Saturday, January 23, 2010

Bulan Ramadhan, Bulan Investasi

Medan Bisnis, 25 Agustus 2009
Selamat datang bulan Ramadhan. Di bulan yang suci ini, umat islam diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh. Menjaga hawa nafsu, tidak makan dan minum sejak imsak hingga maghrib tiba. Dan selama satu bulan penuh umat islam juga dilarang keras melakukan tindakan-tindakan tercela yang dapat membatalkan puasa. Semoga bulan ramadhan ini dapat menjadi wahana pembelajaran dan merubah umat manusia agar menjadi insani yang lebih baik lagi. Amin.

Berpuasa, salah satunya adalah menahan lapar dan dahaga. Lapar berarti tidak makan yang kalau diasumsikan berarti umat islam dapat berhemat karena pada dasarnya konsumsi dapat dikurangi. Namun, fakta berbicara lain selama bulan ramadhan laju inflasi di Indonesia akan naik tinggi yang berarti tingkat konsumsi masyarakat muslim pada umumnya justru meningkat.

Ramadhan belum sepenuhnya menjadi momen yang tepat dan digunakan untuk melakukan efisiensi keuangan. Menurut data Bank Indonesia, jumlah uang beredar justru meningkat selama ramadhan maupun perayaan keagamaan lainnya. Selama perayaan kegamaan selalu terjadi peningkatan permintaan uang. Jelas sekali terlihat adanya pemborosan. Meskipun boros dilarang oleh agama, akan tetapi tetap memberikan manfaat bagi umat lainnya.

Umat lainnya adalah pedagang, buruh pabrik, petani, stasiun TV hingga pemilik perusahaan. Disadari atau tidak, membeli produk makanan instant yang banyak dibeli di bulan ramadhan ini seperti mie instant akan meningkatkan volume penjualan perusahaan itu sendiri. Indofood yang merupakan perusahaan pembuat mie instant terbesar akan menerima berkah dari tingginya penjualan mie buatannya.

Bukan hanya mie, tradisi membeli pakaian baru serta aksesoris lainnya menjelang hari raya Idul Fitri juga akan memberi berkah tersendiri bagi perusahaan yang menjual aneka kebutuhan sandang tersebut. Seperti Ramayana dan Matahari. Banyak analis keuangan yang memprediksikan bahwa perusahaan tersebut akan banyak mendapatkan keuntungan di bulan ramadhan ini.

Nah, kalau sudah bicara untung maka akan meningkatkan harga saham perusahaan tersebut. Dilantai bursa, selama ramadhan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang konsumsi seperti Indofood (Mie Instant), Mayora (makanan ringan), Ramayana (sandang), Unilever (kebutuhan pokok seperti sabun, pasta gigi) serta Matahari (sandang) diperkirakan harga saham prusahaan tersebut akan naik tajam.

Berkah dibulan suci ini akan menjadi pemicu antusias para pelaku pasar untuk memborong saham-saham yang paling disukai hingga menjelang Idul Fitri nanti. Banyak analis yang merekomendasikan untuk membeli saham-saham yang bergerak di sektor konsumsi tersebut. Antusias masyarakat yang merayakan ramadhan dengan banyak melakukan konsumsi memang menjadi akar masalah naiknya harga barang hingga 15%.

Laju inflasi bahkan diperkirakan akan mendekati 1% di bulan agustus ini. Kebiasaan masyarakat kita memang tidak terlepas dari budaya yang telah mengakar sejak nenek moyang kita dulu. Meskipun di bulan sebelum ramadhan inflasi relatif terkendali, namun dibulan ramadhan ini akan menjadi bulan penyumbang inflasi tertinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenapa bulan Ramadhan? Tahukah kita, pemberian THR (Tunjangan Hari raya) merupakan salah satu penyebab tingginya konsumsi masyarakat kita. Dan apa jadinya kalau THR ditiadakan. Yang pasti Inflasi juga akan sedikit bisa dikendalikan. Namun, itulah siklus ekonomi Indonesia yang dihuni oleh masyarakat muslim terbesar di Dunia.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Bukan hanya berkah bagi yang menjalankan ibadahnya, berkah yang lain juga akan diterima oleh para pedagang, penjual tiket, buruh dan karyawan, pemilik usaha, hingga yang punya perusahaan sekalipun. Bulan Ramadhan adalah bulan berbagi. Pada dasarnya kita juga sudah berbagi rezeki dengan berbelanja untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

Terroris Tertangkap, The Show Must Go On

Medan Bisnis, 11 Agustus 2009
Lagi, kabar gembira akan menyelimuti awal pekan ini dengan tetap diwarnai oleh sejumlah sentimen positif baik dari dalam maupun dari luar. Kalau kita lihat pemberitaan di TV sejak jum’at sore minggu kemarin, maka langkah POLRI dalam memberantas teroris telah memetik hasil.

Pada tanggal 17 Juli lalu yang juga bertepatan pada hari jum’at, Indonesia “menangis” akibat ledakan yang diakibatkan oleh tingkah laku teroris yang kurang bertanggung jawab. Mengakibatkan kepercayaan masyarakat dunia terhadap Indonesia turun, serta mengakibatkan IHSG dan Rupiah turut terkoreksi.

Langkah polisi yang menangkap sejumlah pelaku terror membuktikan bahwa Indonesia sanggup meredam aksi terorisme. Sekaligus sebagai bukti bagi dunia internasional bahwa Indonesia tetap menjadi Negara yang aman dan tepat dijadikan Negara tujuan investasi. Dampak ekonomis yang timbul dari tertangkapnya pelaku teror adalah kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia.

Kita akan melihat pada pembukaan perdagangan saham pagi ini. Penulis memperkirakan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan naik cukup signifikan. Kenaikan tersebut akan menepis sejumlah anggapan dari analis teknikal yang menilai IHSG rawan koreksi. Faktor-faktor fundamental akan menjadi penopang yang kuat serta akan membuat IHSG melambung tinggi hingga menjelang Ramadhan nanti.

IHSG memang menjadi sebuah tolak ukur perekonomian yang cepat dalam merespon perubahan sentiment pasar. Meskipun sangat rentan dengan aksi spekulasi, namun fundamental yang kokoh tidak akan mudah “menggoyang” indeks bursa secara sporadis.

Sentimen Positif Dari Luar
Departemen Tenaga Kerja AS kembali melaporkan bahwa data nonfarm payrolls (NFL) atau ketenaga kerjaan untuk bulan Juli mengalami penurunan. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa data nonfarm payrolls untuk bulan Juli mengalami penurunan sebesar 247.000. Level penurunan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan prediksi para ekonom yang sebelumnya memperkirakan bahwa data non farm payrolls akan mengalai penurunan hingga mencapai level 275.000.

Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS juga melaporkan bahwa tingkat pengangguran untuk bulan Juli mengalami penurunan sebesar 0,1% menjadi 9,4%. hal tersebut memberikan sebuah sinyalemen positif bagi perekonomian AS, mengingat sebelumnya tingkat pengangguran diperkirakan akan naik hingga menembus level 9,7%.

Terkait dengan laporan tersebut Indeks Bursa Wall Street didominasi dengan penguatan yang cukup tajam. Penguatan tersebut seiring dengan pernyataan presiden Barrack Obama yang mengeluarkan pernyataan bahwa akhir dari resesi di AS mulai terlihat.

Seiring dengan dikeluarkannya data tersebut, rata-rata upah perjam pekerja AS pada bulan Juli tercatat mengalami peningkatan sebesar 0,003 dollar menjadi 18,56 dollar. Meski demikian, jumlah pekerja di sektor manufaktur dikabarkan mengalami penurunan sebesar 52.000 orang, sektor otomotif berkurang 28.000 dan di sektor jasa berkurang sebanyak 119.000 orang.

Dua sentimen positif dari dalam dan luar tersebut merupakan momen penting yang akan menjadi penggerak perekonomian kedepan. Pasar akan langsung merespon dengan membentuk sebuah euphoria baru di lantai bursa. Seiring dengan perubahan waktu, Euforia tersebutlah yang akan menggirng pasar kembali kepada faktor psikologis dimana analisa teknikal akan mengambil alih seiring dengan semakin terkikisnya informasi fundamental.

Kalau kita tidak takut lagi dengan ancaman terror karena pelaku terror tertangkap. Kalau kita tidak merasa was-was lagi berjalan ditengah keramaian yang banyak berdiri orang asing. Dan kita melihat bahwa resesi sepertinya sudah akan berakhir. Dan kita melihat Indonesia aman dan menarik (investasi) bagi banyak orang. Maka, ada alasan yang cukup untuk membuat kita percaya bahwa pemulihan ekonomi benar-benar sedang dimulai.

Tidak Ada Kebahagian Yang Abadi

Medan Bisnis, 4 Agustus 2009
Ada sedikit kemajuan yang diwujudkan oleh data perekonomian Amerika Serikat. Yakni kontraksi ekonomi yang dialami negeri tersebut lebih rendah dari perekiraan analis sebelumnya. Hal tersebut tercermin dari data Gross Domestic Product (GDP) AS yang menurut presiden Barack Obama sebagai kemajuan.

Meskipun banyak analis yang memperkirakan bahwa laju pertumbuhan GDP akan terus bergerak keatas. Bahkan pada awal tahun 2010 mendatang US GDP akan kembali normal dan terus melanjutkan tren penguatan. GDP merupakan suatu tolak ukur perekonomian AS yang menggambarkan bagaimana perekonomian AS dalam menghasilkan barang.

Besarnya GDP memang sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi masyarakat yang notabene sedang jelek-jeleknya pada saat ini. Namun, perkiraan pertumbuhan GDP AS justru tidak diikuti oleh perbaikan pada data pengangguran yang diperkirakan akan berada di kisaran 11.2% hingga Februari 2010 mendatang. Jauh diatas angka normal sebelum krisis di kisaran 5%.

Produk Domestik Bruto Amerika Serikat/ U.S. GDP
Tren dimasa lalu menunjukan data sebenarnya (actual) dan prediksi masa depan (forecast) dalam Miliar $

Sumber : The Financial Forecast Center

Berdasarkan data tersebut ekonomi AS benar-benar telah mengalami pemulihan meskipun tidak didukung oleh data lainnya seperti data pengangguran atau biasa dikenal dengan Jobless Claim. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah AS masih sangat mungkin untuk kembali menggelontorkan stimulus guna meningkatkan daya beli masyarakat.

Respon yang paling mudah dilihat adalah pada kinerja indeks bursa AS. Saham-saham Wall Street ditutup bervariasi (mixed), naik tipis pada Jumat waktu setempat, karena pasar mencerna data ekonomi AS yang menunjukkan kontraksi lebih kecil daripada perkiraan, meski belanja konsumen melemah.

Indeks bursa AS pada perdagangan jum;at kemarin dikua di teritori negatif. Namun selama sesi perdagangan saham-saham terus berada di wilayah positif. Tidaklah berlebihan kalau kita tidak langsung memberikan penilaian ekonomi AS mulai berjalan dengan baik. Karena rebound ekonomi AS masih akan dibuktikan dalam beberapa waktu kedepan, dan rebound tersebut benar-benar berjalan dengan baik.

Nah kita yang di Indonesia juga harus mencermati perubahan dalam ekonomi AS tersebut. IHSG (Indeks Harga Saham gabungan) merupakan indikator yang paling sensitif dalam merespon perubahan data ekonomi. Oleh sebab itu, Indeks Wall Street yang menguat biasanya akan diikuti oleh penguatan Indeks global khususnya IHSG.

Rebound IHSG dalam beberapa hari terakhir mungkin dapat terus dilanjutkan seiring dengan kinerja Wall Street yang masih diteritori positif. Selain itu, rebound IHSG juga diiringi dengan rebound atau penguatan nilai tukar Rupiah yang kian mewarnai data perekonomian Indonesia. Belum lagi ditambah laju inflasi yang sangat moderat.

Indonesia masih akan terus mencetuskan data perekonomian yang fantastis hingga akhir tahun ini. Setidak-tidaknya pemotongan suku bunga oleh BI apabila Inflasi yang terealisasi masih menungkinkan untuk pemotongan bunga. Euforia akan berlanjut pada pelantikan SBY nanti sebagai presiden RI periode 2009-2014.

Namun, dengan tidak terbuai dengan euforia yang “memabukkan”. Kita tetap mewaspadai setiap perubahan data ekonomi raksasa AS. IHSG bisa saja terjungkal meskipun tetap menunjukan tren penguatan. Sikap kehati-hatian dengan tetap meyakini bahwa tidak ada kebahagian yang abadi akan membawa kita dapat melalui masa-masa sulit seperti saat ini.

Pasar Keuangan Belum Ditopang Dengan Fundamental Yang Kuat

Medan Bisnis, 16 Juni 2009
Laju pertumbuhan eknomi Indonesia yang masih positif membuat pelaku modal asing masih menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk mengkembangbiakan uang. Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya pemodal asing yang membeli instrument Surat Utang Negara (SUN) atau yang berinvestasi di pasar saham. Sah-sah saja, namun disini terlihat dengan jelas bahwa pemerintah kurang memperhatikan sektor riil Karena penurunan BI rate dinilai masih cukup lambat.

Tekanan laju inflasi yang terus menurun seharusnya menjadi momentum yang kuat untuk menurunkan BI rate secara signifikan. Apalagi, selisih BI rate bila dibandingkan dengan bunga The FED yang masih menganga cukup lebar. Kalau dulu BI rate berada di sekitar 8%, biasanya The Fed akan berada di sekitar 4%. Jadi selisih atau spread tidak begitu lebar. Saat ini, The FED Fund Rate sudah mendekati 0%, memang kondisi tidaklah sama. Penurunan BI rate sangat mengancam nilai tukar Rupiah yang saat ini masih bertengger di atas Rp.10.000/US$.

Sebagai Negara yang masuk dalam kategori emerging market (Negara berkembang). Indonesia memang kerap tidak diuntungkan dengan perubahan data-data ekonomi meskipun dalam agka yang fatastis. Semakin membaik data perekonomian kerap dijadikan alas an oleh investor asing untuk menjadikan uang panas dalam jangka pendek (Hot Money) membanjiri Indonesia. Sekilas pasar keuangan kita akan mencetak angka gemilang karenanya. Meski demikian hal tersebut akan membuat pemerintah terus mengalami tekanan APBN yang cukup kuat untuk membayar bunga hutang yang tinggi.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, Investor asing kembai memborong instrumen utang pemerintah atau biasa disebut dengan SUN. Selain itu, obligasi global (global bond) yang ditrbitkan pemerintah sebelumnya juga terus mencetak harga tertinggi baru yang saat ini dijual dengan harga premium (diatas 100%). Hal ini terjadi, karena surat hutang yang diterbitkan pemerintah memiliki kupon yang sangat tinggi apabila dibandingkan dengan surat utang sejenis dari Negara lain.

Yang perlu dicermati adalah apabila dana yang saat ini masuk tersebut, tiba-tiba keluar karena melihat ada tempat (Negara) yang lebih menarik (memberikan bunga lebih kompetitif). Hal tersebut tentunya akan merontokan harga semua instrument keuangan kita. Selain itu, korporasi lokal juga akan kesulitan dalam menerbitkan surat utang (obligasi). Sejauh ini, obligasi pemerintah selalu dijadikan acuan untuk menerbitkan obligasi oleh korporasi. Apabila obligasi pemerintah masih terus memberikan kupon yang tinggi, maka sangat tidak mungkin obligasi korporasi memberikan kupon yang lebih rendah.

Jika mau laku, maka obligasi korporasi harus lebih tinggi dari kupon yang diberikan oleh obligasi milik pemerintah. Hal tersebut dengan sangat jelas menggambarkan bahwa kondisi ekonomi kita tidak sepenuhnya mendukung kegiatan yang pro sektor riil.
Nah, bagaimana dengan wajah perekonomian kita yang tercermin dari pergerakan IHSG.

Kalau boleh jujur, kita patut berbangga karena IHSG mencatatkan rekor kenaikan dan masuk dalam salah satu yang terbaik di ASIA. Kenaikan tersebut seolah-olah menepis bahwa kita bisa melewati kondisi krisis global yang bermula dari Amerika Serikat. Saat ini, IHSG kian perkasa. Penguatannya menunjukan arah tren yang terus bergerak keatas. Bahkan ada yang memprediksikan IHSG akan mampu mendekati level 2.800 pada tahun ini.

Terlepas dari faktor kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia yang masih banyak diniliai belum sepenuhnya berkinerja baik. Namun, jangan lupa, kenaikan IHSG dipengaruhi oleh banyak factor, dimana salah satunya adalah politik. Atau lebih dekat kalau kita katakan ada proses demokrasi yang akan memberikan dampak signifikan bagi kinerja IHSG kedepan.

Pelaku pasar bukanlah sistem yang mirip dengan mesin. Pasar memiliki keinginan untuk menciptakan sebuah sistem investasi yang sesuai dengan keinginan pelaku pasar. Proses demokrasi yang berjalan dengan lancar, merupakan sebuah keinginan dari pelaku pasar agar mereka (pelaku pasar) ingin proses demokrasi berujung pada suasana investasi yang kondusif.

India pernah melakukan pesta demokrasi seperti di Indonesia. Proses demokrasi tersebut bukan hanya menciptakan pemimpin yang sesuai dengan hasil pemilihan. Namun, kondisi bursa di India langsung mencatatkan rekor tertinggi. Hal tersebut juga bisa saja terjadi di Indonesia. IHSG masih berpeluang untuk tetap melanjutkan tren kenaikan apabila proses demokrasi pemilihan presiden berjalan sesuai dengan keinginan pasar.

Kalau memang naik seperti yang dinginkan pelaku pasar. Maka, sudah sangat tidak relevan lagi kalau kita mengatakan bahwa kenaikan IHSG semata-mata hanya karena kinerja emiten yang sangat baik. Maupun dikarenakan data-data ekonomi yang kian gemilang. Akan tetapi kita juga bisa mengatakan bahwa ini adalah bonus yang dihasilkan dari aspirasi masyarakat.

Friday, January 22, 2010

Menari Diatas Luka

Medan Bisnis, 27 Juli 2009
Bom kembali mengguncang Indonesia. Kejadian pada jumat pagi (17 Juli) tersebut mengingatkan kita pada kejadian serupa yang pernah terjadi sebelumnya. Indonesia masih menjadi tempat sasaran teroris dalam melakukan aksinya. Sungguh menyedihkan, dampak dari ancaman teroris selalu menimbulkan kerugian yang sangat besar. Bukan hanya materi atau nyawa. Namun, perekonomian suatu Negara bisa saja terhenti dan berdampak pada permasalahan sosial yang lebih luas.

Indeks harga saham gabungan maupun Rupiah merupakan sebuah indikator ekonomi utama yang langsung bereaksi terkait ledakan di hotel J.W. Mariot dan Ritz Carlton. Pada hari jum’at, 2 minggu lalu IHSG sempat melemah hingga 2.56% sebelum akhirnya ditutup melemah 0.5%. Teror tersebut sempat membuat para pelaku pasar shock, meskipun tidak berlangsung lama.

Teror Bom merupakan sentimen negatif dan sangat efektif mengguncang pasar modal dan keuangan. Apabila teroris berhasil melakukan aksinya, maka pelaku pasar (dalam beberapa waktu tertentu) akan melupakan metode analisis baik fundamental maupun teknikal yang lazimnya digunakan sebelum menentukan investasinya.

Yang ada hanya kepanikan yang terkadang diiringi dengan melepas portofolio. Kondisi tersebut dapat saja dimanfaatkan oleh pelaku pasar lainnya, yang menilai kondisi seperti ini merupakan kesempatan untuk mengumpulkan portofolio. Nah tipe pelaku pasar yang terakhir ini yang menerima keuntungan besar karena pasar telah berubah arah pada saat ini.

Setelah kejadian Bom tersebut memang Rupiah dan IHSG sempat turun/melemah. Namun kondisi tersebut hanya berlangsung satu hari saja. Karena, pasar kembali bergairah memasuki hari pertama perdagangan minggu selanjutnya. Rupanya Bom tersebut tidak membuat investor jera untuk terus mengkembangbiakan uang mereka di Indonesia.

Sejauh ini IHSG telah menunjukan peforma bagus dengan menyentuh level tertinggi baru (2.185) sejak IHSG terjun bebas pada bulan oktober tahun 2008 silam. Dan Rupiah juga kembai perkasa dengan menekan US Dolar hingga di bawah Rp.10.000,-/US Dolar atau tepatnya di harga Rp. 9.995,-/US Dolar. Menakjubkan, Indikator ekonomi Indonesia saat ini benar-benar telah menunjukan perubahan positif yang cukup fantastis.

Membaiknya ekspektasi perekonomian AS, tekanan laju inflasi Negara kita yang relatif rendah, serta laju pertumbuhan yang masih dibukukan oleh pemerintah RI, menjadikan Indonesia tetap menjadi lahan investasi. Negara lain yang disebut-sebut sebagai Negara yang direkomendasikan adalah BRIC (Brazil, Rusia, India dan China). Bahkan sebutan BRIC tersebut sudah berubah menjadi BRICI (Brazil, Rusia, India, China dan Indonesia).

Dimasukannya Indonesia sebagai tempat tujuan investasi akan berdampak pada ekspektasi yang lebih baik terhadap ekonomi Indonesia kedepan. Kalau tanpa ada aral melintang, maka Indonesia berpeluang untuk meningkatkan laju pertumbuhan yang menurut presiden terpilih sebesar 7%. IHSG dan Rupiah berpeluang untuk menguat lagi, dan IHSG memiliki peluang untuk kembali ke level tertinggi seperti tahun 2008 silam.

Terkait dengan aksi terorisme, merupakan variabel negatif yang sulit untuk diperkirakan kapan akan terjadi. Sehingga dampak negatif yang ditimbulkan sangat bergantung pada kinerja pemerintah dalam menanggulangi terorisme maupun sikap/habit pelaku pasar itu sendiri dalam menyikapi aksi terorisme yang terjadi.

Belajar dari pengalamn sebelumnya, aksi teror yang terjadi di Indonesia tidak memberikan dampak kelesuan pasar yang berkepanjangan. Kejadian teror setidaknya turut mengedukasi para pemodal/investor dalam menyikapinya. Dengan harapan kedepan aksi terorisme tidak memberikan dampak apapun terhadap kinerja perekonomian kita, meskipun sepertinya agak sulit tapi bukan tidak mungkin.

Pentingkah Mazhab Ekonomi ?

Medan Bisnis, 6 Juli 2009
Pada hari jum’at minggu kemarin, Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 bps (basis poin). Keputusan tersebut mampu mengangkat indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menguat kendati dipengaruhi oleh sentimen negatif dari Dow Jones yang masih terpuruk. Namun, keputusan BI itu justru membuat Rupiah terkulai tak berdaya.

Sementara itu, nilai tukar dolar AS juga cenderung mengalami penurunan terhadap mata uang utama dunia khususnya Euro. Dolar yang pada sesi pembukaan sempat menguat cukup tajam kembali bergerak melemah. Hal tersebut diyakini sebagai akibat dari aksi profit taking para pemain di pasar valuta asing.

Pada minggu ini mata uang negeri paman sam US Dolar masih menunjukan penurunan mingguan terhadap euro. Permasalahannya adalah, naiknya tingkat pengangguran yang tinggi di AS, yaitu 9.5% mengakibatkan para investor kembali mengkhawatirkan resesi yang dirasa makin dalam. Kondisi ini mengakibatkan para investor enggan memegang US Dolar.

Selama perdagangan minggu kemarin, baik pasar saham dan valas belum terbebas dari sentimen negatif pasar. Mulai dari merebaknya flu babi yang saat ini ternyata sudah mulai menjangkiti kota medan, potret buram data pengangguran di AS yang tak kunjung selesai, hingga antisipasi pasar terhadap pilpres. IHSG dan Rupiah pun dibuat mondar-mandir tanpa arah karenanya.

Hal tersebut menunjukan betapa pelaku pasar atau investor masih kebingungan dalam menentukan arah. Para investor masih ketakutan apabila nantinya pemilihan presiden justru memenangkan presiden yang dinilai tidak pro pasar dalam kebijakan ekonominya. Oleh karena itu, banyak investor yang menunda rencana investasinya di Indonesia setelah Pilpres selesai nantinya.

Saat ini pengaruh eksternal yang negatif kian membuat kinerja pasar keuangan domestik tidak berdaya. Selain dikarenakan minimnya sentimen dari dalam, Investor juga masih menunggu arah pemimpin masa depan Indonesia selama 5 tahun mendatang. Sentimen penurunan BI rate pun dinilai tidak mampu menandingi isu poling sms Capres yang digelar oleh beberapa stasiun TV. Gambaran siapa yang akan menang dalam pilpres sesuai polling tersebut seolah-olah dijadikan patokan pada siapa yang berhak menjadi pemimpin bangsa ini kedepan.

Liberalisasi pasar yang memberikan seluruhnya pada mekanisme pasar memang sangat merugikan bagi negara yang tidak memiliki modal yang kuat dalam menahan guncangan di pasar keuangan. Beberapa contoh yang dapat kita lihat adalah ketika dana asing mulai berlarian keluar yang menyebabkan IHSG terkoreksi dan Rupiah melemah.

Liberalisasi di sektor keuangan tersebut sejauh ini memang menjadikan kondisi pasar kita tidak bisa terlepas dari pengaruh negatif negara lain khususnya Amerika Serikat. Sistem yang sudah terintegrasi dengan kondisi diluar tersebut menjadikan arah pergerakan pasar kita selalu berkiblat ke negara-negara yang dinilai memiliki modal/kapital yang lebih mumpuni.

Misalkan saja data-data ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah AS, seperti Inflasi, penjualan perumahan dan kendaraan, data ketenaga kerjaan selalu menjadi tolak ukur dalam menentukan kemana arah IHSG dan Rupiah nantinya. Namun, bagaimana dengan data perekonomian yang dirilis oleh departemen terkait di Indonesia. Sejauh ini, hanya data inflasi yang dikeluarkan BPS yang bisa mempengaruhi arah pergerakan pasar.

Sementara itu, apa yang akan terjadi apabila data penjualan sepeda motor di Indonesia naik tajam. Sebagai seorang analis tentunya data tersebut tidak akan berpengaruh banyak. Jadi jangan coba berharap bahwa data tersebut akan mampu merubah arah pandang para pelaku pasar di seantero bumi ini. Yang ada kemungkinan hanya kenaikan harga saham lokal seperti misalkan ASII (Astra International), karena pasti volume penjualan kendaraan di perusahaan tersebut naik dan ada ekspektasi kenaikan laba.

Itulah wajah pasar kita, meski demikian bukan berarti bahwa negara kita terus akan menjadi bangsa yang tetap begini-begini saja tanpa ada perubahan yang berarti. Kemajuan bangsa ini bukan ditentukan oleh sebuah teori seperti perekonomian prorakyat, keynessian, penganut ekonomi liberal bahkan dikenal ekonomi jalan tengah seperti yang didengung-dengungkan akhir-akhir ini.

Namun, manfaat dari setiap mazhab yang dijalankan itu yang akan menentukan perubahan bagi bangsa ini. Apa gunanya ekonomi pro-rakyat namun dijalankan dengan banyak penyelewengan seperti korupsi dan sebagainya. Dan apa gunanya liberal apabila tidak ditujukan bagi kesejahteraan rakyat banyak. Anda yang menentukan tanggal 8 nanti.

IHSG Akan Melaju ke 2400

Medan Bisnis, 29 Juni 2009
Di bulan juli nanti IHSG memiliki momentum yang kuat untuk melanjutkan tren penguatan hingga ke level 2.400. Penguatan tersebut dipicu oleh pemilihan presiden yang menurut banyak survey SBY menjadi pemenangnya. Meskipun beberapa lembaga survey memberikan hasil polling yang dapat dikatakan bias. Namun, lebih banyak lembaga survey yang memberikan hasil polling bahwa SBY akan terpilih kembali menjadi presiden.

IHSG pada penutupan jumat kemarin ditutup turun, sekaligus menjadi indeks bursa yang bergerak berlawanan dibandingkan dengan indeks bursa asia lainnya. Aksi profit taking menjadi pemicu utama yang membuat IHSG ke teritori negatif. Indeks melemah 3.97 poin atau 0.19% di level 2.040 dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya.

Namun, pelemahan IHSG tersbut bukan menjadi pertanda bahwa IHSG akan terus melemah dalam jangka panjang. Elektibiltas SBY dalam pemilihan presiden mendatang menjadi kunci utama bahwa IHSG masih memiliki kesempatan untuk menguat secara signifikan. Maklum pelaku pasar masih menginginkan SBY kembali terpilih dan tentunya pemilihan presiden yang berjalan lancar dan aman.

Selain pemilihan presiden, pengaruh internal dari penguatan IHSG juga didukung oleh tren penurunan BI rate dan penguatan nilai tukar rupiah. BI rate menurut beberapa pengamat masih berpotensi untuk terus diturunkan. Mengingat tekanan laju inflasi yang terus melemah. Meskipun tetap dibayangi oleh tren kenaikan harga minyak. Meski demikian tren kenaikan harga minyak diperkirakan akan mulai terjadi menjelang akhir tahun ini hingga tahun depan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah masih melanjukan tren penguatan terhadap US Dolar. Kautnya aliran dana yang masuk ke protofolio lokal membuat Rupiah kian perkasa. Diperkirakan Rupiah mampu diperdagangkan hingga dibawah 10.000/US$ menjelang akhir tahun ini. Penguatan Rupiah didukung oleh tren pelemahan nilai tukar US Dolar itu sendiri setelah Bank Sentral AS The FED tidak menaikan bunga acuannya.

Dari sisi eksternal, indeks bursa Dow Jones yang menjadi motor penggerak utama pergerakan bursa global, masih diperdagangkan mixed pada minggu kemarin, dengan kecenderungan melemah. Perkembangan ekonomi AS yang terus dibayangi oleh proses pemulihan/recovery yang melambat menjadi isu utama kian terpuruknya kinerja bursa Dow Jones. Meski demikian indeks Nasdag AS masih menunjukan keperkasaannya.

Namun, dalam beberapa hari kedepan, Indeks bursa Dow Jones diperkirakan akan berbalik menguat menyusul perkiraan bahwa laju pengangguran masih akan meningkat, namun laju peningkatannya tidak seburuk dari bulan sebelumnya setelah krisis. Selain itu pemerintah AS terus berusaha meningkatkan consumer spending AS yang menjadi tolak ukur terhadap daya beli masyarakat AS. Apabila program tersebut berjalan sesuai dengan rencana, maka proses pemulihan ekonomi AS atau recovery akan terjadi dalam beberapa bulan kedepan.

Dengan memanfaatkan proses pendewasaaan demokrasi di Indonesia, tentunya kian banyak manfaat yang dapat diraih. Demokrasi yang dalam beberapa tahun terakhir kian berkembang di Indonesia akan menjadi tolak ukur bagi investor lokal maupun asing dalam berinvestasi di Indonesia.

Proses demokrasi yang berjalan dengan baik, biasanya tercermin oleh kelancaran hajatan besar demokrasi tersebut seperti Pemilihan Legislatif maupun Eksekutif. India juga menikmati proses Pemilu yang lancar dengan kenaikan bursa mereka (Sensex) yang fantastis. Pada pileg (pemilihan legislatif) kemarin kita telah melihat bahwa IHSG menanjak dengan sangat tajam. Dan kita juga akan melihat IHSG kembali perkasa setelah 8 July nanti, apabila kita turut berpartisipasi secara arip.

Menanggapi Sentimen Ekonomi

Medan Bisnis, 8 Juni 2009
Pada perdagangan kemarin Indeks Bursa Dow Jones ditutup menguat tipis 0.15% di level 8.763 atau naik 12.89 Poin, meskipun selama sesi perdagangan jum’at kemarin sempat menyentuh level tertingginya di atas kisaran level 8.825. Ada beberapa hal yang menarik sehingga Dow Jones sempat menyentuh level atas 8.825. Yakni pengumuman mengenai data Non Farm Payroll dimana selama bulan Mei tercatat sekitar 345 Ribu orang kehilangan pekerjaannya.

Data tersebut lazimnya bukan merupakan berita bagus bagi sebuah perekonomian Negara adidaya. Yang dinantikan justru adanya penyerapan tenaga kerja baru sehingga menggambarkan perubahan ekonomi yang lebih baik lagi. Namun kenapa pasar justru merespon positif berita tersebut. Tak lain adalah bahwa data jobless claim (klaim pengangguran) AS tersebut ternyata masih lebih kecil apabila dibandingkan dengan ekspektasi pelaku pasar sebelumnya.

Maklumlah, pasar selalu lebih cepat bereaksi serta memberikan gambaran akan apa yang terjadi di masa yang akan datang. Misal, investor di pasar keuangan/saham tidak perlu menunggu hingga dikeluarkannya keputusan mengenai besaran Inflasi oleh BPS (Biro Pusat Statistik), karena ada institusi lain yang bisa memprediksikan besaran inflasi sebelum data sebenarnya di rilis.

Mirip dengan data yang dikeluarkan oleh lembaga survey dalam menghitung hasil pemilihan legislatif kemarin, atau lebih dikenal dengan istilah quick count. Data yang dikeluarkan oleh suatu lembaga survey biasanya sudah dapat digunakan sebagai asumsi dalam menentukan partai mana yang menang. Dan biasanya data tersebut tidak jauh berbeda dengan penghitungan sebenarnya yang dilakukan oleh lembaga resmi misal KPU.

Begitu juga yang terjadi di Amerika. Besaran pengangguran yang terjadi selama krisis berlangsung biasanya akan ada di angka 500.000 pengangguran baru setiap bulannya. Sehingga data yang keluar kemarin sekitar 315.000 pengangguran di bulan mei diasumsikan sebagai perubahan ekonomi ke arah yang lebih baik meskipun bukan gambaran bahwa perekonomian mulai pulih secara keseluruhan.

Data-data ekonomi lainnya yang sering digunakan sebagai acuan dalam berinvestasi adalah Laju Inflasi, Pejualan Perumahan, Consumer Spending, GDP (Produk Domestik Bruto), Penjualan Mobil, Current Balace, The FED Fund Rate, maupun nilai tukar US$. Di Indonesia, data-data perekonomian tersebut tidak semuanya digunakan dalam menterjemahkan keinginan pasar. Data ekonomi yang paling banyak digunakan investor untuk berinvestasi di Indonesia biasanya data Inflasi, Nilai Tukar Rupiah, GDP dan suku bunga (BI Rate).

Nah umumnya data perekonomian yang direalisasikan baik, biasanya akan mendapat respon positif dari para pelaku pasar. Yang paling mudah dilihat adalah tren kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan tren penguatan nilai tukar Rupiah. Kenaikan pada IHSG dan Rupiah merefleksikan gambaran langsung wajah dari perekonomian kita secara keseluruhan. Meskipun pada dasarnya fundamental perekomian kita saat ini jauh lebih baik dibandingkan wajahnya sendiri.

Dalam menyikapi sentimen yang muncul, Investor dipasar saham maupun di pasar keuangan biasanya sudah melakukan aksi yang lebih cepat sebelum data ekonomi/sentimen tersebut dirilis atau dipublikasikan. Sehingga, pasar umunya tidak banyak berubah ketika data tersebut dikeluarkan.

Semua kembali kepada setiap orang dalam meresponnya. Pengusaha tentunya akan melihat perubahan data-data ekonomi dan pengaruhnya dalam jangka panjang sebelum membuat keputusan bisnis. Ibu rumah tangga biasanya akan langsung merespon kenaikan harga BBM yang baru saja dipublikasikan pemerintah untuk mengatur pengeluaran rumah tangganya. Sementara, investor saham dan pasar uang jauh lebih cepat bereaksi dan lebih banyak berspekulasi sebelum data ekonomi dipublikasikan.

Keperkasaan Harga Minyak Terhadap Saham dan APBN

Medan Bisnis, 1 Juni 2009
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menyatakan bahwa keberhasilannya dalam menurunkan harga BBM dalam negeri beberapa waktu lalu. Keberhasilan tersebut dinilai sebagai usaha pemerintah dalam menstabilkan harga BBM setelah sempat naik rata-rata diatas 30% tersebut.

Kenaikan BBM tentu sebelumnya sudah diperkirakan. Mengingat Negara ini merupakan Negara yang juga mengimpor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri. Pada saat SBY menaikkan harga minyak, pertimbangan yang menjadi landasan utama adalah karena ada kenaikan harga Minyak Mentah Dunia di level $147/barel.

Akan tetapi, tren kenaikan harga minyak tersebut ternyata tidak berlanjut. Krisis ekonomi yang melanda hampir di semua Negara membuat konsumsi minyak turun dan membuat harga minyak mentah turut turun pula. Kondisi naik turun pada komoditas minyak tersebut dimanfaatkan pemerintah untuyk menyesuaikan harga BBM dalam negeri.

Salah satu tujuannnya adalah agar defisit APBN dapat dikendalikan. Sehingga kalau balik ditanya apakah pemerintah benar-benar berhasil dalam menstabilkan harga minyak?. Tentu jawaban yang tepat adalah keberhasilan pemerintah juga ditopang faktor keberuntungan oleh adanya penurunan konsumsi minyak dunia terkait dengan kondisi ekonomi global yang terkena resesi.

Nah, disaat harga minyak turun dan berada dikisaran $35/barel, tentunya APBN tidak lagi mengalami defisit yang besar, karena penurunan harga minyak yang lebih dari 70%, hanya diikuti penurunan harga BBM yang sekitar 30% lebih. Kemungkinan selanjutnya adalah apabila harga minyak mentah dunia kembali naik ke level $100/Barel, maka APBN diperkirakan masih relatif aman.

Terkait dengan naik turunnya BBM, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga akan merespon kenaikan harga minyak dengan tren naik pula. Namun, besarnya kenaikan IHSG tidak selalu mengikuti pola kenaikan harga minyak mentah dunia. Selain dikarenakan harga minyak dunia mengangkat harga saham di sektor pertambangan dan energi, selain itu, kenaikan harga minyak juga mengindikasikan bahwa ekonomi sudah mulai berputar.

Harapan akan ekonomi global yang lebih baik dimasa yang akan datang biasanya dapat dilihat dari tren perubahan harga minyak yang naik. Meski demkian, kenaikan harga minyak juga menyisahkan masalah terhadap kenaikan laju inflasi. Sehingga nantinya berujung pada kebijakan uang ketat (suku bunga tinggi) atau tight money policy.

Disaat ini, pada saat ekonomi global telah menunjukan adanya pemulihan. Harga minyak kembali naik di atas harga $60/barel. Kenaikan tersebut telah membuat IHSG terdorong keatas mendekati level 2.000. dan kemungkinan akan melejit dan terus membentuk sebuah tren kenaikan yang konstan atau tetap. Diuntungkan memang, namun secara politis kenaikan BBM bisa menjadi boomerang terhadap kondisi politik nasional.

Keniakan BBM dapat menjadi isu penting bagi kandidat capres yang sedang mencalonkan dirinya saat ini. Kenaikan harga minyak mentah dunia akan membawa pemerintah yang berkuasa nantinya berada pada pilihan sulit. Seperti akankah menaikan harga BBM untuk mengimbangi harga minyak dunia yang terus naik?.

Akan tetapi, kenaikan harga minyak dunia sepertinya tidak akan menyebabkan kenaikan harga BBM dalam negeri dalam waktu dekat ini. Karena pemerintah yang sedang berkuasa (SBY) tentunya tidak akan menaikan BBM, daripada harus kehilangan kesempatan untuk terpilih kembali menjadi presiden.

Untuk itu, dalam waktu dekat (sebelum Pilpres) tren kenaikan harga saham akan tetap menunjukan performa yang bagus. Namun, ada kemungkinan jatuh dan terpuruk tatkala SBY nantinya tidak terpilih menjadi presiden. Karena pelaku pasar masih mengharapkan SBY tetap menjabat sebagai presiden. Namun belum diketahui apakah kemauan pasar tersebut juga merepresentasikan keinginan dari msyarakat Indonesia pada umumnya.

Pasar Keuangan Indonesia Sulit Bangkit

Medan Bisnis, 25 Maei 2009
Pada perdagangan akhir minggu kemarin, IHSG ditutup melemah tipis seiring dengan melemahnya indeks birsa regional. Demikian halnya juga dengan nilai tukar rupiah yang turut melemah terhadap US Dolar. Meski demikian bukan berarti US Dolar juga melemah terhadap mata uang dunia lainnya, akan tetapi melemahnya US Dolar terhadap mata uang dunia tidak diikuti oleh penguatan nilai tukar Rupiah.

Pelemahan US Dolar tersebut juga dibarengi dengan penguatan harga emas yang mencatatkan nilai tertinggi dalam 2 bulan teraakhir. Hal yang menyebabkan harga emas naik selain pelemahan US Dolar adalah kenaikan pada harga energi seperti harga minyak dunia. Bahkan ada analis yang memperkirakan apabila US Dolar berlanjut melemah maka harga emas yang saat ini berada di level $958/Ounce diperkirakan akan mencapai level $1.300/Ounce hingga akhir juli nanti.

Penguatan harga energi dan komoditas emas tersebut akan memberikan angin segar terhadap perdagangan saham yang menjadikan minyak dan komoditas menjadi bisnis inti perusahaan tersebut. Meskipun tidak 100% benar namun, penguatan harga energi terutama minyak dunia akan menjadi sentiment bagi kinerja saham yang lebih baik lagi.

Sementara itu, yang menjadi sentiment negatif perdagangan pasar keuangan Indonesia minggu kemarin adalah melemahnya nilai tukar Rupiah serta belum terciptanya kestabilan politik terkait dengan rencana perhelatan besar seperti pemilihan presiden dalam waktu dekat ini. Tekanan pada nilai tukar Rupiah datang dari permintaan rutin US Dolar menjelang akhir bulan.

Namun kedepan, Rupiah diperkirakan masih akan melanjutkan tren penguatan terhadap US Dolar. Hal tersebut dikarenakan US Dolar yang akan kehilangan rating credit dari level AAA. Kondisi semakin memburuknya perekonomian AS membuat US Dolar kian terpuruk dan menjadi bayang-bayang hitam bagi kinerja bursa kedepan.

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia diperkirakan akan terimbas dengan knierja US Dolar yang kian memburuk. Dikarenakan kinerja IHSG yang juga dipengaruhi oleh kinerja indeks bursa di global seperti Dow Jones. US Dolar yang melemah akan memberikan tekanan terhadap Indeks Bursa Dow Jones dan terus akan menjadi sentiment negatif bagi perdagangan bursa dunia lainnya.

Kekhawatiran yang lain muncul tatkala stimulus yang dicanangkan pemerintah AS kemungkinan tidak akan semulus seperti yang diharapkan. Rencana program stimulus yang dikhawatirkan tidak berhasil tersebut memberikan kekhawatiran bagi para pelaku pasar. Rencana stimulus untuk mengelontorkan sejumlah dana masih terfokus dan belum menemui titik terang pada bagimana program bailout perbankan AS nantinya.

Banyaknya sentiment yang tidak dengan pro-pasar tersebut akan terus membayangi perdangan di lantai bursa maupun perdagangan nilai tukar Rupiah. Ada banyak kemungkinan pahit yang akan terjadi kedepan meskipun fundamental ekonomi Indonesia diperkirakan masih cukup solid.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang saat ini mendekati Level 2.000 juga akan mengalami kendala untuk melanjutkan tren bullish dan menembus level 2.000. Meskipun banyak analis yang percaya bahwa IHSG sudah seharusnya berada di level 2.800. Pergerakan IHSG yang banyak dipengaruhi banyak faktor tersebut tidak mungkin hanya mengandalkan fundamental ekonomi Indonesia untuk dijadikan satu-satunya alasan kenapa IHSG harus menguat.

Demikian halnya dengan Rupiah. Masih banyaknya pengusaha yang berutang dalam US Dolar membuat Rupiah juga sulit untuk terus menguat. Karena penguatan Rupiah selalu berujung pada tekanan disetiap akhir bulan. Karena hampir semua hutang jatuh tempo dalam US Dolar ada di akhir bulan.

Tidak Ada Kenaikan Yang Abadi

Medan Bisnis,
Akhir minggu kemarin, pada sesi ertama IHSG baik 2%, namun seperti hari jum’at pada umumnya, dimana IHSG sering ditutup melemah. Di Hari jm’at minggu lalu IHSG terpaksa ditutup turun tajam. IHSG mengakhiri pekan kemarin dengan anjlok sebesar -1,91% ke level 1750,91. Demikian halnya juga dengan indeks sektor unggulan atau LQ45 juga turun sebesar -1,27% di level 340,977.

Penurunan tersebut mengkahiri rally kenaikan IHSG sebelumnya dimana sempat naik signifikan. Jum’at kemarin IHSG ditutup anomaly dengan indeks bursa regional maupun global yang pada umumnya ditutup menguat. Anomali tersebut diyakini akibat aksi profit taking pelaku pasar. Dimana saham group bakrie dan saham di sektor pertambangan yang mengalami penurunan paling besar.

Beberapa saham yang turun antara lain Bumi Resources (BUMI) turun 8,21% ke Rp 1790, Energi Mega (ENRG) turun 24,74% ke Rp 365, Bukit Asam (PTBA) turun 2,53% ke Rp 9650, dan ANTM turun 3,98% ke Rp 1690. Diantara penurunan tersebut tetap ada saham yang masih mempertahankan harganya yakni Astra Agro (AALI) naik 5,33% ke Rp 17800, GGRM naik 3,77% ke Rp 8250, BMRI naik 1,92% ke Rp 2650, dan BBNI naik 2,07% ke Rp 1480.

Rally panjang IHSG pada hari-hari sebelumnya ternyata memberikan koreksi yang tajam. Keputusan politis yang dinanti pelaku pasar juga memberikan kekhawatiran tersendiri. Selain karena manuver politik yang tajam, keputusan koalisi serta statemen yang premature membuat informasi berubah dalam rentan waktu yang cukup singkat. Ditengah ketidakpastian tersebut pasar sepertinya lebih memilih wait and see ketimbang membuat posisi baru.

Pada perdagangan jum’at kemarin IHSG semestinya mampu menguat lebih jauh lagi. Namun, kenaikan Indeks Bursa Dow Jones yang ditutup menguat tipis 0.6% tidak membakar semangat para pelaku pasar untuk tetap mengoleksi portfolio/saham. Kalaupun ada sentimen lainnya maka pasar sepertinya akan menunggu hingga peta pemilihan presiden tergambar dengan cukup jelas sehingga akan menjadi sentimen positif dan direspon oleh pasar.

Ada 3 pasawangan Capres dan Cawapres yang akan bersaing dalam pemilihan presiden mendatang. Keputusan SBY yang merangkul Boediono sebenarnya menunjukan bahwa besar kemungkinan kebijakan yang dibuat nantinya sangat mendukung kinerja perekonomian dan direspon positif oleh pasar, apabila dibandingkan dengan calon lainnya. Namun, itupun kalau nantinya mereka terpilih.

Nah, menjelang pemilihan presiden selain terfokus pada permasalahan politik, IHSG masih akan tetap menjadikan indeks bursa regional seperti Hang Seng (Hongkong) dan Nikkei (Jepang) menjadi acuan. Selain itu, Indeks bursa Dow Jones masih akan tetap menjadi lokomotif pada pergerakan indeks bursa ke depan. Sehingga, sembari menunggu siapa yang akan menang dalam Pilpres nantinya, ada baiknya kita melihat indeks bursa diluar untuk dijadikan patokan dalam mengambil keputusan.

Fluktuasi pada perdagangan saham dilantai bursa nantinya akan sangat volatile. Volatilitas tersebut dipicu oleh ketidakpastian arah perubahan ekonomi nantinya serta kenaikan IHSG yang saat ini sangat rawan dengan aksi profit taking. Rally pada IHSG selanjutnya masih menunggu kepastian siapa yang menang dalam Pilpres. Meski demikian, proses pemilihan presiden yang berjalan lancar nantinya akan menjadi pendongkrak bagi kenaikan IHSG.

Untuk menghindari kerugian akibat ketidakpastian tersebut maka ada baiknya melakukan transaksi yang jangka pendek, atau melakukan investasi dalam jangka panjang sekaligus. Keberanian dalam melakukan take profit maupun cut loss menjadi kunci utama keberhasilan ditengah kondisi seperti sekarang ini. Dan itu semua kembali kepada keberanian setiap individu.

Musim Banjir Sentimen Pasar

Medan Bisnis, 11 Mei 2009
Setelah sempat ditutup melemah pada perdagangan kamis minggu kemarin, Indeks Bursa Dow Jones kembali menguat secara signifikan setelah Laporan Stress Test yang dilakukan oleh perbankan AS. Dimana sektor finansial memimpin penguatan bursa, hasil sari stress test yang dilakukan pemerintah AS ternyata lebih baik dari ekspektasi sebelumnya.

Sekitar 10 dari 19 bank dinyatakan perlu meningkatkan permodalannya sejumlah total $74.6 miliar, dan sejumlah bank lainnya tidak perlu meningkatkan modal. Selain dikarenakan hasil stress test, penguatan Dow Jones juga dipicu oleh dirilisnya data ketenaga kerjaan AS atau Non Farm Payroll (NFP), yang menunjukan bahwa pada bulan April terdapat 539,000 pemangkasan pekerja, yang jauh lebih kecil dari perkiraan, dan terendah sejak Oktober. Meski demikian angka tersebut belum mampu mengurangi jumlah pengangguran di AS.

Kenaikan Indeks Dow Jones tersebut diyakini akan menjadi pemicu bagi indeks bursa lainnya untuk melanjutkan tren penguatan termasuk Bursa Efek Indonesia (IDX). Secara historis kenaikan indeks bursa Dow Jones lebih banyak direspon positif oleh para pelaku pasar. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa indeks bursa Dow Jones menjadi lokomotif bagi pergerakan indeks bursa Negara lainnya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini diperkirakan juga akan mengalami penguatan signifikan, dan sangat mungkin mendekati level 1.900 atau bahkan langsung menembus level tersebut. Meskipun secara teknikal IHSG sangat rentan dengan aksi profit taking karena dinilai sudah naik tinggi. Namun, kondisi tersebut tidak akan membuat IHSG pada hari ini menghentikan tren penguatannya.

Beberapa sentimen hal yang mendukung bagi penguatan IHSG adalah pertama, hasil stress test perbankan Amerika yang dinilai masih cukup solid. Hasil tersebut telah mengangkat sejumlah harga saham sektor perbankan, dan diperkirakan akan membuat harga saham perbankan Indonesia terangkat. Kedua, penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia pada dasarnya akan menambah tenaga bagi kinerja saham. Dan ketiga, rencana PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) yang diisukan berkoalisi dengan Partai Demokrat juga akan menambah IHSG makin perkasa.

Meski demikian, penguatan IHSG yang signifikan bukan tanpa resiko. Secara teknikal IHSG selalu berada dalam kondisi yang sepatutnya sudah harus turun kembali. Selain itu, porsi kepemilikan asing di saham yang belum signifikan, serta rencana pemerintah yang masih memiliki hajatan besar (Pemilihan Presiden) berpotensi menjadi penghalang bagi tren kenaikan IHSG.

Selain data yang sedang hangat diperbincangkan. Penguatan IHSG masih terbuka lebar apabila Pemilihan Presiden nanti berjalan lancar. Seperti pada pemilihan legislative sebelumnya, dimana paska pileg IHSG menguat signifikan meskipun kembali terkoreksi setelah adanya pecah kkongis antara SBY dan JK.

Penurunan BI rate, kenaikan harga energi (minyak dunia) serta komoditas seperti CPO akan membuat saham di semua sektor industri berpeluang naik. Saham perbankan akan menjadi pemimpin baghi penguatan indeks pada hari ini diikuti dengan penguatan saham disektor energi dan komoditas.

Dalam 1 atau 2 minggu kedepan IHSG diperkirakan akan mencoba menembus level 2.000. Pada level tersebut pemerintah berkeyakinan bahwa pasar sudah kembali dalam batas normal. Sehingga sudah saatnya untuk melakukan hajatan seperti penerbitan saham perdana atau IPO (Initial Public Offering). Dimana beberapa saham BUMN akan dilepas ke pasar.

Deflasi, Mata Uang dan IHSG

Medan Bisnis, 4 Mei 2009
Dalam ilmu ekonomi, Deflasi merupakan suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan mengakibatkan nilai tukar atau uang bertambah.Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar.

Di bulan April kemarin telah terjadi deflasi sebesar 0.31%. Besarnya deflasi yang diumumkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tanggal 1 Mei kemarin telah mengangkat nilai tukar Rupiah dan membuat IHSG ditutup keteritori positif. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ruang penurunan suku bunga (BI rate) terbuka lebar.

Menurut pemerintah, terjadinya deflasi dikarenakan turunnya sektor konsumer terkait turunnya permintaan bahan makanan selama dua bulan berturut-turut. Selain itu, penguatan nilai tukar Rupiah juga diyakini menjadi pemicu terjadinya deflasi. Semoga saja hal yang dikemukan tersebut benar adanya. Asalkan jangan sampai deflasi terjadi karena telah terjadi penurunan daya beli masyarakat sehingga dikuti oleh penurunan harga barang.

Sejauh ini, pengumuman deflasi oleh pemerintah telah membawa pasar keuangan kita berkinerja baik. Lihat saja nilai tukar Rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diperdagangkan menguat pada perdagangan minggu kemarin. Penguatan tersebut diyakini sebagai sinyal bahwa akan ada penurunan BI rate yang nantinya akan membuat wajah ekonomi Indonesia lebih baik lagi, khususnya sektor riil.

Lain lading lain belalang, meskipun terjadi deflasi serupa antra Indonesia dan Jepang namun, pemerintah Jepang justru mendapatkan hal yang sebaliknya. Menanggapi rilis data ekonomi ini nilai tukar yen mengalami pergerakan melemah dan telah mencapai level terendahnya dalam dua minggu belakangan terhadap dolar AS.

Pada bulan Maret lalu indeks harga konsumen di Jepang mengalami kontraksi. Kontraksi sebesar 0.1% ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak bulan September tahun 2007 lalu. Deflasi yang terjadi di Jepang ini merupakan sinyal bahwa resesi telah menimbulkan kemungkinan untuk menciptakan deflasi spiral.

Menanggapi rilis data ekonomi hari ini nilai tukar yen mengalami penurunan terhadap dolar dan euro. Terhadap dolar yen melemah ke level 98.94 per dolar dari penutupan dini hari tadi di posisi 98.55 per dolar. Sementara itu terhadap euro yen mengalami penurunan ke level 131.11 per euro dari penutupan 130.48 per euro. Baik terhadap dolar maupun euro yen mengalami penurunan ke level terendah sejak tanggal 16 dan 20 April.

Dalam minggu ini, sentiment deflasi masih akan mewarnai transaksi di lantai bursa maupun pada nilai tukar mata uang (valas). Dengan tetap menunjukan adanya tren kenaikan pada pergerakan keduanya, baik IHSG dan nilai tukar Rupiah. Akan tetapi kenaikan IHSg secara terus menerus dan menembus level 1.700 jangan membuat pelaku pasar terlena.

Kenaikan tersebut sebenarnya telah membawa kita ke resiko yang lebih besar lagi. Semakin tinggi naiknya, maka akan terasa sakit sekali kalau kita juga merasakan jatuhnya. Dengan tidak lupa bila sedang berada diatas, sebaiknya kita juga harus ingat bahwa kita tidak akan selamanya diatas. Dan untuk itu kita harus lebih waspada lagi.

Mengawali minggu ini, IHSG diperkirakan akan menguat seiring dengan membaiknya indikator ekonomi makro kita. Selain itu, IHSG juga akan kebagian “berkah” dari penguatan indeks bursa dow jones yang datang dari negeri paman sam.

Pemilu Dan IHSG

Medan Bisnis, 27 April 2009
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) paska PEMILU legislatif kemarin sempat menjadi motor bagi IHSG untuk menguat selama 6 hari berturut-turut. Penguatan tersebut sekaligus membuat IHSG menjadi salah satu indeks bursa regional yang paling banyak mencatatkan kenaikan dan memiliki kinerja terbaik.

Kenaikan indeks juga ditopang oleh kembali bergairahnya perdagangan beberapa saham yang telah keluar dari “pertapaan”, atau tidak aktif diperdagangkan dalam beberapa bulan sebelumnya. Misal untuk saham grup Bakrie seperti ENRG (Energi Mega Persada), BNBR (Bakrie and Brothers). Maupun saham lainnya seperti TRUB (Truba Manunggal).

Bahkan tak jarag, IHSG mengalami anomali, yakni menguat ditengah melemahnya indeks bursa regional lainnya. Penguatan IHSG yang cukup fantastis tersebut ternyata tidak bertahan lama. Setelah rencana koalisi antara Partai Demokrat dan Golkar terhenti. Harga saham berguguran, nilai tukar Rupiah juga melemah terhadap US Dolar.

Kondisi pasar yang diwarnai dengan panic selling terus membayangi perdagangan dalam sepekan terakhir. Alhasil, IHSG ditutup ke teritori negatif dengan fluktuasi pergerakan harga saham yang cukup tinggi dalam setiap sesi perdagangannya. Pecahnya koalisi SBY-JK membuat kepercayaan pasar menurun dan lebih memilih wait and see. Kondisi politik memerankan peran yang lebih dibandingkan dengan isu ekonomi selama sesi perdagangan minggu kemarin.

Arah pergerakan pasar masih menunggu keputusan SBY dalam menentukan siapa yang akan maju menjadi calon wakil presiden atau cawapres. Kalau kemarin pasar merasa nyaman apabila SBY-JK kembali maju dalam pemilihan presiden mendatang. Sehingga kebijakan sebelumnya dapat terus dilanjutkan.

Untuk saat ini, khususnya bagi pelaku pasar, Wakil Presiden yang diusung SBY harus mendapat persetujuan dari pasar. Kalau tidak maka IHSG maupun Rupiah sangat rentan untuk terkoreksi kembali. Karena, wakil presiden yang diusung dengan ideologi yang dinilai kurang pro-pasar akan memberikan efek negatif bagi pasar keuangan domestik.

Pecah kongsi PD-Golkar pada dasarnya telah membuat kabinet di pemerintahan menjadi tidak harmonis. Menurut hemat penulis, pecah kongsi tersebut nantinya akan merubah formasi kabinet, sehingga membuat kabinet yang sekarang kurang optimal dalam menjalankan fungsinya, meskipun para menteri tersebut telah memiliki sistemnya sendiri.

Meskipun menteri keuangan Sri Mulyani menyatakan sebaliknya, namun respon pasar terhadap IHSG yang berlawanan memberikan gambaran jelas atas pandangan pasar terhadap kondisi kabinet pada saat ini. Sehingga dalam waktu dekat IHSG akan terus berfluktuasi hingga ada kejelasan yang pasti akan siapa yang maju dalam pemilihan presiden mendatang, khususnya bagi pasangan SBY nantinya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan bagi pelaku pasar, ada baiknya mencermati beberapa saham untuk mengurangi resiko rugi yang diakibatkan oleh ketidakpastian politik. Beberapa saham yang sangat rentan dengan gejolak politik adalah saham Group Bakrie. Keberadaan Bakrie sebagai menteri di pemerintahan SBY kembali dipertanyakan setelah kongsi PD-Golkar pecah.

Untuk melakukan aksi terhadap saham tersebut, maka ada baiknya mnenggunakan analisa teknikal mengingat beberapa harga saham bakrie yang telah terkoreksi sekitar 50%. Sehingga keputusan yang diambil mengacu pada target maupun level support dan resistance dan hanya bersifat jangka pendek. Dan maksimalkan waktu untuk terus mengikuti perkembangan situasi terakhir. Karena fluktuasi yang tajam tetap bisa memberikan kesempatan untuk menuai keuntungan.

Memanfaatkan Momen Penguatan Indeks

Medan Bisnis, 20 April 2009
Luar Biasa, mungkin itulah ungkapan pasar setelah terjadi kenaikan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) selama 5 hari berturut-turut. Diyakini optimisme terhadap perekonomian Indonesia mengagkat indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup naik 9,703 poin (0,6 persen) menjadi 1.634,790 pada perdagangan jum’at minggu kemarin.

Perekonomian Indonsia dinilai lebih baik di bandingkan di Negara lain sekawasan (asia tenggara). Sentimen PEMILU sepertinya masih menjadi pemicu membaiknya persepsi pasar terhadap Indonesia. Selain itu, Indonesia juga diuntungkan dengan kerusuhan yang terjadi di Thailand. Hal tersebut membuat saham-saham domestic diminati investor. Bukan hanya itu saja, kunjungan wisatawan asing ke Indonesia diberitakan meningkat khususnya di Bali.

Beberapa indikator lainnya yang meningkatkan optimisme pasar adalah pertumbuhan ekonomi kuartal I pada 2009 yang diperkirakan sekitar 4,5%. Ditambah lagi, laju tekanan inflasi yang terus menurun juga menjadi sentimen positif.

Pada penutupan perdagangan kali ini, transaksi yang terjadi mencapai 115.708 kali
dengan volume saham yang diperdagangkan 10,785 miliar lembar saham dan total nilai Rp4,29 triliun.

Tidak hanya indeks bursa, nilai tukar Rupiah juga membentuk pola tren kenaikan yang sama. Penguatan nilai tukar Rupiah diyakini menjadi sentimen kuat bagi Indeks untuk terus melanjutkan tren penguatan. Faktor-faktor eksternal lainnya seperti membaiknya pembayaran kartu kredit AS, laporan keuangan beberapa emiten besar seperti Citigroup dan GE (general electric), yang ternyata diatas ekspektasi sebelumnya juga berpotensi menjadi sentimen baru di pasar.

Dan tahukah anda, pejabat The Fed kembali melontarkan pernyataan bahwa tanda-tanda bahwa resesi mulai teredam bermunculan. Kebijakan injeksi dana dalam ekonomi AS berangsur-angsur mampu memperbaiki perekonomian AS. Dan The FED optimis bahwa ekonomi AS akan pulih pada tahun ini.

Meskipun itu masih sebuah pernyataan yang tentunya masih harus dibuktikan. Akan tetapi langkah pemerintah AS yang menguji 19 Bank besar di AS akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi atau Stress Test menjadi sentimen yang dinanti tentunya. Meskipun hasilnya belum dipublikasikan, namun beberapa informasi menyatakan test yang dilakukan berhasil atau lulus.

Bukan suatu hal yang tidak mungkin, seiring dengan membaiknya perekonomian AS serta perekonomian Domestik yang masih kuat. IHSG menembus level psikologis 1.700 dalam waktu dekat ini. Dan nilai tukar Rupiah kembali mencoba menguat dan menembus level 10.000/US Dolar.

Dengan kuatnya sntimen positif baru dipasar, tentunya ada kesempatan atau momen yang tepat untuk memanfaatkan kenaikan IHSG. Bahkan beberapa saham yang sebelumnya tidak aktif diperdagangkan dalam 6 bulan terakhir mulai menunjukan tren kenaikan dalam perdagangan beberapa hari terakhir.

Kapitalisasi transaksi saham terakhir sudah mulai membukukan angka yang cukup signifikan. Investor asing sudah mulai mengincar beberapa saham perbankan. Dengan harga saham yang relatif murah serta potensi kenaikan IHSG yang berpeluang cukup lebar, sudah saatnya kita masuk kepasar.

Saat ini, secara teknkal IHSG telah membentuk tren kenaikan (channel). Meskipun masih berpeluang untuk terkoreksi, namun, IHSG masih akan terus dibayangi sentimen positif dan IHSG akan lebih percaya diri lagi untuk bergerak keatas. Kalaupun ada koreksi di tengah tren kenaikan, itu merupakan sinyal bahwa kita harus segera masuk.

Pemilu Lancar, Pasar Akan Berikan Respon Positif

Medan Bisnis, 13 April 2009
Pada tanggal 9 April, hari kamis minggu kemarin, Indonesia telah melakukan pelaksanaan pemilihan umum (PEMILU) yang berjalan cukup lancar. Bukan karena dimenangkan oleh Partai Demokrat, namun respon pasar sepertinya akan lebih tertuju pada keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan proses demokrasi, yang juga di klaim sebagai demokrasi terbesar di dunia.

Meskipun masih sebatas penghitungan cepat (quick count), namun pasar sepertinya sudah siap untuk merespon, meskipun penghitungan manual versi KPU akan selesai pada tanggal 20 nanti. Kemenangan partai Demokrat menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih merasa puas dengan kinerja pemerintah. Mengapa Demokrat? Karena Presiden SBY sebagai Pembina partai tersebut.

Kemenangan partai berlambang bintang dengan corak warna merah putih dan memiliki warna dasar biru tersebut, memberikan gambaran kepada kita bahwa kita dapat memperkirakan siapa yang akan menang dalam pemilihan presiden di tahun ini. Kalau berpatokan pada partai yang menang dalam PEMILU kemarin.

Nah demikian halnya juga dengan pasar. Proses PEMILU yang berjalan lancar, aman serta cukup terkendali memberikan sebuah garansi bahwa berinvestasi di Indonesia cukup aman. Hal inilah yang menjadi pemicu utama kembali bergairahnya pasar pada perdagangan senin ini. Baik Saham maupun Valas (Valuta Asing). Bahkan menurut penulis akan terjadi semacam euphoria.

Selain itu, selama kita libur kemarin. Bagi anda yang terus memantau perkembangan PEMILU tentunya akan melihat ticker yang memberitakan bahwa indeks regional dikabarkan terus membukukan penguatan. Jadi pergerakan indeks di pasar modal akan bergerak positif baik internal maupun eksternal.

Memang pada saat menjelang PEMILU indeks sempat tertekan. Namun, kondisi harap-harap cemas dari para investor akan berkurang pada perdagangan minggu ini. Bahkan investor juga akan lebih tenang menghadapi pemilihan presiden mendatang. Selain itu, tertekannya indeks sebelum PEMILU juga disebabkan oleh melemahnya pergerakan indeks regional. Meski demikian, IHSG tertekan sangat terbatas (-1%) jika dibandingkan dengan pergerakan indeks regional yang turun 4% (-4%).

Disamping itu, sebenarnya ada momen yang terlewatkan dan sangat disayangkan. Yakni pertemuan KTT (konferensi tingkat tinggi) ASEAN. Padahal dalam pertemuan tersebut akan dibahas penggalangan dana bersama Negara ASEAN dalam menuntaskan krisis, dimana China, Jepang dan Korea Selatan yang akan menjadi Negara donor.

Pertemuan tersebut sebenarnya merupakan tindak lanjut dari pertemuan G-20. Namun, karena ruang pertemuan dikuasai oleh demonstran anti pemerintah Thailand saat ini. Maka pertemuan ASEAN+3 harus ditunda. Padahal, apabila KTT ASEAN tersebut berjalan sesuai yang direncanakan maka, Indeks tentunya mendapatkan tenaga baru untuk menguat.

Respon positif pasar akan ditunjukan dengan menguatnya nilai tukar Rupiah serta menguatnya indeks bursa. Bahkan beberapa analis memperkirakan Rupiah berpotensi menguat tajam. Untuk saham, beberapa saham yang terkoreksi menjelang PEMILU kemarin, sepertinya akan berbalik arah dan kembali menguat pada perdagangan minggu ini.

Perlu dicermati pula saham Indofood yang memiliki kode INDF. Saham tersebut memiliki potensi menguat dalam jangka panjang. Karena selain bisnis utamanya di sektor makanan yang terintegrasi, Saham INDF juga termasuk dalam saham defensive. Sehingga lebih tahan terhadap guncangan ekonomi.

Akan tetapi bukan hanya saham Indofood saja yang berpotensi naik. Dengan momen yang sangat baik seperti sekarang ini, apabila anda telah memiliki saham sebelumnya. Maka perhatikan saja, bahwa kenaikan IHSG (perkiraan) saat ini seharusnya memberikan berkah bagi saham yang anda koleksi. Itupun jika anda tidak salah pilih saham.

Langkah IHSG Kedepan Setelah 1500

Medan Bisnis, 6 April 2009
Pada perdagangan jum’at kemarin IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) kembali melanjutkan tren penguatannya dan ditutup menguat tipis 0.62 poin di level 1.500,361. Penguatan tersebut lebih rendah dari pencapaian IHSG selama sesi perdagangan jum’at yang sempat menyentuh kisaran level 1.509.

Pergerakan IHSG kembali tertekan oleh aksi profit taking dari para pelaku pasar akibat kenaikan pada perdagangan hari sebelumnya. Hal ini membuat IHSG hanya naik tipis, padahal ada banyak sentimen positif seperti penguatan Indeks Bursa Regional, wall street dan penurunan BI Rate. Pada perdagangan minggu kemarin kontribusi bagi kenaikan indeks didorong oleh kenaikan harga saham seperti saham PT. INCO, Indosat, Antam dan Perusahaan Gas Negara.

Dari seluruh saham yang ditransaksikan terdapat 69 saham naik, 82 saham turun dan 60 saham tidak berubah. Pada perdagangan akhir minggu kemarin tercatat volume perdagangan sebanyak 3,247 miliar unit saham, dengan nilai transaksi Rp. 3,411 Triliun dengan frekwensi transaksi sebanyak 86.991 kali.

Naiknya IHSG secara signifikan pada dasarnya secara psikologis membuat indeks bursa rentan akan koreksi. Meskipun dibanjiri oleh sentimen positif seperti penurunan BI rate, hasil rapat Negara yang tergabung dalam G-20, maupun pergerakan indeks bursa regional asia yang sejauh ini masih menunjukan tren kenaikan.

Selain itu, faktor yang sangat berpengaruh bagi terkoreksinya Indeks adalah minimnya data keuangan (makroekonomi global) yang akan dirilis minggu depan. Hal ini akan membuat Indeks akan bergerak terbatas dengan peluang koreksi yang cukup besar. Meski demikian sentimen penurunan suku bunga (BI rate) akan membuat beberapa harga saham naik di minggu depan.

Saham-saham yang sangat dipengaruhi oleh penurunan BI rate yakni saham di sektor perbankan serta saham semen. BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 0.25 basis poin menjadi 7.5% saat ini. Dengan tren penurunan suku bunga tersebut diharapkan perbankan dapat menurunkan suku bunga kredit sehingga akan mengurangi LDR (Loan to Deposit Ratio) perbankan serta kembali meningkatkan permintaan kredit dan memperbaiki kinerja perbankan.

Selain itu, dengan penurunan BI rate diharapkan proyek pembangunan property kembali bergairah. Dengan suku bunga pinjaman yang semakin kecil maka diharapkan pembangunan di sektor property akan membaik dan nantinya akan meningkatkan permintaan akan semen. Hal inilah yang menjadi alasan utama kenapa saham di sektor semen perlu untuk dicermati.

Hal lain yang perlu juga untuk dicermati adalah kenaikan indeks bursa Dow Jones yang kembali menembus level psikologis 8.000. Kondisi indeks bursa Dow Jones dan IHSG sebenarnya tidak jauh berbeda. Karena sama-sama baru menapaki level psikologis yang sama-sama dicapai pada perdagangan akhir minggu kemarin Tapi ada baiknya kita melihat tren kenaikan bursa Amerika tersebut. Kenapa? Meskipun tidak 100% akan membuat IHSG mengikuti tren kenaikan indeks bursa Dow Jones, namun Dow Jones selaku menjadi gerbong lokomotif paling depan bagi acuan pergerakan indeks bursa global.

Kenapa? Karena setidak-tidaknya pergerakan Dow Jones yang ke teritori positif menggambarkan persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi Amerika yang saat ini tengah dilanda krisis. Dan tidak salah apabila kita menjadikan Dow Jones sebagai barometer perbaikan krisis ada di Amerika.

Mengawali perdagangan minggu ini, melihat dari sisi kenaikan IHSG yang cukup signifikan dan rentan koreksi, namun dibanjiri oleh sentimen positif. Maka IHSG sebenarnya memiliki peluang yang lebih besar untuk menguat, meskipun perlu selektif dalam memilih saham mana yang layak untuk di koleksi.

Recovery Ekonomi AS Dan Implikasinya

Medan Bisnis, 30 Maret 2009
Indikator ekonomi makro AS menunjukkan menunjukan adanya pergerakan yang lebih aktif dalam pembentukan permintaan agregat. Hal ini sekaligus menimbulkan optimisme yang lebih baik terhadap pulihnya perekonomian AS. Indikasi permintaan agregat dapat dijadikan sebagai salah satu acuan bahwa telah terjadi proses recovery perekonomian AS. Dan pemulihan tersebut lebih cepat dibandingkan dengan Uni Eropa.

Beberapa data perkonomian yang mendukung permintaan agregat antara lain dikarenakan terjadinya peningkatan pada data Personal Spending (tingkat konsumsi individu) sebesar 0.2% dan telah terjadi peningkatan serupa pada periode sebelumnya sebesar 1.0%. Meningkatnya data permintaan agregat AS ini di keluarkan oleh Bureau of Economic Analysis AS.

Peningkatan pada indikator ini merupakan indikasi yang sangat penting dalam sebuah perekonomian yang berada dalam situasi resesi, karena menunjukkan proses pemulihan yang dampak lanjutannya diharapkan dapat membawa perekonomian menuju fase countercyclical yang dapat mengeluarkan ekonomi dari resesi.

Namun, data pendapatan individu justru mengalami penurunan sebesar 0,2%. Kondisi tersebut sesuai dengan apa yang telah diprediksi oleh para ahli ekonomi sebelumnya. Selain itu, tingkat tabungan masyarakat AS pada bulan Februari juga mengalami peningkatan sebesar 4,2%. Telah terjadi perubahan kebiasaan masyarakat AS yang tengah dilanda krisis.

Himbauan pemerintah AS yang menyarankan rakyatnya untuk menggiatkan kembali kegiatan menabung guna memberikan kontribusi dalam upaya memulihkan sektor perbankan yang terpukul akibat krisis sektor finansial ternyata menuai hasil. Padahal sebelumnya masyarakat AS hanya menyisihkan sekitar 2% pendapatannya untuk menabung, sangat rendah dibandingkan dengan kebiasaan masyarakat di uni eropa.

Data-data perkonomian AS lainnya juga masih mencatatkan kenaikan. Diantaranya adalah pengeluaran konsumen untuk barang-barang yang tidak tahan lama (non durable goods) yang naik sebesar 1.8%. Serta diikuti dengan pengeluaran untuk jasa yang juga meningkat sebesar 0.1%. Akan tetapi disisi lain, pengeluaran konsumen untuk durable goods (barang tahan lama) di bulan Februari justru mengalami penurunan sebesar 1,3%.

Terkait dengan data perekomian AS, mata uang US Dolar atau biasa disebut dengan greenback terus mengalami penguatan terhadap mata uang utama dunia lainnya. Bahkan dalam beberapa hari perdagangan minggu kemarin, US Dolar terus melakukan tekanan terhadap mata uang Poundsterling Inggris.

Memburuknya kinerja mata uang Poundsterling juga dipicu oleh pernyataan Gubernur BOE (Bank of England) Marvin King pada hari selasa minggu kemarin. Dimana Marvin King memaparkan data-data perekonomian Inggris memiliki kecenderungan memburuk. Hingga saat ini, data-data makroekonomi yang dirilis masih menunjukkan semakin limbungnya perekonomian Inggris, terutama data inflasi dan indikator daya konsumsi masyarakat yang lebih buruk dari perkiraan sebelumnya. Pada indikator inflasi CPI mencapai 3.2% dari 2.6% yang diperkirakan, CBI Realized Sales yang jatuh menjadi sebesar -44% dan data Retail Sales yang menunjukkan pengurangan penjualan hingga mencapai -1.9%.

Terlepas dari hal itu semua, Mata uang Rupiah justru bertolak belakang dengan Poundsterling. Meskipun diperdagangkan sangat beragam, namun pada perdagangan minggu kemarin mata uang rupiah bergerak menguat terhadap US Dolar. Demikian halnya juga dengan Indeks bursa yang terus mengalami kenaikan.

Pasar terus berharap perekonomian AS adapat pulih dari krisis saat ini. Sehingga akan berdampak positif bagi pemulihan ekonomi di belahan dunia lainnya. Namun, pasar keuangan domestik tidak serta merta akan mengikuti perkembangan serupa. Terkadang pasar keuangan kita bergerak anomali. Tidak akan menjadi jaminan yang kuat memburuknya perekonomian di tingkat regional maupun global akan memberikan dampak serupa bagi pasar keuangan kita secara menyeluruh.

Pemerintah biasanya akan mengkaitkan perubahan positif di pasar keuangan dengan ekspektasi positif terhadap gejala indikasi perubahan ekonomi makro kita. Akan tetapi, disisi lain ada penilaian bahwa Indonesia masih memberikan yield yang tinggi, sehingga masih menjadi tempat pilihan investor untuk berinvestasi. Biasanya dana investor tersebut merupakan uang panas yang sufatnya terkadang akan mengendap sebentar dan bisa pergi serta tidak kembali lagi.

IHSG Dan Rupiah Ke Teritori Positif

Medan Bisnis, 23 Maret 2009
Bursa Saham di AS kembali tertekan pada penutupan perdagangan akhir minggu ini, sektor perbankan memberikan tekanan paling besar setelah The Fed - Bank Sentral AS melakukan injeksi dana ke sistem keuangan mereka sehari sebelumnya. Sektor keuangan terus terjatuh ke teritori negatif, dan melanjutkan tren penurunan serta memasuki hari kedua terkoreksinya harga saham di sektor tersebut.

Investor berpendapat, meskipun pemerintah AS mengeluarkan sekitar 2.5% dari $200 milyar melalui program revitalisasi perbankan, TALF -Terms Asset Backed Security Loan, belum mampu menjadi penolong karena justru pernah gagal sebelumnya. Saham yang paling besar terkoreksi di bursa Dow Jones adalah Chevron. Saham tersebut turun sebesar 3.6 percent setelah harga minyak mentah dunia juga terkoreksi.

Sementara itu, perusahaan penerbit kartu kredit AS bernama American Express juga terkoreksi 6.2 percent. Kredit macet di kartu kredit AS merupakan kekhawatiran kedua setelah kredit macet di sektor perumahan AS. Dikhawatirkan akan terjadi potensi kerugian penerbit kartu kredit tersebut, sehingga devidennya kemungkinan juga akan terpangkas.

Indeks Dow Jones jatuh 122.42 points, atau 1.65 percent, ke level 7,278.38. Indeks Standard & Poor's 500 jatuh 15.50 points, atau 1.98 percent, ke level 768.54. Indeks Nasdaq jatuh 26.21 points, atau 1.77 percent, ke level 1,457.27

Ditengah ketidakpastian pergerakan Indeks bursa global, IHSG justru kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan akhir minggu kemarin. Sentimen positif masih dipengaruhi oleh kebijakan Bank sentral AS yang menggelontorkan stimulus sebesar $1 Trilyun serta mempertahankan kebijakan suku bunga rendah.

Sejak hari Rabu minggu kemarin, IHSG terus menunjukan tren penguatan kendati pergerakan pasar saham global bergerak sangat bervariasi. Korelasi penguatan IHSG juga diiringi dengan penguatan nilai tukar Rupiah. Rupiah menutup akhir pekan ini dengan penguatan yang cukup besar. Tren melemahnya dolar AS karena pasokan valas di pasar yang mulai normal menjadi kesempatan rupiah untuk terus bergerak ke teritori positif.

Pada penutupan perdagangan valas jumat kemarin, rupiah menguat 60 poin (0,5%) ke posisi 11.725 per dolar AS. Dalam perdagangan sehari tersebut Rupiah bahkan sempat menguat ke level 11.650 per dolar AS. Dan lagi-lagi Bank Indonesia optimistis rupiah berpotensi bisa menguat lagi karena pasokan pasar saat ini dibanjiri dengan Dolar AS.

Selain nilai tukar Rupiah yang menguat, mata uang regional juga kebanyakan menguat terhadap dolar AS seperti dolar Singapura menguat 0,29%, bath Thailand menguat 0,2%, dolar Taiwan menguat 0,44%. Namun, beberapa mata uang lainnya masih melemah terhadap US Dolar seperti Won Korea yang melemah1,46% dan Yen Jepang yang juga melemah 0,07%


Sejauh ini, pasar masih dibanjiri oleh sentiment positif yang dimulai dengan digelontorkannnya sejumlah uang untuk membantu memperbaiki perekonomian AS oleh Bank Sentral AS. Namun, langkah-langkah tersebut bukanlah jaminan bahwa pasar keuangan akan kembali membaik di tahun ini.

Pemerintah AS boleh-boleh saja melakukan langkah tersebut. Namun, waktu juga yang akan menentukan apakah langkah pemerintah AS tersebut akan menuai keberhasilan atau justru membuat kondisi semakin terpuruk. Ditengah ketidakpastian seperti ini, banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Penguatan Indeks dan Nilai tukar rupiah pada perdagangan minggu kemarin memang perlu diapresiasi. Namun, sentimen yang belum pasti menujukan arah pergerakan kedepan, membuat nilai tukar Rupiah dan Indeks Bursa Saham masih sangat rentan dan mudah untuk kembali terkoreksi.

Data Ekonomi Buruk, Bursa Tertekan

Medan Bisnis, 2 Maret 2009
Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS dalam periode kuartal 4 tahun 2008 mengalami penurunan. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa tingkat GDP kuartal terakhir 2008 turun sebesar 6,2%. Level tersebut merupakan level terendah sejak kuartal pertama tahun 1982. Melemahnya pertumbuhan ekonomi sebenarnya telah diprediksi oleh banyak pihak mengingat perekonomian AS pada periode tersebut belum menunjukan pergerakan postif yang cukup signifikan.

Lesunya perekonomian yang dibarengi oleh buruknya data-data ekonomi membuat perekonomian tidak terlepas dari teritori negatif. Data-data ekonomi yang menjadi faktor utama dari penurunan pertumbuhan ekonomi diantaranya ialah pengeluaran konsumen yang turun 4,3% pada periode yang sama, sedangkan data durable goods anjlok sebesar 22,1%.

Pertumbuhan ekonomi AS dalam jangka pendek diperkirakan masih akan bergerak pada level yang negatif. Apalagi sampai dengan semester pertama tahun ini perkembangan ekonomi masih belum menunjukan perubahan yang signifikan meskipun pemerintah telah menrapkan kebijakan stimulus perekonomian hingga mencapai 775 miliar dollar.

Sementara itu, Eurostat yang merupakan lembaga riset terbesar mengumumkan bahwa tingkat inflasi Eropa pada bulan Januari mengalami penurunan. Laporan tersebut diketahui bahwa tingkat inflasi mengalami penurunan sebesar 0,8%. Level tersebut berhasil mencetak rekor penurunan inflasi terbesar sejak tahun 1997.

Tekanan Inflasi yang terus turun akan membuat Bank Sentral Eropa atau BOE untuk kembali menurunkan tingkat suku bunganya di bulan kedepan. Harga minyak mentah dunia yang masih melemah diyakini sebagai pemicu utama rendahnya laju tekanan inflasi.

Namun, nilai tukar mata uang USD mengalami penguatan terutama terhadap Euro dan Poundsterling. Penguatan ini tidak terlepas dari tindakan investor yang kembali melakukan aksi safe heaven sehubungan dengan turunnya bursa saham. Spekulasi yang menyebutkan bahwa Citigroup akan membutuhkan dana dari sektor swasta untuk mengangkat perekonomian menjadi sentimen negatif bagi perdagangan saham.

Saham-saham di lantai bursa AS berjatuhan dimana indeks bursa S&P 500 mencetak kinerja terburuk kedua sejak tahun 1933, paska pemerintah AS mengumumkan akan menambah jumlah kepemilikan saham mereka di Citigroup. langkah pemerintah AS ini dinilai sebagai bentuk Nasionalisasi sektor perbankan dan hal ini mengkhawatirkan para investor.

Harga saham Citigroup jatuh 39 percent setelah pemerintah AS mengumumkan akan menambah modal sebesar $25 milyar dalam kepemilikan saham umum bank tersebut sehinga hal ini akan mendilusi keberadaan pemilik saham saat ini sekitar 74 percent. Indek S&P sektor keuangan jatuh 8.1 percent akhirnya. Ada satu keyakinan bahwa Citibank bukanlah merupakan bank terakhir yang akan diambil alih oleh pemerintah AS. Dengan keyakinan bahwa jika pemerintah AS melakukan penambahan rasio kepemilikan saham antara 30-40 persen saja, sebagaimana yang dilakukan pada Citibank, maka hal tersebut sudah layak dikatakan sebagai langkah nasionalisasi oleh pemerintah AS.

Melemahnya Indeks bursa saham di Amerika telah menyeret indeks bursa regional ikut terkoreksi. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) juga ikut terkoreksi seiring memburuknya perekonomian di AS. Hal tersebut diperkirakan akan terus menjadi bayang-bayang hitam bagi perdagangan di Bursa Efek Indonesia setidaknya sampai ada sentiment positif di pasar.