masih saja jelek (diterpa guncangan eksternal).
Banyak ekonom yang memperkirakan bahwa Eropa masih sangat rentan dengan potensi krisis baru yang akan muncul. Bahkan ada yang menyimpulkan bahwa depresi hebat di tahun 1933 kemungkinan besar akan terjadi di Negara kawasan Eropa saat ini. Dikarenakan banyaknya hutang pemerintah di banyak Negara.
Dan rasio utang tersebut masih belum turun meskipun berada di kondisi yang stabil. Kalaupun pemerintah menggelontorkan sejumlah uang untuk menyelamatkan perekonomiannya baik dengan cara meminjam atau lewat subsidi. Maka kemungkinan selanjutnya adalah tingginya inflasi dan bangkrut.
Sementara itu, dilain sisi defisit neraca yang terjadi sudah cukup besar sehingga akan menambah beban dan berpotensi menciptakan krisis yang baru. Masalah yang paling mendasar adalah bagaimana meningkatkan pertumbuhan sementara defisit dapat dikatakan anggaran sulit untuk dikendalikan. Maka resesi yang lebih dalam berpeluang untuk terjadi.
Bukan hanya Yunani. Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan Spanyol (PIIGS) disinyalir memiliki permasalahan yang jauh lebih besar dibandingkan utang yang tinggi. Ekonom juga mempermasalahkan penguatan mata uang Euro selama periode 2006-2008. Sehingga berdampak pada mahalnya mata uang Euro yang saat ini tengah terpuruk terhadap mata uang dunia.
Hadirnya China sebagai motor penggerak ekonomi baru serta Negara di kawasan Asia lainnya turut memberikan kontribusi terhadap menurunnya daya saing di eropa. Bumi terus berputar dan terus merubah posisi setiap yang ada di dunia ini untuk terus mengikuti siklus hidup yang ditentukan dari alam. Guna meminimalisir kemungkinan resiko yang timbul akibat krisis, tetaplah berhati-hati apabila masuk ke bursa saham. Terlihat harga saham memang sudah murah, namun tidak ada garansi akan turun dan lebih murah lagi.
Yunani Mengguncang Dunia
Medan Bisnis, 17 Mei 2010
Bantuan senilai 750 milar euro yang diprakarsai Uni Eropa berhasil mengangkat mata uang euro dan menenangkan pasar keuangan dunia sebelumnya, wujud solidaritas persatuan masyarakat uni eropa. Bantuan tersebut sebelumnya sempat menjadi euforia di bursa global, bahkan Wall Street mencatat penguatan terbesarnya dalam setahun terakhir. Rincian dana bantuan tersebut sekitar 440 miliar euro datang dari pemerintah zona euro sendiri, 250 miliar euro disediakan oleh IMF, sisanya 60 miliar euro datang dari anggaran Uni Eropa.
Keputusan itu diambil setelah melalui perdebatan dan kebimbangan di antara para pemimpin Eropa selama berminggu – minggu. Perdebatan telah menghantam mata uang euro dan menjatuhkan pasar dunia karena kecemasan krisis bisa menyebar. Permasalahan krisis yunani tersebut diperkirakan akan menyebar dan menghantam negara lain seperti spanyol dan portugal.
Yang menjadi kekhawatiran adalah paket tersebut tidak memecahkan masalah utama Eropa. Negara eropa lain menuding negara yang terbelit masalah dikatakan sembrono dan berdampak pada pelemahan Euro dan semua mitranya juga harus menanggung bebannya. Hutang yang dikucurkan untuk mengatasi masalah Eropa diperkirakan hanya akan memperburuk, karena harus menanggung beban hutang yang lebih besar.
Permasalahan Yunani jelas membuat proses pemulihan ekonomi global terganggu. Fokus penyelesaian krisis yang di mulai AS sebelumnya harus mengalami hambatan berat dan diperburuk oleh masalah di Eropa. Gali lubang untuk menutup lubang yang lama dinilai tidak akan efektip dan hanya akan menambah masalah yang lebih besar. Banyak ekonom memandang meminjamkan uang ke pemerintah yang sudah berutang banyak tidak akan menyelesaikan masalah.
Masalah yang mendasar yang dihadapi Yunani adalah PDB yang rendah, pengangguran yang tinggi dan produktivitas yang rendah. Bahkan untuk mendapatkan pinjaman luar biasa yang tersebut ada beberapa syarat yang harus dipenuhi Yunani, yakni pengetatan anggaran. Yunani harus memperketat anggaran agar bisa mengurangi defisitnya dari 13% PDB menjadi 3% sampai 2014. Jelas sekali hal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan Yunani adalah dengan menggenjot laju pertumbuhan. Karena itu bisa menjadi jawaban untuk menyelesaikan masalah. Akan tetapi bukan perkara yang mudah.
Negara uni eropa lainnya harus sigap dan mengambil langkah yang tepat guna mengatasi penyebaran krisis. UE harus mampu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap kemungkinan penyebaran krisis negara eropa lain. Mata uang Euro harus segera diselamatkan agar tidak menganggu perekonomian Eropa. Sejauh ini Bank sentral Eropa (ECB) membeli obligasi pemerintah dan swasta melalui pasar sekunder dalam rangka mengatasi krisis yang mengancam stabilitas euro.
Dalam pernyataannya, ECB mengatakan pihaknya ingin mengatasi gejolak di segmen pasar tertentu yang membahayakan mekanisme dan pelaksanaan kebijakan moneter. Oleh karena itu, ECB akan mengintervensi pasar yang sedang disfungsi tersebut. Namun, skala intervensi tersebut masih harus diputuskan dewan. Karena pada dasarnya ECB tidak boleh membeli obligasi langsung dari pemerintah.
Kondisi di Yunani tersebut tentunya tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Yang tidak memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pasar eropa. Namun, volatilitas yang terjadi di pasar keuangan global akan membuat pasar kita turut terganggu. Indikator yang bias terlihat adalah terjadinya fluktuasi nilai tukar Rupiah dan IHSG.
Pelemahan Euro selalu akan diikuti oleh penguatan nilai tukar US$ terhadap rupiah dan akan terus menekan nilai tukar Rupiah. Dan secara psikologis pelaku pasar di pasar modal juga akan keluar dari pasar modal apabila kekhawatiran yang mengguncang masih terus berlanjut. Meskipun kita memiliki fundamental yang lebih baik.
Bantuan senilai 750 milar euro yang diprakarsai Uni Eropa berhasil mengangkat mata uang euro dan menenangkan pasar keuangan dunia sebelumnya, wujud solidaritas persatuan masyarakat uni eropa. Bantuan tersebut sebelumnya sempat menjadi euforia di bursa global, bahkan Wall Street mencatat penguatan terbesarnya dalam setahun terakhir. Rincian dana bantuan tersebut sekitar 440 miliar euro datang dari pemerintah zona euro sendiri, 250 miliar euro disediakan oleh IMF, sisanya 60 miliar euro datang dari anggaran Uni Eropa.
Keputusan itu diambil setelah melalui perdebatan dan kebimbangan di antara para pemimpin Eropa selama berminggu – minggu. Perdebatan telah menghantam mata uang euro dan menjatuhkan pasar dunia karena kecemasan krisis bisa menyebar. Permasalahan krisis yunani tersebut diperkirakan akan menyebar dan menghantam negara lain seperti spanyol dan portugal.
Yang menjadi kekhawatiran adalah paket tersebut tidak memecahkan masalah utama Eropa. Negara eropa lain menuding negara yang terbelit masalah dikatakan sembrono dan berdampak pada pelemahan Euro dan semua mitranya juga harus menanggung bebannya. Hutang yang dikucurkan untuk mengatasi masalah Eropa diperkirakan hanya akan memperburuk, karena harus menanggung beban hutang yang lebih besar.
Permasalahan Yunani jelas membuat proses pemulihan ekonomi global terganggu. Fokus penyelesaian krisis yang di mulai AS sebelumnya harus mengalami hambatan berat dan diperburuk oleh masalah di Eropa. Gali lubang untuk menutup lubang yang lama dinilai tidak akan efektip dan hanya akan menambah masalah yang lebih besar. Banyak ekonom memandang meminjamkan uang ke pemerintah yang sudah berutang banyak tidak akan menyelesaikan masalah.
Masalah yang mendasar yang dihadapi Yunani adalah PDB yang rendah, pengangguran yang tinggi dan produktivitas yang rendah. Bahkan untuk mendapatkan pinjaman luar biasa yang tersebut ada beberapa syarat yang harus dipenuhi Yunani, yakni pengetatan anggaran. Yunani harus memperketat anggaran agar bisa mengurangi defisitnya dari 13% PDB menjadi 3% sampai 2014. Jelas sekali hal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan Yunani adalah dengan menggenjot laju pertumbuhan. Karena itu bisa menjadi jawaban untuk menyelesaikan masalah. Akan tetapi bukan perkara yang mudah.
Negara uni eropa lainnya harus sigap dan mengambil langkah yang tepat guna mengatasi penyebaran krisis. UE harus mampu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap kemungkinan penyebaran krisis negara eropa lain. Mata uang Euro harus segera diselamatkan agar tidak menganggu perekonomian Eropa. Sejauh ini Bank sentral Eropa (ECB) membeli obligasi pemerintah dan swasta melalui pasar sekunder dalam rangka mengatasi krisis yang mengancam stabilitas euro.
Dalam pernyataannya, ECB mengatakan pihaknya ingin mengatasi gejolak di segmen pasar tertentu yang membahayakan mekanisme dan pelaksanaan kebijakan moneter. Oleh karena itu, ECB akan mengintervensi pasar yang sedang disfungsi tersebut. Namun, skala intervensi tersebut masih harus diputuskan dewan. Karena pada dasarnya ECB tidak boleh membeli obligasi langsung dari pemerintah.
Kondisi di Yunani tersebut tentunya tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Yang tidak memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pasar eropa. Namun, volatilitas yang terjadi di pasar keuangan global akan membuat pasar kita turut terganggu. Indikator yang bias terlihat adalah terjadinya fluktuasi nilai tukar Rupiah dan IHSG.
Pelemahan Euro selalu akan diikuti oleh penguatan nilai tukar US$ terhadap rupiah dan akan terus menekan nilai tukar Rupiah. Dan secara psikologis pelaku pasar di pasar modal juga akan keluar dari pasar modal apabila kekhawatiran yang mengguncang masih terus berlanjut. Meskipun kita memiliki fundamental yang lebih baik.
Sri Mulyani Mundur, IHSG dan Rupiah masuki Tren Turun
Medan Bisnis, 10 Mei 2010
Selama seminggu terakhir, IHSG kembali diwarnai aksi jual dari yang sebelumnya indeks sempat mencapai 3000-an sekarang harus berbalik dan berada di kisaran 2700-an. Demikian haknya dengan Rupiah yang kembali tertekan oleh mata uang US$ dari sebelumnya di level 9000-an kembali terkoreksi ke level 9200-an. Hal yang mendorog investor melakukan aksi ambil untung adalah memburuknya kondisis Yunani, harga minyak yang terkoreksi hingga mundurnya Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan.
Pasar kembali dibanjiri sentimen negative baik lokal dan eksternal. Padahal IHSG seharusnya lebih kuat dibandingkan dengan indeks global lainnya, karena Negara kita lebih baik sisi fundamentalnya dibandingkan Negara lain. Dan minggu ini kembali dibuktikan bahwa Negara kita masih sangat rentan dengan fluktuasi yang terjadi di pasar global.
Kisruh politik yang terjadi dalam penanganan kasus century gate sepertinya akan segera berakhir dengan mundurnya Sri Muyani dari jabatannya. Selama ini, permasalahan kasus century telah membuat koalisi pemerintah retak dan akan memasuki babak baru dalam penyelesaiannya. Bahkan beberapa partai yang telah meninggalkan koalisis sepertinya akan kembali rujuk dengan koalisi yang dibentuk pemerintah. Dimana sebelumnya kita melihat tekanan demi tekanan politik memang ditujukan kepada Sri Mulyani dan Boediono.
Akankah pengunduran Sri Mulyani berpengaruh positif terhadap persepsi pasar?. Mungkin Ya. Setidaknya permasalahan yang bisa dikatakan menghambat kinerja pemerintah saat ini bisa teratasi. Permasalahan century banyak menyita kegiatan elite penguasa negeri ini dan dinilai banyak kalangan tidak terfokus pada program-program pemerintah yang semestinya dilakukan.
Keputusan Sri Mulyani dinilai sebagai exit strategy yang jitu untuk keluar dari kemelut politik. Permasalahan yang akan dihadapi adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan investor yang sudah mulai meninggalkan Indonesia. Terlihat dari indikator kinerja IHSG dan nilai tukar Rupiah yang kian memburuk. Meskipun pengunduran Sri Mulyani berbarengan dengan permasalahan keuangan global (dari sisi eksternal). Di perkirakan pengaruh Sri Mulyani tidak akan begitu besar berdampak pada pasar keuangan secara keseluruhan.
Terlebih apabila SBY nanti mampu menggantikannya dengan sosok yang dinilai pro-pasar. Bukan tidak mungkin IHSG dan Rupiah akan kembali ujuk gigi serta mencetak rekor teringgi yang baru. Selain itu stabilitas politik akan lebih terjaga serta mengembalikan kepercayaan mitra koalisi partai untuk sama-sama bekerja dan fokus pada program-program yang dijalankan.
Yang penulis tanyakan adalah bagaimana dengan kelanjutan proses reformasi birokrasi di departemen keuangan khususnya perpajakan. Reformasi birokrasi yang dilakukan oleh Sri Mulyani sangat tepat dan cepat setelah terkuaknya kasus penggelapan pajak yang melibatkan Gayus H. Tambunan. Program reformasi birokrasi yang dilakukan Sri Mulyani sejatinya mendapatkan apresiasi dari kita semua. Karena apa? Karena Sri Mulyani tidak hanya berani mengungkap kasus terkait dengan aparat yang masih aktif saja, bahkan semua pejabat yang non aktif juga akan diperiksa.
Semoga akan ada menteri keuangan yang baru yang mampu mewakili semua aspirasi baik dari masyarakat umum, investor atau pelaku pasar, eksekutif hingga elite partai politik. Namun dengan tetap menjaga profesionalisme serta mengedepankan visi negeri ini untuk bebas korupsi. Penulis yakin masih banyak anak bangsa ini yang bisa bekerja seperti sosok Sri Mulyani atau bahkan lebih baik lagi.
Ditengah gunjangan pasar seperti sekarang ini dimana faktor eksternal lebih berperan dalam menggerakan harga saham maupun mata uang Rupiah. Dan telah membuat kedua indikator keuangan tersebut turun. Maka ada satu hal yang dapat menjadi pegangan kita semua yakni fundamental ekonomi kita masih bagus atau on the track. Percayalah tidak butuh waktu lama semuanya akan pulih, dan kita akan terlambat jika kita tidak masuk ke pasar saat ini juga.
Selama seminggu terakhir, IHSG kembali diwarnai aksi jual dari yang sebelumnya indeks sempat mencapai 3000-an sekarang harus berbalik dan berada di kisaran 2700-an. Demikian haknya dengan Rupiah yang kembali tertekan oleh mata uang US$ dari sebelumnya di level 9000-an kembali terkoreksi ke level 9200-an. Hal yang mendorog investor melakukan aksi ambil untung adalah memburuknya kondisis Yunani, harga minyak yang terkoreksi hingga mundurnya Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan.
Pasar kembali dibanjiri sentimen negative baik lokal dan eksternal. Padahal IHSG seharusnya lebih kuat dibandingkan dengan indeks global lainnya, karena Negara kita lebih baik sisi fundamentalnya dibandingkan Negara lain. Dan minggu ini kembali dibuktikan bahwa Negara kita masih sangat rentan dengan fluktuasi yang terjadi di pasar global.
Kisruh politik yang terjadi dalam penanganan kasus century gate sepertinya akan segera berakhir dengan mundurnya Sri Muyani dari jabatannya. Selama ini, permasalahan kasus century telah membuat koalisi pemerintah retak dan akan memasuki babak baru dalam penyelesaiannya. Bahkan beberapa partai yang telah meninggalkan koalisis sepertinya akan kembali rujuk dengan koalisi yang dibentuk pemerintah. Dimana sebelumnya kita melihat tekanan demi tekanan politik memang ditujukan kepada Sri Mulyani dan Boediono.
Akankah pengunduran Sri Mulyani berpengaruh positif terhadap persepsi pasar?. Mungkin Ya. Setidaknya permasalahan yang bisa dikatakan menghambat kinerja pemerintah saat ini bisa teratasi. Permasalahan century banyak menyita kegiatan elite penguasa negeri ini dan dinilai banyak kalangan tidak terfokus pada program-program pemerintah yang semestinya dilakukan.
Keputusan Sri Mulyani dinilai sebagai exit strategy yang jitu untuk keluar dari kemelut politik. Permasalahan yang akan dihadapi adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan investor yang sudah mulai meninggalkan Indonesia. Terlihat dari indikator kinerja IHSG dan nilai tukar Rupiah yang kian memburuk. Meskipun pengunduran Sri Mulyani berbarengan dengan permasalahan keuangan global (dari sisi eksternal). Di perkirakan pengaruh Sri Mulyani tidak akan begitu besar berdampak pada pasar keuangan secara keseluruhan.
Terlebih apabila SBY nanti mampu menggantikannya dengan sosok yang dinilai pro-pasar. Bukan tidak mungkin IHSG dan Rupiah akan kembali ujuk gigi serta mencetak rekor teringgi yang baru. Selain itu stabilitas politik akan lebih terjaga serta mengembalikan kepercayaan mitra koalisi partai untuk sama-sama bekerja dan fokus pada program-program yang dijalankan.
Yang penulis tanyakan adalah bagaimana dengan kelanjutan proses reformasi birokrasi di departemen keuangan khususnya perpajakan. Reformasi birokrasi yang dilakukan oleh Sri Mulyani sangat tepat dan cepat setelah terkuaknya kasus penggelapan pajak yang melibatkan Gayus H. Tambunan. Program reformasi birokrasi yang dilakukan Sri Mulyani sejatinya mendapatkan apresiasi dari kita semua. Karena apa? Karena Sri Mulyani tidak hanya berani mengungkap kasus terkait dengan aparat yang masih aktif saja, bahkan semua pejabat yang non aktif juga akan diperiksa.
Semoga akan ada menteri keuangan yang baru yang mampu mewakili semua aspirasi baik dari masyarakat umum, investor atau pelaku pasar, eksekutif hingga elite partai politik. Namun dengan tetap menjaga profesionalisme serta mengedepankan visi negeri ini untuk bebas korupsi. Penulis yakin masih banyak anak bangsa ini yang bisa bekerja seperti sosok Sri Mulyani atau bahkan lebih baik lagi.
Ditengah gunjangan pasar seperti sekarang ini dimana faktor eksternal lebih berperan dalam menggerakan harga saham maupun mata uang Rupiah. Dan telah membuat kedua indikator keuangan tersebut turun. Maka ada satu hal yang dapat menjadi pegangan kita semua yakni fundamental ekonomi kita masih bagus atau on the track. Percayalah tidak butuh waktu lama semuanya akan pulih, dan kita akan terlambat jika kita tidak masuk ke pasar saat ini juga.
Kerawanan Eksternal Yang Tinggi
Medan Bisnis, 3 Mei 2010
Indonesia memang berada dalam posisi yang sangat kuat terhadap guncangan krisis keuangan global tahun 2008 silam. Namun, bukan berarti Indonesia memang benar-benar kuat secara fundamental untuk menghadapi terpaan krisis. Hanya saja Indonesia masih diuntungkan dengan kondisi fundamental yang lebih baik jika dibandingkan dengan Negara lain sebagai tujuan investasi seperti terus mengalirnya dana jangka pendek atau biasa disebut dengan istilah Hot Money.
Meski demikian aliran dana yang masuk tersebut bukan berarti akan membuat Indonesia berada dalam zona nyaman. Aliran dana jangka pendek hanya akan bertahan selama Negara kita dinilai tetap lebih aman dan lebih menguntungkan sebagai tempat untuk berinvestasi. Begitu image nya memudar atau ada Negara lain yang lebih menjanjikan maka dana-dana tersebut siap untuk meninggalkan Indonesia.
Masalah ketimpangan yang dapat timbul adalah terjadinya gap atau ketimpangan yang diakibatkan oleh kinerja di sektor finansial yang terus menunjukan peforma baik namun tidak dibarengi dengan membaiknya kinerja sektor riil. Sehingga terciptalah gelembung – gelembung ekonomi (bubble) yang setiap saat bisa saja pecah.
Bahkan Asian Development Bank atau ADB selalu menempatkan Indonesia dalam posisi yang rawan terhadap guncangan eksternal. Indikator yang digunakan yakni utang jangka pendek, kepemilikan ekuitas serta kepemilikan nilai tukar oleh Asing dibagi dengan jumlah cadangan Devisa. Semakin besar presentasi tingkat kepemilikan asing terhadap asset-aset Indonesia maka semakin besar tingkat kerawanan Indonesia dalam menghadapi guncangan eksternal.
Di saat Indikator pasar keuangan seperti IHSG terkoreksi cukup dalam. Pemerintah selalu mengeluarkan statement yang memang dapat dinilai baik. Yakni agar mencegah kepanikan yang terjadi di masyarakat. Meski demikian pemerintah seharusnya lebih bersiap diri dalam menghadapi guncangan-guncangan yang bisa saja terjadi kedepannya.
Seperti permasalahan krisis yang terjadi di Yunani dan menyebar ke spanyol dan Portugal. Kondisi tersebut berpeluang menciptakan krisis yang baru meskipun banyak analis yang mamperkirakan krisis tersebut tidak akan berdampak buruk terhadap perekonomian nasional. Current Account yang masih surplus serta ketergantungan ekspor Negara kita yang relatif kecil terhadap Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat memang menguntungkan Indonesia saat ini.
Guncangan eksternal seperti krisis politik yang terjadi di Thailand, lagi-lagi menempatkan Indonesia pada posisi yang diuntungkan. Banyak Negara yang telah melakukan travel warning ke Negara gajah putih tersebut. Para investor tentunya akan beralih ke Negara yang lain dan Indonesia merupakan Negara yang dilirik untuk dijaikan tempat berinvestasi.
Indonesia dinilai sebagai Negara yang lebih dewasa dalam dunia politik. Sangat berbeda dengan Thailand dimana peralihan rezim kekuasaan sering beralih ke rezim yang baru dengan cara yang dipaksakan atau kudeta. Sehingga tetap saja menimbulkan kerawanan serta tetap menyisahkan persoalan dimasa yang akan datang.
Meskipun pemerintah sejauh ini meng-klaim bahwa perekonomian Indonesia berada pada jalur yang benar atau on the right track. Akan tetapi tidak menjamin 100% bahwa perekonomian kita benar-benar dapat menahan guncangan-guncangan eksternal yang berpotensi menjadi krisis. Indonesia hanya lebih diuntungkan saja apabila dibandingkan dengan kondisi di luar yang saat ini masih berjibaku menghadapi krisis keuangan yang tak kunjung usai.
Dan bagaimana kalau mereka bisa kembali pulih?. Tentunya ada pertimbangan lain dan persaingan baru dalam dunia keuangan global. Permasalahan struktural yang tidak berkontribusi positif terhadap pembangunan di sektor riil semestinya menjadi prioritas utama dalam pembangunan saat ini. Momen yang tepat sudah di depan mata, tinggal sejauh mana kita dapat menfaatkannya.
Indonesia memang berada dalam posisi yang sangat kuat terhadap guncangan krisis keuangan global tahun 2008 silam. Namun, bukan berarti Indonesia memang benar-benar kuat secara fundamental untuk menghadapi terpaan krisis. Hanya saja Indonesia masih diuntungkan dengan kondisi fundamental yang lebih baik jika dibandingkan dengan Negara lain sebagai tujuan investasi seperti terus mengalirnya dana jangka pendek atau biasa disebut dengan istilah Hot Money.
Meski demikian aliran dana yang masuk tersebut bukan berarti akan membuat Indonesia berada dalam zona nyaman. Aliran dana jangka pendek hanya akan bertahan selama Negara kita dinilai tetap lebih aman dan lebih menguntungkan sebagai tempat untuk berinvestasi. Begitu image nya memudar atau ada Negara lain yang lebih menjanjikan maka dana-dana tersebut siap untuk meninggalkan Indonesia.
Masalah ketimpangan yang dapat timbul adalah terjadinya gap atau ketimpangan yang diakibatkan oleh kinerja di sektor finansial yang terus menunjukan peforma baik namun tidak dibarengi dengan membaiknya kinerja sektor riil. Sehingga terciptalah gelembung – gelembung ekonomi (bubble) yang setiap saat bisa saja pecah.
Bahkan Asian Development Bank atau ADB selalu menempatkan Indonesia dalam posisi yang rawan terhadap guncangan eksternal. Indikator yang digunakan yakni utang jangka pendek, kepemilikan ekuitas serta kepemilikan nilai tukar oleh Asing dibagi dengan jumlah cadangan Devisa. Semakin besar presentasi tingkat kepemilikan asing terhadap asset-aset Indonesia maka semakin besar tingkat kerawanan Indonesia dalam menghadapi guncangan eksternal.
Di saat Indikator pasar keuangan seperti IHSG terkoreksi cukup dalam. Pemerintah selalu mengeluarkan statement yang memang dapat dinilai baik. Yakni agar mencegah kepanikan yang terjadi di masyarakat. Meski demikian pemerintah seharusnya lebih bersiap diri dalam menghadapi guncangan-guncangan yang bisa saja terjadi kedepannya.
Seperti permasalahan krisis yang terjadi di Yunani dan menyebar ke spanyol dan Portugal. Kondisi tersebut berpeluang menciptakan krisis yang baru meskipun banyak analis yang mamperkirakan krisis tersebut tidak akan berdampak buruk terhadap perekonomian nasional. Current Account yang masih surplus serta ketergantungan ekspor Negara kita yang relatif kecil terhadap Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat memang menguntungkan Indonesia saat ini.
Guncangan eksternal seperti krisis politik yang terjadi di Thailand, lagi-lagi menempatkan Indonesia pada posisi yang diuntungkan. Banyak Negara yang telah melakukan travel warning ke Negara gajah putih tersebut. Para investor tentunya akan beralih ke Negara yang lain dan Indonesia merupakan Negara yang dilirik untuk dijaikan tempat berinvestasi.
Indonesia dinilai sebagai Negara yang lebih dewasa dalam dunia politik. Sangat berbeda dengan Thailand dimana peralihan rezim kekuasaan sering beralih ke rezim yang baru dengan cara yang dipaksakan atau kudeta. Sehingga tetap saja menimbulkan kerawanan serta tetap menyisahkan persoalan dimasa yang akan datang.
Meskipun pemerintah sejauh ini meng-klaim bahwa perekonomian Indonesia berada pada jalur yang benar atau on the right track. Akan tetapi tidak menjamin 100% bahwa perekonomian kita benar-benar dapat menahan guncangan-guncangan eksternal yang berpotensi menjadi krisis. Indonesia hanya lebih diuntungkan saja apabila dibandingkan dengan kondisi di luar yang saat ini masih berjibaku menghadapi krisis keuangan yang tak kunjung usai.
Dan bagaimana kalau mereka bisa kembali pulih?. Tentunya ada pertimbangan lain dan persaingan baru dalam dunia keuangan global. Permasalahan struktural yang tidak berkontribusi positif terhadap pembangunan di sektor riil semestinya menjadi prioritas utama dalam pembangunan saat ini. Momen yang tepat sudah di depan mata, tinggal sejauh mana kita dapat menfaatkannya.
Skenario Kenaikan Harga BBM
medan bisnis 26 April 2011
Harga minyak dunia kembali menguat diatas $85/barel. Kenaikan minyak beberapa minggu terakhir tersebut membuat khawatir pemerintah. Kenaikan harga minyak tersebut di picu oleh membaiknya ekspektasi pemulihan ekonomi di Negara eropa seperti Yunani dan Spanyol. Selain itu, pasar tenaga kerja amerika serikat yang terus menunjukan perbaikan turut memicu naiknya harga minyak.
Pergerakan harga minyak memang tak terlepas dari aksi spekulasi pelaku pasar. Kenaikan harga minyak selalu lebih cepat dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia. Masih merupakan analisis serta indikasi membaiknya perekonomian dunia, minyak langsung merangsek naik lebih dulu dari realisasi pertumbuhan sebenarnya. Kondisi tersebut langsung membuat semua Negara siaga akan segala kemungkinan kebijakan yang di ambil terkait melonjaknya harga minyak.
Pemerintah kita terus berupaya untuk mengatasi kenaikan harga minyak tersebut. Mulai dari menaikkan produksi minyak (lifting) perhari hingga kemungkinan opsi kenaikan harga BBM. Sejauh ini sejumlah perusahaan yang memproduksi minyak lokal belum mampu menambah kapasitas produksi karena menghadapi banyak kendala.
Asumsi harga minyak di dalam APBN juga dinilai tidak relevan lagi jika dibandingkan dengan pergerakan harga minyak terakhir. Kenaikan harga minyak yang lebih tinggi sepertinya sudah di depan mata dan tak dapat dihindarkan lagi. Kenaikan harga minyak yang signifikan nantinya akan menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Indonesia yang memproyeksikan bahwa pertumbuhannya sebesar 5.7% dalam tahun-tahun mendatang dinilai sangat konservatif dalam melakukan proyeksinya. Laju pertumbuhan Indonesia diperkirakan akan melebihi angka 6% atau dikisaran 6.4%. lembaga yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu adalah IMF. Kenapa permerintah begitu konservatif?. Adakah kaitannya dengan kemungkinan kenaikan harga minyak di kemudian hari nanti.
Asumsi tersebut bisa saja benar. Dengan kenaikan harga minyak dunia serta kemungkinan dipilihnya opsi menaikan harga BBM untuk mengurangi beban defisit pemerintah maka pertumbuhan akan mengalami tekanan. Oleh karena itu pemerintah harus mencari cara lain agar kenaikan BBM tidak berdampak signifikan dan membebani defisit.
Salah satu caranya adalah pemerintah memberikan ruang penguatan nilai tukar Rupiah. Karena dengan nilai tukar yang meguat dapat mengurangi beban pemerintah apabila harga minyak mentah dunia terus bergerak naik. Namun, sejauh ini penguatan Rupiah masih relatif terbatas dan sulit untuk menembus level Rp. 9000/$.
Pemerintah diperkirakan tidak akan membiarkan Rupiah terus unjuk gigi terhadap US$. Kepentingan pemerintah untuk menahan laju inflasi serta mengurangi dampak buruk dari penguatan nilai tukar Rupiah seperti berkurangnya ekspor. Sehingga momen penguatan rupiah yang seharusnya terjadi lebih cepat pada saat ini tidak akan dimanfaatkan pemerintah sepenuhnya untuk menahan laju penguatan harga minyak nantinya.
Kenaikan harga minyak sudah pasti terjadi dalam mengantisipasi pemulihan kondisi ekonomi global. Pemerintah sepertinya akan terjebak pada pembuatan kebijakan yang tidak populis seiring dengan kenaikan harga minyak nantinya. Secara politis kenaikan harga BBM dapat berpotensi merusak citra penguasa yang saat ini banyak diwakilkan oleh partai demokrat. Dan dapat berdampak merusak tatanan sosial masyarakat kita.
Harga minyak dunia kembali menguat diatas $85/barel. Kenaikan minyak beberapa minggu terakhir tersebut membuat khawatir pemerintah. Kenaikan harga minyak tersebut di picu oleh membaiknya ekspektasi pemulihan ekonomi di Negara eropa seperti Yunani dan Spanyol. Selain itu, pasar tenaga kerja amerika serikat yang terus menunjukan perbaikan turut memicu naiknya harga minyak.
Pergerakan harga minyak memang tak terlepas dari aksi spekulasi pelaku pasar. Kenaikan harga minyak selalu lebih cepat dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia. Masih merupakan analisis serta indikasi membaiknya perekonomian dunia, minyak langsung merangsek naik lebih dulu dari realisasi pertumbuhan sebenarnya. Kondisi tersebut langsung membuat semua Negara siaga akan segala kemungkinan kebijakan yang di ambil terkait melonjaknya harga minyak.
Pemerintah kita terus berupaya untuk mengatasi kenaikan harga minyak tersebut. Mulai dari menaikkan produksi minyak (lifting) perhari hingga kemungkinan opsi kenaikan harga BBM. Sejauh ini sejumlah perusahaan yang memproduksi minyak lokal belum mampu menambah kapasitas produksi karena menghadapi banyak kendala.
Asumsi harga minyak di dalam APBN juga dinilai tidak relevan lagi jika dibandingkan dengan pergerakan harga minyak terakhir. Kenaikan harga minyak yang lebih tinggi sepertinya sudah di depan mata dan tak dapat dihindarkan lagi. Kenaikan harga minyak yang signifikan nantinya akan menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Indonesia yang memproyeksikan bahwa pertumbuhannya sebesar 5.7% dalam tahun-tahun mendatang dinilai sangat konservatif dalam melakukan proyeksinya. Laju pertumbuhan Indonesia diperkirakan akan melebihi angka 6% atau dikisaran 6.4%. lembaga yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu adalah IMF. Kenapa permerintah begitu konservatif?. Adakah kaitannya dengan kemungkinan kenaikan harga minyak di kemudian hari nanti.
Asumsi tersebut bisa saja benar. Dengan kenaikan harga minyak dunia serta kemungkinan dipilihnya opsi menaikan harga BBM untuk mengurangi beban defisit pemerintah maka pertumbuhan akan mengalami tekanan. Oleh karena itu pemerintah harus mencari cara lain agar kenaikan BBM tidak berdampak signifikan dan membebani defisit.
Salah satu caranya adalah pemerintah memberikan ruang penguatan nilai tukar Rupiah. Karena dengan nilai tukar yang meguat dapat mengurangi beban pemerintah apabila harga minyak mentah dunia terus bergerak naik. Namun, sejauh ini penguatan Rupiah masih relatif terbatas dan sulit untuk menembus level Rp. 9000/$.
Pemerintah diperkirakan tidak akan membiarkan Rupiah terus unjuk gigi terhadap US$. Kepentingan pemerintah untuk menahan laju inflasi serta mengurangi dampak buruk dari penguatan nilai tukar Rupiah seperti berkurangnya ekspor. Sehingga momen penguatan rupiah yang seharusnya terjadi lebih cepat pada saat ini tidak akan dimanfaatkan pemerintah sepenuhnya untuk menahan laju penguatan harga minyak nantinya.
Kenaikan harga minyak sudah pasti terjadi dalam mengantisipasi pemulihan kondisi ekonomi global. Pemerintah sepertinya akan terjebak pada pembuatan kebijakan yang tidak populis seiring dengan kenaikan harga minyak nantinya. Secara politis kenaikan harga BBM dapat berpotensi merusak citra penguasa yang saat ini banyak diwakilkan oleh partai demokrat. Dan dapat berdampak merusak tatanan sosial masyarakat kita.
Gelembung di Pasar Modal Pecah?
Medan Bisnis, 12 April 2010
Untuk kesekian kalinya, BI tetap mempertahankan besaran suku bunga atau biasa disebut dengan BI rate, seiring dengan meredanya tekanan inflasi. Laju inflasi yang relatif terkendali tersebut membuat ruang kenaikan BI Rate tertahan. Bahkan di bulan Maret kemarin justru yang terjadi adalah deflasi sebesar 0.14%.
Deflasi yang terjadi tersebut dirasakan dampaknya di pasar keuangan. Dimana nilai tukar Rupiah menguat di kisaran harga Rp 9.000/$, sementara IHSG kembali melonjak melewati batas tertinggi sebelum terjadinya krisis di tahun 2008. Meski demikian penguatan nilai tukar Rupiah serta IHSG membuat khawatir banyak orang.
Terlebih kenaikan indeks bursa. Harga-harga saham dinilai usdah terlalu mahal untuk di koleksi karena kenaikan indeks akhir-akhir ini. Euforia di lantai bursa di khawatirkan akan berakhir sehingga memicu aksi jual karena indeks telah mencapai titik tertinggi secara teknikal. Gelembung yang telah mengangkat indeks naik tinggi sepertinya akan pecah, benarkah demikian?
Kalau melihat dari sisi teknikal memang harga saham sepertinya sudah kelewat mahal. Namun, kalau melihat sisi fundamental sepertinya gelembung tersebut masih akan tetap terjaga. Kalaupun pecah tidak dalam waktu dekat ini. Ada beberapa alasan yang melandasi pendapat tersebut.
Dilihat dari sisi internal. fundamental ekonomi yang masih kuat. Laju inflasi yang terkendali serta pertumbuhan yang relatif terjaga menjadi salah satu alasannya. BI rate yang masih relatif terjaga menjadi salah satu indikator ekonomi makro yang utama.
Musim pembagian deviden di pertengahan tahun juga menjadi pemicu lainnya. Animo investor untuk memburu saham-saham di bursa sepertinya belum akan berakhir seiring dengan aksi korporasi dari para emiten yang melantai di bursa. Sejarah mencatat IHSG selalu mengalami kenaikan menjelang hajatan rutin tersebut.
Sisi internal lain yang mendukung adalah membaiknya iklim politik di negeri ini. Demokrasi yang merupakan pilar utama dunia perpolitikan sangat mendukung perekonomian kita. Meskipun belum terlepas dari belitan kasus century, namun sepertinya permasalahan century tidak memberikan dampak negatif yang luar biasa bagi perekonomian secara keseluruhan.
Dari sisi eksternal, kenaikan komoditas seiring dengan membaiknya perekonomian AS turut memberi warna lain bagi IHSG. Ingatkah kita, bahwa kenaikan indeks di tahun 2008 tidak terlepas dari booming harga komoditas yang melambung tinggi. Oleh karena itu kenaikan harga minyak mentah maupun komoditas liannya akan berpengaruh bagi kenaikan indeks bursa.
Nilai mata uang US Dolar yang melemah setelah Yunani diperkirakan mapu mengatasi kjrisis yang terjadi menjadi pendorong bagi menguatnya mata uang dunia lain termasuk nilai tukar Rupiah. Sisi eksternal yang lain adalah ketidakamanan yang terjadi di Thailand. Negeri Gajah Putih tersebut masih harus berusaha untuk lepas dari kemelut pergantian pemerintahan yang selalu berganti dengan sebuah tragedi.
Investor tentunya akan memilih Negara lain yang lebih aman untuk menginvestasikan dananya. Dan Indonesia tentunya memiliki kesempatan tersebut. Sejauh ini IHSG masih tetap kinclong dan menjadi indeks bursa terbaik di Asia. Gelembung yang terjadi sekarang ini memang berpotensi untuk pecah. Namun tidak dalam waktu dekat ini.
Untuk kesekian kalinya, BI tetap mempertahankan besaran suku bunga atau biasa disebut dengan BI rate, seiring dengan meredanya tekanan inflasi. Laju inflasi yang relatif terkendali tersebut membuat ruang kenaikan BI Rate tertahan. Bahkan di bulan Maret kemarin justru yang terjadi adalah deflasi sebesar 0.14%.
Deflasi yang terjadi tersebut dirasakan dampaknya di pasar keuangan. Dimana nilai tukar Rupiah menguat di kisaran harga Rp 9.000/$, sementara IHSG kembali melonjak melewati batas tertinggi sebelum terjadinya krisis di tahun 2008. Meski demikian penguatan nilai tukar Rupiah serta IHSG membuat khawatir banyak orang.
Terlebih kenaikan indeks bursa. Harga-harga saham dinilai usdah terlalu mahal untuk di koleksi karena kenaikan indeks akhir-akhir ini. Euforia di lantai bursa di khawatirkan akan berakhir sehingga memicu aksi jual karena indeks telah mencapai titik tertinggi secara teknikal. Gelembung yang telah mengangkat indeks naik tinggi sepertinya akan pecah, benarkah demikian?
Kalau melihat dari sisi teknikal memang harga saham sepertinya sudah kelewat mahal. Namun, kalau melihat sisi fundamental sepertinya gelembung tersebut masih akan tetap terjaga. Kalaupun pecah tidak dalam waktu dekat ini. Ada beberapa alasan yang melandasi pendapat tersebut.
Dilihat dari sisi internal. fundamental ekonomi yang masih kuat. Laju inflasi yang terkendali serta pertumbuhan yang relatif terjaga menjadi salah satu alasannya. BI rate yang masih relatif terjaga menjadi salah satu indikator ekonomi makro yang utama.
Musim pembagian deviden di pertengahan tahun juga menjadi pemicu lainnya. Animo investor untuk memburu saham-saham di bursa sepertinya belum akan berakhir seiring dengan aksi korporasi dari para emiten yang melantai di bursa. Sejarah mencatat IHSG selalu mengalami kenaikan menjelang hajatan rutin tersebut.
Sisi internal lain yang mendukung adalah membaiknya iklim politik di negeri ini. Demokrasi yang merupakan pilar utama dunia perpolitikan sangat mendukung perekonomian kita. Meskipun belum terlepas dari belitan kasus century, namun sepertinya permasalahan century tidak memberikan dampak negatif yang luar biasa bagi perekonomian secara keseluruhan.
Dari sisi eksternal, kenaikan komoditas seiring dengan membaiknya perekonomian AS turut memberi warna lain bagi IHSG. Ingatkah kita, bahwa kenaikan indeks di tahun 2008 tidak terlepas dari booming harga komoditas yang melambung tinggi. Oleh karena itu kenaikan harga minyak mentah maupun komoditas liannya akan berpengaruh bagi kenaikan indeks bursa.
Nilai mata uang US Dolar yang melemah setelah Yunani diperkirakan mapu mengatasi kjrisis yang terjadi menjadi pendorong bagi menguatnya mata uang dunia lain termasuk nilai tukar Rupiah. Sisi eksternal yang lain adalah ketidakamanan yang terjadi di Thailand. Negeri Gajah Putih tersebut masih harus berusaha untuk lepas dari kemelut pergantian pemerintahan yang selalu berganti dengan sebuah tragedi.
Investor tentunya akan memilih Negara lain yang lebih aman untuk menginvestasikan dananya. Dan Indonesia tentunya memiliki kesempatan tersebut. Sejauh ini IHSG masih tetap kinclong dan menjadi indeks bursa terbaik di Asia. Gelembung yang terjadi sekarang ini memang berpotensi untuk pecah. Namun tidak dalam waktu dekat ini.
Permasalahan Gayus, Contoh Ketidakadilan
Medan Bisnis, 5 April 2010
Dimasa krisis seperti sekarang ini (meskipun tak separah krisis 1997/98), hampir 70% ekonomi kita adalah sektor informal. Dimana banyak tenaga kerja di Indonesia bekerja seperti tukang sate, buruh tani, tukang becak/ojek dll. Pendapatan yang mereka dapat bahkan masih ada yang tidak dapat memenuhi kebutuhan yang paling mendasar sekalipun.
Kondisi krisis memang merupakan momen buruk terhadap perekonomian. Banyak orang yang dipaksa banting setir untuk mencari pekerjaan baru guna memenuhi kebutuhannya. Orang-orang tersebut umumnya adalah mereka yang memiliki SDM rendah serta tidak memiliki modal sehingga dengan daya upaya seadanya mereka mencoba peruntungan hanya sekedar untuk menyambung hidup.
Program-program pemberdayaan masyarakat seperti PNPM, kredit UKM maupun program pemerintah sejenisnya, sepertinya belum juga menjadi senjata paling ampuh untuk mengentaskan kemiskinan. Terlepas apakah program tersebut kurang efektif, tidak tepat sasaran sehingga ada kalangan yang menilai program tersebut masih belum dirasakan manfaatnya secara signifikan bagi masyarakat.
Apabila dibandingkan dengan negara lain, bukankah Indonesia mampu menjaga laju pertumbuhan ekonominya. Dengan laju pertumbuhan tersebut seyogyanya mereka yang bekerja di sektor informal mampu menaikkan taraf hidupnya sehingga dapat masuk dan digolongkan kedalam sektor formal. Seperti memiliki memiliki izin usaha yang resmi dan terdaftar, memiliki karyawan hingga membayar pajak.
Perekonomian yang terus tumbuh akan terus mengkikis para pekerja di sektor informal. Sehingga akan tercipta suatu perekonomian modern yang benar-benar mampu memperkecil jumlah pekerja di sektor informal. Dan Indonesia saat ini memiliki ruang yang cukup untuk menciptakan itu semua. Ada beberapa hal yang melandasinya antara lain ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi krisis global seperti sekarang ini.
Namun, wajah perekonomian Indonesia kembali tercoreng. Seperti yang terjadi saat ini, kasus makelar pajak yang menyeret beberapa petinggi negara ini. Potret kehidupan sosial seperti ini jelas mencoreng semangat pemerintah yang terus melawan korupsi serta reformasi birokrasi yang digalakkan. Pemerintah kembali kecolongan dimana semangat yang dikobarkan ternyata tidak didukung sepenuhnya oleh aparaturnya sendiri.
Bayangkan saja, apabila seorang pegawai pelaksana setingkat Gayus mampu mengumpulkan kekayaan hingga Rp. 28 Milyar. Bagaimana sebenarnya gambaran gunung es dari permasalahan tersebut. Ada berapa banyak serta seberapa besar uang yang diterima atasan Gayus. Belum lagi oknum aparat lain yang terkait dengan aksi Gayus tersebut seperti Kejaksaan maupun POLRI.
Dan yang tak kalah penting berapa banyak uang yang seharusnya masuk ke kantong pemerintah dari penerimaan pajak. Karena pada dasarnya seorang wajib pajak secara finansial tentunya lebih diuntungkan oleh sindikat makelar pajak dan membayar sindikat tersebut dibandingkan dengan harus membayar pajak yang sesuai dengan ketentuan dan keharusan. Bukankah di negeri ini pajak merupakan salah satu pendapatan negara dalam menopang perekonomiannya.
Apabila kita kaitkan dengan sektor informal seperti di awal tulisan ini. Jelas salah satu solusi yang dibutuhkan untuk mengurangi permasalahan itu adalah pendanaan. Pendanaan tersebut nantinya dapat berupa program2 strategis pemerintah seperti PNPM, Kredit UKM dan sejenisnya. Darimana pendanaan tersebut? Kalau tidak dari pajak salah satunya.
Peran pengawasan keuangan negara tentunya tidak terlepas dari pengawasan para pembayar pajak. Negara yang lebih maju memiliki peran pajak yang lebih besar. Kalau masih saja ada korporasi ataupun perorangan yang mengemplang membayar pajak, maka sulit untuk mengharapkan adanya pengentasan kemiskinan.
Dimasa krisis seperti sekarang ini (meskipun tak separah krisis 1997/98), hampir 70% ekonomi kita adalah sektor informal. Dimana banyak tenaga kerja di Indonesia bekerja seperti tukang sate, buruh tani, tukang becak/ojek dll. Pendapatan yang mereka dapat bahkan masih ada yang tidak dapat memenuhi kebutuhan yang paling mendasar sekalipun.
Kondisi krisis memang merupakan momen buruk terhadap perekonomian. Banyak orang yang dipaksa banting setir untuk mencari pekerjaan baru guna memenuhi kebutuhannya. Orang-orang tersebut umumnya adalah mereka yang memiliki SDM rendah serta tidak memiliki modal sehingga dengan daya upaya seadanya mereka mencoba peruntungan hanya sekedar untuk menyambung hidup.
Program-program pemberdayaan masyarakat seperti PNPM, kredit UKM maupun program pemerintah sejenisnya, sepertinya belum juga menjadi senjata paling ampuh untuk mengentaskan kemiskinan. Terlepas apakah program tersebut kurang efektif, tidak tepat sasaran sehingga ada kalangan yang menilai program tersebut masih belum dirasakan manfaatnya secara signifikan bagi masyarakat.
Apabila dibandingkan dengan negara lain, bukankah Indonesia mampu menjaga laju pertumbuhan ekonominya. Dengan laju pertumbuhan tersebut seyogyanya mereka yang bekerja di sektor informal mampu menaikkan taraf hidupnya sehingga dapat masuk dan digolongkan kedalam sektor formal. Seperti memiliki memiliki izin usaha yang resmi dan terdaftar, memiliki karyawan hingga membayar pajak.
Perekonomian yang terus tumbuh akan terus mengkikis para pekerja di sektor informal. Sehingga akan tercipta suatu perekonomian modern yang benar-benar mampu memperkecil jumlah pekerja di sektor informal. Dan Indonesia saat ini memiliki ruang yang cukup untuk menciptakan itu semua. Ada beberapa hal yang melandasinya antara lain ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi krisis global seperti sekarang ini.
Namun, wajah perekonomian Indonesia kembali tercoreng. Seperti yang terjadi saat ini, kasus makelar pajak yang menyeret beberapa petinggi negara ini. Potret kehidupan sosial seperti ini jelas mencoreng semangat pemerintah yang terus melawan korupsi serta reformasi birokrasi yang digalakkan. Pemerintah kembali kecolongan dimana semangat yang dikobarkan ternyata tidak didukung sepenuhnya oleh aparaturnya sendiri.
Bayangkan saja, apabila seorang pegawai pelaksana setingkat Gayus mampu mengumpulkan kekayaan hingga Rp. 28 Milyar. Bagaimana sebenarnya gambaran gunung es dari permasalahan tersebut. Ada berapa banyak serta seberapa besar uang yang diterima atasan Gayus. Belum lagi oknum aparat lain yang terkait dengan aksi Gayus tersebut seperti Kejaksaan maupun POLRI.
Dan yang tak kalah penting berapa banyak uang yang seharusnya masuk ke kantong pemerintah dari penerimaan pajak. Karena pada dasarnya seorang wajib pajak secara finansial tentunya lebih diuntungkan oleh sindikat makelar pajak dan membayar sindikat tersebut dibandingkan dengan harus membayar pajak yang sesuai dengan ketentuan dan keharusan. Bukankah di negeri ini pajak merupakan salah satu pendapatan negara dalam menopang perekonomiannya.
Apabila kita kaitkan dengan sektor informal seperti di awal tulisan ini. Jelas salah satu solusi yang dibutuhkan untuk mengurangi permasalahan itu adalah pendanaan. Pendanaan tersebut nantinya dapat berupa program2 strategis pemerintah seperti PNPM, Kredit UKM dan sejenisnya. Darimana pendanaan tersebut? Kalau tidak dari pajak salah satunya.
Peran pengawasan keuangan negara tentunya tidak terlepas dari pengawasan para pembayar pajak. Negara yang lebih maju memiliki peran pajak yang lebih besar. Kalau masih saja ada korporasi ataupun perorangan yang mengemplang membayar pajak, maka sulit untuk mengharapkan adanya pengentasan kemiskinan.
Wednesday, March 31, 2010
Perang Ekonomi
Medan Bisnis, 29 Maret 2010
Saat ini, industri di Amerika Serikat terancam angkrut digerogoti oleh krisis. Pasar AS juga dibanjiri produk-produk dari China yang dituding debagai biang keladi defisit neraca perdagangan AS-China. Isu proteksionisme berhembus kian kencang. AS sepertinya berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya.
Proteksionisme adalah kebijakan ekonomi yang ditujukan untuk melindungi industri dalam negeri dengan cara membatasi masuknya komoditi-komoditi dari luar negeri. Proteksionisme bisa terwujud dalam berbagai bentuk. Bentuk utama proteksionisme adalah pembatasan impor melalui pemberlakuan tariff, kuota, atau sanksi dagang.
Mulai dari program stimulus seperti keputusan pengesahan American Recovery and Reinvestment Act oleh Kongres AS. Undang-undang tersebut tidak hanya menjadi payung hukum paket stimulus ekonomi Amerika Serikat sebesar US$825, melainkan juga memuat langkah-langkah penting yang ditujukan untuk melindungi industri Amerika Serikat. “Buy American” menjadi salah satu indicator proteksionisme ala AS. Program stimulus fiskal 2009 yang dilakukan AS secara tersirat menetapkan “Buy American” bagi warga negaranya.
Sebagai sponsor WTO (World Trade Organization) Amerika sepertinya tidak berkomitmen penuh terhadap liberalisasi pasar yang mereka ciptakan sendiri. Kebijakan yang diambil sangat konservatif. Keadaan seperti ini bisa merugikan Negara lain termasuk Indonesia. Karena program tersebut tentunya akan mengurangi ekspor Indonesia ke AS.
Selain Indonesia, negara-negara seperti China, India, dan Brazil juga tentunya merasa dirugikan dengan adanya “Buy American”. Negara-negara ini tidak mempunyai pakta perdagangan dengan AS, maka perusahaan-perusahaannya yang di AS harus tunduk terhadap aturan AS. Konsekuensinya adalah perusahaan-perusahaan mereka yang ada di AS bisa dipaksa untuk menggunakan bahan baku dari AS.
Tidak sampai disitu. AS sepertinya tengah menyiapkan langkah selanjutnya guna menyelamatkan perekonomiannya. Lihat saja seperti yang baru dilakukannya, menjadikan nilai tukar Yuan sebagai biang keladi lambatnya proses pemulihan ekonomi dunia saat ini. Tekanan bahkan muncul dari kongres. Kenapa? Karena AS mengalami defisit neraca perdagangan dengan China.
Benarkah demikian? Ketidak seimbangan ekonomi saat ini merupkan kesalahan China yang tidak membiarkan mata uangnya diperdagangkan secara liberal. Sehingga surplus yang dialami oleh China tidak bermanfaat karena mengendap dinegara tersebut. Kalau melihat sudut pandang dari mereka yang menyalahkan China.
Namun, pihak otoritas ekonomi China menyatakan bahwa, bukan masalah mata uang Yuan. Bahkan, mereka mengklaim bahwa kebijakan mata uang Yuan yang stabil mampu menyelamatkan perekonomian China dan Dunia. Wajar, tentunya China juga berhak melindungi perekonomian mereka. Selain itu, China juga mendapatkan dukungan dari PBB. Dimana PBB menyatakan China harus menolak desakan Barat untuk membiarkan mata uangnya mengambang, karena Beijing terunggul dalam stimulasi permintaan domestik dan perekonomian global.
Entah apalagi yang akan dilakukan AS untuk mengembalikan perekonomiannya. Dan tentunya China tidak akan berhenti untuk terus memacu ekonominya yang bertujuan mensejahterakan masyarakatnya. Namun, melihat sepak terjang dari kedua Negara terlihat dengan sangat jelas kalau mereka sebenarnya sedang dalam “pertempuran” hebat.
China berpeluang menggantikan AS sebagai adikuasa dibidang ekonomi. China yang saat ini menjadi ekonomi terbesar ke dua setelah AS berpeluang menyalip ekonomi AS. China punya penduduk yang banyak sebagai pasar yang menarik. Demikian juga mata uang Yuan berpeluang menggantikan $AS sebagai mata uang internasional. Namun, maukah China melepas mata uangnya dan membiarkan transaksi perdagangannya menjadi defisit? Entahlah, semoga “perang” ini berakhir dengan pulihnya perekonomian Dunia.
Saat ini, industri di Amerika Serikat terancam angkrut digerogoti oleh krisis. Pasar AS juga dibanjiri produk-produk dari China yang dituding debagai biang keladi defisit neraca perdagangan AS-China. Isu proteksionisme berhembus kian kencang. AS sepertinya berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya.
Proteksionisme adalah kebijakan ekonomi yang ditujukan untuk melindungi industri dalam negeri dengan cara membatasi masuknya komoditi-komoditi dari luar negeri. Proteksionisme bisa terwujud dalam berbagai bentuk. Bentuk utama proteksionisme adalah pembatasan impor melalui pemberlakuan tariff, kuota, atau sanksi dagang.
Mulai dari program stimulus seperti keputusan pengesahan American Recovery and Reinvestment Act oleh Kongres AS. Undang-undang tersebut tidak hanya menjadi payung hukum paket stimulus ekonomi Amerika Serikat sebesar US$825, melainkan juga memuat langkah-langkah penting yang ditujukan untuk melindungi industri Amerika Serikat. “Buy American” menjadi salah satu indicator proteksionisme ala AS. Program stimulus fiskal 2009 yang dilakukan AS secara tersirat menetapkan “Buy American” bagi warga negaranya.
Sebagai sponsor WTO (World Trade Organization) Amerika sepertinya tidak berkomitmen penuh terhadap liberalisasi pasar yang mereka ciptakan sendiri. Kebijakan yang diambil sangat konservatif. Keadaan seperti ini bisa merugikan Negara lain termasuk Indonesia. Karena program tersebut tentunya akan mengurangi ekspor Indonesia ke AS.
Selain Indonesia, negara-negara seperti China, India, dan Brazil juga tentunya merasa dirugikan dengan adanya “Buy American”. Negara-negara ini tidak mempunyai pakta perdagangan dengan AS, maka perusahaan-perusahaannya yang di AS harus tunduk terhadap aturan AS. Konsekuensinya adalah perusahaan-perusahaan mereka yang ada di AS bisa dipaksa untuk menggunakan bahan baku dari AS.
Tidak sampai disitu. AS sepertinya tengah menyiapkan langkah selanjutnya guna menyelamatkan perekonomiannya. Lihat saja seperti yang baru dilakukannya, menjadikan nilai tukar Yuan sebagai biang keladi lambatnya proses pemulihan ekonomi dunia saat ini. Tekanan bahkan muncul dari kongres. Kenapa? Karena AS mengalami defisit neraca perdagangan dengan China.
Benarkah demikian? Ketidak seimbangan ekonomi saat ini merupkan kesalahan China yang tidak membiarkan mata uangnya diperdagangkan secara liberal. Sehingga surplus yang dialami oleh China tidak bermanfaat karena mengendap dinegara tersebut. Kalau melihat sudut pandang dari mereka yang menyalahkan China.
Namun, pihak otoritas ekonomi China menyatakan bahwa, bukan masalah mata uang Yuan. Bahkan, mereka mengklaim bahwa kebijakan mata uang Yuan yang stabil mampu menyelamatkan perekonomian China dan Dunia. Wajar, tentunya China juga berhak melindungi perekonomian mereka. Selain itu, China juga mendapatkan dukungan dari PBB. Dimana PBB menyatakan China harus menolak desakan Barat untuk membiarkan mata uangnya mengambang, karena Beijing terunggul dalam stimulasi permintaan domestik dan perekonomian global.
Entah apalagi yang akan dilakukan AS untuk mengembalikan perekonomiannya. Dan tentunya China tidak akan berhenti untuk terus memacu ekonominya yang bertujuan mensejahterakan masyarakatnya. Namun, melihat sepak terjang dari kedua Negara terlihat dengan sangat jelas kalau mereka sebenarnya sedang dalam “pertempuran” hebat.
China berpeluang menggantikan AS sebagai adikuasa dibidang ekonomi. China yang saat ini menjadi ekonomi terbesar ke dua setelah AS berpeluang menyalip ekonomi AS. China punya penduduk yang banyak sebagai pasar yang menarik. Demikian juga mata uang Yuan berpeluang menggantikan $AS sebagai mata uang internasional. Namun, maukah China melepas mata uangnya dan membiarkan transaksi perdagangannya menjadi defisit? Entahlah, semoga “perang” ini berakhir dengan pulihnya perekonomian Dunia.
Inginkan Nilai Tukar Yang Stabil
Medan Bisnis, 22 Maret 2010
Beberapa hari terakhir nilai tukar Rupiah menguat secara signifikan terhadap US Dolar. Penguatan tersebut didorong oleh masuknya dana asing ke pasar Indonesia. Ini sekaligus merupakan prestasi bagi mata uang Rupiah, karena sebagai indikator ekonomi merealisasikan kinerja yang baik. Namun, tidak semua orang akan menyambut dengan hal yang serupa. Tetap akan menyisahkan pro dan kontra terhadap fluktuasi nilai tukar.
Gejolak nilai tukar Rupiah sebenarnya telah kita lihat belasan tahun silam. Ditahun 1997, disaat masa krisis moneter sedang berlangsung, fluktuasi nilai tukar Rupiah telah membawa bencana yang luasr biasa bagi negeri ini. Gejolak nilai tukar Rupiah yang sempat terjungkal hingga dikisaran Rp.16.000/$ merupakan akar permasalahan yang tersisa dan masih terasa dampaknya hingga saat ini.
Pergerakan nilai tukar uang dinegara manapun dapat berubah dengan sangat cepat. Akibat dari suatu sistem perekonomian dunia yang kian terbuka. Pergerakan nilai tukar yang sangat dinamis dan dapat terjadi dalam dua arah : bisa naik, bisa turun. Kalau naik (menguat) maka mata uang yang menguat akan membuat mata uang lawannya melemah. Kalau melemah dapat menganggu kegiatan ekonomi negara tersebut terganggu.
Namun, yang perlu dikhawatirkan adalah apabila nilai tukar itu bergerak bukan karena dinamika perekonomian negara tersebut, akan tetapi karena ulah spekulan. Aksi spekulasi oleh para spekulan pernah dijadikan kambing hitam krisis di era 1997-an. Mereka masuk ke hampir semua negara berkembang yang belum memiliki fundamental ekonomi yang kuat serta menganut perdagangan nilai tukar yang liberal. Hingga kebijakan yang dinilai tidak memegang prinsip kehati-hatian.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, maka kondisi di saat nilai tukar Rupiah seperti sekarang ini sebenarnya tidak semuanya akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian kita. Menguatnya nilai tukar Rupiah berpeluang meningkatkan impor serta menekan ekspor. Dan membuka ruang untuk defisit neraca yang lebih besar.
Para eksportir tentunya tidak begitu menghendaki nilai tukar yang terus menguat. Demikian juga sebaliknya, importir juga akan terbebani dengan nilai tukar yang berfluktuasi dengan kecenderungan melemah. Untuk itu dibutuhkan sebuah nilai tukar yang stabil. Bagaimana cara untuk mewujudkannya?. Bukankah nilai tukar yang stabil berarti membutuhkan banyak cadangan devisa untuk mengontrolnya?.
Landasan yang paling mendasar untuk merealisasikan kurs mata uang yang stabil adalah fundamental ekonomi yang kokoh. Perekonomian kita harus mandiri yaitu mampu memenuhi kebutuhan sendiri serta lebih banyak menghasilkan atau memproduksi lebih banyak daripada mengkonsumsi. Ini bukan pekerjaan yang mudah. Ekspor kita dituntut lebih banyak daripada impor. Sumber daya alam negara kita harus mampu dikelola secara maksimal untuk mengurangi resiko yang diakibatkan oleh defisit neraca berjalan atau current account yang besar hingga melewati batas toleransi terhadap PDB (produk domestik bruto).
Kalau hal-hal mendasar tersebut bisa dipenuhi maka dengan sendirinya cadangan devisa kita akan semakin gemuk. Dengan mudah kita akan mengontrol perubahan nilai tukar Rupiah dengan cara melakukan intervensi untuk menstabilkannya. Intervensi yang dilakukan bisa dua arah, yakni menjual mata uang kita di pasar apabila mata uang kita menguat, dan membeli mata uang kita pada saat melemah terhadap mata uang asing (US Dolar).
Nilai tukar Rupiah yang menguat belakangan ini menggirukan para spekulan untuk menjual rupiah dan membeli US$. Oleh karena itu, pihak regulator harus terus mengawasi transaksi finansial baik yang dilakukan oleh spekulan dari luar mulai dari yang sekelas George Soros, hingga para institusi maupun pengusaha lokal. Karena spekulasi tidak hanya menjangkiti para pemodal luar, namun hampir semua orang bisa terjangkit karena dibutakan oleh keuntungan yang menggiurkan dan melanggar azas keadilan.
Beberapa hari terakhir nilai tukar Rupiah menguat secara signifikan terhadap US Dolar. Penguatan tersebut didorong oleh masuknya dana asing ke pasar Indonesia. Ini sekaligus merupakan prestasi bagi mata uang Rupiah, karena sebagai indikator ekonomi merealisasikan kinerja yang baik. Namun, tidak semua orang akan menyambut dengan hal yang serupa. Tetap akan menyisahkan pro dan kontra terhadap fluktuasi nilai tukar.
Gejolak nilai tukar Rupiah sebenarnya telah kita lihat belasan tahun silam. Ditahun 1997, disaat masa krisis moneter sedang berlangsung, fluktuasi nilai tukar Rupiah telah membawa bencana yang luasr biasa bagi negeri ini. Gejolak nilai tukar Rupiah yang sempat terjungkal hingga dikisaran Rp.16.000/$ merupakan akar permasalahan yang tersisa dan masih terasa dampaknya hingga saat ini.
Pergerakan nilai tukar uang dinegara manapun dapat berubah dengan sangat cepat. Akibat dari suatu sistem perekonomian dunia yang kian terbuka. Pergerakan nilai tukar yang sangat dinamis dan dapat terjadi dalam dua arah : bisa naik, bisa turun. Kalau naik (menguat) maka mata uang yang menguat akan membuat mata uang lawannya melemah. Kalau melemah dapat menganggu kegiatan ekonomi negara tersebut terganggu.
Namun, yang perlu dikhawatirkan adalah apabila nilai tukar itu bergerak bukan karena dinamika perekonomian negara tersebut, akan tetapi karena ulah spekulan. Aksi spekulasi oleh para spekulan pernah dijadikan kambing hitam krisis di era 1997-an. Mereka masuk ke hampir semua negara berkembang yang belum memiliki fundamental ekonomi yang kuat serta menganut perdagangan nilai tukar yang liberal. Hingga kebijakan yang dinilai tidak memegang prinsip kehati-hatian.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, maka kondisi di saat nilai tukar Rupiah seperti sekarang ini sebenarnya tidak semuanya akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian kita. Menguatnya nilai tukar Rupiah berpeluang meningkatkan impor serta menekan ekspor. Dan membuka ruang untuk defisit neraca yang lebih besar.
Para eksportir tentunya tidak begitu menghendaki nilai tukar yang terus menguat. Demikian juga sebaliknya, importir juga akan terbebani dengan nilai tukar yang berfluktuasi dengan kecenderungan melemah. Untuk itu dibutuhkan sebuah nilai tukar yang stabil. Bagaimana cara untuk mewujudkannya?. Bukankah nilai tukar yang stabil berarti membutuhkan banyak cadangan devisa untuk mengontrolnya?.
Landasan yang paling mendasar untuk merealisasikan kurs mata uang yang stabil adalah fundamental ekonomi yang kokoh. Perekonomian kita harus mandiri yaitu mampu memenuhi kebutuhan sendiri serta lebih banyak menghasilkan atau memproduksi lebih banyak daripada mengkonsumsi. Ini bukan pekerjaan yang mudah. Ekspor kita dituntut lebih banyak daripada impor. Sumber daya alam negara kita harus mampu dikelola secara maksimal untuk mengurangi resiko yang diakibatkan oleh defisit neraca berjalan atau current account yang besar hingga melewati batas toleransi terhadap PDB (produk domestik bruto).
Kalau hal-hal mendasar tersebut bisa dipenuhi maka dengan sendirinya cadangan devisa kita akan semakin gemuk. Dengan mudah kita akan mengontrol perubahan nilai tukar Rupiah dengan cara melakukan intervensi untuk menstabilkannya. Intervensi yang dilakukan bisa dua arah, yakni menjual mata uang kita di pasar apabila mata uang kita menguat, dan membeli mata uang kita pada saat melemah terhadap mata uang asing (US Dolar).
Nilai tukar Rupiah yang menguat belakangan ini menggirukan para spekulan untuk menjual rupiah dan membeli US$. Oleh karena itu, pihak regulator harus terus mengawasi transaksi finansial baik yang dilakukan oleh spekulan dari luar mulai dari yang sekelas George Soros, hingga para institusi maupun pengusaha lokal. Karena spekulasi tidak hanya menjangkiti para pemodal luar, namun hampir semua orang bisa terjangkit karena dibutakan oleh keuntungan yang menggiurkan dan melanggar azas keadilan.
Nilai Tukar Sebagai Stimulus Pertumbuhan
Medan Bisnis, 15 Maret 2010
Di saat krisis sedang terjadi seperti saat ini. Ada fakta besar dimana Negara besar seperti AS mengalami defisit neraca perdagangan dengan China. Dimana impor AS ke China lebih besar dibandingkan dengan Ekspor AS ke China itu sendiri. Hal ini di klaim sebagai salah satu biang keladi kenapa AS sulit untuk bangkit dari keterpurukan. Defisit yang besar menjadi penghalang AS dalam memasarkan barang-barangnya ke mitra dagang AS khususnya China.
Alasan tersebut sangat masuk akal. Sebagai contoh, Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dan berlebih, namun tidak bisa dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan diluar, maka barang tersebut akan membanjiri pasar domestik dan akan membuat harga barang tersebut turun. Ada implikasi lain yang harus diterima yakni semakin sulit Negara kita untuk menciptakan lapangan kerja.
Salah satu yang menyebabkan adanya defisit adalah nilai tukar mata uang. Defisit neraca yang dialami AS tidak lebih karena kebijakan China yang tidak mengizinkan mata uang Yuan menguat lebih jauh lagi terhadap US Dolar. Padahal, China sejauh ini mengalami surflus perdagangan terhadap AS. Apabila China membiarkan mata uangnya diperdagangkan sesuai dengan mekanisme pasar, maka diperkirakan mata uang Yuan akan terapresiasi secara signifikan terhadap US Dolar.
Namun, kebijakan China kalau membiarkan mata uangnya menguat, berarti China siap dibanjiri oleh produk-produk luar. China yang memiliki populasi penduduk paling besar di dunia serta mempekerjakan tenaga kerja murah diuntungkan dalam banyak hal seperti kemampuan ekspor yang lebih baik. Nilai tukar Yuan yang stabil menjadi salah satu alasannya.
Seperti halnya dengan semua Negara tak terkecuali Indonesia. Disaat nilai tukar Rupiah menguat terhadap US Dolar, maka akan berdampak pada kinerja Impor yang tumbuh dengan baik. Sebaliknya, apabila nilai tukar Rupiah melemah terhadap US Dolar maka akan memicu kinerja ekspor yang meningkat. Nilai tukar yang kuat biasanya akan membuat pasar akan dibanjiri produk luar sehingga produktivitas manufaktur lokal akan turun. Dan mata uang yang melemah akan membuat ekspor meningkat namun dapat memicu inflasi.
Kebijakan mata uang yang stabil merupakan pilihan yang harus di ambil. Namun tidak mudah untuk memuat mata uang dalam kestabilan. Karena dibutuhkan intervensi Bank sentral untuk mengatur lalu intas devisa tersebut. Dan berkorelasi langsung terhadap cadangan devisa Negara tersebut.
Inilah yang sedang diperjuangkan AS untuk berebut simpati pasar di China. AS yang kesulitan menggenjot kinerja ekspor karena produk yang kalah bersaing dari China, mengklaim bahwa kebijakan China yang tidak membiarkan mata uang Yuan menguat menjadi biang keladi kenapa krisis tidak bisa diatasi secara cepat. AS mengklaim bahwa laju pertumbuhan Dunia bisa di tingkatkan apabila Yuan terapresiasi.
Benarkah?, tidak selamanya tepat. China tentunya merasa diuntungkan dengan kondisi seperti ini. Kinerja ekspor yang naik tajam jelas menjadikan China sebagai Negara yang mencetak laju pertumbuhan paling cepat di dunia. AS masih tetap menjadi perekonomian terbesar di Dunia, meski demikian apabila AS mampu mengatasi defisit neraca perdagangannya dengan China bukan serta merta akan membuat perekonomian Dunia akan pulih dengan segera.
Negara kita juga bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan China. Membiarkan mata uang kita lebih murah terhadap US Dolar guna menggenjot ekspor. Namun tidak sedemikian mudah tentunya. Dibutuhkan cadangan devisa yang cukup serta kesiapan dunia industri. Semoga Negara kita mampu memanfaatkan perjanjian ACFTA dengan sebaik-baiknya, dan terhindar dengan defisit neraca perdagangan yang besar dengan China.
Di saat krisis sedang terjadi seperti saat ini. Ada fakta besar dimana Negara besar seperti AS mengalami defisit neraca perdagangan dengan China. Dimana impor AS ke China lebih besar dibandingkan dengan Ekspor AS ke China itu sendiri. Hal ini di klaim sebagai salah satu biang keladi kenapa AS sulit untuk bangkit dari keterpurukan. Defisit yang besar menjadi penghalang AS dalam memasarkan barang-barangnya ke mitra dagang AS khususnya China.
Alasan tersebut sangat masuk akal. Sebagai contoh, Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dan berlebih, namun tidak bisa dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan diluar, maka barang tersebut akan membanjiri pasar domestik dan akan membuat harga barang tersebut turun. Ada implikasi lain yang harus diterima yakni semakin sulit Negara kita untuk menciptakan lapangan kerja.
Salah satu yang menyebabkan adanya defisit adalah nilai tukar mata uang. Defisit neraca yang dialami AS tidak lebih karena kebijakan China yang tidak mengizinkan mata uang Yuan menguat lebih jauh lagi terhadap US Dolar. Padahal, China sejauh ini mengalami surflus perdagangan terhadap AS. Apabila China membiarkan mata uangnya diperdagangkan sesuai dengan mekanisme pasar, maka diperkirakan mata uang Yuan akan terapresiasi secara signifikan terhadap US Dolar.
Namun, kebijakan China kalau membiarkan mata uangnya menguat, berarti China siap dibanjiri oleh produk-produk luar. China yang memiliki populasi penduduk paling besar di dunia serta mempekerjakan tenaga kerja murah diuntungkan dalam banyak hal seperti kemampuan ekspor yang lebih baik. Nilai tukar Yuan yang stabil menjadi salah satu alasannya.
Seperti halnya dengan semua Negara tak terkecuali Indonesia. Disaat nilai tukar Rupiah menguat terhadap US Dolar, maka akan berdampak pada kinerja Impor yang tumbuh dengan baik. Sebaliknya, apabila nilai tukar Rupiah melemah terhadap US Dolar maka akan memicu kinerja ekspor yang meningkat. Nilai tukar yang kuat biasanya akan membuat pasar akan dibanjiri produk luar sehingga produktivitas manufaktur lokal akan turun. Dan mata uang yang melemah akan membuat ekspor meningkat namun dapat memicu inflasi.
Kebijakan mata uang yang stabil merupakan pilihan yang harus di ambil. Namun tidak mudah untuk memuat mata uang dalam kestabilan. Karena dibutuhkan intervensi Bank sentral untuk mengatur lalu intas devisa tersebut. Dan berkorelasi langsung terhadap cadangan devisa Negara tersebut.
Inilah yang sedang diperjuangkan AS untuk berebut simpati pasar di China. AS yang kesulitan menggenjot kinerja ekspor karena produk yang kalah bersaing dari China, mengklaim bahwa kebijakan China yang tidak membiarkan mata uang Yuan menguat menjadi biang keladi kenapa krisis tidak bisa diatasi secara cepat. AS mengklaim bahwa laju pertumbuhan Dunia bisa di tingkatkan apabila Yuan terapresiasi.
Benarkah?, tidak selamanya tepat. China tentunya merasa diuntungkan dengan kondisi seperti ini. Kinerja ekspor yang naik tajam jelas menjadikan China sebagai Negara yang mencetak laju pertumbuhan paling cepat di dunia. AS masih tetap menjadi perekonomian terbesar di Dunia, meski demikian apabila AS mampu mengatasi defisit neraca perdagangannya dengan China bukan serta merta akan membuat perekonomian Dunia akan pulih dengan segera.
Negara kita juga bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan China. Membiarkan mata uang kita lebih murah terhadap US Dolar guna menggenjot ekspor. Namun tidak sedemikian mudah tentunya. Dibutuhkan cadangan devisa yang cukup serta kesiapan dunia industri. Semoga Negara kita mampu memanfaatkan perjanjian ACFTA dengan sebaik-baiknya, dan terhindar dengan defisit neraca perdagangan yang besar dengan China.
Sentimen Pansus dan Eksternal Mereda
Medan Bisnis, 8 Maret 2010
Investor kembali masuk ke pasar keuangan setelah selama sepekan sebelumnya IHSG dan nilai tukar Rupiah berada di bawah tekanan internal. Saat ini, kepastian itu sudah mulai berkurang seiring dengan langkah yang akan diambil oleh DPR terkait dengan kasus Bank century. Meskipun hasil dari pansus diluar dari apa yang diharapkan. Namun setidaknya ketidakpastian sudah hilang.
Fokus investor selanjutnya akan tertuju pada laporan keuangan emiten yang direncanakan akan membagikan deviden dipertengahan tahun ini. Investor kembali memburu saham-saham dengan mengacu pada analisis fundamental emiten. Selain itu, nilai tukar Rupiah juga berpeluang melanjutkan tren penguatan ditengah membaiknya fundamental ekonomi kita.
Rekomendasi pansus sudah tidak menjadi fokus utama lagi, meskipun terjadi pemakzulan terhadap wapres Budiono maupun reshuffle terhadap menteri keuangan Sri Mulyani. Pasar sepertinya lebih meyakini dan fokus terhadap fundamental ekonomi Indonesia itu sendiri dibandingkan dengan isu-isu penting lainnya termasuk politik.
Pasar akan melihat adanya booming komoditas yang akan mengangkat harga saham meskipun akan memberikan sedikit tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Terlebih perekonomian AS yang diperkirakan akan membukukan data perekonomian AS yang lebih baik. Perekonomian AS akan menjadi pemicu eksternal terhadap pasar keuangan dunia termasuk Indonesia.
Akhir pekan kemarin, data ketenagakerjaan AS tidak merubah posisi tingkat penangguran di AS yang tetap berada di angka 9.7%. Kedepan tingkat pengangguran AS perlahan diperkirakan akan turun seperti terlihat dalam grafik.
Tingkat pengangguran di AS
Actual merupakan angka realisasi, forecast merupakan perkiraaan ke depan.

Sumber : The Financial Forecast Center
Berdasarkan grafik tersebut terlihat bahwa kedepan salah satu data keuangan AS akan terus mengalami perubahan penting yang dapat menentukan arah perubahan pasar keuangan dunia nantinya. Proyeksi ini dapat dijadikan acuan kemana arah pergerakan bursa dan mata uang juga.
Saat ini meruapakan momen yang sangat tepat untuk membuat keputusan. Selain dikarenakan dengan musim panen deviden di bulan juni sampai Agustus. Bursa akan diwarnai dengan realisasi data keuangan yang menggiurkan. Selain itu harga minyak mentah dunia yang sudah mulai merangkak naik di kisaran $80/barel juga memicu booming harga saham komoditas. Kenaikan harga minyak tersebut tidak terlepas oleh ekspektasi membaiknya laju perekonomian AS.
Meskipun kenaikan harga minyak berpotensi menekan nilai tukar Rupiah. Namun, kondisi ini akan mendapat kontrol penuh dari Bank Sentral untuk membuat nilai tukar tetap stabil. Selain itu, pernyataan Presiden SBY terkait isu yang berkembang juga memberikan rasa aman bagi investor untuk berinvestasi di pasar keuangan kita.
Investor kembali masuk ke pasar keuangan setelah selama sepekan sebelumnya IHSG dan nilai tukar Rupiah berada di bawah tekanan internal. Saat ini, kepastian itu sudah mulai berkurang seiring dengan langkah yang akan diambil oleh DPR terkait dengan kasus Bank century. Meskipun hasil dari pansus diluar dari apa yang diharapkan. Namun setidaknya ketidakpastian sudah hilang.
Fokus investor selanjutnya akan tertuju pada laporan keuangan emiten yang direncanakan akan membagikan deviden dipertengahan tahun ini. Investor kembali memburu saham-saham dengan mengacu pada analisis fundamental emiten. Selain itu, nilai tukar Rupiah juga berpeluang melanjutkan tren penguatan ditengah membaiknya fundamental ekonomi kita.
Rekomendasi pansus sudah tidak menjadi fokus utama lagi, meskipun terjadi pemakzulan terhadap wapres Budiono maupun reshuffle terhadap menteri keuangan Sri Mulyani. Pasar sepertinya lebih meyakini dan fokus terhadap fundamental ekonomi Indonesia itu sendiri dibandingkan dengan isu-isu penting lainnya termasuk politik.
Pasar akan melihat adanya booming komoditas yang akan mengangkat harga saham meskipun akan memberikan sedikit tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Terlebih perekonomian AS yang diperkirakan akan membukukan data perekonomian AS yang lebih baik. Perekonomian AS akan menjadi pemicu eksternal terhadap pasar keuangan dunia termasuk Indonesia.
Akhir pekan kemarin, data ketenagakerjaan AS tidak merubah posisi tingkat penangguran di AS yang tetap berada di angka 9.7%. Kedepan tingkat pengangguran AS perlahan diperkirakan akan turun seperti terlihat dalam grafik.
Tingkat pengangguran di AS
Actual merupakan angka realisasi, forecast merupakan perkiraaan ke depan.

Sumber : The Financial Forecast Center
Berdasarkan grafik tersebut terlihat bahwa kedepan salah satu data keuangan AS akan terus mengalami perubahan penting yang dapat menentukan arah perubahan pasar keuangan dunia nantinya. Proyeksi ini dapat dijadikan acuan kemana arah pergerakan bursa dan mata uang juga.
Saat ini meruapakan momen yang sangat tepat untuk membuat keputusan. Selain dikarenakan dengan musim panen deviden di bulan juni sampai Agustus. Bursa akan diwarnai dengan realisasi data keuangan yang menggiurkan. Selain itu harga minyak mentah dunia yang sudah mulai merangkak naik di kisaran $80/barel juga memicu booming harga saham komoditas. Kenaikan harga minyak tersebut tidak terlepas oleh ekspektasi membaiknya laju perekonomian AS.
Meskipun kenaikan harga minyak berpotensi menekan nilai tukar Rupiah. Namun, kondisi ini akan mendapat kontrol penuh dari Bank Sentral untuk membuat nilai tukar tetap stabil. Selain itu, pernyataan Presiden SBY terkait isu yang berkembang juga memberikan rasa aman bagi investor untuk berinvestasi di pasar keuangan kita.
Monday, March 01, 2010
Pasar Modal Syariah
Medan Bisnis, 1 Maret 2010
Dari berbagai macam efek yang tersedia di Pasar Modal kita. Terdapat banyak produk keuangan syariah yang tidak diketahui oleh masyarakat. Mungkin karena sosialisai yang kurang serta kurangnya pemahaman tentang produk keuangan syariah itu sendiri di masyarakat. Efek-efek syariah di bursa kita terdiri dari banyak produk. Mulai dari obligasi syariah (SUKUK), Reksadana, hingga saham syariah.
Efek-efek syariah itu sendiri ditentukan oleh fatwa DSN – MUI (Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia). Fatwa tersebut mengatur prinsip-prinsip syariah di bidang pasar modal yang meliputi bahwa suatu efek dipandang telah memenuhi prinsip-prinsip syariah apabila telah memperoleh pernyataan kesesuaian syariah secara tertulis dari DSN-MUI.
Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh calon emiten untuk mendapatkan sertifikat / predikat syariah adalah bahwa calon emiten harus mempresentasikan terlebih dahulu struktur bagi hasilnya dengan investor, struktur transaksinya, bentuk perjanjiannya seperti perjanjian perwali amanatan dll.
Para ahli fiqih berpendapat bahwa suatu saham dapat dikatergorikan memenuhi prinsip syariah apabila kegiatan perusahaan yang menerbitkan saham tersebut tidak tercakup pada hal-hal yang dilarang dalam syariah islam, seperti : Alkohol, Pejudian, Produksi yang bahan bakunya berasal dari babi (makanan haram), Pornografi, Jasa keuangan yang bersifat konvensional serta Asuransi yang bersifat konvensional.
Dengan ketentuan tersebut kita dapat menentukan saham-saham syariah. Sebagai contoh jasa perbankan konvesional yang banyak kita ketahui, diluar jasa perbankan syariah seperti Bank Mualamat, Bank SUMUT Syariah, Bank Mandiri Syariah, dll. Apabila saham dari perbankan yang tidak termasuk syariah terdaftar di Bursa Efek Indonesia, maka saham tersebut tidak termasuk dalam efek syariah.
Bagi masyarakat yang ingin melakukan perdagangan efek yang masuk kategori halal, investor hanya bisa melakukan transaksi efek syariah lewat sekuritas yang sudah mendapat izin dari DSN (Dewan SyariahNasional). Selanjutnya DSN akan mengawasi segala transaksi syariah oleh sekuritas dimaksud. Sedang Manajer investasi yang mengelola dana syariah diwajibkan membentuk Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas mengawasi agar pengelolaan dana sesuai dengan prinsip syariah.
BAPEPAM dan DSN menentukan aturan rinci mengenai transaksi dan mekanisme perdagangan efek syariah. Sebab ada yang lazim di bursa konvensional dan menjadi haram di pasar modal syariah. Seperti margin trading, short selling, semua transaksi derivatif, praktek penggorengan saham dan jual beli right (hak prioritas bagi pemegang saham untuk membeli saham baru).
Sementara itu, pola transaksi di pasar modal syariah digabungkan dengan pasar modal konvensional. Sama seperti yang dilakukan juga oleh pemerintah Malaysia. Efek-efek yang masuk dalam kategori halal (syariah) meliputi : Obligasi Syariah, Reksadana Syariah, Saham yang masuk dalam kategori JII (Jakarta Islamic Index) dan LII (List Islamic Index – kumpulan 274 saham).
Untuk itu ada rambu-rambu yang jelas apabila investor ingin melakukan transaksi saham di pasar modal yang sesuai dengan prinsip syariah. Tidak perlu takut untuk terjun di pasar modal, karena selain memiliki efek yang masuk dalam kategori syariah juga memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari produk keuangan perbankan.
Bahkan dari sekian banyak saham yang diperdagangkan di pasar saham. Ada banyak saham yang termasuk dalam kategori JII yang memiliki kapitalisasi pasar, dan masuk dalam 45 kategori saham paling liquid (LQ45). Saham-saham tersebut yaitu Astra International (ASII), Bumi Resources (BUMI), Telkom (TLKM), Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) dan banyak lagi.
Dari berbagai macam efek yang tersedia di Pasar Modal kita. Terdapat banyak produk keuangan syariah yang tidak diketahui oleh masyarakat. Mungkin karena sosialisai yang kurang serta kurangnya pemahaman tentang produk keuangan syariah itu sendiri di masyarakat. Efek-efek syariah di bursa kita terdiri dari banyak produk. Mulai dari obligasi syariah (SUKUK), Reksadana, hingga saham syariah.
Efek-efek syariah itu sendiri ditentukan oleh fatwa DSN – MUI (Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia). Fatwa tersebut mengatur prinsip-prinsip syariah di bidang pasar modal yang meliputi bahwa suatu efek dipandang telah memenuhi prinsip-prinsip syariah apabila telah memperoleh pernyataan kesesuaian syariah secara tertulis dari DSN-MUI.
Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh calon emiten untuk mendapatkan sertifikat / predikat syariah adalah bahwa calon emiten harus mempresentasikan terlebih dahulu struktur bagi hasilnya dengan investor, struktur transaksinya, bentuk perjanjiannya seperti perjanjian perwali amanatan dll.
Para ahli fiqih berpendapat bahwa suatu saham dapat dikatergorikan memenuhi prinsip syariah apabila kegiatan perusahaan yang menerbitkan saham tersebut tidak tercakup pada hal-hal yang dilarang dalam syariah islam, seperti : Alkohol, Pejudian, Produksi yang bahan bakunya berasal dari babi (makanan haram), Pornografi, Jasa keuangan yang bersifat konvensional serta Asuransi yang bersifat konvensional.
Dengan ketentuan tersebut kita dapat menentukan saham-saham syariah. Sebagai contoh jasa perbankan konvesional yang banyak kita ketahui, diluar jasa perbankan syariah seperti Bank Mualamat, Bank SUMUT Syariah, Bank Mandiri Syariah, dll. Apabila saham dari perbankan yang tidak termasuk syariah terdaftar di Bursa Efek Indonesia, maka saham tersebut tidak termasuk dalam efek syariah.
Bagi masyarakat yang ingin melakukan perdagangan efek yang masuk kategori halal, investor hanya bisa melakukan transaksi efek syariah lewat sekuritas yang sudah mendapat izin dari DSN (Dewan SyariahNasional). Selanjutnya DSN akan mengawasi segala transaksi syariah oleh sekuritas dimaksud. Sedang Manajer investasi yang mengelola dana syariah diwajibkan membentuk Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas mengawasi agar pengelolaan dana sesuai dengan prinsip syariah.
BAPEPAM dan DSN menentukan aturan rinci mengenai transaksi dan mekanisme perdagangan efek syariah. Sebab ada yang lazim di bursa konvensional dan menjadi haram di pasar modal syariah. Seperti margin trading, short selling, semua transaksi derivatif, praktek penggorengan saham dan jual beli right (hak prioritas bagi pemegang saham untuk membeli saham baru).
Sementara itu, pola transaksi di pasar modal syariah digabungkan dengan pasar modal konvensional. Sama seperti yang dilakukan juga oleh pemerintah Malaysia. Efek-efek yang masuk dalam kategori halal (syariah) meliputi : Obligasi Syariah, Reksadana Syariah, Saham yang masuk dalam kategori JII (Jakarta Islamic Index) dan LII (List Islamic Index – kumpulan 274 saham).
Untuk itu ada rambu-rambu yang jelas apabila investor ingin melakukan transaksi saham di pasar modal yang sesuai dengan prinsip syariah. Tidak perlu takut untuk terjun di pasar modal, karena selain memiliki efek yang masuk dalam kategori syariah juga memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari produk keuangan perbankan.
Bahkan dari sekian banyak saham yang diperdagangkan di pasar saham. Ada banyak saham yang termasuk dalam kategori JII yang memiliki kapitalisasi pasar, dan masuk dalam 45 kategori saham paling liquid (LQ45). Saham-saham tersebut yaitu Astra International (ASII), Bumi Resources (BUMI), Telkom (TLKM), Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) dan banyak lagi.
Thursday, February 25, 2010
Pansus Century Juga Menentukan IHSG
Medan Bisnis 22 Februari 2010
Pansus Bank Century masih menjadi berita hangat hingga saat ini. Pengumuman keputusan Pansus terkait Bank Century yang diperkirakan akan selesai dalam waktu dekat ini menjadi fokus pelaku pasar yang ada di lantai bursa. Hingga saat ini permasalahan tersebut masih menjadi pemicu kenapa pasar masih wait & see di lantai bursa.
Pansus Bank Century menjadi satu-satunya sentiment lokal dimana arah pembuat kebijakan menjadi salah satu kunci yang berkontribusi terhadap pergerakan saham di lantai bursa. Pertama, permasalahan century yang berlarut-larut berpotensi membuat kekhawatiran tersendiri di kalangan pelaku pasar. Isu-isu yang berkembang seolah-olah dapat membuat kinerja pemerintahan tidak efektif , sehingga program-program pemerintahan tidak tercapai.
Kedua, isu-isu yang berkembang seperti isu pemakzulan dan reshuffle juga memperburuk keadaan di lantai bursa. Pembangunan koalisi yang sebelumnya dinilai sebagai bentuk koalisi yang sangat kuat di parlemen seolah-olah menemui jalan buntu karena koalisis justru terpecah belah hingga memicu perdebatan di ranah yang lain.
Ketiga permasalahan pajak emiten milik grup Bakrie yang mencuat seiring dengan retaknya koalisi. Ical begitu sebutan untuk Aburizal Bakrie yang menjabat sebagai ketua umum partai Golkar, juga memiliki beberapa perusahaan yang terdaftar di lantai bursa. Pergerakan saham grup Bakrie menjadi emiten yang memberikan kontribusi besar terhadap IHSG (indeks harga saham gabungan).
Sehingga setiap perubahan pada harga saham grup Bakrie seperti BUMI Resources akan diikuti oleh saham emiten yang lainnya. Retaknya koalisi serta penunggakan pajak oleh emiten grup Bakrie membuat kinerja saham grup bakrie juga menurun. Hal tersebut juga disinyalir sebagai masalah bagi terkoreksinya indeks harga saham gabungan. Dan sekaligus menjadi pendorong IHSG bergerak anomali dan tidak sesuai dengan pergerakan bursa regional.
Padahal dari sisi eksternal, IHSG seharusnya telah menemui momentum penguatan. Krisis di Yunani yang sebelumnya sempat memicu kekhawatiran dunia internasional. Saat ini, Yunani sedang dalam proses recovery setelah Negara yang tergabung dalam Uni Eropa melakukan sejumlah langkah konkrit dalam penyelamatannya. Indeks bursa di eropa pun berangsur-angsur membaik serta merealisasikan kenaikan dalam transaksi hariannya.
Demikian juga Dow Jones, dimana inflasi di AS telah menjadi isu serius bagi Bank Sentral AS The FED. Sehingga membuat The FED menaikan suku bunga acuan di negeri tersebut. Sejumlah indikator eksternal tersebut seharusnya mampu menjadi stimulus bagi bursa dunia lainnya untuk terus menguat termasuk IHSG. Apalagi mata uang kita Rupiah diperkirakan akan terus mengalami penguatan seiring dengan laju PDB (produk domestic bruto) kita yang cukup fantastis.
Banyak indikator yang sebenarnya mendorong bursa agar terus menguat. Tugas rumah Pansus Century memang bukan untuk mengurusi permasalahan bursa yang terseok-seok saat ini. Namun, implikasi dari setiap statemen, arah kebijakan serta perkembangan Pansus Century itu sendiri juga sangat berpengaruh bagi IHSG. Tidak melulu kita berharap dari data-data keuangan yang dihasilkan emiten maupun ekonomi secara keseluruhan. Karena saham pada dasarnya juga dipengaruhi oleh kondisi politik suatu Negara.
Kita mengharapkan bahwa semua orang yang berada di pansus tahu benar masalah yang mereka hadapi sebenarnya berimplikasi signifikan bagi permasalahan lainnya. Bahwa apapun yang mereka tentukan nantinya akan menjadi barometer tidak hanya untuk mengukur seberapa kondusifnya kondisi politik negeri ini, namun bagaimana kebijakan mereka nantinya dapat menjadi barometer untuk kenyamanan investasi di negeri ini.
Semoga saja, apa yang berkembang saat ini di Pansus bukanlah barometer untuk mengukur arah kebijakan pansus nantinya. Namun, tidak lebih merupakan dinamika dari sekumpulan pendapat yang memiliki perbedaan dalam melihat permasalahan yang terjadi. Sehingga, koalisi tetap utuh dan mampu mengeluarkan kebijakan yang win win solution.
Pansus Bank Century masih menjadi berita hangat hingga saat ini. Pengumuman keputusan Pansus terkait Bank Century yang diperkirakan akan selesai dalam waktu dekat ini menjadi fokus pelaku pasar yang ada di lantai bursa. Hingga saat ini permasalahan tersebut masih menjadi pemicu kenapa pasar masih wait & see di lantai bursa.
Pansus Bank Century menjadi satu-satunya sentiment lokal dimana arah pembuat kebijakan menjadi salah satu kunci yang berkontribusi terhadap pergerakan saham di lantai bursa. Pertama, permasalahan century yang berlarut-larut berpotensi membuat kekhawatiran tersendiri di kalangan pelaku pasar. Isu-isu yang berkembang seolah-olah dapat membuat kinerja pemerintahan tidak efektif , sehingga program-program pemerintahan tidak tercapai.
Kedua, isu-isu yang berkembang seperti isu pemakzulan dan reshuffle juga memperburuk keadaan di lantai bursa. Pembangunan koalisi yang sebelumnya dinilai sebagai bentuk koalisi yang sangat kuat di parlemen seolah-olah menemui jalan buntu karena koalisis justru terpecah belah hingga memicu perdebatan di ranah yang lain.
Ketiga permasalahan pajak emiten milik grup Bakrie yang mencuat seiring dengan retaknya koalisi. Ical begitu sebutan untuk Aburizal Bakrie yang menjabat sebagai ketua umum partai Golkar, juga memiliki beberapa perusahaan yang terdaftar di lantai bursa. Pergerakan saham grup Bakrie menjadi emiten yang memberikan kontribusi besar terhadap IHSG (indeks harga saham gabungan).
Sehingga setiap perubahan pada harga saham grup Bakrie seperti BUMI Resources akan diikuti oleh saham emiten yang lainnya. Retaknya koalisi serta penunggakan pajak oleh emiten grup Bakrie membuat kinerja saham grup bakrie juga menurun. Hal tersebut juga disinyalir sebagai masalah bagi terkoreksinya indeks harga saham gabungan. Dan sekaligus menjadi pendorong IHSG bergerak anomali dan tidak sesuai dengan pergerakan bursa regional.
Padahal dari sisi eksternal, IHSG seharusnya telah menemui momentum penguatan. Krisis di Yunani yang sebelumnya sempat memicu kekhawatiran dunia internasional. Saat ini, Yunani sedang dalam proses recovery setelah Negara yang tergabung dalam Uni Eropa melakukan sejumlah langkah konkrit dalam penyelamatannya. Indeks bursa di eropa pun berangsur-angsur membaik serta merealisasikan kenaikan dalam transaksi hariannya.
Demikian juga Dow Jones, dimana inflasi di AS telah menjadi isu serius bagi Bank Sentral AS The FED. Sehingga membuat The FED menaikan suku bunga acuan di negeri tersebut. Sejumlah indikator eksternal tersebut seharusnya mampu menjadi stimulus bagi bursa dunia lainnya untuk terus menguat termasuk IHSG. Apalagi mata uang kita Rupiah diperkirakan akan terus mengalami penguatan seiring dengan laju PDB (produk domestic bruto) kita yang cukup fantastis.
Banyak indikator yang sebenarnya mendorong bursa agar terus menguat. Tugas rumah Pansus Century memang bukan untuk mengurusi permasalahan bursa yang terseok-seok saat ini. Namun, implikasi dari setiap statemen, arah kebijakan serta perkembangan Pansus Century itu sendiri juga sangat berpengaruh bagi IHSG. Tidak melulu kita berharap dari data-data keuangan yang dihasilkan emiten maupun ekonomi secara keseluruhan. Karena saham pada dasarnya juga dipengaruhi oleh kondisi politik suatu Negara.
Kita mengharapkan bahwa semua orang yang berada di pansus tahu benar masalah yang mereka hadapi sebenarnya berimplikasi signifikan bagi permasalahan lainnya. Bahwa apapun yang mereka tentukan nantinya akan menjadi barometer tidak hanya untuk mengukur seberapa kondusifnya kondisi politik negeri ini, namun bagaimana kebijakan mereka nantinya dapat menjadi barometer untuk kenyamanan investasi di negeri ini.
Semoga saja, apa yang berkembang saat ini di Pansus bukanlah barometer untuk mengukur arah kebijakan pansus nantinya. Namun, tidak lebih merupakan dinamika dari sekumpulan pendapat yang memiliki perbedaan dalam melihat permasalahan yang terjadi. Sehingga, koalisi tetap utuh dan mampu mengeluarkan kebijakan yang win win solution.
Bearish Membayangi Pasar
Medan Bisnis, 15 Februari 2010
Pimpinan Bank Sentral (Federal Reserves) Amerika Serikat Ben S. Bernanke menyampaikan bahwa AS siap untuk menaikkan suku bunga acuan, meskipun tidak merinci kapan tepatnya. Namun yang pasti tidak dalam waktu segera. Apabila suku bunga acuan dinaikkan maka akan terjadi kenaikan serupa terhadap bunga kartu kredit maupun kredit property.
Menimang pernyataan Ben S. Bernanke tersebut maka dapat kita simpulkan bahwa tanda-tanda ekonomi AS membaik telah muncul, namun sejauh ini ekonomi AS belum sangat kuat untuk mengeluarkan kebijakan menaikkan suku bunga. Ben S. Bernanke sepertinya hanya berupaya memulihkan keyakinan investor global dan juga Kongres AS. Jika perekonomian AS cukup kuat maka The Fed memiliki instrumen untuk meningkatkan suku bunga acuan serta menarik stimulus dari perekonomian.
Kebijakan suku bunga AS yang hampir mendekati 0% tentunya mampu menjadi pendorong membaiknya daya beli masyarakat AS. Meski demikian kebijakan tersebut masih harus ditopang dengan stimulus untuk menggiatkan kembali perekonomian. Ditengah memburuknya di Eropa khususnya Yunani, tentunya telah menyebarkan aura negatif dan memunculkan spekulasi bagaimana pemulihan bisa akan tetap berjalan.
Bukankah stimulus juga mengakibatkan likuiditas membanjiri masyarakat ditambah dengan tingkat suku bunga yang rendah. Dan terbayangkan, bagaimana kalau likuiditas tersebut nantinya tidak dapat berputar alias macet. Krisis yang lebih parah tentunya menjadi hal yang sesuai dengan perkiraan sebelumnya.
Kebijakan menaikkan suku bunga ditujukan untuk mencegah terjadinya asset bubble pada pasar saham dan komoditi serta untuk mengendalikan inflasi. Kekhawatirab serupa juga muncul di pasar bursa kita (BEI), dimana koreksi yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir disinyalir sebagai gelembung ekonomi yang berpotensi pecah.
Dengan keluarnya pernyataan tersebut akan membawa angin segar pada mata uang US Dollar. Spekulasi akan bermunculan. Sejauh ini pasar saham dan komoditi sedang dilanda penyakit sentimen fundamental yang negatif. Seiring dengan masih belum adanya kejelasan pada permasalahan utang publik di Yunani.
Proses pemulihan yang sebelumnya menebarkan optimisme, kini menjadi tidak stabil prosesnya. Banyak Negara yang kustru mengalami penurunan pertumbuhan seperti kebanyakan Negara eropa. China, yang diharapkan mampu menggantikan perekonomian AS justru memperketat likuiditas serta menambah cadangan devisa. Ini merupakan sinyal kehati-hatian yang bisa membumi hanguskan pasar saham.
Kalau mengandalkan data perekonomian dalam negeri. Solidnya data yang ditunjukan oleh perekonomian nasional sepertinya tidak akan mampu menahan derasnya arus/sentiment negatif eksternal. IHSG juga membukukan kinerja yang paling buruk dalam 2 pekan terakhir jika dibandingkan dengan kinerja indeks regional.
Ancaman lain juga muncul dari lembaga pemeringkat yang bisa saja menurunkan peringkat Indonesia seiring dengan permasalahan Bank Century. Saat ini investor dan lembaga pemeringkat (rating agency) masih wait and see terhadap hasil akhir pansus hak angket bank Century oleh DPR-RI.
Permasalahan Bank Century bisa saja menimbulkan polemik politik, yang secara umum adalah politisasi kebijakan ekonomi dan corporate action yang bisa mengganggu kepastian bisnis di Indonesia. Kalau semua sentimen yang tidak dapat diterima tersebut belum bisa membelikan arah penyelesaian yang jelas, maka saatnya telah datang bahwa koreksi di pasar saham, komoditas dan keuangan di depan mata.
Pimpinan Bank Sentral (Federal Reserves) Amerika Serikat Ben S. Bernanke menyampaikan bahwa AS siap untuk menaikkan suku bunga acuan, meskipun tidak merinci kapan tepatnya. Namun yang pasti tidak dalam waktu segera. Apabila suku bunga acuan dinaikkan maka akan terjadi kenaikan serupa terhadap bunga kartu kredit maupun kredit property.
Menimang pernyataan Ben S. Bernanke tersebut maka dapat kita simpulkan bahwa tanda-tanda ekonomi AS membaik telah muncul, namun sejauh ini ekonomi AS belum sangat kuat untuk mengeluarkan kebijakan menaikkan suku bunga. Ben S. Bernanke sepertinya hanya berupaya memulihkan keyakinan investor global dan juga Kongres AS. Jika perekonomian AS cukup kuat maka The Fed memiliki instrumen untuk meningkatkan suku bunga acuan serta menarik stimulus dari perekonomian.
Kebijakan suku bunga AS yang hampir mendekati 0% tentunya mampu menjadi pendorong membaiknya daya beli masyarakat AS. Meski demikian kebijakan tersebut masih harus ditopang dengan stimulus untuk menggiatkan kembali perekonomian. Ditengah memburuknya di Eropa khususnya Yunani, tentunya telah menyebarkan aura negatif dan memunculkan spekulasi bagaimana pemulihan bisa akan tetap berjalan.
Bukankah stimulus juga mengakibatkan likuiditas membanjiri masyarakat ditambah dengan tingkat suku bunga yang rendah. Dan terbayangkan, bagaimana kalau likuiditas tersebut nantinya tidak dapat berputar alias macet. Krisis yang lebih parah tentunya menjadi hal yang sesuai dengan perkiraan sebelumnya.
Kebijakan menaikkan suku bunga ditujukan untuk mencegah terjadinya asset bubble pada pasar saham dan komoditi serta untuk mengendalikan inflasi. Kekhawatirab serupa juga muncul di pasar bursa kita (BEI), dimana koreksi yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir disinyalir sebagai gelembung ekonomi yang berpotensi pecah.
Dengan keluarnya pernyataan tersebut akan membawa angin segar pada mata uang US Dollar. Spekulasi akan bermunculan. Sejauh ini pasar saham dan komoditi sedang dilanda penyakit sentimen fundamental yang negatif. Seiring dengan masih belum adanya kejelasan pada permasalahan utang publik di Yunani.
Proses pemulihan yang sebelumnya menebarkan optimisme, kini menjadi tidak stabil prosesnya. Banyak Negara yang kustru mengalami penurunan pertumbuhan seperti kebanyakan Negara eropa. China, yang diharapkan mampu menggantikan perekonomian AS justru memperketat likuiditas serta menambah cadangan devisa. Ini merupakan sinyal kehati-hatian yang bisa membumi hanguskan pasar saham.
Kalau mengandalkan data perekonomian dalam negeri. Solidnya data yang ditunjukan oleh perekonomian nasional sepertinya tidak akan mampu menahan derasnya arus/sentiment negatif eksternal. IHSG juga membukukan kinerja yang paling buruk dalam 2 pekan terakhir jika dibandingkan dengan kinerja indeks regional.
Ancaman lain juga muncul dari lembaga pemeringkat yang bisa saja menurunkan peringkat Indonesia seiring dengan permasalahan Bank Century. Saat ini investor dan lembaga pemeringkat (rating agency) masih wait and see terhadap hasil akhir pansus hak angket bank Century oleh DPR-RI.
Permasalahan Bank Century bisa saja menimbulkan polemik politik, yang secara umum adalah politisasi kebijakan ekonomi dan corporate action yang bisa mengganggu kepastian bisnis di Indonesia. Kalau semua sentimen yang tidak dapat diterima tersebut belum bisa membelikan arah penyelesaian yang jelas, maka saatnya telah datang bahwa koreksi di pasar saham, komoditas dan keuangan di depan mata.
Saturday, February 06, 2010
Indonesia Ditengah Gunjang Ganjing Pasar Keuangan
Medan Bisnis, 01 Februari 2010
US Dolar kembali menguat terhadap mata uang dunia termasuk Rupiah. Negeri para dewa - Yunani yang dilanda krisis membuat orang semakin ragu dengan prospek pemulihan ekonomi global, dan kembali memburu US Dolar sebagai safe heaven. Sehingga membuat mata uang US$ mengalami penguatan paling signifikan terhadap Euro.
Yunani sejauh ini belum meminta bantuan Negara sekawasan – Uni Eropa untuk menyelamatkan perekonomiannya dari keterpurukan. Yunani menuding masalah krisis dinegaranya disebabkan oleh aksi spekulan yang memanfaatkan yunani. Hal tersebut terjadi karena yunani merupakan Negara yang paling lemah diantara Negara eropa lainnya.
Pasar juga merespon negatif pasar modal diseluruh dunia. Dalam beberapa hari perdagangan terakhir indeks bursa global tertekan yang diakibatkan oleh krisis yang masih melanda sejumlah Negara tersebut. Hal ini sangat memukul pasar keuangan dunia, akibat permasalahan di seputar dunia keuangan yang begitu kompleks. Kebijakan China dan negeri paman sam baru-baru ini sebenarnya juga masih menjadi sentimen negatif yang dapat membuat keuangan global terkoreksi.
Keadaan tersebut diperburuk dengan krisis di Yunani serta penurunan harga minyak mentah secara tajam. Nilai tukar Rupiah dan IHSG juga mengalami pukulan kuat, nilai tukar Rupiah kembali melemah di atas Rp.9.300/US$, sementara IHSG juga berkutat dikisaran 2.600 dengan kecenderungan turun. Minimnya sentimen pasar serta permasalahan politik dalam negeri membuat fluktuasi pasar finansial di Indonesia bergerak liar.
Seperti peringatan 100 hari kinerja kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin oleh presiden susilo bambang yudhoyono. Beberapa hari sebelum dilaksanakan demo besar-besaran tersebut (28/01), telah membuat panik para pelaku pasar sebelumnya. Dan sekalipun aksi demo tetap berjalan lancar, namun keadaan tersebut tidak mampu membuat pasar finansial kita menggeliat. Sejmlah faktor eksternal masih tetap saja menghantui pasar keuangan kita.
Ada begitu banyak sentimen negatif yang akan membanjiri pasar keuangan kita dalam beberapa minggu kedepan. Permasalahan Bank Century yang berlarut-larut menjadi salah satu contohnya. Sementara itu, ekspektasi rendahnya laju inflasi selama tahun 2010 yang diperkirakan akan berada di kisaran 6%, sebenarnya merupakan angin segar, setidaknya BI rate akan tetap sama sepanjang tahun 2010 ini.
Namun perkiraan tersebut tidak selamanya benar, kenapa? Fluktuasi harga minyak mentah dunia yang berkutat pada harga $80/Barel saat ini yang menjadi salah satu indikatornya. Selain itu, kebijakan China yang membatasi penyaluran kredit perbankan juga akan menahan laju pertumbuhan ekonomi China yang akan mempengaruhi konsumsi minyak negara tersebut.
Melihat kejadian Yunani, Harga Minyak serta kebijakan yang sangat hati-hati dari 2 negara ekonomi besar seperti AS dan China, seakan memberi kesan bahwa tahun 2010 sebagai tahun pemulihan masih sebatas wacana saja.
Pasar masih melihat bahwa gunjang-ganjing di pasar keuangan dunia masih akan tetap terjadi. Ketidakpastian arah pemulihan ekonomi global juga masih terlihat. Ekonomi dunia masih berkutat mencari titik keseimbangan baru. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh beberapa Negara justru bertolak belakang.
Dari yang sebelumnya untuk melakukan pemulihan, menjadi kebijakan yang dibuat untuk mengurangi resiko akan terjadinya krisis yang lebih besar lagi. Indikator ekonomi negara kita sebenarnya masih cukup solid. Namun tidak menggaransi bahwa pasar finansial tetap bullish.
Ditopang dengan konsumsi dalam negeri yang signifikan, Pasar keuangan kita seharusnya tetap menjadi pilihan menarik bagi investor. Akan tetapi, dengan ketidak pastian arah pergerakan ekonomi global, sepertinya tren bullish yang dibentuk akan lebih banyak dibanjiri oleh dana jangka pendek (Hot Money) sehingga belum dapat menghindarkan kita dari gunjang ganjing di pasar keuangan yang akan datang.
US Dolar kembali menguat terhadap mata uang dunia termasuk Rupiah. Negeri para dewa - Yunani yang dilanda krisis membuat orang semakin ragu dengan prospek pemulihan ekonomi global, dan kembali memburu US Dolar sebagai safe heaven. Sehingga membuat mata uang US$ mengalami penguatan paling signifikan terhadap Euro.
Yunani sejauh ini belum meminta bantuan Negara sekawasan – Uni Eropa untuk menyelamatkan perekonomiannya dari keterpurukan. Yunani menuding masalah krisis dinegaranya disebabkan oleh aksi spekulan yang memanfaatkan yunani. Hal tersebut terjadi karena yunani merupakan Negara yang paling lemah diantara Negara eropa lainnya.
Pasar juga merespon negatif pasar modal diseluruh dunia. Dalam beberapa hari perdagangan terakhir indeks bursa global tertekan yang diakibatkan oleh krisis yang masih melanda sejumlah Negara tersebut. Hal ini sangat memukul pasar keuangan dunia, akibat permasalahan di seputar dunia keuangan yang begitu kompleks. Kebijakan China dan negeri paman sam baru-baru ini sebenarnya juga masih menjadi sentimen negatif yang dapat membuat keuangan global terkoreksi.
Keadaan tersebut diperburuk dengan krisis di Yunani serta penurunan harga minyak mentah secara tajam. Nilai tukar Rupiah dan IHSG juga mengalami pukulan kuat, nilai tukar Rupiah kembali melemah di atas Rp.9.300/US$, sementara IHSG juga berkutat dikisaran 2.600 dengan kecenderungan turun. Minimnya sentimen pasar serta permasalahan politik dalam negeri membuat fluktuasi pasar finansial di Indonesia bergerak liar.
Seperti peringatan 100 hari kinerja kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin oleh presiden susilo bambang yudhoyono. Beberapa hari sebelum dilaksanakan demo besar-besaran tersebut (28/01), telah membuat panik para pelaku pasar sebelumnya. Dan sekalipun aksi demo tetap berjalan lancar, namun keadaan tersebut tidak mampu membuat pasar finansial kita menggeliat. Sejmlah faktor eksternal masih tetap saja menghantui pasar keuangan kita.
Ada begitu banyak sentimen negatif yang akan membanjiri pasar keuangan kita dalam beberapa minggu kedepan. Permasalahan Bank Century yang berlarut-larut menjadi salah satu contohnya. Sementara itu, ekspektasi rendahnya laju inflasi selama tahun 2010 yang diperkirakan akan berada di kisaran 6%, sebenarnya merupakan angin segar, setidaknya BI rate akan tetap sama sepanjang tahun 2010 ini.
Namun perkiraan tersebut tidak selamanya benar, kenapa? Fluktuasi harga minyak mentah dunia yang berkutat pada harga $80/Barel saat ini yang menjadi salah satu indikatornya. Selain itu, kebijakan China yang membatasi penyaluran kredit perbankan juga akan menahan laju pertumbuhan ekonomi China yang akan mempengaruhi konsumsi minyak negara tersebut.
Melihat kejadian Yunani, Harga Minyak serta kebijakan yang sangat hati-hati dari 2 negara ekonomi besar seperti AS dan China, seakan memberi kesan bahwa tahun 2010 sebagai tahun pemulihan masih sebatas wacana saja.
Pasar masih melihat bahwa gunjang-ganjing di pasar keuangan dunia masih akan tetap terjadi. Ketidakpastian arah pemulihan ekonomi global juga masih terlihat. Ekonomi dunia masih berkutat mencari titik keseimbangan baru. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh beberapa Negara justru bertolak belakang.
Dari yang sebelumnya untuk melakukan pemulihan, menjadi kebijakan yang dibuat untuk mengurangi resiko akan terjadinya krisis yang lebih besar lagi. Indikator ekonomi negara kita sebenarnya masih cukup solid. Namun tidak menggaransi bahwa pasar finansial tetap bullish.
Ditopang dengan konsumsi dalam negeri yang signifikan, Pasar keuangan kita seharusnya tetap menjadi pilihan menarik bagi investor. Akan tetapi, dengan ketidak pastian arah pergerakan ekonomi global, sepertinya tren bullish yang dibentuk akan lebih banyak dibanjiri oleh dana jangka pendek (Hot Money) sehingga belum dapat menghindarkan kita dari gunjang ganjing di pasar keuangan yang akan datang.
Ketika Pertumbuhan Harus Dibatasi
Medan Bisnis, 25 Januari 2010
Raksasa ekonomi Amerika Serikat melalu presidennya Barack Obama menyatakan pentingya membatasi resiko di sektor perbankan. Batasan yang dimaksud adalah pengambilan resiko yang bisa saja pengetatan pengucuran kredit perbankan. Langkah presiden Barrack Obama tersebut langsung mendapatkan respon.
Setidaknya harga saham-saham di Amerika terjun bebas dan mengantarkan indeks Standard & Poor’s 500 mengalami koreksi yang paling besar sejak bulan oktober tahun lalu. Seiring dengan rencana gedung putih yang mengajukan proposal pembatasan dalam resiko keuangan AS serta rencana China yang akan menekan laju pertumbuhan ekonominya.
Langkah yang diambil pemerintah AS diyakini presiden AS untuk mencegah terjadinya krisis keuangan lainnya. Seiring dengan hal itu, pengetatan kebijkan moneter sepertinya mutlak dilakukan guna membatasi pengucuran dana masyarakat ditengah ketidak pastiaan pemulihan ekonomi global. Apa yang terjadi setelah langkah pemerintah AS tersebut?
Hampir semua saham perbankan AS mengalami koreksi yang cukup signifikan dan sangat memukul kejatuhan indeks bursa global tanpa terkecuali Indonesia. Saham-saham perbankan Indonesia justru mengalami koreksi yang diakibatkan oleh faktor internal seperti pembobolan kartu ATM.
Memang sangat mengkhawatirkan manakala kondisi keuangan yang belum stabil harus mengucurkan dana maupun stimulus guna meningkatkan konsumsi dan daya beli. Kenapa? Karena dengan keuangan yang sedang bermasalah dan tetap menjalankan stimlus sebenarnya memberikan ruang untuk menciptakan peluang krisis lanjutan, terlebih stimulus tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Dan juga berdampak pada tingginya inflasi. Dan bayangkan apa yang akan terjadi pada saat stimulus ternyata tidak begitu efektif sehingga mengangkat inflasi ke level yang lebih tinggi lagi. Yang ada adalah seperti bola salju yang menggelinding dan semakin besar sebelum akhirnya menghancurkan semua yang dilewatinya.
China sepertinya juga mengalami hal yang sama. Kekhawatiran terhadap perkembangan perekonomian global harus diikuti dengan pengetatan kebijakan penyaluran kredit oleh negeri panda tersebut. Kekhawatiran tersebut sepertinya akan memicu masalah lainnya khususnya di dunia keuangan.
Diantara sekian banyak sentiment negative tersebut. Secara fundamental perusahaan di AS pada dasarnya membukukan keuntungan dalam laporan keuangan triwulan ke empat yang justru lebih baik dari estimasi para analis sebelumnya. Diantara 62 perusahaan yang melaporkan pendapatan dan tergabung dalam S&P 500, terdapat 46 perusahaan yang merealisasikan keuntungan melebihi rata-rata dari data Bloomberg.
Apa yang terjadi?. Ini menggambarkan bahwa ekspektasi pasar sangat berlebihan dalam merespon kebijakan gedung putih meskipun dalam jangka waktu tertentu memang akan berdampak buruk dalam perekonomian khususnya sektor perbankan. Penulis melihat ada peluang kenaikan pada emiten perbankan yang mengalami koreksi pada saat ini.
Bukan hanya itu. Ada sekitar 130 perusahaan lagi yang juga tergabung dalam S&P 500 dan berencana untuk memberikan laporan keuangannya. Termasuk perusahaan Apple Inc. Sehingga tidak menutup kemungkinan adanya pembalikan arah pergerakan pasar yang membentuk tren bullish.
Raksasa ekonomi Amerika Serikat melalu presidennya Barack Obama menyatakan pentingya membatasi resiko di sektor perbankan. Batasan yang dimaksud adalah pengambilan resiko yang bisa saja pengetatan pengucuran kredit perbankan. Langkah presiden Barrack Obama tersebut langsung mendapatkan respon.
Setidaknya harga saham-saham di Amerika terjun bebas dan mengantarkan indeks Standard & Poor’s 500 mengalami koreksi yang paling besar sejak bulan oktober tahun lalu. Seiring dengan rencana gedung putih yang mengajukan proposal pembatasan dalam resiko keuangan AS serta rencana China yang akan menekan laju pertumbuhan ekonominya.
Langkah yang diambil pemerintah AS diyakini presiden AS untuk mencegah terjadinya krisis keuangan lainnya. Seiring dengan hal itu, pengetatan kebijkan moneter sepertinya mutlak dilakukan guna membatasi pengucuran dana masyarakat ditengah ketidak pastiaan pemulihan ekonomi global. Apa yang terjadi setelah langkah pemerintah AS tersebut?
Hampir semua saham perbankan AS mengalami koreksi yang cukup signifikan dan sangat memukul kejatuhan indeks bursa global tanpa terkecuali Indonesia. Saham-saham perbankan Indonesia justru mengalami koreksi yang diakibatkan oleh faktor internal seperti pembobolan kartu ATM.
Memang sangat mengkhawatirkan manakala kondisi keuangan yang belum stabil harus mengucurkan dana maupun stimulus guna meningkatkan konsumsi dan daya beli. Kenapa? Karena dengan keuangan yang sedang bermasalah dan tetap menjalankan stimlus sebenarnya memberikan ruang untuk menciptakan peluang krisis lanjutan, terlebih stimulus tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Dan juga berdampak pada tingginya inflasi. Dan bayangkan apa yang akan terjadi pada saat stimulus ternyata tidak begitu efektif sehingga mengangkat inflasi ke level yang lebih tinggi lagi. Yang ada adalah seperti bola salju yang menggelinding dan semakin besar sebelum akhirnya menghancurkan semua yang dilewatinya.
China sepertinya juga mengalami hal yang sama. Kekhawatiran terhadap perkembangan perekonomian global harus diikuti dengan pengetatan kebijakan penyaluran kredit oleh negeri panda tersebut. Kekhawatiran tersebut sepertinya akan memicu masalah lainnya khususnya di dunia keuangan.
Diantara sekian banyak sentiment negative tersebut. Secara fundamental perusahaan di AS pada dasarnya membukukan keuntungan dalam laporan keuangan triwulan ke empat yang justru lebih baik dari estimasi para analis sebelumnya. Diantara 62 perusahaan yang melaporkan pendapatan dan tergabung dalam S&P 500, terdapat 46 perusahaan yang merealisasikan keuntungan melebihi rata-rata dari data Bloomberg.
Apa yang terjadi?. Ini menggambarkan bahwa ekspektasi pasar sangat berlebihan dalam merespon kebijakan gedung putih meskipun dalam jangka waktu tertentu memang akan berdampak buruk dalam perekonomian khususnya sektor perbankan. Penulis melihat ada peluang kenaikan pada emiten perbankan yang mengalami koreksi pada saat ini.
Bukan hanya itu. Ada sekitar 130 perusahaan lagi yang juga tergabung dalam S&P 500 dan berencana untuk memberikan laporan keuangannya. Termasuk perusahaan Apple Inc. Sehingga tidak menutup kemungkinan adanya pembalikan arah pergerakan pasar yang membentuk tren bullish.
Subscribe to:
Posts (Atom)